DAKWAH – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Thu, 30 Apr 2026 06:49:15 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png DAKWAH – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Sinergi Dakwah – Sinergi Bidang Pendidikan https://nidaulfithrah.com/sinergi-dakwah-taawun-bidang-pendidikan/ Thu, 30 Apr 2026 06:14:11 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21807

Jum’at, 6 Dzulqo’dah 1447 atau bertepatan dengan tanggal 24 April 2026, Yayasan Nidaul Fithrah kedatangan tamu dari pengurus Yayasan As Sunnah Islamic Center Surabaya, alhamdulillah pada kesempatan kali ini tema yang kita angkat adalah terkait dunia pendidikan, semoga Allah memudahkan dan memberkahi pergerakan dakwah ini sehingga melahirkan generasi-generasi yang tumbuh di atas Tauhid dan Sunnah, aamiin.

]]>
EMAIL – Elektronik Majelis Ilmu / Program RASAQU Rmadhan 1447 H https://nidaulfithrah.com/email-elektronik-majelis-ilmu-program-rasaqu-rmadhan-1447-h/ Tue, 24 Feb 2026 01:44:58 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21474

Alhamdulillah program RASAQU – Ramadhan Bersama Al Qur’an tahun 1447 H telah ditayangkan perdana pada tanggal 3 Romadhon 1447 H bertepatan hari Sabtu. Program RASAQU ini bertujuan agar anak-anak senantiasa sibuk dengan Al Qur’an di bulan yang penuh berkah ini, aamiin.

]]>
Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 3 https://nidaulfithrah.com/nabi-yusuf-alaihissalam-kisah-dan-ibrah-bagian-3/ Tue, 17 Feb 2026 08:46:49 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21430 Diangkat menjadi pejabat kerajaan

Ketika raja dan seluruh orang meyakini akan kebenaran dan kebaikan Yusuf, dia memerintahkan seseorang agar membawa Yusuf ke hadapan dirinya. Setelah berada di hadapannya dan mengajaknya berbicara, raja begitu terkagum-kagum dengan pembicaraannya yang menunjukkan bahwa ia orang yang amanah, bersih dari tuduhan, berwawasan luas dan berakhlak mulia. Hal ini menjadikan raja berkeinginan kuat untuk menjadikannya sebagai orang kepercayaannya di kerajaan,

“Wahai Yusuf, saya ingin mengangkatmu pada kedudukan khusus di kerajaan Mesir ini. Bagaimana menurutmu?”

“Baik Paduka yang mulia. Kalau saya dipercaya untuk itu, jadikanlah saya sebagai penanggung jawab perbendaharaan bumi Mesir. Saya akan bertugas sebagai pengawas, penjaga, dan pengelola yang baik. In syaa-a Allah saya amanah dan professional. Saya akan menjaga sepenuhnya tanggung jawab ini sehingga tidak ada yang hilang atau dialokasikan bukan pada tempatnya. Dan saya akan dapat mengatur pemasukan dan pengeluaran dengan baik demi stabilitas pangan dan perekonomian kerajaan’, jelas Yusuf mengajukan dirinya untuk posisi tertentu.

Permintaan ini bukanlah karena Nabi Yusuf alaihissalam menginginkan kekuasaan, tetapi tidak lain beliau ingin memberikan manfaat bagi masyarakat. Beliau menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan, amanah, dan penjagaan yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Oleh karena itu, beliau meminta raja untuk menempatkannya sebagai penanggung jawab perbendaharaan bumi, dan raja pun mengangkatnya untuk tugas tersebut.”

Demikianlah Allah ta’ala memberikan kekuasaan kepada Yusuf di bumi Mesir, dia dapat menempati kedudukan di mana saja yang dia kehendaki. Dia hidup dalam kemakmuran, kenikmatan yang luas, dan kedudukan yang tinggi. Allah ta’ala menganugerahkan rahmat kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan balasan orang-orang yang berbuat baik. Yusuf termasuk orang yang terbaik di antara orang-orang yang berbuat baik. Maka, Allah ta’ala menetapkan rahmat dan anugerah yang sangat besar kepadanya, tentu tidak terbatas hanya pada kenikmatan duniawi melainkan juga kenikmatan ukhrowi. Dan, tentunya kenikmatan ukhrowi jauh lebih tinggi daripada duniawi.

Saudara-saudara Yusuf datang

Nabi Yusuf alaihissalam mulai menjalankan perannya sebagai penanggung jawab perbendaharaan bumi Mesir. Beliau mengatur dan mengelolanya dengan sangat baik. Dimulailah program besar penanaman gandum di seluruh tanah Mesir sejak awal dan terus berlangsung selama tahun-tahun yang subur. Hasil panen beliau kumpulkan dan simpan dalam jumlah yang sangat besar. Beliau menyimpannya dengan sangat baik dan rapi.

Ketika tahun-tahun paceklik dan kemarau tiba dan melanda luas hingga berbagai negeri termasuk wilayah Palestina di mana Nabi Ya’qub alaihissalam dan putra-putranya tinggal. “Anak-anakku, berangkatlah kalian ke Mesir. Belilah bahan makanan di sana. Saya dengar berita penguasanya sangat arif dan bijaksana”, perintah Nabi Ya’qub alaihissalam kepada putra-putranya. Sesampainya di Mesir, mereka memasuki wilayah istana kerajaan. Yusuf alaihissalam melihat mereka dan sangat mengenalinya. Sebaliknya mereka tidak mengenali Yusuf sama sekali. Mungkin karena perpisahan yang sangat lama sekitar 40 tahun. Atau mungkin juga kostum kerajaan yang dikenakannya berupa mahkota dan lainnya yang menjadikan mereka pangling.

Nabi Yusuf alaihissalam memperlakukan mereka dengan sangat baik. Dia juga menyuguhkan hidangan dan lain-lain yang merupakan hajat mereka sebagai musafir dari tempat jauh sehingga mereka sangat menghormati dan respek kepadanya.

“Kalian semua dari mana?”, tanya Yusuf mengawali perbincangan.

“Kami penduduk Syam”, jawab mereka.

“Kami datang untuk membeli bahan makanan”

“Berapa jumlah keluarga kalian?”, tanya Yusuf lagi.

“Kami dua belas bersaudara, yang satu saudara seayah sudah tidak ada, yang satu lagi si bungsu saudara seayah juga tidak ikut biar di rumah saja menemani Ayah Ibu”, jawab mereka dengan rinci.

“Siapa nama Ayah kalian?”, tanya Yusuf pura-pura tidak tahu.

“Nama Ayah kami Ya’qub”.

“Kalau adik kalian yang bungsu namanya siapa?”

“Namanya Bunyamin”.

Kemudian Yusuf membagikan jatah bahan makanan kepada mereka sebagaimana yang biasa dilakukan terhadap orang lain. Salah satu kebijakan beliau adalah tidak memberi jatah kepada setiap orang melampaui beban seekor unta. Karena dia harus mengatur pengeluaran dengan sebaik-baiknya.

“Wahai Paduka yang mulia, kami memohon kebijaksanaanmu untuk ditambah porsi gandumnya, karena kami ada keluarga di rumah yang tidak ikut,” pinta mereka.

“Hmmmm… boleh… boleh asalkan dengan syarat”, jawab Yusuf. Permintaan mereka semakin menguatkan planning Yusuf untuk bisa bertemu dengan keluarganya.

“Apa syaratnya?”, tanya mereka sedikit mendesak karena bergembira merasa akan dipenuhi keinginannya.

“Syaratnya bawa adik bungsu kalian kemari, nanti kami tambahkan bahan makanan, sekaligus saya ingin mengetahui kejujuran kalian”.

“Apakah benar apa yang kalian katakan? Atau jangan-jangan kalian bohong”.

“Dan, ingat baik-baik kalian tidak diperbolehkan kemari lagi untuk membeli bahan makanan kecuali kalau kalian membawa adik bungsu kalian”.

Mereka bingung. Karena ini persyaratan yang sulit. Mereka menyadari betul tidak mudah bagi ayahnya untuk mengizinkannya disebabkan tindakan mereka terhadap Yusuf masa lalu.

Tapi, karena ini persyaratan yang harus dipenuhi demi bisa datang lagi untuk membeli bahan makanan maka mau tak mau harus disanggupi, “Baiklah Paduka yang mulia, kami akan merayu Ayah kami untuk mengizinkannya”.

Yusuf mengembalikan uang pembayaran mereka

Nabi Yusuf alaihissalam memerintahkan para pegawainya: ‘Masukkanlah uang mereka yang digunakan untuk membeli makanan ke dalam karung-karung mereka, nanti mereka akan mengetahuinya ketika mereka membuka karung-karung tersebut. Bisa jadi mereka akan merasa risih karena menerima uangnya lagi lalu terdorong kuat untuk datang lagi kemari”.

Padahal yang sebenarnya, Nabi Yusuf ingin berbuat baik kepada mereka. selain memberikan jatah makanan yang cukup juga mengembalikan uang alat transaksi pembayarannya tanpa mereka sadari. Karena kebaikan yang diberikan ini dapat menimbulkan rasa penghormatan dan loyalitas dari orang yang menerima kebaikan tersebut.

Ketika sudah kembali ke rumah di hadapan ayahnya mereka mengatakan, “Ayah alhamdulillah kita bisa membawa bahan makanan untuk keperluan kita sehari-hari. Sang penguasa sangat baik dan ramah sekali kepada kami. Kami dijamu dengan makanan dan minuman. Kami berbincang-bincang sangat hangat. Tapi ayah…..”.

“Tapi apa, Nak….?”, tanya Ayah penuh penasaran.

“Ayah….., kami tidak boleh lagi datang ke sana untuk beli bahan makanan”.

“Lho kenapa…?”, tanya Ayah semakin penasaran.

“Boleh tapi dengan syarat, Ayah!”

“Apa syaratnya…?!”, tanya ayah semakin bertambah penasaran.

“Syaratnya Benyamin harus ikut serta bersama kami”

“Hahhh,,,,,”, respon ayah sambil menghela nafas panjang tersontak kaget.

“Ayah… percayalah pada kami. Kami benar-benar akan menjaganya”.

“Ayah… ini mesti dilakukan Ayah…., kalau tidak maka kita tidak akan pernah mendapatkan bahan makanan lagi. Ayah…. Percayalah! Kami benarbenar akan menjaganya”.

“Akankah saya mempercayakan Bunyamin kepada kalian??!! Dulu bagaimana nasib Yusuf bersama kalian?”, jawab ayah dengan penuh kesedihan.

Mereka semua terdiam. Suasana menjadi sangat hening.

Lalu mereka membuka kantong-kantong, “Masya Allah… masya Allah…. Coba lihat coba lihat… Allahu Akbar… Allahu Akbar… uang kita dikembalikan utuh???!!!

Ayah lihat sendiri kan betapa baik hati sang penguasa itu, kita diberikan jatah dengan semestinya dan semua uang kita dikembalikan. Ayah, apa lagi yang kita inginkan setelah diperlakukan sebaik ini? Sungguh ini bentuk keikhlasan dan akhlak yang mulia sang penguasa”.

“Jika kita membawa Bunyamin, maka kita bisa mendapatkan jatah lebih banyak lagi sebesar beban seekor unta. Maka, kita bisa menjaga keluarga dan saudara. Ayah ini perkara yang mudah, tidak ada resiko tetapi manfaatnya jelas”.

“Ayah….coba apa lagi yang dipikir? Izinkanlah dia pergi bersama kami pada keberangkatan nanti!”

Mereka begitu gigih unuk meyakinkan ayah agar mengizinkan Bunyamin. Namun demikian, dia tidak langsung menerimanya.

“Sekali-kali saya tidak akan mengizinkan hingga kalian bersumpah atas nama Allah betapa kalian akan membawanya kembali bersama kalian. Kecuali kalau terjadi hal-hal yang ditakdirkan di luar kemampuan kalian. Ayo bersumpahlah!!”

“Baik Ayah, Demi Allah kami akan membawa Bunyamin kembali bersama kami!!”

“Baiklah anak-anakku, kalian telah bersumpah atas nama Allah. Dia lah Al-Wakiil atas sumpah kalian”.

Pertemuan dengan Bunyamin

Setelah mengizinkan Bunyamin ikut serta bersama mereka, ayah berpesan, “Anak-anaku janganlah kalian memasuki Mesir dari satu pintu. Berpencarlah kalian, masuklah dari beberapa pintu!”

Nabi Ya’qub alaihissalam berpesan demikian sebagai upaya untuk terhindar dari penyakit ‘ain. Karena mereka satu keluarga semuanya ganteng-ganteng dan rupawan. ‘Ain itu penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki. Beliau menyadari betul apa yang diperintahkannya adalah mutlak sebagai ikhtiar, sedikitpun tidak dapat menolak ketentuan Allah ta’ala. Yang mendorong Nabi Ya’qub alaihissalam memerintahkan demikian adalah hasrat yang dalam untuk melindungi anak-anaknya karena dorongan cinta yang besar kepada mereka. Ini bentuk menggabungkan antara ikhtiar dan tawakkal. Banyak manusia yang belum mengetahui bahwa ikhtiar dan tawakkal adalah dua hal yang tidak bertentangan. Beliau alaihissalam menggabungkan dua hal ini, tentu beliau sebagai Nabi melakukannya berdasarkan wahyu,

“Anak-anakku, sedikitpun saya tidak punya kuasa. Allah lah Dzat yang menetapkan segalanya. Apa yang Dia ta’ala tetapkan pasti terjadi. Kepada-Nya lah saya bertawakkal. Dan kepada-Nya saja hendaknya seluruh muslim bertawakkal”.

Mereka pun memasuki kerajaan Mesir secara berpencar sebagaimana yang diwasiatkan ayah mereka. Ketika mereka masuk menemui Nabi Yusuf alaihissalam, mereka berkata,

“Ini saudara kami yang Paduka perintahkan agar turut serta bersama kami. Jadi, kami telah memenuhi perintahmu”.

“Betul betul betul…. Sungguh kalian telah memenuhi perintahku. Terimakasih. Sekarang saya yakin kalian adalah orang-orang yang jujur. Kami akan berikan kalian hadiah”, Yusuf menyambut mereka dengan senang hati.

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-kabiir/ Mon, 26 Jan 2026 23:28:00 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21298 A. Penyebutan Nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) di dalam Nash

Disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak enam kali. Di antaranya:

عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلْكَبِيرُ ٱلْمُتَعَالِ (الرعد:9)

وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ (سبأ:23)

 ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (الحج: ٢٦)

B. Makna Al-Kabiir (الكَبِير) Secara Bahasa

Al-Kabiir (الكَبِير) adalah isim fa’il dari fi’il kaburoyakburu (كَبُرَ-يَكْبُر) artinya yang besar, kebalikan shoghiir (صَغِير) dari fi’il shoghiro- yashghuru (صَغِرَ – يَصْغُرُ) artinya yang kecil.

C. Makna Al-Kabiir (الكَبِير) Sebagai Nama Allah

Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير) adalah Dzat yang segala apapun di hadapan-Nya sangatlah kecil. (Tambahan dari saya, Pen.) Tidak ada apa-apanya dan tidak ada nilainya sedikitpun [selesai].

Al-Ashfahani rahima hullah berkata yang kurang lebihnya berikut ini: Di antara nama Allah adalah Al-Kabiir (الكَبِير). Ia musytaq (bentukan) dari kibriyaa-u (كبرياء) artinya Dzat Yang Sombong. Siapapun tidak boleh bersifat sombong. Hanya Dia ta’ala saja yang bersifat dengan sifat ini. Maka, adalah haram jika seseorang merasa gumedhe di hadapan orang lain. Setiap orang tidak boleh ada pada dirinya kesombongan sedikitpun, dia harus tawadhu’ kepada siapapun. Barangsiapa yang tawadhu’ maka Allah ta’ala akan meninggikan derajatnya. Dia ta’ala berfirman, 

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  (الجاثية: 37)

“Dan bagi-Nya-lah keagungan di langit dan bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Jatsiyah: 37) [selesai]

Kesombongan bagi Allah ta’ala adalah sifat terpuji. Karena Dia ta’ala semata yang berhak atas sifat ini. Bagi makhluk, kesombongan adalah sifat tercela karena siapapun selain Allah ta’ala tidak berhak menyandang sifat ini. Hal ini, tidak lain karena mereka diliputi berbagai sifat kurang, lemah, terbatas, dan lain-lainnya yang semakna. Untuk itu Dia ta’ala berfirman di dalam Hadits Qudsi, 

الكبرياءُ رِدائِي ، فمَنْ نازعَنِي في رِدائِي قَصَمْتُهُ (رواه أبو داود وابن ماجه وأحمد)

“Kesombongan adalah selendang-Ku, barangsiapa membantah-Ku tentang selendang-Ku, maka Aku akan menghancurkannya” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahima hullah mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير), Dzat yang lebih besar dari apapun. Segala sesuatu itu di hadapan-Nya rendah dan hina [selesai].

Imam Asy-Syaukani rahima hullah mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير), Dzat Yang Maha Besar sehingga tidak ada yang menyamai-Nya, tidak membutuhkan kepada pasangan, anak dan perserikatan. Dia lah Pemilik kesombongan di dalam rububiyyah dan kerajaan-Nya [selesai].

D. Tadabbur 

1. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير), seorang hamba akan memenuhi hatinya dengan penghambaan dan ketaatan kepada Allah ta’ala.

2. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) menghantarkan  seorang hamba untuk menguatkan ketundukan kepada haq (kebenaran) yang telah Allah jelaskan melalui lisan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan Hadits.

3. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير), menjadikan seorang hamba untuk tidak sekali-kali bersikap sombong, meremehkan orang lain. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, 

 إنَّ اللهَ أوحى إليَّ أن تواضَعوا حتى لا يبغيَ أحدٌ على أحدٍ، ولا يفخرَ أحدٌ على أحدٍ (رواه البخارى ومسلم عن عياض بن حمار)

“Sesungguhnya Allah ta’ala menurunkan wahyu kepadaku agar kalian tawadhu’ hingga tidak ada seorangpun menzhalimi orang lain, dan tidak ada seorangpun yang sombong terhadap orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Iyadh bin Himar)

Untuk poin 2 dan 3 Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, 

الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم عن ابن مسعود)

“Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud)

4. Seorang hamba akan semakin takut dan malu jika tidak segera berbuat ketaatan terhadap perintah-Nya dan tunduk kepada hukum-hukum-Nya.

Yakin bahwa setiap orang yang sombong akan Allah ta’ala binasakan, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

a. di dunia

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَن اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يَجْحَدُونَ () فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآَخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ (فصلت: ١٥، ١٦) 

“Adapun kaum ‘Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami () Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak menimpakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa Akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan” (QS. Fushilat: 15-16)

b. di Akhirat

فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ [الأحقاف: ٢٠]

“Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik” (QS. Al-Ahqof: 20)

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

يُحشَرُ المتَكَبِّرونَ يومَ القيامةِ أمثالَ الذَّرِّ في صُوَرِ الرِّجالِ يغشاهمُ الذُّلُّ من كلِّ مَكانٍ ، يُساقونَ إلى سجنٍ في جَهَنَّمَ يسمَّى بولُسَ تعلوهُم نارُ الأَنْيارِ يُسقونَ من عُصارةِ أَهْلِ النَّارِ طينةَ الخبالِ (رواه الترمذى وأحمد عن عبدالله بن عمرو)

“Orang-orang sombong akan dikumpulkan pada Hari Kiamat seperti semut yang berwujud manusia. Kehinaan akan menyelimuti mereka dari segala penjuru. Mereka akan dijebloskan ke penjara di Neraka yang disebut Bolus. Api dari tumpukan kayu bakar yang menyala-nyala akan membumbung tinggi di atas mereka. Mereka akan diberi minum dari lumpur penghuni Neraka, lumpur kerusakan” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr)

6. Hadits di atas, kaum muslimin tidak akan menjadi lemah dan tertipu oleh kekuatan dan kekuasaan kaum kafirin karena mereka merasakan betapa Allah ta’ala di atas mereka dan akan menghancurkan mereka jika kaum muslimin mengambil sebab-sebab yang mendatangkan pertolongan Allah ta’ala tersebut.

7. Dzikir agung yang Allah ta’ala cintai dan Dia ta’ala mensyariatkannya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya di antaranya adalah Takbir, yaitu “Allahu Akbar”. Bahkan kalau kita perhatikan dzikir ini dibaca di dalam berbagai banyak kesempatan. Di antaranya:

a. Perintah ber-takbir setelah ayat tentang puasa, sebagaimana firman-Nya, 

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة: ١٨٥)

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Yang dimaksud adalah takbiran pada malam idul fithri hingga selesai shalat ‘Id. 

b. Perintah ber-takbir setelah ayat tentang daging dan darah sembelihan nusuk haji. Sebagaimana firman-Nya,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ [الحج: ٣٧].

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj: 37)

Ibnu Umar radiallahu anhu menjelaskan, ayat ini menunjukkan lafazh yang dibaca setelah basmalah ketika menyembelih adalah takbir, yaitu Allahu Akbar.

c. Allahu Akbar adalah lafazh awal yang   dibaca ketika memulai shalat dan sebagai tanda  diharamkannya ucapan apapun selain bacaan shalat. 

d. Lafazh yang dibaca pada setiap perpindahan gerakan di dalam shalat selain i’tidal

e. Lafazh yang diulang-ulanginya di awal dan akhir adzan.

f. Lafazh ini dibaca ketika sejajar dengan hajar aswad untuk memulai thowaf.

g. Dibaca ketika setiap kali memulai dzikir di bukit Shofa dan Marwah.

h. Ketika di atas kendaraan untuk safar.

i. Setiap kali berada di tempat yang tinggi dari permukaan bumi.

j. Ketika melontar jumroh.

k. Dikumandangkan sepanjang waktu di sepuluh hari pertama Dzulhijjah ditambah tiga hari tasyrik.

l. Bagian dari dzikir setelah shalat lima waktu.

m. Dibaca berbarengan dengan tasbih dan tahmid ketika hendak tidur.

n. Diteriakkan ketika di medan jihad.

o. Ketika berdecak kagum dengan terhadap fenomena-fenomena alam semesta yang mengagumkan

E. Perbedaan Antara Nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) dan Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر)

Penjelasan mengenai nama Allah Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) sudah dibahas di jilid tujuh (7). Saya memandang tidak perlu mengulangi lagi di sini. 

Al-Kabiir (الكَبِير) dan Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) memiliki akar kata yang sama, yaitu ka-ba-ro (كبر). Perbedaan keduanya pada wazan-nya (bentuk kata);

a. Al-Kabiir (الكَبِير) ber-wazan al-fa’iil (الفَعِيل), bermakna Allah Maha Besar (terkait Dzat-Nya)

b. Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) ber-wazan al-mutafa’il (المُتَفَعِّل), bermakna Allah Menyombongkan diri kepada para hamba-Nya (terkait perbuatan-Nya)

Jadi, hanya Allah ta’ala saja yang diperbolehkan menyombongkan diri kepada para hamba-Nya karena Dia-lah Dzat yang Maha Besar. Adapun makhluk keseluruhannya kecil, maka haram bagi siapapun dari antara mereka untuk menyombongkan diri. Allah ta’ala berfirman di dalam Hadits Qudsi, 

الكبرياءُ رِدائِي ، فمَنْ نازعَنِي في رِدائِي قَصَمْتُهُ (رواه أبو داود وابن ماجه وأحمد عن أبى هريرة)

“Kesombongan adalah selendang-Ku, maka barangsiapa membantah-Ku tentang jubah-Ku, niscaya Aku akan menghancurkannya” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dari Abu Hurairah)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Al-Qoriib (القَرِيب) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-al-qoriib/ Wed, 14 Jan 2026 07:21:38 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21240 A. Penyebutan Al-Qoriib (القَرِيب) di dalam Nash

Di dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak tiga kali. 

– Disebutkan secara tersendiri,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة:186)

– Disebutkan berbarengan dengan as-Sami’ (السَمِيع)

قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَآ أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِى ۖ وَإِنِ ٱهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِىٓ إِلَىَّ رَبِّىٓ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

– Disebutkan berbarengan dengan al-Mujiib (المُجِيب)

فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ  (هود:61)

B. Makna Al-Qoriib (القَرِيب) Secara Bahasa

Disebutkan di “Al-Lisan”, قَرِيب (qoriib) mashdarnya قرب (qurb) artinya adalah dekat, kebalikan dari بعد (bu’d) yang artinya adalah jauh. 

Al-Laits mengatakan, al-Quroob (القُراب), al-Qiroob (القِراب) maknanya muqoorobatu as-sya-i (مقاربة الشيئ) yaitu berdekatannya sesuatu…. Al-Qurbaan (القربان) maknanya sesuatu yang dengannya seseorang mendekatkan diri kepada Allah ta’ala….

بشيء تقرب إلى الله 

artinya seseorang dengan sesuatu melakukan pendekatan kepada Allah ta’ala

C. Makna Al-Qoriib (القَرِيب) Sebagai Nama Allah

Ath-Thobari rahima hullah mengatakan bahwa firman Allah ta’ala,

إِنَّهُۥ سَمِيعٌ قَرِيبٌ (سبأ: 50)

“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat” (QS. Saba’: 50)

Sesungguhnya Tuhanku mendengarkan apa yang saya katakan kepada kalian, Dia menjaganya, dan Dia membalas untukku atas kebenaranku. Dia dariku tidak jauh yang menjadikan Pendengaran-Nya terhalang dari apa yang saya katakan kepada kalian dan apa yang kalian katakan, juga apa yang dikatakan oleh selain kita. Dia itu Maha Dekat dari  siapapun yang berbicara. Dia Maha Mendengar apapun yang seseorang mengatakannya. Dia Maha dekat bahkan lebih dekat dari daripada urat lehernya [selesai]

Az-Zajaj mengatakan, Al-Qoriib (القَرِيب) …. Allah ta’ala Maha Dekat. Dia tidak jauh. Sebagaimana Dia berfirman, 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ (البقرة:186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” (QS. Al-Baqoroh: 186)

Artinya Aku Dekat ijabah-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (الحديد:4)

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari: Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hadid: 4)

Sebagaimana firman-Nya juga, 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا۟ ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ (المجادلة:7)

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (QS.Al-Mujadilah: 7)

Syaikh As-Sa’di rahima hullah berkata: Al-Qoriib (القَرِيب) artinya Dzat Yang Maha Dekat kepada siapapun. Dekat-Nya ada dua macam:

a. Dekat-Nya dalam makna umum, yaitu dekat kepada siapapun dengan ilmu-Nya, kebaikan-Nya, muroqobah-Nya, persaksian-Nya, dan peliputan-Nya. Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya.

b. Dekat-Nya dalam makna khusus, yaitu dekat kepada penyembah-Nya, orang yang meminta kepada-Nya dan orang yang mentaati-Nya. Dekat yang bermakna mencintai, menolong, meneguhkan,  menguatkan di dalam gerak dan diamnya, dan mengabulkan setiap permohonan. Inilah makna dari ayat,

وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب (العلق:19)

“Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah ta’ala)” (QS. Al-‘Alaq: 19)

إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ (هود:61)

“Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS.Hud: 61)

Syaikh Utsaimin rahima hullah mengatakan: Ketahuilah para ulama membagi dekat-Nya ta’ala ada dua macam sebagaimana pembagian “ma’iyyah”, yaitu dekat-Nya kepada makhluk secara umum dan secara khusus [selesai]

Diantara ayat tentang dekat-Nya yang bermakna umum, 

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ (ق:16)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qof: 16)

Yang dimaksud dengan “ٱلْإِنسَٰنَ “ di dalam ayat ini adalah semua manusia. 

Dalil lainnya,

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ () وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ () وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ (الواقعة:38-58)

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Namun kamu tidak melihat” (QS. Al-Waqi’ah: 83-85)

Kemudian disebutkan bahwa mereka yang nyawanya sudah sampai kerongkongan ada tiga macam, salah satunya adalah orang kafir. Jadi dekatnya Allah ta’ala selain yang bersifat khusus juga ada yang bersifat umum.

Ibnul Qoyyim mengatakan: Tidaklah bertentangan antara Tingginya Allah ta’ala dengan Dekat-Nya. Dia ta’ala itu Dekat di dalam ketinggian-Nya dan Tinggi dalam kedekatan-Nya sebagaimana disebutkan di dalam Hadits shahih dari Abu Musa al-Asy’ari,

كُنَّا مع النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ في سَفَرٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَجْهَرُونَ بالتَّكْبِيرِ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا علَى أَنْفُسِكُمْ، إنَّكُمْ ليسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا (رواه مسلم)

“Kami pernah bersama Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, ketika tiba-tiba orang-orang mulai bersuara lantang mengumandangkan takbir, beliau bersabda: Wahai manusia, berhati-hatilah dengan dirimu sendiri. Anda tidak memanggil dzat  yang tuli tidak pula dzat yang jauh. Akan tetapi, kamu menyeru kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi Dekat” (HR. Muslim)

Nabi shalallahu alaihi wasallam sebagai manusia yang paling mengenal tentang Allah ta’ala memberitahukan, Allah ta’ala lebih dekat kepada kalian daripada urat lehernya. Beliau shalallahu alaihi wasallam juga memberitahukan, Allah ta”ala berada di atas ‘Arsy meliputi seluruh makhluk-Nya. Dia ta’ala Melihat perbuatan mereka dan apapun yang mereka rahasiakan. Ini perkara haq yang tidak saling bertentangan antara keduanya. 

Tidak sulit untuk menalarnya. Coba kita pahami baik-baik! Dari penjelasan Nabi shalallahu alaihi wasallam kita memahami betapa Allah adalah Dzat Yang Maha Agung dan Dia mengetahui seluruh makhluk-Nya. Bagaimana tidak, tujuh langit itu di Tangan-Nya perumpamaannya seperti sebutir biji sawi di tangan seseorang di antara kalian. Dan, tujuh bumi berada di Tangan lain-Nya lalu menggenggamnya. Mustahilkah perkara tersebut pada Dzat Yang Maha Besar? Dia dekat kepada siapapun dengan keberadaan-Nya di atas ‘Arsy.

Saya ambil ilustrasi untuk memudahkan pemahaman. Perhatikanlah bulan purnama! Di manapun manusia berada di belahan bumi ini baik di Indonesia, Malaysia, Saudai, Turki, Amerika, Eropa dan lain-lain bukankah bulan purnama senantiasa bersama mereka? Jawabannya pasti YA, bahkan sangat dekat. Padahal di manakah keberadaan dia? Jawabannya pasti jauh DI ATAS. Ini baru makhluk yang namanya bulan. Lalu bagaimana dengan Al-Kholiq Yang Berkuasa atas segala sesuatu. Maka, sangat mudah sekali keberadaan-Nya di atas ‘arsy tetapi ilmunya meliputi siapapun dan apapun tanpa kecuali. Disebutkan di dalam Nash, 

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (الحديد:4)

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadid: 4)

Istiwa’ artinya tinggi di atas.

يَطْوي اللهُ السَّماواتِ يومَ القيامةِ ثُمَّ يأخُذُهنَّ بيدِه اليمنى ثُمَّ يَطْوي الأَرَضينَ ثُمَّ يأخُذُهنَّ بشمالِه ثُمَّ يقولُ أنا المَلِكُ أين الجبَّارونَ أين المُتكبِّرونَ (رواه البخارى ومسلم عن عبد الله بن عمر)

“Allah menggulung langit pada hari Kiamat, Dia mengambilnya dengan Tangan kanan-Nya. Kemudian meggulung bumi, Dia mengambilnya dengan Tangan kiri-Nya lalu berfirman: Aku lah Raja. Mana orang-orang yang sombong? Mana orang-orang takabbur?” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abullah bin Amr)

D. TADABBUR

1. Kecintaan kepada-Nya harus semakin meningkat. Karena mengimani akan Dekat-Nya adalah keimanan akan Dekat-Nya dalam pengertian khusus; kasih-sayang, meng-ijabah-i doa, dan kelembutan yang menjadikan hamba merasakan ketenangan. 

2. Roja’ (berharap) kepada-Nya semakin meningkat. Ketika seorang hamba menyadari Allah ta’ala itu Dekat, maka dia semangat dan optimis atas suatu permintaan yang ditujukan kepada-Nya. Dia tidak akan putus asa dari rahmat-Nya. Justru, ketika berdoa terkondisikan untuk lebih tadhourru’ dan khusyu’ karena merasakan kedekatan-Nya

3. Beriman kepada Dekat-Nya dalam pengertian umum dimana Allah ta’ala meliput dan memantau detail setiap ucapan dan gerak-gerik hamba kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun menjadikan khouf kita semakin meningkat. 

4. Beriman kepada Dekat-Nya dan dihadirkannya yang demikian itu di dalam hati bahwa Dia ta’ala lebih dekat daripada apapun yang dekat menjadikan seorang hamba menyembunyikan doanya kepada-Nya dan tidak jenuh untuk terus melakukannya.

5. Ibnul Qoyyim rahima hullah mengatakan mengatakan: Ada satu point tersirat mengagumkan yang menunjukkan dekatnya orang yang berdoa kepada-Nya. Dia meminta sesuatu kepada-Nya dengan volume lirih, tidak sebagaimana volume suara terhadap sesuatu yang jauh. Untuk itu Allah ta’ala memuji Nabi Zakariya alaihissalam dalam firman-Nya,

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا (مريم:3)

“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih” (QS. Maryam: 3)

Ini semakna dengan surat Al-Baqoroh: 186,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة:186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqoroh: 186)

Asbabu-n-Nuzul ayat ini, para Shahabat bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam, “Ya Rasulullah apakah Tuhan kita dekat sehingga kita cukup menyeru-Nya dengan lirih ataukah jauh hingga kita menyeru-Nya dengan suara keras?” Maka turunlah ayat ini. Jadi, ini merupakan petunjuk agar menyeru Allah itu dengan munajat (suara lirih).

6. Mengupayakan kedekatan dengan Allah ta’ala. Dia ta’ala Dekat kepada hamba-Nya yang melakukan pendekatan (taqorrub). Tidaklah taqorrub itu melainkan dengan ketaatan-ketaatan yang dibenarkan oleh syariat. Jadi, dari tadabbur ini seorang hamba takut untuk berbuat ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunan syariatnya. Karena bukan semakin mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, malah menjauhkan diri dari-Nya. 

7. Tidaklah terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits dekatnya Allah ta’ala kepada makhluk-nya secara Dzat sebagaimana dalam aqidah wihdatul wujud yang mereka salah paham tentang Hadits,

إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادَى لي وَلِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الَّذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شَيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المُؤْمِنِ؛ يَكْرَهُ المَوْتَ، وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ.(رواه البخارى عن أبى هريرة)

“……. Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memukul, Aku menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah…. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 11

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Nama Allah Ar-Roqiib (الرَّقِيب) https://nidaulfithrah.com/nama-allah-ar-roqiib/ Mon, 12 Jan 2026 23:22:55 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21224 A. Penyebutan Ar-Roqiib (الرَّقِيب) di dalam Nash

Disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali, yaitu:

فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (المائدة: 117)

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء:1)

وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ رَّقِيبًا (الأحزاب: 25)

B. Makna Ar-Roqiib (الرَّقِيب) secara Bahasa

Disebutkan di dalam “Ash-Shihah”: Ar-Roqiib (الرَّقِيب) artinya yang menjaga, yang mengawasi. Seperti dalam penggunaan kalimat:

رقبت الشيئ أرقبه رقوبا ورِقبة: إذا رصدته

“Saya mengawasinya dengan seksama”

Disebutkan di dalam “Lisanul ‘Arab”: Ar-Roqiib (الرَّقِيب) berpola “الفعيل”  maknanya “ الفاعل“ artinya yang memperhatikan, yang menjaga, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, 

قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِى وَلَا بِرَأْسِىٓ ۖ إِنِّى خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِى

Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah belah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku” (QS. Thoha: 94)

C. Makna Ar-Roqiib (الرَّقِيب) Sebagai Nama Allah

Imam Ath-Thobari berkata tentang ayat,

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء:1)

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. An-Nisa: 1)

Maknanya “ رَقِيبًا” menjaga nan menghitung amalan kalian dan mengawasi pemeliharaan kalian terhadap silaturrahim ataupun pemutusan dan pengabaiannya.

Az-Zajaji rahima hullah berkata: Makna “ رَقِيبًا” adalah Dzat yang Menjaga yang tidak lengah penjagaannya.

As-Sa’di rahima hullah berkata: Ar-Roqiib (الرَّقِيب) artinya Dzat yang mengawasi secara detail apa yang tersembunyi dalam dada. Yang selalu hadir pada setiap apapun yang dikerjakan oleh jiwa. Dia lah yang menjaga seluruh makhluk dan memberlakukan padanya sebaik-baiknya aturan dan sesempurna- sempurnanya pengurusan.

D. Tadabbur

  1. Beribadah kepada Allah ta’ala dengan Nama-Nya Ar-Roqiib (الرَّقِيب) melahirkan perasaan diawasi oleh Allah ta’ala. Baik dalam keadaan tersembunyi atau terang-terangan, sepi atau ramai, siang atau malam. Karena seluruh makhluk tidak pernah tesembunyi dari-Nya. Hakekat ini menjadikan hamba sangat menjaga hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan anggota badannya jangan sampai berbuat hal-hal yang mendatangkan  kemurkaan-Nya.
  2. Ibnul Qoyyim rahima hullah berkata tentang muroqobah. Ia adalah beribadah kepada Allah ta’ala dengan nama-nama-Nya;  Ar-Roqiib (الرَّقِيب), Al-Hafizh (الحَٰافِظ), Al- ‘Alim  (عَلِيمٌ), As-Sami’ (السَمِيع), Al-Bashir (البَصِيۡر) 
  3. Ibnul Qoyyim rahima hullah juga berkata: Muroqobah adalah pengetahuan dan keyakinan yang terus-menerus pada seorang hamba bahwa dirinya tidak lepas dari pengamatan-Nya secara zhahir dan batin.

Syaikh Umar Al-Asyqor berkata: Jika makna Ar-Roqiib (الرَّقِيب)  pada hati seorang hamba terpatri kuat dan kendali jiwa telah menguasainya maka akan melahirkan perasaan selalu diawasi (muroqobah). Dia merasa beban jika Allah ta’ala menjumpainya di tempat yang dia dilarang sebagaimana Allah tidak akan kehilangan dia di tempat yang dia diperintahkan. Ketika godaan-godaan maksiat dan syahwat yang dikendalikan syaithan mengitari kepalanya agar dia masuk ke dalam zona kebatilan, kegelapan dan kehancuran datanglah  pengawasan Allah ta’ala yang telah terpatri di dalam jiwanya sebagai benteng dan penjaganya, maka sadarlah dia bahwa Allah itu  Ar-Roqiib (الرَّقِيب). Dzat yang Menjaga yang tidak lengah penjagaannya. Dia juga segera menyadari bahwa Malaikat-Nya setiap saat  mencatat seluruh gerak-gerik dan ucapannya. Disebutkan di dalam al-Qur’an,

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (ق: 18)

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir (QS. Qoof: 18)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 11

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
TEKA-TEKI – Tebar Kitab Tebar Keilmuan Bulan Rojab 1447 H https://nidaulfithrah.com/teka-teki-tebar-kitab-tebar-keilmuan-bulan-rojab-1447-h/ Sat, 10 Jan 2026 02:13:58 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21199

Buku adalah sarana yang efektif untuk berdakwah, alhamdulillah atas taufik dari Allah pada bulan Rojab 1447 telah terlaksana program TEKA-TEKI Tebar Kitab Tebar Keilmuan di beberapa tempat, diantaranya Rumash Sakit Dr. Soetomo, Masjid As Salam Purimas, Masjid Hidajati Sugiat Sidoarjo, semoga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus, aamiin.

]]>
Nama Tuhan kita Allah (اللَّهُ)  https://nidaulfithrah.com/nama-tuhan-kita-allah/ Mon, 05 Jan 2026 07:46:03 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21157 A. Penyebutan Nama “Allah” (اللَّهُ) di dalam Nash

Di dalam Al-Qur’an nama “Allah” (اللَّهُ)  disebutkan sebanyak 2724 kali. Nama ini khusus bagi-Nya saja. Tidak boleh siapapun selain-Nya yang menggunakan nama “Allah” (اللَّهُ).

B. Penjelasan lafazh “Allah” (اللَّهُ) Secara Bahasa

Sebagian besar ahli ilmu berpandangan, Lafazh “Allah” (اللَّهُ) itu “musytaq” (bentukan). Namun, mereka berbeda pendapat mengenai asal bentukannya. Sebagian mereka ada yang berpendapat; asal bentukannya dari kata “ilaah” (إِلَه) seperti fi’aal (فِعَال) lalu dimasukkan padanya alif dan laam sebagai ganti hamzah. Sebagaimana kata “An-Naas” (النَّاس) berasal dari “Unaas” (أُنَاس).

Sebagian ahli ilmu lainnya berpandangan, lafazh “Allah” (اللَّهُ) itu bukan “musytaq” (bentukan). Ia adalah isim jamid (sudah aslinya memang demikian, Pent.). Ia bermakna Dzat Yang Disucikan. Huruf alif dan laam-nya (ال) bagian dari kata ini, bukan alif laam ta’rif yang masuk padanya. Hal ini dengan bukti, lafazh “Allah” (اللَّهُ)  itu bisa dimasuki  huruf nida’. Anda akan melafazhkannya dengan “Ya Allah” (يَا أَللَّهُ) bukan  “Ya-llah” (يَا اللَّهُ). Tegasnya alif laam ta’rif itu tidak bisa dimasuki huruf nida’. Seperti lafazh “Ar-Rahman” (أَلرَّحۡمَٰنُ ) ketika dimasuki huruf nida’, maka Anda akan mengucapkanya “Ya-r-Rahman” (يَا الرَّحۡمَٰنُ) bukan Ya Ar-Rahman” 

Ada ulama yang me-rajih-kan, ia itu “musytaq” (bentukan) berasal dari kata “ilaah” (إِلَه) yang berarti “ma’luh”  (مألوه)  artinya Dzat Yang diibadahi.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahima hullah menjelaskan kurang lebihnya berikut ini: Makna kata “ilaah” (إِلَه) berpola “ فعال“   berrmakna “مفعول “artinya “ma’luuh” ( مألوه)  yang berarti Dzat yang diibadahi, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia. Seluruh yang diibadahi yang berada di bawah ‘arsy hingga  dasar bumi semuanya batil. Ini sebagaimana lafazh “rikaab” ( ركاب)  yang bermakna “markuub” (مركوب) dan “himaal” (حمال) bermakna “mahmuul” (محمول). Jika seorang telah menghambakan diri kepada-Nya dan mengesakan-Nya maka janganlah ia menjadikan bersama-Nya tuhan lain. Allah azza wa jalla berfirman,

فَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَتَكُونَ مِنَ ٱلْمُعَذَّبِينَ (الشعراء:213)

Maka janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diadzab (QS. Asy-Syu’ara: 213)

لَّا تَجْعَلْ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولًا (الإسراء:22)

Janganlah kamu menjadikan tuhan lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah) (QS. Al-Isra: 22)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ (الأنعام:74)

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-An’am: 74)

Makhluk bukanlah ilaah. Tetapi dijadikan oleh manusia sebagai ilaah lalu disebut dengan ilaah. Semuanya itu batil. Selain Allah ta’ala tidak berhak disebut sebagai tuhan yang disembah dan diseru karena tidak menciptakan dan memberi rizki. Sementara Allah ta’ala Dia lah Yang menciptakan dan memberi rizki yang tidak ada siapapun yang bisa menghalangi ketika Dia memberi, tidak ada yang bisa memberi ketika Dia menghalangi, dan tidaklah bermanfaat kekayaan dan harta benda bagi pemiliknya karena dari-Nya lah berasalnya. Selain Allah tidaklah memiliki apapun dan tidak pula andil apapun di dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta ini. Bahkan para Malaikat, Nabi dan orang shaleh yang diperkenankan memberi syafaat tidak akan pernah bisa melakukannya kecuali setelah diizinkan Allah ta’ala dan hanya kepada siapa yang diridhoi-Nya saja. Jelaslah, selain Allah tidak berhak disebut ilaah yang diibadahi sebagaimana mereka tidak pernah bisa disebut Pencipta alam semesta dan Pemberi rizki. Allah lah satu-satunya ilaah [selesai].

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “ilaah” (إِلَه) Dzat Yang diibadahi dan disembah dengan cinta, pengagungan, pemuliaan, kerendahan, penuh harap, dan rasa takut. 

Beliau juga mengatakan: “Ilaah” (إِلَه) mencakup seluruh sifat kesempurnaan maka masuk ke dalamnya seluruh al-Asma’ul Husna. Beliau juga mengatakan: “Ilaah” (إِلَه) maknanya Dzat Pemilik seluruh sifat kesempurnaan yang disifati dengan sifat keagungan. Dia lah Dzat yang hati hamba terikat kuat penghambaan kepada-Nya. Hati hamba selalu mengembara kepada-Nya dengan rasa cinta, inabah, harap dan takut.

C. Penjelasan Nama Tuhan kita “Allah” (اللَّهُ)

Syaikh As-Sa’di rahima hullah berkata yang kurang lebihnya berikut ini: Lafazh “Allah” maknanya Tuhan yang diibadahi, yang disembah. Dia Dzat Pemilik hak atas peribadahan dan persembahan dari seluruh makhluk-Nya. Lafazh “Allah” artinya adalah ketuhanan dengan keseluruhan maknanya. Maka yang memiliki nama ini tidak lain sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi, dipuji, disyukuri, diagungkan, dan disucikan. Lafazh “Allah” mencakup seluruh makna Al-Asmau-l-Husana dan Ash-Shifatu-l-‘ula [selesai].

“Allah” Dzat yang seorang hamba tidaklah nyaman kecuali menuju kepada-Nya, hati tidaklah tenang kecuali dengan mengingatkan-Nya. Akal tidaklah jernih kecuali dengan mengenali-Nya.

“Allah” Dzat Yang Maha Sempurna secara mutlak tidak ada selain-Nya. Dia Dzat yang seorang hamba tidaklah terbersit dan bergetar hati kecuali bersegera kepada-Nya, Dzat yang seorag hamba tidak merasa tentram kecuali dengan-Nya, Dzat yang seorang hamba tidaklah bosan untuk menghambakan diri kepada-Nya dan tidaklah jenuh untuk mengingat-Nya.

“Allah” Dzat yang hati seorang mukmin bergelora karena saking bergantung dan mencintai-Nya. Dzat yang seorang hamba tunduk  menghinakan dan merendahkan diri kepada-Nya. Dzat yang seorang hamba mengedepankan keridhoan dan  cinta-Nya daripada keridhoan dan cinta dirinya.

Imam Al-Qurthubi rahima hullah berkata: Nama ini “Allah” (اللَّهُ) adalah Nama yang paling agung dan paling menghimpun/mencakup. Bahkan sebagian ulama mengatakan; Ia Nama Allah yang paling agung yang tidak ada siapapun bernama dengannya. Untuk itu ia tidak ada isim tatsniyah-nya (bentuk kata bermakna ganda) dan tidak pula isim jama’nya (bentuk kata bermakna jamak). Dan, inilah diantaranya dalam surat Maryam ayat 65,

هَلْ تَعْلَمُ لَهُۥ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui nama (yang sama) pada makhluk-Nya?”

Maksudnya, apakah kamu mengetahui ada makhluk yang bernama sama dengan nama-Nya yaitu “Allah” (اللَّهُ)? Ia adalah nama untuk Dzat berwujud nan esa yang haq yang menghimpun seluruh sifat-sifat uluhiyyah (peribadahan) yang disifati dengan sifat rububiyyah (penciptaan, pengaturan, pemusnahan) yang berkonsekwensi pada keharusan hanya Dia saja yang diibadahi tanpa selain-Nya”

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 10

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
DASI – Dauroh Singkat Sifat Sholat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam https://nidaulfithrah.com/dasi-dauroh-singkat-sifat-sholat-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/ Thu, 01 Jan 2026 05:35:39 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21129

Shalat merupakan Rukun Islam yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab dan Allah mewajibkan shalat tanpa perantara Malaikat Jibril ‘alaihis salam. Tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang langsung mendapatkan perintah shalat ketika beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj, ini menunjukkan shalat itu amalan yang sangat penting sehingga ummat Islam wajib untuk mempelajarinya.

Alhamdulillah atas taufik dari Allah, pada hari Sabtu, 7 Rojab 1447 atau bertepatan dengan tanggal 27 Desember 2025 bertempat di Ponpes Tahfizh Putri Thaybah, Yayasan Nidaul Fithrah bekerjasama dengan Ahsan Perdana Umroh dan Hajj, Majelis Ta’lim At Tawadhu, Aslah Store, Yayasan An Nahl, Azyan Pastry, Aqiqah Fithrah dan Wisma Akhwat Thaybah menyelenggarakan Dauroh khusus Muslimah “Sifat Sholat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam” dengan Pemateri Ustadzah Niswah Khoiro, Lc.

Semoga dengan ikhtiar ini Allah menambahkan kita ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima, aamiin. Kami atas nama penyelenggara mengucapkan jazakumullah khoiron kepada pihak-pihak yang ikut membantu terselenggaranya acara ini dengan baik, semoga Allah menganugerahkan istiqomah dan husnul khotimah di atas tauhid dan sunnah kepada kita semua serta dimasukkan ke dalam Surga, aamiin.

]]>
Sinergi Dakwah – Kajian Anak dan Workshop Kreatif https://nidaulfithrah.com/sinergi-dakwah-kajian-anak-dan-workshop-kreatif/ Tue, 16 Dec 2025 07:01:05 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21019

Alhamdulillah atas taufik dari Allah, Kajian Anak dan Workshop Kreatif yang diselenggarakan atas kerjasama Yayasan Surabaya Mengaji dan Yayasan Nidaul Fithrah pada hari Ahad, 14 Desember 2025/ 23 Jumadil Akhir 1447 di Masjid Al Amin, Jl Semampir Tengah, Surabaya terlaksana dengan baik dan lancar.

Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta anak-anak jenjang SD dari berbagai sekolah yang ada di Surabaya dan sekitarnya, pada sesi pertama ini yaitu workshop kreatif, keseruan dan antusias tampak di wajah peserta karena pada sesi ini peserta laki-laki membuat mobil-mobilan dengan tenaga angin yang dibuat dari botol air mineral dan peserta perempuan menghias sampul buku.

Kemudian sesi selanjutnya yaitu kajian anak yang diasuh oleh Ustadz Zakariya Rizky, S.Ag, Lc dengan membawa tema Cerita Anak Hebat yang Mengenal Allah. Semoga acara ini bisa kembali diadakan dan bisa memberi manfaat untuk ummat, aamiin.

]]>