#Artikel – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Fri, 22 May 2026 06:41:49 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #Artikel – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Risalah Qurban bagian 3 https://nidaulfithrah.com/risalah-qurban-bagian-3/ Fri, 22 May 2026 06:37:20 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21958 Syarat selanjutnya ialah hewan Qurban tersebut disembelih pada waktunya. Maka tidak sah sebagai hewan Qurban apabila disembelih sebelum waktunya (sebelum shalat ied adha). Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلُ الصلاة فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Barang siapa yang menyembelih (berQurban) sebelum shalat, maka sembelihannya menjadi makanan untuk keluarganya dan bukan ibadah (Qurban) sama sekali.” (HR. Al Bukhari no: 5119)

5. Disyaratkan bagi orang yang ber-qurban untuk benar-benar meniatkan hewan Qurbannya untuk diQurbankan. Berdasarkan sebuah hadis dari Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam:

إنَّما الأعمالُ بالنِّياتِ، وإنَّما لكُلِّ امرئٍ ما نوى

“Sesungguhnya setiap amalan bergantung kepada niatnya, dan setiap amalan akan dibalas sesuai dengan apa yang diniatkan.” (HR. Al Bukhari no: 1)

G. Waktu Penyembelihan Hewan Qurban

Tentang disyari’atkannya waktu penyembelihan hewan Qurban maka Agama Islam telah mengaturnya. Waktu penyembelihan dimulai pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah dilaksanakannya shalat ‘iedul adha.

Apabila ada orang yang menyembelih hewan Qurbannya sebelum terbit fajar pada hari ied adha, maka tidak disebut sebagai hewan Qurban. Karena Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini (‘iedul adha) adalah mengerjakan shalat kemudian pulang dan menyembelih binatang Qurban. Barangsiapa melakukan hal itu, maka dia telah bertindak sesuai dengan sunnah kita, dan barangsiapa menyembelih binatang Qurban sebelum (shalat ied) maka sesembelihannya itu hanya berupa daging yang ia berikan kepada keluarganya dan tidak ada hubungannya dengan ibadah Qurban sedikitpun.” (HR. Al Bukhari no: 5119)

Tentang hal ini Imam Al Qurthubi rahimahullah berkata:

لا خلافَ أنَّه لا يُجْزي ذبحُ الأُضْحِيَّة قبل طلوعِ الفَجرِ مِن يومِ النَّحر

“Para ulama tentang hal ini tidak ada perbedaan bahwasanya tidak boleh menyembelih hewan Qurban sebelum terbit fajar pada hari iedul adha.” (Tafsir Al Qurthubi 12/43)

Sama halnya apabila ada orang yang menyembelih hewan Qurbannya sebelum dilaksanakan sholah ‘iedul adha maka juga tidak sah disebut sebagai hewan Qurban. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ضَحَّيْنا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أضْحِيَّةً ذاتَ يومٍ، فإذا أُناسٌ قد ذبحوا ضحاياهم قبلَ الصَّلاةِ، فلما انصَرَفَ رآهم النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنَّهم قد ذبَحوا قبل الصَّلاةِ، فقال: من ذَبَحَ قبل الصَّلاةِ فلْيَذْبَحْ مكانَها أخرى، ومَن كان لم يَذْبَحْ حتى صَلَّيْنا فلْيَذْبَحْ على اسْمِ اللهِ

“Pada suatu hari kami pernah menyembelih hewan Qurban bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Ternyata ada sebagian manusia telah menyembelih hewan Qurbannya sebelum dilaksanakan shalat ‘ied. Ketika Nabi shalallahu alahi wasallam selesai shalat Nabi shalallahu alaihi wasallam melihat mereka telah menyembelih hewan Qurbannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang menyembelih hewan Qurbannya sebelum shalat ‘ied, maka hendaknya dia menyembelih kembali untuk menggantikannya dan barangsiapa yang belum menyembelih hewan Qurbannya hingga kami selesai shalat ‘ied, maka sembelihlah dengan menyebut nama Allah.” (HR. Al Bukhari no: 5500 dan Muslim no: 1960)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

أنَّ الحديثَ يدُلُّ على أنَّ مَن ذَبَح بعد الصَّلاةِ، فله نُسُكٌ، سواءٌ انتهت الخُطبةُ أم لم تَنْتَهِ، وسواءٌ ذبَحَ الإمامُ أم لم يذبَحْ، وأنَّ مَن ذبَحَ قبل الصَّلاةِ، فعليه أن يذبَحَ أخرى مكانَها

“Sesungguhnya hadis tersebut menunjukkan bahwa siapa saja yang menyembelih setelah shalat maka telah sesuai ibadahnya (penyembelihannnya) dengan sunnah. Baik itu sudah selesai khutbah ‘ied ataupun belum selesai. Begitu pula Imam shalat sudah menyembelih ataupun belum (intinya sudah melaksanakan shalat ‘ied). Adapun yang menyembelih sebelum dilaksanakan shalat ‘ied, maka hendaknya dia mengulang kembali sembelihannya.” (Asy Syarh Al Muti’ 7/459)

Kemudian kapan batas akhir waktu penyembelihan hewan Qurban? Batas akhir penyembelihan hewan Qurban ialah hari tasyriq tanggal 13 Dzulhijjah. Imam An Nawawi rahimahullah berkata:

وأما آخر وقتها فاتفقت نصوص الشافعي والاصحاب على أنه يخرج وقتها بغروب شمس اليوم الثالث من أيام التشريق واتفقوا على أنه يجوز ذبحها في هذا الزمان ليلا ونهارا

“Adapun akhir waktu penyembelihan (hewan Qurban) menurut keterangan Imam Asy Syafi’i sama dengan keterangan para ulama syafi’iyah bahwa batas waktu penyembelihan sampai terbenam matahari di hari tasyriq ketiga (13 Dzulhijjah). Mereka sepakat, boleh menyembelih Qurban selama rentang waktu ini, siang maupun malam.” (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab 8/388)

Hal ini memperkuat sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam,

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Seluruh hari tasyriq ialah penyembelihan.” (HR. Ibnu Hibban no: 3854)

Lalu bagaimana hukum seseorang menyembelih hewan Qurbannya pada malam hari? Para ulama’ menyebutkan bahwa hal tersebut diperbolehkan. Disebutkan oleh sebagian ulama’ bahwa:

وقال الحنابلة والشافعية: إن التضحية في الليالي المتوسطة تجزئ مع الكراهة، لأن الذابح قد يخطئ المذبح، وإليه ذهب إسحاق وأبو ثور والجمهور. وهو أصح القولين عند الحنابلة. واستثنى الشافعية من كراهية التضحية ليلا ما لو كان ذلك لحاجة، كاشتغاله نهارا بما يمنعه من التضحية، أو مصلحة كتيسر الفقراء ليلا، أو سهولة حضورهم.

“Sementara (ulama’) hambali dan syafiiyah menegaskan, menyembelih Qurban di malam-malam tasyrik hukumnya sah, hanya saja makruh. Karena yang menyembelih bisa jadi salah menyembelih hewan. Ini merupakan pendapat Ishaq, Abu Tsaur, dan mayoritas ulama. Dan ini adalah salah satu pendapat dalam madzhab hambali. Kemudian syafiiyah menyebutkan bahwa hukum makruh ini hilang, jika ada kebutuhan. Misalnya kesibukan di siang hari, sehingga tidak memungkinkan untuk menyembelih Qurban. Atau karena kemaslahatan, misalnya lebih menguntungkan fakir miskin jika disembelih malam hari, atau memudahkan mereka untuk datang.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah 5/93)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata:

ويذبَحُ في الليلِ والنهارِ، وإنَّما أكرَهُ ذبحَ الليلِ لئَّلا يُخطِئَ رجلٌ في الذَّبحِ أو لا يوجد مساكينُ حاضرون، فأما إذا أصاب الذَّبحَ ووجد مساكينَ فسواءٌ

“Hewan Qurban bisa (boleh) disembelih pada siang ataupun malam hari. Hanya saja aku tidak suka penyembelihan pada malam hari agar seseorang tidak melakukan saat menyembelih, atau bisa jadi tidak ada orang miskin yang hadir (untuk mengambil daging). Namun apabila penyembelihannya benar (apabila dilakukan malam hari) dan juga orang miskin yang hadir maka tidak masalah.” (Al-Umm 2/39)

H. Adab-adab Ber-qurban

1. Wajib bagi yang ber-qurban mengikhlaskan niatnya untuk Allah ta’ala saat ber-qurban. Karena yang sampai kepada Allah ta’ala hanyalah keikhlasan dan ketakwaan kita kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُم

“Daging dan darah hewan Qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

2. Bagi orang yang ber-qurban dilarang baginya untuk memotong kuku, rambut, atau bagian apapun dari tubuhnya. Namun larangan ini bersifat haram atau sebatas makruh? Para ulama’ mereka berselisih pendapat. Namun wallahu ‘alam pendapat yang tepat ialah larangan ini bersifat haram dengan beberapa dalil diantaranya sabda Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam:

مَن كان عِندَه ذبْحٌ يُريدُ أن يذبَحَه فرأى هلالَ ذي الحِجَّةِ؛ فلا يَمَسَّ مِن شَعْرِه، ولا مِن أظفارِه، حتى يضَحِّ

”Barangsiapa yang telah memiliki hewan yang hendak diqurbankan, apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, maka janganlah dia memotong sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya hingga dia selesai menyembelih.” (HR. Muslim no: 5236)

Nabi shalallahu alahi wasallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian telah melihat hilal Dzulhijah (yakni telah masuk satu Dzulhijah) dan kalian ingin ber-qurban, maka hendaklah shahibul Qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.” (HR. Muslim no: 1977)

Syaikh ‘Abdulaziz bin Baz rahimahullah berkata:

إذا دخل الشهر هل هلاله؛ حرم على الذي يريد الضحية من رجال أو نساء أخذ شيء من الشعر أو الظفر أو البشرة، من جميع البدن

“Jika telah memasuki bulan Dzulhijjah, diharamkan bagi setiap orang yang ingin berqurban, baik laki maupun perempuan, untuk memotong rambut kepala, kuku dan rambut kulit atau seluruh rambut yang ada pada tubuhnya.”

3. Orang yang ber-qurban hendaknya menyembelih hewannya sendiri. Hal ini berdsarkan perbuatan Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam dari Anas bin Malik radiallahuanhu:

ﺿَﺤَّﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﺑِﻜَﺒْﺸَﻴْﻦ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ﺃَﻣْﻠَﺤَﻴْﻦِ ﺃَﻗْﺮَﻧَﻴْﻦِ ﺫَﺑَﺤَﻬُﻤَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻭَﺳَﻤَّﻰ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﻔَﺎﺣِﻬِﻤَﺎ

“Nabi shalallahu alaihi wasallam ber-qurban dengan dua ekor kambing yang putih kehitaman (bercampur hitam pada sebagian anggota tubuhnya), bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir dan meletakkan kaki beliau di badan kedua hewan tersebut.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ulama menjelaskan dari hadits bahwa jika menyembelih dengan tangannya sendiri ini lebih baik. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ﻭَﺇِﻥْ ﺫَﺑَﺤَﻬَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻓْﻀَﻞَ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺿَﺤَّﻰ ﺑِﻜَﺒْﺸَﻴْﻦِ ﺃَﻗْﺮَﻧَﻴْﻦِ ﺃَﻣْﻠَﺤَﻴْﻦِ ، ﺫَﺑَﺤَﻬُﻤَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ، ﻭَﺳَﻤَّﻰ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ، ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﻔَﺎﺣِﻬِﻤَﺎ

“Jika ia menyembelih Qurbannya dengan tanggannya sendiri maka ini lebih baik, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih 2 kambing yang bertanduk menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir dan meletakkan kaki beliau di badan kedua hewan” (Al Mughni 13/389)

Boleh juga apabila ada udzur maka diwakilkan kepada seseorang. Sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu:

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم نحَرَ ثلاثًا وسِتِّينَ بيده، ثم أعطى عليًّا فنَحَرَ ما غَبَرَ

“Dari Jabir radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam menyembelih (nahr) unta dengan tangannya sebanyak 63 ekor kemudian diserahkan kepada ‘Ali ( diwakilkan) maka beliau menyembelih sisanya.” (HR. Muslim no: 1218)

Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata:

جائزٌ أن ينحَرَ الهَدْيَ [غيرُ] صاحِبِها، ألا ترى أنَّ عليَّ بنَ أبي طالب رَضِيَ الله عنه نَحَرَ بعضَ هَدْيِ رسول الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، وهو أمر لا خلاف بين العُلَماء في إجازَتِه

“Diperbolehkan yang menyembelih hewan Qurban yaitu bukan pemiliknya. Tidakkah kalian melihat bahwasanya ‘Ali bin Abi Thalin menyembelih sebagian hewan Qurban Rasulullah shalallahu alihi wasallam. Ini adalah perkara yang tidak diperselisihkan kebolehannya.” (At Tamhid 2/107)

Judul Buku: Risalah Qurban

Penulis : Ananda Ridho Gusti Hafidzahullah

]]>
Risalah Qurban bagian 2 https://nidaulfithrah.com/risalah-qurban-bagian-2/ Thu, 21 May 2026 06:02:16 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21931 E. Hukum Ber-qurban

Para ulama’ mereka berselisih pendapat tentang hukum ber-qurban. Sebagian mereka berkata bahwa ber-qurban itu hukumnya wajib bagi yang mampu.

1. Diantara dalil yang mereka bawakan ialah hadis Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam dari sahabat Al Bara bin ‘Azib radiallahu anhu:

ذَبَحَ أَبُو بُرْدَةَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْدِلْهَا قَالَ لَيْسَ عِنْدِي إِلاَّ جَذَ عَةٌ قَالَ اجْعَلْهَا مَكَانَهَا وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ

“Abu Burdah telah menyembelih Qurban sebelum shalat (Ied), lalu Nabi shalallahu alahi wasallam berkata kepadanya : “Gantilah hewan tersebut”, ia menjawab, “Saya tidak punya kecuali Jaz’ah”. Maka beliau berkata : “Jadikanlah ia sebagai penggantinya, dan hal itu tidak berlaku pada seorangpun setelahmu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Orang yang mewajibkan berhujjah dengan hadis ini. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkan Abu Burdah untuk mengulangi penyembelihannya karena telah melakukannya sebelum shalat ied. Padahal jika tidak wajib tentunya hal seperti ini tidak dikatakan oleh beliau shalallahu alahi wasallam.

Dalil kedua ialah datang dari sebuah hadis Jundab bin Abdillah bin Sufyan Al Bajali radiallahu anhu dia berkata:

قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ ذَبَحَ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَذْ بَحْ فَليَذْبَحْ بِاسْمِ اللّهِ

“Nabi shalallahu alaihi wasallam shalat pada hari Nahar (‘Ied Al-Adha), kemudian berkhutbah lalu menyembelih Qurbannya dan bersabda: “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sembelihlah yang lain sebagai penggantinya. Dan barangsiapa yang belum menyembelih maka sembelihlah dengan nama Allah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Serta hadist lainnya dari Anas bin Malik radiallahu anhu dia berkata:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الًّصَلاَةِ فَلْيُعِدْ

“Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata: “Barangsiapa yang telah menyembelih sebelum shalat, maka ulangi lagi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

2. Kemudian pendapat kedua ialah pendapat yang berkata bahwa ber-qurban ialah sunnah atau sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan) bagi yang mampu. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama’. Mereka berhujjah dengan Hadits Ummu Salamah, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَثْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَخِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ ثَعَرِهِ وَبَثَرِهِ ثَيْئًا

“Bahwa Nabi shalallahu alahi wasallam bersabda, “Jika masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih Qurban, maka jangan memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim no: 5089)

Sisi pendalilannya ialah Nabi shalallahu alahi wasallam mengaitkan antara ibadah Qurban dengan kehendak manusia. Maka dari itu Imam Asy Syafi’i rahima hullah berkata:

في هذا الحديثِ دَلالةٌ على أنَّ الضحِيَّة ليست بواجبةٍ؛ لقولِ رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ((فأراد أحَدُكم أن يضَحِّيَ)) ولو كانت الضَّحِيَّةُ واجبةً أشبَهَ أن يقول: فلا يَمَسَّ من شَعْرِه حتى يضَحِّيَ

“Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa Qurban tidak wajib, dengan dasar sabda Nabi (وَأَرَادَ ) yang maknanya ‘jika menghendaki’.  Apabila ber-qurban adalah memang wajib, tentunya Beliau shalallahu alaihi wasallam menyatakan “maka janganlah memotong rambutnya sampai menyembelih.” (Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 8/356)

Kemudian dalil lain yang digunakan dalam rangka menguatkan bahwasanya ber-qurban itu hukumnya sunnah muakkadah ialah hadis dari ‘Aisyah radiallahu anha ia berkata:

أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أمَرَ بكبشٍ أقرَنَ، يطَأُ في سوادٍ، ويَبْرُكُ في سوادٍ، وينظُرُ في سوادٍ؛ فأُتِيَ به ليُضَحِّيَ به، فقال لها: يا عائشةُ، هَلُمِّي المُدْيَةَ. ثم قال: اشْحَذِيها بحَجَرٍ، ففَعَلَتْ: ثمَّ أخَذَها وأخَذَ الكَبْشَ فأضجَعَه، ثم ذبَحَه، ثمَّ قال: باسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تقبَّلْ مِن محمَّدٍ وآلِ محمَّدٍ، ومنْ أمَّةِ محمَّدٍ. ثم ضحَّى به

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk menyembelih domba yang bertanduk, berkaki hitam, sekitar matanya hitam, dan perutnya hitam. Kemudian beliau diberi domba seperti itu, lalu beliau ber-qurban dengannya. Beliau berkata: “Wahai Aisyah, berikan pisau.” Kemudian beliau berkata: “Tajamkan pisau tersebut dengan batu!” kemudian ia melakukannya, lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengambilnya dan mengambil domba tersebut serta membaringkan dan menyembelihnya. Beliau mengucapkan: “BISMILLAAH, ALLAAHUMMA TAQABBAL MIN MUHAMMADIN WA AALI MUHAMMAD, WA MIN UMMATI MUHAMMAD (Dengan nama Allah, ya Allah, terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta Ummat Muhammad). Kemudian Beliau ber-qurban dengannya.” (HR. Abu Dawud no: 2410)

Imam Asy Syaukani rahima hullah berkata:

أنَّ تَضْحِيَتَه صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن أمَّتِه وعن أهلِه؛ تُجْزِئُ عن كُلِّ مَن لم يُضَحِّ، سواءٌ كان متمكِّنًا مِنَ الأضْحِيَّةِ أو غيرَ متمَكِّنٍ

“Di dalam hadis di atas mengandung makna bahwa sembelihan milik beliau shalallahu alaihi wasallam telah mencukupi bagi keluarganya dan juga telah mencukupi bagi orang-orang yang belum ber-qurban, baik dia mampu ber-qurban atau tidak mampu ber-qurban maka hukumnya sama.” (Ad Durori Al Mudhiyyah 2/344)

Hujjah selanjutnya atsar dari para salaf. Hudzaifah bin Usaid rahima hullah berkata:

أدركْتُ أبا بكرٍ أوْ رأيتُ أبا بكرٍ وعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عنْهُما كانَا لا يُضَحِّيَّانِ في بعضِ حدِيثِهِمْ كراهِيَةَ أنْ يُقْتَدَى بِهِما

“Aku mendapati Abu Bakar atau melihat Abu Bakr dan Umar tidak menyembelih Qurban –dalam sebagian hadits mereka- khawatir dijadikan panutan.” (HR. Ath Thabrani 3/182)

Kami pribadi –wallahu a’lam– dalam permasalahan ini lebih condong kepada pendapat jumhur ulama. Karena seandainya tidak ada satu pun dalil dari hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam yang secara pasti menunjukkan rajih-nya salah satu pendapat tersebut, namun amalan Abu Bakr dan Umar dapat dijadikan faktor yang dapat me-rajih-kan pendapat jumhur.

F. Syarat Sah Hewan Yang Dijadikan Qurban

1. Hendaknya hewan Qurban harus dari jenis binatang ternak, yaitu; unta, sapi dan kambing, baik domba, biri-biri, atau yang lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُواْ اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِّن بَهِيمَةِ الاَْنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (Qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka”. (QS. Al Hajj ayat: 67)

2. Begitu pula sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam:

كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ وَيُسَمِّي وَيُكَبِّرُ وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَذْبَحُ بِيَدِهِ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyembelih dua ekor kambing amlah (putih hitam) dan bertanduk, lalu beliau membaca basmallah dan bertakbir. Sungguh aku telah melihat beliau menyembelih hewan Qurbannya dengan tangannya sendiri sambil meletakkan kakinya di atas leher Qurbannya.” (HR. Ibnu Majah no: 3111)

Begitu pula haditsnya shalallahu alaihi wasallam:

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih kecuali kambing musinnah, kecuali kalian kesulitan mendapatkannya maka sembelihlah domba yang berumur setengah tahun.” (HR. Muslim no: 1963)

Imam An Nawawi rahima hullah dalam syarah shahih Muslim berkata tentang makna musinnah:

هي الثنيَّةُ مِن كلِّ شيء: مِنَ الإبِلِ والبَقَرِ والغَنَمِ فما فوقَه

“Musinnah adalah Tsaniyah ke atas (usia satu tahun), jadza’ah adalah di bawahnya. Tsaniy dari Unta : Berumur 5 tahun atau lebih, tsaniy dari Sapi : Berumur 2 tahun atau lebih, tsaniy dari Kambing : Berumur 1 tahun atau lebih, sedangkan Jadza’ah : Berumur setengah tahun.” (Syarah Shahih Muslim 13/114)

Ibnu Rusyd rahima hullah berkata:

أجمع العُلَماء على جوازِ الضَّحايا من جميعِ بهيمةِ الأنعام، واختلفوا في الأفضَلِ من ذلك

“Para ulama’ mereka bersepakat bahwa boleh menyembelih hewan-hewan Qurban dari binatang ternak, namun mereka berselisih pendapat tentang mana yang lebih utama dari hewan-hewan ternak tersebut.” (Bidayatul Mujtahid 1/430)

2. Disyaratkan hewan yang disembelih sudah masuk umur. Maka binatang ternak yang belum masuk umur tidak boleh disembelih. Hal ini berdasarkan hadis yang telah disebutkan di atas.

3. Hewan yang disembelih harus selamat dari cacat-cacat yang nampak yang menyebabkan tidak boleh dijadikan hewan Qurban. Diantara cacat tersebut ialah:

– Matanya buta sebelah, yaitu; bermata satu, atau salah satu matanya muncul hampir keluar, atau juling.

– Hewannya sakit, yang ciri-cirinya nampak jelas, seperti; panas yang menjadikannya duduk terus dan tidak mau makan, atau kena penyakit kudis yang merusak daging dan mempengaruhi kesehatan tubuhnya, atau luka yang dalam yang mempengaruhi kesehatannya.

– Hewannya pincang, yang menghalangi hewan tersebut untuk bisa berjalan seperti biasanya.

– Sangat kurus yang bisa menjadikannya stress, berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ketika ditanya bahwa hewan Qurban harus terhindar dari (cacat) apa saja?, Beliau mengisyaratkan dengan jarinya (4) dan bersabda:

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي اَلضَّحَايَا: اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوَرُهَا, وَالْمَرِيضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا, وَالْعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ظَلْعُهَا  وَالْكَسِيرَةُ اَلَّتِي لَا تُنْقِي

“Ada empat hal (cacat) yang tidak boleh ada pada hewan Qurban: (1) buta sebelah yang jelas kebutaannya, (2) sakit yang jelas tampak sakitnya, (3) pincang yang jelas dan tampak jelas pincangnya, (4) Hewan yang sangat kurus.” (HR. Sunan yang Empat)

Imam An Nawawi rahimahullah berkata:

وَأَجْمَعُوا عَلَى اِسْتِحْبَاب اِسْتِحْسَانهَا وَاخْتِيَار أَكْمَلهَا ، وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الْعُيُوب الْأَرْبَعَة الْمَذْكُورَة فِي حَدِيث الْبَرَاء ، وَهُوَ : الْمَرَض ، وَالْعَجَف وَالْعَوْرَة وَالْعَرَج الْبَيِّن ، لَا تُجْزِي التَّضْحِيَة بِهَا ، وَكَذَا مَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا ، أَوْ أَقْبَح كَالْعَمَى ، وَقَطْع الرَّجُل ، وَشَبَهه . وَحَدِيث الْبَرَاء هَذَا لَمْ يُخَرِّجهُ الْبُخَارِيّ وَمُسْلِم فِي صَحِيحَيْهِمَا ، وَلَكِنَّهُ صَحِيح رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيّ وَالنَّسَائِيُّ وَغَيْرهمْ مِنْ أَصْحَاب السُّنَن بِأَسَانِيد صَحِيحَة وَحَسَنَة ، قَالَ أَحْمَد بْن حَنْبَل : مَا أَحْسَنه مِنْ حَدِيث ، وَقَالَ التِّرْمِذِيّ : حَدِيث حَسَن صَحِيح

“Para ulama sepakat akan disunnahkannya dan dianggap baik memilih hewan Qurban yang terbaik (sempurna). Para ulama pun sepakat bahwa empat cacat yang disebutkan dalam hadits Al Bara’, yaitu sakit, sangat kurus, buta sebelah, dan pincang maka tidak sah ber-qurban dengan hewan semacam ini. Begitu pula yang semakna dengannya atau lebih jelek cacatnya juga tidak sah, seperti kedua matanya buta, kakinya terpotong atau yang semisalnya. Sedangkan hadis Al Bara’ tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka berdua. Akan tetapi hadis tersebut adalah hadits yang shahih diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai, dan selain mereka dari penulis kitab sunan dengan sanad yang shahih dan hasan. Imam Ahmad bin Hambal berkata bahwa hadis tersebut bagus (hasan). Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih.” (Syarh Shahih Muslim 13/110-111)

Begitu pula Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahima hullah juga berkata:

أمَّا العيوبُ الأربعةُ المذكورةُ في هذا الحديثِ؛ فمجتَمَعٌ عليها، لا أعلَمُ خلافًا بين العُلَماءِ فيها، ومعلومٌ أنَّ ما كان في معناها داخِلٌ فيها، ولا سيما إذا كانت العِلَّةُ فيها أبيَنَ

“Adapun cacat-cacat yang disebutkan dalam hadis tadi, maka telah disepakati (ketidakbolehannya untuk dijadikan hewan Qurban). Aku tidak mengetahui adanya perbedaan diantara para ulama’ tentang hal ini. Sudah dimaklumi bahwa yang semakna dengan makna (cacat) di atas juga termasuk ke dalam hal tersebut, terlebih lagi cacatnya nampak lebih jelas (lebih parah).” (At-Tamhid 20/168)

Judul Buku: Risalah Qurban

Penulis : Ananda Ridho Gusti Hafidzahullah

]]>
Risalah Qurban https://nidaulfithrah.com/risalah-qurban/ Wed, 20 May 2026 06:54:49 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21925 Allah ta’ala telah memberikan kepada kita begitu banyak karunia-Nya. Karunia-karunia yang apabila manusia ingin menghitungnya maka dia tidak akan pernah bisa. Allah ta’ala berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl ayat: 18)

Diantara nikmat besar yang Allah ta’ala karuniakan kepada kita semua ialah nikmat harta. Memiliki harta ialah salah satu karunia diantara banyak karunia Allah ta’ala. Banyak sekali manusia bermimpi agar mereka memiliki banyak harta. Banyak manusia bekerja keras demi memiliki harta yang cukup atau melimpah. Bahkan sebagian manusia ada yang na’udzubillah tidak peduli lagi darimanakah berasal hartanya. Sungguh benar sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ, أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ ؟

“Akan datang suatu masa, orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan apa dia mendapatkan harta. Apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram?“ (HR. Al Bukhari no: 1941)

Padahal kalau kita melihat hadist Nabi shalallahu alaihi wasallam yang lainnya, disebutkan bahwa yang dikatakan sebagai harta kita ada 3 cirinya:

ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ

“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan maka akan berlalu?” (HR. Muslim no: 2958)

Setelah Allah ta’ala karuniakan kepada kita nikmat harta, kita dituntut setelahnya untuk menysukuri nikmat tersebut. Bersyukur atas nikmat Allah ta’ala adalah sebuah perintah dari-Nya. Allah ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah ayat: 152)

Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah berkata kepada Mu’adz bin Jabal radiallahu anhu dengan mengajarkan sebuah do’a:

إِنِّيْ لَأُحِبُّكَ ، لاَ تَدَعَنَّ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ:  اَللّٰهُمَّ  أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Sungguh aku mencintaimu, janganlah engkau tinggalkan di akhir (setelah selesai) setiap shalat untuk mengucapkan ; ‘Ya Allâh, tolonglah aku untuk berdzikir (selalu ingat) kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta memperbaiki ibadah kepada-Mu’.” (HR. Abu Dawud no: 1522)

Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat harta, diantaranya ialah dengan cara ber-qurban. Dalam sebuah ayat Allah ta’ala berfirman:

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ (3)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan ber-qurbanlah (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (3).” (QS. Al Kautsar ayat: 1-3)

A. Pengertian Qurban

Ber-qurban dalam Bahasa Arab disebut dengan Al-Udhhiyyah (الأضْحِيَّة). Al Udhhiyyah secara bahasa berarti sesuatu yang disembelih pada saat ‘idul adha, dan bentuk jama’ dari kata Al Udhhiyyah adalah Al Adhohiy. (Anis Al Fuqoha’ hal : 103)

Ber-qurban secara istilah maknanya ialah:

ما يُذبَحُ من بهيمةِ الأنعامِ في يومِ الأضحى إلى آخِرِ أيَّامِ التَّشريقِ تقرُّبًا إلى اللهِ تعالى

“Apa-apa yang disembelih dari binatang ternak pada hari ‘ied adha hingga hari tasyrik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.” (Fathul Qodir 9/505)

B. Pensyari’atan Qurban

Ibadah Qurban adalah sebuah ibadah yang disyari’atkan oleh Allah ta’ala berdasarkan dalil-dalil dari al Qur’an, sunnah, dan ijma’ para ulama’. Diantara dalil-dalil yang menjadi landasan perintah ber-qurban ialah

Allah ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan ber-qurbanlah.” (QS. Al Kautsar ayat: 2)

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى للَّهِ رَبِّ الْعَـلَمِينَ * لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al An’am ayat: 162-163)

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ضَحَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shalallahu alaihi wasallam ber-qurban dengan dua ekor domba gemuk dan bertanduk. Keduanya disembelih dengan tangannya, dia membaca basmalah dan bertakbir. Dia letakkan kakinya di atas kedua leher hewan tersebut.” (HR. Al Bukhari no: 5558 dan Muslim no: 1966)

Dari ‘Abdullah bin‘Umar radiallahu anhu dia berkata:

أَقَامَ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي 

“Nabi shalallahu alaihi wasallam menetap di Madinah selama sepuluh tahun beliau selalu ber-qurban.” (HR. Ahmad no: 4935 dan At Tirmidzi no: 1507)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radiallahu anhu dia berkata:

 قَسَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ ضَحَايَا فَصَارَتْ لِعُقْبَةَ جَذَعَةٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَارَتْ لِي جَذَعَةٌ قَالَ ضَحِّ بِهَا

“Sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wasallam membagi hewan Qurban kepada para shahabatnya, maka Uqbah mendapatkan jaza’ah, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan jaza’ah (kambing usia sekitar 8 bulan).” Maka beliau bersabda, “Ber-qurbanlah dengannya.” (HR. Al Bukhari no: 5547)

Begitu pula dalil dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

من ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

“Barangsiapa yang menyembelih (Qurban) setelah shalat  (‘Idul Adha) maka ibadahnya sempurna dan sesuai dengan ajaran kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari no: 5545)

Para ulama’ rahimahumullah pun mereka bersepakat bahwa ber-qurban ialah salah satu ibadah yang disyari’atkan di dalam agama Islam ini. Diantaranya ialah ucapan Ibnu Qudamah rahimahullah dia berkata:

أجمع المسلمون على مشروعيَّة الأُضْحِيَّة

“Kaum muslimin mereka bersepakat tentang disyari’atkannya ber-qurban.” (Al Mughni 9/435)

Begitu pula disebutkan oleh Ibnu Daqiq Al ‘Id rahimahullah:

لا خلاف أنَّ الأُضْحِيَّة من شعائِرِ الدِّينِ

“Tidak ada perselisihan pendapat bahwasanya ber-qurban diantara syi’ar-syi’ar agama Islam.” (Ihkam Al Ahkam hal: 482) 

Sama halnya dengan ucapan Imam Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, beliau juga berkata:

ولا خلاف في كونها من شرائع الدين

“Tidak ada perselisihan bahwasanya hal tersebut (al udhhiyyah) termasuk dalam syi’ar-syi’ar agama.” (Fathul Bari 3/10)

C. Hikmah Disyari’atkan Ber-qurban

Setiap syari’at yang Allah ta’ala tetapkan pasti memiliki hikmah yang sangat agung di dalamnya. Terkadang hikmah tersebut bisa diketahui oleh manusia, seringnya hikmah tersebut tidak dapat diketahui oleh manusia. Karena Allah ta’ala memiliki nama Al Hakim (Yang Maha Bijaksana). Begitu pula syari’at Qurban, di dalamnya juga ada hikmah-hikmah yang agung. Diantara hikmah tersebut ialah:

1. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ 

2. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim alaihissalam. Dimana Ketika itu Allah ta’ala memerintahkannya untuk menyembelih anaknya yang bernama Isma’il alaihissalam. Sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan dalam sebuah ayat:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ ٱتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl ayat: 123)

3. Sebagai pembelajaran seorang muslim tentang masalah kesabaran. Lihat bagaimana kesabaran mereka berdua yaitu Ibrahim dan Isma’il alaihissalam. Sang ayah (Ibrahim alaihissalam) menerima perintah untuk menyembelih dan dia bersabar atasnya. Sedangkan sang anak (Isma’il alaihissalam) pun juga bersabar saat menerima takdir tersebut. Maka sungguh benar sabda Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لِيُصِيبَهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Manusia dengan cobaan terberat adalah para nabi, lalu yang semisalnya, dan yang semisalnya, masing-masing diuji sesuai kadar imannya. Barang siapa kuat imannya maka berat ujiannya, dan barang siapa lemah imannya maka ringan ujiannya. Semua orang pasti akan diuji sehingga gugur dosa-dosanya.” (HR. At Tirmidzi no: 2398)

4. Menumbuhkan rasa cinta diantara sesama kaum muslimin dengan memberikan kepada saudara-saudara kita daging-daging Qurban dari hewan Qurban terbaik yang mampu untuk kita Qurbankan. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Al Bukhari no: 13)

D. Keutamaan Ber-qurban

Tidak diragukan lagi di dalam ber-qurban memiliki banyak sekali keutamaan yang agung di dalam agama Islam. Diantara keutamaan orang-orang yang mau ber-qurban maka pada hakikatnya dia sedang menghidupkan syi’ar-syi’ar Islam. Allah ta’ala berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj ayat: 32)

Selain menghidupan syi’ar-syi’ar Islam, melalui ber-qurban seseorang telah mencocoki sunnah Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam dan kaum muslimin. Di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam pernah bersabda:

مَن ذبَحَ قبل الصَّلاةِ فإنَّما يذبحُ لنَفْسِه، ومَن ذَبَحَ بعد الصَّلاةِ فقد تَمَّ نسُكُه وأصاب سُنَّةَ المُسْلمينَ

“Barangsiapa yang menyembelih Qurban sebelum shalat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan Qurbannya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 5556)

Begitu pula dengan ber-qurban maka seseorang sedang melakukan ibadah yang agung dari antara ibadah agung yang ada di dalam agama Islam. Bahkan Allah ta’ala di dalam surat Al Kautsar menggabungkan antara ibadah sholat dengan ibadah ber-qurban.

Judul Buku: Risalah Qurban

Penulis : Ananda Ridho Gusti Hafidzahullah

]]>
Syarat sahnya wakaf untuk keturunan anak cucu https://nidaulfithrah.com/syarat-sahnya-wakaf-untuk-keturunan-anak-cucu/ Tue, 19 May 2026 05:56:33 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21919 (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/49196)

Teks Arab

شروط صحة الوقف على الأولاد

السؤال

ما قول الشرع في الوقف الذرية حيث أن والدي رحمه الله قد أوقف جميع أملاكه قبل وفاته وقف ذرية لغرض أن يبقى بحوزة أولاده من بعده ولا يستطيعون بيعه لشخص آخر ولم يوثق هذا لدى الجهات الرسمية بل لدى شيخ المحل في القرية ونحن الآن بحاجة لكي نبيع نصيبنا من الميراث فهل يجوز لنا ذلك أم أنه غير جائز أفيدونا بالصواب جزاكم الله عنا خيرا

الإجابــة

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فوقف المرء المال على أولاده يصح إن وقع بصيغة ناجزة، بأن يخلي بينهم وبين الشيء الموقوف في حياته، أو يخلي بينه وبين ناظره، وأما لو بقي تحت يده هو حتى مات فإن الوقف يبطل لعدم الحوز، قال الدرديري: وأما ما له غلة كربع وحائط وحانوت يحبسه في صحته، وكان يكريه ويفرق غلته على مستحقيه كل عام -مثلا- ولم يخرجه من يده قبل المانع كالموت حتى حصل المانع، بطل وقفه لعدم الحوز.أهـ. ومثل ذلك في البطلان ما إذا أوقفه عليهم بصيغة الوصية ، بأن قال: هو وقف على أولادي بعد موتي فإنه لا يصح حينئذ لكونه صار وصية لوارث، وراجع فيه الفتوى رقم: 17081.

ثم إن أهل العلم اختلفوا في تحديد ما يصح وقفه من المال وما لا يصح وقفه، والذي عليه جمهورهم أنه لا يصح أن يوقف إلا ما يمكن الانتفاع بغلته مع بقاء عينه، وراجع في هذا الفتوى رقم: 53841.

وبناء على جميع ما تقدم.. فإن وقف أبيكم هذا صحيح فيما تعلق بالدور والحيوانات والعقار بكافة أنواعه، والآلات والأفرشة، وغير صحيح عند الجمهور فيما كان مثل الأطعمة والأشربة والمبالغ النقدية ونحو ذلك مما لا يصح استغلاله وبقاء عينه، وبناء على قول الجمهور فلا يصح إذاً لأي منكم أن يبيع شيئا مما بينا صحة وقفه، بخلاف غيره فلكم الانتفاع به على أي وجه أردتموه.

والله أعلم.

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Bagaimana menurut syariat mengenai wakaf untuk anak cucu. Ayahku rahimahullah telah mewakafkan seluruh hartanya sebelum wafatnya, yaitu wakaf untuk anak cucu. Tujuannya agar hartanya tetap untuk anak-anaknya setelah wafatnya. Mereka tidak bisa menjualnya kepada orang lain. Namun, hal ini tidak disahkan pada lembaga resmi, tetapi sekedar pada seorang Syaikh di kampung. Sementara kami sekarang memiliki kebutuhan untuk menjual apa yang merupakan bagian warisan kami. Apakah diperbolehkan ataukah tidak? Mohon pencerahannya. Jazakumullahu khairan.

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Wakafnya seseorang berupa harta untuk anak keturunannya adalah sah, jika dilakukan dengan lafal yang sempurna. Di mana ia menyerahkan harta wakaf tersebut kepada mereka atau Nazhir (pengawas) nya semasa masih hidup. Adapun jika harta masih di bawah kekuasaannya hingga mati maka wakafnya batal karena tidak adanya penguasaan. Ad-Dardiry berkata: Barang-barang yang mendatangkan keuntungan seperti kebun, rumah dan toko yang seseorang menahannya semasa masih sehat di mana dia menyewakannya lalu membagi-bagi keuntungannya kepada siapa saja yang berhak setiap tahun misalnya dan tidak melepas dari tangannya sebelum datangnya penghalang seperti kematian atau lainnya maka batal wakafnya karena tidak adanya penyerahan [selesai]. Termasuk batal juga jika seseorang mewakafkan dengan lafal wasiat, contoh: ini diwakafkan untuk anak keturunanku setelah kematianku, maka ini tidak sah kerena ia berubah menjadi wasiat bagi ahli waris. Silahkan lihat Fatwa no. 18071.

Ahli ilmu berbeda pendapat mengenai ketentuan harta yang sah dan tidak sah untuk diwakafakan. Menurut jumhur tidaklah sah kecuali apa yang bisa dimanfaatkan keuntungannya sementara barangnya tetap utuh. Lihat Fatwa no. 14835

Berdasarkan keterangan di atas, wakaf ayahmu shohih yang terkait dengan rumah, binatang, tempat tinggal dengan variannya, peralatan-peralatan, dan perabotan. Tetapi tidak shohih menurut Jumhur ulama yang berupa makanan, minuman, uang tunai, dan lain-lain yang tidak mendatangkan keuntungan dengan tetap utuhnya barang. Berdasarkan pendapat jumhur ulama, tidak diperbolehkan bagi kalian untuk menjual sesuatu yang telah sah diwakafkan. Berbeda dengan selainnya, maka kalian boleh memanfaatkannya dengan cara apa pun yang kalian inginkan. Allahu A’lam.

Judul Buku: Terkadang Ditanyakan 27

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Dalil disyaratkannya haul dalam zakat https://nidaulfithrah.com/dalil-disyaratkannya-haul-dalam-zakat/ Fri, 15 May 2026 06:21:20 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21893 (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/1903/)

Teks Arab

الدليل على اشتراط الحول

السؤال

ماهو الدليل من الكتاب والسنة على اشتراط مضي الحول في الزكاة؟

الإجابــة

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فاشترط الحول فيما يشترط فيه الحول من الأموال الزكوية جاء في السنة وآثار الخلفاء والصحابة، أما القرآن فلم يرد فيه شيء من ذلك، ومما ورد في السنة ما رواه أبو داود بسند حسن وأحمد وابن ماجه عن علي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا كان لك مائتا درهم وحال عليها الحول ففيها خمسة دراهم، وليس عليك شيء حتى يكون لك عشرون ديناراً وحال عليها الحول ففيها نصف دينار فما زاد فبحساب ذلك، وليس في مال زكاة حتى يحول عليه الحول” وهذا الحديث صحح الدارقطني وقفه على علي رضي الله عنه، وقال الحافظ ابن حجر: حديث علي لا بأس بإسناده والآثار تعضده فيصلح للحجة. وللترمذي عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: من استفاد مالاً فلا زكاة عليه حتى يحول عليه الحول. ورجح الحافظ وقفه. وقال البيهقي: المعتمد في اشتراط الحول على الآثار الصحيحة عن أبي بكر وعمر وعثمان وابن عمر وغيرهم. وقال شيخ الإسلام ابن تيمية الحول شرط في وجوب الزكاة في العين والماشية كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يبعث عماله على الصدقة كل عام، وعمل بذلك الخلفاء لِما علموه من سننه،.

والله تعالى أعلم.

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Apa dalil dari Al-Qur’an dan sunnah mengenai disyaratkannya haul (mencapai umur satu tahun) dalam zakat?

Jawab

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Disyaratkannya haul pada harta yang dizakati disebutkan di dalam Hadits dan Atsar Khulafaur Rasyidin dan Shahabat. Adapun untuk Al-Qur’an tidak menyebutkannya. Disebutkan di dalam Hadits yang diriwayatkan Abu Daud dengan sanad hasan juga Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Ali radiallahu anhu, dia mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا كان لك مائتا درهم وحال عليها الحول ففيها خمسة دراهم، وليس عليك شيء حتى يكون لك عشرون ديناراً وحال عليها الحول ففيها نصف دينار فما زاد فبحساب ذلك،  وليس في مال زكاة حتى يحول عليه الحول (وهذا الحديث صحح الدارقطني وقفه على علي رضي الله عنه)

Rasulullah shalallahu alahi wasallam bersabda: “Jika kamu memiliki 200 dirham dan telah mencapai haul (satu tahun), maka zakatnya adalah 5 dirham. Kamu tidak berkewajiban zakat hingga kamu memiliki 20 dinar dan telah mencapai haul, maka zakatnya adalah setengah dinar. Apa yang lebih dari itu, maka zakatnya dihitung sesuai dengan yang demikian itu. Dan tidaklah (terdapat zakat) pada harta yang dizakati hingga mencapai haul” (Hadits ini Shahih Daruqutni, ia mawquf kepada Ali radhiyallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: Hadits Ali ini sanadnya tidak ada masalah. Atsar-Atsar yang ada saling munguatkannya hingga bisa dijadikan sebagai hujjah.

Adapun di dalam riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Umar radiallahu anhuma, dia mengatakan:

من استفاد مالاً فلا زكاة عليه حتى يحول عليه الحول.  

“Siapa yang memanfaatkan harta maka tidak ada zakatnya hingga ia mencapai haul (berumur satu tahun)” (Di-rojih-kan oleh Al-Hafizh, dan ia menyepakatinya)

Al-Baihaqi berkata: Sandaran mengenai disyaratkannya haul adalah Atsar-Atsar shahihah dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ibnu Umar dan lain-lain. 

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata: Haul itu syarat bagi wajibnya zakat uang tunai dan hewan ternak sebagaimana perbuatan Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau mengutus petugas zakat setiap tahun, lalu dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dimana mereka mengetahuinya sebagai sunnah. Allahu A’lam.

Judul Buku: Terkadang Ditanyakan 27

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Hukum wanita berceramah di hadapan kaum lelaki dan video ceramah https://nidaulfithrah.com/hukum-wanita-berceramah-di-hadapan-kaum-lelaki-dan-video-ceramah/ Fri, 15 May 2026 05:59:15 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21890 (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/38541/)

Teks Arab

حكم محاضرة المرأة للرجال وتصوير المحاضرة

السؤال: إذاً ننتقل إلى رسالة أخينا حيدر عبد الله أبو دياب من السودان. أخونا يقول: هل يجوز للمرأة أن تخطب في جمع من الناس فيه رجال ونساء، وبواسطة مكبرات الصوت باسم الدين، وتصوير تلك الندوة كما يسمونها بأفلام الفيديو، ويتم توزيعها داخل وخارج البلد، وكل ذلك باسم الدين؟ وهل في الإسلام قاعدة اسمها: الغاية تبرر الوسيلة؟

الجواب: هذه الخطبة لا حرج فيها، كون المرأة تخطب الناس وتذكر الناس وإن كان فيهم رجال، لا مانع من ذلك بالصوت العادي، لا بالخضوع ولا بصوت آخر منكر كما قال جل وعلا: يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا [الأحزاب:32].

فإذا كانت الخطبة قولاً معروفاً ليس فيه شيء مما يعتبر خضوعاً في القول، والمقصود النصيحة، فقد نصح الصحابيات وغير الصحابيات نصحوا الرجال ونصحوا النساء، والله يقول سبحانه: وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ [التوبة:71]، ويقول سبحانه: وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا [فصلت:33] وهذا يعم الرجال والنساء جميعاً، فإذا خطبت وذكرت ودعت إلى الله فلا بأس بذلك بشرط الصيانة والبعد عن الخلوة بأي رجل من غير محارمها، ومع الحجاب، كل هذا لا بأس به.

أما التصوير فهذا هو الذي ينكر، فإنها لا تصور إلا إذا كان تصويرها وهي مستورة متحجبة في وجهها وكل شيء هذا لا يضر تصويرها، لكن جنس التصوير ينبغي ألا يفعل في هذه المسائل، بل ينبغي أن يسجل سماعاً من دون صورة؛ لأن الصورة أصلها ممنوع ومحرم كما قال النبي ﷺ: أشد الناس عذاباً يوم القيامة المصورون فلا حاجة إلى التصوير، ولا حاجة إلى تصويرها ولكن يسجل الكلام، تسجل الخطبة والموعظة وينفع الله بها من يشاء من دون حاجة إلى التصوير. نعم.

المقدم: بارك الله فيكم.

الشيخ: نعم. 

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Kita beralih ke pertanyaan saudara kita Haidar Abdullah Abu Dayab dari Sudan. Dia mengatakan: Bolehkah bagi wanita untuk berceramah di hadapan sekumpulan manusia lelaki dan wanita, dan menggunakan pengeras suara atas nama kemaslahatan dalam agama. Lalu hasil shootingnya yang dinamai film video disebar ke dalam dan luar negeri. Semuanya itu atas nama agama. Apakah di dalam Islam terdapat kaedah “al-ghoyah tubarriru al-wasilah” (tujuan membenarkan cara)

Jawab: Ceramah ini tidaklah mengapa. Seorang wanita yang berceramah di hadapan banyak orang untuk mengingatkan mereka meskipun di dalamnya ada kaum lelaki, tidak masalah asalkan suaranya natural tidak dibikin-bikin dan tidak dilembut-lembutkan. Tidak pula dengan suara lain yang munkar. Allah ta’ala berfirman,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (الأحزاب:23)

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melembutkan dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Ahzab: 32)

Jika ceramahnya adalah perkara yang ma’ruf tidak terdapat di dalamnya ucapan yang dilembut-lembutkan, dan tujuannya semata-mata sebagai nasehat maka dahulu para Sahahabiyah dan juga selain Shahabiyah memberikan nasehat kepada lelaki dan wanita. Allah azza wa jalla berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ [التوبة:17]

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At-Taubah: 71)

Juga dalam ayat lainnya,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا [فصلت:33] 

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh” (QS. Fushilat: 33)

Ini mencakup semuanya lelaki dan perempuan. Jika seorang wanita berceramah, memberi peringatan, dan berdakwah kepada Allah ta’ala maka tidak mengapa dengan syarat menjaga diri dan jauh dari kholwat dengan lelaki siapapun yang bukan mahramnya serta berhijab, maka tidak mengapa.

Adapun video maka ini perkara yang diingkari. Jangan direkam. Kecuali jika dia bercadar, maka tidak mengapa. Tetapi video seyogyanya tidak bergambar, melainkan sekedar suara saja. Karena hukum gambar asalnya haram sebagaimana sabda Nabi shalallahu alahi wasallam,

 أشد الناس عذاباً يوم القيامة المصورون 

“Manusia yang berat adzabnya pada hari Kiamat adalah pelukis”

Jadi, tidak diperlukan gambarnya, cukup suaranya saja. Ceramah dan maw’izhoh bisa direkam dan semoga Allah memeberinya manfaat kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa diperlukan gambar orangnya. Na’am.

Penanya: Barakallahu fikum

Syaikh: Na’am

Judul Buku: Terkadang Ditanyakan 27

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Lihatlah dari siapa Anda mengambil agama Anda?! https://nidaulfithrah.com/lihatlah-dari-siapa-anda-mengambil-agama-anda/ Thu, 14 May 2026 06:28:12 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21886 (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/38541/)

Teks Arab

انظروا عمن تأخذون دينكم

السؤال

هل يجوز لناعامة أهل السنة الأخذ ببعض الآراء الفقهية الموجودة في بعض المذاهب المبتدعة المخالفة لمذهبنا الصادرة عن علماء لا نكفرهم، بل بعضنا يجلهم ويقدرهم.

وجزاكم الله خيرا

الإجابــة

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فإن العامي مأمور بتقليد من يثق بعلمه ودينه من أهل العلم، وأهل الأهواء ليسوا محلاً لتقليده. فالواجب على المسلم أن يتجنب أهل البدع، وأن يحذر منهم لئلا تتخطفه أهواؤهم، وفي صحيح مسلم عن محمد بن سيرين قال: إن هذا العلم دين، فانظروا عمن تأخذون دينكم. فلا يجوز للمرء أن يقلد في دينه المبتدعة وأهل الأهواء، ففي سنن الدارمي عن أسماء بن عبيد قال: دخل رجلان من أصحاب الأهواء على ابن سيرين فقالا: يا أبا بكر: نحدثك بحديث؟ قال: لا، قالا: فنقرأ عليك آية من كتاب الله؟ قال: لا، لتقومان عني أو لأقومن، قال: فخرجا، فقال بعض القوم: يا أبا بكر: وما كان عليك أن يقرآ عليك آية من كتاب الله تعالى؟! قال: إني خشيت أن يقرآ علي آية فيحرفانها فيقر ذلك في قلبك. ولذا، فإنه يجب على الأخ السائل أن يجتنب أهل البدع والأهواء، وفي مذاهب أهل السنة كفاية ومقنع، وراجع الفتوى رقم: 7540، ورقم: 485، ورقم: 4325، ورقم: 6484. والله أعلم.

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan: Apakah boleh bagi kita sebagai orang awam Ahlussunah untuk mengambil sebagian pendapat-pendapat dalam peramasalahan fiqh dari sebagian madzhab-madzhab yang bid’ah yang menyelisihi madzhab kita yang bersumber dari para ulama yang kita tidak mengingkari kredibilitasnya. Bahkan sebagian kita ada yang memuliakan dan memberikan tempat untuk mereka. Jazakumullahu khairan.

Jawab

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Orang awam diperintahkan untuk ber-taqlid kepada orang yang terpercaya keilmuan dan agamanya dari kalangan ahli ilmu. Ahli ahwa (hawa nafsu) tidak memiliki tempat untuk di-taqlid-i. Wajib bagi setiap muslim untuk menjauhi ahli bid’ah. Wajib menghindari mereka agar hawa-hawa nya (pendapat-pendapatnya yang berdasarkan nafsu) tidak menyambarnya. Disebutkan di dalam Shahih Muslim dari Muhammad bin Sirin rahimahullah. Dia mengatakan:

إن هذا العلم دين، فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu itu agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”

Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk ber-taqlid- pada keberagamaan ahli bid’ah dan ahli hawa”

Di dalam Sunan Ad-Darimy, dari Asma’ binti Ubaid, dia berkata: 

دخل رجلان من أصحاب الأهواء على ابن سيرين فقالا: يا أبا بكر: نحدثك بحديث؟ قال: لا، قالا: فنقرأ عليك آية من كتاب الله؟ قال: لا، لتقومان عني أو لأقومن، قال: فخرجا، فقال بعض القوم: يا أبا بكر: وما كان عليك أن يقرآ عليك آية من كتاب الله تعالى؟! قال: إني خشيت أن يقرآ علي آية فيحرفانها فيقر ذلك في قلبك

“Ada dua orang dari kalangan ahli ahwa masuk menemui Ibnu Sirin. Keduanya berkata: Wahai Abu Bakar, Engkau izinkan kami untuk membacakan Hadits bagimu? 

Beliau menjawab: Tidak. Keduanya berkata lagi: Kami bacakan satu ayat dari Al-Qur’an? Beliau menjawab: Tidak. Silahkan kalian berdua pergi atau saya yang pergi. Keduanya pun keluar pergi.  

Sebagian kaum mengatakan: Wahai Abu Bakar, Bagaimana kamu tidak mengizinkan orang yang akan membacakan satu ayat Al-Qur’an? Beliau menjawab: Saya khawatir mereka membacakan kepadaku satu ayat dengan men-tahrif-nya lalu  ia menetap di dalam hati kamu”.

Jadi, wajib bagi saudara penanya untuk menghindari ahli ahwa dan bida’. Cukuplah dengan madzhab-madzhab Ahlussunnah, ia telah mencukupi dan mencakupi. Silahkan lihat Fatwa no. 7540. No. 485, 4325 dan 6484. Allahu A’lam

Judul Buku: Terkadang Ditanyakan 27

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Beribadah di Dalam Gua Hiro’ https://nidaulfithrah.com/beribadah-di-dalam-gua-hiro/ Wed, 13 May 2026 06:11:04 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21882 (https://www.islamweb.net/ar/article/14769/)

Teks Arab

التعبد في غار حراء

كانت عند العرب بقايا من الحنيفية التي ورثوها عن دين إبراهيم عليه السلام، فكانوا مع -ما هم عليه من الشرك- يتمسكون بأمور صحيحة توارثها الأبناء عن الآباء جيلاً بعد جيل، وكان بعضهم أكثر تمسكاً بها من بعض، بل كانت طائفة منهم -وهم قلة- تعاف وترفض ما كان عليه قومها من الشرك وعبادة الأوثان، وأكل الميتة، ووأد البنات، ونحو ذلك من العادات التي لم يأت بها شرع حنيف، وكان من تلك الطائفة ورقة بن نوفل و زيد بن نفيل ورسولنا صلى الله عليه وسلم قبل بعثته، والذي امتاز عن غيره صلى الله عليه وسلم باعتزاله الناس للتعبد والتفكُّر في غار حراء، فما هو خبره صلى الله عليه وسلم في هذا الشأن، هذا ما سنقف عليه في الأسطر التالية:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يتأمل منذ صغره ما كان عليه قومه من العبادات الباطلة والأوهام الزائفة، التي لم تجد سبيلاً إلى قلبه، ولم تلق قبولاً في عقله، بسبب ما أحاطه الله به من رعاية وعناية لم تكن لغيره من البشر، فبقيت فطرته على صفائها، تنفر من كل شيء غير ما فطرت عليه.

تلك الحال التي كان عليها صلى الله عليه وسلم دفعت به إلى اعتزال قومه وما يعبدون من دون الله، إلا في حق كمساعدة الضعيف، ونُصْرة المظلوم، وإكرام الضيف، وصلة الرحم، فكان يأخذ طعامه وشرابه ويذهب إلى غار حراء، كما ثبت في الحديث المتفق عليه أنه عليه الصلاة والسلام قال: ( جاورت بحراء شهراً…) ، وحراء غار صغير في جبل النور على بعد ميلين من مكة، ولا ترى حول هذا الغار إلا جبالاً شامخة وسماءاً صافية، تبعث على التأمل والتفكر.

وكان صلى الله عليه وسلم يقيم في غار حراء الأيام والليالي ذوات العدد، يقضي وقته في عبادة ربه والتفكَّر فيما حوله من مشاهد الكون، وهو غير مطمئن لما عليه قومه، ولكن ليس بين يديه طريق واضح ولا منهج محدد يطمئن إليه و يرضاه.

وكان أكثر ما يقيم فيه خلال شهر رمضان المبارك ، يترك أم المؤمنين خديجة وينصرف عنها وينقطع بنفسه في هذا الغار للتفكر والالتجاء إلى الله جل وعلا.

ولم تأت الروايات بذكر صفات أو هيئات كان يتخذها النبي صلى الله عليه وسلم في تعبده في هذا الغار، بل كانت الغاية هي الابتعاد عما كان عليه قومه من الشرك ، والتفكر في ملكوت السماوات والأرض .

وكان اختياره لهذه العزلة من الأسباب التي هيأها الله تعالى له ليعدّه لما ينتظره من الأمر العظيم، والمهمة الكبيرة التي سيقوم بها، وهي إبلاغ رسالة الله تعالى للناس أجمعين، ومن هنا اقتضت حكمة الله أن يكون أول ما نزل عليه من الوحي في هذا الغار.

لقد حظي ذلك الغار بذكرى مرحلة من مراحل هذه الأمة، قبل وعند البعثة النبوية، ومع ذلك لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يزور الغار أو يعود إليه بعد ما تركه وبدأ دعوته إلى ربه، ولم يكن الصحابة رضي الله عنهم يزورنه أيضاً أو يصعدون إليه، ومنه نعلم عدم مشروعية ما يفعله الناس اليوم من اتخاذ الغار مزارا والصلاة فيه. والله أعلم.

Terjemahan teks Arab

Saya, Muhammad Nur Yasin Zain, pernah ditanya tentang sebab uzlah-nya Muhammad ke gua Hira. Maka saya turuankan artikel ringan tentangnya. Mari kita simak!

Pada bangsa Arab terdapat ajaran agama yang lurus yang diwariskan dari agama Ibrahim alaihissalam. Bersama dengan kesyirikan yang melanda, mereka masih berpegang teguh dengan perkara-perkara yang benar yang turun-temurun dari generasi ke generasi. Sebagian kalangan mereka masih banyak yang berpegang teguh dengannya dibandingkan sebagian kalangan yang lain. Ada kelompok dari mereka dan jumlahnya hanya sedikit membenci dan menolak apa yang terjadi pada kaumnya berupa kesyirikan, penyembahan kepada berhala-berhala, makan bangkai, mengubur wanita hidup-hidup dan kebiasaan lainnya yang tidak sesuai dengan syariat yang lurus. Di antara mereka adalah Waroqoh bin Naufal, Zaid Nufail dan Muhammad shalallahu alahi wasallam sebelum diutus menjadi Rasul. Bedanya, beliau shalallahu alaihi wasallam melakukan ‘uzlah (meninggalkan manusia) untuk fokus ibadah dan tafakkur di dalam gua Hiro’. Ada hal apa pada diri beliau pada fase ini? Ini yang akan kami bahas pada beberapa baris berikut ini:

Nabi shalallahu alahi wasallam sejak kecil merenungi apa yang ada pada kaumnya berupa peribadahan-peribadahan yang batil dan ideologi-ideologi menyimpang yang tidak sesuai dengan fithrah dan tidak bisa diterima akal. Ini semua tidak lain karena adanya perlindungan, penjagaan, dan bimbingan Allah ta’ala yang terus-menerus untuk beliau, yang tidak didapatkan pada selain beliau. Sehingga terjaga kejernihan fithrahnya terhindarkan dari hal-hal yang meyelisihi fithrah. Kondisi yang demikian mendorongnya untuk ‘uzlah meninggalkan kaumnya dan menghindari perkara-perkara yang mereka sembah selain Allah ta’ala kecuali pada perkara-perkara yang haq seperti membantu dhu’afa, menolong orang yang didzhalimi, memuliakan tamu dan menyambung silaturrahim. Beliau mengambil makanan dan minuman sebagai bekal lalu pergi ke gua Hiro’. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits yang disepakati ke-shahih-annya bahwa beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda:

جاورت بحراء شهراً…

“Saya tinggal di gua selama satu bulan”

Gua Hiro’ itu kecil berada pada gunung An-Nur jaraknya sekitar dua mil dari Makkah. Tidak terlihat di sekitar gua itu kecuali gunung-gunung yang menjulang tinggi dan langit yang cerah, yang membangkitkan perasaan untuk merenung dan berpikir.

Muhammad shalallahu alahi wasallam berada di gua Hiro’ selama beberapa hari dan beberapa malam. Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Tuhannya dan men-tadabbur-i alam semesta. Beliau sangat tidak bisa tenang dengan apa yang diperbuat oleh kaumnya. Tetapi, tidaklah terdapat baginya jalan yang terang dan cara tertentu yang bisa menenangkannya.

Kebanyakan waktu yang beliau manfaatkan di dalam gua tersebut adalah di bulan Ramadhan. Beliau meninggalkan istrinya Ummul Mu’minin Khadihah radiallahu anha untuk fokus merenung, mendekat dan berlindung kepada Allah azza wa jalla. Tidak ada riwayat yang menyebutkan tata cara tertentu mengenai peribadahan beliau di dalam gua. Intinya tujuan utama beliau menjauhi perkara kesyirikan yang menjamur pada kaumnya.dan untuk merenungi alam semesta kerajaan langit dan bumi. 

Adapun pilihannya untuk ‘uzlah merupakan di antara sebab-sebab yang Allah ta’ala telah menyiapkannya hingga saat didatangkannya perkara besar dan agung yang beliau akan menjalaninya. Yaitu, menyampaikan risalah dari Allah ta’ala kepada seluruh manusia. Di sinilah, merupakan hikmah dari Allah ta’ala bahwa wahyu yang pertama kali diturunkan di gua ini.

Gua ini memiliki peran penting dalam periode perjalanan ummat sebelum dan setelah beliau diutus menjadi Nabi. Meski demikian, beliau shalallahu alahi wasallam tidak mengunjunginya atau kembali kepadanya setelah beliau meninggalkannya dan mulai menjalankan da’wah kepada Tuhannya. Tidak juga para Shahabat mengunjunginya atau menaikinya. Dari sini kita tahu, bahwa tidaklah disyariatkan apa yang dilakukan sebagian manusia sekarang ini yaitu mengkhususkan gua sebagai tempat kunjungan dan shalat di dalamnya. Allahu A’lam

Judul Buku: Terkadang Ditanyakan 27

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Hukum mendoakan saudara tanpa sepengetahuannya lalu memberitahukan kepadanya https://nidaulfithrah.com/hukum-mendoakan-saudara-tanpa-sepengetahuannya-lalu-memberitahukan-kepadanya/ Mon, 11 May 2026 06:25:59 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21878 (https://islamqa.info/ar/answers/331219/الم)

Teks Arab

يدعو بظهر الغيب لأخيه المسلم، ثم يخبره بذلك

 السؤال: 331219

هل لو قلت للشخص الذي أدعو له بظهر الغيب أنني أدعو له ينقص ذلك شيئاً من الأجر ؟ أو الشخص سألني هل تدعي لي وقلت نعم، وطلبت المثل.

الجواب

جدول المحتويات

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:

أولا: دعاء المسلم لأخيه بظهر الغيب مما حث عليه الشرع

حث الشرع المسلمين على الدعاء لبعضهم البعض بظهر الغيب، كما في حديث أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ  رواه مسلم (2732).

قال القاضي عياض رحمه الله تعالى:

“ له من الأجر بمثل ما دعا به؛ لأنه وإن دعا لغيره فقد عمل عملين صالحين: أحدهما: ذكر الله تعالى مخلصًا له، وفازعا إليه بلسانه وقلبه. والثانى: محبته الخير لأخيه المسلم ودعاؤه له، وهو عمل خير لمسلم يؤجر عليه، وقد نص فيه أنها مستجابة كما نص فى الحديث “ انتهى من”إكمال المعلم” (8 / 228).

فقيّد الحديث هذا الفضل بكون الدعاء بظهر الغيب؛ فإذا أخبر المسلم بعمله هذا، هل يبطل هذا الفضل والثواب؟

فالقاعدة الشرعية أن الأعمال بحسب مقاصد العامل ونيته، كما جاء في قول رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى  رواه البخاري (1)، ومسلم (1907).

إخبار المدعو له بظهر الغيب بالدعاء له 

وبناء على هذا؛ فإن إخبار الأخ بذلك قد يكون لعدة مقاصد :

فإن قصد بذلك : إظهار التفضل والمنّ على المدعو له، فالمن من كبائر الذنوب، وقد يحبط ذلك العمل الذي منه به صاحبه.

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى:

“ ما يطرأ بعد انتهاء العبادة؛ فإنه لا يؤثر عليها شيئا، اللهم إلا أن يكون فيه عدوان؛ كالمن والأذى بالصدقة، فإن هذا العدوان يكون إثمه مقابلا لأجر الصدقة فيبطلها؛ لقوله تعالى: ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى ) “ انتهى من”القول المفيد” (2 / 126).

وقد يكون هذا الإعلان من الأعمال الصالحة التي يؤجر عليها المعلن؛ كأن يخبر بأنه يدعو بظهر الغيب إجابة على سؤال، فيكون إخباره من باب تحري الصدق في الحديث، أو أراد إظهار موَدته للمدعو له وإدخال السرور على قلبه، وجلب مزيد الألفة والمودة بينهما؛ كما جاء في الحديث: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ! مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ؟

قَالَ:   أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تَدْخِلُهُ عَلَى مُؤْمِنٍ…  رواه ابن أبي الدنيا في “قضاء الحوائج” (ص 47)، وحسّنه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة” (2 / 575).

ومن هذا ما رواه الخطيب البغدادي في “تاريخ بغداد” (4 / 325) بإسناده عن خطاب بن بشر: قال:

“ جعلت أسأل أبا عبد الله أحمد بن حنبل فيجيبني، ويلتفت إلى ابن الشافعي فيقول: هذا مما علمنا أبو عبد الله، يعني الشافعي.

قَالَ خطاب: وسمعت أبا عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل يذاكر أبا عثمان أمر أبيه، فقال أحمد: يرحم الله أبا عبد الله، ما أصلي صلاة إلا دعوت فيها لخمسة، هو أحدهم.

فمثل هذه المصالح : لا يظهر ما يمنع منها ، بل هي أعمال خير وبر، ولا يظهر أنها تؤثر في اجر الدعاء بظهر الغيب، ولا أن يكون للداعي مثل ما سأل لصاحبه.

لكن لا ينبغي أن يسأله أن يدعو له بمثل ذلك، أو يدعو له ، كما دعا له هو بظهر الغيب، فالظاهر أن هذا طلب للأجر والمكافأة ، على العمل الصالح ، من الغير.

وينظر جواب السؤال رقم : (333529).

ثانيا:

سبق تفصيل حكم طلب الدعاء من الغير في جواب السؤال رقم : (163632).

والله أعلم.

Terjemahan teks Arab

Pertanyaan no. 331219: Apakah jika saya mengatakan kepada seseorang yang telah saya doakan tanpa sepengetahuannya bahwa saya telah mendoakannya bisa mengurangi pahala? Atau bolehkah ketika ada orang bertanya kepada saya apakah saya mendoakannya, dan saya jawab “ya”. Lalu saya meminta kepadanya untuk berbuat sama seperti yang saya lakukan.

Jawab

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:

Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah perkara yang diperintahkan oleh syariat.

Syariat memerintahkan kaum muslimin untuk saling mendoakan sesama mereka tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Disebutkan di dalam Hadits Abu Darda’,

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ (رواه مسلم 2732)

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang hamba muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya melainkan Malaikat mengatakan: Dan untukmu seperti itu juga” (HR. Muslim no. 2732)

Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: Baginya balasan seperti apa yang dipanjatkan dalam doanya. Karena ketika dia mendoakan orang lain maka dia telah berbuat dengan dua amal shaleh;

Pertama: Berdzikir kepada Allah secara ikhlas, khusyu’ kepada-Nya dengan lisan dan hatinya,

Kedua: Cinta kebaikan untuk saudara muslim dan mendoakannya. Ini merupakan amalan kebaikan bagi orang lain dan berpahala. Nash Hadits menyebutnya sebagai doa yang mustajab [selesai dari Ikmal al-Mu’allim 08/228]

Keutamaan doa yang disebutkan di dalam Hadits adalah jika ia dilakukannya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan tersebut. Pertanyaannya, apakah jika kemudian orang itu memberitahukan kepada yang bersangkutan akan membatalkan fadhilah dan pahalanya? Kaedah syariat menyatakan amalan itu tergantung maksud dan niat pelakunya. Disebutkan di dalam Hadits,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى  (رواه البخاري (1)، ومسلم (1907).

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niat. Dan sesungguhnya bagi masing-masing orang apa yang diniatkan” (HR. Bukhari no. 01 dan Muslim 1907)

Berdasarkan ini, maka memberitahukan kepada saudara yang didoakan ada beberapa maksud;

a. Jika maksudnya menunjukkan betapa dirinya telah berjasa dengan mendoakannya (pamer kebaikan, Pent.) maka ia termasuk dosa besar yang menggugurkan amalan. Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata: Apa yang muncul setelah selesai ibadah maka tidak berdampak apapun. Kecuali padanya terdapat semacam permusuhan (‘udwan) seperti menunjukan jasa dan mengungkit-ngungkit shodaqoh. ‘Udwan ini mencoreng pahala shodaqoh dan membatalkannya sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى 

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan shadaqoh kalian sia-sia dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti” (QS….) [Selesai dari Al-Qoul Mufid no. 2/126]

Bisa jadi pemberitahuan ini termasuk amal shaleh yang berpahala. Dia memberitahukan hal tersebut semata-mata karena ditanya. Maka dia menjawabnya sebagai bentuk kejujuran di dalam berbicara. Atau bisa juga maksudnya untuk memperlihatkan cinta kepada orang yang didoakan tersebut  sehingga memasukkan rasa kegembiraan ke dalam hatinya. Dengan demikian bertambahlah cinta dan kasih sayang di antara keduanya. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ! مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ؟

قَالَ:   أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تَدْخِلُهُ عَلَى مُؤْمِنٍ…  رواه ابن أبي الدنيا في “قضاء الحوائج” (ص 47)، وحسّنه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة” (2 / 575).

“Ya Rasulullah, siapakah manusia yang dicintai Allah ta’ala? Beliau menjawab: Orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Dan, amalan yang paling dicintai Allah adalah kegembiraan yang kamu masukan pada seorang mu’min” (HR. Ibnu Abi-d-Dunya di dalam “Qodhou-l-Hawaij hal. 47, di hasankan oleh Syaikh Al-Albany di dalam “Silsilah ash-Shohihah 2/575)

Apa yang diriwayatkan Al-Khotib al-Baghdadi di dalam “Tarikh Baghdad 4/325” dengan sanadnya dari Khithob bin Bisyr, dia berkata: Saya terdorong untuk bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal. Beliau meresponku dan menoleh kepada putra Asy-Syafi’i  dengan mengatakan: Inilah apa yang Abu Abdillah ajarkan kepada kita, yaitu Asy-Syafi’i.

Khithob berkata: Saya mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal mengingatkan Abu Utsman perkara ayahnya, maka Ahmad mengatakan: Semoga Allah merahmati Abu Abdillah, saya tidak menyolatinya melainkan mendoakan di dalam shalat untuk lima orang, dia salah satunya.

Jadi, pada kemaslahatan seperti ini tidak terdapat hal yang melarangnya. Bahkan ia merupakan perbuatan baik dan kebajikan. Ia tidak mempengaruhi pahala doa yang dipanjatkan secara tersembunyi, dan tidak pula bahwa pahala orang yang mendoakan sama seperti apa yang ia doakan untuk saudaranya.

Untuk itu, tidak sepantasnya ia meminta sudaranya untuk mendoakannya dengan hal yang serupa, atau mendoakannya seperti ia mendoakan untuknya secara tersembunyi. Karena yang demikian itu merupakan permintaan upah dan balasan atas perbuatan baik dari orang lain.

Lihat jawab dan soal no. 333529

Judul Buku: Terkadang Ditanyakan 27

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Hukum menjilati kemaluan suami/istri? https://nidaulfithrah.com/hukum-menjilati-kemaluan-suami-istri/ Fri, 08 May 2026 07:46:06 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21874 (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/50708/)

Teks Arab

حكم تقبيل موضع الحرث عند الاستمتاع

فتوى عاجلة جدا من أجل صحة المسلمين وفطرتهم السوية:

فضيلةالشيخ: تحية من عند الله مباركة طيبة

أستفتيكم اليوم حول ما شاع من فتاوى لعلماء مختلفين حديثا بخصوص إباحة مداعبة أعضاء التناسل بين الزوجين بالفم والتي يرجع إليها كثير من المسلمين في الشرق والغرب كسند إباحة بل ويتبناها ويشجع المسلمين على ممارستها كثير من الأطباء والمعالجين الأسريين خاصة على موقع إسلام أونلاين وأذن لي فضيلتكم أن أرتب أجزاء سؤالي في نقاط

محددة، أعانكم الله ونفع بكم:

1- قرأت على الإنترنت منذ فترة أخبارا طبية تدور حول دور الجنس الفموي هذا في إصابة فاعليه بسرطان الفم، من خلال نقله للفيرس (الحليمي HPV-16) للفم والذي يوجد في الأغشية المخاطية بالجسم، خاصة عنق الرحم ويسبب سرطان الرحم لنسبة منهن وعند هذه الممارسة ينتقل من عنق الرحم إلى الفم وقد يتسبب للرجل بسرطان في الفم وكذلك انتقاله للمرأة عند نفس الممارسة حيث يكون أيضا في أغشية فرج الرجل أو فمه وبالتالي يسبب لها سرطان الفم أيضا.

ومرفق بهذا السؤال روابط لمواقع طبية متخصصة أعلنت

ذلك.

2- هل يعتبر إيلاج الرجل في فم المرأة إتيانا في غير محل الحرث الوارد في الشريعة أم لا؟ وهل يصح قياس ذلك على الإتيان في الدبر؟

3- مع الأخذ في الاعتبار أن الوجه هو أعلى موضع تكريم الإنسان، ففيه العلم والذكر، وقد بنيت حكمة الشريعة على وضع الشيء في محله، في الوقت الذي جعل الله الفرج موطن الأذى والجراثيم والأمراض والنتن، فهل ممارسة ما يسمى بوضع الستة وتسعين بالإنجليزية Position 69 وفيه يبرك الرجل والمرأة معكوسين، يواجه كل منهما فرج الآخر بوجهه ليداعبه، عكس للفطرة ونظام الكون، ومنع من التقاء الوجهين والإحساس بتعبيرات كل لزوجه،

وإخلال بحكمة خلق الله في الجسم البشري؟

3- هل يصح قياس إيلاج الرجل أو المرأة لسانه في دبر زوجه – وهو ممارسة أخرى من الجنس الفموي عند الكفار أيضا – على الوطء في الدبر؟

4- خلق الله الأعضاء التناسلية عند الذكر والأنثى متوافقة في العمل والوظيفة، بينما الفم به أسنان قاطعة حادة جدا، تؤذي أعضاء التناسل لو احتكت به، ولسانا وشفتين ولثة رقيقة وحساسة جدا تؤذيها أعضاء التناسل لو احتكت بها، كما ذكرالأطباء أن الفم به كثير من الجراثيم التي قد تؤثر على أعضاء التناسل إذا وصلت إليها، والعكس موجود، فالجراثيم التي في أعضاء التناسل قد تمرض الإنسان لو وصلت إليه عن طريق الفم. فهل هذا الضرر يحرم هذا السلوك الجنسي أم لا؟

5- وأخيرا، فمع دراسة الجنس، وصل العلماء في هذا الشأن إلى أنه يمكن إشباع الرغبة الجنسية عند الطرفين بطرق عديدة لا حصر لها، بممارسات جسدية وعاطفية معا، ومنها هذه الممارسة الفموية، فهل هناك وجه ضرورة لممارستها، أو أن يتبناها أطباء النفس المسلمين وينصحوا المسلمون والمسلمات بممارستها، مع ما يحيطها من هذا الذي ذكرنا؟

انتهى السؤال، وإليكم روابط تقارير المتخصصين:

مقالة شاملة ومعها روابط مرجعية لجميع المواقع الأخرى حول هذا الموضوع:

http://www.rdoc.org.uk/hpv.html

مجلة علمية باستراليا

http://www.abc.net.au/science/news/stories/s1053862.htm

مجلة نيوساينتيست الأمريكية

http://www.newscientist.com/news/news.jsp?id=ns99994712

مواقع اخرى

http://www.sundayherald.com/29825

http://news.bbc.co.uk/1/hi/health/3485158.stm

جزاكم الله خيراً.

الإجابــة

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فاعلم أخي أننا قد تكلمنا عن موضوع الاستمتاع بين الزوجين في فتاوى كثيرة، وذكرنا في بعضها أن بعض الممارسات فيها إخلال ودناءة، وأن الأفضل اجتنابها والإعراض عنها، ولكننا مع ذلك لا نستطيع أن نحرم ما لم يرد بتحريمه نص شرعي ولكن إذا ثبت الضرر حرم ذلك النوع من الاستمتاع الذي يورث المرض والضرر، لقوله تعالى: وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ [سورة الأعراف: 157].

ولقوله صلى الله عليه وسلم: لا ضرر ولا ضرار. رواه مالك في الموطأ وابن ماجه في سننه.

وقد نص الحنابلة رحمهم الله على إباحة تقبيل فرج الزوجة قبل الجماع وكراهته بعده، ونص العلماء رحمهم الله على حرمة ملامسة النجاسة لغير حاجة .

وعليه، فإذا كان ملامسة الرجل بيده أو بلسانه لفرج زوجته أثناء وجود نجاسة من بول أو إفرازات منبعثة من الباطن فيحرم ملامسته لغير حاجة بخلاف ما إذا كانت الإفرازات من ظاهر الفرج، ولم يكن لمسها يورث مرضاً أو ضرراً فلا يحرم لمسه، لأن هذه الإفرازات طاهرة فهي كالعرق كما نص على ذلك الشافعية وغيرهم، وانظر الفتوى رقم: 2146.

وأما قياس مداعبة الفرج بالفم بالوطء في الدبر فلا يصح لوجود الفارق، فالدبر موطن الخبث وبه يحصل الانصراف عن طلب الولد وغير ذلك.

والله أعلم.

Terjemahan teks Arab

Fatwa mendesak terkait kesehatan umat Islam dan fitrah yang lurus:

Assalamu’alaikum

Pertanyaan: Saya mengajukan pertanyaan kepada Anda tentang fatwa yang baru-baru ini dikeluarkan oleh beberapa ulama tentang kebolehan melakukan praktek oral pada alat kelamin pasangan (oral sex) antara suami istri. Banyak umat Islam di Timur dan Barat yang merujuk pada fatwa ini sebagai dasar kebolehan, bahkan banyak dokter dan terapis keluarga yang menganjurkan dan mendorong umat Islam untuk melakukannya, terutama di situs Islam Online.

Saya ingin meminta penjelasan Anda tentang masalah ini dengan beberapa poin:

Semoga Allah ta’ala menolong Anda dan menjadikannya bermanfaat.

1. Saya baca di internet beberapa waktu lalu berita medis yang membahas tentang dampak seks oral terhadap kanker mulut bagi pelakunya, melalui penularan virus HPV-16 ke mulut yang ada di sel-sel mukosa tubuh, terutama leher rahim dan menyebabkan kanker rahim pada sebagian wanita. Ketika melakukan praktik ini, virus tersebut dapat berpindah dari leher rahim ke mulut dan dapat menyebabkan kanker mulut pada pria. Selain itu, virus ini juga dapat berpindah ke wanita ketika melakukan praktik yang sama, karena virus ini juga ada di sel-sel mukosa alat kelamin pria atau mulutnya, sehingga dapat menyebabkan kanker mulut pada wanita juga. Berita ini disertai dengan tautan ke situs medis spesialis yang telah mengemukakan hal ini.

2. Apakah lelaki yang memasukkan kemaluannya pada mulut wanita termasuk menempatkannya pada selain ladang bercocok tanam yang disebutkan di dalam syariat atau tidak? Apakah hal ini bisa diqiyaskan dengan mendatangi dubur? Apakah juga praktik oral sex ini bisa diqiyaskan sex pada dubur sebagaimana yang dilakukan oleh orang kafir?

3. Dengan mempertimbangkan bahwa wajah adalah bagian paling mulia dalam memuliakan manusia—padanya terdapat ilmu dan dzikir, dan bahwa hikmah syariat dibangun di atas prinsip menempatkan sesuatu pada tempatnya; sementara Allah menjadikan kemaluan sebagai tempat kotoran, kuman, penyakit, dan bau tidak sedap; maka apakah praktik yang disebut ‘posisi 69’ dalam bahasa Inggris, di mana laki-laki dan perempuan berbaring terbalik, masing-masing menghadap kemaluan pasangannya dengan wajahnya untuk merangsangnya merupakan sesuatu yang bertentangan dengan fitrah dan tatanan alam semesta, dan apakah merupakan bentuk menghindarkan pertemuan wajah dan perasaan terhadap ekspresi masing-masing pasangan, serta apakah merupakan penyimpangan dari hikmah penciptaan Allah pada tubuh manusia?”

4. Allah ta’ala menciptakan organ reproduksi pada pria dan wanita sesuai dalam fungsi dan tugasnya, sementara mulut memiliki gigi yang tajam yang dapat melukai organ reproduksi jika bersentuhan. Lidah dan bibir yang lembut dapat terluka jika bersentuhan dengan organ reproduksi. Sebagaimana juga  dinyatakan oleh para dokter bahwa mulut memiliki banyak bakteri yang dapat mempengaruhi organ reproduksi jika mencapai ke sana atau sebaliknya, bakteri yang ada di organ reproduksi dapat menyebabkan penyakit pada manusia jika masuk melalui mulut. Apakah kerusakan ini membuat perilaku seksual semacam ini haram atau tidak?”

5. Terakhir, dengan adanya kajian tentang seks, para ilmuwan dalam hal ini sampai pada kesimpulan bahwa hasrat seksual pada kedua belah pihak dapat dipuaskan dengan banyak cara yang tidak terhitung jumlahnya, melalui praktik-praktik yang bersifat fisik sekaligus emosional. Di antaranya adalah praktik oral ini. Maka, apakah ada unsur keharusan untuk melakukannya, ataukah para dokter/psikolog muslim perlu mengadopsinya dan menganjurkan kaum muslimin dan muslimah untuk melakukannya, mengingat berbagai hal yang telah kami sebutkan di atas?

Selesai pertanyaan dari saya. Berikut ini saya informasikan untuk Antum situs-situs mengenai statemen-statemen para pakar:

مقالة شاملة ومعها روابط مرجعية لجميع المواقع الأخرى حول هذا الموضوع:

http://www.rdoc.org.uk/hpv.html

مجلة علمية باستراليا

http://www.abc.net.au/science/news/stories/s1053862.htm

مجلة نيوساينتيست الأمريكية

http://www.newscientist.com/news/news.jsp?id=ns99994712

مواقع اخرى

http://www.sundayherald.com/29825

http://news.bbc.co.uk/1/hi/health/3485158.stm

Jawab

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Ketahuilah saudaraku! Tema tentang hubungan suami istri telah kami bahas di dalam banyak fatwa. Pada sebagiannya kami jelaskan mengenai sebagian praktek seksual yang rendah dan hina. Yang utama adalah berpaling dan  menghindarinya. Meski demikian, kami tidak bisa menyatakan haram apa yang tidak disebutkan keharamannya dalam nash syar’i. Tetapi, jika benar terbukti praktek seksual semacam itu memudhorotkan dan berdampak pada jenis penyakit tertentu maka hukumnya haram sebagaimana firman Allah ta’ala,

 وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ (سورة الأعراف: 157) 

“Dan diharamkan bagimu yang buruk-buruk” (QS. Al-A’rof: 157)

Dan sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam,

لا ضرر ولا ضرار (رواه مالك في الموطأ وابن ماجه في سننه)

“Tidak berbuat yang berbahaya dan tidak berbuat yang membahayakan” (HR. Malik di dalam al-Muwatho’ dan Ibnu Majah di dalam Sunnah-nya)

Para ulama madzhab Hanbali rahimahullah menyatakan boleh menciumi kemaluan istri sebelum jima’ tetapi makruh setelahnya. Dan, para ulama rahimahumullah menyatakan haramnya menyentuh sesuatu yang najis tanpa ada hajat.

Jadi, jika seorang suami menyentuh dengan tangan atau lisannya pada kemaluan istri di saat ada najis seperti kencing atau cairan yang keluar dari dalam, maka haram jika tidak ada hajat. Lain halnya cairan yang keluar di luar kemaluan, dan menyentuhnya tidak berdampak mudhorot maka tidak haram menyentuhnya karena cairan ini suci (tidak najis) sebagaimana halnya keringat. Ini juga dinyatakan oleh ulama Syafi’i dan lainnya. Lihat Fatwa no. 2146

Adapaun mengqiyaskan oral sex dengan seks pada dubur maka tidak dibenarkan karena keduanya berbeda tidak bisa diqiyaskan. Dubur itu tempat kotoran, dan padanya terjadi penghindaran dari mendapatkan anak. Allahu A’lam.

Judul Buku: Terkadang Ditanyakan 27

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>