Solusi Investasi Akhirat Anda

Khouf? Harus Itu!

Tidaklah manusia dan jin diciptakan Allah ‘Azza wa Jalla melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah atau penghambaan diri kepada-Nya tidak akan terwujud sebaik-baiknya kecuali kalau ditopang oleh tiga pilar, yaitu: mahabbah (cinta), khouf (takut) dan roja’ (berharap). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا   -الإسراء: 57

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sungguh, adzab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti” (QS. Al-Isra’:57)

يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

“mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)”. Tidak mungkin mereka berlomba untuk mencari jalan agar bisa sedekat-dekatnya kepada Allah kalau pada mereka tidak ada mahabbah (cinta) kepada-Nya. Jadi, ini dalil pilar Mahabbah (cinta).

وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ

Mereka mengharapkan rahmat-Nya”. Ini dalil pilar roja’ (berharap)

وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

Dan mereka takut akan adzab-Nya”. Ini dalil khouf (takut)

Maksud ayat di atas sebagaimana disebutkan di dalam Tafsir Ath-Thobari adalah ada sekelompok jin yang diseru (disembah) oleh manusia, mereka masuk Islam sementara manusia tidak mengetahui keislaman mereka. Para jin tersebut terus diseru padahal mereka sendiri senantiasa berlomba untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap adzab-Nya.

Orang yang beribadah dengan pilar hanya mahabbah saja, maka ia adalah shufi

Orang yang beribadah dengan pilar hanya khouf saja, maka ia adalah khawarij

Orang yang beribadah dengan pilar roja’ saja, maka ia adalah murjiah.

Adapun Ahlussunnah beribadah dengan ketiga pilar tersebut

Inilah tiga pilar ibadah: Mahabbah (cinta), Khouf (takut) dan Roja’ ( berharap)

Ketiga pilar ini digambarkan oleh para ulama laksana burung yang ada pada dirinya kepala dan dua sayap. Kepala adalah perumpamaan untuk mahabbah dan kedua sayap untuk khouf dan roja’.

Tanpa kepala burung itu tidak ada artinya sama sekali, karena ia bangkai yang mati. Demikian pula manusia tanpa mahabbah (cinta) kepada Allah hakikatnya adalah mati meskipun wujudnya hidup, karena keberadaannya benar-benar telah keluar dari fitrahnya. Jadi, mahabbah haruslah ada pada diri manusia sebagaimana kepala pada burung.  

Burung dengan kepalanya bisa mengarahkan diri ke mana dia suka,  kedua sayaplah yang mengimbanginya.  Kalau salah satu sayapnya sakit atau tidak berfungsi niscaya burung tidak akan sampai ke tempat yang hendak dituju. Demikian pula manusia, dengan mahabbahnya dia senantiasa menghadapkan diri untuk beribadah kepada-Nya. Khouf dan roja’ lah yang mengimbanginya. Kalau yang ada hanya satu saja; khouf saja atau roja’ saja niscaya peribadahannya tidak bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Mahabbah harus diimbangi dengan khouf dan roja’. Inilah pilar ibadah yang akan menopang peribadahan seorang hamba untuk bisa menjalankannya sebaki-baiknya

Pada rubrik kali ini kita akan fokus pada pembahasan khouf terlebih dahulu.

  1. Dalil-Dalil Tentang Khouf

وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ () إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ () وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ () يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ () فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ   -هود: 102 – 106

“Dan demikianlah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negri-negri yang berbuat zhalim. Sungguh siksanya sangat pedih, sangat berat. Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab Akherat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan itulah hari yang disaksikan oleh semua makhluk. Dan Kami tidak akan menunda kecuali sampai waktu yang telah ditentukan. Ketika hari itu datang, tidak seorangpun yang berbicara kecuali dengan seizin-Nya, maka di antara mereka ada yang sengsara ada yang bahagia. Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka tempatnya di dalam Neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih”. (Qs. Hud:102-106)

Orang-orang mendustakan para Nabi, maka Allah turunkan adzab yang sangat dahsyat pada negri mereka. Itu baru di dunia. Adzab di Akherat nanti tentu lebih dahsyat lagi.

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ () وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ  -الفجر: 25، 26

“Pada hari itu (Kiamat) tidak ada seorangpun yang mengadzab seperti adzab-Nya. Dan tidak ada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya” (Qs. Al-Fajr:25-26)

Sedahsyat apapun siksa di dunia masih bisa dibayangkan.

Tapi, Adzab di Akherat sedikitpun tidak bisa dibayangkan karena saking dahsyatnya.

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ () وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ () وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ () لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ   -عبس: 34 – 37

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dan dari Ibu dan Bapaknya. Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya” (Qs. Abasa: 34-37)

Dunia yang tingkat kesulitannya tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan Akhirat, itu pun  manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri tanpa orang lain. Lalu bagaimana untuk menghadapi Akherat dengan kengerian Mahsyar yang sangat dahsyat tanpa ada siapapun yang disandari???!!

مِنْ وَرَائِهِ جَهَنَّمُ وَيُسْقَى مِنْ مَاءٍ صَدِيدٍ () يَتَجَرَّعُهُ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ  -إبراهييم :16-17

“Dihadapannya ada Neraka Jahannam dan dia akan diberi minuman dari air nanah. Diteguk-teguknya (air nanah itu) dan dia hampir tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan dihadapannya (masih ada) adzab yang berat” (Qs. Ibrahim:15-17)

Ayat ini mengancam setiap orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala. Orang yang mendustakan dan menyakiti para Rasul dan siapa saja yang membawa kebenaran dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Di dunia, duri nyangkut di tenggorokan saja sudah kesakitan lalu bagaimana tersedak di Akherat???!!!

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا »  -رواه مسلم

“Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ketika itu diseretlah seseorang ke Neraka Jahannam. Ia memiliki tujuh tali kekang. Setiap satu tali ditarik oleh tujuhpuluh Malaikat (HR. Muslim)

حَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَةٌ يَغْلِى مِنْهَا دِمَاغُهُ »    -رواه البخارى و مسلم

“…. Nu’man berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya penduduk Neraka yang paling ringan adzabnya pada hari Kiamat adalah seseorang yang diletakkan bara api di bawah kedua telapak kakinya seketika otaknya mendidih karenanya(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa panasnya api Neraka, bisakah dibayangakan??!!

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « ( يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ) حَتَّى يَغِيبَ أَحَدُهُمْ فِى رَشْحِهِ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ  -رواه البخارى و مسلم

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia berdiri di hadapan Tuhan semesta alam, ada seseorang di antara mereka yang tenggelam dengan keringatnya hingga setengah telinganya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dunia, adakah orang yang kepanasan dan ketakutan menjadikan keringatnya “gembrobyos” hingga menenggelamkan dirinya???!!!

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالَ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ » -رواه البخارى ومسلم

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang dan tidak berkhitan. Saya berkata: Ya Rasulullah wanita dan lelaki berkumpul jadi satu, nanti sebagian mereka akan melihat sebagian yang lainnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesan apa yang Anda rasakan setelah membaca Hadits ini? Semua lelaki dan perempuan dikumpulkan jadi satu tetapi sedikitpun tidak ada orang yang menoleh. Ini menunjukkan betapa mengerikan kondisi di mahsyar nanti

  • Pengaruh Khouf (Rasa Takut) Pada Seseorang

Ketika khouf (rasa takut) kepada Allah ‘Azza wa Jalla bahwa adzab-Nya sangat dahsyat dan Neraka-Nya sangat mengerikan, maka seseorang akan berhati-hati sekali di dalam menjalani kehidupan. Dia, di segala waktu akan senantiasa memposisikan dan mengkondisikan diri di dalam penghambaan kepada-Nya. Apa yang merupakan syariat-Nya baik berupa perintah atau larangan, maka ia betul-betul akan memperhatikannya.

Ingatkah Anda tentang seseorang yang diceritakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia sangat mencintai wanita keponakannya tetapi selalu gagal merayunya. Suatu ketika karena desakan kondisi, wanita tersebut menyerah. Diapun menuruti kemauan lelaki tersebut. Begitu dia sudah menguasainya dan berada di atas pahanya, terbayanglah murka dan adzab Allah. Akhirnya dia diperintahkan pergi dan uang sekian ratus dinar diikhlaskannya. MasyaAllah, khouf lah yang menjadikannya bisa terlepas dari jeratan nafsu birahi.

Ingatkah Anda tentang gadis putri dari seorang ibu penjual susu pada zaman Khalifah Umar bin Khoththob. Dia disuruh untuk mencampurkan susu dengan air. Dia bersikukuh untuk tidak melakukannya meskipun tidak ada siapapun yang melihatnya, hanya dia dengan ibunya. Faktor apakah sehingga dia bisa bersikap demikian? Tidak lain adalah khouf.

Ingatkah Anda seorang pemuda pada zaman khalifah Umar bin Khottob? Dia harus diqishosh karena telah membunuh seseorang. Dia memohon untuk kembali kepada kaumnya terlebih dahulu karena ada amanah yang diembannya. Dia berjanji, setelah urusannya selesai akan datang lagi untuk diqishosh. (Singkat cerita) Khalifah Umar pun mengizinkan. Pada hari yang ditetapkan dia benar-benar datang menyerahkan diri. Allahu Akbar!!! Apa yang menjadikannya datang kembali untuk diqishosh. Padahal seandainya dia melarikan diri tidak akan bisa dijumpai dan selamatlah dari eksekusi qishosh. Jawabannya tidak lain adalah pada dirinya ada khouf bahwa apa artinya selamat di dunia, jika di Akherat tidak bisa selamat lagi pula penderitaan di Akhirat jauh lebih dahsyat.

Siapapun orangnya pasti tersentuh dengan kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Secara kondisi kemanusiaan, dia tidak mungkin bisa terlepas dari “perangkap syahwat”. Bagaimana tidak, Dia seorang jejaka, jauh di negri orang, tidak ada famili, fisiknya sangat ganteng, dirayu-rayu, perayunya seorang permaisuri kerajaan yang sangat cantik nan berkedudukan, hanya berduaan di dalam rumah yang sudah ditutup seluruh jendela dan pintunya.  Adakah celah untuk bisa terbebas dari perangkap ini? Rasanya sangat sulit. Lalu apa yang bisa membuatnya terlepas dan “lari sekencang-kencangnya”? Tidak lain adalah khouf.

Disebutkan dalam Al-Qur’an,

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ   -يوسف: 23

“Dan perempuan yang dia (Yusuf) berada di rumahnya menggoda dirinya. Dia menutup pintu-pintu lalu berkata: Marilah mendekat kepadaku. Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah. Sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang yang zhalim itu tidak akan beruntung” (Qs. Yusuf: 23)

Ingatkah Anda tentang seorang Sahabat yang “merengek” kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam untuk dirajam akibat berzina. Padahal hukuman ini menjadikannya mati. Apa yang mendorongnya mengambil keputusan demikian? Tidak lain adalah khouf akan hukuman di Akherat yang penderitaannya lebih dahsyat tak tertandingi. Maka, dia menginginkan disucikan di dunia sehingga nantinya bisa menghadap Allah ‘Azza wa Jalla tanpa membawa dosa. Orang yang terjerumus berbuat dosapun masih harus ada khouf pada dirinya. Khouf inilah yang menggiringnya kepada taubat nasuha.

Khouf tidak sjaa untuk mengantisipasi agar tidak berbuat dosa, tapi juga harus tetap ada pada orang yang terjerumus dosa untuk menggiringnya bertaubat.

Jika khouf (rasa takut) kepada Allah tidak ada pada diri seseorang dampaknya sangat buruk sekali.  Dia bisa melecehkan syariat yang akhirnya berbuat semena-mena, sepeti orang Yahudi. Mereka melakukan penindasan dan kezhaliman-kezhaliman karena merasa tidak akan pernah masuk Neraka. Jika harus masuk Neraka, maka paling-paling hanya sebentar saja. Tentang mereka ini Allah informasikan di dalam Al-Qur’an,

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً  -البقرة:80

“Dan mereka (orang Yahudi) mengatakan: Kami sekali-kali tidak akan disentuh api Neraka kecuali hanya beberapa hari saja” (Qs. Al-Baqoroh: 80)

  • Jika Khouf Telah Terpatri di Dalam Jiwa, maka Tidak Ada Apapun  dan Siapapun yang Ditakuti

Energi khouf kepada Allah sangatlah luar biasa. Ia bisa menjadikan seseorang tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Orang yang sebenarnya tidak punya rumah, namun ia bersikeras untuk tidak memilikinya selama sistem kredit yang ada adalah ribawi. Padahal ia punya uang untuk itu.  MasyaAllah, dia tidak takut untuk tidak punya rumah. Ia rela pindah-pindah kontrakan.  Sungguh khouf telah terpatri di dalam jiwanya.

Imam Ahmad, seorang ulama sunnah yang mendapatkan ujian besar tentang kemakhlukan Al-Qur’an dari tiga penguasa; Makmun, Al-Mu’tashim dan Alwatsik. Ketiganya menyiksa beliau sedemikian kerasnya. Cambuk, sesuatu yang terus beliau dapatkan. Bahkan pernah dicambuk hingga pingsan. Hidup dalam penjara yang mematikan gerak dakwahnya senantiasa dialaminya. Bahkan pernah dipenjara dalam keadaan dibelenggu kakinya. Sehingga shalatpun dalam keadaan kaki terbelenggu. Namun, semua itu tidak menjadikannya ciut lantas menuruti mereka untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.  Beliau baru terbebas dari siksaan setelah naiknya penguasa yang bernama Almutawakkil menggantikan Alwatsik. Kenapa beliau bisa bersikap demikian? Menjalani siksaan yang luar biasa kerasnya. Jawabannya tidak lain adalah Khouf kepada Allah telah menggiringnya untuk tidak pernah takut kepada siapapun kecuali kepada-Nya.

  • d.      Tidak Sepatutnya Merasa Nyaman Orang yang Kehilangan Khouf Pada Dirinya

Keterlaluan kalau kita  tidak memiliki khouf sementara Malaikat, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dan para Sahabat (orang yang telah mendapatkan legitimasi “radhiyallahu ‘anhum”) begitu dahsyatnya khouf mereka kepada Allah. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ  -النحل: 50

“Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka” (Qs. An-Nahl:50)

Tentang khoufnya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam,

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ – قَالَتْ – وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ ذَلِكَ فِى وَجْهِهِ. فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَى النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا. رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عَرَفْتُ فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا يُؤَمِّنُنِى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا (هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا) »  -رواه البخارى و مسلم

“Dari Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata:  Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga saya melihat langit-langitnya, tetapi beliau hanya tersenyum.  Aisyah berkata: Beliau jika melihat mendung, atau angin maka diketahui yang demikian itu (kegelisahan) pada wajah beliau.  Aisyah bertanya: Ya Rasulullah, saya melihat manusia jika melihat mendung mereka bergembira karena berharap akan turun hujan. Sementara saya melihat engkau jika melihatnya maka saya tahu dari wajahmu kegelisahan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : wahai Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman, boleh jadi padanya ada adzab, sungguh telah diadzab suatu kaum dengan angin, dan sungguh ada suatu kaum yang melihat adzab mereka justru mengatakan : ini adalah mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Tentang khoufnya para Sahabat radhiyallahu ‘anhum,  di antaranya adalah:

  1. Abu Bakar Ash Shidiq

Beliau adalah ummat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam yang terbaik. Khalifah pertama. Dijamin masuk Surga. Dipilih oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam untuk menemani hijrah. Beliaulah yang diminta Nabi shallallahu `alaihi wa sallam untuk menggantikan mengimami shalat. Meski demikian, dia sering menangis karena khouf yang terpatri pada jiwanya. Di antara riwayat tentangnya,

عن زيد بن أسلم ، عن أبيه : أن عمر بن الخطاب ، اطلع على أبي بكر وهو يمد لسانه ، قال : ما تصنع يا خليفة رسول الله ؟ قال : إن هذا الذي أوردني الموارد ، إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « ليس شيء من الجسد إلا يشكو ذرب  اللسان على حدته   -شعب الإيمان للبيهقي

Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya bahwa Umar bin Al-Khoththob memperhatikan Abu Bakar yang sedang menjulurkan lidahnya. Dia bertanya: Apa yang engkau perbuat wahai Kholifah Rasulullah? Dia menjawab: Sesungguhnya inilah yang menjadikanku banyak berbicara, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah bagian dari jasad in melainkan akan mengadukan rusaknya lisan karena saking tajamnya” (Syu’abul Iman lil Baihaqi)

Dia pun mengatakan, “Menangislah, jika tidak bisa menangis maka berusahalah menangis!” sebagaimana disebutkan dalam riwayat,

حدثنا وكيع عن مسعر عن بن عون عن عرفجة السلمي قال قال أبو بكر ابكوا فان لم تبكوا فتباكوا  -مصنف ابن أبي شيبة

“…. Abu Bakar berkata: Menangislah, jika tidak bisa menangis maka berusahalah menangis!” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah)

  • Umar bin Al Khoththob.

Dia adalah seseorang di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan Surga. Dia itu seorang khalifah yang melalui tangannya Allah izinkan bisa menaklukkan dua kerajaan besar, yaitu: Persia dan Romawi. Dia adalah seorang yang syetan lari darinya. Dia adalah seorang yang Nabi shallallahu `alaihi wa sallam sabdakan “Jika ada nabi setelahku, maka dia adalah Umar”. Namun, dia sangat takut kalau dirinya termasuk orang munafik. Dia pun bertanya kepada Sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman pemegang rahasia Nabi shallallahu `alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, 

حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن زيد بن وهب قال مات رجل من المنافقين فلم يصل عليه حذيفة فقال له عمر أمن القوم هو قال نعم فقال له عمر بالله منهم أنا قال لا ولن أخبر به أحدا بعدك  -مصنف ابن أبي شيبة

“Abu Muawiyah memberitahukan kepada kami, dari A’masy, dari Zaid bin Wahb, dia berkata: Ada seorang munafik meninggal dunia, Hudzaifah tidak menyolatinya. Umar pun bertanya kepadanya: Apakah dia termasuk dari kaum itu (munafik)? Dia menjawab: Iya. Lalu Umar bertanya: Demi Allah, apakah saya juga termasuk dari mereka? Dia menjawab: Tidak. Setelah ini saya tidak akan memberitahukan kepada siapapun” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah)

Orang dengan level keshalihan yang sangat tinggi, khouf telah menjadikannya memandang dirinya sebagai orang yang “kecill” bukan malah ‘ujub

  • Utsman bin Affan

Dia menjadi menantu Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dengan menikahi dua putri beliau. Dia Khalifah yang ketiga. Orang yang diberi Allah anugerah kekayaan dan menjadi salah satu penyokong dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orangnya sangat lembut, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dan Malaikat pun malu kepadanya,

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِى حَرْمَلَةَ عَنْ عَطَاءٍ وَسُلَيْمَانَ ابْنَىْ يَسَارٍ وَأَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُضْطَجِعًا فِى بَيْتِى كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَسَوَّى ثِيَابَهُ – قَالَ مُحَمَّدٌ وَلاَ أَقُولُ ذَلِكَ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ – فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ « أَلاَ أَسْتَحِى مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِى مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ »  -رواه مسلم

“….. ‘Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berbaring rebahan di rumahku, kedua paha atau betisnya tersingkap. Ketika itu Abu Bakar meminta izin untuk masuk, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengizinkannya dan beliau tetap dalam keadaan seperti itu. Lalu Umar meminta izin untuk masuk, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengizinkannya dan beliau dalam keadaan seperti itu juga. Lalu Utsman minta izin untuk masuk, maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam langsung duduk dan membetulkan bajunya. Muhammad (periwayat) berkata: Saya tidak berkata itu terjadi dalam satu hari. Dia (Utsman) pun masuk dan berbicara. Ketika dia keluar, Aisyah berkata: Ketika Abu Bakar masuk,  engkau tidak beranjak dan biasa-biasa saja. Ketika Umar masuk, engkau juga tidak beranjak dan biasa-biasa saja. Begitu Utsman masuk, engkau langsung duduk dan membetulkan bajumu. Beliau menjawab: Tidakkah saya malu kepada seseorang yang Malaikat saja malu kepadanya?” (HR. Muslim)

Bersamaan dengan kondisi yang demikian itu, khouf sangat terpatri kuat dalam jiwanya. Disebutkan di dalam riwayat,

عن عثمان قال : لو أنى بين الجنة والنار لا أدرى إلى أيتهما يؤمر بى لاخترت أن أكون ترابا قبل أن أعلم إلى أيتهما أصير  -أحمد فى الزهد ، كنز العمال 36174

“Dari Utsman, dia berkata: Jika saya berada di antara Surga dan Neraka, sementara saya tidak tahu kemanakah saya akan diperintahkan (untuk digiring), niscaya saya memilih untuk menjadi debu sebelum saya mengetahui kemanakah diantara keduanya saya akan berjalan” (Imam Ahmad di dalam bab zuhud, Kanzul Amal 36174)

  • Ali bin Abi Tholib

Dia adalah seseorang yang dipercaya menggantikan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam  di tempat tidurnya ketika beliau dikepung untuk dibunuh. Dia menantu Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam . Khalifah yang ketiga. Dipercaya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam untuk menjadi wakilnya di Madinah selama perang Tabuk yang ketika itu beliau mengatakan bahwa kedudukannya dari diri beliau adalah seperti Nabi Musa dan Nabi Harun. Orang yang diberitakan kabar gembira dengan Surga. Orang yang dipilih Nabi shallallahu `alaihi wa sallam untuk mengangkat panji dalam perang Khaibar di saat seluruh Sahabat mengharapkannya. Sebagaimana disebutkan di dalam riwayat,  

…… قال النبي -صلى الله عليه وسلم-: “لأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلاً يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ”. فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا – قَالَ – فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَرْجُونَ أَنْ يُعْطَاهَا فَقَالَ “أَيْنَ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِب”. فَقَالُوا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ – قَالَ – فَأَرْسَلُوا إِلَيْهِ فَأُتِىَ بِهِ فَبَصَقَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ فَأَعْطَاهُ الرَّايَةَ فَقَالَ عَلِىٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا. فَقَالَ “انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ” -رواه مسلم

“…Demi Allah, akan aku serahkan bendera ini esok hari kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui dirinya.” Maka semalam suntuk orang-orang (para sahabat) membicarakan tentang siapakah di antara  mereka yang akan diberikan bendera tersebut. Keesokan harinya, para sahabat mendatangi Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Dijawab, “Kedua matanya sedang sakit.” Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memerintahkan, “Panggil dan bawa dia kemari.” Dibawalah Ali ke hadapan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, lalu beliau meludahi kedua matanya yang sakit seraya berdo’a untuknya. Seketika Ali sembuh total seolah-olah tidak tertimpa sakit sebelumnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan bendera kepadanya. Lalu Ali berkata, “Wahai Rasulullah, aku memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita.” Rasululah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Majulah dengan tenang, sampai engkau tiba di tempat mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh lebih berharga bagimu daripada memiliki onta-onta merah.” (HR. Muslim).

Bersamaan dengan keutamaan yang sedemikian rupa, khouf terpatri kuat pada diri Ali bin Abi Tholib. Terlebih kepada dua perkara, yaitu: Panjangnya angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Dia pun berkata sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat,

عن سفيان ، عن عطاء بن السائب ، عن أبي عبد الرحمن السلمي ، قال : خطب علي بن أبي طالب رضي الله عنه بالكوفة فقال : « يا أيها الناس ، إن أخوف ما أخاف عليكم طول الأمل ، واتباع الهوى ، فأما طول الأمل فينسي الآخرة ، وأما اتباع الهوى فيضل عن الحق ، ألا إن الدنيا قد ولت مدبرة ، والآخرة مقبلة ، ولكل واحدة منهما بنون ، فكونوا من أبناء الآخرة ، ولا تكونوا من أبناء الدنيا ، فإن اليوم عمل ولا حساب ، وغدا حساب ولا عمل »   -شعب الإيمان للبيهقي- 2 2/ 39، بترقيم الشاملة آليا

“…… Ali radhiyallahu ‘anhu berkhutbah di Kufah: Wahai manusia! Sesungguhnya perkara yang paling saya khawatir pada kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Adapun panjang angan-angan, ia akan melupakan Akherat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan tersesat dari kebenaran. Ketahuilah dunia itu akan ditinggalkan, Akhiratlah yang akan diraih. Masing-masing memiliki prajurit. Jadilah kalian prajurit Akhirat jangan menjadi prajurit dunia. Hari ini adanya amal tidak ada hisab, sementara besok yang ada adalah hisab tidak ada amal”. (Syu’abul Iman lil Baihaqi)

Semoga kita semua bisa menguatkan pilar ibdah, khouf. Sehingga kita menjadi sebaik-baiknya hamba. Amin.

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)