#Akhlak – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Wed, 15 Apr 2026 06:02:48 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png #Akhlak – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 1 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-1/ Wed, 15 Apr 2026 06:01:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21737 Husnul Khuluq

A. Pembagian Khusnul Khuluq (Akhlak Mulia)

Husnul Khuluq artinya akhlak yang baik. Syaikh Utsaimin rahima hullah menjelaskan bahwa ia terbagi menjadi dua: . a]. khusnul khuluq kepada Allah dan b]. khusnul khuluq kepada sesama manusia.

1. Khusnul Khuluq kepada Allah

Berakhlak mulia kepada Allah mencakup tiga (3) perkara:

a. Mempercayai seluruh pemberitaan-Nya. Baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi.

b. Menerima seluruh syariat-Nya secara totalitas.

c. Meridhoi seluruh ketetapan-ketetapan-Nya yang tidak menyenangkan kita.

a. Mempercayai seluruh pemberitaan-Nya. Baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi.

Yang sudah terjadi: berita tentang dihancurnya ummat-ummat penentang para Rasul. Seperti: kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Ashabul Aikah, Ashabul Hijr, penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, dihancurkannya Fir’aun dan pengikutnya, dibenamkannya Qorun dan hartanya ke dalam bumi, permintaan iblis untuk dipanjangkan umur hingga hari Kiamat dan lain-lain.

Yang belum terjadi: berita tentang akan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dari benteng yang sangat kokoh, fitnah terbesar Dajjal, terbitnya matahari dari Barat menjelang hari Kiamat,  dihancurnya alam semesta ini pada hari Kiamat, tingginya nikmat Surga, dahsyatnya siksa Neraka, dan lain-lain.

b. Menerima seluruh syariat-Nya secara totalitas

Allah azza wa jalla berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (النساء:56) 

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan sehingga mereka tidak ada rasa kebencian di dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima sepenuhnya (QS. An-Nisa: 65)

Apapun ketetapan Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya, maka muslim yang berakhlak mulia akan segera merespon dengan SAMI’NA WA ATHO’NA. Ia tidak memilah-memilih syariat yang sesuai dengan kehendaknya. Tetapi ia menerima keseluruhannya dengan “legowo” karena kehendak dirinya telah ditundukkan di bawah kehendak-Nya. Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ  (شرح السنة للبغوي)

“Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga hawa (kehendak)nya mengikuti apa yang saya bawa” (Syarhussunnah lil Baghowy)

Setelah kita memahami penjelasan di atas, mari kita lihat fenomena-fenomena berikut ini:

  • Bagaimanakah dengan orang yang mencari-cari dalih untuk membenarkan praktik ribawi?
  • Bagaimanakah dengan wanita yang tidak terima bagian warisannya separo dari lelaki?
  • Bagaimanakah dengan lelaki yang mencukur jenggotnya padahal telah mengetahui tentang keharamnnya?
  • Bagaimanakah dengan orang yang mendengarkan musik padahal telah mengetahui tentang keharamannya?
  • Bagaimanakah dengan orang yang tidak berhenti dari bid’ah padahal telah mengetahui konsekuensi syahadat “wa asyhadu anna Muhammada-r- Rasulullah”.
  • Bagaimanakah dengan wanita yang menghalang-halangi suaminya yang sholeh untuk berpoligami? Dan lain-lain.

Apakah mereka berakhlak mulia?

c. Meridhoi seluruh ketetapan-ketetapan-Nya yang tidak menyenangkan kita

Bagaimana ukuran seseorang itu ridho dengan taqdir Allah ta’ala yang tidak menyenangkan seperti; sakit, miskin, rugi, kehilangan, bangkrut, kecelakaan, kematian, dan lain-lain? Ketika seseorang ber-istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), bisa bersabar dengan tidak stress, tidak niyahah lalu  meminta kepada Allah azza wa jalla agar musibah yang menimpanya mendatangkan pahala yang berlipat ganda dan menghapus dosa, meminta ganti kepada Allah azza wa jalla dengan ganti yang lebih baik dan menyadari bahwa semuanya telah digariskan oleh Allah ta’ala untuk suatu hikmah. Inilah ukuran bahwa seseorang ridho dengan takdir Allah azza wa jalla. Dan inilah akhlak mulia.

d. Dzikir dan doa yang bisa dibaca agar hati “plong dan legowo” dengan takdir-Nya:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Allah telah mentakdirkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. 

Hal ini berdasarkan Hadits,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم:  الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ (صحيح مسلم)

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Pada masing-masing ada kebaikan. Berbuatlah dengan semangat terhadap apa saja yang bermanfaat bagi Anda, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Jika Anda ditimpa sesuatu maka janganlah mengatakan “seandainya aku berbuat begini dan begini niscaya begini dan begini”. Akan tetapi ucapkanlah:

 قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ, 

karena sesungguhnya ucapan “seandainya” membuka amalan syaitan. (Sunan Muslim)

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah berilah aku pahala atas musibah ini dan gantilah untukku  yang lebih baik darinya.”

Hal ini berdasarkan Hadits,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا (صحيح مسلم)

Dari Ummu Salamah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu alahi wasallam bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan sebagaimana yang Allah perintahkan.

“إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا” 

Melainkan Allah akan menggantikan untuknya yang lebih baik darinya (Shahih Muslim)

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

Sesungguhnya milik Allah lah apa yang Dia ambil, milik-Nya lah apa yang Dia beri, segala sesuatu di sisi-Nya telah ditetapkan ajalnya maka bersabarlah dan berharaplah pahala.

Hal ini berdasarkan Hadits Bukhari dan Muslim,

عَنْ أَبِى عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِى أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ – رضى الله عنهما – قَالَ أَرْسَلَتِ ابْنَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَيْهِ إِنَّ ابْنًا لِى قُبِضَ فَائْتِنَا . فَأَرْسَلَ يُقْرِئُ السَّلاَمَ وَيَقُولُ : إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ (رواه البخارى و مسلم)

Dari Abu ‘Utsman, ia berkata: Usamah bin Zaid radiallahu anhu memberitahukanku: Seorang putri Nabi shalallahu alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada beliau shalallahu alaihi wasallam “putraku meninggal dunia maka maka datanglah kemari. Beliau pun menyampaikan salam untuknya (putrinya) dan berpesan: 

 إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

2. Khusnul khuluq kepada sesama manusia.

Khusnul khuluq atau akhlak yang mulia sesama manusia biasanya orang Jawa menyebutnya budi pekerti. Syaikh Utsaimin menukil penjelasan Imam Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia meliputi tiga perkara:

a. كف الأذى  (menahan diri dari menyakiti orang lain)

b. بذل الندى (mengerahkan segenap potensi untuk kemaslahatan orang lain)

c. طلاقة الوجه (berwajah murah senyum)

a. كف الأذى (menahan diri dari menyakiti orang lain)

Menahan diri untuk tidak sampai menyakiti orang lain adakalanya terkait dengan harta, kehormatan, fisik, dan lain-lain. 

Contoh terkait harta:

  • Orang yang berkelapangan harta jangan sampai pelit untuk menghutangi uang kawannya yang dikenal jujur ketika membutuhkan uang. Kalau tidak, maka kawannya akan sakit hati. 
  • Janganlah ghosob (meminjam tanpa izin), karena hal itu akan menyakitkan pemiliknya
  • Jagalah harta yang dititipkan kepada Anda, jangan ceroboh karena akan menyakitkan pemiliknya.
  • Isilah bensin jika Anda meminjam sepeda motor dengan durasi yang ‘urf memandangnya memakan waktu lama.

Contoh terkait kehormatan:

  • Tidak “ngutak-ngutik” HP ketika kawan Anda sedang mengajak berbicara, perhatikanlah pembicaraannya. Kalau tidak, ia bisa tersinggung sakit hatinya.
  • Tidak bersikap hangat dengan sebagian kawan tetapi dingin kepada sebagian lainnya. Bersikap hangatlah dengan semuanya tanpa memandang siapapun mereka. Karena kawan yang disikapi dengan sikap dingin bisa sakit hati.
  • Tidak membicarakan aib orang lain. Karena hal itu akan merendahkannya. Dan, tentu ia merasa sakit hati.
  • Tidak membangga-banggakan jabatan, pangkat atau kedudukan di hadapan orang lain.
  • Tidak ngobrol ketika guru, dosen atau ustadz sedang memberikan pelajaran atau tausiyyah.
  • Bisa menempatkan diri dengan semestinya di hadapan orang yang lebih senior baik secara usia ataupun kedudukan di suatu komunitas, lembaga, instansi atau apapun.
  • Tidak menyerobot antrian.
  • Menunjuk-nunjuk jari telunjuk ke wajah orang yang tidak sependapat dengannya.

Contoh terkait fisik:

  • Tidak bermudah-mudahan menghukum murid pada fisiknya. Karena hal itu bisa menyakitkan.
  • Suka menonjok kepala atau badan orang lain karena suatu perselisihan.

b. بذل الندى   (mengerahkan segenap potensi atau suatu kelebihan tertentu untuk kemaslahatan orang lain)

Kita harus mengupayakan untuk mengerahkan potensi atau suatu kelebihan apapun yang kita miliki untuk kemaslahatan orang lain, baik yang terkait dengan harta, waktu, tenaga, pemikiran, kedudukan dan lain-lain.

Contoh terkait dengan harta:

  • Peduli anak yatim, orang miskin, janda-janda lemah.
  • Peduli kebutuhan masyarakat sekitar.
  • Membantu orang-orang yang terkena musibah banjir, longsor, gempa bumi dan lain-lain.
  • Mempersilahkan kendaraannya jika dibutuhkan untuk urusan-urusan sosial.
  • Suka menjadi donatur untuk kepentingan-kepentingan keagamaan dan umum.
  • Tidak merasa keberatan jika barang-barang yang dimilikinya dipinjam orang lain untuk suatu keperluan.

Contoh terkait dengan waktu:

  • Senantiasa meluangkan waktu ketika diundang ke suatu acara yang tidak ada maksiatnya.
  • Senantiasa meluangkan waktu untuk masyarakat sekitarnya apalagi untuk keluarga dan ayah ibunya.
  • Suka meluangkan waktu untuk urusan-urusan sosial.

Contoh terkait dengan tenaga:

  • Ringan tangan ketika ada orang yang memerluan bantuan tenaga.
  • Peka dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya sehingga mudah untuk diajak kerja bakti dan lainnya.

Contoh terkait dengan pemikiran:

  • Tidak pelit untuk memberikan suatu pandangan, pendapat atau usulan yang memang dibutuhkan.
  • Tidak keberatan untuk melakukan studi komparasi yang diperlukan untuk peningkatan kualitas dan lainnya.

Contoh terkait dengan kedudukan:

Kebaikan-kebaikan ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang terpandang atau memiliki suatu jabatan.

  • Seseorang yang suaranya didengar oleh Pak lurah tergerakkan hatinya untuk menyampaikan kepada pak lurah agar melakukan ini dan itu yang dibutuhkan oleh masyarakat.
  • Seseorang yang memiliki kedekatan dengan suatu kepanitiaan sosial tergerakkan hatinya untuk menyampaikan kepada kepanitiaan tersebut agar orang-orang sepuh didahulukan sehingga tidak mengantri berkepanjangan.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Orang shaleh belumlah shaleh https://nidaulfithrah.com/orang-shaleh-belumlah-shaleh/ https://nidaulfithrah.com/orang-shaleh-belumlah-shaleh/#respond Tue, 19 Sep 2023 08:13:02 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17855 “Orang shaleh belumlah shaleh” maksudnya adalah sekedar menjadi orang shalih itu belum cukup, tetapi juga harus menjadi mushlih (memperbaiki). Inilah yang diperintahkan oleh syariat, agar setiap orang menjadi shalih dan mushlih. Artinya, setelah seseorang mengupayakan dirinya menjadi sebaik-baiknya muslim, dia juga harus memperhatikan kondisi muslim lainnya yang belum baik agar sama-sama menjadi orang baik. Tentunya, menjadi orang baik di dalam semua aspek. Isyarat semacam ini ditunjukkan oleh banyak nash (ayat dan hadits Nabi). Di antaranya adalah ‘ wa tawaashow bil haqq wa tawaashow bish shobri ‘ ( perintah saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran), ‘ idza ro-aa minkum munkaron fal yughoyyirhu ‘ ( perintah mengubah kondisi kemungkaran). Dan juga firman Allah ﷻ tentang ucapan Nabi Syu’aib:

إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ (هود:88)

“Tidaklah aku menghendaki kecuali melakukan perbaikan sesuai kemampuanku” (QS. Huud: 88)

Kita yang terus berupaya untuk menjadi orang shaleh, jangan sampai lupa untuk juga menjadi mushlih dengan segala kemampuan dan kelebihan yang kita miliki baik tenaga,  harta, kesempatan, jabatan, kedudukan, popularitas, ilmu, dan lain-lain. Jangan lewatkan begitu saja semua potensi ini, karena orang kafir terus mengintai kelengahan kita. Seorang komandan di sebuah instansi militer yang saya mengenalnya, dia mengadakan kajian rutin mingguan dan mewajibkan semua prajuritnya yang berjumlah sekitar 200 orang untuk mengikutinya. Inilah contoh menjadi mushlih dengan jabatan. Jangan sampai kalah, orang kafir ketika menjadi pejabat pasti dia akan gunakan sebaik-baiknya untuk menyerang Islam, dengan program-programnya yang membuat marah kaum muslimin, seperti penghancuran masjid, mendirikan lokalisasi prostitusi, melarang berqurban di sekolah-sekolah dan lain-lain.

Seorang kawan datang ke YNF, dia mengatakan agar kalau ada program-program dakwah dan sosial yang membutuhkan kendaraan maka dia siap dengan kendaraannya. Inilah contoh menjadi mushlih dengan hartanya. Lakukanlah dengan potensi apapun demi menjadi mushlih setelah dirinya menjadi orang shalih.

Lihatlah hikmah dari pernikahan Nabi ﷺ . Beliau menikahi Ummu Salamah, kerabat Khalid bin Walid. Akibatnya Khalid tidak lagi bersikap keras terhadap kaum muslimin sebagaimana sikap kerasnya dalam perang Uhud, bahkan tidak lama setelah itu dia masuk Islam dengan suka rela. Beliau menikahi Ummu Habibah, putri Abu Sufyan. Setelah itu Abu Sufyan tidak pernah menghadapi Rasulullah ﷺ  dalam peperangan apapun. Begitu juga terror dan permusuhan dari dua kabilah Bani Mushthaliq dan Bani An-Nadhir tidak pernah kaum muslimin dapati lagi setelah Nabi ﷺ menikahi Juwariyyah dan Shafiyyah. Beliau melakukan ini semua, memang, adat kebiasaan orang Arab memandang bahwa ikatan perkawinan merupakan salah satu pintu untuk mengakrabkan kabilah-kabilah yang berbeda-beda. Dan mereka juga memandang bahwa memusuhi dan memerangi orang-orang yang ada dalam ikatan perkawinan adalah aib dan tercela.

                Untuk mewujudkan kebaikan bagi kaum muslimin dalam semua aspek, sangat dibutuhkan kerjasama dan tolong-menolong sesama mereka. Allah ﷻ berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى [المائدة: 2]

“Dan saling tolong menolonglah kalian dalam birr (kebaikan) dan taqwa” (Qs. Al-Maidah:2).

Apa yang dimaksud dengan birr dan taqwa? Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa birr dan taqwa jika disebutkan secara berbarengan maka memiliki arti sendiri-sendiri. Birr maknanya mengerjakan semua perintah Allah, sementara taqwa maknanya meninggalkan semua larangan Allah. Tetapi jika disebutkan secara sendiri-sendiri maka maknanya berbarengan. Ketika disebutkan birr secara tersendiri maka makna taqwa masuk di dalamnya. Demikian pula ketika disebutkan taqwa secara tersendiri maka makna birr masuk di dalamnya. Jelaslah, ini menunjukkan bahwa kaum muslimin harus bekerja sama (ta’awun) dalam semua aspek untuk meraih kemuliaan (‘izzah) ummat di dunia dan di Akherat.

                Lihatlah hikmah dari pernikahan Nabi ﷺ dan empat Sahabat Khulafaurrasyidin. Beliau ﷺ menikahi Aisyah (putri Abu Bakar) dan Hafshof (putri Umar bin Khottob). Beliau ﷺ menikahkan dua  putrinya, Ruqoyyah kemudian Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan. Beliau ﷺ juga menikahkan putrinya yang bernama Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib. Apa hikmahnya? Syaikh Shofiyurrahman al-Mubarokfuri di dalam kitabnya ar-Rohiqul Makhtum, menyebutkan bahwa beliau ﷺ ingin memperkuat hubungan beliau dengan keempat orang sahabat yang terkenal dengan perjuangan dan pengorbanan mereka untuk Islam pada masa-masa berat perjalanan dakwah Islam. Inilah contoh ta’awun di dalam al-birr demi izzatul Islam wal muslimin.

                Kita harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu kaum muslimin harus bekerjasama untuk merajut semua kelebihan dan menutupi semua kekurangan sehingga lahirlah sebuah kekuatan besar bagi pemberdayaan ummat dalam berbagai aspek. Bisakah seorang da’i menyampaikan ceramah beramar ma’ruf nahi munkar di suatu instansi yang tidak mengenalnya? Tidak mungkin. Dalam hal ini, dia memiliki kelebihan berupa ilmu syariat tetapi memiliki kelemahan dari sisi akses untuk masuk ke instansi  tersebut. Apa yang dibutuhkan? Yang dibutuhkan adalah mediator yang bisa menjembataninya.

                Pernahkan Anda blusukan ke daerah-daerah miskin dan minus pendidikan? Penduduknya, meskipun sudah dewasa dan berusia senja tetapi banyak sekali yang tidak shalat dan tidak bisa membaca al-Qur’an. Apa lagi anak-anaknya. Melihat kondisi yang demikian, seharusnya sebagai orang Islam haruslah risau dan tersentuh hatinya. Jika Anda mengatakan, “Hati saya terpanggil tapi tidak ada kemampuan untuk berceramah?” Jika Anda mengatakan, “Saya bisa berceramah tapi tidak punya anggaran untuk transportasi ke sana?” Jika Anda mengatakan, “Saya punya dana untuk transportasi tetapi sangat sibuk dengan bisnis saya”. Jika Anda mengatakan, “Sebagian keuangan saya, saya alokasikan untuk beasiswa, tapi tidak ada yang mengantarkannya ke sana”. Kalau masing-masing dibiarkan dengan kekurangannya, niscaya proyek ukhrowi ini tidak akan terwujud. Akhirnya daerah minus tersebut selama-lamanya terbelakang dan tidak mengenal Islam, agamanya sendiri. Terus apa solusinya. Solusinya adalah bekerjasamalah di antara Anda!! Himpunlah kekuatan; Rekrutlah siapa yang bisa berceramah dan mengajar? Siapa bagian yang mengumpulkan dana? Siapa donatur tetapnya? Kalau memang memungkinkan, sediakanlah rumah di daerah minus tersebut untuk da’i dan keluarganya tentu sekaligus dengan kesejahteraannya sehingga dia bisa mengajar setiap saat. 

                Ketahuilah, permasalahan ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan justru banyak  melanda kaum muslimin di pedesaan. Selama ini dakwah  hanya terpusat di kota-kota besar. Akhirnya mereka menjadi sasaran empuk syiahisasi dan kristenisasi. Mereka pun banyak yang murtad. Saya mendapatkan info dari seorang teman bahwa di suatu desa di Jawa Timur awalnya jumlah muslim 100% sekarang hanya 40%. Bahkan di suatu desa di Jawa Tengah awalnya jumlah muslim 100% sekarang hampir semuanya telah murtad. Teman saya bercerita bahwa dia mendatangi seseorang yang dikenal sebagai juru kebersihan masjid. Penampilannya masih seperti yang dulu memakai sarung dan peci, tetapi sudah bukan sebagai muslim lagi. Dia mengatakan kepada teman saya, “Mas, sekarang saya masuk Kristen, sama-sama ibadah kepada tuhan kan, Mas”. Dan memang, kata teman saya, gereja yang dibangun di desa itu menyerupai masjid, memakai karpet bukan kursi.  Laa haula wa laa quwwata illa billah. Saya juga mendapatkan informasi dari seorang Ibu bahwa di suatu desa di Bengkulu, mereka semuanya telah berpindah agama dari Islam ke syiah. Nama jalan-jalannya juga diubah dengan term-term syiah; jalan Husain, jalan Karbala dan lain-lain. Dan dalam waktu tertentu mereka saling berbagi makanan dengan mengatakan, “ ini slametan untuk sayyidina Husain”. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Lihatlah ta’awun ‘alal birr wat taqwa yang dilakukan antara Muhammad bin Abdul Wahhab (seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Muhammad bin Sa’ud (seorang penguasa wilayah Dir’iyyah) sekitar tahun 1100 H/ 1700 M. Kerjasama keduanya ulama dan umara ini telah menghasilkan sesuatu yang sangat besar yaitu berdirinya Kerajaan Arab Saudi yang berdasarkan syariat Islam yang bisa dirasakan hingga saat ini.

                Lihatlah ta’awun ‘alal birri wat taqwa antara pemkot Surabaya dengan para tokoh agama dan masyarakat Surabaya yang telah membuahkan sesuatu yang luar biasa yaitu ditutupnya lokalisasi prostitusi Dolly pada tanggal 19 Juni 2014 / 2 Rajab 1435 H. Sebelumnya telah dilakukan hal yang sama yaitu ditutupnya lokalisasi prostitusi Kramat Tunggak yang menampung 1615 WTS dengan 277 unit bangunan di  kelurahan Tugu Utara Kecamatan Koja Jakarta Utara pada tanggal 31 Desember 1999. Lokalisasi ini telah berubah wajah menjadi Jakarta Islamic Center. Sekali lagi,  ini adalah hasil ta’awun antara beberapa elemen; pemerintah, para ustadz dan masyarakat.

                Nabi ﷺ mensugesti kita dengan sabdanya:

عن زَيْد بْنُ خَالِدٍ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا ، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا (رواه البخاري و مسلم)

“Dari Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa yang menyediakan bekal bagi orang yang berperang di jalan Allah berarti dia telah ikut berperang. Dan barangsiapa yang memberikan nafkah kepada keluarga orang yang berperang dengan kebaikan, berarti dia telah berperang(HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعَثَ بَعْثًا إِلَى بَنِى لِحْيَانَ – مِنْ هُذَيْلٍ – فَقَالَ « لِيَنْبَعِثْ مِنْ كُلِّ رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا وَالأَجْرُ بَيْنَهُمَا (رواه مسلم)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ mengirim utusan kepada Bani Lihyan dan Suku Hudzail, lalu beliau bersabda: Hendaklah ada seseorang dari setiap dua orang (untuk berangkat dan yang lainnya menetap) dan pahalanya dibagi untuk keduanya(HR. Muslim) 

Semoga kita termotivasi untuk menjadi mushlih setelah mengupayakan menjadi orang  shaleh dengan ber – ta’awun ‘alal birri wat taqwa.

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Juni, 2015 Edisi 36

]]>
https://nidaulfithrah.com/orang-shaleh-belumlah-shaleh/feed/ 0
Buta Yang Tidak Buta https://nidaulfithrah.com/buta-yang-tidak-buta/ https://nidaulfithrah.com/buta-yang-tidak-buta/#respond Tue, 19 Sep 2023 06:24:19 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17846 Ingatkah Anda tentang sosok Abdullah bin Ummi Maktum? Dia adalah seorang sahabat nabi yang buta matanya, tetapi tidak demikian hatinya. Allah ‘azza wa jalla telah menggantikan kebutaan matanya dengan cahaya pandangan di hatinya. Dia menjadi sandaran para Sahabat tentang masuknya waktu Shubuh. Juga pada bulan Ramadhan menjadi sandaran mereka tentang waktu sahur.

Rasulullah bersabda, “Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan” (HR. Bukhari). Dia juga dipercaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menggantikan beliau menjadi imam shalat ketika beliau pergi berperang. Koq…bisa demikian padahal dia seorang yang buta? Buta mata bukanlah penghalang. Cahaya pandangan di hatinya telah menghantarkannya menjadi orang yang istiqomah. Adakah kita yang mengikuti jejaknya? Dia seorang yang buta tapi bisa istiqomah.

Lalu bagaimana dengan kita yang sehat alias normal fisik? Maukah kita disebutkan “Melek yang buta?” Allahu al-Musta’an.

Para ulama menyatakan Istiqomah itu termasuk karomah. Karomah adalah mukjizat. Bedanya kalau mukjizat terjadi pada nabi-nabi, kalau karomah terjadi pada wali-wali Allah. Para sahabat tentunya para wali Allah, karena mereka adalah orang-orang shaleh dengan tingkat keshalehan yang sangat tinggi. Namun, apakah karomah tampak pada setiap diri mereka. Tidak. Karomah hanya tampak pada sebagian mereka saja. Tapi secara umum istiqomah ada pada mereka semuanya. Sebagai contoh: Para sahabat menghatamkan al-Qur’an dalam tujuh hari yang paling cepat tiga hari, Abu Hurairah senantiasa shalat witir sebelum tidur demikian pula Abu Bakar, karena mengkhawatirkan tidak bisa bangun malam. Jabir bin Abdullah selalu ikut perang bersama nabi, kecuali dalam perang Uhud, setelah ayahnya wafat ia selalu ikut perang bersama nabi.

Abdullah bin Amr bin al- Ash gemar berpuasa hingga akhirnya nabi menegur bahwa puasa sunnah yang paling afdhal adalah puasa Daud. Utsman bin Affan gemar bershadaqoh bahkan ada wakafnya yang sampai sekarang dimanfaatkan dan menghasilkan keuangan yang sangat besar bagi kaum muslimin yaitu sumur Raumah di Madinah yang dibeli dari orang Yahudi.

Uways al-Qorni (seseorang yang hidup pada zaman nabi tetapi belum sempat bertemu beliau) beristiqomah dalam merawat ibunya hingga meninggal dunia. Itulah sekilas tentang para sahabat yang tidak diragukan lagi keistiqomahan nya. Jangankan mereka, generasi yang mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah, padahal manusia yang hidup sekarang saja ketika saya bersama beliau selama 18 bulan, melihat tindak-tanduk dan keputusannya saya selalu membayangkan zaman sahabat.

Betapa beliau dalam pandangan dan kesan saya sebagai orang yang sangat istiqomah dalam kebaikan. Beliau adalah Petta Lanre Sa’id yang pernah saya kisahkan pada rubrik kisah dengan judul “Tangan Lembut Sang Petta” edisi XII Rajab 1434 H/Juni 2013.

Beliau mengasuh pesantren selama 25 tahun (tahun 1999, ketika saya di sana) dengan santri 400 orang. Tapi semuanya digratiskan mulai dari kebutuhan harian; makan dan minum, buku-buku pelajaran, mushaf al-Qur’an, SPP sekolah, berobat di rumah sakit dan lain-lain. Padahal beliau sendiri bukan orang berpunya dan harus menafkahi anak istrinya.

Beliau rela memperjuangkan pembangunan pesantren dengan bangunan-bangunan modern yang kokoh (baca: bangunan dari batu) sementara rumah beliau sendiri terbuat dari kayu dengan atap daun rumbia. Kalau hujan deras, bocor di sana-sini. Kalau angin kencang, atap-atap berterbangan. Rata-Rata pengeluaran per bulan 16 juta rupiah.

Keuangan memang didapatkan dari para donatur, tetapi bukan berarti jalannya mulus tanpa kendala. Sering sekali beras dan lauk pauk kehabisan sehingga santri seharian tidak makan dan baru makan jam 9 malam. Tapi hal itu tidak menjadikan beliau putus asa yang akhirnya membubarkan pesantren.

Beliau sering sekali pontang panting mencari pinjaman uang dan beras demi santri-santrinya. Suatu ketika beliau kedatangan tamu konglomerat tersohor untuk bertanya-tanya tentang kondisi pesantren. Dia pun meniru dengan mendiri kan pesantren gratis. Tapi, hanya berjalan sekitar tiga bulan. Kenapa? Allahu A’lam, yang jelas letak permasalahannya ada pada “istiqomah”.

Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): “Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian bersedih hati, dan bergembiralah dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan untuk kalian. Kami (para malaikat) adalah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan Akherat, di dalamnya (Surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh apa yang kalian minta. Sebagai penghormatan (bagi kalian) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Qs. Fush- ilat: 30-32)

Maksud ayat di atas adalah orang yang berikrar bahwa Tuhannya adalah Allah lalu beristiqomah dengan semua konsekwensi-konsekwensinya maka malaikat secara bergantian akan turun kepadanya ketika dia dalam keadaan gelisah, takut, dan keadaan-keadaan lain yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan.

Mereka mengatakan kepadanya “jangan takut dan jangan bersedih” terlebih ketika sedang sakaratul maut. Malaikat akan mengatakan “janganlah takut terhadap apa yang akan engkau hadapi dan janganlah bersedih atas kenikmatan-kenikmatan duniawi yang tidak kalian dapatkan, bergembiralah dengan Surga sebagai gantinya yang telah dijanjikan untuk kalian”.

Para malaikat juga menjadi penolong dan pelindung orang-orang yang istiqomah ketika di dunia, dengan menguatkan dan membantu mereka. Demikian pula ketika di Akherat, para malaikat akan menyambut mereka dengan mengatakan: “Inilah hari yang telah dijanjikan kepada kalian, dan apa saja yang kalian inginkan pasti terpenuhi tak ada yang terlewatkan dan keberadaannya di dalam Surga tanpa batas usia. Semuanya itu adalah perjamuan dari Allah ‘azza wa jalla untuk kalian”. Subhanallah.

Di antara upaya untuk bisa istiqomah adalah tidak berlebih-lebihan di dalam suatu amalan agar tidak merasa terpaksa, kelelahan yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan yang akhirnya bisa meninggalkan amalan tersebut.

Berbuatlah secara sederhana (tidak berlebih-lebihan juga tidak meremehkan) sehingga bisa menikmatinya di dalam menjalan- kannya, inilah yang bisa menjadikannya istiqomah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang berkelanjutan (terus-menerus) meskipun sedikit(HR. Bukhari dan Muslim).

Tetapkanlah amalan yang mungkin di istiqomahi yang sifatnya harian, contoh: shalat sunnah rawatib 10 atau 12 rakaat, disebutkan dalam hadits nabi: “Tidaklah seorang hamba muslim shalat sunnah 12 rakaat setiap hari karena Allah, selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga(HR. Muslim), berinfaq setiap kali memu- lai aktivitas, “Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir” (HR. Bukhari dan Muslim), membaca al-Qur’an satu halaman, menuntun anak menghapal 1 ayat al-Qur’an. Yang sifatnya mingguan, contoh: membaca surat al- Kahfi di hari Jum’at, berinfak setiap kali berangkat shalat jum’at, mengi- kuti kajian tafsir. Yang sifatnya bulanan, contoh: mengunjungi orang muslim yang sakit di rumah sakit-rumah sakit, mengunjungi panti asuhan, mentraktir anak-anak dhuafa, berinfaq di YNF dan lain-lain.

Janganlah berhenti dari keistiqomahan. Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali(An-Nahl: 92). Nabi menegur seorang sahabat, Abdullah bin Amr bin al-Ash untuk selalu is- tiqomah:

“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia mening- galkannya(HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu alaihi wa sallam senantiasa memotivasi ummatnya untuk istiqomah di atas kebaikan, untuk tujuan itu beliau memerintahkan agar beberapa amalan yang bisa diqodho (baca: diganti) maka diqodho. Beliau bersabda: “Barangsiapa tertidur di malam hari dan tidak mengerjakan suatu ibadah yang dibiasakan pada dirinya, atau tidak membaca beberapa bacaan darinya, lalu dia membacanya pada waktu antara shalat shubuh dan shalat dzuhur, maka ditetapkan baginya seakan-akan dia membacanya pada waktu malam(HR. Muslim).

Beliau bersabda: “Barangsiapa yang tertidur tidak melakukan shalat witir atau lupa belum melakukannya, maka hendaklah ia shalat witir di waktu shubuh atau ketika ia ingat”. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Tentang hadits ini Syaikh Abdullah Albassam menjelaskan dalam kitab Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram bahwa orang yang tertidur sehingga bangunnya sudah memasuki waktu shubuh maka waktu shalat witirnya ketika bangun itu. Juga orang yang lupa belum witir sementara waktunya sudah habis atau sudah memasuki waktu shubuh maka waktu witirnya itu ketika ia ingat meskipun waktu shalat witir sudah berlalu. Aisyah radhiyallahu ‘anha memberitakan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa jika beliau tidak mengerjakan shalat pada suatu malam karena sakit atau alasan lainnya, maka beliau mengerjakan shalat 12 rakaat pada siang harinya” (HR. Muslim). Sekali lagi nash-nash di atas memotivasi kita untuk meng-istiqomah-I amalan-amalan yang sudah kita biasakan melakukannya. Allahu Alam

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Oktober, 2014 Edisi 28

]]>
https://nidaulfithrah.com/buta-yang-tidak-buta/feed/ 0
Kembali Kepada Fithrah https://nidaulfithrah.com/kembali-kepada-fithrah/ https://nidaulfithrah.com/kembali-kepada-fithrah/#respond Tue, 19 Sep 2023 02:08:55 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17832 Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat Islam kepada kita sehingga kita bisa berislam sejak kita lahir, sementara banyak juga orang yang tidak tahu cara untuk mencari Islam dan tidak punya hasrat untuk belajar Islam, atau bahkan benci setengah mati dengan Islam.

Mengapa kita perlu bersyukur? Karena Islam adalah fithrah kita. Sejak kita di dalam kandangan ibu, hingga kita lahir, kita sudah beragama Islam. Jadi Islam adalah fithrah kita semenjak lahir. Mengikuti Islam, berarti kita mengikuti fithrah kita. Menolak Islam, berarti kita menolak fithrah kita.

Padahal fithrah adalah kondisi di mana seluruh komponen tubuh jasmani maupun rohani kita suci dari kotoran apapun, fisik maupun nonfisik. Mengikuti Islam, diri kita akan suci, berbanding lurus dengan seberapa jauh tingkat pengamalan kita terhadap ajaran-ajaran Islam.

Alhamdulillah, majalah Fithrah edisi perdana dapat hadir di hadapan Anda. Semoga kehadiran edisi perdana ini mampu menginspirasi kita untuk meningkatkan keislaman kita. Dan semoga edisi perdana ini menjadi awal yang baik bagi terjalinnya hubungan antara kami, Yayasan Nida’ul Fithrah dengan para donatur, juga para penerima infaq. Kami sadar banyak sekali kekurangan di edisi perdana ini, karena kami masih mencari format yang terbaik. Semoga ke depan semakin baik.

Tepat sekali redaksi Majalah DONATUR (MD) Fithrah mengawali edisi perdananya dengan tajuk “Kembali Kepada Fithrah” karena di samping memasyarakatkan kembali nama Yayasan Nida’ul Fithrah (YNF) juga menjadi semacam panduan bagi MD Fithrah ini menapaki edisi-edisi ke depan yang semoga sebagaimana namanya senantiasa berada di atas fithrah dan seruan utamanya juga fithrah.

Secara pribadi, kami merasa sangat senang dengan hadirnya MD Fithrahini. Kami menaruh harapan besar kepada MD Fithrah semoga mampu menjadi media komunikasi segitiga, antara donator dengan penerima donasi dan dengan kami, YNF.

Insya Allah, MD Fithrah akan menginspirasi para pembaca untuk meningkatkan simpati kepada Islam dan kaum muslimin untuk bersama-sama kembali kepada fithrah, yaitu tauhid dan sunnah. MD Fithrah disusun atas pertimbangan kondisi global sehingga insya Allah MD Fithrah akan dapat mengkafer semua kalangan dan semua lini.

Mengawali majalah ini, kami ingin menyampaikan jazakumullahu khairan katsiran kepada semua pihak yang telah ikut andil mulai proses persiapan hingga penyebaran. Kami juga ingin meminta dukungan dari semua pihak. Kami tak lupa mengucapkan syukran kepada para donator. Terakhir, kami mewakili dewan redaksi meminta maaf atas kekurangan di sana-sini. Kami mengundang partisipasi pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang konstruktif.

Islam adalah Fithrah kita. Kita lahir dalam keadaan Islam. Kembali kepada fithrah, berarti kembali kepada Islam.

Allah berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ للدِّينِ حَنِيفًا فِطرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تبديل لخلق الله ذلك الدِّينُ الْقَيِّمُ ولَكنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah), (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan atas fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS. Ar-Rum (30): 30]

Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama.

Kata agama bermakna din al-Islâm. Hanif, maknanya cenderung pada jalan lurus yaitu jalan kebenaran dan meninggalkan jalan-jalan kesesatan. Penggalan firman Allah ini memberikan faedah, setiap yang mengikrarkan diri sebagai muslim wajib untuk menghadapkan wajah pada Islam dengan pandangan lurus; tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, tidak condong pada agama-agama lain yang batil dan menyimpang, tidak boleh mengikuti Nashrani, Yahudi, Hindu, Budha, Konghuchu, Shinto, Baha’i, Syiah, Zoroaster, dan sebagainya, tidak boleh pula mencampurkan Islam dengan agama-agama lainnya. Penggalan firman Allah ini menyeru setiap muslim untuk sepenuhnya hanya menerima Islam dan menolak agama lain, sedikit pun tidak terpengaruh oleh agama lain.

Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.

Fithrah berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan ath-thabi’ah (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah pada manusia. Kata fithrah Allah berarti kecenderungan dan kerelaan manusia untuk menganut agama yang haq. Allah menciptakan manusia dengna fithrah untuk cenderung pada tauhid dan din al-Islâm sehingga manusia tidak bisa menolak dan mengingkarinya. Bisa pula dimaknai dengan Islam dan Tauhid. Ditafsirkannya kata fithrah dengan Islam karena untuk fithrah itulah manusia diciptakan.

Allah berfirman,”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (kepada-Ku semata).” [QS. Adz-Dzariyat (51):56]

Kata fithrah Allah berkedudukan sebagai maf’ûl bih (obyek) dari fi’il (kata kerja) yang tersembunyi, yaitu ilzamů (tetaplah) atau ittabi’ü (ikutilah). Dengan kata lain, manusia diperintahkan untuk mengikuti fithrah Allah. Maka fithrah yang dimaksudkan tentu tidak cukup hanya sebatas keyakinan fithri (naluri suci) tentang ketuhanan atau kecenderungan pada tauhid. Fithrah di sini harus diartikan sebagai akidah tauhid atau din al-Islam itu sendiri. Ini sama seperti firman Allah, “Tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah taubat beserta kamu.” [QS. Hud (11): 112]

Tidak ada perubahan atas fithrah Allah.

Ibnu Abbas, Ibrahim an-Nakha’i, Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahak, dan Ibnu Zaid, semuanya berpandangan, li khalqillah maksudnya adalah li dînillâh. Karena kata fithrah sepadan dengan kata al-khilqah.

Allah menetapkan, tidak ada perubahan bagi agama Islam yang diciptakan-Nya untuk manusia. Maka tidak ada satupun manusia yang berhak mengubah agama-Nya atau menggantikannya dengan agama lain. Menurut sebagian mufassir, sekalipun berbentuk khabar nafi (berita yang menafikan), kalimat ini memberikan makna thalab nahi (tuntutan untuk meninggalkan). Jadi, penggalan ayat tersebut maknanya, “Janganlah kamu mengubah ciptaan Allah dan agamanya dengan kemusyrikan; janganlah mengubah fithrahmu yang asli dengan mengikuti syaithan dan jalan-jalan yang dibuat oleh syaithan untuk menuju kesesatan; dan kembalilah pada agama fithrah, yakni agama Islam.”

Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Kata al-qayyum merupakan bentuk mubalaghah dari kata al-qiyâm (lurus). Allah Swt. menegaskan, perintah untuk mengikuti agama tauhid dan berpegang teguh pada syariah dan fitrah yang sehat itu adalah agama yang lurus; tidak ada kebengkokan dan penyimpangan di dalamnya.

Dari sini, kita mengambil pelajaran, jika seorang anak manusia mau jujur mendengarkan kata fithrah, seharusnya tidak ada akan ada rasa keberatan sama sekali untuk memeluk dan mengamalkan Islam. Sebaliknya, dia akan merasa berat dan susah ketika harus keluar dari Islam atau meninggalkannya. Para mufassir menafsirkan kata fithrah Allâh dengan kecenderungan pada akidah tauhid dan Islam, bahkan Islam itu sendiri. Selain ayat ini, kesesuaian Islam dengan fitrah manusia juga dapat terlihat pada beberapa fakta berikut:

Pertama: adanya gharizah at-tadayyun (naluri beragama) pada diri setiap manusia. Bagaimanapun keadaan manusia, ketika ia mendengarkan nuraninya, pasti ia mengakui kelemahan dirinya. Ia akan selalu merasa membutuhkan sesuatu yang bisa membantunya dalam hidup ini yang itu bukan sesuatu yang biasa, melainkan sesuatu yang agung, mulia, tinggi, besar, yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan.

Kedua: dengan akal yang diberikan Allah pada setiap manusia, ia mampu memastikan adanya Tuhan, Pencipta alam semesta dan segala sesuatu. Sebab, keberadaan alam semesta yang lemah, terbatas, serba kurang, dan saling membutuhkan pasti merupakan sesuatu yang diciptakan. Hal itu memastikan adanya al-Khaliq yang menciptakannya.

Lebih jauh, akal manusia juga mampu memilah dan memilih agama yang benar. Agama batil akan dengan mudah diketahui dan dibantah oleh akal manusia. Sebaliknya, argumentasi agama yang haq pasti tak terbantahkan.

Jadi, secara fithrah manusia membutuhkan sebuah agama yang haq, agama yang menenteramkan perasaan sekaligus memuaskan akal. Islamlah satu-satunya yang haq. Islam dapat memenuhi dahaga naluri beragama manusia dengan benar sehingga menenteramkannya. Islam juga memuaskan akalnya dengan argumentasi-argumentasinya yang kokoh dan tak terbantahkan.

Dengan demikian, Islam benar-benar sesuai dengan fithrah dan tabiat manusia. Karena begitu sesuainya, An-Nasafi dan Az-Zamakhsyari menyatakan, “Seandainya seseorang meninggalkan Islam, mereka tidak akan bisa memilih selain Islam menjadi agamanya.” [/B]

Allah berfirman, “Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [Al-An’am: 125] Lihat juga Az- Zumar ayat 22.

Orang yang tidak mendapat hidayah akan senantiasa berada dalam kegelapan dan kerugian. Bagaimana jika seandainya seseorang tidak diberi hidayah oleh Allah? Maka pasti ia menderita dalam kekafirannya, hidupnya sengsara dan tidak tenteram, serta di akhirat akan disiksa dengan siksaan yang abadi. [Lihat surat Ali ‘Imran ayat 91 dan al-Maidah ayat 36-37]

Allah menunjuki hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang melalui Rasul-Nya. Kewajiban kita adalah mengikuti, meneladani dan mentaati Rasulullah dalam segala perilaku kehidupan kita, jika kita menginginkan hidup di bawah cahaya Islam.

Allah menyatakan bahwa Dia telah memberikan karunia yang besar dengan diutusnya Nabi dan Rasul-Nya. Simak Ali ‘Imran ayat 164.

Setiap muslim niscaya meyakini bahwasanya karunia Allah yang terbesar di dunia ini adalah agama Islam. Seorang muslim akan senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah memberinya petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagai karunia-Nya yang terbesar yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya. Allah berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [Al-Maidah: 3]

Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah dengan cara melaksanakan kewajiban terhadap- Nya. Setiap muslim wajib bersyukur atas nikmat Islam yang telah diberikan Allah kepadanya. Jika seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, maka ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Demikian juga jika manusia tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah Azza wa Jalla, maka dia adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih. Renungi Al-Baqarah ayat 152.

Kewajiban apakah yang harus kita laksanakan kepada Allah yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita? Jawabannya, karena Allah telah memberikan karunia-Nya kepada kita dengan petunjuk ke dalam Islam, maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan beribadah hanya kepada Allah secara ikhlas mentauhidkan Allah menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang dengan hal itu kita menjadi muslim yang benar.

Oleh karena itu, agar menjadi seorang muslim yang benar, kita harus menuntut ilmu syar’i. Kita harus belajar agama Islam karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah diutus oleh Allah dengan membawa keduanya. Allah berfirman, “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur-an} dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” [At-Taubah: 33] Juga lihat Al-Fat-h ayat 28 dan Ash-Shaff ayat 9. Lebih dari itu, seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa memahami dan mengamalkannya.

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Majalah Bulan Juli, 2012 Edisi 1

]]>
https://nidaulfithrah.com/kembali-kepada-fithrah/feed/ 0
BENARKAH ANDA MENCINTAI ALLAH?! https://nidaulfithrah.com/benarkah-anda-mencintai-allah/ https://nidaulfithrah.com/benarkah-anda-mencintai-allah/#comments Fri, 02 Sep 2022 07:44:28 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16350 Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Katakanlah jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad ) niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron: 31)

Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thobari, sebab turunnya ayat ini adalah adanya suatu kaum yang mengatakan kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Muhammad, Sesungguhnya kami mencintai Tuhan kami”. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat ini bahwa mengikuti ajaran Nabi (sunnah) adalah tanda benarnya seseorang mencintai Allah.

Hal ini sangatlah mudah dipahami. Sebagai controh: seandainya ada orangtua; ayah dan ibu merasa sangat terhormat dan tersanjung jika sang anak yang mahasiswa masuk kuliah dengan sebaik-baiknya. Maka, sang anak tidaklah dikatakan mencintai ayah ibunya kecuali dengan ketentuan ini. Jika kuliahnya berantakan bahkan di DO maka dia tidak bisa dikatakan mencintai orangtuanya meskipun nama keduanya sering dipuisikan. Atau nama keduanya dilukis dengan kaligrafi indah lalu dipajang dan sering dilihatnya. Seandainya dipaksakan untuk disebut cinta, maka tidak lain adalah cinta semu bukan cinta sejati.

Demikian pula, jika seseorang merasa mencintai Allah dengan sering menyebut-nyebut nama-Nya, tetapi tidak mengindahkan ketetuanNya yaitu sunnah Nabi di mana syariat-Nya terkandung di dalamnya, maka dia bukanlah orang yang mencintai Allah.

Cinta bukanlah lipstick pernyataan membela tanpa dibarengi bukti.

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/benarkah-anda-mencintai-allah/feed/ 6
REBUTAN BERFATWA? https://nidaulfithrah.com/rebutan-berfatwa/ https://nidaulfithrah.com/rebutan-berfatwa/#comments Fri, 02 Sep 2022 03:13:54 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16339 Penanya: Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh ustad. Saya Mahasiswa dari universitas swasta di surabaya. Saya ingin bertanya mengenai fatwa yang satu ini. Sufyan ats- Tsaury rahimahullah berkata:

Siapa yang senang ditanya maka dia bukan orang yang layak untuk ditanya.

Apa makna dari fatwa ini ustad, mohon penjelasanya? (dari mahasiswa di Surabaya)

Saya: Wa alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Saya mengecek ucapan ini di dalam Maktabah Syamilah, dan saya menjumpainya sebagai ucapan Bisyr bin Al-Harits (murid Fudhail bin ‘Iyadh dan Ibnu Mubarok). Maksud ucapan ini yaitu bahwa di antara adab seseorang dalam berfatwa adalah ia bersikap wara’ dari berfatwa. Ia lebih senang jika ada orang lain yang berfatwa, jangan dirinya. Dengan adab ini jangankan berharap, justru seseorang akan takut kalau dirinya dijadikan sandaran dalam berbagai permasalahan atau pertanyaan. Dan, inilah adab para Sahabat Nabi dan para ulama generasi berikutnya. Ketika ada suatu permasalahan mereka berharap agar orang lain saja yang menjawab. Kita bisa melihat beberapa atsar berikut ini yang saya nukilkan dari tulisan Prof. Dr. Muhammad bin Husain al-Jabzany (Website Almultaqo alfiqhy):

Albaro’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya melihat 300 Sahabat Badar. Tidak seorangpun dari mereka kecuali dia suka agar orang lain saja yang berfatwa.

Ibnu Abi Laila berkata: Saya menjumpai 120 Anshor dari kalangan Sahabat Nabi. Jika seseorang ditanya suatu permasalahan, maka ia akan menyerahkan permasalahan tersebut kepada lainnya. Yang lainnya kepada yang lainnya lagi. Yang lainnya kepada yang lainnya lagi, akhirnya kembali kepada orang pertama .

Sufyan Ats-Tsauri berkata: Saya menjumpai para fuqoha. Mereka tidak suka menjawab permasalahan-permasalahan dan fatwa sehingga manusia tidak mendapati ada seorang fuqoha yang memulai berfatwa. Jika mereka menyerah (dari berfatwa), maka itulah perkara yang disukai oleh mereka.

Imam Ahmad berkata: Siapa yang mengajukan dirinya untuk berfatwa, maka dia telah mengajukan dirinya pada urusan besar, kecuali jika dia pada posisi darurat (untuk berfatwa)

Beliau ditanya: Mana yang lebih utama menjawab atau diam?

Beliau menjawab: diam lebih aku sukai

Beliau ditanya laigi: Bagaimana kalau dalam keadaan darurat?

Beliau menjawab: darurat…darurat??!!. Diam itu lebih selamat

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Suraba

]]>
https://nidaulfithrah.com/rebutan-berfatwa/feed/ 3
MUNGKINKAH ORANG BAIK MENDAPATKAN PASANGAN BURUK? https://nidaulfithrah.com/mungkinkah-orang-baik-mendapatkan-pasangan-buruk-2/ https://nidaulfithrah.com/mungkinkah-orang-baik-mendapatkan-pasangan-buruk-2/#comments Fri, 02 Sep 2022 03:12:39 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16340 Penanya: Bismillah… Ustad…ana mau Tanya. Apakah bnr utk mndaptkan suami yg sholeh dan istimewa,qt hrs mnjd sholihah dan istimewa juga. Hamba Allah

Saya: Bismillah wal hamdu lillah wash sholatu was salaamu ‘ala Rasulillah. Orang yang baik akan cenderung kepada orang yang baik. Demikian pula orang yang buruk akan cenderung kepada orang yang buruk. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah, Kami jadikan sebagian orang-orang zhalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan” (QS. Al-An’am: 129)

Disebutkan di dalam Tafsir Ath-thobari bahwa Allah menjadikan manusia di dalam berloyalitas kepada manusia yang lainnya sesuai dengan amalannya. Orang mukmin akan menunjukkan loyalnya kepada orang mukmin kapan saja, di mana saja dan bagaimanapun keadaannya. Demikian pula orang kafir akan menunjukkan loyalnya kepada orang kafir kapan saja, di mana saja dan bagaimanapun keadannya. Iman bukanlah dengan angan-angan dan bukan juga dengan bermanis-manisan (lipstick)

Jelaslah, orang baik tidak mungkin memiliki kecenderungan kepada orang yang buruk dan sebaliknya.

Orang baik selain memiliki kecenderungan kepada sesama orang yang baik, dia juga memiliki kecenderungan kepada kepada ucapan-ucapan, keputusan-keputusan, dan perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan yang baik. Oleh karena itu Allah membantah tuduhan keji orang-orang munafik yang ditujukan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha di dalam firman-ُNya,

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji. Laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji. Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk lakilaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuanperempuan yang baik. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia” (QS. An-Nur:26)

Disebutkan di dalam Tafsir Ath-Thobari,

“Dari ‘Atho, dia berkata:

الطيبات للطيبين, والطيبون للطيبات

ucapan-ucapan yang baik untuk manusia-manusia yang baik. Manusia-manusia yang baik (menjadi sasaran) ucapan- ucapan yang baik. Sedangkan ucapan-ucapan yang buruk untuk manusia-manusia yang buruk dan manusia-manusia yang buruk (menjadi sasaran) ucapan-ucapan yang buruk”

Masih di dalam Tafsir Ath-Thobari, tentang ayat ini, ada juga yang mentafsirkan:

“Ulama-ulama lainnnya mengatakan: perempuanperempuan yang buruk untuk laki-laki yang buruk, dan laki-laki yang buruk untuk perempuan-perempuan yang buruk”.

Lalu, bagaimanakah jika ada seseorang mendapatkan pasangan yang buruk. Seorang suami baik dapat istri buruk atau seorang istri baik dapat suami buruk?

Jawabannya adalah: Kemungkinan terbesar:

a. Seseorang tersebut dijodohkan oleh keluarganya, jadi bukan berdasarkan pilihannya sendiri.
b. Seseorang tersebut tidak mengetahui dari awal bahwa pasangannya adalah orang buruk
c. Seseorang tersebut mengetahui bahwa calon pasanggannya adalah orang buruk, tetapi dia memiliki pandangan untuk memperbaikinya.

Kita tegaskan, orang baik itu akan cenderung kepada orang baik pula. Allahu A’lam

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Suraba

]]>
https://nidaulfithrah.com/mungkinkah-orang-baik-mendapatkan-pasangan-buruk-2/feed/ 4
TETANGGA SAYA NON MUSLIM https://nidaulfithrah.com/tetangga-saya-non-muslim-3/ https://nidaulfithrah.com/tetangga-saya-non-muslim-3/#comments Mon, 29 Aug 2022 22:39:32 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16259 Penanya: Bismillah. Bagaimana sikap kita ke tetangga yang non muslim? Apakah mereka mendapatkan hak bertetangga dengan baik?
Saya: Dengan non muslim di dalam bermuamalah, kita harus berbuat sebaik-baiknya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung
halamanmu. Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berbuat adil (QS. Al-Mumtahanah:8)

Jelaslah, di dalam muamalah kepada non muslim kita harus berbuat baik dan adil
Terlebih tetangga, tentu dia lebih utama lagi untuk kita bermuamalah dengan baik. Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga hingga saya menyangka bahwa tetangga itu berhak mendapatkan warisan (HR. Bukhari dan Muslim)

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/tetangga-saya-non-muslim-3/feed/ 1
TETANGGA SAYA NON MUSLIM https://nidaulfithrah.com/tetangga-saya-non-muslim-2/ https://nidaulfithrah.com/tetangga-saya-non-muslim-2/#respond Mon, 01 Aug 2022 02:09:11 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=15835

Penanya: Bismillah. Bagaimana sikap kita ke tetangga yang non muslim? Apakah mereka mendapatkan hak bertetangga dengan baik?

Saya: Dengan non muslim di dalam bermuamalah, kita harus berbuat sebaik-baiknya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ [الممتحنة: 8]

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berbuat adil (QS. Al-Mumtahanah:8)

Jelaslah, di dalam muamalah kepada non muslim kita harus berbuat baik dan adil

Terlebih tetangga, tentu dia lebih utama lagi untuk kita bermuamalah dengan baik. Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 عَنِ ابْنِ عُمَرَ-رضي الله عنه- قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- ‏:‏ مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ‏.‏

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga hingga saya menyangka bahwa tetangga itu berhak mendapatkan warisan“. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/tetangga-saya-non-muslim-2/feed/ 0
UJIAN HIDUP https://nidaulfithrah.com/ujian-hidup/ https://nidaulfithrah.com/ujian-hidup/#respond Mon, 01 Aug 2022 00:51:20 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=15798

Ketika kita shalat, sebelum salam kita membaca doa perlindungan kepada Allah. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits Muslim dari Abu Hurairah,

<<اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ>>

“Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari adzab jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan (baca: ujian hidup), fitnah kematian dan kejelekan fitnah al masih addajjal”

Kita akan bahas “fitnatul mahya” (ujian hidup). Ia meliputi, di antaranya:

  1. Ujian keimanan
    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [العنكبوت: 3-2]

    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka itu dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman. Sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahi orang-orang yang dusta” (QS. Al-Ankabut: 2-3)
    Contoh-contoh ujian keimanan; Allah memerintahkan kita untuk shalat tepat waktu, Jujur dalam berbisnis, senang berinfak, banyak membaca al-Qur’an, beragama sebagaimana para Sahabat, membiarkan jenggot . Dia melarang kita bertransaksi riba, mencuri/korupsi, dusta, dan lain lain. Apakah kita lulus dari semua ujian ini?

  2. Ujian harta dan anak.
    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ [التغابن: 15]
    “Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah, dan di sisi Allah lah pahala yang besar” (QS. At-Taghobun:15)
    Kalau kita tidak berhati-hati harta akan menghancurkan kita. Demikian pula anak-anak, kalau orang tua tidak berhati-hati maka akan menjadikannya bakhil dan pengecut. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ (رواه أحمد)
    “Sesungguhnya anak itu bisa menjadikan (orang tua) bakhil dan pengecut” (HR. Ahmad)

  3. Ujian kekufuran
    Kita sebagai muslim haruslah bersyukur karena mendapatkan nikmat yang paling besar yaitu nikmat beragama Islam. Karena ia adalah satu-satu agama Allah ‘Azza wa Jalla. Memeluknya berarti telah dijamin masuk Surga. Namun, kita tidak boleh tenang bahwa kita pasti tetap beragama Islam kalau kita tidak berhati-hati dari perkara-perkara yang bisa membatalkan keislaman. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ (البقرة: 191)
    “Fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan” (QS. Albaqoroh: 191)
    Disebutkan dalam Tafsir ath-Thobari, yang dimaksud fitnah di sini adalah syirik atau kekufuran.

  4. Ujian yang datangnya dari manusia sekitar.
    Berupa pujian dan ejekan. Kita dikatakan lulus kalau dipuji tidak lantas sombong dan kalau diejek tidak lantas berkecil hati
    Ujian lainnya adalah fitnatul mamat (ujian kematian). Setiap manusia di alam barzah akan ditanya dengan 3 pertanyaan; siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan Siapa Nabimu?Kalau kita lulus akan mendapatkan nikmat kubur, sebaliknya kalau tidak lulus akan mendapatkan siksa kubur.

 

Judul buku : 30 Materi Kultum

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/ujian-hidup/feed/ 0