Buku Saku – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Thu, 11 Jun 2026 06:16:04 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Buku Saku – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 When I am it is not, When It is I am not bagian 3 https://nidaulfithrah.com/when-i-am-it-is-not-when-it-is-i-am-not-bagian-3/ Thu, 11 Jun 2026 06:16:04 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21988 Tentang mentaati suami, Nabi shalallahu alaih wasallam bersabda di dalam Sunan Abu Daud,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لِأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ الْحَقِّ

“Seandaianya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suami mereka dimana Allah telah menetapkan hak untuk mereka yang harus ditunaikan oleh para istri sebagai kewajibannya.”

Disebutkan di dalam Sunan at- Tirmidzi,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Dari Mu’adz bin Jabal dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari berkata: Jangan kamu sakiti dia, semoga Allah melaknatmu. Sesungguhnya dia di sisimu hanyalah tamu saja. Hampir tiba saatnya dia berpisah darimu dan menuju ke kami.”

Istri yang shalihah adalah yang segera meminta maaf jika melakukan kesalahan kepada suami dan tidak menunda -nundanya. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ…. نِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَتُودُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُولُ: «لَا أُذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى

Maukah aku kabarkan kepada kalian…. tentang wanita-wanita kalian penduduk surga?, yaitu wanita yang penyayang (kepada suaminya), yang subur, yang selalu memberikan manfaat kepada suaminya, yang jika suami marah maka iapun mendatangi suaminya seraya berkata, “aku tidak bisa tentram tidur hingga engkau ridha kepadaku.” (Syu’abul iman lil baihaqi, di shahihkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahihah no. 287)

2. Saling tolong menolong di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah

Disebutkan di dalam Sunan Abu Daud,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ.

Dari Abu Hurairah, dia mengatakan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu shalat, dia membangunkan istrinya, kalau tidak mau dia memercikkah air pada wajahnya (istri). Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu shalat. Dia membangunkan suaminya, kalau tidak mau dia memercikkan air pada wajahnya (suami)”.

Hadits di atas adalah dalil bahwa suami dan istri harus saling mengingatkan di dalam masalah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan saja di dalam masalah shalat tahajud tetapi seluruh kebaikan dan ketaatan. Terkadang dijumpai hanya istrinya yang ahli ngaji di berbagai majlis taklim, sementara suaminya belum atau sebaliknya. Hanya suaminya yang ahli Qur’an sementara. istrinya ahli koran atau sebaliknya.

3. Mentolerir kesalahan masing-masing

Abu Darda radiallahu anhu berkata kepada istrinya:

إذا رأيتني غضبت فرضيني، وإذا رأيتك غضبى رضيتك، وإلا لم نصطحب

“Jika kamu melihat saya marah maka relakan saja, demikian pula kalau saya melihat kamu marah saya akan merelakan, kalau tidak demikian maka kita tidak pernah bersatu”

Inilah teladan yang agung dari pasangan Abu Darda dan istrinya radiallahu anhuma. Tirulah mereka. Jika istri marah, suami hendaknya bersabar mendengarkan kemarahannya tanpa menyela-nyelai kemarahannya dengan pembelaan diri. Ketika sudah reda dari kemarahannya, baru suami berbicara. Kalau memang istri salah paham, luruskanlah. Kalau suami terbukti yang salah, segeralah minta maaf. Demikian pula sebaliknya.

4. Menjaga rahasia masing-masing dan tidak menyebarkannya

Siapa yang mengetahui rahasia suami? Tentu istrinya. Siapa yang mengetahui rahasia istri? Tentu suaminya. Masing-masing harus menjaga rahasia

pasangannya. Karena ini menyangkut kemaslahatan rumah tangga. Terlebih yang berkaitan dengan masalah seksual. Disebutkan di dalam Shahih Muslim dari Abu Said,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَرِ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya termasuk sejelek-jeleknya derajat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang suami yang mengggauli istrinya, demikian pula istri menggauli suami lalu dia menyebarkan rahasianya.”

5. Berbagi dalam suka dan duka

Suami dan istri sejati sangat menyelami perasaan pasangannya. Apakah kekasihnya dalam suka atau duka, lapang atau sempit? Tidak dibenarkan suami yang sedang kelelahan dari pekerjaannya, lalu istri datang menuntut sesuatu yang semakin menambah lelah jiwanya. Demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini ada kisah yang patut untuk diketahui semua muslim. Yakni kisah tentang Ummu Sulaim radiallahu anha. Disebutkan di dalam sebuah riwayat bahwa suatu hari, anak Abu Thalhah meninggal dunia. Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, berkata kepada orang-orang yang menjenguk anaknya, “Janganlah ada yang memberi kabar kepada Abu Thalhah hingga akulah sendiri yang memberi kabar duka ini.” Setelah berkata demikian, Ummu Sulaim segera merapikan jenazah putranya. Malam harinya, Abu Thalhah pulang. la segera menanyakan keadaan anaknya. “la tenang seperti sedia kala,” jawab Ummu Sulaim. Istri taat ini bergegas menyuguhkan makan malam bagi suaminya. Tak lupa berhias diri di depan cermin sehingga tampak lebih cantik. Melihat istrinya yang berhias cantik, Abu Thalhah pun bergairah. Malam itu pun Ummu Sulaim melayani suaminya di atas tempat tidur. Setelah Ummu Sulaim melihat suaminya tampak puas dan tenang jiwanya, ia pun berkata lembut, “Wahai Abu Thalhah, bila ada keluarga yang meminjami sesuatu kepada keluarga lain, lalu mereka meminta kembali barang pinjaman itu, tetapi keluarga itu menolak mengembalikan pinjaman itu, bagaimana menurut pendapatmu?” “Sungguh, sekali-kali mereka tidak berhak untuk menolaknya karena barang pinjaman harus dikembalikan kepada pemiliknya,” jawab Abu Thalhah dengan segera. Mendengar jawaban itu, Ummu Sulaim tersenyum, kemudian berkata lagi, “Sesungguhnya anakmu adalah barang pinjaman dari Allah, dan Allah telah mengambilnya.” Seketika Abu Thalhah mengucapkan kalimat istirja’, Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Esok harinya, Abu Thalhah menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah membenarkan sikap Ummu Sulaim dan bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kamu berdua.”

Lihatlah betapa tingginya perhatian Ummu Sulaim kepada suaminya. Dia bisa menyembunyikan perasaan sedihnya demi suaminya agar bisa istirahat dengan tenang melepaskan penat dan rasa capeknya yang baru pulang dari bepergiannya. Subhanallah

6. Masing-masing berhias untuk pasangannya

Seringkali suami menuntut agar istri berdandan seksi, menarik, beraroma wangi. Intinya serba prima. Sementara dia sendiri tidak memperhatikan penampilan dirinya. Adilkah ini? Dengarkan Ibnu Abbas radiallahu anhu bertutur:

إني لأتزين لامرأتي كما تتزين لي، وما أحب أن أستطف كل حقي الذى لي عليها فتستوجب حقها الذى لها علي، لأن الله تعالى قال: وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ [البقرة/228]

“Sesungguhnya aku berhias untuk istriku sebagaimana dia berhias untukku, tidaklah aku menyukai semua hakku dipenuhi olehnya yang merupakan kewajibannya maka diapun harus mendapatkan haknya yang merupakan kewajibanku”.

7. Adanya komunikasi dalam masalah seks.

Tidak jarang keharmonisan pasa- ngan suami istri menjadi rusak dan penyebabnya adalah masalah seks. Bisa jadi istri yang kurang bisa melayani atau suami yang cenderung memaksakan kehendak. Bicarakanlah baik-baik, apa yang menjadi kesukaan atau kendala dalam masalah ini. Sehingga masing-masing bisa memahami pasangannya. Wallahu A’lam.

الحمد لله رب العالمين

]]>
When I am it is not, When It is I am not bagian 1 https://nidaulfithrah.com/when-i-am-it-is-not-when-it-is-i-am-not-bagian-1/ Mon, 08 Jun 2026 06:37:41 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21981 بسم الله الرحمن الرحيم

Muqaddimah

Bismillah. Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebagai teladan bagi kita semua dalam menjalani hidup berumah tangga. Banyak sekali ajaran dari beliau untuk suami istri. Sehingga masing-masing bisa menjadi suami penyayang dan istri setia yang akhirnya tidak saja menjadi suami istri di dunia tetapi juga di akherat nanti.

Buku ini berisi panduan sederhana bagaimana Islam mengajarkan calon pengantin, pengantin baru, dan pengantin lawas dalam menjalani kehidupan berumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Buku kecil ini saya beri judul agak unik sekedar untuk memancing rasa ingin tahu, WHEN I AM IT IS NOT, WHEN IT IS I AM NOT. Maksudnya adalah ketika saya (I am) memperhatikan panduan Islam tentang hidup berumah tangga, maka perpecahan tidak akan terjadi (It is not). Sebaliknya, perpecahan akan terjadi (It is) ketika saya tidak memperhatikan panduan Islam tentangnya (I am not).

Sebagai manusia yang berpotensi untuk salah dan lupa, apa lagi saya sekedar tholibul ilmi yang belum layak menyampaikan ilmu tentu di dalam buku ini terdapat kekurangan-kekurangan. Dan tidak menutup kemungkinan terjadi juga kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu, masukkan dan kritik dari pembaca sangat saya harapkan. Semoga kita, sebagai manusia yang sadar akan tujuan diciptakannya yaitu penghambaan diri kepadaNya, bisa berbuat sebanyak- banyaknya dan sebaik-baiknya demi masa depan ukhrowi kita. Allahu al-Muwaffiq ila ash-shirath al-mustaqim.

Surabaya, 17 Jumadil Ula 1437 H
Al-Faqir ila rahmati Robbihi
Muhammad Nur Yasin Zain

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا (الأعراف: 189)

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa tenang kepadanya” (QS. Al-A’rof: 189)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم: 21)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenang kepadanya. Dan dijadikan olehNya rasa kasih dan sayang di antara kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa dengan menikah ketenangan (sakinah) akan didapatkan, di mana Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan pada keduanya (suami dan istri) mawaddah (rasa kasih) dan rahmah (sayang).

Hasan, Mujahid, dan Ikrimah menyatakan mawaddah adalah makna kinayah dari nikah yaitu jima’ sebagai konsekuensi dari pernikahan. Sedangkan ar rahmah adalah makna kinayah dari keturunan yaitu terlahirnya keturunan dari hasil pernikahan. Implementasi dari mawaddah wa rahmah ini adalah sikap saling menjaga, melindungi, saling membantu, memahami hak dan kewajiban masing-masing, Sangat indah perumpamaan yang disebutkan dalam Al Qur’an mengenai interaksi suami- istri. Allah berfirman:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ (البقرة: 187)

Artinya: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 187)

Pakaian adalah lambang dari kehormatan dan kemuliaan karena salah satu fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat. Aurat sendiri maknanya adalah sesuatu yang memalukan. Karena memalukan maka harus ditutup. Maka demikianlah seharusnya hubungan suami-istri. Satu sama lain harus saling menutupi kekurangan pasangannya dan bersinergi untuk mempersembahkan yang terbaik.

Agar sakinah yang ditopang oleh mawaddah dan rahmah bisa tercapai, maka perhatikanlah dua perkara besar berikut ini:

A. Masa sebelum akad nikah
B. Masa setelah akad nikah

A. Masa sebelum akad nikah

Seorang lelaki harus memilih calon istri yang shalehah. Disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعِ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرُ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; hartanya, kedudu- kannya, kecantikannya, dan agamanya. Utamakanlah yang memiliki agama, niscaya Anda beruntung”

Orang tua bisa mencarikan calon istri untuk putranya. Sebagaimana Umar bin Khattab.

Dikisahkan oleh Abdullah bin Zubair bin Aslam dari ayahnya dari kakeknya yang bernama Aslam. la menuturkan, “Suatu malam aku sedang menemani Umar bin Khattab berpatroli di Madinah. Ketika beliau merasa lelah, beliau bersandar ke dinding. di tengah malam, beliau mendengar seorang wanita berkata kepada putrinya, ‘Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air. Maka putrinya menjawab, ‘Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin hari ini?’ Ibunya bertanya, ‘Wahai putriku, apa maklumatnya?’ Putrinya menjawab, ‘Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air. Ibunya berkata, ‘Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.’ Maka gadis itu menjawab, ‘Ibu, tidak patut bagiku menaatinya di depan khalayak demikian juga menyelesihinya walaupun di belakang mereka.’ Sementara Umar mendengar semua perbincangan tersebut. Maka dia berkata, ‘Aslam, tandai pintu rumah tersebut dan kenalilah tempat ini.’ Lalu Umar bergegas melanjutkan patrolinya.

Di pagi hari Umar berkata, ‘Aslam, pergilah ke tempat itu, cari tahu siapa wanita yang berkata demikian dan kepada siapa dia mengatakan hal itu. Apakah keduanya mempunyai suami?’ Aku pun berangkat ke tempat itu, ternyata ia adalah seorang gadis yang belum bersuami dan lawan bicaranya adalah ibunya yang juga tidak bersuami. Aku pun pulang dan mengabarkan kepada Umar. Setelah itu, Umar langsung memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka, Umar berkata, ‘Adakah di antara kalian yang ingin menikah?’ Ashim menjawab, ‘Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku.’ Maka Umar meminang gadis itu dan menikahkannya dengan Ashim. Dari pernikahan ini lahir seorang putri yang di kemudian hari menjadi nenek bagi Umar bin Abdul Aziz.” Beliaulah seorang khalifah yang sangat terkenal keadilannya.

Apakah Umar radiallahu anhu yang seorang raja mengharuskan mendapatkan menantu dari kalangan bangsawan juga? Tidak, tetapi keshalihanlah yang diprioritaskan.

Seorang wanita juga harus hanya menerima calon suami yang shaleh. Disebutkan di dalam Sunan at-Tirmidzi,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Jika datang kepada kalian (para wali) seorang (pemuda) yang kalian ridha terhadap agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, kalau kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata.”

Tentang hal ini ada kisah yang menakjubkan, tentang seorang ayah yang menikahkan lelaki shaleh dengan putrinya yang juga shalehah. Begini kisahnya: Seorang lelaki yang shaleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel. yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat. bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya. Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah sudah memperingatkan kita lewat sabdanya: “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku!” Tsabit Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. la malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh!”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan!”

Judul Buku: When I am it is not, When It is I am not

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
When I am it is not, When It is I am not https://nidaulfithrah.com/when-i-am-it-is-not-when-it-is-i-am-not/ https://nidaulfithrah.com/when-i-am-it-is-not-when-it-is-i-am-not/#comments Wed, 25 Mar 2015 03:04:42 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=1252 When I am It is Not, When it is I am not.  Sebuah panduan sederhana untuk calon pengantin, pengantin baru maupun penganten yang telah lama membina rumah tangga dalam menalani kehidupan berumah tangaga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Ketika dalam berumah tangga memperhatikan panduan dalam Islam maka perpecahan pun tidak akan terjadi. Sebaliknya, jika melalaikan panduan Islam dalam berumah tangga, maka perpecahan akan terjadi.

Buku ini menjelaskan secara singkat mulai dari proses memilih calon, hingga setelah akad nikah dan membina rumah tangga. In sya Allah buku saku ini memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan dakwah Islam dalam membina rumah tangga.

when Iam It is Not, when It is I am not

]]>
https://nidaulfithrah.com/when-i-am-it-is-not-when-it-is-i-am-not/feed/ 26
Ada Apa Dengan Valentine https://nidaulfithrah.com/ada-apa-dengan-valentine/ https://nidaulfithrah.com/ada-apa-dengan-valentine/#comments Wed, 25 Mar 2015 02:54:07 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=1244 Buku Saku Ada Apa dengan Valentine’s Day. Buku saku yang menguak tabir tentang valentine’s day dimana masyarakat terutama kaum muda terlena dengan perayaan tersebut. Dengan bahasa yang mudah dipahami, secara runut dari awal sejarah hingga bagaimana Islam menyikapinya. Semoga dengan buku ini semakin memberikan kejelasan tentang apa itu valentine’s day.
ada apa dengan valentine

]]>
https://nidaulfithrah.com/ada-apa-dengan-valentine/feed/ 12
Aku Sakit Aku Bangga https://nidaulfithrah.com/aku-sakit-aku-bangga/ https://nidaulfithrah.com/aku-sakit-aku-bangga/#comments Wed, 25 Mar 2015 02:41:52 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=1227 aku sakit aku bangga

Apa yang dikeluhkan manusia pertama kali merasa kesakitan ? apa yang harus dilakukan ketika sakit menyapa ? dan bagaimana kita menghadapi rasa sakit itu ? dan bagaimana memperlakukan semestinya orang yang sedang sakit ?

Buku saku Aku Sakit Aku Bangga merangkum hal itu semua dan dapat menjadi pedoman bagi yang sedang dilanda penyakit maupun yang sedang dalam kondisi sehat.

]]>
https://nidaulfithrah.com/aku-sakit-aku-bangga/feed/ 22
Pegawai Dirindu Surga https://nidaulfithrah.com/pegawai-dirindu-surga/ https://nidaulfithrah.com/pegawai-dirindu-surga/#comments Wed, 25 Mar 2015 02:12:19 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=1219 Ladang pahala ada dimana-mana, dan Surga pun dapat dengan mudah digapai. Bagi yang terikat waktu dalam bekerja, bagi karyawan yang terbatas untuk menuntut Ilmu atau bagi manajemen perusahaan yang menginginkan setiap karyawannya tetap produktif. Maka buku saku Pegawai Dirindu Surga akan menjelaskan dengan detail bagaimana pegawai seharusnya bersikap dalam pandangan Islam. Dikemas begitu kecil namun padat akan Ilmu. Semoga menjadi motivasi tersendiri dalam menggapai Surga.
Pegawai Dirindu Surga

]]>
https://nidaulfithrah.com/pegawai-dirindu-surga/feed/ 26
Hiasi Hari Dengan Al Qur’an https://nidaulfithrah.com/hiasi-hari-dengan-al-quran/ https://nidaulfithrah.com/hiasi-hari-dengan-al-quran/#comments Wed, 25 Mar 2015 01:52:43 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=1214 Sebagai Umat Islam, Al Qur’an adalah pedoman hidup. maka buku saku ini akan membawa anda measuk kedalam kemuliaan-kemuliaan al Qur’an dan menyadarkan kita untuk segera kembali kepada Al Qur’an serta bagaimana kita hidup selalu dalam naungan Al Qur’an. Semoga buku ini dapat memberikan inspirasi bahwa sangat penting bagi kita untuk berdekat-dekat dengan Al Qur’an setiap waktu.

hiasi denga al quran

]]>
https://nidaulfithrah.com/hiasi-hari-dengan-al-quran/feed/ 23
Awas RIBA Mengepung Anda https://nidaulfithrah.com/awas-riba-mengepung-anda/ https://nidaulfithrah.com/awas-riba-mengepung-anda/#comments Wed, 25 Mar 2015 01:35:49 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=1210 Islam memperbolehkan jual beli dan mengharamkan Riba. Maka mengetahui tentang riba menjadi sebuah kewajiban sebelum bertransaksi. Buku saku Awas Riba Mengepung Anda, mengupas tuntas seluk beluk Riba dan praktek-praktek Riba dalam kehidupan sehari-hari agar umat semakin berhati-hati dan tidak hanya menghindari akan tetapi menjauhi selamanya.
riba

]]>
https://nidaulfithrah.com/awas-riba-mengepung-anda/feed/ 22
Sudah Benarkah Aqiqah Anda? https://nidaulfithrah.com/sudah-benarkahaqiqah-anda/ https://nidaulfithrah.com/sudah-benarkahaqiqah-anda/#comments Wed, 25 Mar 2015 00:56:53 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=1203 Aqiqah adalah termasuk sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam ketika bayi telah memasuki usia  minggu. Bagaimana aqiqah yang sesuai syariat ? Risalah aqiqah ini dapat diperoleh dengan memesan aqiqah dari kami, Fithrah Aqiqah. Syar’i – Lezt dan Tepercaya.

aqiqah

]]>
https://nidaulfithrah.com/sudah-benarkahaqiqah-anda/feed/ 25
Mengapa Saya Beragama Islam https://nidaulfithrah.com/mengapa-saya-beragama-islam/ https://nidaulfithrah.com/mengapa-saya-beragama-islam/#comments Thu, 05 Feb 2015 12:20:54 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=378 Buku Saku Mengapa Saya Beragama Islam. Umat Islam di Indonesia jika ditanya mengapa beragama Islam, maka akan banyak pertanyaan yang timbul dalam dirinya sendiri. Ada yang karena keturunan, ada pula yang harus melalui sebuah perjalanan panjang. Buku ini menjawab dengan sederhana namun dengan dalil yang kuat.

Dengan Buku saku ini, diharapkan umat Islam mendapatkan alasan yang kuat dalam beragama Islam, sehingga Islam benar-benar mengakar urat dalam hati setiap kaum Muslim.

Untitled-4

]]>
https://nidaulfithrah.com/mengapa-saya-beragama-islam/feed/ 21