A. Tangis Kemuliaan
Tidak selamanya menangis itu cengeng. Tidak selamanya menangis itu sedih. Karena orang bahagiapun bisa menangis. Dan, ketahuilah adakalanya menangis itu kemuliaan. Menangis yang bagaimana? Tidak lain menangis karena takut dan rindu kepada Allah. Dia โAzza wa Jalla memuji orang yang shaleh dari kalangan Ahli Kitab karena tangisannya. Disebutkan di dalam firman-Nya:
ููููุฎูุฑููููู ููููุฃูุฐูููุงูู ููุจูููููู ููููุฒููุฏูููู ู ุฎูุดููุนูุง [ุงูุฅุณุฑุงุก: 109]
โDan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyukโ (QS. Al-Israโ:109)
Tafsir ayat ini kita melihatnya di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir sebagai berikut ini:
ููููู: { ููุฎุฑูู ููุฃุฐูุงู ูุจููู } ุฃู: ุฎุถูุนุง ููู ุนุฒ ูุฌู ูุฅูู ุงูุง ูุชุตุฏููุง ุจูุชุงุจู ูุฑุณูููุ ููุฒูุฏูู ุงููู ุฎุดูุนุงุ ุฃู: ุฅูู ุงูุง ูุชุณููู ุง ูู ุง ูุงู:
( ูุงูุฐูู ุงูุชุฏูุง ุฒุงุฏูู ูุฏู ูุขุชุงูู ุชููุงูู : ู ุญู ุฏ: 17 )
โMereka tunduk kepada Allah โAzza wa Jalla dengan keimanan dan membenarkan Kitab-Nya (Al-Qurโan) dan Rasul-Nya (Muhammad). Untuk mereka, Allah pun menambahkan kekhusyuโan. Maksudnya Allah tambahkan keimanan dan ketundukannya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, โDan orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah akan menambahkan petunjuk bagi mereka dan menganugerahkan ketakwaanโ (QS. Muhammad:17)
Jadi, orang yang telah mendapatkan petunjuk harus terus meningkatkan kualitasnya. Demikian pula orang yang berilmu harus terus meningkatkan keilmuannya.
Jelaslah dari ayat di atas, apa yang menjadikan mereka menangis? Karena ke-โalim-an mereka tentang Allah. Semakin tinggi ke-โalim-an seseorang maka semakin tinggi khouf-nya kepada Allah. Lalu, air mata pun bercucuran. Allah berfirman:
ุฅููููู ูุง ููุฎูุดูู ุงูููููู ู ููู ุนูุจูุงุฏููู ุงููุนูููู ูุงุกู (ูุงุทุฑ:28)
โDi antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulamaโ (QS. Fathir:28)
Nabi shallallahu โalihi wa sallam sebagai orang yang ke-โalim– annya-tertinggi tentu menjadi teladan terdepan. Di antara riwayat tentang hal ini adalah:
ูุนู ุงุจู ู ุณุนูุฏ ุฑุถู ุงููู ุนูู ูุงู: ูุงู ูู ุงููุจู ๏ทบ (ุงูุฑุฃ ุนูู ุงููุฑุขู) ูููุช ูุง ุฑุณูู ุงููู ุฃูุฑุฃ ุนููู ูุนููู ุฃูุฒู ูุงู (ุฅูู ุฃุญุจ ุฃู ุฃุณู ุนู ู ู ุบูุฑู) ููุฑุฃุช ุนููู ุณูุฑุฉ ุงููุณุงุก ุญุชู ุฌุฆุช ุฅูู ูุฐู ุงูุขูุฉ ๏ดฟ ูููููููู ุฅูุฐูุง ุฌูุฆูููุง ู ูู ููููู ุฃูู ููุฉู ุจูุดููููุฏู ููุฌูุฆูููุง ุจููู ุนูููููฐ ูููฐุคูููุงุกู ุดููููุฏูุง ๏ดพ ูุงู (ุญุณุจู ุงูุขู) ูุงูุชูุช ุฅููู ูุฅุฐุง ุนููุงู ุชุฐุฑูุงู
( ู ุชูู ุนููู)
Dari Ibnu Masโud radhiyallahu โanhu, dia berkata: โNabi shallallahu โalaihi wa sallam bersabda kepadaku: โBacalah untukku Al-Qurโanโ. Saya bertanya: โYa Rasulullah akankah saya membacakan Al-Qurโan untukmu padahal kepada engkaulah dia diturunkan.โ Beliau shallallahu โalaihi wa sallam menjawab: โAku ingin mendengarkannya dari selainku.โ Dia berkata: โSaya pun membacakan untuk beliau surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat ini [ Dan bagaimanakah keadaan orang kafir nanti jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap ummat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka (Qs. An-Nisa:41)].โ Beliau bersabda: โCukup, berhenti kamu sekarang.โ Dia berakata: โSaya menoleh kepada beliau. Ternyata kedua matanya bercucuran air mata.โ( HR. Muslim).
Beliau menghentikan bacaan Abdullah Ibnu Masโud radhiyallahu โanhu karena tergambarkan kondisi Hari Kiamat yang sangat dahsyat. Di mana setiap orang akan diberitakan catatan amalannya. Dan masing-masing datang dengan cara berlutut. โDan pada Hari itu engkau akan melihat setiap ummat berlutut. Setiap ummat dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu sekalian diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakanโ (QS. Al-Jatsiyah:28). Saking dahsyatnya, para penentang Rasul ingin agar mati diratakan dengan tanah saja. โPada hari itu, orang yang kafir dan orang yang mendurhakai Rasul berharap sekiranya mereka diratakan dengan tanah. Padahal mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian apapun dari Allahโ (QS. An-Nisa:42)
Ketika tergambar dahsyatnya Hari Kiamat inilah, beliau shallallahu โalaihi wa sallam menangis. Bisakah kita menangis? Menangislah wahai jiwaโฆ
Berupayalah untuk bisa seperti para Sahabat yang mereka bisa menangis ketika diingatkan tentang dahsyatnya adzab Allah. Disebutkan di dalam riwayat,
ุนู ุฃูุณ ุฑุถู ุงููู ุนูู ูุงู : ุฎุทุจ ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ุฎุทุจุฉ ู ุง ุณู ุนุช ู ุซููุง ูุท ูุงู ( ูู ุชุนูู ูู ู ุง ุฃุนูู ูุถุญูุชู ููููุง ููุจููุชู ูุซูุฑุง ) . ูุงู ูุบุทู ุฃุตุญุงุจ ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ูุฌูููู ููู ุฎููู (ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู)
Dari Anas radhiyallahu โanhu, dia berkata: โRasulullah shallallahu โalaihi wa sallam berkhutbah sesuatu yang belum saya dengar semacamnya. Beliau bersabda: โKalau kalian mengetahui apa yang yang aku ketahui niscaya sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.โ Kemudian para Shahabat Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam menutupi wajah-wajah mereka (terdengar dari mereka) suara isak tangis.โ (HR. Bukhari)
Janganlah seperti orang yang sudah tidak tersentuh hatinya, โboro-boroโ menangis. Tetapi malah mentertawakannya. Inilah hati yang talah membatu. Tentang mereka disebutkan di dalam Al-Qurโan,
ุฃูููู ููู ููุฐูุง ุงููุญูุฏููุซู ุชูุนูุฌูุจูููู () ููุชูุถูุญูููููู ููููุง ุชูุจูููููู () ููุฃูููุชูู ู ุณูุงู ูุฏูููู [ุงููุฌู : 59 – 61]
โMaka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu tertawakan dan tidak menangis. Sementara kamu lengah (darinya)โ (QS. An-Najm:59-61)
Adalah sangat besar keutamaan bagi seseorang yang menangis karena takut kepada Allah. Ia akan menjadi salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan perlindungan dari Allah pada hari Kiamat. Juga mendapatkan jaminan tidak akan masuk ke dalam Neraka. Disebutkan dalam riwayat,
ุนููู ุฃูุจูู ููุฑูููุฑูุฉู ุนููู ุงููููุจูููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ููุงูู ยซ ุณูุจูุนูุฉู ููุธููููููู ู ุงูููููู ููู ุธูููููู ููููู ู ูุงู ุธูููู ุฅููุงูู ุธูููููู ุงูุฅูู ูุงู ู ุงููุนูุงุฏููู ุ ููุดูุงุจูู ููุดูุฃู ููู ุนูุจูุงุฏูุฉู ุฑูุจูููู ุ ููุฑูุฌููู ููููุจููู ู ูุนูููููู ููู ุงููู ูุณูุงุฌูุฏู ุ ููุฑูุฌููุงููู ุชูุญูุงุจููุง ููู ุงูููููู ุงุฌูุชูู ูุนูุง ุนููููููู ููุชูููุฑููููุง ุนููููููู ุ ููุฑูุฌููู ุทูููุจูุชููู ุงู ูุฑูุฃูุฉู ุฐูุงุชู ู ูููุตูุจู ููุฌูู ูุงูู ููููุงูู ุฅููููู ุฃูุฎูุงูู ุงูููููู . ููุฑูุฌููู ุชูุตูุฏูููู ุฃูุฎูููู ุญูุชููู ูุงู ุชูุนูููู ู ุดูู ูุงูููู ู ูุง ุชููููููู ููู ูููููู ุ ููุฑูุฌููู ุฐูููุฑู ุงูููููู ุฎูุงููููุง ููููุงุถูุชู ุนูููููุงูู (ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู ู ู ุณูู )
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu โalaihi wa sallam. Beliau bersabda: โAda tujuh golongan yang Allah akan lindungi mereka pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya yaitu : Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ketaatan di dalam peribadahan kepada Tuhan-Nya, seseorang yang hatinya terikat dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah dan berpisah juga karena Allah, seorang lelaki yang dibujuk oleh wanita berkedudukan nan cantik tetapi dia mengatakan saya takut kepada Allah, seseorang yang bershodaqoh dengan bersembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dishodaqohkan oleh tangan tangannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendiriannya lalu kedua matanya bercucuran air matanyaโ (HR. Bukhari dan Muslim)
ุนููู ุฃูุจูู ููุฑูููุฑูุฉู ุนููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงูู ููุง ููููุฌู ุงููููุงุฑู ุฑูุฌููู ุจูููู ู ููู ุฎูุดูููุฉู ุงูููููู ุชูุนูุงููู ุญูุชููู ููุนููุฏู ุงููููุจููู ููู ุงูุถููุฑูุนู ููููุง ููุฌูุชูู ูุนู ุบูุจูุงุฑู ููู ุณูุจูููู ุงูููููู ููุฏูุฎูุงูู ููุงุฑู ุฌููููููู ู (ุฑูุงู ุฃุญู ุฏ ู ุงูุชุฑู ุฐู ูุงููุณุงุฆู)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu โanhu, dari Nabi shallallahu โalaihi wa sallam, beliau bersabda: โTidak akan masuk ke dalam Neraka orang yang takut kepada Allah sehingga air susu masuk (kembali) ke dalam tetek. Dan debu bekas perjuangan di jalan Allah itu tidak akan pernah berkumpul dengan asap Neraka Jahannamโ (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasaโi)
Sebagaimana air susu tidak akan masuk kembali ke tetek, demikian pula orang yang menangis karena takut kepada Allah tidak akan masuk Neraka. Allahu Akbar
| Keutamaan orang yang menangis karena takut kepada Allah : 1. Mendapatkan perlindungan di Hari Kiamat dan 2. Dijamin tidak akan dimasukkan ke dalam Neraka |
B. Tangisan Para Sahabat
- Abu Bakar Ash-Shiddiq
ูุนู ุงุจู ุนู ุฑ ุฑุถู ุงููู ุนููู ุง ุ ููุงูู : ููู ููุง ุงุดูุชูุฏูู ุจุฑุณูู ุงููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ููุฌูุนููู ุ ููููู ูู ูู ุงูุตูููุงูุฉู ุ ููุงู : ู ูุฑููุง ุฃูุจูุง ุจูููุฑู ููููููุตูููู ุจูุงููููุงุณู ููุงูุช ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถู ุงููู ุนููุง : ุฅููู ุฃูุจูุง ุจูููุฑู ุฑูุฌููู ุฑูููููู ุ ุฅูุฐูุง ููุฑูุฃู ุงูููุฑูุขูู ุบูููุจููู ุงูุจูููุงุกู ุ ููุงู : ู ูุฑูููู ูููููุตูููู
ููู ุฑูุงูุฉ ุนู ุนุงุฆุดุฉ ุ ุฑุถู ุงููู ุนููุง ุ ูุงูุช : ููุช : ุฅููู ุฃูุจูุง ุจูููุฑู ุฅูุฐูุง ููุงู ู ู ูููุงู ููู ููู ู ููุณูู ูุนู ุงููููุงุณู ู ููู ุงูุจูููุงุกู (ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู ู ู ุณูู )
Dari Ibnu Umar radhiyallahu โanhuma, dia berkata: โKetika sakit Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam semakin parah, ada seseorang yang menanyakan kepadanya tentang (imam) shalat, maka beliau menjawab: โSuruhlah Abu Bakar untuk mengimami shalat bersama orang-orang.โ Maka Aisyah berkata: โSesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang sangat lembut hatinya, jika membaca Al-Qurโan tidak bisa menahan tangisnya.โ Maka beliau bersabda: โSurahlah dia untuk menjadi imam shalat.โ
Dalam sebuah riwayat dari Aisyah, dia menuturkan: Saya katakan: Sesungguhnya Abu Bakar itu jika menempati posisimu sebagai imam, maka tangisannya menjadikan orang-orang tidak dapat mendengar bacaannyaโ (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu โanhu adalah orang yang tinggi keimanan dan ketaqwaannya. Dia orang yang sangat takut kepada Tuhannya. Hal itu telah menjadikannya sebagai sosok yang berhati lembut. Air matapun terus bercucuran selama membaca Al-Qurโan, hingga Aisyah mengkhawatirkan jika dia dijadikan Imam niscaya bacaan Al-Qurโannya tidak akan bisa didengar oleh makmum. MasyaAllahโฆ.
Bagaimanakah keadaan kita ketika membaca Al-Qurโan? Bisakah menangis?
Menangislah, Wahai jiwa!!
- Ubay bin Kaโab
Disebutkan di dalam sebuah riwayat,
ุนููู ุฃูููุณู ุจููู ู ูุงูููู – ุฑุถู ุงููู ุนูู – ููุงูู ุงููููุจูููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ูุฃูุจูููู ยซ ุฅูููู ุงูููููู ุฃูู ูุฑูููู ุฃููู ุฃูููุฑูุฃู ุนููููููู ( ููู ู ูููููู ุงูููุฐูููู ููููุฑููุง ) ยป . ููุงูู ููุณูู ููุงููู ููุงูู ยซ ููุนูู ู ยป ููุจูููู (ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู ู ู ุณูู )
Dari Anas bin Malik radhiyallahu โanhu, dia berkata: โNabi shallallahu โalaihi wa sallam bersabda kepada Ubay: โSesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu (lam yakun alladzina kafaruโฆ).โ Ubay bertanya: โDia โAzza wa Jalla menyebut namaku?โ Beliau shallallahu โalaihi wa sallam menjawab: โYa.โ Lalu Ubay pun menangisโ (HR. Bukhari dan Muslim)
Tentang Hadits ini, disebutkan di dalam Fathul Bari kurang lebihnya bahwa sahabat Ubay bin Kaโab menangis karena senang dan bahagia (baca: rindu) kepada Tuhannya. Bisa juga karena khusyuโ dan takut atas kekurangannya di dalam berbuat kesyukuran kepada-Nya. Al-Qurthubi mengatakan: Ubay bin Kaโab terkejut dari hal tersebut karena namanya disebut oleh Allah โAzza wa Jalla agar Nabi membacakan kepadanya Al-Qurโan sebagai bentuk pemuliaan kepadanya. Karena itulah dia menangis gembira (baca: rindu kepada Tuhannya) bisa juga karena khusyuโ, selesai nukilan dari Fathul Bari.
- Ummu Aiman
ูุนู ุฃูุณ ูุงู : ูุงู ุฃุจู ุจูุฑ ูุนู ุฑ ุฑุถู ุงููู ุนููู ุง ุจุนุฏ ููุงุฉ ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู : ุงูุทูู ุจูุง ุฅูู ุฃู ุฃูู ู ูุฒูุฑูุง ูู ุง ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุฒูุฑูุง ููู ุง ุงูุชูููุง ุฅูููุง ุจูุช . ููุงูุง ููุง : ู ุง ูุจููู ุ ุฃู ุง ุชุนูู ูู ุฃู ู ุง ุนูุฏ ุงููู ุฎูุฑ ูุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุ ููุงูุช : ุฅูู ูุง ุฃุจูู ุฃูู ูุง ุฃุนูู ุฃู ู ุง ุนูุฏ ุงููู ุชุนุงูู ุฎูุฑ ูุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูููู ุฃุจูู ุฃู ุงููุญู ูุฏ ุงููุทุน ู ู ุงูุณู ุงุก ูููุฌุชูู ุง ุนูู ุงูุจูุงุก ูุฌุนูุง ูุจููุงู ู ุนูุง (ุฑูุงู ู ุณูู )
Dari Anas radhiyallahu โanhu, dia menceritakan: โAbu Bakar berkata kepada Umar radhiyallahu โanhuma sepeninggal Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam, โMari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman sebagaimana Rasulullah dulu mengunjunginya.โ Ketika keduanya sampai di tempatnya, Ummu Aiman menangis. Keduanya bertanya kepadanya: โApa yang membuatmu menangis? Bukankah engkau mengetahui bahwa apa yang di sisi Allah bagi Rasulullah itu lebih baik?โ Ummu Aiman menjawab: โAku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam, tapi aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.โ Ucapan Ummu Aiman ini mendorong keduanya untuk menangis. Akhirnya keduanya pun menangis bersamanyaโ (HR. Muslim)
Renungkanlah! Ummu Aiman menangis karena terputusnya wahyu bersamaan dengan wafatnya Nabi. Dia kehilangan kebaikan yang ada pada keberlangsungan turunnya wahyu. Kini, ia telah terputus. Dia pun sangat sedih atas hal itu. Abu Bakar dan Umar pun menangis bersamanya.
Wahai kaum muslimin, Al-Qurโan sebagai wahyu ilahi dan Hadits sebagai penjelasnya ada di tengah-tengah kita. Tidak sedihkah kita ketika keduanya dilecehkan? Bukan saja dilecehkan secara fisik, tetapi juga secara maknawi. Dalam pengertian ia tidak lagi dijadikan pedoman. Atau tetap dijadikan pedoman tetapi dipahami bukan dengan pemahaman yang semestinya. Seperti yang santer terjadi sekarang ini, kampanye paham Islam Nusantara. Oleh para tokohnya, pemahaman Islam yang notabene Al-Qurโan dan Hadits harus disesuaikan dengan budaya nusantara. Akhirnya kesyirikanpun bisa ditoleransi dengan dalih menjunjung tinggi budaya nusantara. Pada saat yang sama mereka menuduh akan banyaknya kaum muslimin yang beragama dengan Islam Arab yang berkarakter keras, menjajah dan tidak santun. Wal โiyadzu billah.
Ini, Al-Qurโan dan penjelasnya, Hadits masih ada di tengah-tengah kita. Tetapi, penyimpangan sudah terjadi sedemikan dahsyatnya. Wajarlah, ketika Al-Qurโan nanti diangkat dari muka bumi maka Islam tidak dikenali sama sekali. Hal ini telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu โalaihi wa sallam,
ุนููู ุญูุฐูููููุฉู ุจููู ุงููููู ูุงูู ููุงูู ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู - ยซ ููุฏูุฑูุณู ุงูุฅูุณููุงูู ู ููู ูุง ููุฏูุฑูุณู ููุดููู ุงูุซููููุจู ุญูุชููู ูุงู ููุฏูุฑูู ู ูุง ุตูููุงู ู ูููุงู ุตููุงูุฉู ูููุงู ููุณููู ูููุงู ุตูุฏูููุฉู ููููููุณูุฑูู ุนูููู ููุชูุงุจู ุงูููููู ุนูุฒูู ููุฌูููู ููู ููููููุฉู ูููุงู ููุจูููู ููู ุงูุฃูุฑูุถู ู ููููู ุขููุฉู ููุชูุจูููู ุทูููุงุฆููู ู ููู ุงููููุงุณู ุงูุดููููุฎู ุงููููุจููุฑู ููุงููุนูุฌููุฒู ูููููููููู ุฃูุฏูุฑูููููุง ุขุจูุงุกูููุง ุนูููู ููุฐููู ุงููููููู ูุฉู ูุงู ุฅููููู ุฅููุงูู ุงูููููู ููููุญููู ูููููููููุง ยป. ููููุงูู ูููู ุตูููุฉู ู ูุง ุชูุบูููู ุนูููููู ู ูุงู ุฅููููู ุฅููุงูู ุงูููููู ููููู ู ูุงู ููุฏูุฑูููู ู ูุง ุตููุงูุฉู ูููุงู ุตูููุงู ู ูููุงู ููุณููู ูููุงู ุตูุฏูููุฉู ููุฃูุนูุฑูุถู ุนููููู ุญูุฐูููููุฉู ุซูู ูู ุฑูุฏููููุง ุนููููููู ุซููุงูุซูุง ููููู ุฐููููู ููุนูุฑูุถู ุนููููู ุญูุฐูููููุฉู ุซูู ูู ุฃูููุจููู ุนููููููู ููู ุงูุซููุงููุซูุฉู ููููุงูู ููุง ุตูููุฉู ุชูููุฌููููู ู ู ููู ุงููููุงุฑู. ุซููุงูุซูุง (ุฑูุงู ุงุจู ู ุงุฌู)
Dari Hudzaifah bin al-Yaman, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, โIslam akan lenyap sebagaimana lenyapnya warna pada baju yang luntur. Hingga tidak lagi diketahui apa itu puasa, shalat, qurban, dan shadaqah. Kitabullah akan diangkat dalam satu malam, hingga tidak tersisalah satu ayat pun di bumi. Tinggallah segolongan manusia yang terdiri dari orang tua dan renta. Mereka berkata, ‘Kami dapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallaah dan kami pun mengucapkannya.โโ Shilah berkata kepadanya, โBukankah kalimat laa ilaaha illallaah tidak bermanfaat untuk mereka, jika mereka tidak tahu apa itu shalat, puasa, qurban, dan shadaqah?โ
Lalu Hudzaifah berpaling darinya. Shilah mengulangi pertanyaannya tiga kali. Setiap kali itu pula Hudzaifah berpaling darinya. Pada kali yang ketiga, Hudzaifah menoleh dan berkata, โWahai Shilah, kalimat itulah yang akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Dia mengulanginya tiga kali.โ (HR. Ibnu Majah)
Menangislah wahai jiwaโฆ.
- Abdurrahman bin Auf
ุนููู ุณูุนูุฏู ุจููู ุฅูุจูุฑูุงูููู ู ุนููู ุฃูุจูููู ุฅูุจูุฑูุงูููู ู ุฃูููู ุนูุจูุฏู ุงูุฑููุญูู ููู ุจููู ุนููููู – ุฑุถู ุงููู ุนูู – ุฃูุชููู ุจูุทูุนูุงู ู ููููุงูู ุตูุงุฆูู ูุง ููููุงูู ููุชููู ู ูุตูุนูุจู ุจููู ุนูู ูููุฑู ูููููู ุฎูููุฑู ู ููููู ุ ููููููู ููู ุจูุฑูุฏูุฉู ุ ุฅููู ุบูุทูููู ุฑูุฃูุณููู ุจูุฏูุชู ุฑูุฌููุงููู ุ ููุฅููู ุบูุทูููู ุฑูุฌููุงููู ุจูุฏูุง ุฑูุฃูุณููู – ููุฃูุฑูุงูู ููุงูู – ููููุชููู ุญูู ูุฒูุฉู ูููููู ุฎูููุฑู ู ููููู ุ ุซูู ูู ุจูุณูุทู ููููุง ู ููู ุงูุฏููููููุง ู ูุง ุจูุณูุทู – ุฃููู ููุงูู ุฃูุนูุทููููุง ู ููู ุงูุฏููููููุง ู ูุง ุฃูุนูุทููููุง – ููููุฏู ุฎูุดููููุง ุฃููู ุชูููููู ุญูุณูููุงุชูููุง ุนูุฌููููุชู ููููุง ุ ุซูู ูู ุฌูุนููู ููุจูููู ุญูุชููู ุชูุฑููู ุงูุทููุนูุงู ู (ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู)
โDari Saโad bin Ibrahim dari ayahnya Ibrahim bahwa Abdurrahman bin Auf radhiyallahu โanhu ketika dihidangkan makanan yang waktu itu dia sedang berpuasa, berkata: โMushโab bin Umair telah terbunuh. Dia adalah seseorang yang lebih baik dariku. Tidak ada kain yang bisa digunakan untuk mengkafaninya kecuali sehelai selimut. Jika ditutupkan pada kepalanya terbukalah kedua kakinya. Jika ditutupkan pada kedua kakinya terbukalah kepalanya โ. Saya (periwayat) juga melihat beliau mengatakan: โ Hamzah juga telah terbunuh, dia juga lebih baik dari diriku. Sementata saya dilapangkan dengan dunia selapang-lapangnya. (Periwayat mengatakan: ) atau yang beliau katakan adalah: โSementara saya diberikan harta sebanyak-banyaknya. Saya khawatir jangan-jangan kebaikan untukku telah disegerakanโ. Kemudian dia terus menangis hingga meninggalkan makanannya ituโ (HR. Bukhari)
Mushโab bin Umair adalah seorang pemuda yang orangtuanya kaya raya. Dia seorang pemuda Makkah yang berpakaian paling mewah dari antara pemuda lainnya. Ketika hijrah ke Madinah, semuanya itu ditanggalkan. Dia hanya berpakaian dengan kain yang lusuh. Nah, suatu ketika Abdurrahman bin Auf disuguhi makanan. Namu, pikirannya tertuju pada kondisi kehidupan Mushโab bin Umair. Air mata pun berurai tak terbendung. Bagaimana tidak, kondisinya sangat memilukan. Seorang pemuda dari keluarga berada, tetapi ketika hijrah menjadi miskin. Kain kafannya pun tidak mencukupinya. Hal inilah yang menjadikan Abdurrahman bin Auf yang kaya raya bergelimang dengan harta menjadi takut karena mengkhawatirkan bahwa yang didapatkannya adalah istidraj. Dia mengatakan: โSaya khawatir jangan-jangan kebaikan untukku telah disegerakan.โ Maksudnya telah diberikan semua ketika di dunia, sehingga di Akhirat nanti tidak mendapatkan apa-apa.
MasyaAllah, Abdurrahman bin Auf menangisi hartanya karena mengkhwatirkan istidraj. Orang semacam ini tidak mungkin akan membanggakan diri dengan kekayaan. Dan, demikianlah realitanya dia adalah sosok konglomerat yang sangat dermawan.
Jika Anda tidak menangis maka menangislah, Wahai jiwa !!!
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)
Majalah Bulan Oktober, 2018 Edisi 70
