Aqidah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 01 Sep 2025 07:04:01 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Aqidah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 2 UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-2-ukhuwwah-atas-dasar-aqidah-lebih-utama-daripada-ukhuwwah-atas-dasar-apapun/ Mon, 01 Sep 2025 07:04:00 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20396 C. UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN
Persaudaraan atas dasar aqidah lebih utama daripada persaudaraan atas dasar kabilah, bisnis, negara, kekayaan, komunitas, atau apapun. Bahkan lebih utama daripada persaudaraan atas dasar nasab/keluarga. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ (المجادلة:22)

“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah ta’ala. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (QS. Al-Mujadilah: 22)
Coba kita perhatikan ayat ini, orang muknin tidaklah mencintai orang kafir meskipun ayah, anak, saudara atau famili. Padahal mereka adalah orang-orang yang ada ikatan nasab, tetapi mereka tidak boleh dicintai karena kafir.
Ayat ini menjelaskan suatu kejadian dalam perang Badar. Ketika itu Abu Ubaidah membunuh ayahnya. Abu Bakar berkeinginan kuat untuk membunuh anaknya, Abdurrahman. Mush’ab bin Umair membunuh saudaranya Ubaid bin Umair. Umar bin Khottob membunuh kerabatnya. Hamzah, Ali dan Ubaidah bin Al-Harits juga membunuh kerabatnya yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah.
Jelaslah, ukhuwwah atas dasar aqidah lebih utama daripada ukhuwwah atas dasar keluaga.

D. PANCARAN ENERGI UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Ukhuwwah Islamiyyah memancarkan energi yang luar biasa dalam kehidupan kaum muslimin. Di antaranya:

a. Tidak menzhalimi, tidak membiarkannya disakiti, saling menolong, dan menutup aibnya
Disebutkan di dalam Hadits,

المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولَا يُسْلِمُهُ، ومَن كانَ في حَاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حَاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه كُرْبَةً مِن كُرُبَاتِ يَومِ القِيَامَةِ، ومَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ (رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر)

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah c akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah ta’ala menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah ta’ala akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)

  • Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur seseorang yang melaknat seorang muslim akibat suatu dosa

Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur orang yang menzhalimi saudaranya secara lisan, lalu bagaimana bentuk kezhaliman yang lebih besar lagi. Suatu hari Nabi shallahu’alaihi wasllam menghukum orang yang minum khamr, lalu ada orang yang mengomenteri peminum khamr tersebut dengan ucapan-ucapan yang buruk. Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya. Disebutkan di dalam Hadits,

أنَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وكانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وكانَ يُضْحِكُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وكانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قدْ جَلَدَهُ في الشَّرَابِ، فَأُتِيَ به يَوْمًا فأمَرَ به فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العنْه، ما أكْثَرَ ما يُؤْتَى بهِ؟ فَقَالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ ما عَلِمْتُ إنَّه يُحِبُّ اللَّهَ ورَسولَهُ (رواه البخارى عن عمر الخطاب)

“Ada seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasllam namanya Abdullah. Biasa dijuluki dengan Himar. Dia orang yang pernah membikin Nabi tertawa. Nabi shallahu’alaihi wasllam pernah mencambuknya disebabkan minum khamr. Suatu hari dia dibawa ke hadapan Nabi shallahu’alaihi wasllam. Beliau memerintahkan agar dicambuk. Ada seseorang dari suatu kaum yang berkomentar: Ya Allah, laknatlah dia! Betapa sering dia ditangkap Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya: Janganlah kamu melaknatnya. Demi Allah, sungguh dia seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari dari -Umar bin al-Khottob)

  • Nabi menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut.

Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut. Disebutkan di dalam Hadits,

رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ وَعليه حُلَّةٌ، وعلَى غُلَامِهِ مِثْلُهَا، فَسَأَلْتُهُ عن ذلكَ، قالَ: فَذَكَرَ أنَّهُ سَابَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَعَيَّرَهُ بأُمِّهِ، قالَ: فأتَى الرَّجُلُ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذلكَ له، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: إنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إخْوَانُكُمْ وَخَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فمَن كانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدَيْهِ، فَلْيُطْعِمْهُ ممَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ ممَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ ما يَغْلِبُهُمْ، فإنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فأعِينُوهُمْ عليه (رواه البخارى ومسلم عن أبى ذر الغفارى)

“Saya (periwayat) melihat Abu Dzar mengenakan pakaian. Budaknya juga mengenakan pakaian yang sama. Lalu saya (periwayat) bertanya sebab demikian. Dia menuturkan bahwa dirinya pernah mencela seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasallam dengan menjelek-jelekkan ibunya. Ketika mendatangi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan menceritakan apa yang terjadi, beliau bersabda: Sesungguhnya pada dirimu terdapat sifat jahiliyyah. Mereka itu saudara kalian. Allah ta’ala menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Maka siapa saja yang saudaranya itu di bawah kekuasaannya dia harus memberinya makan sebagaimana dirinya makan, dia harus memberinya pakaian sebagaimana dirinya berpakaian. Janganlah membebaninya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Jika kamu menugaskannya dengan suatu tugas maka bantulah dia” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar)

Dua kejadian di atas menunjukkan dua kezhaliman yang barangkali dikatagorikan kezhaliman kecil. Meski demikian, Nabi shallahu’alaihi wasallam langsung menegurnya. Lalu, bagaimana jika kezhaliman besar?
  • Seorang muslim tidak membiarkan saudaranya disakiti

Ibnu Hasyim rahimahullah menjelaskan mengenai sebab terjadinya perang Bani Qoinuqo, yaitu seorang muslim yang tidak rela saudarinya seorang Muslimah dilecehkan oleh orang Yahudi. Dia marah dan membunuh orang Yahudi tersebut. Dia sendiri akhirnya dibuhuh oleh orang-orang Yahudi.

أن امرأة من العرب قدمت بجلب لها، فباعته بسوق بني قينقاع، وجلست إلى صائغ بها، فجعلوا يريدونها على كشف وجهها، فأبت، فعمد الصائغ إلى طرف ثوبها فعقده إلى ظهرها، فلما قامت انكشفت سوأتها، فضحكوا بها، فصاحت، فوثب رجل من المسلمين على الصائغ فقتله وكان يهوديًا، وشدّت اليهود على المسلم فقتلوه، فاستصرخ أهل المسلم المسلمين على اليهود، فغضب المسلمون، فوقع الشرّ بينهم وبين بني قينقاع

Seorang perempuan( Muslimah) dari Arab membawa perhiasan. Dia hendak menjualnya di pasar Bani Qainuqa’. Perempuan itu duduk di tempat pembuat perhiasan. Mereka meminta kepanya agar membuka wajahnya. Dia tidak mau salah seorang pembuat perhiasan sengaja berbuat (buruk) dengan mengikatkan ujung pakaian bagian belakang muslimah tersebut ke bagian yang lainnya. Sehingga ketika perempuan itu bangkit dari duduknya tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Hal itu membuat orang-orang yang ada di pasar melihat perempuan tersebut dan menertawakan. Dia berteriak. Seorang muslim segera menghampiri dan membunuh Yahudi tadi. Melihat hal itu, Yahudi yang lain pun mendatanginya lalu membunuh muslim tersebut. Kemudian terjadilah pertengkaran antara kaum muslimin yang ada di sana dengan Bani Qainuqa’.
Allahu Akbar, beginilah ukhuwwah Islamiyyah. Seorang muslim tidak rela, marah dan tidak membiarkan saudaranya disakiti.

Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Memahami Takdir Bag. 4 https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bag-4/ https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bag-4/#respond Thu, 20 Jul 2023 08:01:09 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17529 Pada edisi terakhir ini, edisi 4 akan dibahas tentang hikmah beriman kepada takdir dan argumentasi kelompok sesat beserta bantahannya.

Barangkali ada yang sudah mengikuti edisi-edisi sebelumya edisi 1, 2 dan 3 tetapi masih belum bisa memahami atau masih bingung, cobalah ulangi lagi membacanya dengan pelan-pelan insyaAllah Bi idznillah nanti bisa memahaminya. Demikianlah yang saya saksikan ketika menyampaikan kajian tentang tema ini sebagian ada yang langsung memahami dan yang lainnya masih bingung lalu. kita ulangi menjelaskannya secara pelan-pelan akhirnya. mereka pun paham. Jangan sampai kita tidak paham tentang masalah takdir ini lalu terjerumus ke dalam pemahaman sesat qodariyah atau jabriyah sebagaimana dijelaskan dalam edisi terakhir ini. Waffaqonallahu wa iyyakum

Nilai dari pekerjaannya hanyalah dua juta. Jadi 1 milyar yang didapatkannya bukan karena pekerjaannya tapi karena kemurahan sang majikan.

Bantahan untuk Qodariyyah

Mereka membawakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalilnya. Dengan ayat-ayat yang sama itu juga kita akan membantahnya,

جزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ السجدة: 17

“Sebagai balasan atas apa yang mereka telah kerjakan(QS. As-Sajdah:17)

وَتِلْكَ الجنَّةُ التي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ الزخرف :72

“Dan itulah Surga yang diwariskan kepadamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan(QS.Az-Zukhruf:72)

Makna huruf “BA” (الباء) pada kalimat بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ dan بما كنتم تعملون adalah BA’ sababiyah. Artinya Surga itu didapatkan dengan sebab amalan yang dikerjakan. Bukan amalan itu semata-semata yang harus diganti dengan Surga. Tetapi, amalan sebagai sebab saja. Allah lah yang menciptakan sebab dan akibat, maka semuanya secara mutlak kembali kepada karunia dan rahmat Allah Azza wa Jalla.

Adapun ayat yang berbunyi:

فَتَبَارَكَ الله أَحْسَنُ الخَالِقِينَ المؤمنون: 14

Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik(QS. Al-Mukminum:14)->(Terjemah versi Jabriyah)

Makna ayat ini bukanlah bahwa apa yang diciptakan Allah pasti berupa kebaikan. Segala apapun Allah lah yang menciptakan, dan Dia ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan diantaranya ada yang baik dan yang buruk, ada yang dicintai dan yang dibenci, ada keimanan dan ada kekufuran, ada kemaksiatan dan ada ketaatan. Jadi, apa maksud ayat tersebut di atas? Maksudnya adalah Allah itu sebaik-baiknya Pencipta. Tidak sebagaimana yang dipahami mereka bahwa semua yang Allah ciptakan adalah paling baik, sehingga Allah tidak mungkin menciptakan kekufuran dan kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

الله خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ الزمر :62

Allah Pencipta segala sesuatu(QS.Az-Zumar:62)

Segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah. Include di dalamnya amalan manusia; yang baik ataupun yang buruk Sebagaimana sudah di sebutkan di atas dalam hadits Jibril tentang iman, beliau bersabda.

فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِه رواه مسلم

“…. Maka beritahukanlah kepadaku tentang iman. Beliau menjawab: Anda beriman kepada Allah, MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Kiamat, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya(HR. Muslim)

Jadi, Allah lah yang menciptakan segala sesuatu. Termasuk perbutan manusia BAIK dan BURUKNYA.

I. HIKMAH BERIMAN KEPADA TAKDIR

Hikmah beriman kepada takdir ada 3. yaitu:

1. Agar manusia tidak berputus asa atas hal-hal yang belum atau tidak bisa diraihnya.

2. Agar manusia tidak membanggakan diri sombong atas hal-hal yang telah dicapainya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ ولا في أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُل مُختال فخور الحديد: 23-22

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan putus asa terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (al-Hadiid: 22-23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عجبا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنْ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكَانَ خَيْرًا لَّهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صبرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. رواه مسلم

“Sungguh mengagumkan. keadaan seorang mukmin. seluruh perkaranya adalah baik; dan tidaklah demikian bagi seseorang pun kecuali mukmin. Jika ia diberikan kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya, dan jika ia ditimpa kesusahan ia sabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

3. Menunjukkan sikap beradab kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Dengan beriman kepada takdir, maka kita akan bersikap dengan tepat dan menyatakan bahwa seluruh kebaikan, keberhasilan, kegembiraan dan kesuksesan adalah dari Allah Azza wa Jalla. Kemudian mensyukurinya dengan ucapan alhamdulillah dan menggunakan kenikmatan dan kebaikan tersebut untuk hal-hal yang Allah ‘Azza wa Jalla ridhai.

Jika mendapatkan musibah, kita pun akan bersikap dengan tepat dan menyadari bahwa seluruh kejelekan, kesedihan, dan kegagalan berpulang kepada sebab terjadinya musibah tersebut, Dan, bisa juga untuk suatu ujian agar kita bersabar yang dibalik semuanya itu ada keutamaan besar.

PENUTUP

Demikianlah secuil tentang masalah takdir, semoga bermanfaat. Apabila ada benarnya maka itu semata-mata dari Allah Azza wa Jalla. Kalau ada salahnya maka itu tidak lain dari diri saya sendiri yang tidak luput dari lupa dan salah. Terlebih, tidaklah saya kecuali hanya sebagai tholibul ilmi, Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin

Judul buku : Memahami Takdir

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bag-4/feed/ 0
Memahami Takdir Bag. 3 https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bag-3-2/ https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bag-3-2/#respond Mon, 26 Jun 2023 11:23:28 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17500 Pada edisi bulan Mei 2017, kita telah membahas “apakah takdir bisa diubah?”Jika dikatakan takdir bisa diubah. Maka bisa dipahami bahwa apa yang Allah ‘Azza wa Jalla catat dalam lauhul mahfudz itu keliru. Dan, ini mustahil, karena tidak mungkin ilmu Allah atas segala sesuatu, yang telah Dia catat di lauhul mahfudz, itu keliru. Lalu, apa yang lebih tepat untuk dikatakan? Yang lebih tepat, ada suatu takdir tertentu yang Allah ‘Azza wa Jalla kaitkan dengan takdir.

Apa pembahasan berikutnya dalam edisi ini….penasaran? Ayo kita ikuti saja

sambungan Edisi Ramadhan 1438H/Mei 2017M

عن علي رضي اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ عُودٌ يَنْكُتُ فِي الْأَرْضِ، وَقَالَ: «مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا قَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ أوْ مِنَ الجَنَّةِ» فَقَالَ رَجُلٌ من القوم : أَلَا تَتَّكِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: ” لا ، اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّر. ثُمَّ قَرَأَ : (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى} [الليل: 5] رواه البخاري ومسلم

Dari Ali radhiyallahu anhu, dia berkata. Kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memegang tongkat sambil digores-goreskan ke tanah dan bersabda: Tidaklah seseorang di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di Neraka atau di Surga. Ada seseorang dari suatu kaum bertanya: Tidakkah kita sandarkan saja (kepada takdir tersebut) ya Rasulullah? Beliau menjawab: Tidak, berbuatlah karena setiap orang mudah (untuk berbuat apa yang dia ditakdirkan). Kemudian beliau membaca ayat (fa amma man a’tho wa at taqo)(HR. Bukhari dan Muslim)

1. Dalil realita

Realita yang ada, untuk kemaslahatan dunia manusia begitu semangat melakukan ikhtiar atau mengambil sebab. Lalu kenapa untuk kemaslahatan Akherat begitu loyo dan dan mudah-mudahnya beralasan dengan takdir. Contoh: kalau seseorang merasa lapar, Apa yang dia lakukan? Berikhtiar atau menyandarkan kepada takdir? Dia pasti semangat berikhtiar. Dia pergi ke warung, jika ternyata warung tersebut tutup ia pergi ke warung lainnya, jika makanan sudah habis ia pun tetap mencari warung lainnya lagi. Sementara untuk kemaslahatan Akherat dia tidak bersikap demikian, tetapi mudah-mudahnya menyandarkan kepada takdir. Kenapa Anda tidak shalat? Kenapa Anda berjudi, Kenapa Anda tidak puasa? Jawabannya adalah: Bukankah semuanya sudah ditakdirkan, saya berbuat taat atau maksiat kan semuanya sudah ditakdirkan. Adilkah sikap terhadap kedua permasalahan; duniawi dan ukhrowi?

Ketika kehormatan diri seseorang diinjak-injak orang lain yang beralasan dengan takdir, dia tidak terima. Lalu kenapa dia menginjak-nginjak kehormatan Allah dengan beralasan takdir. Adilkah?

d. Dalil Logika

Berhujjah atau berargumentasi itu sandarannya sesuatu yang sudah diketahui. Contoh: Kenapa makan? Karena lapar. Kenapa tidur? Karena ngantuk. Kenapa minum? Karena haus. Jadi, orang bisa melakukan tindakan berupa makan, tidur atau minum disandarkan kepada suatu alasan yang gamblang dan terang, yaitu: lapar, ngantuk dan haus.

Sementara, takdir itu sesuatu yang belum diketahui, maka tidak mungkin seseorang berhujjah atau berargumentasi dengan sesuatu yang belum diketahui.

Manusia tidak boleh beralasan dengan takdir atas kemaksiatan yang diperbuatnya. Kenapa? Karena secara syar’iyyah, Allah Azza wa Jalla tidak pernah menghendaki manusia kecuali kebaikan-kebaikan dan endingnya masuk Surga. Jadi, semua kemaksiatan haruslah disandarkan kepada manusia itu sendiri, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ النساء: 79

Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja kejelekan yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri…(an-Nisaa’: 79)

1. Macam-Macam Takdir

a. Takdir azali

Takdir azali adalah ketetapan Allah untuk seluruh makhluknya sejak 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا في أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرُ الحديد: 22

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah(QS. Al-Hadid: 22)

b. Takdir umuri

Takdir umuri adalah ketetapan Allah untuk seseorang ketika berupa janin berumur empat bulan di dalam rahim ibunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بن مسعود رضي اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ : حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوقُ : إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ الْمَلَكَ ، أَوْ قَالَ : يُبْعَثُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ ، فَيَكْتُبُ رِزْقَهُ ، وَعَمَلَهُ ، وَأَجَلَهُ ، وَشَقِيٌّ ، أَوْ سَعِيدٌ رواه البخاری و مسلم

“Dari Zaid bin Wahb, dia berkata: Saya mendengar Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau adalah Ash-Shodiqul Masdhuq (orang yang benar lagi dibenarkan perkataannya) bersabda: Sesungguhnya penciptaan sperma seseorang di antara kalian dikumpulkan di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bercampurnya sperma dan ovum), lalu menjadi ‘alaqoh (gumpalan darah) seperti itu juga, lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) seperti itu juga. Kemudian Allah mengutus kepadanya Malaikat atau beliau bersabda: Malaikat diutus kepadanya (untuk mencatat) empat perkara. Maka ditulislah rizkinya, amalnya, ajalnya, dan sengsara atau bahagianya(HR. Bukharidan Muslim)

c. Takdir sanawi

Takdir sanawi adalah ketetapan Allah Azza wa Jalla setiap setahun sekali yaitu di malam lailatul qadar Dia ‘Azza wa :Jalla berfirman

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ () أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ الدخان: 4-6

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus Rasul-Rasul(QS. Ad-Dukhan: 4-6)

Dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa di malam Lailatul Qodar urusan yang penuh hikmah dirinci dari lauhul mahfudz berupa ajal, rizki dan lain-lain..

d. Takdir yaumi

Takdir yaumi adalah ketetapan harian dari Allah untuk seluruh makhluknya. Dia Azza wa Jalla berfirman:

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ الرحمن 29

Setiap waktu Dia dalam kesibukan(QS. Ar-Rahman:29)

Dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, A’masy berkata dari Mujahid dari Ubaid bin Umair bahwa di antara kesibukan Allah adalah mengabulkan doa, memberi hamba yang meminta, menyembuhkan orang yang sakit.

Baik takdir umuri, sanawi atau yaumi semuanya merupakan kandungan dari takdir azali

J. Kelompok yang menyimpang dalam masalah takdir

1. Jabriyyah, suatu paham yang memandang bahwa perbuatan manusia itu nisbi bukan hakiki. Manusia itu diibaratkan seperti wayang yang tidak punya kehendak dan tidak bisa menciptakan perbuatan sendiri. Perbuatannya itu diciptakan oleh dalang. Demikian pula manusia, Perbuatannya itu diciptakan oleh Allah. Diantara dalil mereka adalah:

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى الأنفال: 17

“Bukanlah kamu (Muhammad) yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar(QS. Al-Anfal:17)

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla menyatakan bahwa Nabi tidak melempar ketika beliau melempar. Tetapi Allah lah yang sesungguhnya melempar. Maka ayat ini menunjukkan bahwa manusia secara mutlak tidak bisa menciptakan perbuatannya sendiri. Dari ini lahirlah pemahaman bahwa suatu balasan bukanlah hasil dari suatu perbuatan, karena perbuatan manusia itu dipaksakan bukan perbuatannya sendiri. Mereka mendasarkan pemahaman ini kepada Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لا يَدْخُلُ أَحَدُكُمُ الجَنَّةَ بِعَمَلِهِ . قَالُوا وَلا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ وَفَضْلٍ مسند أحمد

“Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seseorang di antara kalian yang masuk Surga dengan amalannya. Mereka bertanya” Tidak pula engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab: Tidak pula saya, kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku rahmat dan karuniaNya” (Musnad Imam Ahmad)

2. Qodariyyah, ia kebalikan Jabriyyah yaitu suatu paham yang memandang bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri secara mutlak dan tidak terkait sedikitpun dengan kehendak dan perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla. Diantara dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ المؤمنون: 14

“Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik(QS.AL-Muminum: 14)

Dari ayat ini, Allah mensifati dirinya dengan “Ahsanul Khaliqin” yaitu Pencipta yang paling baik. Kekufuran dan kemaksiatan tidak termasuk ciptaan yang baik Maka Allah tidak menciptakan kekufuran dan kemaksiatan. Karena keduanya adalah kejelekan. Sementara perbuatan manusia tidak lepas dari kekufuran dan kemaksiatan, ini menunjukkan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri tidak terkait dengan kehendak dan perbuatan Allah. Jadi, suatu balasan itu tidak lain adalah hasil dari suatu perbuatan manusia, seperti orang yang bekerja lalu mendapatkan upah atas pekerjaannya. Allah berfirman:

جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ السجدة: 17

Sebagai balasan atas apa yang mereka telah kerjakan(QS. As-Sajdah: 17)

وَتِلْكَ الجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ الزخرف : 72

“Dan itulah Surga yang diwariskan kepadamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan(QS.Az- Zukhruf: 72)

Jelaslah, Allah menyatakan dalam nash bahwa Surga itu diraih karena amalan manusia.

K. Bantahan untuk Jabriyyah dan Qodariyyah

Jabariyyah tidak menjadikan amal sholeh sebagai sebab untuk meraih Surga, sebaliknya Qodariyyah menjadikan amal sholeh sebagai satu-satunya sebab secara mutlak untuk meraih Surga

Bantahan untuk Jabriyyah

Mereka menukil ayat sebagai dalil yang mendukung paham mereka. Namun, sesungguhnya dengan dalil yang sama hujjah mereka terpatahkan. Ayat tersebut adalah:

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى الأنفال: 17

Bukanlah kamu (Muhammad) yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar(QS. Al-Anfal:17)

Sangat jelas, Allah menetapkan perbuatan Nabi yang berupa melempar Allah tidak menafikan atau meniadakannya. Pahamilah bahwa melempar itu ada start dan finish-nya. Start-nya adalah perbuatan melempar, dan finish-nya adalah tepat sasaran. Allah menetapkan start-nya (perbuatan melempar), tetapi Allah tidak menetapkan finish-nya (tepat sasaran). Karena finish-nya (tepat sasaran) adalah urusan Allah.

Dalil kedua yang mereka nukil adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَدْخُلُ أَحَدُكُمُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ . قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ولا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ مسند أحمد

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seseorang di antara kalian yang masuk Surga dengan amalannya. Mereka bertanya” Tidak pula engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab: Tidak pula saya, kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku rahmat dan karuniaNya(Musnad Imam Ahmad)

Makna huruf “BA” (الباء) pada kata kalimat “بعمله”adalah BA’iwadh (pengganti). Maksudnya adalah seperti contoh berikut ini: Saya punya uang Rp. 100,- maka bisa diganti dengan permen. Kalau Rp.1000,- bisa diganti dengan roti. Kalau Rp. 10.000,- bisa diganti dengan bakso sapi. Artinya seseorang itu masuk Surga dengan amalannya, dimana amalannya itu ditukar dan diganti dengan Surga, atau amalan adalah suatu nilai harga tertentu untuk membayar Surga. Pemahaman seperti inilah yang Nabi menafikannya dengan sabdanya “Tidaklah seseorang di antara kalian yang masuk Surga dengan amalannya”. Dan ini mustahil, karena jika seseorang berbuat baik dengan kadar kebaikan yang sangat maksimal pun tidak akan bisa menyamai tingginya nilai Surga. Jadi, seseorang masuk Surga itu dengan rahmat Allah. Amal shalehnya tidak lain adalah upaya untuk meraih rahmat Allah itu.

Untuk memudahkan pemahaman, saya ambilkan contoh dari real kehidupan kita. Misalnya secara umum pembantu rumah tangga di suatu daerah digaji per bulan dua juta. Tetapi, ada seorang pembantu yang digaji satu milyar. Apakah satu milyar yang didapatkan itu karena pekerjaannya atau karena kemurahan sang majikan? Jelas, tidak mungkin karena pekerjaannya. bersambung……

Judul buku : Memahami Takdir

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bag-3-2/feed/ 0
Memahami Takdir Bagian 2 https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bagian-2/ https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bagian-2/#respond Thu, 22 Jun 2023 07:59:55 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17494 Pada edisi sebelumnya, edisi bulan April 2017 telah dijelaskan bahwa takdir meliputi empat perkara:

1. Allah mengetahui

2. Allah mencatat

3. Allah menghendaki

4. Allah menciptakan

Tidak ada apapun yang terkait dengan alam semesta dan isinya, melainkan Allah telah mengetahuinya dan semuanya itu telah Allah catat dalam lauhul mahfuzh sejak 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.

Allah lah satu-satunya Penguasa atas alam semesta ini. Maka, tidak ada pun yang terjadi di dalamnya termasuk kebaikan dan keburukan kecuali dengan kehendak-Nya. Karena jika ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya maka berarti ada Penguasa lain atau Tuhan lain, dan ini mustahil karena Tuhan itu hanya satu.

Demikian pula tidak ada apapun yang berwujud di alam semesta melainkan semuanya itu diciptkan oleh-Nya. Jika ada sesuatu tanpa diciptakan oleh-Nya maka berarti ada Tuhan lain atau Pencipta lain. Dan, ini mustahil Kalau memang demikian pemahamannya, lalu apakah takdir tidak bisa diubah? Mari ikuti edisi berikut ini….
Sambungan…

“Mereka berkata: Kami tidak kuat lagi pada hari ini untuk menghadapi Jalut dan balatentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqoroh: 249)

Ayat ini menunjukkan bahwa:

e. Kemampuan manusia berada di bawah kemampuan Allah

f. Tidaklah manusia berbuat melainkan karena Allah menjadikannya mampu berbuat. Kalau Allah tidak menjadikannya mampu berbuat niscaya manusia tidak pernah bisa berbuat apapun.

Adalah keliru orang yang berpandangan bahwa Allah lah yang berkehendak dan berbuat, sementara manusia tidak sama sekali.

F. Ada dua macam kehendak Allah

1. Kehendak kauniyyah

Adalah kehendak yang terkait dengan hukum kausalitas (hubungan sebab akibat)

2. Kehendak Syar’iyyah

Adalah kehendak yang berkaitan dengan pahala dan dosa.

Kita sudah mengetahui dari pembahasan di atas bahwa segala apa pun; yang baik dan buruk tidaklah terjadi melainkan dengan kehendak Allah. Mari kita pahami baik-baik.

1. Apakah orang merampok dengan kehendak Allah? Ya

2. Apakah orang mencuri dengan kehendak Allah? Ya

3. Apakah orang berinfak dengan kehendak Allah? Ya

4. Apakah orang berdakwah dengan kehendak Allah? Ya

5. Apakah orang berzina dengan kehendak Allah? Ya

6. Apakah orang berbuat maksiat dengan kehendak Allah? Ya

7. Apakah anak yang birrul walidain dengan kehendak,Allah? Ya

8. Apakah anak durhaka kepada orang tuanya dengan kehendak Allah? Ya

Jika orang berbuat keburukan dengan kehendak Allah, lalu, kenapa Allah memasukkannya ke dalam Neraka? Bukankah ini kezhaliman….Tunggu dulu, Anda jangan terburu-buru….

Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah berbuat dzalim dan tidak pernah menghendaki kezhaliman bagi hamba-Nya. Dia Azza wa Jalla tegaskan,

عَنْ أَبِي ذَرٍ عَنِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فيمَا رَوَى عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا رواه مسلم

Dari Abu Dzar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam meriwayatkan (firman) dari Allah Tabaroka wa Ta’ala. Dia berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram bagi kalian maka janganlah saling menzhalimi(HR. Muslim)

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ غافر: 31

Dan Allah tidak menghendaki kezaliman bagi hamba-hamba-Nya(QS. Ghafir:31)

Pahamilah baik-baik tentang pembagian kehendak (kauniyyah dan syar’iyyah)

Orang merampok, mencuri, berzina, berbuat maksiat, durhaka kepada orang tua dan lain-lain adalah dengan kehendak Allah yang sifatnya kauniyyah

bukan syar’iyyah. Artinya Allah lah yang yang menjadikan manusia bisa berkehendak, tinggal manusia itu sendiri menggunakan kehendak tersebut untuk apa? Jadi, siapa yang mewujudkan kejahatan? jelas, manusia yang mewujudkannya. Maka, wajar jika manusia yang dimintai pertanggungjawaban dan menanggung resiko dosa. Bukan Allah yang menanggungnya. Karena secara syar’iyyah Allah tidak pernah menghendaki hamba-hamba-Nya berbuat keburukan; merampok, mencuri, berzina, berbuat maksiat, durhaka kepada orang tua dan lain-lain. Allah tidak pernah menghendaki hamba-hamba-Nya masuk Neraka. Yang Dia ‘Azza wa Jalla kehendaki adalah agar semua manusia beragama Islam dan berbuat ketaatan lalu masuk

PENEGASAN: Perbuatan manusia; yang baik dan buruk seluruhnya dinisbatkan kepada kehendak Allah karena Allah lah yang menjadikan manusia berkehendak. Selebihnya manusia yang menggunakan kehendak tersebut, jika untuk kebaikan maka diberi pahala dan jika untuk keburukan maka diberi dosa.

G. Apakah takdir bisa diubah?

Kita sudah membahas di atas bahwa apapun yang akan terjadi hingga hari Kiamat, Allah ‘Azza wa Jalla telah mengetahuinya dan mencatatnya di lauhul mahfudz sejak 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dalam pengertian bahwa semua yang Allah catat adalah berdasarkan ilmu-Nya. Karena ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang belum terjadi.

Jika dikatakan, takdir bisa diubah. Maka bisa dipahami bahwa apa yang Allah ‘Azza wa Jalla catat dalam lauhul mahfudz itu keliru. Dan ini mustahil. karena tidak mungkin ilmu Allah atas segala sesuatu itu keliru. Lalu apa yang lebih tepat untuk dikatakan?

Yang lebih tepat, ada suatu takdir tertentu yang Allah ‘Azza wa Jalla. kaitkan dengan ikhtiar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حديث أَنَسُ بْنُ مَالِكِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ أَحَبُّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ رواه البخاري و مسلم

“Hadits Anas bin Malik- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka bersilaturrahimlah(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan seseorang bisa dipanjangkan umurnya atau dilapangkan rizkinya dengan ikhtiar yang berupa silaturrahim. Takdirnya tercatat;

a. Jika seseorang ikhtiar yang berupa silaturrahim maka umurnya 100 tahun (misalnya), jika tidak maka umurnya 60 tahun. Takdir mana yang berlaku 100 atau 60 tahun? Tergantung orangnya; silaturrahim atau tidak. Kalau silaturrahim maka takdir yang berlaku 100 tahun, kalau tidak maka 60 tahun.

b. Jika seseorang ikhtiar yang berupa silaturrahim maka rizkinya 500 juta (misalnya), jika tidak maka rizkinya 300 juta (misalnya). Takdir mana yang berlaku 500 juta atau 300 juta? Tergantung orangnya; silaturrahim atau tidak. Kalau silaturrahim maka takdir yang berlaku 500 juta, jika tidak maka 300 juta.

Demikian juga Hadits berikut ini,

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لا يَردُّ الْقَضَاءَ إِلا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إلا البر رواه الترمذى

“Dari Salman, dia berkata, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada yang menolak takdir kecuali do’a dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan (silaturrahim)” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa ada takdir seseorang dikaitkan dengan ikhtiar yang berupa doa. Takdirnya tercatat;

a. Jika seseorang ikhtiar yang berupa doa, maka bisnisnya lancar (misalnya), jika tidak maka gagal. Takdir mana yang berlaku bisnisnya lancar atau gagal? Tergantung orangnya; berdoa atau tidak. Kalau berdoa maka takdir yang berlaku bisnis lancar, kalau tidak maka gagal.

b. Jika seseorang ikhtiar yang berupa doa maka umurnya panjang (misalnya), jika tidak maka umurnya pendek. Takdir mana yang berlaku panjang atau pendek? Tergantung orangnya; berdoa atau tidak. Kalau berdoa maka takdir yang berlaku panjang, kalau tidak maka umurnya pendek.

Jadi, bukan takdir bisa diubah. Tetapi ada suatu takdir tertentu pada seseorang yang Allah kehendaki yang dikaitkan dengan ikhtiar. Sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu;

نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ رواه البخاري ومسلم

“Iya, saya lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain” (HR. Bukhari dan Muslim)

PERMASALAHAN: Apakah kita tahu bahwa suatu takdir tertentu yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan untuk kita dikaitkan dengan ikhtiar? Tentu kita tidak tahu. Dengan demikian yang seharusnya kita lakukan adalah senantiasa tetap berikhtiar. Karena jika takdir kita dikaitkan dengan ikhtiar, maka kita akan meraih apa yang kita inginkan. Dan jika tidak dikaitkan dengan ikhtiar dimana Allah hanya menetapkan satu ketentuan saja, “GAGAL” (misalnya), ikhtiar atau tidak ikhtiar hasilnya tetap “GAGAL”, maka ikhtiar kita tidak sia-sia. Karena ikhtiar tersebut akan bernilai ibadah dan diberi pahala di sisi Allah Azza wa Jalla.

PERHATIKANLAH: Takdir yang berhubungan dengan pahala dan dosa. Surga dan Neraka pasti dikaitkan dengan ikhtiar. Sementara takdir yang tidak berhubungan dengan pahala dan dosa, Surga dan Neraka bisa saja tidak dikaitkan dengan ikhtiar. Misalnya: sakit, sehat, sembuh, kaya, miskin, sukses, gagal, tinggi, pendek, kurus, gemuk, untung, rugi, dan lain-lain

H. Beriman kepada takdir tidak menjadikan seseorang berhujjah dengannya untuk berbuat maksiat dan meninggalkan kewajiban

Dalil-dalil sebagai bantahan untuk orang yang menyandarkan kepada takdir dalam meninggalkan kewajiban atau menyandarkan kepadanya dalam mengerjakan maksiat adalah berikut ini:

a. Dalil dari Al-Qur’an

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ الأنعام: 148

“Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan: Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak. mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami(QS. Al-An’am: 148)

Ayat ini menunjukkan, Allah mengazab pelaku kesyirikan yang menyadarkannya kepada takdir

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا النساء: 165

“(Mereka kami utus) selaku Rasul-Rasul pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya Rasu- Rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.An-Nisa’: 165)

Ayat ini menunjukkan, berhujjah dengan takdir untuk berbuat maksiat berarti meniadakan fungsi diutusnya para Rasul bahwa diutusnya mereka tidak lain adalah untuk menjelaskan kepada manusia mana yang haq dan mana yang batil sehingga manusia tidak lagi bisa berhujjah di hadapan Allah.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم التغابن: 16

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian(QS.At-Taghobun:16)

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ البقرة: 286

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapatkan siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya“. (QS. Al- Bagoroh: 286)

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memerintah dan melarang hamba tidaklah dengan memaksanya, semuanya masih dalam kemampuan hamba. Kenyataannya jika hamba berbuat maksiat karena lupa, kebodohan, atau terpaksa maka Allah memaafkannya dan tidak mencatatnya sebagai dosa.

b. Dalil dari Hadits.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ummatnya untuk berbuat atau berikhtiar, tidak menyandarkan kepada takdir. Beliau bersabda:

bersambung….

Judul buku : Memahami Takdir

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/memahami-takdir-bagian-2/feed/ 0