#Akhlak – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 20 Apr 2026 08:51:36 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #Akhlak – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 4 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-4/ Mon, 20 Apr 2026 06:10:27 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21755 Lanjutan dari Akhlak Para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Secara Umum

36. Mudah memaafkan dan berlapang dada atas kesalahan yang diperbuat orang lain terhadap dirinya

37. Tidak mencemaskan masa depan keturunannya yang terkait dengan kehidupan duniawi

38. Tidak malas berziarah kubur

39. Tidak lalai dari mengingat Allah ta’ala dan bershalawat untuk Nabi shalallahu alahi wasallam

40. Lembut hatinya dan banyak menangis

41. Memandang hina dunia

42. Malu untuk bolak-balik buang hajat

43. Tidak mencemaskan urusan rizki

44. Tetap berlapang dada ketika materi duniawi tidak didapatkannya

45. Tidak disibukkan dengan urusan membangun rumah

46. Menyayangi semua muslim baik yang taat ataupun yang tidak taat

47. Menyayangi binatang

48. Terus melatih diri dan memperbanyak amalan secara tersembunyi

49. Menyayangi pelaku maksiat dengan tidak menghinakan mereka

50. Sangat besar “nrimo”nya (qona’ah) tidak mengejar-ngejar urusan duniawi

51. Bersegera mendatangi jamaah untuk mendapati takbirotul ihram-nya imam

52. Senantiasa mengkhawatirkan masuknya penyakit ke dalam ilmu dan amalannya

53. Membatasi diri terhadap orang-orang yang merapat ke penguasa

54. Suka menanyakan kabar kawan-kawannya

55. Tidak berlebih-lebihan di dalam perkara yang mubah

56. Saling menasehati dan senang menerima nasehat serta berterimakasih kepada pemberi nasehat

57. Mereka tidak memberi nasehat dan wasiat kecuali kepada orang yang diketahui berdasarkan indikasi bisa menerima nasehat

58. Senantiasa memandang bahwa amalan yang telah dilakukan sangatlah sedikit

59. Mencela seseorang yang memutus kebiasaan saling mengunjungi

60. Bersahaja, tenang, wibawa, dan sedikit berbicara

61. Menghindari bisnis perdagangan kecuali setelah mengetahui persis tentang hukum perdagangan tersebut

62. Memperbesar kesabaran terhadap orang yang berbuat zhalim kepada dirinya

63. Meningkatnya rasa takut dan semakin mendekat kepada Allah ta’ala setiap kali merasakan adanya kebaikan-kebaikan dari-Nya

64. Banyak diam, berbicara hanyalah ketika ada hikmah

65. Tidak pernah dengki kepada sesama muslim

66. Sering lapar dan menghindari kenyang

67. Di dalam bermajlis menutup rapat-rapat untuk terjadinya ghibah

68. Tidak membeberkan kepada seorang pun sesuatu yang didengarnya yang dipandang sebagai perkara rahasia

69. Sangat bersedih setiap kali terlewatkan dari suatu amaliah peribadahan

70. Banyak bersabar ketika ditimpa musibah sehingga tidak berucap dan bertindak kebodohan.

71. Senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan ridho dengan segala keputusan-Nya

72. Mempersaksikan pada dirinya sendiri bahwa ia belum berbuat apa-apa sebagai bentuk kesyukuran kepada Tuhannya

73. Sangat teliti di dalam masalah ketakwaan

74. Senantiasa menutupi aib sesama saudara muslim

75. Menghormati tamu dengan turun tangan sendiri langsung kecuali kalau ada udzur

76. Tidak menghadiri jamuan makanan dari harta syubhat

77. Mengupayakan senantiasa bersedekah dari setiap kelebihan kebutuhannya

78. Bersikap ramah setiap kali ada orang yang bertanya

79. Tidak menjadikan teman kecuali orang-orang yang diketahui senantiasa menunaikan kewajibannya.

80. Tidak suka bermusuhan dengan siapapun

81. Sibuk dengan aibnya sendiri daripada aib orang lain

82. Tetap menunjukkan sikap yang baik kepada orang-orang yang berperangai kasar

83. Menjaga muru’ah (harga diri)

84. Senang berbuat kebaikan untuk orang lain

85. Menghindarkan diri dari ‘ujub atas kebaikan-kebaikan yang telah diperbuatnya

86. Selalu memperhatikan orang-orang yang kelaparan

87. Banyak memotivasi diri untuk beribadah dan meningalkan syahwat

88. Banyak ber-istighfar dan takut akan murka Allah setiap kali membaca Al-Qur’an

89. Senantiasa menyiapkan diri untuk menunggu awal waktu sholat

90. Tetap nyaman dengan kondisi kefakiran dan kesulitan hidup, sebaliknya justru gelisah ketika berlimpah kekayaan

91. Malu dari pandangan makhluk terlebih dari pandangan Allah ta’ala

92. Zuhud dari dunia dan mencela orang yang mengejar-ngejarnya

93. Memilih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya tidak sampai meminta-minta kepada orang lain untuk tetap beribadah dengan semestinya

94. Mencintai orang-orang miskin dan tawadhu’ di hadapan mereka

95. Mencintai harta demi untuk diinfaqkan bukan untuk disimpan

E. Keteladanan Para Salaf

Berikut ini saya nukilkan beberapa contoh keteladanan dari para Salaf dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqi-s-Salaf yang ditulis oleh Syaikh Abdul Aziz bin Nash al-Jalil dan Syaikh Bahaudin bin Fatih ‘Uqoil yang dicetak Darut-Thaybah lin-Nasyr wat-Tawzi’.

1. Tidak menyukai popularitas

Dari Habib bin Abu Tsabit, dia berkata: Suatu hari Ibnu Mas’ud keluar. Manusia mengikutinya. Beliau bertanya kepada mereka: Apakah kalian ada keperluan? Mereka menjawab: Oh, tidak. Kami hanya ingin berjalan bersama Anda. Beliau berkata: Pulanglah kalian! Sungguh hal ini adalah kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.

Dari Harits bin Suwaid, dia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: Kalau kalian mengetahui sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku niscaya kalian akan menaburkan tanah di kepalaku.

Dari Busthom bin Muslim, dia berkata: Muhammad bin Sirin jika berjalan lalu ada orang yang mendampinginya, maka beliau bertanya: Apakah kamu ada keperluan? Kalau ada keperluan, beliau memenuhinya. Jika kembali mendampingi berjalan, beliau bertanya lagi: Apakah masih ada keperluan?

Hasan ( Mungkin Hasan bin Ar-Robi’, atau mungkin Hasan bin Arofah, atau mungkin Hasan bin Isa Masarji) berkata: Suatu hari saya bersama Ibnu Mubarok mendatangi tandon air. Manusia meminum air darinya. Ketika beliau mendekatinya untuk minum, dan manusia tidak mengenalinya beliaupun berdesak-desakan untuk mendapatkannya. Ketika keluar, beliau berkata: Beginilah seharusnya hidup! Kita tidak dikenal dan tidak dimuliakan….

Hasan juga mengkisahkan: Ketika beliau berada di Kufah, dibacakanlah kitab kepada beliau tentang manasik…. dan seterusnya hingga terjadi perbincangan, beliau berkata: Demikianlah seharusnya kita menunaikan manasik. Lalu beliau bertanya: Siapa yang menulis dari perkataanku ini? Saya katakan kepadanya: seorang penulis telah menulisnya. Beliau masih saja terus menggaruk-garuknya dengan tangannya hingga terhapus. Kemudian beliau berkata lagi: Siapakah saya ini hingga perkataanku ditulis?

2. Takut ‘ujub

Tsabit al-Bunani berkata: Abu Ubaidah berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya saya ini orang Quraisy, siapapun kalian dari bangsa kulit merah atau kulit hitam yang melampauiku dengan ketakwaan melainkan aku ingin menjadi kulitnya.

Maksud ucapan ini, beliau ingin menempuh jalan sebagaimana mereka.

Dari Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ atau yang lainnya bahwa ada seseorang berkata kepada Ibnu Umar: Wahai sebaik-baiknya manusia! Putra dari sebaik-baiknya manusia! Beliau merespon dengan mengatakan: Saya ini bukan sebaik-baiknya manusia dan juga bukan putra dari sebaik-baiknya manusia tetapi saya ini seorang hamba Allah ta’ala sebagaimana hamba Allah ta’ala lainnya. Saya senantiasa berharap kepada Allah ta’ala dan takut kepada-Nya. Demi Allah! Kalian akan terus bersama seseorang hingga kalian membinasakannya.

Abu-l-Usyhub meriwayatkan dari seseorang bahwa Muthorrif bin Abdullah berkata: Jika Anda tertidur (tidak melakukan qiyamullail, Pent) kemudian di pagi harinya Anda menyesali maka yang demikian itu lebih saya sukai daripada di malam hari Anda menunaikan qiyamullail lalu di pagi harinya merasa ‘ujub. Adz-Dzahabi mengatakan: Sungguh tidak beruntung orang yang ‘ujub, orang yang memandang dirinya suci.

Wahb bin Munabbih berkata: Hafalkanlah dari tiga perkara: Jauhilah oleh kalian hawa nafsu yang diikuti, teman yang buruk, dan membanggakan diri sendiri.

3. Sabar terhadap musibah

Dari Al-Mubarrid, dikatakan kepada Hasan bin Ali bahwa Abu Dzar mengatakan: Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan, sakit lebih aku sukai daripada sehat. Beliau merespon dengan mengatakan: Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun saya mengatakan: Barangsiapa menyandarkan dirinya kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan pernah menginginkan sesuatu. Inilah makna ridho terhadap apa yang telah ditetapkan.

Dari Wahb bin Munabbih bahwa Isa alaihissalam berkata kepada Hawariyyin: Orang yang paling gelisah terhadap musibah adalah orang yang paling cinta kepada dunia.

Dari Asy-Sya’bi, Syuraih berkata: Sesungguhnya saya ditimpa musibah, maka saya memuji Allah empat kali:

a. Saya memuji Allah ta’ala karena musibahnya tidak lebih besar dari yang ditimpakan sekarang ini

b. Saya memuji Allah ta’ala karena diberi rizki berupa sabar untuk menghadapinya

c. Saya memuji Allah ta’ala karena telah memberi saya taufiq untuk beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un) demi mendapatkan pahala karenanya

d. Saya memuji Allah ta’ala karena Dia tidak menimpakan musibah pada agama saya

Ghossan bin al-Mifdhol Al-Gholaby berkata: Saya diberitahu oleh sebagian teman-teman bahwa ada seseorang datang menemui Yunus bin Ubaid mengeluhkan tentang keadaannya dan sempitnya kehidupan. 

Beliau bertanya: “Apakah kamu mau bola matamu dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Tidak”.

Beliau bertanya lagi: “Bagaimana dengan telingamu, mau dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Tidak mau”.

Beliau bertanya lagi: “Bagaimana dengan lidahmu, mau dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Sama sekali tidak mau”.

Lalu beliau mengingatkannya tentang nikmat-nikmat Allah ta’ala dan berkata: “Saya melihat pada dirimu ada rizki ratusan ribu dinar tapi kamu masih mengeluhkan rizki?

4. Hati-hati di dalam bergaul 

Dari Humaid Ath-Thowil, dari Abu Qilabah, dia berkata: Jika Anda mendengar informasi buruk tentang temanmu, maka carilah alasan-alasan untuk memakluminya (sehingga Anda tidak memandangnya sebagai orang yang bersalah). Jika Anda tidak mendapatkannya, maka katakanlah pada diri Anda: Mungkin dia memiliki alasan yang saya tidak mengetahuinya.

Dari Maimun bin Mahron, dia berkata: Saya mendengar Ibnu Abbas berkata: Tidaklah saya mendengar keburukan tentang seseorang melainkan aku mensikapinya dengan tiga sikap;

a. Jika dia lebih senior, maka saya harus tahu diri untuk tetap memuliakannya

b. Jika dia sebaya, maka aku memandangnya lebih utama dari diriku

c. Jika dia lebih junior, maka saya tidak mau bermajlis atau berkumpul dengannya. 

Demikianlah aku, kalau ada yang tidak suka dengan sikapku ini, maka silahkan saja bumi Allah ta’ala itu luas.

Diriwayatkan dari Roja’ bin Haywah, dia berkata: Barangsiapa tidak mau berteman kecuali dengan orang yang tidak ada aibnya niscaya sedikit temannya. Barangsiapa tidak ridho kecuali terhadap teman yang benar-benar bersih dari aib maka selama-lamanya dalam kesalahan. Barangsiapa mencela temannya atas setiap aibnya niscaya banyak musuhnya.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 3 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-3/ Fri, 17 Apr 2026 07:10:36 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21751 e. Posisi orang yang berakhlak mulia paling dicintai dan paling dekat dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam di Hari Kiamat

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَىَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُ ونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ « الْمُتَكَبِّرُ ونَ » (سنن الترمذى )

Dari Jabir bin Abdillah radiallahu anhu secara marfū’, (Nabi bersabda), “Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik budi pekertinya di antara kalian. Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari Kiamat adalah orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami sudah tahu orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara, lantas apakah yang dimaksud dengan bermulut besar?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang sombong. (Sunan At-Tirmidzi)

Adakah yang tidak mau menjadi orang yang paling dicintai dan paling dekat posisinya dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam pada hari Kiamat. Ayo! Senantiasa memperbaiki akhlak kita.

C. Sekilas tentang Akhlak Nabi shalallahu alaihi wasallam

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Disebutkan di dalam Hadits Anas radiallahu anhu,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا (صحيح مسلم )

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya (Shahih Muslim).

Anas radiallahu anhu menuturkan demikian karena saking terkesan dengan akhlak beliau. Di antaranya  dia menyaksikan sendiri: Ketika sedang berada di rumah Anas, beliau shalallahu alahi wasallam menghendaki shalat. Beliau shalallahu alahi wasallam pun meminta hamparan yang terbuat dari pelepah kurma yang berada di bawah beliau disapu dan diciprati dengan air. Lalu beliau mengimami Anas dan keluarganya.

Anas radiallahu anhu juga menuturkan,

مَا مَسِسْتُ دِيبَاجاً وَلاَ حَرِيراً ألْيَنَ مِنْ كَفِّ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلاَ شَمَمْتُ رَائِحَةً قَطُّ أطْيَبَ مِنْ رَائِحَةِ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلَقَدْ خدمتُ رسول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ سنين ، فما قَالَ لي قَطُّ : أُ فٍّ، وَلاَ قَالَ لِشَيءٍ فَعَلْتُهُ : لِمَ فَعَلْتَه ؟ وَلاَ لشَيءٍ لَمْ أفعله : ألاَ فَعَلْتَ كَذا ؟ (رواه البخارى)

Aku tidak pernah menyentuh segala jenis sutera yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan aku sama sekali tidak pernah mencium aroma yang lebih harum dari aroma Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Sungguh aku telah membantu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah mengatakan kepadaku sama sekali “Ah”. Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang telah aku kerjakan, “Seperti apa kamu mengerjakannya?” Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang aku belum mengerjakannya, “Kenapa belum kamu kerjakan?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah azza wa jalla berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ  [القلم: 4]

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung (QS. Al-Qolam)

Disebutkan di dalam Tafsir As-Sa’di, saya terjemahkan secara bebas kurang lebihnya bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam menjadi tinggi derajatnya karena akhlak mulia yang Allah anugerahkan kepadanya. Akhlak yang agung “ خُلُقٍ عَظِيمٍ “ ditafsirkan ‘Aisyah: “Akhlak beliau adalah al-Qur’an”. Yang demikian itu sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف:199)

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’rof: 199)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ (أل عمران :159)

Maka berkat rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka (QS. Ali Imron: 159)

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُ وفٌ رَّحِيمٌ (التوبة:128)

Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. At-Taubah)

Dan ayat-ayat lainnya yang menjelaskan tentang akhlak mulia beliau.

Tentang ayat-ayat yang mengarahkan kepada akhlak mulia, maka beliau shalallahu alahi wasallam memiliki akhlak-akhlak tersebut dengan kadar tertinggi dan sempurna. Beliau orangnya lembut. Dekat dengan siapapun. Senantiasa menghadiri undangan orang yang mengundangnya. Memenuhi hajat orang yang membutuhkannya. Meringankan beban hati orang yang bertanya; beliau tidak membatasi diri dan tidak menolak dengan mengecewakan. Jika para Sahabat menginginkan sesuatu dari beliau maka beliau bersikap “klop” dengan mereka. Bahkan selama tidak ada udzur beliau berpartisipasi aktif terhadap progress suatu urusan yang beliau diminta untuk terlibat di dalamnya. Kalau ada urusan bersama, beliau senang bermusyawarah dan menerima ide yang terbaik, tidak memutuskan dari dirinya sendiri. Beliau mudah memaafkan orang yang berbuat salah. Tidaklah bermajlis (duduk-duduk) kecuali beliau bergaul dengan sikap yang terbaik. Beliau tidak bermuka masam. Tidak “mbulet” pembicaraannya. Tidak memotong pembicaraan orang yang keliru-keliru. Beliau benar-benar bergaul dengan manusia dengan sebaik-baiknya pergaulan. Beliau pun sangat bersabar di dalam bergaul dengan siapa pun. Sehingga siapapun yang bergaul dengan beliau pasti akan betah dan senantiasa merindukan kehadirannya [selesai]

Beliau shalallahu alahi wasallam sangat menjaga perasaan orang lain. Disebutkan di dalam riwayat,

عَنِ الصَّعْبِ بْنِ جَثَّامَةَ قَالَ : أَهْدَيْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا عَقِيرًا وَحْشِيًّا بِوَدَّانَ ، أَوْ قَالَ : بِالأَبْوَاءِ ، قَالَ : فَرَدَّهُ عَلَيَّ ، فَلَمَّا رَأَى شِدَّةَ ذَلِكَ فِي وَجْهِي قَالَ : إِنَّا إِنَّمَا رَدَدْنَاهُ عَلَيْكَ لأَنَّا حُرُمٌ (مسند أحمد)

Dari Sho’b bin Jatsamah, dia berkata: Aku memberi Nabi hadiah keledai liar di Waddan. Atau periwayat mengatakan di Abwa’. Lalu Nabi mengembalikannya kepadaku. Ketika beliau melihat perubahan pada wajahku karena yang demikian itu maka beliau menjelaskan: “Sesungguhnya aku mengembalikannya kepadamu karena aku sedang ihram” (Musnad Ahmad)

Di dalam Hadits ini Nabi shalallahu alahi wasallam langsung menjelaskan alasan mengembalikan hadiah. Setelah dijelaskan, Sho’b pun mengerti dan tidak kecewa. Syaikh Utsaimin menjelaskan, orang yang sedang ihram tidak diperbolehkan makan binatang yang sengaja diburu untuknya. 

Mungkin Anda pernah merasa tidak suka kalau disuruh menemui si Fulan. Karena Anda merasakan si Fulan tersebut “alot”, sulit, kaku, tidak mudah. Beliau shalallahu alahi wasallam tidaklah demikian. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رضى الله عنهما – قَالَ لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا (رواه البخارى و مسلم)

Dari Abdullah bin Amr radiallahu anhuma berkata: Nabi shalallahu alaihi wasallam tidaklah kasar dan tidak bertabiat kasar (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentang Hadits ini Syaikh Utsaimin mengatakan, Nabi itu orangnya lembut dan mudah. Tidak kasar dan jauh dari perangai kasar.

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kita taufiq sehingga berkemampuan untuk terus memperbaiki akhlak kita hingga kita menjadi orang yang paling dicintai Nabi dan paling dekat posisinya dengan beliau pada Hari Kiamat dengan Surga yang paling tinggi. Aamiin.

D. Akhlak Para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Secara Umum

Saya nukilkan akhlak para Sahabat radiallahu anhum secara umum dari kitab AKHLAQU –S-SALAFISH –SH-SHOLIH MIN KITAB TANBIHI-L- MUGHTARRIN karya Muhammad bin ‘Ulwi Al-Idrus cetakan tahun 1431 H/2010 M. Akhlak yang dimaksud di sini adalah akhlak keduanya; muamalah dengan Allah dan muamalah sesama manusia.

1. Istiqomah di dalam bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagai butuhnya orang yang terkena sengatan terik matahari kepada tempat yang teduh

2. Menyelaraskan setiap ucapan dan perbuatannya kepada Al-Qur’an dan Hadits dan ‘urf yang baik (yang tidak bertentangan dengan syariat)

3. Senantiasa menyerahkan seluruh urusan dirinya, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya kepada Allah azza wa jalla

4. Senantiasa mengupayakan keikhlasan dalam berilmu dan beramal, karena khawatir untuk terjerumus ke dalam riya

5. Meng-hajr (memboikot) seseorang yang bolak-balik mendekati penguasa tanpa suatu keperluan yang mendesak atau suatu kemaslahatan ummat. (Hal ini bisa berpotensi menjadikannya sebagai penjilat, Pent.)

6. Senantiasa mengantisipasi sifat nifak yang bisa terjadi pada setiap perbuatan baik yang tampak ataupun tersembunyi

7. Bersabar atas kezhaliman penguasa

8. Senantiasa menolong agama Allah dan murka jika syariat-Nya dilanggar

9. Sedikit tertawa dan tidak berbangga-banggaan dengan dunia

10. Memandang kematian lebih baik daripada hidup tapi terus-menerus berkubang dengan dosa

11. Terus-menerus mengingkatkan rasa khouf hingga akhir hayat

12. Sangat takut terhadap adzab Allah atau suatu dosa yang seseorang terjerumus di dalamnya

13. Sangat menjaga kemuliaan kaum muslimin dan senantiasa berharap untuk kebaikan mereka

14. Sabar atas perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh para istri terhadap diri mereka

15. Tidak meminta suatu jabatan kepemimpinan

16. Semangat untuk saling menasehati sesama kaum muslimin

17. Berperilaku dengan adab yang baik kepada junior apalagi kepada senior. Juga kepada budak (siapapun yang dipandang sebagai orang rendahan, Pent.)

18. Istiqomah dalam menunaikan qiyamullail baik di musim dingin ataupun musim panas

19. Tetap bergaul dengan orang-orang yang memusuhinya selama di tengah-tengah manusia secara umum dikenal sebagai orang baik

20. Banyak bersyukur kepada Allah

21. Komitmen dengan sunnah hingga ketika melamar wanita pun hanya melhat wajah dan kedua tangannya

22. Berperilaku dengan sebaik-baiknya adab kepada siapapun yang pernah mengajari mereka ayat atau surat Al-Qur’an ketika mereka masih kecil

23. Di dalam peribadahan, senantiasa merasakan baru sedikit apa yang telah dilakukan dan masih banyak kekurangan-kekurangannya

24. Tidak mengunggul-unggulkan dirinya sebagai penyebab hidayah bagi orang lain

25. Menjamu tamu dengan sebaik-baiknya

26. Bersikap wara’ dalam hal makanan dan minuman

27. Senantiasa mengontrol dirinya agar terlepas dari setiap sifat munafiq

28. Tidak suka menahan harta, sebaliknya justru senang berinfaq

29. Suka mendahulukan khidmah untuk Allah ta’ala daripada untuk dirinya sendiri

30. Setiap kali teringat keadaan Hari Kiamat, setiap itu pula rasa takutnya meningkat

31. Banyak mengambil pelajaran, menangis, dan lebih memperhatikan terhadap urusan kematian setiap kali melihat jenazah

32. Banyak bersedih setiap kali mengingat kematian dan sakaratul maut

33. Memandang dunia sebagai ujian, bukan pandangan cinta dan syahwat

34. Mengingatkan manusia agar jangan mengikuti keburukan-keburukan yang dijumpai pada dirinya

35. Memandang dirinya sendiri sebagai orang yang masih jauh tingkat peribadahannya secara kuantitas dan kualitas

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 2 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-2/ Thu, 16 Apr 2026 06:36:52 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21742 c. طلاقة الوجه (berwajah murah senyum)

Suatu ketika seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menerima rapot di sekolahnya berpapasan dengan seseorang yang terpandang di daerahnya. Sang ayah memanfaatkan pertemuan itu dengan menceritakan prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh putranya kepada sesepuh tersebut. Harapan sang ayah, Sesepuh akan mengomentarinya dengan pujian-pujian kepada putranya yang bisa berdampak untuk terus berpacu dalam prestasi. Namun alih-alih mendapatkan pujian sebagaimana yang diharapkan, senyum saja tidak. Sesepuh hanya berkomentar “O, iya” sambil menggeloyor pergi. Allahul Musta’an! Ini contoh akhlak yang tidak baik. Ingatlah! Murah senyum itu bagian dari akhlak yang mulia.

Akhlak mulia itu adakalanya sudah merupakan anugrah dari Allah ta’ala (طبع), di mana seseorang diberi anugerah oleh Allah ta’ala potensi suatu akhlak tertentu sehingga orang tersebut tinggal meningkatkan dan menguatkannya. Adakalanya tidak merupakan anugerah (تطبع), di mana seseorang tidak mendapatkan potensi suatu akhlak tertentu sehingga dia harus menumbuhkannya sendiri. Setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang dianugerahi akhlak berupa A, B, C, D tetapi tidak dianugerahkan E. Sementara orang lainnya dianugerahi akhlak berupa B, C, D, E tetapi tidak dianugerahi A. Maka akhlak yang belum Allah azza wa jalla anugerahkan pada seseorang, dia harus mengupayakan dari dirinya sendiri agar akhlak tersebut muncul lalu dia terus menguatkannya hingga dia benar-benar memiliki akhlak tersebut. 

Seandainya Surga dan Neraka terlihat niscaya tidak ada orang kafir di muka bumi. Semuanya beriman. Tidak ada pelaku maksiat. Semuanya berbuat ketaatan. Jadi, hikmah tidak ditampakan keduanya untuk suatu ujian. Sadarilah dunia adalah kampung ujian. AKHIRAT lah kampung tempat kita kembali dengan nilai ujian masing-masing. (Muhammad Nur Yasin Zain, Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Contoh:

  Perkoso Sugiyo Wedoro Ronggo
Jujur ×
Peduli Sekitar ×
Murah Senyum × ×
Menghormati senior
Sabar ×
Tidak Sombong

Keterangan:

1. Perkoso belum memiliki akhlak sabar, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

2. Sugiyo belum dianugerahi sifat jujur, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

3. Wedoro belum bisa murah senyum, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

4. Ronggo belum berkarakter peduli sekitar sekaligus belum murah senyum, maka dia harus berupaya keras untuk mewujudkannya.

Disebutkan di dalam Hadits,

قَالَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَ مِ اللَّهُ جَبَلَنِى عَلَيْهِمَا قَالَ « بَلِ اللَّهُ جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا ». قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَبَلَنِى عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ (سنن أبى داود)

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada Asyaj Abdul Qoys: Sesungguhnya pada dirimu benar-benar terdapat dua perangai yang Allah ta’ala mencintai keduanya, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa. Dia bertanya: Ya Rasulullah apakah saya yang mengupayakan untuk berakhlak dengan keduanya ataukah keduanya telah Allah ta’ala anugerahkan pada saya. Beliau menjawab: Allah ta’ala telah menganugerahkan keduanya pada dirimu. Lalu dia berucap: Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah menganugerahkan pada diriku dua perangai yang Allah ta’ala dan Rasul-Nya mencintai keduanya (Sunan Abu Daud).

Manakah yang lebih utama?

Kalau ada pertanyaan manakah yang lebih utama akhlak yang merupakan anugrah dari Allah (طبع) ataukah akhlak yang diupayakan dari dirinya sendiri (تطبع)?

Syaikh Utsaimin rahima hullah menjelaskan bahwa akhlak yang merupakan anugrah dari Allah ta’ala (طبع) lebih utama karena ia telah menjadi tabiatnya dari awal sehingga ketika dia berada di manapun dan dalam kondisi bagaimanapun niscaya akhlak tersebut akan muncul tanpa seseorang bersusah payah. Kalau ditanya manakah yang lebih banyak pahala dari antara keduanya? Tentu yang kedua lebih banyak pahalanya karena ia tidak akan muncul dengan mudah, tetapi seseorang perlu berupaya keras mewujudkannya.

Husnul khuluq sesama manusia inilah yang dimaksud dengan akhlak ketika disebutkan secara mutlak

B. Keutamaan Akhlak yang Mulia

Disebutkan di dalam riwayat,

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الأَنْصَارِىِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ فَقَالَ « الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ » (صحيح مسلم)

Dari Nawas bin Sam’an Al-Anshory. Dia berkata:  Saya bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang kebaikan dan dosa. Beliau menjawab: “Kebaikan adalah baiknya akhlak, dan dosa adalah sesuatu yang bergejolak di dalam dada kamu, dan kamu tidak menginginkan ada orang yang mengetahuinya” (Shahih Muslim)

Apakah demikian pengertian kebaikan dan dosa? Tentu bukan. Di sini Nabi tidak menjawab dengan definisi melainkan dengan contoh. Kebaikan sangatlah banyak jenis macam dan rupanya. Di antara kebaikan yang sangat banyak itu Nabi menyebut baiknya akhlak. Ini menunjukkan akhlak yang baik posisinya sangatlah diperhatikan di dalam Islam.

Disebutkan di dalam riwayat Abdullah Ibnu Amr, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

  إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا (رواه البخارى و مسلم)

Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya mencoba memahami Hadits ini dengan tadabbur saya pribadi. Kalau salah saya memohon ampun kepada Allah azza wa jalla. Kenapa orang yang terbaik bukan orang yang paling baik aqidahnya? Bukankah aqidah itu landasan semua amalan untuk diterima atau tidaknya? Kenapa orang yang terbaik bukan orang yang paling baik peribadahannya? Bukankah tujuan manusia diciptakan itu untuk ibadah? Kenapa malah yang disebutkan oleh beliau orang yang terbaik adalah orang yang paling baik akhlaknya?

Di dalam menjalani kehidupan beragama, manusia tidak lepas dari tiga perkara; aqidah, ibadah dan akhlak. Saya menggambarkan tiga perkara tersebut bagaikan rumah kita yang terdiri dari:

a. Pondasi

b. Dinding, pintu, jendela, atap, dan apapun yang dibangun di atas pondasi

c. Tata ruang, taman, aquarium, pemilihan warna, penempatan perabot dan semacamnya yang merupakan faktor keindahan

Nah, pondasi itu gambaran dari aqidah. Dinding, pintu, jendela, dan atap adalah ibadah. Tata ruang, taman, aquarium, pemilihan warna, penempatan perabot adalah akhlak. Perhatikanlah! Tata ruang, taman, pemilihan warna dan semacamnya menjadi tidak berarti jika pondasi, dinding, pintu, atap dan semacamnya bermasalah. Jika semuanya tidak ada masalah maka tata ruang, taman, pemilihan warna benar-benar merupakan penyempurna rumah kediaman yang penghuninya akan sangat betah di dalamnya. 

Penghuni rumah tidak akan betah jika kondisi rumah berantakan tidak indah meskipun pondasi, dinding, pintu, jendela dan lainnya kokoh.

Demikianlah di dalam kehidupan beragama. Setelah aqidah dan ibadah kokoh dan baik, maka seorang muslim dituntut untuk berhias dengan akhlak. Jadi, maksud sabda Nabi bahwa sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya adalah secara otomatis setelah aqidah dan ibadahnya tidak bermasalah. Allahu A’lam.

Oleh karena itu Nabi shalallahu alahi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ  فَزَ وِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ (رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika melamar kepada kalian orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata” (HR. At-Tirmidzi)

Ini menunjukkan setelah aqidah dan ibadah, maka akhlak tidak boleh terlewatkan. Seseorang tidak diperbolehkan hanya baik aqidah dan ibadahnya.

a. Akhlak adalah penyebab terbanyak yang memasukkan seseorang ke dalam Surga

Disebutkan di dalam riwayat,

عن أبي هريرة قال : سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم : ما أكثر ما يلج به الناس الجنة قال : تقوى الله و حسن الخلق (رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alahi wasallam ditanya apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Surga? Beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan Akhlak yang mulia” (HR. At-Tirmidzi)

Mari kita perhatikan informasi-informasi dari Nabi! 

Bukankah orang terhambat masuk Surga karena memutuskan silaturrahim.

Bukankah orang mati syahid terkendala untuk masuk Surga karena hutang yang belum dibayar

Bukankah Surga anak di bawah kaki Ibu? Dia akan terkendala hingga memperbaiki birrul walidain

Bukankah Ahli shalat dan puasa terkendala masuk Surga karena buruk kepada tetangga

Bukankah istri yang taat kepada suami yang dipersilahkan memasuki Surga melalui pintu yang dikehendakinya?

Bukankah seseorang diampuni Allah ta’ala dan dimasukkan ke dalam Surga karena menyingkirkan ranting pohon yang mengganggu di jalan?

b. Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya

Disebutkan di dalam riwayat,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه أبو داود و الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”  (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Saya memahami Hadits ini sebagaimana saya terangkan di atas bahwa hal ini sudah barang tentu tidak melewatkan sisi aqidah dan ibadah.

c. Orang yang berakhlak mulia bisa menyamai derajat ahli shalat dan puasa

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ (سنن أبى داود)

Dari Aisyah radiallahu anha, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlanya yang baik menyamai derajat ahli puasa dan ahli shalat.” (Sunan Abu Daud)

Disebutkan di dalam kitab Aunul Ma’bud (Maktabah Syamilah), orang ahli puasa dan shalat malam adalah dua macam orang yang senantiasa berupaya keras melawan kenyamanan kondisi. Nah, orang yang berakhlak mulia disamakan dengan keduanya karena adanya kesamaan dari sisi upaya kerasnya di mana dia senantiasa berupaya keras dengan sebaik-baiknya sikap dan perilaku setiap kali bergaul dengan manusia.

d. Orang yang berakhlak mulia dijamin dengan Surga paling tinggi

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ (سنن أبى داود)

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran Surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah Surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di Surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

Allahu Akbar, orang yang membaguskan akhlak dijamin Nabi shalallahu alahi wasallam dengan rumah di Surga tertinggi. Ini menunjukkan betapa akhlak yang mulia memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 1 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-1/ Wed, 15 Apr 2026 06:01:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21737 Husnul Khuluq

A. Pembagian Khusnul Khuluq (Akhlak Mulia)

Husnul Khuluq artinya akhlak yang baik. Syaikh Utsaimin rahima hullah menjelaskan bahwa ia terbagi menjadi dua: . a]. khusnul khuluq kepada Allah dan b]. khusnul khuluq kepada sesama manusia.

1. Khusnul Khuluq kepada Allah

Berakhlak mulia kepada Allah mencakup tiga (3) perkara:

a. Mempercayai seluruh pemberitaan-Nya. Baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi.

b. Menerima seluruh syariat-Nya secara totalitas.

c. Meridhoi seluruh ketetapan-ketetapan-Nya yang tidak menyenangkan kita.

a. Mempercayai seluruh pemberitaan-Nya. Baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi.

Yang sudah terjadi: berita tentang dihancurnya ummat-ummat penentang para Rasul. Seperti: kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Ashabul Aikah, Ashabul Hijr, penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, dihancurkannya Fir’aun dan pengikutnya, dibenamkannya Qorun dan hartanya ke dalam bumi, permintaan iblis untuk dipanjangkan umur hingga hari Kiamat dan lain-lain.

Yang belum terjadi: berita tentang akan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dari benteng yang sangat kokoh, fitnah terbesar Dajjal, terbitnya matahari dari Barat menjelang hari Kiamat,  dihancurnya alam semesta ini pada hari Kiamat, tingginya nikmat Surga, dahsyatnya siksa Neraka, dan lain-lain.

b. Menerima seluruh syariat-Nya secara totalitas

Allah azza wa jalla berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (النساء:56) 

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan sehingga mereka tidak ada rasa kebencian di dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima sepenuhnya (QS. An-Nisa: 65)

Apapun ketetapan Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya, maka muslim yang berakhlak mulia akan segera merespon dengan SAMI’NA WA ATHO’NA. Ia tidak memilah-memilih syariat yang sesuai dengan kehendaknya. Tetapi ia menerima keseluruhannya dengan “legowo” karena kehendak dirinya telah ditundukkan di bawah kehendak-Nya. Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ  (شرح السنة للبغوي)

“Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga hawa (kehendak)nya mengikuti apa yang saya bawa” (Syarhussunnah lil Baghowy)

Setelah kita memahami penjelasan di atas, mari kita lihat fenomena-fenomena berikut ini:

  • Bagaimanakah dengan orang yang mencari-cari dalih untuk membenarkan praktik ribawi?
  • Bagaimanakah dengan wanita yang tidak terima bagian warisannya separo dari lelaki?
  • Bagaimanakah dengan lelaki yang mencukur jenggotnya padahal telah mengetahui tentang keharamnnya?
  • Bagaimanakah dengan orang yang mendengarkan musik padahal telah mengetahui tentang keharamannya?
  • Bagaimanakah dengan orang yang tidak berhenti dari bid’ah padahal telah mengetahui konsekuensi syahadat “wa asyhadu anna Muhammada-r- Rasulullah”.
  • Bagaimanakah dengan wanita yang menghalang-halangi suaminya yang sholeh untuk berpoligami? Dan lain-lain.

Apakah mereka berakhlak mulia?

c. Meridhoi seluruh ketetapan-ketetapan-Nya yang tidak menyenangkan kita

Bagaimana ukuran seseorang itu ridho dengan taqdir Allah ta’ala yang tidak menyenangkan seperti; sakit, miskin, rugi, kehilangan, bangkrut, kecelakaan, kematian, dan lain-lain? Ketika seseorang ber-istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), bisa bersabar dengan tidak stress, tidak niyahah lalu  meminta kepada Allah azza wa jalla agar musibah yang menimpanya mendatangkan pahala yang berlipat ganda dan menghapus dosa, meminta ganti kepada Allah azza wa jalla dengan ganti yang lebih baik dan menyadari bahwa semuanya telah digariskan oleh Allah ta’ala untuk suatu hikmah. Inilah ukuran bahwa seseorang ridho dengan takdir Allah azza wa jalla. Dan inilah akhlak mulia.

d. Dzikir dan doa yang bisa dibaca agar hati “plong dan legowo” dengan takdir-Nya:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Allah telah mentakdirkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. 

Hal ini berdasarkan Hadits,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم:  الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ (صحيح مسلم)

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Pada masing-masing ada kebaikan. Berbuatlah dengan semangat terhadap apa saja yang bermanfaat bagi Anda, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Jika Anda ditimpa sesuatu maka janganlah mengatakan “seandainya aku berbuat begini dan begini niscaya begini dan begini”. Akan tetapi ucapkanlah:

 قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ, 

karena sesungguhnya ucapan “seandainya” membuka amalan syaitan. (Sunan Muslim)

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah berilah aku pahala atas musibah ini dan gantilah untukku  yang lebih baik darinya.”

Hal ini berdasarkan Hadits,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا (صحيح مسلم)

Dari Ummu Salamah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu alahi wasallam bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan sebagaimana yang Allah perintahkan.

“إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا” 

Melainkan Allah akan menggantikan untuknya yang lebih baik darinya (Shahih Muslim)

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

Sesungguhnya milik Allah lah apa yang Dia ambil, milik-Nya lah apa yang Dia beri, segala sesuatu di sisi-Nya telah ditetapkan ajalnya maka bersabarlah dan berharaplah pahala.

Hal ini berdasarkan Hadits Bukhari dan Muslim,

عَنْ أَبِى عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِى أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ – رضى الله عنهما – قَالَ أَرْسَلَتِ ابْنَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَيْهِ إِنَّ ابْنًا لِى قُبِضَ فَائْتِنَا . فَأَرْسَلَ يُقْرِئُ السَّلاَمَ وَيَقُولُ : إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ (رواه البخارى و مسلم)

Dari Abu ‘Utsman, ia berkata: Usamah bin Zaid radiallahu anhu memberitahukanku: Seorang putri Nabi shalallahu alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada beliau shalallahu alaihi wasallam “putraku meninggal dunia maka maka datanglah kemari. Beliau pun menyampaikan salam untuknya (putrinya) dan berpesan: 

 إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

2. Khusnul khuluq kepada sesama manusia.

Khusnul khuluq atau akhlak yang mulia sesama manusia biasanya orang Jawa menyebutnya budi pekerti. Syaikh Utsaimin menukil penjelasan Imam Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia meliputi tiga perkara:

a. كف الأذى  (menahan diri dari menyakiti orang lain)

b. بذل الندى (mengerahkan segenap potensi untuk kemaslahatan orang lain)

c. طلاقة الوجه (berwajah murah senyum)

a. كف الأذى (menahan diri dari menyakiti orang lain)

Menahan diri untuk tidak sampai menyakiti orang lain adakalanya terkait dengan harta, kehormatan, fisik, dan lain-lain. 

Contoh terkait harta:

  • Orang yang berkelapangan harta jangan sampai pelit untuk menghutangi uang kawannya yang dikenal jujur ketika membutuhkan uang. Kalau tidak, maka kawannya akan sakit hati. 
  • Janganlah ghosob (meminjam tanpa izin), karena hal itu akan menyakitkan pemiliknya
  • Jagalah harta yang dititipkan kepada Anda, jangan ceroboh karena akan menyakitkan pemiliknya.
  • Isilah bensin jika Anda meminjam sepeda motor dengan durasi yang ‘urf memandangnya memakan waktu lama.

Contoh terkait kehormatan:

  • Tidak “ngutak-ngutik” HP ketika kawan Anda sedang mengajak berbicara, perhatikanlah pembicaraannya. Kalau tidak, ia bisa tersinggung sakit hatinya.
  • Tidak bersikap hangat dengan sebagian kawan tetapi dingin kepada sebagian lainnya. Bersikap hangatlah dengan semuanya tanpa memandang siapapun mereka. Karena kawan yang disikapi dengan sikap dingin bisa sakit hati.
  • Tidak membicarakan aib orang lain. Karena hal itu akan merendahkannya. Dan, tentu ia merasa sakit hati.
  • Tidak membangga-banggakan jabatan, pangkat atau kedudukan di hadapan orang lain.
  • Tidak ngobrol ketika guru, dosen atau ustadz sedang memberikan pelajaran atau tausiyyah.
  • Bisa menempatkan diri dengan semestinya di hadapan orang yang lebih senior baik secara usia ataupun kedudukan di suatu komunitas, lembaga, instansi atau apapun.
  • Tidak menyerobot antrian.
  • Menunjuk-nunjuk jari telunjuk ke wajah orang yang tidak sependapat dengannya.

Contoh terkait fisik:

  • Tidak bermudah-mudahan menghukum murid pada fisiknya. Karena hal itu bisa menyakitkan.
  • Suka menonjok kepala atau badan orang lain karena suatu perselisihan.

b. بذل الندى   (mengerahkan segenap potensi atau suatu kelebihan tertentu untuk kemaslahatan orang lain)

Kita harus mengupayakan untuk mengerahkan potensi atau suatu kelebihan apapun yang kita miliki untuk kemaslahatan orang lain, baik yang terkait dengan harta, waktu, tenaga, pemikiran, kedudukan dan lain-lain.

Contoh terkait dengan harta:

  • Peduli anak yatim, orang miskin, janda-janda lemah.
  • Peduli kebutuhan masyarakat sekitar.
  • Membantu orang-orang yang terkena musibah banjir, longsor, gempa bumi dan lain-lain.
  • Mempersilahkan kendaraannya jika dibutuhkan untuk urusan-urusan sosial.
  • Suka menjadi donatur untuk kepentingan-kepentingan keagamaan dan umum.
  • Tidak merasa keberatan jika barang-barang yang dimilikinya dipinjam orang lain untuk suatu keperluan.

Contoh terkait dengan waktu:

  • Senantiasa meluangkan waktu ketika diundang ke suatu acara yang tidak ada maksiatnya.
  • Senantiasa meluangkan waktu untuk masyarakat sekitarnya apalagi untuk keluarga dan ayah ibunya.
  • Suka meluangkan waktu untuk urusan-urusan sosial.

Contoh terkait dengan tenaga:

  • Ringan tangan ketika ada orang yang memerluan bantuan tenaga.
  • Peka dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya sehingga mudah untuk diajak kerja bakti dan lainnya.

Contoh terkait dengan pemikiran:

  • Tidak pelit untuk memberikan suatu pandangan, pendapat atau usulan yang memang dibutuhkan.
  • Tidak keberatan untuk melakukan studi komparasi yang diperlukan untuk peningkatan kualitas dan lainnya.

Contoh terkait dengan kedudukan:

Kebaikan-kebaikan ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang terpandang atau memiliki suatu jabatan.

  • Seseorang yang suaranya didengar oleh Pak lurah tergerakkan hatinya untuk menyampaikan kepada pak lurah agar melakukan ini dan itu yang dibutuhkan oleh masyarakat.
  • Seseorang yang memiliki kedekatan dengan suatu kepanitiaan sosial tergerakkan hatinya untuk menyampaikan kepada kepanitiaan tersebut agar orang-orang sepuh didahulukan sehingga tidak mengantri berkepanjangan.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Orang shaleh belumlah shaleh https://nidaulfithrah.com/orang-shaleh-belumlah-shaleh/ https://nidaulfithrah.com/orang-shaleh-belumlah-shaleh/#respond Tue, 19 Sep 2023 08:13:02 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17855 “Orang shaleh belumlah shaleh” maksudnya adalah sekedar menjadi orang shalih itu belum cukup, tetapi juga harus menjadi mushlih (memperbaiki). Inilah yang diperintahkan oleh syariat, agar setiap orang menjadi shalih dan mushlih. Artinya, setelah seseorang mengupayakan dirinya menjadi sebaik-baiknya muslim, dia juga harus memperhatikan kondisi muslim lainnya yang belum baik agar sama-sama menjadi orang baik. Tentunya, menjadi orang baik di dalam semua aspek. Isyarat semacam ini ditunjukkan oleh banyak nash (ayat dan hadits Nabi). Di antaranya adalah ‘ wa tawaashow bil haqq wa tawaashow bish shobri ‘ ( perintah saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran), ‘ idza ro-aa minkum munkaron fal yughoyyirhu ‘ ( perintah mengubah kondisi kemungkaran). Dan juga firman Allah ﷻ tentang ucapan Nabi Syu’aib:

إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ (هود:88)

“Tidaklah aku menghendaki kecuali melakukan perbaikan sesuai kemampuanku” (QS. Huud: 88)

Kita yang terus berupaya untuk menjadi orang shaleh, jangan sampai lupa untuk juga menjadi mushlih dengan segala kemampuan dan kelebihan yang kita miliki baik tenaga,  harta, kesempatan, jabatan, kedudukan, popularitas, ilmu, dan lain-lain. Jangan lewatkan begitu saja semua potensi ini, karena orang kafir terus mengintai kelengahan kita. Seorang komandan di sebuah instansi militer yang saya mengenalnya, dia mengadakan kajian rutin mingguan dan mewajibkan semua prajuritnya yang berjumlah sekitar 200 orang untuk mengikutinya. Inilah contoh menjadi mushlih dengan jabatan. Jangan sampai kalah, orang kafir ketika menjadi pejabat pasti dia akan gunakan sebaik-baiknya untuk menyerang Islam, dengan program-programnya yang membuat marah kaum muslimin, seperti penghancuran masjid, mendirikan lokalisasi prostitusi, melarang berqurban di sekolah-sekolah dan lain-lain.

Seorang kawan datang ke YNF, dia mengatakan agar kalau ada program-program dakwah dan sosial yang membutuhkan kendaraan maka dia siap dengan kendaraannya. Inilah contoh menjadi mushlih dengan hartanya. Lakukanlah dengan potensi apapun demi menjadi mushlih setelah dirinya menjadi orang shalih.

Lihatlah hikmah dari pernikahan Nabi ﷺ . Beliau menikahi Ummu Salamah, kerabat Khalid bin Walid. Akibatnya Khalid tidak lagi bersikap keras terhadap kaum muslimin sebagaimana sikap kerasnya dalam perang Uhud, bahkan tidak lama setelah itu dia masuk Islam dengan suka rela. Beliau menikahi Ummu Habibah, putri Abu Sufyan. Setelah itu Abu Sufyan tidak pernah menghadapi Rasulullah ﷺ  dalam peperangan apapun. Begitu juga terror dan permusuhan dari dua kabilah Bani Mushthaliq dan Bani An-Nadhir tidak pernah kaum muslimin dapati lagi setelah Nabi ﷺ menikahi Juwariyyah dan Shafiyyah. Beliau melakukan ini semua, memang, adat kebiasaan orang Arab memandang bahwa ikatan perkawinan merupakan salah satu pintu untuk mengakrabkan kabilah-kabilah yang berbeda-beda. Dan mereka juga memandang bahwa memusuhi dan memerangi orang-orang yang ada dalam ikatan perkawinan adalah aib dan tercela.

                Untuk mewujudkan kebaikan bagi kaum muslimin dalam semua aspek, sangat dibutuhkan kerjasama dan tolong-menolong sesama mereka. Allah ﷻ berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى [المائدة: 2]

“Dan saling tolong menolonglah kalian dalam birr (kebaikan) dan taqwa” (Qs. Al-Maidah:2).

Apa yang dimaksud dengan birr dan taqwa? Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa birr dan taqwa jika disebutkan secara berbarengan maka memiliki arti sendiri-sendiri. Birr maknanya mengerjakan semua perintah Allah, sementara taqwa maknanya meninggalkan semua larangan Allah. Tetapi jika disebutkan secara sendiri-sendiri maka maknanya berbarengan. Ketika disebutkan birr secara tersendiri maka makna taqwa masuk di dalamnya. Demikian pula ketika disebutkan taqwa secara tersendiri maka makna birr masuk di dalamnya. Jelaslah, ini menunjukkan bahwa kaum muslimin harus bekerja sama (ta’awun) dalam semua aspek untuk meraih kemuliaan (‘izzah) ummat di dunia dan di Akherat.

                Lihatlah hikmah dari pernikahan Nabi ﷺ dan empat Sahabat Khulafaurrasyidin. Beliau ﷺ menikahi Aisyah (putri Abu Bakar) dan Hafshof (putri Umar bin Khottob). Beliau ﷺ menikahkan dua  putrinya, Ruqoyyah kemudian Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan. Beliau ﷺ juga menikahkan putrinya yang bernama Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib. Apa hikmahnya? Syaikh Shofiyurrahman al-Mubarokfuri di dalam kitabnya ar-Rohiqul Makhtum, menyebutkan bahwa beliau ﷺ ingin memperkuat hubungan beliau dengan keempat orang sahabat yang terkenal dengan perjuangan dan pengorbanan mereka untuk Islam pada masa-masa berat perjalanan dakwah Islam. Inilah contoh ta’awun di dalam al-birr demi izzatul Islam wal muslimin.

                Kita harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu kaum muslimin harus bekerjasama untuk merajut semua kelebihan dan menutupi semua kekurangan sehingga lahirlah sebuah kekuatan besar bagi pemberdayaan ummat dalam berbagai aspek. Bisakah seorang da’i menyampaikan ceramah beramar ma’ruf nahi munkar di suatu instansi yang tidak mengenalnya? Tidak mungkin. Dalam hal ini, dia memiliki kelebihan berupa ilmu syariat tetapi memiliki kelemahan dari sisi akses untuk masuk ke instansi  tersebut. Apa yang dibutuhkan? Yang dibutuhkan adalah mediator yang bisa menjembataninya.

                Pernahkan Anda blusukan ke daerah-daerah miskin dan minus pendidikan? Penduduknya, meskipun sudah dewasa dan berusia senja tetapi banyak sekali yang tidak shalat dan tidak bisa membaca al-Qur’an. Apa lagi anak-anaknya. Melihat kondisi yang demikian, seharusnya sebagai orang Islam haruslah risau dan tersentuh hatinya. Jika Anda mengatakan, “Hati saya terpanggil tapi tidak ada kemampuan untuk berceramah?” Jika Anda mengatakan, “Saya bisa berceramah tapi tidak punya anggaran untuk transportasi ke sana?” Jika Anda mengatakan, “Saya punya dana untuk transportasi tetapi sangat sibuk dengan bisnis saya”. Jika Anda mengatakan, “Sebagian keuangan saya, saya alokasikan untuk beasiswa, tapi tidak ada yang mengantarkannya ke sana”. Kalau masing-masing dibiarkan dengan kekurangannya, niscaya proyek ukhrowi ini tidak akan terwujud. Akhirnya daerah minus tersebut selama-lamanya terbelakang dan tidak mengenal Islam, agamanya sendiri. Terus apa solusinya. Solusinya adalah bekerjasamalah di antara Anda!! Himpunlah kekuatan; Rekrutlah siapa yang bisa berceramah dan mengajar? Siapa bagian yang mengumpulkan dana? Siapa donatur tetapnya? Kalau memang memungkinkan, sediakanlah rumah di daerah minus tersebut untuk da’i dan keluarganya tentu sekaligus dengan kesejahteraannya sehingga dia bisa mengajar setiap saat. 

                Ketahuilah, permasalahan ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan justru banyak  melanda kaum muslimin di pedesaan. Selama ini dakwah  hanya terpusat di kota-kota besar. Akhirnya mereka menjadi sasaran empuk syiahisasi dan kristenisasi. Mereka pun banyak yang murtad. Saya mendapatkan info dari seorang teman bahwa di suatu desa di Jawa Timur awalnya jumlah muslim 100% sekarang hanya 40%. Bahkan di suatu desa di Jawa Tengah awalnya jumlah muslim 100% sekarang hampir semuanya telah murtad. Teman saya bercerita bahwa dia mendatangi seseorang yang dikenal sebagai juru kebersihan masjid. Penampilannya masih seperti yang dulu memakai sarung dan peci, tetapi sudah bukan sebagai muslim lagi. Dia mengatakan kepada teman saya, “Mas, sekarang saya masuk Kristen, sama-sama ibadah kepada tuhan kan, Mas”. Dan memang, kata teman saya, gereja yang dibangun di desa itu menyerupai masjid, memakai karpet bukan kursi.  Laa haula wa laa quwwata illa billah. Saya juga mendapatkan informasi dari seorang Ibu bahwa di suatu desa di Bengkulu, mereka semuanya telah berpindah agama dari Islam ke syiah. Nama jalan-jalannya juga diubah dengan term-term syiah; jalan Husain, jalan Karbala dan lain-lain. Dan dalam waktu tertentu mereka saling berbagi makanan dengan mengatakan, “ ini slametan untuk sayyidina Husain”. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Lihatlah ta’awun ‘alal birr wat taqwa yang dilakukan antara Muhammad bin Abdul Wahhab (seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Muhammad bin Sa’ud (seorang penguasa wilayah Dir’iyyah) sekitar tahun 1100 H/ 1700 M. Kerjasama keduanya ulama dan umara ini telah menghasilkan sesuatu yang sangat besar yaitu berdirinya Kerajaan Arab Saudi yang berdasarkan syariat Islam yang bisa dirasakan hingga saat ini.

                Lihatlah ta’awun ‘alal birri wat taqwa antara pemkot Surabaya dengan para tokoh agama dan masyarakat Surabaya yang telah membuahkan sesuatu yang luar biasa yaitu ditutupnya lokalisasi prostitusi Dolly pada tanggal 19 Juni 2014 / 2 Rajab 1435 H. Sebelumnya telah dilakukan hal yang sama yaitu ditutupnya lokalisasi prostitusi Kramat Tunggak yang menampung 1615 WTS dengan 277 unit bangunan di  kelurahan Tugu Utara Kecamatan Koja Jakarta Utara pada tanggal 31 Desember 1999. Lokalisasi ini telah berubah wajah menjadi Jakarta Islamic Center. Sekali lagi,  ini adalah hasil ta’awun antara beberapa elemen; pemerintah, para ustadz dan masyarakat.

                Nabi ﷺ mensugesti kita dengan sabdanya:

عن زَيْد بْنُ خَالِدٍ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا ، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا (رواه البخاري و مسلم)

“Dari Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa yang menyediakan bekal bagi orang yang berperang di jalan Allah berarti dia telah ikut berperang. Dan barangsiapa yang memberikan nafkah kepada keluarga orang yang berperang dengan kebaikan, berarti dia telah berperang(HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعَثَ بَعْثًا إِلَى بَنِى لِحْيَانَ – مِنْ هُذَيْلٍ – فَقَالَ « لِيَنْبَعِثْ مِنْ كُلِّ رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا وَالأَجْرُ بَيْنَهُمَا (رواه مسلم)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ mengirim utusan kepada Bani Lihyan dan Suku Hudzail, lalu beliau bersabda: Hendaklah ada seseorang dari setiap dua orang (untuk berangkat dan yang lainnya menetap) dan pahalanya dibagi untuk keduanya(HR. Muslim) 

Semoga kita termotivasi untuk menjadi mushlih setelah mengupayakan menjadi orang  shaleh dengan ber – ta’awun ‘alal birri wat taqwa.

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Juni, 2015 Edisi 36

]]>
https://nidaulfithrah.com/orang-shaleh-belumlah-shaleh/feed/ 0
Buta Yang Tidak Buta https://nidaulfithrah.com/buta-yang-tidak-buta/ https://nidaulfithrah.com/buta-yang-tidak-buta/#respond Tue, 19 Sep 2023 06:24:19 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17846 Ingatkah Anda tentang sosok Abdullah bin Ummi Maktum? Dia adalah seorang sahabat nabi yang buta matanya, tetapi tidak demikian hatinya. Allah ‘azza wa jalla telah menggantikan kebutaan matanya dengan cahaya pandangan di hatinya. Dia menjadi sandaran para Sahabat tentang masuknya waktu Shubuh. Juga pada bulan Ramadhan menjadi sandaran mereka tentang waktu sahur.

Rasulullah bersabda, “Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan” (HR. Bukhari). Dia juga dipercaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menggantikan beliau menjadi imam shalat ketika beliau pergi berperang. Koq…bisa demikian padahal dia seorang yang buta? Buta mata bukanlah penghalang. Cahaya pandangan di hatinya telah menghantarkannya menjadi orang yang istiqomah. Adakah kita yang mengikuti jejaknya? Dia seorang yang buta tapi bisa istiqomah.

Lalu bagaimana dengan kita yang sehat alias normal fisik? Maukah kita disebutkan “Melek yang buta?” Allahu al-Musta’an.

Para ulama menyatakan Istiqomah itu termasuk karomah. Karomah adalah mukjizat. Bedanya kalau mukjizat terjadi pada nabi-nabi, kalau karomah terjadi pada wali-wali Allah. Para sahabat tentunya para wali Allah, karena mereka adalah orang-orang shaleh dengan tingkat keshalehan yang sangat tinggi. Namun, apakah karomah tampak pada setiap diri mereka. Tidak. Karomah hanya tampak pada sebagian mereka saja. Tapi secara umum istiqomah ada pada mereka semuanya. Sebagai contoh: Para sahabat menghatamkan al-Qur’an dalam tujuh hari yang paling cepat tiga hari, Abu Hurairah senantiasa shalat witir sebelum tidur demikian pula Abu Bakar, karena mengkhawatirkan tidak bisa bangun malam. Jabir bin Abdullah selalu ikut perang bersama nabi, kecuali dalam perang Uhud, setelah ayahnya wafat ia selalu ikut perang bersama nabi.

Abdullah bin Amr bin al- Ash gemar berpuasa hingga akhirnya nabi menegur bahwa puasa sunnah yang paling afdhal adalah puasa Daud. Utsman bin Affan gemar bershadaqoh bahkan ada wakafnya yang sampai sekarang dimanfaatkan dan menghasilkan keuangan yang sangat besar bagi kaum muslimin yaitu sumur Raumah di Madinah yang dibeli dari orang Yahudi.

Uways al-Qorni (seseorang yang hidup pada zaman nabi tetapi belum sempat bertemu beliau) beristiqomah dalam merawat ibunya hingga meninggal dunia. Itulah sekilas tentang para sahabat yang tidak diragukan lagi keistiqomahan nya. Jangankan mereka, generasi yang mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah, padahal manusia yang hidup sekarang saja ketika saya bersama beliau selama 18 bulan, melihat tindak-tanduk dan keputusannya saya selalu membayangkan zaman sahabat.

Betapa beliau dalam pandangan dan kesan saya sebagai orang yang sangat istiqomah dalam kebaikan. Beliau adalah Petta Lanre Sa’id yang pernah saya kisahkan pada rubrik kisah dengan judul “Tangan Lembut Sang Petta” edisi XII Rajab 1434 H/Juni 2013.

Beliau mengasuh pesantren selama 25 tahun (tahun 1999, ketika saya di sana) dengan santri 400 orang. Tapi semuanya digratiskan mulai dari kebutuhan harian; makan dan minum, buku-buku pelajaran, mushaf al-Qur’an, SPP sekolah, berobat di rumah sakit dan lain-lain. Padahal beliau sendiri bukan orang berpunya dan harus menafkahi anak istrinya.

Beliau rela memperjuangkan pembangunan pesantren dengan bangunan-bangunan modern yang kokoh (baca: bangunan dari batu) sementara rumah beliau sendiri terbuat dari kayu dengan atap daun rumbia. Kalau hujan deras, bocor di sana-sini. Kalau angin kencang, atap-atap berterbangan. Rata-Rata pengeluaran per bulan 16 juta rupiah.

Keuangan memang didapatkan dari para donatur, tetapi bukan berarti jalannya mulus tanpa kendala. Sering sekali beras dan lauk pauk kehabisan sehingga santri seharian tidak makan dan baru makan jam 9 malam. Tapi hal itu tidak menjadikan beliau putus asa yang akhirnya membubarkan pesantren.

Beliau sering sekali pontang panting mencari pinjaman uang dan beras demi santri-santrinya. Suatu ketika beliau kedatangan tamu konglomerat tersohor untuk bertanya-tanya tentang kondisi pesantren. Dia pun meniru dengan mendiri kan pesantren gratis. Tapi, hanya berjalan sekitar tiga bulan. Kenapa? Allahu A’lam, yang jelas letak permasalahannya ada pada “istiqomah”.

Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): “Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian bersedih hati, dan bergembiralah dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan untuk kalian. Kami (para malaikat) adalah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan Akherat, di dalamnya (Surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh apa yang kalian minta. Sebagai penghormatan (bagi kalian) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Qs. Fush- ilat: 30-32)

Maksud ayat di atas adalah orang yang berikrar bahwa Tuhannya adalah Allah lalu beristiqomah dengan semua konsekwensi-konsekwensinya maka malaikat secara bergantian akan turun kepadanya ketika dia dalam keadaan gelisah, takut, dan keadaan-keadaan lain yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan.

Mereka mengatakan kepadanya “jangan takut dan jangan bersedih” terlebih ketika sedang sakaratul maut. Malaikat akan mengatakan “janganlah takut terhadap apa yang akan engkau hadapi dan janganlah bersedih atas kenikmatan-kenikmatan duniawi yang tidak kalian dapatkan, bergembiralah dengan Surga sebagai gantinya yang telah dijanjikan untuk kalian”.

Para malaikat juga menjadi penolong dan pelindung orang-orang yang istiqomah ketika di dunia, dengan menguatkan dan membantu mereka. Demikian pula ketika di Akherat, para malaikat akan menyambut mereka dengan mengatakan: “Inilah hari yang telah dijanjikan kepada kalian, dan apa saja yang kalian inginkan pasti terpenuhi tak ada yang terlewatkan dan keberadaannya di dalam Surga tanpa batas usia. Semuanya itu adalah perjamuan dari Allah ‘azza wa jalla untuk kalian”. Subhanallah.

Di antara upaya untuk bisa istiqomah adalah tidak berlebih-lebihan di dalam suatu amalan agar tidak merasa terpaksa, kelelahan yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan yang akhirnya bisa meninggalkan amalan tersebut.

Berbuatlah secara sederhana (tidak berlebih-lebihan juga tidak meremehkan) sehingga bisa menikmatinya di dalam menjalan- kannya, inilah yang bisa menjadikannya istiqomah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang berkelanjutan (terus-menerus) meskipun sedikit(HR. Bukhari dan Muslim).

Tetapkanlah amalan yang mungkin di istiqomahi yang sifatnya harian, contoh: shalat sunnah rawatib 10 atau 12 rakaat, disebutkan dalam hadits nabi: “Tidaklah seorang hamba muslim shalat sunnah 12 rakaat setiap hari karena Allah, selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga(HR. Muslim), berinfaq setiap kali memu- lai aktivitas, “Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir” (HR. Bukhari dan Muslim), membaca al-Qur’an satu halaman, menuntun anak menghapal 1 ayat al-Qur’an. Yang sifatnya mingguan, contoh: membaca surat al- Kahfi di hari Jum’at, berinfak setiap kali berangkat shalat jum’at, mengi- kuti kajian tafsir. Yang sifatnya bulanan, contoh: mengunjungi orang muslim yang sakit di rumah sakit-rumah sakit, mengunjungi panti asuhan, mentraktir anak-anak dhuafa, berinfaq di YNF dan lain-lain.

Janganlah berhenti dari keistiqomahan. Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali(An-Nahl: 92). Nabi menegur seorang sahabat, Abdullah bin Amr bin al-Ash untuk selalu is- tiqomah:

“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia mening- galkannya(HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu alaihi wa sallam senantiasa memotivasi ummatnya untuk istiqomah di atas kebaikan, untuk tujuan itu beliau memerintahkan agar beberapa amalan yang bisa diqodho (baca: diganti) maka diqodho. Beliau bersabda: “Barangsiapa tertidur di malam hari dan tidak mengerjakan suatu ibadah yang dibiasakan pada dirinya, atau tidak membaca beberapa bacaan darinya, lalu dia membacanya pada waktu antara shalat shubuh dan shalat dzuhur, maka ditetapkan baginya seakan-akan dia membacanya pada waktu malam(HR. Muslim).

Beliau bersabda: “Barangsiapa yang tertidur tidak melakukan shalat witir atau lupa belum melakukannya, maka hendaklah ia shalat witir di waktu shubuh atau ketika ia ingat”. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Tentang hadits ini Syaikh Abdullah Albassam menjelaskan dalam kitab Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram bahwa orang yang tertidur sehingga bangunnya sudah memasuki waktu shubuh maka waktu shalat witirnya ketika bangun itu. Juga orang yang lupa belum witir sementara waktunya sudah habis atau sudah memasuki waktu shubuh maka waktu witirnya itu ketika ia ingat meskipun waktu shalat witir sudah berlalu. Aisyah radhiyallahu ‘anha memberitakan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa jika beliau tidak mengerjakan shalat pada suatu malam karena sakit atau alasan lainnya, maka beliau mengerjakan shalat 12 rakaat pada siang harinya” (HR. Muslim). Sekali lagi nash-nash di atas memotivasi kita untuk meng-istiqomah-I amalan-amalan yang sudah kita biasakan melakukannya. Allahu Alam

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Oktober, 2014 Edisi 28

]]>
https://nidaulfithrah.com/buta-yang-tidak-buta/feed/ 0
Kembali Kepada Fithrah https://nidaulfithrah.com/kembali-kepada-fithrah/ https://nidaulfithrah.com/kembali-kepada-fithrah/#respond Tue, 19 Sep 2023 02:08:55 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17832 Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat Islam kepada kita sehingga kita bisa berislam sejak kita lahir, sementara banyak juga orang yang tidak tahu cara untuk mencari Islam dan tidak punya hasrat untuk belajar Islam, atau bahkan benci setengah mati dengan Islam.

Mengapa kita perlu bersyukur? Karena Islam adalah fithrah kita. Sejak kita di dalam kandangan ibu, hingga kita lahir, kita sudah beragama Islam. Jadi Islam adalah fithrah kita semenjak lahir. Mengikuti Islam, berarti kita mengikuti fithrah kita. Menolak Islam, berarti kita menolak fithrah kita.

Padahal fithrah adalah kondisi di mana seluruh komponen tubuh jasmani maupun rohani kita suci dari kotoran apapun, fisik maupun nonfisik. Mengikuti Islam, diri kita akan suci, berbanding lurus dengan seberapa jauh tingkat pengamalan kita terhadap ajaran-ajaran Islam.

Alhamdulillah, majalah Fithrah edisi perdana dapat hadir di hadapan Anda. Semoga kehadiran edisi perdana ini mampu menginspirasi kita untuk meningkatkan keislaman kita. Dan semoga edisi perdana ini menjadi awal yang baik bagi terjalinnya hubungan antara kami, Yayasan Nida’ul Fithrah dengan para donatur, juga para penerima infaq. Kami sadar banyak sekali kekurangan di edisi perdana ini, karena kami masih mencari format yang terbaik. Semoga ke depan semakin baik.

Tepat sekali redaksi Majalah DONATUR (MD) Fithrah mengawali edisi perdananya dengan tajuk “Kembali Kepada Fithrah” karena di samping memasyarakatkan kembali nama Yayasan Nida’ul Fithrah (YNF) juga menjadi semacam panduan bagi MD Fithrah ini menapaki edisi-edisi ke depan yang semoga sebagaimana namanya senantiasa berada di atas fithrah dan seruan utamanya juga fithrah.

Secara pribadi, kami merasa sangat senang dengan hadirnya MD Fithrahini. Kami menaruh harapan besar kepada MD Fithrah semoga mampu menjadi media komunikasi segitiga, antara donator dengan penerima donasi dan dengan kami, YNF.

Insya Allah, MD Fithrah akan menginspirasi para pembaca untuk meningkatkan simpati kepada Islam dan kaum muslimin untuk bersama-sama kembali kepada fithrah, yaitu tauhid dan sunnah. MD Fithrah disusun atas pertimbangan kondisi global sehingga insya Allah MD Fithrah akan dapat mengkafer semua kalangan dan semua lini.

Mengawali majalah ini, kami ingin menyampaikan jazakumullahu khairan katsiran kepada semua pihak yang telah ikut andil mulai proses persiapan hingga penyebaran. Kami juga ingin meminta dukungan dari semua pihak. Kami tak lupa mengucapkan syukran kepada para donator. Terakhir, kami mewakili dewan redaksi meminta maaf atas kekurangan di sana-sini. Kami mengundang partisipasi pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang konstruktif.

Islam adalah Fithrah kita. Kita lahir dalam keadaan Islam. Kembali kepada fithrah, berarti kembali kepada Islam.

Allah berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ للدِّينِ حَنِيفًا فِطرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تبديل لخلق الله ذلك الدِّينُ الْقَيِّمُ ولَكنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah), (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan atas fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS. Ar-Rum (30): 30]

Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama.

Kata agama bermakna din al-Islâm. Hanif, maknanya cenderung pada jalan lurus yaitu jalan kebenaran dan meninggalkan jalan-jalan kesesatan. Penggalan firman Allah ini memberikan faedah, setiap yang mengikrarkan diri sebagai muslim wajib untuk menghadapkan wajah pada Islam dengan pandangan lurus; tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, tidak condong pada agama-agama lain yang batil dan menyimpang, tidak boleh mengikuti Nashrani, Yahudi, Hindu, Budha, Konghuchu, Shinto, Baha’i, Syiah, Zoroaster, dan sebagainya, tidak boleh pula mencampurkan Islam dengan agama-agama lainnya. Penggalan firman Allah ini menyeru setiap muslim untuk sepenuhnya hanya menerima Islam dan menolak agama lain, sedikit pun tidak terpengaruh oleh agama lain.

Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.

Fithrah berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan ath-thabi’ah (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah pada manusia. Kata fithrah Allah berarti kecenderungan dan kerelaan manusia untuk menganut agama yang haq. Allah menciptakan manusia dengna fithrah untuk cenderung pada tauhid dan din al-Islâm sehingga manusia tidak bisa menolak dan mengingkarinya. Bisa pula dimaknai dengan Islam dan Tauhid. Ditafsirkannya kata fithrah dengan Islam karena untuk fithrah itulah manusia diciptakan.

Allah berfirman,”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (kepada-Ku semata).” [QS. Adz-Dzariyat (51):56]

Kata fithrah Allah berkedudukan sebagai maf’ûl bih (obyek) dari fi’il (kata kerja) yang tersembunyi, yaitu ilzamů (tetaplah) atau ittabi’ü (ikutilah). Dengan kata lain, manusia diperintahkan untuk mengikuti fithrah Allah. Maka fithrah yang dimaksudkan tentu tidak cukup hanya sebatas keyakinan fithri (naluri suci) tentang ketuhanan atau kecenderungan pada tauhid. Fithrah di sini harus diartikan sebagai akidah tauhid atau din al-Islam itu sendiri. Ini sama seperti firman Allah, “Tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah taubat beserta kamu.” [QS. Hud (11): 112]

Tidak ada perubahan atas fithrah Allah.

Ibnu Abbas, Ibrahim an-Nakha’i, Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahak, dan Ibnu Zaid, semuanya berpandangan, li khalqillah maksudnya adalah li dînillâh. Karena kata fithrah sepadan dengan kata al-khilqah.

Allah menetapkan, tidak ada perubahan bagi agama Islam yang diciptakan-Nya untuk manusia. Maka tidak ada satupun manusia yang berhak mengubah agama-Nya atau menggantikannya dengan agama lain. Menurut sebagian mufassir, sekalipun berbentuk khabar nafi (berita yang menafikan), kalimat ini memberikan makna thalab nahi (tuntutan untuk meninggalkan). Jadi, penggalan ayat tersebut maknanya, “Janganlah kamu mengubah ciptaan Allah dan agamanya dengan kemusyrikan; janganlah mengubah fithrahmu yang asli dengan mengikuti syaithan dan jalan-jalan yang dibuat oleh syaithan untuk menuju kesesatan; dan kembalilah pada agama fithrah, yakni agama Islam.”

Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Kata al-qayyum merupakan bentuk mubalaghah dari kata al-qiyâm (lurus). Allah Swt. menegaskan, perintah untuk mengikuti agama tauhid dan berpegang teguh pada syariah dan fitrah yang sehat itu adalah agama yang lurus; tidak ada kebengkokan dan penyimpangan di dalamnya.

Dari sini, kita mengambil pelajaran, jika seorang anak manusia mau jujur mendengarkan kata fithrah, seharusnya tidak ada akan ada rasa keberatan sama sekali untuk memeluk dan mengamalkan Islam. Sebaliknya, dia akan merasa berat dan susah ketika harus keluar dari Islam atau meninggalkannya. Para mufassir menafsirkan kata fithrah Allâh dengan kecenderungan pada akidah tauhid dan Islam, bahkan Islam itu sendiri. Selain ayat ini, kesesuaian Islam dengan fitrah manusia juga dapat terlihat pada beberapa fakta berikut:

Pertama: adanya gharizah at-tadayyun (naluri beragama) pada diri setiap manusia. Bagaimanapun keadaan manusia, ketika ia mendengarkan nuraninya, pasti ia mengakui kelemahan dirinya. Ia akan selalu merasa membutuhkan sesuatu yang bisa membantunya dalam hidup ini yang itu bukan sesuatu yang biasa, melainkan sesuatu yang agung, mulia, tinggi, besar, yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan.

Kedua: dengan akal yang diberikan Allah pada setiap manusia, ia mampu memastikan adanya Tuhan, Pencipta alam semesta dan segala sesuatu. Sebab, keberadaan alam semesta yang lemah, terbatas, serba kurang, dan saling membutuhkan pasti merupakan sesuatu yang diciptakan. Hal itu memastikan adanya al-Khaliq yang menciptakannya.

Lebih jauh, akal manusia juga mampu memilah dan memilih agama yang benar. Agama batil akan dengan mudah diketahui dan dibantah oleh akal manusia. Sebaliknya, argumentasi agama yang haq pasti tak terbantahkan.

Jadi, secara fithrah manusia membutuhkan sebuah agama yang haq, agama yang menenteramkan perasaan sekaligus memuaskan akal. Islamlah satu-satunya yang haq. Islam dapat memenuhi dahaga naluri beragama manusia dengan benar sehingga menenteramkannya. Islam juga memuaskan akalnya dengan argumentasi-argumentasinya yang kokoh dan tak terbantahkan.

Dengan demikian, Islam benar-benar sesuai dengan fithrah dan tabiat manusia. Karena begitu sesuainya, An-Nasafi dan Az-Zamakhsyari menyatakan, “Seandainya seseorang meninggalkan Islam, mereka tidak akan bisa memilih selain Islam menjadi agamanya.” [/B]

Allah berfirman, “Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [Al-An’am: 125] Lihat juga Az- Zumar ayat 22.

Orang yang tidak mendapat hidayah akan senantiasa berada dalam kegelapan dan kerugian. Bagaimana jika seandainya seseorang tidak diberi hidayah oleh Allah? Maka pasti ia menderita dalam kekafirannya, hidupnya sengsara dan tidak tenteram, serta di akhirat akan disiksa dengan siksaan yang abadi. [Lihat surat Ali ‘Imran ayat 91 dan al-Maidah ayat 36-37]

Allah menunjuki hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang melalui Rasul-Nya. Kewajiban kita adalah mengikuti, meneladani dan mentaati Rasulullah dalam segala perilaku kehidupan kita, jika kita menginginkan hidup di bawah cahaya Islam.

Allah menyatakan bahwa Dia telah memberikan karunia yang besar dengan diutusnya Nabi dan Rasul-Nya. Simak Ali ‘Imran ayat 164.

Setiap muslim niscaya meyakini bahwasanya karunia Allah yang terbesar di dunia ini adalah agama Islam. Seorang muslim akan senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah memberinya petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagai karunia-Nya yang terbesar yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya. Allah berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [Al-Maidah: 3]

Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah dengan cara melaksanakan kewajiban terhadap- Nya. Setiap muslim wajib bersyukur atas nikmat Islam yang telah diberikan Allah kepadanya. Jika seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, maka ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Demikian juga jika manusia tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah Azza wa Jalla, maka dia adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih. Renungi Al-Baqarah ayat 152.

Kewajiban apakah yang harus kita laksanakan kepada Allah yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita? Jawabannya, karena Allah telah memberikan karunia-Nya kepada kita dengan petunjuk ke dalam Islam, maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan beribadah hanya kepada Allah secara ikhlas mentauhidkan Allah menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang dengan hal itu kita menjadi muslim yang benar.

Oleh karena itu, agar menjadi seorang muslim yang benar, kita harus menuntut ilmu syar’i. Kita harus belajar agama Islam karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah diutus oleh Allah dengan membawa keduanya. Allah berfirman, “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur-an} dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” [At-Taubah: 33] Juga lihat Al-Fat-h ayat 28 dan Ash-Shaff ayat 9. Lebih dari itu, seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa memahami dan mengamalkannya.

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Juli, 2012 Edisi 1

]]>
https://nidaulfithrah.com/kembali-kepada-fithrah/feed/ 0
BENARKAH ANDA MENCINTAI ALLAH?! https://nidaulfithrah.com/benarkah-anda-mencintai-allah/ https://nidaulfithrah.com/benarkah-anda-mencintai-allah/#comments Fri, 02 Sep 2022 07:44:28 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16350 Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Katakanlah jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad ) niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron: 31)

Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thobari, sebab turunnya ayat ini adalah adanya suatu kaum yang mengatakan kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Muhammad, Sesungguhnya kami mencintai Tuhan kami”. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat ini bahwa mengikuti ajaran Nabi (sunnah) adalah tanda benarnya seseorang mencintai Allah.

Hal ini sangatlah mudah dipahami. Sebagai controh: seandainya ada orangtua; ayah dan ibu merasa sangat terhormat dan tersanjung jika sang anak yang mahasiswa masuk kuliah dengan sebaik-baiknya. Maka, sang anak tidaklah dikatakan mencintai ayah ibunya kecuali dengan ketentuan ini. Jika kuliahnya berantakan bahkan di DO maka dia tidak bisa dikatakan mencintai orangtuanya meskipun nama keduanya sering dipuisikan. Atau nama keduanya dilukis dengan kaligrafi indah lalu dipajang dan sering dilihatnya. Seandainya dipaksakan untuk disebut cinta, maka tidak lain adalah cinta semu bukan cinta sejati.

Demikian pula, jika seseorang merasa mencintai Allah dengan sering menyebut-nyebut nama-Nya, tetapi tidak mengindahkan ketetuanNya yaitu sunnah Nabi di mana syariat-Nya terkandung di dalamnya, maka dia bukanlah orang yang mencintai Allah.

Cinta bukanlah lipstick pernyataan membela tanpa dibarengi bukti.

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/benarkah-anda-mencintai-allah/feed/ 6
REBUTAN BERFATWA? https://nidaulfithrah.com/rebutan-berfatwa/ https://nidaulfithrah.com/rebutan-berfatwa/#comments Fri, 02 Sep 2022 03:13:54 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16339 Penanya: Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh ustad. Saya Mahasiswa dari universitas swasta di surabaya. Saya ingin bertanya mengenai fatwa yang satu ini. Sufyan ats- Tsaury rahimahullah berkata:

Siapa yang senang ditanya maka dia bukan orang yang layak untuk ditanya.

Apa makna dari fatwa ini ustad, mohon penjelasanya? (dari mahasiswa di Surabaya)

Saya: Wa alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Saya mengecek ucapan ini di dalam Maktabah Syamilah, dan saya menjumpainya sebagai ucapan Bisyr bin Al-Harits (murid Fudhail bin ‘Iyadh dan Ibnu Mubarok). Maksud ucapan ini yaitu bahwa di antara adab seseorang dalam berfatwa adalah ia bersikap wara’ dari berfatwa. Ia lebih senang jika ada orang lain yang berfatwa, jangan dirinya. Dengan adab ini jangankan berharap, justru seseorang akan takut kalau dirinya dijadikan sandaran dalam berbagai permasalahan atau pertanyaan. Dan, inilah adab para Sahabat Nabi dan para ulama generasi berikutnya. Ketika ada suatu permasalahan mereka berharap agar orang lain saja yang menjawab. Kita bisa melihat beberapa atsar berikut ini yang saya nukilkan dari tulisan Prof. Dr. Muhammad bin Husain al-Jabzany (Website Almultaqo alfiqhy):

Albaro’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya melihat 300 Sahabat Badar. Tidak seorangpun dari mereka kecuali dia suka agar orang lain saja yang berfatwa.

Ibnu Abi Laila berkata: Saya menjumpai 120 Anshor dari kalangan Sahabat Nabi. Jika seseorang ditanya suatu permasalahan, maka ia akan menyerahkan permasalahan tersebut kepada lainnya. Yang lainnya kepada yang lainnya lagi. Yang lainnya kepada yang lainnya lagi, akhirnya kembali kepada orang pertama .

Sufyan Ats-Tsauri berkata: Saya menjumpai para fuqoha. Mereka tidak suka menjawab permasalahan-permasalahan dan fatwa sehingga manusia tidak mendapati ada seorang fuqoha yang memulai berfatwa. Jika mereka menyerah (dari berfatwa), maka itulah perkara yang disukai oleh mereka.

Imam Ahmad berkata: Siapa yang mengajukan dirinya untuk berfatwa, maka dia telah mengajukan dirinya pada urusan besar, kecuali jika dia pada posisi darurat (untuk berfatwa)

Beliau ditanya: Mana yang lebih utama menjawab atau diam?

Beliau menjawab: diam lebih aku sukai

Beliau ditanya laigi: Bagaimana kalau dalam keadaan darurat?

Beliau menjawab: darurat…darurat??!!. Diam itu lebih selamat

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Suraba

]]>
https://nidaulfithrah.com/rebutan-berfatwa/feed/ 3
MUNGKINKAH ORANG BAIK MENDAPATKAN PASANGAN BURUK? https://nidaulfithrah.com/mungkinkah-orang-baik-mendapatkan-pasangan-buruk-2/ https://nidaulfithrah.com/mungkinkah-orang-baik-mendapatkan-pasangan-buruk-2/#comments Fri, 02 Sep 2022 03:12:39 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16340 Penanya: Bismillah… Ustad…ana mau Tanya. Apakah bnr utk mndaptkan suami yg sholeh dan istimewa,qt hrs mnjd sholihah dan istimewa juga. Hamba Allah

Saya: Bismillah wal hamdu lillah wash sholatu was salaamu ‘ala Rasulillah. Orang yang baik akan cenderung kepada orang yang baik. Demikian pula orang yang buruk akan cenderung kepada orang yang buruk. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah, Kami jadikan sebagian orang-orang zhalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan” (QS. Al-An’am: 129)

Disebutkan di dalam Tafsir Ath-thobari bahwa Allah menjadikan manusia di dalam berloyalitas kepada manusia yang lainnya sesuai dengan amalannya. Orang mukmin akan menunjukkan loyalnya kepada orang mukmin kapan saja, di mana saja dan bagaimanapun keadaannya. Demikian pula orang kafir akan menunjukkan loyalnya kepada orang kafir kapan saja, di mana saja dan bagaimanapun keadannya. Iman bukanlah dengan angan-angan dan bukan juga dengan bermanis-manisan (lipstick)

Jelaslah, orang baik tidak mungkin memiliki kecenderungan kepada orang yang buruk dan sebaliknya.

Orang baik selain memiliki kecenderungan kepada sesama orang yang baik, dia juga memiliki kecenderungan kepada kepada ucapan-ucapan, keputusan-keputusan, dan perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan yang baik. Oleh karena itu Allah membantah tuduhan keji orang-orang munafik yang ditujukan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha di dalam firman-ُNya,

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji. Laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji. Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk lakilaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuanperempuan yang baik. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia” (QS. An-Nur:26)

Disebutkan di dalam Tafsir Ath-Thobari,

“Dari ‘Atho, dia berkata:

الطيبات للطيبين, والطيبون للطيبات

ucapan-ucapan yang baik untuk manusia-manusia yang baik. Manusia-manusia yang baik (menjadi sasaran) ucapan- ucapan yang baik. Sedangkan ucapan-ucapan yang buruk untuk manusia-manusia yang buruk dan manusia-manusia yang buruk (menjadi sasaran) ucapan-ucapan yang buruk”

Masih di dalam Tafsir Ath-Thobari, tentang ayat ini, ada juga yang mentafsirkan:

“Ulama-ulama lainnnya mengatakan: perempuanperempuan yang buruk untuk laki-laki yang buruk, dan laki-laki yang buruk untuk perempuan-perempuan yang buruk”.

Lalu, bagaimanakah jika ada seseorang mendapatkan pasangan yang buruk. Seorang suami baik dapat istri buruk atau seorang istri baik dapat suami buruk?

Jawabannya adalah: Kemungkinan terbesar:

a. Seseorang tersebut dijodohkan oleh keluarganya, jadi bukan berdasarkan pilihannya sendiri.
b. Seseorang tersebut tidak mengetahui dari awal bahwa pasangannya adalah orang buruk
c. Seseorang tersebut mengetahui bahwa calon pasanggannya adalah orang buruk, tetapi dia memiliki pandangan untuk memperbaikinya.

Kita tegaskan, orang baik itu akan cenderung kepada orang baik pula. Allahu A’lam

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Suraba

]]>
https://nidaulfithrah.com/mungkinkah-orang-baik-mendapatkan-pasangan-buruk-2/feed/ 4