akhlak – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Wed, 18 Feb 2026 08:59:36 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png akhlak – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 2 UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-2-ukhuwwah-atas-dasar-aqidah-lebih-utama-daripada-ukhuwwah-atas-dasar-apapun/ Mon, 01 Sep 2025 07:04:00 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20396 C. UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN
Persaudaraan atas dasar aqidah lebih utama daripada persaudaraan atas dasar kabilah, bisnis, negara, kekayaan, komunitas, atau apapun. Bahkan lebih utama daripada persaudaraan atas dasar nasab/keluarga. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ (المجادلة:22)

“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah ta’ala. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (QS. Al-Mujadilah: 22)
Coba kita perhatikan ayat ini, orang muknin tidaklah mencintai orang kafir meskipun ayah, anak, saudara atau famili. Padahal mereka adalah orang-orang yang ada ikatan nasab, tetapi mereka tidak boleh dicintai karena kafir.
Ayat ini menjelaskan suatu kejadian dalam perang Badar. Ketika itu Abu Ubaidah membunuh ayahnya. Abu Bakar berkeinginan kuat untuk membunuh anaknya, Abdurrahman. Mush’ab bin Umair membunuh saudaranya Ubaid bin Umair. Umar bin Khottob membunuh kerabatnya. Hamzah, Ali dan Ubaidah bin Al-Harits juga membunuh kerabatnya yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah.
Jelaslah, ukhuwwah atas dasar aqidah lebih utama daripada ukhuwwah atas dasar keluaga.

D. PANCARAN ENERGI UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Ukhuwwah Islamiyyah memancarkan energi yang luar biasa dalam kehidupan kaum muslimin. Di antaranya:

a. Tidak menzhalimi, tidak membiarkannya disakiti, saling menolong, dan menutup aibnya
Disebutkan di dalam Hadits,

المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولَا يُسْلِمُهُ، ومَن كانَ في حَاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حَاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه كُرْبَةً مِن كُرُبَاتِ يَومِ القِيَامَةِ، ومَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ (رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر)

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah c akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah ta’ala menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah ta’ala akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)

  • Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur seseorang yang melaknat seorang muslim akibat suatu dosa

Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur orang yang menzhalimi saudaranya secara lisan, lalu bagaimana bentuk kezhaliman yang lebih besar lagi. Suatu hari Nabi shallahu’alaihi wasllam menghukum orang yang minum khamr, lalu ada orang yang mengomenteri peminum khamr tersebut dengan ucapan-ucapan yang buruk. Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya. Disebutkan di dalam Hadits,

أنَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وكانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وكانَ يُضْحِكُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وكانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قدْ جَلَدَهُ في الشَّرَابِ، فَأُتِيَ به يَوْمًا فأمَرَ به فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العنْه، ما أكْثَرَ ما يُؤْتَى بهِ؟ فَقَالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ ما عَلِمْتُ إنَّه يُحِبُّ اللَّهَ ورَسولَهُ (رواه البخارى عن عمر الخطاب)

“Ada seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasllam namanya Abdullah. Biasa dijuluki dengan Himar. Dia orang yang pernah membikin Nabi tertawa. Nabi shallahu’alaihi wasllam pernah mencambuknya disebabkan minum khamr. Suatu hari dia dibawa ke hadapan Nabi shallahu’alaihi wasllam. Beliau memerintahkan agar dicambuk. Ada seseorang dari suatu kaum yang berkomentar: Ya Allah, laknatlah dia! Betapa sering dia ditangkap Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya: Janganlah kamu melaknatnya. Demi Allah, sungguh dia seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari dari -Umar bin al-Khottob)

  • Nabi menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut.

Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut. Disebutkan di dalam Hadits,

رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ وَعليه حُلَّةٌ، وعلَى غُلَامِهِ مِثْلُهَا، فَسَأَلْتُهُ عن ذلكَ، قالَ: فَذَكَرَ أنَّهُ سَابَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَعَيَّرَهُ بأُمِّهِ، قالَ: فأتَى الرَّجُلُ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذلكَ له، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: إنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إخْوَانُكُمْ وَخَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فمَن كانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدَيْهِ، فَلْيُطْعِمْهُ ممَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ ممَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ ما يَغْلِبُهُمْ، فإنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فأعِينُوهُمْ عليه (رواه البخارى ومسلم عن أبى ذر الغفارى)

“Saya (periwayat) melihat Abu Dzar mengenakan pakaian. Budaknya juga mengenakan pakaian yang sama. Lalu saya (periwayat) bertanya sebab demikian. Dia menuturkan bahwa dirinya pernah mencela seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasallam dengan menjelek-jelekkan ibunya. Ketika mendatangi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan menceritakan apa yang terjadi, beliau bersabda: Sesungguhnya pada dirimu terdapat sifat jahiliyyah. Mereka itu saudara kalian. Allah ta’ala menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Maka siapa saja yang saudaranya itu di bawah kekuasaannya dia harus memberinya makan sebagaimana dirinya makan, dia harus memberinya pakaian sebagaimana dirinya berpakaian. Janganlah membebaninya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Jika kamu menugaskannya dengan suatu tugas maka bantulah dia” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar)

Dua kejadian di atas menunjukkan dua kezhaliman yang barangkali dikatagorikan kezhaliman kecil. Meski demikian, Nabi shallahu’alaihi wasallam langsung menegurnya. Lalu, bagaimana jika kezhaliman besar?
  • Seorang muslim tidak membiarkan saudaranya disakiti

Ibnu Hasyim rahimahullah menjelaskan mengenai sebab terjadinya perang Bani Qoinuqo, yaitu seorang muslim yang tidak rela saudarinya seorang Muslimah dilecehkan oleh orang Yahudi. Dia marah dan membunuh orang Yahudi tersebut. Dia sendiri akhirnya dibuhuh oleh orang-orang Yahudi.

أن امرأة من العرب قدمت بجلب لها، فباعته بسوق بني قينقاع، وجلست إلى صائغ بها، فجعلوا يريدونها على كشف وجهها، فأبت، فعمد الصائغ إلى طرف ثوبها فعقده إلى ظهرها، فلما قامت انكشفت سوأتها، فضحكوا بها، فصاحت، فوثب رجل من المسلمين على الصائغ فقتله وكان يهوديًا، وشدّت اليهود على المسلم فقتلوه، فاستصرخ أهل المسلم المسلمين على اليهود، فغضب المسلمون، فوقع الشرّ بينهم وبين بني قينقاع

Seorang perempuan( Muslimah) dari Arab membawa perhiasan. Dia hendak menjualnya di pasar Bani Qainuqa’. Perempuan itu duduk di tempat pembuat perhiasan. Mereka meminta kepanya agar membuka wajahnya. Dia tidak mau salah seorang pembuat perhiasan sengaja berbuat (buruk) dengan mengikatkan ujung pakaian bagian belakang muslimah tersebut ke bagian yang lainnya. Sehingga ketika perempuan itu bangkit dari duduknya tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Hal itu membuat orang-orang yang ada di pasar melihat perempuan tersebut dan menertawakan. Dia berteriak. Seorang muslim segera menghampiri dan membunuh Yahudi tadi. Melihat hal itu, Yahudi yang lain pun mendatanginya lalu membunuh muslim tersebut. Kemudian terjadilah pertengkaran antara kaum muslimin yang ada di sana dengan Bani Qainuqa’.
Allahu Akbar, beginilah ukhuwwah Islamiyyah. Seorang muslim tidak rela, marah dan tidak membiarkan saudaranya disakiti.

Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 1 KONSEKWENSI DARI KONSEP AL-WALA’ WAL-BARA’ YANG MERUPAKAN AJARAN ISLAM YANG FUNDAMENTAL) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-1-konsekwensi-dari-konsep-al-wala-wal-bara-yang-merupakan-ajaran-islam-yang-fundamental/ Sat, 26 Jul 2025 05:20:19 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20127 A. UKHUWWAH ISLAMIYYAH ADALAH KONSEKWENSI DARI KONSEP AL-WALA’ WAL-BARA’ YANG MERUPAKAN AJARAN ISLAM YANG FUNDAMENTAL

Ukhuwwah Islamiyyah artinya persaudaraan Islam. Maksudnya persaudaraan sesama kaum muslimin.

Al-Wala’ maksudnya cinta dan loyalitas. Al-Bara’ maksudnya benci dan putus ikatan hati. Kepada siapa kita mesti tunjukkan sikap al-Wala’ dan kepada siapa kita tunjukkan sikap al-Bara’. Islam telah mengaturnya. Jangan sampai salah sasaran atau keliru dengan dua persikapan ini. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ (المائدة” 55)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)” (QS. Al-Maidah:55)
Ayat ini menunjukkan bahwa circle al-Wala’ wa- al Bara’ adalah tiga pihak. Yaitu Allah ta’ala, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan orang Islam (muslim).

a. Allah ta’ala, Dia lah Tuhan yang kita menghambakan diri hanya kepada-Nya, yang kita memohon untuk dimasukkan ke dalam Surga-Nya. Maka, kita harus mencintai dan loyal kepada-Nya.

b. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam. Beliau adalah utusan Allah ta’ala yang melalui beliau syareat-Nya bisa sampai kepada kita sehingga kita bisa menjalani hidup di atas jalan yang lurus. Maka, kita harus cinta dan loyal kepada beliau.

c. Muslim. Dia lah orang yang mencitai Allah dan Rasul-Nya. Dialah yang menegakkan dan mensyiarkan syareat Allah yang disampaikan kepadanya melalui Rasul-Nya. Maka, kepada muslim kita harus cinta dan loyal.

Adapun terhadap kebalikan dari tiga pihak di atas kita harus menunjukkan sikap al-bara’ (benci dan putus ikatan hati);

a. Berhala-berhala, jimat-jimat dan apapun yang merupakan tandingan bagi Allah. Kita harus berlepas diri dari semuanya itu (sikap al-bara’).

b. Orang yang memposisikan diri sebagai Rasul; membuat syareat dan menetapkan hukum-hukum yang menyelisihi syareat Allah. Kepada orang semcam ini kita juga harus menunjukkan sikap al-bara’

c. Orang kafir. Kepadanya kita sebatas berbuat baik dalam koredor pemenuhan hak-hak. Sebagai kawan, tetangga, pembeli, penjual, layanan jasa, partner bisnis dan lain-lain. Jadi, berbuat baik saja, tidak dalam koridor cinta dan loyalitas. Karena cinta dan loyalitas hanya sesama muslim. Allah ta’ala berfirman,

فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِين َ(المائدة:54)

“Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (QS. Al-Madiah:54)

Ayat ini menunjukkah, benarnya cinta kepada Allah ta’ala di mana Allah ta’ala membalas cintanya alias tidak bertepuk sebelah tangan yaitu orang berlemah-lembut kepada orang muslim dan bersikap keras atau benci kepada orang kafir.

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ (الممتحنة:8)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah:8)

Adapun surat Al-Mumtahanah ayat 8 ini menunjukkan, terhadap orang kafir hanya diperbolehkan berbuat baik (memenuhi hak-haknya) bukan sikap cinta atau loyal. Karena cinta dan loyalitas hanya sesama muslim.

Jelaslah, ukhuwwah Islamiyyah atau persaudaran atas dasar sesama orang yang bersyahadat itu merupakan konsekwensi dari ajaran Islam yang sangat fundamental.

B. UKHUWWAH ITU TASYRI’ ROBBANI
Artinya ia merupakan ketetapan syari’at dari Allah ta’ala langsung. Ia bukan tradisi suatu bangsa. Bukan warisan leluhur. Dan, bukan juga taqlid (mengekor) terhadap budaya suatu kaum.

a. Allah ta’ala memerintahkannya di dalam Al-Qur’an.
Dia ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ [ آل عمران: 103]

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu kamu menjadi orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Ali Imran:103)

Ayat ini menjelaskan tentang kondisi bangsa Arab sebelum datangnya Islam. Mereka selalu dalam permusuhan dan peperangan. Di antaranya adalah suku Aus dan Khazraj yang satu sebagai musuh bebuyutan bagi yang lainnya. Ketika Nabi shallahu’alaihi wasallam datang berdakwah, mereka berduyun-duyun masuk Islam. Maka, berubahlah kondisinya. Mereka menjadi ummat yang bersatu dan bersaudara. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاثًا، ويَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ: أنْ تَعْبُدُوهُ، ولا تُشْرِكُوا به شيئًا، وأَنْ تَعْتَصِمُوا بحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا ولا تَفَرَّقُوا، ويَكْرَهُ لَكُمْ: قيلَ وقالَ، وكَثْرَةَ السُّؤالِ، وإضاعَةِ المالِ (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Allah ta’ala meridhoi untuk kalian pada tiga perkara dan membenci untuk kalian pada tiga perkara. Dia ridho untuk kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan janganlah kalian bercerai berai, Dia ta’ala membenci untuk kalian “katanya-katanya”, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Secara gamblang Allah ta’ala perintahkan jika ada kaum muslimin bertikai agar didamaikan. Dia ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات:10)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara kalian. Dan bertaqwalah kepada Allah ta’ala agar kalian mendapatkan rahmat” (QS. Al-Hujurot:10)

Bahkan saking tidak diperbolehkan adanya perselisihan dan pertikaian di dalam tubuh kaum muslimin, syareat menyatakan mendamaikan pihak-pihak yang bertikai itu termasuk salah satu dari sebaik-baiknya pembicaraan. Allah ta’ala berfirman,

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا (النساء:114)

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar” (QS. An-Nisa:114)

b. Nabi shallahu’alaihi wasallam mempersaudarakan sesama Sahabat padahal mereka tidak ada ikatan nasab.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan…. Nabi mempersaudarakan sesama Shahabat sebanyak dua kali. Pertama: khusus sesama muhajirin. Diantaranya dipersaudarakannya Zaid bin Haritsah dengan Hamzah bin Abdul Mutholib. Kedua: antara Muhajirin dan Anshor setelah hijrah ke Madinah.

Jadi, sesampainya di Madinah selain mendirikan masjid Nabi shallahu’alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor yang menunjukkan pentingnya kedua hal tersebut. Masjid terkait hubungan vertikal dan persaudaraan terkait hubungan horizontal.

Bahkan persaudaraan ini yang ia tidak ada kaitannya dengan nashab bukan saja pada ikatan saling menolong, memperhatikan dan mempedulikan, tetapi lebih dari itu mereka juga saling mewarisi. Disebutkan di dalam Hadits,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْهمَا كانَ المُهَاجِرُونَ لَمَّا قَدِمُوا المَدِينَةَ يَرِثُ المُهَاجِرُ الأنْصَارِيَّ دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ؛ لِلْأُخُوَّةِ الَّتي آخَى النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بيْنَهُمْ (رواه البخارى)

“Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia mengatakan bahwa ketika orang-orang Muhajirin datang ke Madinah mereka mewarisi Anshor padahal tidak ada hubungan rahim. Itu tidak lain karena ikatan setelah Nabi persaudarakan sesama mereka” (HR. Bukhari)

Namun, ikatan saling mewarisi ini dihapus. Yang masih tetap berlangsung adalah ikatan saling menolong dan mempedulikan. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Abbas,

فَلَمَّا نَزَلَتْ: {وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ} [النساء: 33] نَسَخَتْ، ثُمَّ قالَ: (وَالَّذِينَ عَاقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ) إلَّا النَّصْرَ، وَالرِّفَادَةَ، وَالنَّصِيحَةَ، وَقَدْ ذَهَبَ المِيرَاثُ، وَيُوصِي له (رواه البخارى)

“Ketika turun ayat “ وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ ” (QS. An-Nisa:33) ia (saling mewarisi) dihapus. Kemudian firman-Nya “ وَالَّذِينَ عَاقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ “ menunjukkan (yang masih dilanjutkan) adalah saling menolong, menjamin, dan menasehati. Adapun saling mewarisi sudah ditiadakan” (HR. Bukhari)

Berikut ini pasangan-pasangan persaudaran yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam lakukan terhadap Muhajirin dan Anshor:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Kharijah bin Zaid
  2. Umar bin Al-Khottob dengan ‘Utban bin Malik
  3. Ubaidah bin Al-Jarroh dengan Abu Tholhah
  4. Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar-Robi’
  5. Ja’far bin Abu Tholib dengan Mu’adz bin Jabal
  6. Mush’ab bin ‘Umair dengan Abu Ayyub Al-Anshory
  7. Abu Dzar Al-Ghifari dengan Al-Mundzir bin ‘Amr
  8. Salman Al-Farisi dengan Abu Darda’
  9. Tholhah bin ‘Ubaidillah dengan Ka’ab bin Malik
  10. Zubair bin Al-Awam dengan Salmah bin Salamah bin Waqsy
  11. Bilal bin Robah dengan Abu Rouhah Al-Khots’amy

Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (DOA YANG BISA DIPANJATKAN AGAR SELALU DIJAGA OLEH ALLAH ta’ala, Bag. 6) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-doa-yang-bisa-dipanjatkan-agar-selalu-dijaga-oleh-allah-taala-bag-5/ Fri, 07 Feb 2025 04:02:58 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19654 B. DOA YANG BISA DIPANJATKAN AGAR SELALU DIJAGA OLEH ALLAH Ta’ala

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا (رواه الترمذي عن ابن عمر)

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini.
“Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami
(HR Tirmidzi dari Abdullah Ibnu Umar).

اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا طيِّبًا وعملًا متقبَّلًا (رواه ابن ماجه عن أم سلمة)

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima” (HR. Ibnu Majah dari Ummu Salamah)

اللَّهُمَّ اكْفِني بحلالِك عن حرامِك، وأغْنِني بفَضْلِك عمَّن سِواك (رواه الترمذي عن علي اب أبى طالب)

“Ya Allah! Cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu daripada bergantung kepada selain-Mu” (HR. At-Tirmidzi dari Ali bin Abu Thalib)

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ (رواه ابن حبان عن أبى هريرة)

“Ya Allah! Tuhan yang menguasai tujuh langit, Tuhan yang menguasai ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji benih, Tuhan yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan (Al-Quran). Aku memohon perlindungan dengan-Mu dari segala kejahatan sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah! Engkaulah Yang Awwal, tidak ada apapun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, tidak ada apapun sesudah-Mu. Engkaulah Azh-Zhahir, tidak ada apapun di atas-Mu. Engkaulah Al-Bathin, tidak ada apapun di bawah-Mu. Tunaikanlah hutang kami dan berilah kami kekayaan agar terbebas dari kefakiran.” (HR. Ibnu Hiibban dari Abu Hurairah)
C. PENUTUP
Alhamdulillah telah selesai penulisan topik ini. Meskipun ditulis dengan sederhana, topik ini sangat penting untuk diketahui. Karena hampir seluruh muslim keberadaannya sebagai pegawai atau karyawan terlepas di mana posisinya. Dengan memahami topik ini semoga keberadaan seseorang sebagai pegawai atau karyawan berlimpah keberkahan dari Allah Ta’ala. Amin.

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Untuk Pemilik Usaha, Utamakan Meraih Jalan-Jalan Keberkahan, Bag. 5) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-untuk-pemilik-usaha-utamakan-meraih-jalan-jalan-keberkahan-bag-5/ Mon, 03 Feb 2025 02:31:56 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19625 10. Untuk Pemilik Usaha, Utamakan Meraih Jalan-Jalan Keberkahan
Keberkahan itu perkara yang sangat penting. Keberkahan artinya diliputi dengan kebaikan-kebaikan.

  • Tubuh dikatakan berkah, jika kondisi fit dan tidak fitnya terkondisikan untuk mendatangkan pahala.
  • Rumah dikatakan berkah jika keberadaannya menjadikan penghuninya nyaman untuk berbuat kebaikan-kebaikan, bagaimanapun kondisinya.
  • Umur dikatakan berkah jika menjadikan pemiliknya terdorong kuat untuk berbuat ketaatan-ketaatan pada waktu-waktu yang dilaluinya.
  • Harta dikatakan berkah, jika banyak dan sedikitnya bisa menjadikan siapapun yang terkait dengannya diliputi kebaikan dan jauh dari kemungkaran. Misalnya: Harta yang didapatkan seseorang bisa menjadikan istri shalehah, putra- putri shalih shalihah, makanan menyehatkan badan, dan faslitas dirasakan nyaman untuk ibadah. Ia mudah untuk dialokasikan pada hal-hal kebaikan, sebaliknya sulit untuk dialokasikan pada hal-hal kemungkaran. Itulah harta yang berkah.
Nah, bagaimanakah agar bisnis dan penghasilan seseorang berkah?

Tema ini saya khususkan untuk pengelola bisnis yang memiliki sejumlah pegawai atau karyawan. Jawabannya adalah: utamakanlah meraih jalan-jalan keberkahan, diantaranya:
a. Sesuaikan“waktu manusia” dengan “waktu Allah ta’ala”.
Jangan dibalik, “waktu Allah ta’ala” yang disesuaikan dengan “waktu manusia”. Misalnya jam masuk dan keluar kerja disesuaikan dengan waktu shalat sehingga Anda dan karyawan Anda yang lelaki bisa shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid.
b. Tidak memilih karyawan non muslim dengan pertimbangan agar etos kerja terjaga.
Ada sebagian pengusaha yang memiliki pandangan bahwa karyawan muslim akan menghentikan pekerjaan pada waktu-waktu shalat yang mengakibatkan berkurangnya efektivitas kerja selama beberapa menit, yaitu pada waktu-waktu shalat; Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Juga pada saat puasa Ramadhan, efektivitas kerja bisa terganggu selama satu bulan. Inilah pandangan mereka. Hal ini menjadikan mereka lebih memilih orang-orang non muslim sebagai karyawannya. Subhanallah….. Apa artinya kehilangan beberapa menit atau beberapa saat. Lagi pula, jika Anda merasa dirugikan bukankah masalah jam kerja bisa diatur dengan kesepakatan bersama?
Justru dengan karyawan muslimlah, Anda membantu pemenuhan hajatnya seperti menyekolahkan putra-putrinya demi kaderisasi keshalihan generasi, berinfaq di masjid, berdonasi untuk panti asuhan, dan “proyek-proyek ukhrowi” lainnya. Dan, dengan karyawan muslimlah Anda membantu keberadaannya yang terikat dengan Allah ta’ala sebagai hamba yang harus menghambakan diri kepada-Nya. Dan, tidak kalah penting ia akan selalu mendoakan dengan kebaikan-kebaikan untuk Anda dan memanjatkannya kepada Tuhan Yang Haq. Yang semua ini tidak akan Anda dapatkan pada karyawan yang non muslim. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ (المائدة: 55)

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah) (QS. Al-Maidah: 55)
c. Adakan kajian rutin untuk pegawai/karyawan.
Adakan kajian rutin untuk pegawai/karyawan. Misalnya sepekan sekali, dua pekan sekali atau sebulan sekali. Atau pada waktu-waktu yang memungkinkan. Hakekat kajian tidak lain adalah upaya mengkondisikan ummat muslim pada khouf, roja’ dan mahabbah kepada Allah ta’ala. Ia tidak lain adalah upaya mengkondisikan ubudiyah ummat Islam agar senantiasa tersadarkan pada rambu-rambu syareat yang harus dijalaninya. Ia tidak lain adalah diperdengarkannya ayat-ayat al-Qur’an dan penjelasannya yang memiliki fungsi sebagai obat rohani sekaligus obat jasmani. Semuanya itu akan berdampak sangat positif pada bisnis atau perkantoran Anda.
Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[الأعراف: 96]

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al-A’rof: 96)
d. Segera memberikan upah sebelum keringatnya kering
Keberkahan bisa tidak Allah ta’ala turunkan atau tunda disebabkan majikan/pengusaha mengabaikan hak-hak pegawai/karyawannya. Contohnya upah atau gaji yang semestinya sudah diberikan tetapi belum diberikan. Bahkan ada di antara mereka yang merengek-rengek dan bolak-balik menuntutnya tetapi tidak diberikan juga. Allahu-l-Musta’an.
Nabi shallahu’alaihi wasallam mengingatkan hal ini di dalam Haditsnya,

أعطوا الأجيرَ أجْرَه قَبلَ أنْ يَجِفَّ عَرَقُه (رواه ابن ماجه عن عبد الله ابن عمر)

“Berilah pegawai upahnya sebelum keringatnya kering(HR. Ibnu Majah dari Abdullah Ibnu Umar)
e. Memperhatikan kemaslahatan keluarga pegawai
Karyawan Anda bekerja, tidak lain karena dorongan tanggungjawab terhadap keluarganya. Untuk itu, perhatikanlah keluarga mereka. Niscaya mereka akan menunjukkan sikap terimakasih dan akan banyak mendoakan kebaikan untuk Anda. Perhatian kepada mereka bisa berupa mengadakan rekreasi bersama, membantu biaya pengobatan, memberikan beasiswa kepada putra-putri yang prestasi, dan lain-lain. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

واللهُ في عونِ العبدِ ما كان العبدُ في عونِ أخيه (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Allah ta’ala senantiasa menolong hamba-Nya selama dia menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
11. Berinfaq setiap hari
Berapapun gaji atau pendapatan Anda banyak atau sedikit, berinfaqlah setiap hari. Karena infaq tidak hanya diperintahkan kepada orang kaya saja. Tentu nominalnya disesuaikan dengan kemampuan dengan tidak memudharatkan Anda dan keluarga Anda. Disebutkan di dalam Al-Qur’an tentang muttaqin (orang yang bertaqwa),

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (اال عمران:134 )

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 134)
Setiap hari ada dua Malaikat yang berdoa khusus terkait orang yang berinfaq. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,

ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun dua Malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Tentu setiap hari Anda ingin termasuk orang yang didoakan oleh Malaikat agar harta yang diinfaqkan diganti dengan yang lebih baik. Untuk itu berinfaqlah setiap hari!!

Kita tidak perlu berpikir bahwa berinfaq hanya akan mengurangi harta. Apa lagi kalau dilakukan setiap hari. Tidak usah berpikir demikian. Cukuplah kita meyakini statemen seseorang yang kebenarannya mutlak dan tidak pernah salah. Bagaimana tidak, seluruh statemennya bersumber dari wahyu Ilahi. Beliau bersabda,

ما نَقَصَتْ صَدَقةٌ مِن مالٍ (رواه مسلم عن أبى هريرة)

“Harta tidak akan berkurang disebabkan shodaqoh” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Betul, memang secara nominal berkurang. Tetapi, bukankah penggantinya jauh lebih besar baik yang bersifat materi ataupun yang immateri berupa keberkahan hidup yang mendatangkan kebaikan dari berbagai aspek.
Apakah pernah terdengar sebuah informasi tentang seseorang yang bangkrut disebabkan banyak berinfaq? PASTI TIDAK PERNAH.
Apakah pernah terdengar sebuah perusahaan yang bangkrut disebabkan banyak melakukan kepedualian sosial? PASTI TIDAK PERNAH.
Yang ada justru sebaliknya. Orang banyak berifaq usahanya menjadi semakin maju. Perusahaan yang banyak peduli sosial menjadi semakin jaya dan berkembang. Allah ta’ala berfirman,

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ta’ala adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah:261)
Dalam ayat lain,

مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥ وَلَهُۥٓ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah ta’ala pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al-Hadid: 11)

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU (Menghormati dan Menyayangi, Bag. 3) https://nidaulfithrah.com/pegawai-surga-merindukanmu-menghormati-dan-menyayangi-bag-3/ Thu, 16 Jan 2025 06:26:25 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=19511 4. Menghormati dan Menyayangi
Sebuah team work yang pasti terdiri dari atasan dan bawahan akan bekerja dengan baik sehingga apa yang merupakan target kerja bisa tercapai dengan semestinya manakala semua individu di dalamnya merasakan kenyamanan, kedamaian dan ketentraman. Untuk itu sesuatu yang sangat dibutuhkan mereka adalah adanya sikap saling menghormati dan menyayangi.
Sebagai atasan tidak boleh semena-mena terhadap bawahan. Janganlah kedudukan yang lebih tinggi menjadikannya bersikap abai dan meremehkan orang-orang yang berkedudukan di bawahnya. Tidak membebani tugas di luar kemampuannya, perhatikanlah kemaslahatan jasmani dan rohaninya. Bersikaplah mengayomi dan santun dalam memberikan intruksi-intruksi, lembut dalam memberikan evaluasi-evaluasi dan tidak bakhil untuk memberikan apresiasi atas suatu prestasi. Prilaku atasan yang MENYAYANGI sedemikian rupa akan menjadikan bawahan menyenangi pekerjaannya.
Sebagai bawahan harus menghormati atasannya. Tunjukkan adab yang baik dalam tutur kata dan prilaku. Tidak menggunjingnya. Tidak membuat kegaduhan dalam lingkungan kerja. Janganlah melampaui wewenangnya. Responlah setiap perintah dan keputusannya dengan baik dan berbuatlah secara all out terhadap setiap tugas yang diberikannya. Prilaku bawahan yang MENGHORMATI sedemikian rupa akan menjadikan atasan terdorong untuk mempertahankan keberadaannya bahkan tidak ragu untuk mengangkat kedudukan atau jabatannya.
Tentang nilai-nilai MENYAYANGI DAN MENGHORMATI antara atasan dan bawahan, antara senior dan yunior telah diajarkan oleh Nabi shallahu’alaihi wasallam. Beliau bersabda,

ليسَ منَّا من لَم يَرحَمْ صغيرَنا ، و يعرِفْ حَقَّ كَبيرِنا (أخرجه أبوداود و الترمذي وأحمد عن عبدالله بن عمرو )

“Tidak termasuk bagian dari kami orang yang tidak menyayangi orang yang kecil di antara kami, dan tidak mengetahui hak orang yang besar dari antara kami” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr)
Dalam riwayat lain,

ليس منا من لم يرحمْ صغيرَنا ، ويُوَقِّرْ كبيرَنا (رواه الألباني، في صحيح الجامع، عن أنس بن مالك وعبدالله بن عمرو بن العاص وابن عباس)

“Tidak termasuk bagian dari kami orang yang tidak menyayangi orang kecil dan tidak menghormati orang besar di antara kami” (HR. Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ dari Anas bin Malik, Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash dan Ibnu Abbas)
5. Jangan Ghibah
Sesama pegawai dalam satu team jangan pernah ada ghibah di dalamnya. Ghibah itu membicarakan aib atau kekurangan orang lain. Jika orang yang dibicarakan tersebut mendengarnya pasti akan marah. Aib atau kekurangan apapun bentuknya janganlah sekali-kali dijadikan bahan obrolan dan perbincangan. Karena hal itu akan mencoreng kehormatan saudaranya. Bukankah sesama muslim terikat dengan ikatan “al-wala” (loyalitas)? Coba bayangkan, jika yang di ghibah-i itu Anda. Pasti marah, bukan? Nah, jika Anda tidak mau di- ghibah-i maka jangan meng-ghibah-i orang lain.
Jika aib atau kekurangan tersebut bisa berdampak pada reputasi kantor/perusahaan atau menurunnya pendapatan maka lakukanlah salah satu dari dua cara ini;
a.] Yang bersangkutan diajak bicara secara tertutup, dinasehati dan diberikan arahan agar tidak mengulanginya lagi.
b.] Yang bersangkutan langsung dilaporkan ke atasan yang berwenang. Ini tindakan yang solutif. Bukan dibeberkan aibnya ke khalayak karena akan menjatuhkan nama baiknya dan lagi pula tidak sebagai solusi.
Ghibah itu dosa besar. Tetapi anehnya banyak kaum muslimin yang memandangnya remeh. Sehingga di mana ada kerumunan, maka obrolannya tidak lepas dari ghibah. Allahu al-Musta’an. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ (الحجرات:12)

Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. Al-Hujurot:12)
Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para Sahabat menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda: ‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ‘ Rasulullah shallahu’alaihi wsallam bersabda: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.’ (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Pelaku ghibah akan disiksa dengan mencakar-cakar wajah dan dadanya sendiri dengan kuku-kuku dari tembaga. Disebutkan di dalam Hadits,

لمَّا عُرِجَ بي مَرَرْتُ بِقومٍ لهُمْ أَظْفَارٌ من نُحاسٍ ، يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وصُدُورَهُمْ ، فقُلْتُ : مَنْ هؤلاءِ يا جبريلُ ؟ قال : هؤلاءِ الذينَ يأكلونَ لُحُومَ الناسِ ، ويَقَعُونَ في أَعْرَاضِهِمْ (رواه أحمد وأبو داود عن أنس بن مالك) .

“Ketika aku dinaikkan ke langit (mi’raj), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka.(HR. Ahmad dan Abu Daud dari Anas bin Malik)
6. Tidak Saling Menikung, Emosi dan Menjatuhkan Orang Lain Disebabkan Hasad dan Lainnya
Jadilah hamba-hamba Allah ta’ala yang bersaudara. Ini perintah untuk muslim secara umum. Tentu lebih utama lagi sesama teman dalam satu team work yang melekat padanya “sinergitas”. Bukankah Anda sekalian antara satu dan yang lainnya saling terikat dan terkait demi eksistensi dan kemajuan sebuah perusahaan yang kalian bekerja di dalamnya? Dan, dari perusahaan itulah kalian mendapatkan penghasilan?
Jagalah persaudaraan demi milieu kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jangan ada hasad di antara kalian. Berlatihlah untuk mensyukuri atas suatu nikmat yang diraih oleh teman Anda karena rizki masing-masing orang telah Allah ta’ala gariskan dan tidak ada yang keliru ataupun meleset. Rizki Anda juga telah Allah ta’ala tetapkan. Bukankah Anda yakin bahwa Allah ta’ala itu “Ar-Rozzaq” (الرزاق)?
Janganlah saling menikung dan menjatuhkan demi ambisi suatu jabatan dan lainnya karena segalanya telah Allah ta’ala takdirkan. Anda beriman kepada takdir, bukan?
Jika ada suatu hal yang menjadikan kalian saling diam dan tidak bertegur sapa maka segeralah disudahi, tidak boleh berlanjut hingga melebihi tiga hari. Nabi shallahu’alaihi wsallam bersabda,

لاَ تقاطعوا ولاَ تدابروا ولاَ تباغضوا ولاَ تحاسدوا وَكونوا عبادَ اللَّهِ إخوانًا ولاَ يحلُّ لمسلمٍ أن يَهجرَ أخاهُ فوقَ ثلاثٍ (رواه الترمذى عن أنس بن مالك)

“Janganlah kalian saling memutuskan, saling membelakangi, saling murka dan saling dengki. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah ta’ala yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya melebih tiga hari” (HR At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Dalam riwayat lain,

المسلِمُ أخُو المسلِمِ ، لا يَظلِمُهُ ولا يَخذُلُهُ ، ولا يَحقِرُهُ ، التَّقْوى ههُنا – وأشارَ إلى صدْرِهِ – بِحسْبِ امْرِئٍ من الشَّرِّ أنْ يَحقِرَ أخاهُ المسلِمَ ، كلُّ المسلِمِ على المسلِمِ حرامٌ ، دمُهُ ، ومالُهُ ، وعِرضُهُ (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan sesama saudara muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Judul buku : PEGAWAI, SURGA MERINDUKANMU

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Mencari Pusaka Yang Hilang https://nidaulfithrah.com/mencari-pusaka-yang-hilang/ https://nidaulfithrah.com/mencari-pusaka-yang-hilang/#comments Tue, 19 Oct 2021 04:17:45 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=11914 Di dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah” (QS. An-Nisa: 131). Ayat ini menunjukkan bahwa takwa adalah wasiat/pusaka Allah kepada seluruh manusia. Realitanya banyak manusia yang meninggalkannya. Maka, jadilah ia pusaka yang hilang dari kehidupan manusia. Mari kita mencarinya.

Taqwa berasal dari وقى – يقى – وقاية kata yang berarti menjaga. Yang dimaksud adalah seseorang melakukan sesuatu untuk bisa menjaga dirinya dari azab Allah. Apa yang harus dia lakukan? Tidak lain adalah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Semakin seseorang bertakwa berarti semakin dia memperhatikan perintah dan larangan-Nya. Semakin dia meningkatkannya lagi, maka semakin tajam pula perhatiannya dalam masalah perintah dan larangan Allah. Dia tidak sekedar memperhatikan perintah yang wajib wajib saja tetapi juga sangat memperhatikan yang sunnah-sunnah atau keutamaan-keutamaan sekecil-kecilnya. Dia tidak sekedar berhati-hati dari larangan yang haram haram saja, tetapi juga yang makruh makruh dan yang tidak utama bahkan perkara mubah tetapi berlebihan, sudah pasti akan dia tinggalkan. Demikianlah Allah memerintahkan: “Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuanmu (os. At-Taghabun: 16). “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benamya bertakwa” (QS. Ali Imran: 102). Thala bin Habib mengatakan, “Takwa adalah kamu mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah seraya mengharap pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah seraya merasa takut terhadap siksaan dari Allah.” Umar bin Abdul Aziz berkata, ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.”

Ada seseorang peserta asuransi, ketika dijelaskan kepadanya bahwa praktek asuransi tersebut tidak syar’i karena mengandung ghoror dan riba, maka langsung seketika itu ia menyatakan keluar sebagai peserta meskipun dengan resiko uang yang disetorkan yang telah mencapai

Rp.40.000.000,- harus hangus alias hilang. Subhanallah. Seorang santri mahasiswa Thaybah, telah lulus S1 ITS dan diterima bekerja di suatu perusahaan. Namun, ketika mulai bergabung langsung tidak betah dan gelisah. Kenapa? Karena susah untuk mendirikan shalat berjamaah dan shalat Jum’at. Akhirnya tidak lama kemudian, dengan bangga dia keluar dan mencari pekerjaan di tempat lain yang kondusif untuk ubudiyah. Subhanallah. Seorang mahasiswa Thaybah S1 ITS bekerja di suatu perusahaan dengan gaji menawan, ketika dia mengetahui bahwa perusahaannya tersebutmemproduksi barang legal tetapi dengan cara memalsukan merek, dia pun langsung resign. Ini sebagian contoh kecil orang-orang yang menjaga pusaka Allah dengan baik. Apakah mereka menyesal? Apakah mereka merasa rugi? Sama sekali tidak. Karena mereka yakin dengan firman Allah: “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan menjadikan baginya solusi olan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangko-sangka’ (QS. Ath- Thalaq:2-3).

Tentang surat Ath-Thalag: 2-3 ini ada orang yang salah menerapkannya. Sebagian mereka setelah dinasehati lalu keluar dari pekerjaan haramnya mengatakan: “Saya sudah keluar dari pekerjaan haram karena takwa kepada Allah, lho kog ga ada jalan keluarnya…. Katanya Allah akan memberi jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Buktinya mana? Saya sudah pontang-panting mencari pekerjaan baru, tapi gak dapet-dapet, sampai tabungan saya sudah menipis… mana janji Allah?… Ucanan semacam ini menunjukkan bahwa dia tidak yakin dengan janji Allah tetapi sebaliknya malah menguji janji Allah. Allahu Akbar na’udzu billah mindzalika. Ucapan semacam ini sama dengan ucapannya orang-orang

munafik dalam perang Ahzab, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. Ketika itu kaum muslimin ditimpa goncangan yang sangat hebat; musuh menyerang dari berbagai penjuru. Kondisinya sangat menyesakkan kaum muslimin. Hal ini Allah kisahkan dalam QS. Al-Ahzab: 10-12: “Ketika mereka musuh) datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan (menggambarkan betapa dahsyatnya perasaan takut dan gentar ketika itu, Red) dan kamu menyangka Allah dengan bermacam- macam persangkaan. Di situlah orang- orang mukmin diuji dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang dahsyat. Ketika itu orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata; Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”

Janganlah seperti orang munafik. Mereka melakukan aktivitas- aktivitas ukhrawi bukan terdorong oleh takwa tetapi karena pandangan dan pujian orang lain dan demi suatu kepentingan. Mereka adalah orang- orang oportunis. Banyak sekali zaman sekarang orang-orang yang oportunis. Mereka mendirikan panti asuhan, panti jompo, dan badan-badan social lainnya tetapi demi suatu popularitas. Mereka menyumbang berbagai macam sumbangan dan melakukan kepedulian sosial tetapi demi mendapatkan simpati. Ketika popularitasnya tidak naik dan gagal mendapatkan simpati, mereka marah- marah bahkan sebagian mereka menarik kembali sumbangan sumbangan yang telah diberikan kepada suatu warga. Allah al- Musta’an. Allah “azza wa jalla mengingatkan kita tentang orang- orang oportunis dalam al-Qur’an: Ada orang-orang munafik yang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sungguh bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya dia atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan. Nya itu baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang dzalim” (QS. At-Taubah: 107-109)

Nabi ﷺ memperingatkan ummatnya agar senantiasa menjaga ketakwaan dalam menghadapi 2 perkara; dunia dan wanita. Keduanya berpotensi besar dalam menghancurkan ketakwaan seseorang. “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau indah), dan Sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, waspadalah terhadap dunia (harta) dan terhadap wanita. Sebab, fitnah pertama kali yang timbul di kalangan Bani Israil disebabkan wanita” (HR. Muslim). Betapa dunia sangat memikat hati, sehingga untuk mendapatkannya manusia sering kehilangan akal sehatnya. Demi Jabatan, harus mengorbankan sahabat sebagai gantinya berkawan dengan musuh. Lihat saja fenomena perpolitikan yang ada, semua perkara haram bisa menjadi halal. Adu domba, menfitnah, ghibah, menipu, dusta, dan saling menjegal adalah pemandangan yang biasa. Demi warisan, harus bermusuhan dengan ayah, ibu, kakak adik dan family lainnya. Demikian pula dengan wanita. Allah menciptakan mereka sebagai pendamping kaum lelaki untuk meraih kemuliaan hidup dan sebagai pemeran utama di dalam rumah untuk mencetak generasi generasi robbani. Karena ketiadaan takwa keberadaan mereka telah berubah fungsi. Mereka dieksploitasi sedemikian rupa untuk kepentingan- kepentingan duniawi, hampir tidak ada bidang kehidupan apa pun kecuali telah menjadikan kemolekan tubuh wanita sebagai daya pikat. Iklan-iklan produk di televisi, SPG-SPG Sales Promotion Girl) di pameran-pameran atau show room, Lady escort (wanita- wanita untuk mengegolkan deal-deal bisnis), wanita-wanita penghibur dan lain-lain. Kondisi yang demikian benar- benar telah menjatuhkan martabat kaum wanita ke dalam jurang kehancuran. Aurat dan kecantikan yang seharusnya ditutup kecuali hanya untuk suaminya saja kini telah berubah menjadi barang obralan yang siapa saja bisa menikmatinya. Anehnya, semuanya dibungkus dengan dalih emansipasi wanita. Sadarlah wahal para wanita, kalian telah ditipu!! Sadarlah wahai para lelaki, wanita adalah pendamping kalian bagi kesempurnaan hidup bukan barang murahan. “Dunia itu perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita yang sholehah” (HR. Muslim)

Tidak ada perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lainnya di hadapan Allah ﷻ. Allah hanya menilai ketakwaannya. Yang paling bertakwa, dialah yang paling mulia di sisi Allah . Dia berfirman: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa (QS. al-Hujurot: 13). Apa yang akan dibanggakan oleh orang kaya ketika harta kekayaan tidak menjaminnya di sisi Allah? Apa yang akan dibanggakan oleh pejabat ketika kedudukannya tidak menjaminnya di sisi Allah? Apa yang akan dibanggakan oleh lelaki ganteng dan wanita cantik ketika parasnya tidak menjaminnya di sisi Allah ﷻ. Orang yang menyadari hal ini tidak mungkin sombong betapapun hebatnya dia. Saya sangat terkesan dengan salah seorang guru saya. Beliau orang yang cukup terpandang dan disegani oleh banyak orang. Tetapi subhanallah tawadhu’nya, Ucapan beliau yang sempat saya dengar kurang lebihnya seperti ini: “Saya tidak pernah membedakan siapapun yang datang bertamu ke rumah saya. Jika saya menyuguhkan minuman untuk seorang pejabat dengan tatakan gelas maka demikian pula kepada tukang atau kull bangunan. Jika saya menyuguhkan hidangan istimewa untuk pejabat, maka seperti itu pula yang saya hidangkan untuk tukang becak”. Beliau bisa hangat di dalam bergaul dengan siapa pun. Sikap mulia seperti ini tidaklah terwujud melainkan dari ilmu yang telah menjiwainya bahwa seluruh manusia siapapun dan bagaimanapun keadaannya memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Hanya takwa yang membedakan di antara mereka. Masihkah kita di dalam bergaul hangat kepada sebagian tetapi dingin kepada sebagian yang lain??

Bismillah wollhamdulillahi Rabbil

Salam… Washshalatu wassalomu ala asyrofilanbiya’wal mursalin….

Tidak ada kata yang sering kita dengar dan tidak ada wasiat yang sering juga kita dengar selain kata “Taqwa”. Bahkan kata tersebut sangat sering disebutkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Sebagaimana firmanNya

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepoda Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah kalian mati kecuali kalian dalam keadaon muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Juga firmanNya yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah. Dan berkatalah kalian dengan perkataan yang benar. Semoga Allah memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RosulNya maka dia mendapatkan kemenangan dengan kemenangan

yang besar.” Al-Ahzab, 70)

Selain itu Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk senantiasa membekali dirinya dengan ketaqwaan dalam keadaan apapun. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat yang ke 197

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan berbekallah kalian, Maka sungguh sebaik-baik bekal adalah Taqwa, dan bertaqwalah kepadaku wahai orang – orang yang memiliki akal.”

Rasulullah juga berpesan kepada kita melalui sabdanya,

اتق الله حيتما كنت

“Bertaqwalah kalian dimanapun kalian berada.” (HR. Tirmidzi)

Namun wahai saudaraku… sayang seribu sayang, banyak sekali diantara kita yang sering mendengar kata-kata taqwa akan tetapi pada dasarnya perbuatan kita sangat jauh dari apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang hamba yang bertaqwa dengan ketaqwaan yang benar. Seperti halnya meneghibah, mencela takdir, gemar bergelut dengan perdagangan yang dipenuhi syubhat, masih bergelimang dengan berbagai macam transaksi ribawi… dan lain sebagainya yang dimana perbuatan tersebut bukanlah perbuatan yang mencerminkan bagusnya kualitas taqwa pada diri kita.

Dikarenakan taqwa bukanlah perkara yang mudah wahai saudaraku, dan taqwa bukanlah semata-mata perbuatan yang terlihat atau tampak pada anggota badan kita. Bahkan taqwa sejatinya adalah amalan hati seorang hamba. Walaupun pada umumnya apa yang terdetik pada hati seseorang akan nampak pula pada amal perbuatan orang tersebut. Sebagaimana Rasulullah berpesan pada kita melalui sabdanya,

الا وان في الجسد مضغة إذا صلحت

صالح الجسد كله وإذا فسدت فسد

الجسد كله، ألا وهي القلب

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dalam jasad itu terdapat segumpal daging yang dimana jika ia sehat maka seluruh jasad akan sehat pula, dan jika ia rusak maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Benarlah apa yang telah disabdakan Rasulullah, bahwa ketika hati seorang hamba penuh dengan ketaqwaan, maka dia akan senantiasa berhati-hati dalam kehidupannya, baik itu dalam perbuatannya maupun dalam setiap perkataannya. Karena tidak mungkin seorang hamba yang hatinya dipenuhi ketaqwaan kepada Allah lalu dia bertingkah laku layaknya seekor singa di hutan, menindas yang tidak berdaya, berbuat sesuai apa yang diinginkannya tanpa harus memikirkan apa yang terjadi pada saudara yang lainnya. Serta tidak mungkin dia berkata yang menyakiti saudaranya yg lain. Sebaliknya, ketika hati seseorang dipenuhi rasa dengki dan hasad, maka setiap perilakunya tidak akan sama dengan apa yang dikatakan oleh mulutnya. Perilakunya seolah menunjukkan dia adalah orang yang berpegang teguh terhadap sunnah, akan tetapi ketika berkata, mulutnya tidak luput dari mencela, memaki, menggunjing serta memfitnah saudaranya yang lain. Naudzubillahi min dzalik..

Oleh karenanya taqwa bukanlah semata amalan tubuh akan tetapi taqwa lebih kepada amalan

hati seseorang. Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya taqwa itu disini (Rasulullah menunjuk kepada hati]” (HR. Muslim). Walaupun taqwa termasuk amalan yang sulit akan tetapi Allah memerintahkan kita untuk bertaqwa sesuai dengan kemampuan kita, namun bukan berarti selesai sampai situ saja akan tetapi kita juga selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas laqwa dengan segenap kemampuan diri kita, sebagaimana firmanNya “Bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian” (QS. At-Taghobun:16)

Sungguh Maha Pemurah Allah, yang menjadikan disetiap ketaatan kepada Nya selalu berbuah indah. Walaupun taqwa adalah sesuatu amalan yang tidak mudah dan bukan pula suatu amalan yang remeh, akan tetapi Allah menyelipkan berlipat-lipat pahala sebagai buah dari ketaatan-ketaatan hamba-hambaNya yang bersungguh-sungguh dalam bertaqwa kepadaNya.

Beberapa Buah Taqwa

  1. Allah senantiasa bersama orang- orang yang bertaqwa

Allah berfirman,

واتقوا الله واعلموا أن الله مع المتقين 

“Dan bertaqwalah kalian kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa”(QS. Al- Baqarah;194)

  • Allah mencintai pribadi yang bertaqwa

Sesungguhnya meraih cinta Allah adalah dengan bertaqwa kepadaNya, melaksanakan ketaatan kepadaNya dan menjauhi apa yang dilarang olehNya dikarenakan takut akan azabNya yang pedih. Allah berfirman,

فإن الله يحب المتقين

“Maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran: 76)

Jika Allah mencintal seoranghamba, maka seluruh penduduk langit dan bumi pun akan mencintai seorang hamba tersebut.

  • Taqwa merupakan solusi dari kesempitan hidup dan sebagai pembuka pintu rizki

Orang bertaqwa tidak akan pernah berlarut-larut terhadap permasalahan hidup karena dirinya selalu diberikan oleh Allah jalan keluar. Sebagaimana janji Allah, “Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah maka Allah akan memberinya jalan keluar (pernasionan)” bukan hanya diberi solusi oleh Allah akan tetapi juga diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, janji Allah dalam kelanjutan ayat tadi. “dan Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. Ath-Thalaq:2-3)

4. Taqwa dapat memudahkan suatu urusan yang kita hadapi

Tanpa kita sadari bahwa Allah selalu memudahkan urusan orang-orang yang senantiasa

bertaqwa, firmanNya,

“Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memudahkan segala urusanya.” (QS. Ath-Thalaq;4)

  • Allah selalu menjadi pelindung bagi pribadi yang bertaqwa

Tidak ada yang dapat memberikan perlindungan kepada seorang hamba dari suatu apapun

kecuali Allahlah yang melindungi hamba tersebut. Sebagaimana dalam firmanNya, “Dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Jatsiyah;19)

  • Berjayanya suatu negeri adalahkarena ketaqwaan penduduk negeri tersebut

Taqwa tidak hanya dapat merubah kehidupan seseorang saja, akan tetapi taqwa dapat merubah seluruh kaum suatu negeri jika memang mereka menginginkan negeri mereka menjadi negeri yang berjaya, negeri yang diberkahi oleh Allah. Tidakkah penduduk negeri kita mentadabburi firman Allah,

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Jika sekiranya penduduk suatu negeri mou beriman dan bertaqwa, pasti kami akan

limpahkan keberkahan pada mereka dari langit maupun bumi. Akan tetapi mereka justeru mendustakan (Ayat-Ayat Kami), maka kami timpakan siksaan kepada mereka atas apa yang telah mereka perbuat.”(Al-A’raf:96)

Mari kita bersungguh-sungguh untuk menjadi pribadi yang bertaqwa. Karena Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kita, akan tetapi Allah melihat diri kita dan menilai seluruh hamba-hambaNya dengan melihat pada ketaqwaan kita.

Sebagaimana firmanNya,

 اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling baik ketaqwaannya.”(QS. Al-Hujurat:13)

Semoga kita digolongkan oleh Allah termasuk hamba- hambaNya yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa.Amin Yaa Robbal’alamin…

Maroji’:

1. Al-Qur’an Al-Karim

2. Al-Maktabah Asy-Syamilah

3. At-Taqwa; sifatu ahliha wa tsamaratuha fid dunya wal akhirah; Dr. Shalih bin Ibrahim Alusy Syaikh

4. Riyadush Shalihin; Imam An- Nawawi

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan September, 2014 Edisi 27

]]>
https://nidaulfithrah.com/mencari-pusaka-yang-hilang/feed/ 1
Derita yang Menghibur https://nidaulfithrah.com/derita-yang-menghibur/ https://nidaulfithrah.com/derita-yang-menghibur/#respond Tue, 19 Oct 2021 02:27:56 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=11913 Masih ingatkah kisah Sahabat nabi, Ka’ab bin Malik dia bersama sekitar 80 orang tidak ikut perang Tabuk. Ka’ab bin Malik menyampaikan sebab tidak ikut sertanya dalam perang tersebut apa adanya tanpa membuat-buat alasan. Di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia mengatakan: “Ya Rasulullah, demi Allah, seandainya aku duduk di sisi orang selain engkau, aku yakin bahwa aku terbebaskan dari kemurkaannya dengan alasan dan argumentasi yang aku sampaikan. Tetapi, demi Allah, aku tahu bahwa jika sekarang ini aku menyampaikan kepadamu alasan yang dusta agar membuatmu tidak memarahiku, tentu dengan cepat Allah yang membuatmu marah kepadaku. Jika aku berkata benar dan jujur kepadamu yang dengan kejujuran itu engkau akan memarahiku, maka aku pun menerimanya dengan senang hati. Biarkanlah Allah memberiku hukuman dengan ucapanku yang jujur itu. Mendengar pengakuan tulus itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang ini telah berkata jujur, berdirilah sampai Allah memberikan keputusan tentangmu. “Sejak saat itu dia diboikot oleh seluruh kaum muslimin; dikucilkan, tidak disapa, tidak diucapkan salam. Kalau menyapa tidak ada yang merespon, kalau mengucapkan salam tidak ada yang menjawab. Bumi yang sangat luas pun dirasakan sempit olehnya. Sungguh berat resiko yang ditanggung karena kejujuran, derita telah menerpanya selama 50 hari. Tetapi lihatlah apa ucapannya setelah masa boikotnya selesai, “Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadaku setelah Allah menunjukkanku kepada Islam yang aku pandang

lebih besar daripada kejujuranku kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seandainya aku berdusta, maka aku akan celaka sebagaimana orang-orang yang berdusta”. Bagaimana tidak merupakan nikmat besar… sebuah pernyataan diterimanya taubat yang langsung datang dari Allah. Hal ini desebut kan dalam (QS. At-Taubah: 117- 119).

Dia juga berkata mensyukuri nikmat besar yang diperolehnya: “Demi Allah, aku tidak lagi ingin berbohong semenjak aku katakan itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai sekarang ini, dan aku berharap semoga Allah menjagaku dari kedustaan dalam sisa umurku”. Inilah derita yang menghibur.

Jujur adalah sifat mendasar yang dimiliki seorang muslim, sebagaimana sifat mendasar orang munafik adalah dusta. Allah berfirman: “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur itu karena kejujurannya, dan menyiksa orang munafik” (QS. Al-Ahzab: 24). Perhatikanlah ayat ini, Allah mempertentangkan orang muslim dengan orang mu- nafik. Dan orang muslim disebutkan dengan istilah “ash-Shodiqin” (orang jujur). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Apakah seorang mukmin pengecut? Beliau menjawab: ya. Beliau ditanya lagi: Apakah seorang mukmin pelit? Beliau menjawab: ya. Beliau ditanya lagi: Apakah seorang murin pembohong? Beliau menjawab: Tidak“(HR. Imam Malik, Muwatho, Maktabah Syamilah). Hadits ini tidak menunjukkan bahwa seorang muslim boleh pengecut dan pelit. Tetapi, hadits ini menekankan bahwa tidak mungkin seorang muslim berdusta di mana jujur adalah sifatnya yang mendasar. Tingkat kejujuran seseorang dalam berIslam bertingkat-tingkat. Oleh karena itu setiap muslim diperintahkan untuk selalu meningkatkannya sehingga dicatat di sisi Allah sebagai “shiddiq”. Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa kepada Surga. Dan sesungguhnya seseorang terus berbuat jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai “shiddiq” (orang yang jujur)”(HR. Bukhari dan Muslim).

Tingkat kejujuran paling tinggi dalam ber-Islam setelah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para Sahabat. Lihatlah kejujuran mereka, ketika turun ayat pelarangan khamr, para sahabat secara serentak menumpahkan khamr-khamr yang mereka simpan di gudang. Sampai-sampai, jalanan kota Madinah becek dengan khamr, saking banyaknya khamr yang dibuang. Padahal, sebelumnya, khamr Madinah yang berbahan baku air kurma ini telah menjadi komoditas perdagangan masyarakat Madinah. Lihatlah bagaimana kejujuran Abu Bakar dalam berIslam, dia rela menemani Nabi melakukan perjalanan sangat jauh dari Mekkah ke Madinah dengan resiko nyawa. Lihatlah Handhalah, dia rela meninggalkan malam pertama pernikahannya untuk memenuhi panggilan jihad. Lihatlah Shuhaib ar-Rumy, dia merelakan harta kekayaannya dirampas oleh orang-orang kafir demi bisa hijrah ke Madinah menyusul nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah kejujuran Bilal dalam berIslam, dia rela disiksa demi mempertahankan Laa ilaaha illa Allah.

Abu Sufyan ketika masih kafir bersama rombongan berangkat ke Syam. Mereka menemui Heraklius, seorang raja nashrani. Dia bertanya kepada mereka tentang nabi Muhammad. Setiap kali Abu Sufyan menjelaskan tentang beliau, Heraklius membenarkan kenabiannya. Apa yang menyebabkan dia membenarkan kenabian Muhammad? Padahal dia tidak melihatnya. Tidak lain adalah setiap penjelasan Abu Sufyan tentang beliau, Heraklius merasakan bahwa dia adalah orang yang jujur dalam kebenaran. Sayang, dia tidak masuk Islam karena lebih memberatkan kerajaannya. Abu Sufyan sendiri akhirnya masuk Islam meskipun belakangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakanlah yang hak (benar/jujur) meskipun itu pahit (Kitab: Jami’ul Ahadits, Bab: Musnad Abu Dzar, Maktabah Syamilah). Tentu tidak saja dalam ucapan, tetapi juga dalam sikap dan perbuatan.

Bersikap jujur kepada orang lain lebih mudah dilakukan dari pada kepada diri sendiri. Contoh: setiap penuntut ilmu menyadari bahwa menyia nyiakan waktu itu perbuatan buruk. Mereka pun dengan mudah saling mengingatkan tentang buruknya hal ini. Sesama mereka pun saling menunjukkan bahwa dirinya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Tetapi, kondisi yang demikian ini hanya terwujud ketika mereka bersama-sama. Lalu, apakah masing-masing bisa melakukannya ketika dalam kesendiriannya, atau ketika tidak ada kawannya?

Dalam suatu rombongan perjalanan, seseorang tampak bersemangat sekali melayani kebutuhan ayah dan ibunya. Tetapi birrul walidain seperti ini sering sekali tidak tampak ketika dia di rumahnya. Kenapa? Jawabannya adalah ketika dalam perjalanan itu banyak pandangan dan perhatian yang tertuju kepada dirinya, sementara ketika di rumahnya pandangan dan perhatian tersebut tidak ada lagi. Ini menunjukkan bahwa bersikap jujur kepada orang lain lebih mudah daripada kepada diri sendiri.

Suatu maksiat, seseorang mengetahui akan keharamannya, dia pun tidak melakukannya. Tetapi, kenapa ketika menyendiri dia melakukannya? Inilah bukti bersikap jujur kepada orang lain lebih mudah daripada kepada diri sendiri.

Ketika berkumpul bersama teman-teman, seringkali seseorang bersemangat meperhatikan fadhilah-fadhilah amalan. Tetapi dia menjadi kendor ketika tidak bersama mereka. Kenapa? \ Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa bersikap jujur kepada orang lain lebih mudah daripada kepada diri sendiri.

Oleh karena itu agar kita bisa bersikap jujur kapanpun dan dimanapun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dengan sabdanya: “Tinggalkanlah apa

yang meragukan Anda, beralihlah kepada yang tidak meragukan Anda. Karena sesungguhnya jujur adalah ketenangan dan dusta adalah pergolakan” (HR. At-Tir-midzi). Beliau juga mengingatkan kita definisi dosa dengan sabdanya: “Dosa adalah sesuatu yang bergejolak dalam dada Anda, dan Anda tidak menginginkan ada orang lain yang mengetahuinya” (HR. Hakim).

Secara khusus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para pedagang agar berlaku jujur. Barangkali karena merekalah yang seringkali melakukan kebohongan. Bahkan berani menjual Allah, dengan memperbanyak sumpah demi larisnya dagangan. Mereka memiliki semboyan “berbohong dalam berdagang itu wajar”. Beliau bersabda: “Penjual dan pembeli memilik khiyar (hak memilih) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan berterus terang, maka keduanya diberkahi di dalam jual belinya. Jika keduanya berdusta dan menutup-nutupi niscaya hilanglah keberkahan jual beli mereka” (HR. Bukhari dan Muslim). Tentu tidak hanya pedagang, dalam dunia pengadilan juga tidak jarang terjadi jual beli hukum. Dan juga dalam semua bidang kehidupan.

Jujur pahit rasanya tapi nikmat akibatnya. Tsabit bin Ibrahim, seorang pemuda tengah berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat buah apel jatuh di luar pagar kebun. Ketika baru memakan sebagiannya, dia menyadari bahwa buah tersebut pasti ada pemiliknya dan dia belum meminta izin. Akhirnya diapun melakukan perjalanan panjang demi kehalalannya. Sungguh pahit untuk sebuah kejujuran. Tapi, apa akibatnya? Sungguh manis, dia diberi hadiah seorang gadis shalihah dan cantik yang kemudian lahirlah dari keduanya seorang anak yang nantinya menjadi ulama besar, Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsbit. Allahu a’lam

Berani jujur, hebat! Orang yang jujur selain harus merasakan pahitnya kejujuran, harus pula mencicipi pahitnya keterasingan. Betapa orang yang jujur kerap kali dijauhi orang-orang karena kejujurannya berpotensi memperburuk keadaan orang-orang yang benci kejujuran. Sedemikian pahitnya kejujuran, tidak sedikit orang yang awalnya jujur, belakangan hari menjelma menjadi penipu ulung, Ajaibnya, para pembohong dan penipu selalu bersembunyi dibalik slogan ‘berani jujur, hebat!’ Sungguh, sikap kekanak-kanakan yang tidak lucu. Bisyr Al-Hafi berkata, “Barangsiapa yang berinteraksi dengan Allah dengan penuh kejujuran, maka manusia akan menjauhinya.” [Mukhtashar Min-haj Al-Qashidin, 351]

Sampaipun orang yang jujur dianggap pengkhianat, tetap saja kejujurannya mengantarkan kepada ridha Allah berupa surga penuh bahagia tanpa ada sengsara selamanya. Saat jujur, pelakunya harus merasakan dua pahit, namun setelahnya dia akan merasakan ribuan manis. Manisnya iman, manisnya hidup, manisnya surga, manisnya rahmah Allah dan lain sebagainya.

Rasulullah bersabda,

عليكم بالصدق فإ الصدق يهدي إلى البر وإث البر يهدي إلى الجنة وما يزال الرجال يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وما يزال الثلجل يكذب ويتحرى الكذب كى يكتب عند الله كابا

“Hendaklah kalian senantiasa ber laku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607]

JUJUR, BEBAS GALAU

Andai kita berani jujur, kejujuran adalah lebih baik bagi kita sebab kejujuran mengundang ketenangan. Bagaimana kita masih ingat terakhir kali kita berbohong dan berdusta, ketenangan pergi entah kemana, berganti kegelisahan dan keresahan yang terus menggelayuti jiwa.

Rasulullah bersabda,

دع ما يريبك إلى ما لا يرثلك فإن الصدق طمأنينة وإن الكذب ريية

“Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa. (HR. Tirmidzi No. 2518)

Tak ayal, kegelisahan dan keresahan tersebut pun menjelma menjadi kemunafiqan karena sekali berdusta bukan berhenti malah terus berdusta hingga kedustaan dan kebohongan tertutupi. Puncaknya, hidupnya selalu diliputi kegalauan. Gelap. Nabi bersabda, “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) .

An-Nawawi berkata, “Hadits ini menerangkan tanda munafik, yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut” (Syarh Muslim, II/47]

Jika kita mau sedikit merenung, apa sih yang membuat orang berani dusta dan bohong? Tidak

lain dan tidak bukan, karena tidak adanya rasa takut kepada Allah dan karena merasa Allah tidak tahu. Allah berfirman, “Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rizgi kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy-Syura: 19].

Dengan demikian, kiat pertama membudayakan jujur adalah membudayakan ihsan yaitu keyakinan bahwa Allah Maha Dekat, Allah Maha Tahu, Allah Maha Lembut sekaligus Allah Maha Adil.

Kiat kedua adalah dengan memohon kepada Allah agar dibimbing menjadi pribadi yang

jujur.

“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’’

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar. (Syarh Muslim, II/47)

BANGSA BESAR

“Jujur adalah predikat bangsa besar. Berangkat dari sifat jujur inilah ter- bangun semua kedudukan agung dan jalan lurus bagi para pelakunya. Barangsiapa yang tidak menempuh jalan ini, niscaya ia akan gagal dan binasa. Dengan sifat jujur inilah, akan terbedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang beriman dan akan terbedakan antara penghuni surga dengan penghuni neraka,” (Madarij asSalikin, Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi Mu’assasah at-Tarikh al-Arabi, Beirut, II/204)

Karenanya Allah perintahkan kita untuk memegang teguh karakter bangsa hebat yaitu karakter jujur. Andaikata kita berada pada komunitas pendusta dan pembohong sekaligus penipu, maka Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur. [at-Taubah/9:119)

Apabila seseorang mudah berdusta, maka ia akan banyak berdusta dan akhirnya dikenal sebagai orang yang suka berdusta. Jika seseorang terbiasa bersikap jujur, maka Allah Azza wa Jalla akan menetapkannya sebagai orang yang benar benar jujur. Sedangkan apabila seseorang terbiasa dusta, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menetapkannya menjadi orang yang dikenal pendusta. [Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, hal. 375, no. 6582]

Tidak heran jika Abu Bakar Ash-Shiddiq lantas melontarkan ungkapan,

الكذب يجانب الإيمان

“Dusta akan menjauhkan keimanan.” [Fathul Bari X/508]

“Apabila seseorang mengulang-ulang kedustaannya hingga berhak mendapat julukan berat se

bagai pendusta, maka ia tidak lagi mendapat predikat sebagai mu’min yang sempurna, bahkan termasuk berpredikat sebagai orang yang bersifat Inunafik. Karena itulah, setelah mengeten.” [Fathul Bari X/509]

Nabi memberikan ancaman, Aku melihat dua orang (Malaikat), keduanya berkata: “Orang yang engkau lihat disobek mulutnya hingga telinga, adalah seorang pendusta. Ia berdusta dengan kedustaan, dibawanya kedustaan itu berkeliling atas nama dirinya hingga mencapai ufuk, maka dibuatlah ia sebagai pendusta sampai hari ki- amat”. (Shahih al-Bukhari, Fathul

Båri X/507, no. 6096]

Perbuatan dusta bisa terjadi pada sektor dan segmen yang sangat luas. Penipuan-penipuan menyangkut pekerjaan, harta benda, perdagangan dan lain sebagainya adalah pelanggaran terhadap hak orang lain. Maka sudah seharusnya setiap Muslim berusaha sungguh-sungguh menghindari dusta, sebagaimana ditekankan dalam hadits-hadits di atas.

Nabi bersabda,

يطبع المؤمن على كل شيء إلا الخيانة والكذب

“Seorang mu’min dapat terbentuk wataknya berdasarkan watak apa saja kecuali khianat dan dusta.” (Fathul Bari X/508)

Oleh karena itu, apabila sebuah bangsa ingin menjadi bangsa besar, berwibawa dan disegani,

maka bangsa itu harus berani membangun dirinya berdasarkan asas kejujuran dan harus berani meninggalkan sifat dusta, betapapun beratnya. Apabila seseorang ingin menjadi pribadi yang besar dan terhormat, maka dia harus berani menapaki jalan terjal kejujuran.

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Agustus, 2014 Edisi 26

]]>
https://nidaulfithrah.com/derita-yang-menghibur/feed/ 0
Sabar https://nidaulfithrah.com/sabar/ https://nidaulfithrah.com/sabar/#respond Tue, 19 Oct 2021 01:57:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=11907 Alhamdulillah….

Wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rasulillah…

Alladzi Nabiyya wa laa Rasula Ba’dah….

Sungguh merupakan salah satu nikmat Allah ﷻ yang sangat besar ketika sesorang memiliki atau dikaruniai karakter yang sabar. Sebaik-baiknya perangai seseorang adalah jika orang tersebut memiliki sifat kesabaran. Dengan sabar kesabaran seseorang akan mampu menguasai dirinya dari godaan setan, dengan kesabaran seseorang dapat mengalahkan, bahkan menguasai musuh-musuhnya, dengan kesabaran seseorang akan memperoleh ilmu yang luas, dengan kesabaran seseorang dapat dekat dengan Rabbnya serta mendapatkan pertolongan dariNya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah : 153]

Bahkan Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu melatih kesabaran. Sebagaimana firmanNya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” [Al-Imran : 200]

Definisi Sabar

Secara bahasa kata sabar juga dapat diartikan menahan, tabah, serta menerima. Dan menurut istilah yang sebagaimana dipaparkan oleh Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin sabar yaitu memantapkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, dan menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap tidak ridha dalam menghadapi takdir Allah. Hal ini sebagaimana yang terkandung dalam sabda rasulullah ketika beliau melewati seorang wanita yang sedang menangis di kuburan, beliau berkata kepadanya, “bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah”, kemudian wanita tadi berkata kepada beliau, “menjauhlah dari urusan saya, karena anda tidak tertimpa musibah seperti apa yang telah menimpa saya”, sedangkan wanita tersebut tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah rasulullah. Setelah dikatakan kepadanya bahwa yang berbicara dengannya tadi adalah Rasulullah, maka dengan segera dia mendatangi pintu Rasulullah ﷺ dan berkata , “Sesungguhnya saya tidak mengetahui kalau tadi itu anda wahai Rasulullah.” Kemudia Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya sabar itu adalah ketika hentakkan (musibah) yang pertama.” (HR. Al- Bukhari)

Maksudnya yaitu bukanlah dinamakan kesabaran dengan kwalitas sabar yang sempurna

ketika seseorang mengatakan dirinya sabar terhadap musibah yang menimpanya, akan tetapi dia mendahulukan untuk mengeluh serta meratap ketika dia tertimpa musibah.

Macam-macam Sabar

Sabar dalam Islam sebagaimana yang di jelaskan oleh para ulama adalah terdiri dari 3 macam kesabaran. Semuanya harus dimiliki oleh seorang muslim sejati. 3 macam tersebut adalah:

  • Sabar dalam ketaatan kepada Allah ﷻ,

Dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ,tentu membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi, jika tidak demikian maka seseorang akan malas dan tidak sungguh-sungguh untuk menjalankan segala bentuk ketaatan serta amalan ibadah dalam kesehariannya. Allah ﷻ berfirman yang artinya, “Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang mengakibatkan kalian menjadi takut dan hilangnya kekuatan kalian, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Anfal : 46).

Dalam berjihad misalnya, juga sangat dibutuhkannya rasa kesabaran. Karena demikian yang menjadikan kaum muslimin yang berjihad dijalan Allah ﷻ semakin kuat dan tak terkalahkan.

Allah ﷻ berfirman,

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى الْقِتَالِۗ اِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ عِشْرُوْنَ صَابِرُوْنَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِۚ وَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ يَّغْلِبُوْٓا اَلْفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ

“Wahai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaromu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal : 65)

  • Sabar untuk tidak bermaksiat kepada Allah

Jika seoarang hamba tidak memiliki kesabaran dalam meninggalkan apa yang diharamkan Allah ﷻ,,, pasti ia akan terjerumus dan jatuh kedalam perangkap syaithan walaupun mereka termasuk orang-orang berilmu sekalipun. Karena ilmu tidak bermanfaat kecuali dibarengi dengan kesabaran.

  • Sabar atas takdir yang telah ditentukan Allah ﷻ terhadap seorang hamba

Dalam menyikapi ketentuan Allah ﷻ sangat dibutuhkan sikap sabar, jika tidak maka seorang akan mencela sesuatu yang menurutnya tidak baik untuk dirinya, padahal Allahlah yang Maha mengetahui apa yang baik untuk hambaNya,

sebagaimana firmanNya,

وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 216).

Sering kali seorang muslim tidak memahami bahwa dibalik suatu musibah yang menimpanya terdapat kebaikan-kebaikan yang tidak dimengerti oleh siapapun kecuali Allahlah Sang Maha Mengetahui. Sebaliknya, jika seorang mendapatkan kejayaan dan kemuliaan sering kali mereka berpaling serta lupa dari Rabbnya seraya membanggakan dan menyombongkan dirinya. Padahal keadaan yang demikian lebih banyak melalaikan seorang hamba dari Rabbnya. Jika diuji dengan kekurangan mereka ingat kepada Allah ﷻ tapi jika mereka diuji dengan kecukupan mereka sering kali lalai, Na’uzdubillahi min dzalik….

Semoga kita diberikan kesabaran oleh Allah ﷻ dengan kesabaran tanpa batas. Karena pada intinya kekuatan seseorang bukanlah dilihat dan diukur dari kekuasaannya!, atau dari kekayaannya! atau kekuatan otot-otot tubuhnyal… Sehingga sering kali seseorang dapat menyombongkan dirinya dengan apa yang dia miliki. Sungguh dia termasuk orang-orang yang dungu lagi bodoh..!!! Karena orang yang paling kuat adalah orang yang paling sabar yaitu orang yang dapat menguasai dirinya ketika dia marah.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ telah bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah dikatakan kuat seorang yang pandai bergulot, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika ia marah” (Muttafaq’alaihi)

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita orang-orang yang sabar. Amin yaa Robbal Alamin..

Referensi:

1. Al-Qur’an Al-Karim

2. Al-Maktabah Asy-Syamilah

3. Syarh Tsalatsatul Ushul: Syaikh Muhammad Al-Utsaimin

4. Riyadush Shalihin; An-Nawawi

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/sabar/feed/ 0
Panas Menyengat Tapi Nyaman https://nidaulfithrah.com/panas-menyengat-tapi-nyaman/ https://nidaulfithrah.com/panas-menyengat-tapi-nyaman/#respond Tue, 19 Oct 2021 01:47:47 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=11906 Disebutkan di dalam hadits riwayat Imam Muslim Nabi ﷺ bersabda bahwa shalat itu “nur”(cahaya) dan sabar itu “dhiya’ “(cahaya). “Nur” dan “Dhiya'” sama-sama bermakna cahaya. Apa perbedaannya? “Nur” adalah cahaya yang tidak memancarkan hawa panas, sementara “dhiya'” adalah cahaya yang memancarkan hawa panas dan menyengat. Hal ini sebagaimana Allahlberfirman dalam QS. Yunus: 5, bahwa cahaya bulan disebutkan dengan “nur” dan cahaya matahari disebutkan dengan “dhiya'”. Sabar disebutkan dengan “dhiya” karena memang untuk bisa meraihnya sangatlah berat. Harus melampaui amarahnya jiwa dan gejolaknya emosi. Ketika bisa melampauinya sabarpun baru bisa diraih dan kenyamananpun di dapatkan di mana permasalahan-permasalahan yang siap menerkam jiwanya dan menghancurkan ketenangannya telah ditaklukkan dan seakan-akan tidak ada. Oleh karena itu ada ungkapan popular yang sangat baik untuk diingat: “Sabar itu menolong segala sesuatu”. Ali bin Abi Tholib cena berkata: “Ketahuilah bahwa sabar, dari keimanan adalah ibarat kepala dari tubuh. Jika tidak ada kepala lenyaplah tubuh. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka hilanglah keimanan” (Jami’ul Ahadits, Jalaludin as-Suyuthi, Maktabah Syamilah).

Ketika Anda terjebak dalam kemacetan berjam-jam di jalan raya akibat rambu-rambu lalu lintas tidak berfungsi, di mana kebanyakan pengendara meluapkan emosinya dengan teriak-teriak, mencaci-maki, menghujat, dan terkadang ada yang turun dari kendaraannya untuk mendatangi supir kendaraan lain yang dipandang sebagai biang keroknya lalu memukulnya, menendangnya, meludahinya dan seterusnya… Anda sendiri sebenarnya panas dengan kondisi yang demikian tetapi Anda bisa cepat menenangkan jiwa Anda. Seakan-akan tidak ada masalah. Anda bisa memanfaatkan kesempitan untuk muroja’ah al-Qur’an. Subhanallah…. Apa yang menjadikan Anda merasa tenang dan nyaman? Tidak lain adalah sabar.

Saya teringat Emak saya, sakit yang menimpanya menjadikan badannya kurus sekali, mata sangat cekung, batuk-batuk setiap malam dan sesak nafas, akhirnya sekian lama tidak merasakan tidur pulas, sebentar-sebentar terbangun. Ketika anak- anaknya menunjukkan perasaan kasihan dan iba, Emak malah mengatakan: “Sudahlah, gak apa-apa yang namanya dunia ya begini ini, kalau mau enak yaa… di Surga nanti. Dengan kondisi seperti ini Emak kan malah bisa shalat tahajud setiap malam”. Subhanallah…Saya sebagai anak tidak tega melihat kondisinya, tetapi beliau tidak pernah mengeluh. Seakan- akan tidak ada masalah. Apa yang bisa menjadikannya demikian? Tidak lain adalah sabar. Kini, beliau telah tiada. Semoga kesabarannya menghapus seluruh dosa- dosanya dan mengangkat derajatnya disisiNya. Amin

Sabar ada tiga macam:

  1. Sabar di dalam menjalankan ketaatan. Sebut saja sebagai contoh, shalat jama’ah. Abdullah Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa kalau sudah masuk waktu shalat tidak ada satu orang lelaki pun yang berada di luar masjid kecuali dipastikan orang munafik, hingga orang yang tidak bisa berjalan harus dipapah untuk memasuki shaf/barisan shalat. Hal itu tidak akan terwujud kalau tidak ada sabar
  2. Sabar dalam meninggalkan larangan. Sebut saja contohnya zina. Anda tentu ingat kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam.. Ketika dibujuk untuk berbuat zina dia bisa dengan mudah menghindarinya. Padahal yang membujuk adalah istri raja yang seluruh pintu telah dia tutup sehingga benar-benar hanya berduaan. Terlebih dia seorang bujangan (tentu hasrat biologisnya tinggi), berada di perantaun sebagai narapidana dan jauh dari keluarga (tentu membutuhkan perhatian), sangat tampan (yang wanita siapapun melihatnya pasti terpikat). Sebenarnya kondisi yang demikian susah baginya untuk lari dari jeratan maksiat zina ini. Tetapi dia bisa menghindarinya. Apa rahasianya? Tidak lain dan tidak bukan adalah sabar dari maksiat.
  3. Dan sabar dalam menghadapi musibah.

Paragraf pertama dan kedua di atas adalah di antara contohnya. Sabar, seringkali harus beresiko tinggi. Disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari bahwa Abu Abdillah Khabbab bin al-Arat dan para sahabat lainnya yang datang mengadu kepada Rasulullah ﷺ atas beratnya penganiayaan dari orang-orang kafir. Mereka pun memohon Nabi agar beliau berdoa kepada Allah untuk menurunkan pertolongan. Sebenarnya ini adalah permohonan yang wajar. Namun, apa jawaban Nabi. Beliau menjawab: “Sesungguhnya ada seorang lelaki dari umat sebelum kalian yang disiksa dengan digalikan tanah untuknya lalu dimasukkan ke dalamnya, kemudian didatangkan gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya dan dibelahlah dia menjadi dua bagian, serta disisir dengan sisir yang terbuat dari sisir besi sampai terkelupas daging dan tulangnya, namun hal itu tidak menggoyahkannya dari agamanya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan agama ini sehingga seorang pengendara yang berjalan dari Shan’a menuju ke Hadramaut dia tidak takut kecuali kepada Allah semata dan tidak khawatir terhadap srigala atas dombanya. Tetapi kalian tergesa-gesa”. Yang kita rasakan dari jawaban beliau adalah bahwa sabar seringkali harus beresiko tinggi. Satu realita, yang kaum muslimin senantiasa menghadapinya adalah kedzaliman pemerintah/penguasa. Sebagian mereka tidak bisa bersabar menahan diri atas kedzaliman pemerintah. Akhirnya mereka melakukan pemberontakan, demo-demo; turun ke jalan-jalan membeberkan aib pemerintah, membakar ban di tengah jalan, merusak fasilitas dan lain-lain. Semuanya ini bentuk ketidaksabaran. Padahal Nabi ﷺ sudah mengingatkan: “Dengarkanlah dan` `taatilah pemimpin, meski punggungmu dipukul dan hartamu diambil, maka dengarkanlah dan taatilah” (HR. Muslim). “Tidaklah seorang manusia yang memberontak pemimpin lalu dia mati dalam keadaan demikian, kecuali ia mati dengan kematian jahiliyah” (HR. Muslim). Lalu, bagaimana dengan harta kita yang dirampas? Masak, kita tidak boleh melakukan perlawanan? Ingatlah Nabi telah bersabda: “Tetaplah kalian menunaikan hak yang merupakan kewajiban kalian (sebagai rakyat), dan mintalah hak kalian (yang dirampas) kepada Allah” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi menghibur orang-orang yang ditindas oleh penguasa/pemerintah lalu bersabar dengan keutamaan yang sangat besar, beliau bersabda: “Sesungguhnya sepeninggalku kelak, kalian akan menjumpai orang yang mementingkan diri sendiri. Oleh karena itu, bersabarlah kalian hingga kalian menjumpaiku di haudh /telaga (di mahsyar nanti pada hari kiamat)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, tidak benar ungkapan “sabar itu ada batasnya”. Sabar tidaklah ada batasnya maka pahalanya pun tanpa batas. Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang bersabar disempurnakan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar:10). Dan yang bisa melakukannya dijamin Surga. Tentunya Anda masih ingat tentang seorang wanita yang terkena penyakit epilepsi. Nabi menawarkan dua pilihan kepadanya; akankah bersabar dan baginya Surga atau didoakan kesembuhan oleh beliau? Dia tentu tahu bahwa doa beliau mustajab, tapi dia memilih bersabar dengan sakitnya. Hal ini dia lakukan setelah mendengar pernyataan beliau bahwa sabar dijamin Surga.

Orang yang meyakini bahwa sabar adalah solusi atas segala kesempitan seringkali tidak bisa sabar kecuali setelah berlalu beberapa saat atau beberapa waktu kemudian. Ini sudah baik, tetapi perlu ditingkatkan sehingga bisa langsung bersabar sejak benturan musibah pertama kali menimpanya. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kesabaran adalah pada saat benturan musibah menimpa pertama kali” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Juli, 2014 Edisi 25

]]>
https://nidaulfithrah.com/panas-menyengat-tapi-nyaman/feed/ 0
Beruntung Si Pembunuh Itu https://nidaulfithrah.com/beruntung-si-pembunuh-itu/ https://nidaulfithrah.com/beruntung-si-pembunuh-itu/#respond Mon, 18 Oct 2021 14:12:58 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=11903 Setiap manusia pasti berbuat salah, dan sebaik-baiknya yang berbuat salah adalah yang bertaubat. Demikian makna hadits Nabi ﷺ. Katagori kesalahan atau dosa manusia dibagi menjadi tiga:

  1. Kufur dan syirik
  2. Dosa besar
  3. Dosa kecil

Katagori pertama cara taubatnya dengan keimanan (baca: masuk Islam). Katagori kedua dan ketiga cara taubatnya dengan memenuhi lima perkara, yaitu: Ikhlas semata-mata karena Allah dan tidak terpaksa, Penyesalan atas dosa yang telah diperbuatnya, Adanya tekad untuk tidak pernah mengulanginya, Merealisasikan tekadnya, Dilakukan ketika belum sakaratul maut atau sebelum matahari terbit dari barat.

Allah At-Tawwab bergembira dengan taubatnya seorang hamba. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas hewan tunggangannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ la telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim).

Allah al-Ghofur mudah mengampuni dosa para hamba sebesar apapun dosanya, meskipun sebesar gunung, sebanyak apapun meskipun sebanyak pasir di padang pasir, firmanNya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang’ (QS.Az-Zumar:53). Lihatlah kisah tentang seorang yang membunuh 100 orang lalu matinya khusnul khotimah. Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah ﷺ : “Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya? Ahli ibadah itu berkata: “Tidak.” Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jahat.”Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang dia. Malaikat rahmat mengatakan: “Dia sudah datang dalam keadaan

bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.”Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia (sebagai hakim pemutus) di antara mereka berdua. Maka kata malaikat itu: “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”Lalu keduanya mengukurnya, dan ternyata mereka dapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beruntunglah si pembunuh itu, dia telah membunuh 100 orang tetapi matinya bersama malaikat rahmat. Apa rahasianya? Rahasianya tidak lain adalah bahwa dia telah bertaubat nasuha.

Orang yang melakukan maksiat, perbuatan keji, dan perbuatan dosa apapun baik disengaja atau tidak disengaja berada dalam kebodohon. Mereka baru terbebas dari kebodohon jika telah bertaubat. Demikian penjelasan Imam Mujahid (seorang ulama Tabi’in murid Ibnu Abbas) tentang surat An-Nisa: 17: “Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya pantas bagi mereka yang melakukan kejahatan karena kebodohan, kemudian segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”. Bagaimana mungkin Allah, Dialah yang menciptakan kita, memenuhi segala kebutuhan, melapangkan kesulitan dan kita berharap agar kembali kepadaNya dengan memasuki SurgaNya…lantas kita melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoiNya. Sungguh ini adalah puncak kebodohan!!!

Jika dosa yang dilakukan seseorang berkaitan dengan hak manusia, seperti: mencuri, ghibah

(membicarakan aib orang), menfitnah, mencaci-maki dan lain sebagainya maka dia tidak bisa bertaubat langsung kepada Allah hingga meminta maaf atau meminta halal terlebih dahulu kepada pihak yang bersangkutan.

Janganlah seseorang yang berdosa menunda-nunda taubatnya. Tidak takutkah dia jika dicabut

nyawanya dalam keadaan belum bertaubat. Sementara malaikat Malakul maut mencabut nyawa kapan saja tanpa memberitahu terlebih dahulu. Tidak bisakah menjadi pelajaran baginya berita tentang orang yang dicabut nyawanya dalam keadaan sedang pacaran, mencuri, menikmati harta riba, mendengarkan musik, durhaka kepada orang tuanya, safar untuk ngalap berkah di kuburan yang dikeramatkan…!!! Na’udzu billah min dzalik. Segeralah bertaubat sebagaimana Fudhail bin ‘lyadh sang perampok yang akhirnya menjadi ulama besar. Proses taubatnya sungguh sangat spektakuler, ketika sedang memanjat tembok untuk mengintip wanita yang disukainya terdengarlah ayat: “Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al- Hadid:16). Begitu dia mendengar lantunan ayat ini, diapun langsung bergumam:”Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).” Fudhail pun kembali (tidak melanjutkan keinginannya), dan beristirahat di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba datang sekelompok rombongan yang sedang lewat. Sebagian anggota rombongan itu berkata: “Kita jalan terus,” sementara yang lain berkata: “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan dia akan menghadang dan merampok kita.” Mendengar hal ini, Fudhail-pun merenung: ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (mengintip sang wanita) sementara kaum muslimin di sini ketakutan karenaku (khawatir Fudhail akan menghadang mereka), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”

Subhanallah…

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Juni, 2014 Edisi 24

]]>
https://nidaulfithrah.com/beruntung-si-pembunuh-itu/feed/ 0