alam – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 23 Dec 2024 07:03:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png alam – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Oh..Kematian?! (Himpitan Kubur Bag. 5) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-himpitan-kubur-bag-5/ Mon, 23 Dec 2024 07:03:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19415 F. Himpitan Kubur
Pertama : Himpitan kubur itu benar adanya.
Himpitan kubur adalah awal perkara yang dijumpai mayat di alam barzah. Banyak nash-nash shorih dan shohih dari Nabi shallahu ‘alaihi wasallam tentangnya. Diantaranya:
a. Dalil pertama:

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ )رواه أحمد (6/55 ،98) ، قال العراقي في “ تخريج الإحياء “ (5/259) : إسناده جيد . وقال الذهبي في “ السير “ (1/291) : إسناده قوي . وقال الألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (1695) : “ وجملة القول أن الحديث بمجموع طرقه وشواهده صحيح بلا ريب “ انتهى. وصححه محققو مسند أحمد في طبعة مؤسسة الرسالة (40/327)

“Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Pada kubur ada himpitan, kalau ada seseorang yang selamat darinya niscaya Sa’ad bin Mu’ad telah selamat” (HR. Imam Ahmad 6/55. 98).
Al-’Iroqi berkata di dalam “Takhrijul Ihya” 5/259: Isnadnya jayyid. Adz-Dzahabi berkata di dalam “Siyar” 1/291: Isnadnya qowiyy. Al-Albani berkata di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” 165: Seluruh pendapat menyatakan Hadits tersebut dengan seluruh jalannya dan syawahidnya shohih tanpa diragukan [selesai]
b. Dalil kedua

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عن سعد بن معاذ رضي الله عنه حين توفي :هَذَا الَّذِي تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ ] )رواه النسائي في “ السنن “ (2055) (4/100)[ وسكت عنه ، وبوب عليه بقوله : “ ضمة القبر وضغطته “، وصححه الألباني في “ صحيح النسائي “

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu ketika wafatnya: “Ini orang yang ‘Arsy berguncang karenanya, pintu-pintu langit dibuka untuknya, dan telah dipersaksikan tujuh puluh ribu Malaikat, tapi masih mengalami himpitan kubur yang kemudian dilapangkan baginya(HR. An-Nasa’i di dalam “As-Sunan” 2055, 4/100) , dia tidak berkomentar tentangnya, dan menyebutkan di dalam penyusunan bab-babnya dengan “Bab Himpitan Qubur”. Di-shahih-kan oleh Al-Albani di dalam “Shohih An-Nasa’i
c. Dalil ketiga

عن أبي أيوب رضي الله عنه : أن صبيًا دُفنَ ، فقالَ صلى الله عليه وسلم :لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ ).رواه الطبراني “ المعجم الكبير “ (4/121) وصحح الحافظ ابن حجر نحوه في “ المطالب العالية “ (13/44)، وصححه الهيثمي في “ مجمع الزوائد “ (3/47) ، والألباني في “ السلسلة الصحيحة “ (رقم/2164)

Dari Abu Ayyub radhiallahua’hu bahwa ada bayi dimakamkan. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika ada orang yang selamat dari himpitan kubur niscaya bayi ini selamat(HR Ath-Thobroni di dalam “al-Mu’jam al-Kabir” 4/121). Al-Hafizh Ibnu Hajar men-shahih-kannya di dalam “al-Matholib al-‘aliyah” 13/44. Al-Haitsami men-shahih-kannya di dalam “Majma’ az-Zawaid 3/47 dan Al-Albani di dalam “As-Silsilah ash-Shohihah” no. 2164.
Al-Qurthubi menyebutkan di dalam “At-Tadzkiroh fi Ahwaali-l-Mawta wa Umuri-l- Akhiroh” Hal. 323 pada Bab “Himpitan Kubur pada penghuninya meskipun Orang Sholeh”. Juga pada nash-nash lain dalam tema yang sama tetapi kebanyakannya dho’if dan munkar. Sebagaimana Ibnu-l-Ajur mengeluarkan di dalam “Al-Mawdhu’at” 3/231 sebagian besarnya dengan judul HIMPITAN KUBUR. Yang kami sebutkan dari Hadits-Hadits shohih sudah mencukupi. In sya-a Allah.
Kedua : Apakah orang mukmin mengalami himpitan kubur?
Ahli ilmu berbeda pendapat berkenanaan dengan seorang mukmin. Apakah ia mengalami himpitan kubur? Dan, bagaimanakah keadaannya? Ada dua pendapat:
Pendapat pertama: Himpitan kubur menimpa setiap mukmin dan dirasakan berat baginya. Namun, bagi orang mukmin yang sholeh cepat terbebas darinya dan dilapangkan kuburnya. Adzab ini tidak berkepanjangan baginya. Adapun orang fasik himpitan sangat dahsyat dirasakannya. Menyempitnya lahat memakan waktu yang lama sesuai dosa dan maksiatnya.
Abu-l-Qosim as-Sa’di rahimahullah berkata: Tidak akan selamat dari himpitan kubur orang tholih juga orang sholihnya. Bedanya antara muslim dan kafir adalah orang kafir terus-menerus, sementara orang muslim mengalaminya hanya ketika awal diturunkan ke liang lahat kemudian kembali mendapatkan kelapangan [selesai].
Al-Hakim at-Tirmidzi rahimahullah berkata: Himpitan ini disebabkan tidak lain setiap orang itu berbuat dosa, maka himpitan akan dirasakannya sebagai balasannya lalu dia akan merasakan rahmat [selesai]. Dinukil dari “Hasyiah as-Suyuthi ‘ala “Sunan an-Nasa’i” 3/292. Ar-Romli menukilnya di dalam “Fatawa” nya 4/210.
Pendapat kedua: Orang mukmin yang shalih juga mengalami himpitan kubur, tetapi ia himpitan sayang dan kelembutan. Tidak terdapat padanya sakit dan penderitaan. Adapun orang muslim yang bermaksiat, himpitan keras kemurkaan sangat dirasakan sesuai banyaknya dosa dan buruknya amalan mereka.
Dari Muhammad At-Taimiy rahimahullah, ia berkata: Dikatakan, Sesungguhnya himpitan kubur sejatinya ia itu ibu mereka. Darinya mereka diciptakan. Mereka telah raib dalam waktu yang lama. Ketika kembali ke sang Ibu, maka ia mendekapnya dengan dekapan kasih sayang, dekapan kerinduan terhadap anak-anaknya yang menghilang lalu datang kembali. Barangsiapa di antara mereka yang taat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan kelembutan. Barangsiapa bermaksiat kepada Allah ta’ala maka akan didekapnya dengan dekapan kemurkaan (Imam As-Suyuthi menyebutkannya di dalam Hasyiah atas “Sunan An-Nasa’i 3/292 dari riwayat Ibnu Abi-d-Dunya. Dia menyebutnya di dalam “Busyro-l-Kaib bi liqoo-i-l- Habib”, Hal. 5 Bab: “Dzikru Takhfifi dhimmati-l-qobr ‘ala-l-mu’min”)
Ada Hadits marfu’ yang meriwayatkan secara makna dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata:

يا رسول الله إنك منذ حدثتني بصوت منكر ونكير وضغطة القبر ليس ينفعني شيء ؟ قال: “يا عائشة إن أصوات منكر في أسماع المؤمنين كالإثمد في العين ، وإن ضغطة القبر على المؤمن كالأم الشفيقة يشكو إليها ابنها الصداع فتغمز رأسه غمزا رفيقا ، ولكن يا عائشة ويل للشاكين في الله كيف يُضغطون في قبورهم كضغطة البيضة على الصخرة ](رواه البيهقي في “ إثبات عذاب القبر “ (ص/85، رقم/116)[، والديلمي في “ مسند الفردوس “ (رقم/3776)، وفي سنده الحسن بن أبي جعفر وعلي بن زيد بن جدعان ضعيفان . فهو حديث ضعيف . وقد عزاه بعضهم لابن منده وابن النجار ولم أقف عليه

Ya Rasulullah! Sesungguhnya sejak hari Engkau memberitahuku tentang suara Munkar dan Nakir dan himpitan kubur, saya belum paham. Beliau bersabda: Ya ‘Aisyah! Sesungguhnya Munkar dan Nakir pada pendengaran orang mukmin itu seperti itsmid pada mata. Adapun himpitan kubur pada mukmin itu seperti Ibu yang anak mengeluhkan sakit kepala kepadanya, ia pun menganggukkan kepala dengan lembut. Wahai ‘Aisyah! Celakalah orang-orang yang ragu-ragu akan Tuhannya betapa mereka akan dihimpit oleh kubur seperti telor yang ditekan di atas batu (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam “Itsbat ‘adzabi-l-qobr” (Hal. 85, No. 116), Ad-Dailami di dalam “Musnad Al-Firdaus” no. 3776, di dalam sanad-nya terdapat al-Hasan bin Abi Ja’far dan ‘Ali bin Zaid bin Jad’an. Keduanya lemah. Ini Hadits dho’if. Sebagian mereka menisbatkannya kepada Ibnu Mandah dan Ibnu an-Najjar
Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Himpitan ini bukan adzab kubur. Tetapi, ia adalah perkara yang seorang mukmin menjumpainya sebagaimana sakit atas kehilangan anak dan teman karibnya di dunia. Sakit dari suatu penyakit. Sakit ketika terlepasnya ruh. Sakit karena keberadanya di kubur dan adanya ujian yang dihadapinya. Sakit akibat pengaruh dari tangisan keluarganya. Sakit ketika bangkit dari kuburnya. Sakit dari berdiri (di mahsyar, Pent.) dan kengerian yang mencekam. Sakit ketika mendatangi Neraka dan semacamnya. Kegoncangan-kegoncangan ini semua orang mendapatinya. Ia bukan adzab kubur. Juga bukan bagian dari adzab Jahannam. Tetapi seorang hamba menjumpainya pada sebagiannya atau keseluruhannya dengan kelembutan dari Allah ta’ala. Tidak ada rehat bagi mukmin hingga bertemu dengan Tuhannya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ ٱلْحَسْرَةِ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan (QS. Maryam:39)

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ(غافر: 18)

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari Kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan (QS. Ghofir: 18)
Kita memohon ampunan dan kelembutan yang tersembunyi kepada Allah ta’ala. Ketika terjadi kegundahan-kegundahan pada diri kita (berkenaan himpitan kubur ini, Pent.), maka ketahuilah Sa’ad bin Mu’adz yang diketahui sebagai ahli Surga, syahid yang tertinggi dan telah meraih kemenangan masih merasakan kengerian, ketakutan,dan rasa sakit!!! Lalu bagaimana dengan kita?! Mintalah keselamatan kepada Tuhan kalian, dan semoga Dia ta’ala mengumpulkan kita bersama golongan Sa’ad bin Mu’adz [selesai]. “Siyar A’lami-n-Nubala” 1/290-292.
Syaikh An-Nafrawi al-Maliki berkata: Himpitan kubur adalah perkara yang pasti terjadi. Meskipun keadaannya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya [selesai]. “Al-Fawakih ad-Dawani” 2/688.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: Hadits ini, yaitu tentang dihimpitnya Sa’ad bin Mu’adz dalam kubur adalah masyhur di kalangan para ulama. Seandainya Hadits itu shahih, maka himpitan kubur bagi mukmin adalah himpitan rahmat dan kelembutan seperti seorang Ibu yang memeluk anaknya ke dadanya. Adapun bagi orang kafir, maka ia merupakan himpitan siksa. Wa-l-‘iyaadzu billah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa manusia ketika dikuburkan datanglah dua Malaikat yang akan bertanya tentang tiga perkara: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu? Orang mukmin akan menjawab: Tuhanku Allah, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad. Saya memohon kepada Allah ta’ala semoga menjadikan jawabanku dan jawaban kalian seperti ini. Adapun orang munafik atau murtad – semoga Allah ta’ala melindungi kami dan kalian semua – akan menjawab: Haa… haa.. saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakannya maka akupun mengatakannya. Lalu, kubur menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan carut-marut. Wa-l-‘iyaadzu billah. Jadi, berbeda antara himpitan kubur bagi kafir atau murtad dengan orang mukmin [selesai dengan ringkasan]. “Liqoo-aa-t Al-Baab al-Mafthuh” No. 161 Soal no. 17.
Zhahirnya – Allahu A’lam – yang rojih dari dua pendapat ini adalah pendapat yang berdasarkan teks sunnah yang menunjukkan demikian. Seorang mukmin saja merasakan himpitan kubur apalagi yang lainnya. Ini menunjukkan dahsyatnya himpitan kubur. Ia dirasakan sakit bagi orang yang dihimpitnya dengan kadar yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Masing-masing sesuai amalan dan keadaannya. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahmahullah menyebutkan himpitan kubur sebagai faktor penyebab diampuninya dosa-dosa. Dia rahimahullah berkata: Sebab kedelapan, apa yang terjadi di kubur berupa fitnah, himpitan dan kengeriannya bisa merupakan sebab yang menghapus kesalahan-kesalahan [selesai dari “Majmu’-l- Fatawa” 7/500.
Hadits yang disebutkan di dalam pertanyaan tidak menunjukkan bahwa Sa’ad bin Mu’adz sebagai satu-satunya yang selamat dari himpitan kubur sebagaimana yang dipahami oleh penanya. Tetapi, ia justru merupakan nash bahwa Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu’anhu tidak selamat dari himpitan kubur. Jika ada orang yang selamat darinya, niscaya Sa’ad termasuk orang yang selamat di mana dia termasuk seutama-utamanya manusia. Lihatlah “Jawabu-s- Sual” no. 71175. Allahu A’lam.

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Oh..Kematian?! (Kematian Sebaik-baiknya Nasehat bag. 1) https://nidaulfithrah.com/oh-kematian-kematian-sebaik-baiknya-nasehat-bag-1/ Mon, 28 Oct 2024 02:21:44 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19282 A. Kematian Sebaik-baiknya Nasehat

Kita semua membutuhkan nasehat.
Ketika kita bengkok bisa menjadi lurus kembali setelah dinasehati.
Ketika keliru bisa sadar setelah dinasehati.
Ketika kita salah bisa kembali benar setelah dinasehati.
Hidup terasa lebih bermakna setelah Bapak dan Ibu guru memberi nasehat
Ketahuilah sebaik-baiknya nasehat adalah kematian!!!

Karena kematian sebaik-baiknya nasehat, maka Nabi shallahu’alaihi wasallam memerintahkan kita agar banyak mengingat kematian. Disebutkan di dalam Hadits,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسولُ الله ﷺ: أكثروا ذكر هادم اللَّذات: الموت (رواه الترمذي، والنَّسائي، وصحَّحه ابن حبَّان)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban)
Kita benar-benar menyadari betapapun hebatnya fasilitas, lezatnya makanan dan minuman, tingginya kedudukan, glamournya fasilitas, menariknya permainan, indahnya pemandangan, nyamannya rekreasi, asyik-masyuknya pelampiasan hobi, megahnya gedung, ganteng cantiknya rupawan, dan manisnya bercengkerama semuanya itu tidak langgeng. Semuanya terbatas. Kematianlah yang membatasinya. Maka dengan mengingat kematian dan semakin banyak mengingatnya akan menjadikan kita berhati-hati dalam menjalani hidup dan kita betul-betul menyadari akan terjadinya peralihan dari kehidupan di dunia ke kehidupan di Akhirat yang dimulai dari alam barzah. Kita pun tidak akan membabi buta, semena-mena dan “sekarepe dhewek” dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Bersamaan dengannya kita akan memperbanyak amalan.
Disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang keadaan dan perkataan para Salafush sholih,


a. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallhu’anhu
Ia berkata,

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ:. وَالمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ. (رواه البخاري)

Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.” (HR. Bukhari)


b. Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anhu
Ia radhiallahu’anhu yang sedang berpuasa dihidangkan makanan untuk berbuka, tetapi tangannya tidak sanggup menyentuhnya ketika teringat kematian Mush’ab dan Hamzah radhiallahu’anhum,

أنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بنَ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه، أُتِيَ بطَعَامٍ وكانَ صَائِمًا، فَقالَ: قُتِلَ مُصْعَبُ بنُ عُمَيْرٍ وهو خَيْرٌ مِنِّي، كُفِّنَ في بُرْدَةٍ، إنْ غُطِّيَ رَأْسُهُ، بَدَتْ رِجْلَاهُ، وإنْ غُطِّيَ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ – وأُرَاهُ قالَ: وقُتِلَ حَمْزَةُ وهو خَيْرٌ مِنِّي – ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا ما بُسِطَ – أَوْ قالَ: أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا ما أُعْطِينَا – وقدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِي حتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ (رواه البخارى)

“Abdurrahman bin ‘Auf dihidangkan makanan yang saat itu ia sedang berpuasa. Lalu ia berkata, Mus’ab bin Umair telah terbunuh. Ia adalah orang yang lebih baik dariku tetapi ketika (hendak dikafani) tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali hanyalah burdah (kain bergaris) yang apabila ditutupkan pada kepalanya, kakinya terbuka (karena kain yang pendek) dan bila ditutupkan pada kakinya kepalanya terbuka. Dan aku melihatnya, dia lanjut berkata; “Hamzah juga lebih baik dariku ia telah terbunuh. Dunia telah dilapangkan untukku sebagaimana yang telah dilapangkan ini, dan sungguh kami khawatir bila kebaikan-kebaikan kami telah disegerakan balasannya buat kami (berupa kenikmatan dunia). Lalu ia pun mulai menangis dan meninggalkan makanan tersebut(HR. Bukhari)


c. Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

كان إذا رأى جنازة قال : امضوا فإنا على الأثر

Ketika melihat janazah, ia mengatakan: Berlalulah kalian, kami pun pasti akan menyusul.


d. Abu Darda’ radhiallahu’anhu,
Dia berkata,

إذا ذكرت الموتى فعد نفسك كأحدهم

Kalau Anda mengingat orang-orang mati maka masukkan diri Anda salah satu dari mereka.

أضحكني؛ مؤمِّل دنيا والموتُ يطلبه، وغافل وليس مغفولًا عنه، وضاحك بملء فِيه ولا يدري أأرضى الله أم أسخطه

Aku jadi tertawa; ada orang memimpikan dunia padahal kematian tengah memburu dirinya, orang yang lalai padahal kematian tidak lalai terhadapnya, orang yang terbahak-bahak padahal dia tidak tahu apakah Allah ta’ala ridho terhadapnya ataukah murka.


e. Sa’id bin Jubair rahimahullah (665-714M)
Ia seorang ahli tafsir murid Ibnu Abbas, berkata,

لو فارق ذكر الموت قلبي لخشيت أن يفسد عليّ قلبي

“Kalau hatiku lepas dari mengingat mati, saya khawatir hatiku rusak”


f. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (681-720)
Ia cicit Umar bin Al Khothob, seorang khalifah Bani Umayyah berkata :

ألا ترون أنكم تجهزون كل يوم غاديا أو رائحا إلى الله عز وجل تضعونه في صدع من الأرض قد توسد التراب ، وخلف الأحباب ، وقطع الأسباب

Tidakkah kalian mengetahui bahwa kalian setiap hari pagi dan sore berjalan menuju Allah ta’ala menyiapkan diri kalian untuk kalian baringkan di liang lahat yang diurug dengan tanah, sementara kerabat kalian pulang maka terputuslah semua ikatan.


g. Abu Haazim rahimahullah
Dia seorang Tabi’in lahir di zaman sahabat Ibnu Umar, berkata,

انظُر كل عمل كرهت الموت لأجله فاترُكه، ولا يضرُّك متى متَّ

Lihatlah setiap pekerjaan yang karenanya Anda membenci kematian lalu tinggalkanlah, niscaya tidak akan memudharatkan Anda kapanpun Anda mati


h. Dzun Nun al-Mishry rahimahullah (796-859)
Ada seseorang yang menemuinya, bersamanya orang-orang para pecinta dunia. Dzun Nun pun mengatakan kepada mereka,

تَوَسَّدُوا المَوْتَ إِذَا نِمْتُمْ، وَاجْعَلُوهُ نُصْبَ أَعْيُنِكُمْ إِذَا قُمْتُمْ، كونوا كأنكم لا حاجة لكم إلى الدنيا، ولا بُدَّ لكم من الآخرة(الزهد الكبير للبيهقي)

Berbantallah kalian dengan kematian jika kalian tidur. Jadikalan ia penyangga mata kalau kalian bangun. Jadilah kalian sebagai orang-orang yang seakan-akan tidak membutuhkan dunia. Tetapi Akheratlah yang wajib bagi kalian.


i. Daud Ath-Tho-i rahimahullah (wafat tahun 781 M)
Ia belajar kepada Imam Abu Hanifah. Suatu hari Haris bin Idris berkata kepadanya, Berilah aku nasehat. Dia menjawab,

عسكر الموت ينتظرونك

“Tentara kematian tengah mengintaimu”


j. Lukman rahimahullah
Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad di dalam kitab “Zuhud” dan ibnu Jarir, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Imam Mujahid ia berkata : Lukman itu seorang budak Habasyah berbibir tebal dan telapak kaki tebal, Ia seorang Qodhi untuk Bani Israil. Dia menasehati anaknya,

يا بني، أمرٌ لا تدري متى يلقاك، استعدَّ له قبل أنْ يفجأك

Wahai anakku, ada perkara yang kamu tidak tahu kapan ia akan menemuimu. Bersiaplah untuknya sebelum mendatangimu secara tiba-tiba


k. Hasan al-Bashri rahimahullah
Dia seorang Tabi’in yang hidup ditengah-tengah Para Pembesar Shahabat seperti Ustman bin Affan dan Thalhah bin Ubaidillah. Suatu hari sekelompok orangtua dan anak-anak muda bermajlis bersama Hasan al-Bashri rahimahullah. Dia bertanya kepada mereka,

معشر الشيوخ، ما يصنع بالزرع إذا طاب؟! فقالوا: يحصد! ثم التفت فقال: معشر الشباب، كم مِن زرع لم يَبلغ قد أدركته الآفة فأهلكته، وأتت عليه الجائحة فأتلفته؟! ثم بكى وتلا: وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ( إبراهيم: 25)

Wahai para orangtua! Apa yang mesti diperbuat terhadap tanaman yang sudah matang? Mereka menjawab: Dipanen. Lalu, dia menoleh, Wahai para pemuda! Betapa banyak tanaman belum sampai matang tapi rusak karena diserang hama. Lalu dia menangis dan membaca, “Allah ta’ala memberikan perumpamaan kepada manusia agar mereka menyadari (QS. Ibrahim:25)

Judul buku : Oh..Kematian?!

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>