Bahasan Utama – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Thu, 21 Sep 2023 06:12:34 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Bahasan Utama – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 ‘Uzlah (Mengucilkan diri) https://nidaulfithrah.com/uzlah-mengucilkan-diri-2/ https://nidaulfithrah.com/uzlah-mengucilkan-diri-2/#comments Tue, 16 Apr 2019 10:06:23 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=5746
  • Islam “Agama Vertikal dan Horizontal”
  • Di dalam menjalani kehidupan, manusia menghadapi dua mu’amalah. Mu’amalah dengan Allah  (hubungan vertikal) dan mu’amalah dengan manusia (hubungan horizontal). Adalah salah besar jika seseorang hanya baik muamalahnya dengan Allah tapi buruk dengan manusia. Keduanya haruslah berjalan sama baiknya. Tentu Anda ingat Hadits tentang seorang wanita yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai ahli shalat dan ahli puasa. Namun, apa komentar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau bersabda: “DIA ITU AHLI NERAKA. Mengapa? Tidak lain adalah karena dia buruk muamalahnya dengan manusia. Berikut ini Hadits yang dimaksud,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلاَنَةَ تَذْكُرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلاَتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِى جِيرَانَهاَ بِلِسَانِهَا قَالَ « هِىَ فِى النَّارِ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلاَنَةَ تَذْكُرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلاَتِهَا وَأَنَّهَا تَصَدَّقُ باِلأَثْوَارِ مِنَ الأَقِطِ وَلاَ تُؤْذِى جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ « هِىَ فِى الْجَنَّةِ ». (مسند أحمد)

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ada seseorang mengatakan:’Ya Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah menyebutkan banyak shalatnya, puasanya dan shodaqohnya. Tapi dia berprilaku buruk kepada tetangga-tetangganya’. Beliau menjawab: ‘Dia (tempat)nya di Neraka’. Dia berkata:’Ya Rasullah, sementara si Fulanah (yang lain) menyebutkan sedikit puasanya, shodaqohnya dan shalatnya. Dia (hanya) bershodaqoh dengan beberapa potong keju tetapi tidak menyakiti tetangga-tetangganya dengan lisannya’. Beliau bersabda: ‘Dia (tempat)nya di Surga’” (Musnad Imam Ahmad)

    Hadits ini menunjukkan keharusan manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya dengan sebaik-baiknya pergaulan. Perhatikanlah Hadits di atas, seseorang ahli ibadah tetapi tempatnya di Neraka tidak lain karena tidak berbuat baik dengan tetangganya. Bahkan Nabi memerintahkan kita bersabar untuk tetap bergaul dengan mereka tidak meninggalkan mereka bagaimanapun kondisinya meskipun menyakitkan kita. Beliau bersabda,

    عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ أَظُنُّهُ ابْنَ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْراً مِنَ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ » (مسند أحمد)

    Dari seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – Periwayat meyakini yang dimaksud adalah Ibnu Umar – , beliau bersabda: “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka itu lebih besar pahalanya daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka” (Musnad Ahmad)

    Ketika seseorang memililih bersabar atas gangguan-gangguan sehingga bisa tetap berbaur dengan manusia sekitarnya, maka ada banyak kebaikan yang bisa diraih, seperti; menasehati, berdakwah, menghadiri majlis ilmu, menengok orang sakit, menyolati jenazah, memberikan bantuan-bantuan sosial dan lain-lain yang hal ini semua tidak bisa didapatkan jika dia ber-‘uzlah (mengucilkan diri dari manusia).

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَرَّ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِعْبٍ فِيهِ عُيَيْنَةٌ مِنْ مَاءٍ عَذْبَةٌ فَأَعْجَبَتْهُ لِطِيبِهَا فَقَالَ لَوِ اعْتَزَلْتُ النَّاسَ فَأَقَمْتُ فِى هَذَا الشِّعْبِ وَلَنْ أَفْعَلَ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَذَكَرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « لاَ تَفْعَلْ فَإِنَّ مَقَامَ أَحَدِكُمْ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ سَبْعِينَ عَامًا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَيُدْخِلَكُمُ الْجَنَّةَ اغْزُوا فِى سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ قَاتَلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فُوَاقَ نَاقَةٍ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ».( سنن الترمذى)

    Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seseorang dari Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam melewati sebuah lembah yang padanya terdapat mata air segar yang memikatnya karena kebagusannya. Dia berkata: ‘Jika saya mengucilkan diri dari manusia lalu saya tinggal di lembah ini? Sungguh saya tidak akan melakukannya hingga saya meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Lalu dia  menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun bersabda: “Jangan Anda lakukan! Sesungguhnya tempat seseorang di antara kalian di jalan sabilillah lebih utama daripada shalatnya di rumahnya selama 70 tahun. Tidak maukah kalian jika Allah mengampuni kalian dan memasukkan kalian ke dalam Surga? Berperanglah di jalan Allah. Barangsiapa berjihad meskipun hanya sebentar maka wajib baginya (mendapatkan) Surga“ (Sunan At-Tirmidzi)

    Hadits ini menunjukkan betapa Islam mengajarkan ummatnya tentang keharusan berbaur dengan manusia dan melarang mengucilkan diri meskipun untuk fokus ibadah.

    Jelaslah, Islam tidak menghendaki pemeluknya mengucilkan diri dan menjahui pergaulan bersama manusia

     

    1. Kapan ‘Uzlah (Mengucilkan Diri dari Muamalah dengan Manusia) Diperbolehkan?

     

    Sangatlah gamblang, Islam melarang kita mengucilkan diri sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Namun, jika ada kondisi tertentu yang memperkenankan maka kita diperbolehkan ‘uzlah bahkan lebih utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ » (رواه البخارى)

    Dari Abu Sa’id Al-Khudry, dia berkata, Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hampir tiba masanya sebaik-baik harta seorang muslim ketika itu adalah kambing yang digembalakan di puncak gunung-gunung  dan tempat-tempat yang meneteskan air (lembah). Dia membawa lari agamanya karena takut dari berbagai fitnah”. (HR. Al-Bukhari)

    “di puncak gunung-gunung  dan tempat-tempat yang meneteskan air (lembah)” maksudnya bukan semata-mata zhahirnya teks, tetapi menunjukkan makna ‘uzlah. Karena secara umum ia adalah tempat yang jauh dari manusia. Hadits ini menunjukkan keutamaan ‘uzlah (mengucilkan diri) dari kehidupan manusia dan meninggalkan bergaul dengan mereka ketika bisa membahayakan agama seseorang seperti terancam menjadi murtad, berbuat kesyirikan, merobohkan pondasi-pondasi Islam, melecehkan syareat dan kerusakan lain yang semacamnya.

    Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari mengatakan: Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan ‘uzlah bagi seseorang yang mengkhawatirkan agamanya.

    As-Sindi di dalam Hasyiah ‘ala An-Nasa-i mengatakan: Di dalam Hadits ini terdapat dalil bahwa ‘uzlah itu boleh bahkan lebih utama pada hari-hari terjadinya fitnah.

    عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ أَىُّ النَّاسِ أَفْضَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِى شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ (صحيح مسلم)

    Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia menuturkan, ada seseorang yang berkata: Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling baik? Beliau menjawab: “ ‘Yaitu orang mukmin yang berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya’. ‘Lalu siapa lagi?’ , Tanya orang itu lebih lanjut. Beliau menjawab: ‘Kemudian orang yang menyendiri di celah-celah gunung untuk beribadah kepada Rabb-nya dan meninggalkan manusia dari keburukannya’ “. (Shahih Muslim)

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ لَهُمْ رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرَسِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ يَطِيرُ عَلَى مَتْنِهِ كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزْعَةً طَارَ عَلَيْهِ يَبْتَغِى الْقَتْلَ وَالْمَوْتَ مَظَانَّهُ أَوْ رَجُلٌ فِى غُنَيْمَةٍ فِى رَأْسِ شَعَفَةٍ مِنْ هَذِهِ الشَّعَفِ أَوْ بَطْنِ وَادٍ مِنْ هَذِهِ الأَوْدِيَةِ يُقِيمُ الصَّلاَةَ وَيُؤْتِى الزَّكَاةَ وَيَعْبُدُ رَبَّهُ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْيَقِينُ لَيْسَ مِنَ النَّاسِ إِلاَّ فِى خَيْرٍ »( صحيح مسلم)

    Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Termasuk sebaik-baik kehidupan manusia adalah seseorang yang memegang kendali kudanya untuk berjuang di jalan Allah, dia meloncat di atas kudanya. Setiap kali dia mendengar teriakan perang atau yang semisalnya, dia melompat ke atas punggung kudanya untuk bisa membunuh (musuh) atau mati di tempat yang disangka (ada musuh). Atau seseorang yang mengembalakan sekelompok kecil anak kambing di puncak salah satu gunung atau perut salah satu lembah, dengan mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta menyembah Rabb-nya sehingga ajal mendatanginya, dan dia tidak berbaur dengan manusia kecuali di dalam kebaikan” (Shahih Muslim)

    Di dalam dua Hadits ini,  orang yang menyendiri (‘uzlah) fadhilahnya disebutkan setelah jihad fi sabilillah. Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari mengatakan: orang mukmin yang menyendiri (‘uzlah) keutamaannya disebutkan setelah jihad fi sabillah tidak lain karena orang yang tetap bergaul dengan manusia dalam kondisi tidak aman dari fitnah maka tidak bisa selamat dari menghindari dosa. Atau ketika bergaul dengan manusia dalam kondisi seperti ini potensi untuk terjerumus ke dalam dosa lebih besar daripada kebaikan yang hendak diraih.

    1. Contoh Para Pendahulu yang Melakukan ‘Uzlah
    2. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

    Dia berkata kepada kaumnya, sebagaimana tertera dalam Qur’an,

    وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ  (مريم:48)

    “Dan aku akan ‘uzlah (menjauhkan diri) dari kalian dan dari apa yang kalian seru selain Allah.” (QS : Maryam : 48)

     

    Alasan yang mendorong Nabi Ibrahim alaihissalam mengambil sikap ‘uzlah adalah untuk suatu metode dakwah dalam mengubah dan meluruskan kaumnya. Sebab seperti kita ketahui, walaupun Nabi Ibrahim telah berkali-kali menyeru dan mengajak kaumnya menuju jalan Allah, tetapi  kaumnya itu tetap membangkang dan tetap melakukan kekufuran. Karenanya, untuk mengatasi terjadinya kondisi yang semakin buruk, akhirnya Nabi Ibrahim alaihissalam memutuskan untuk mengambil sikap sementara waktu berusaha menghindar dan menjauh dari mereka.

     

    1. Abdullah bin Umar pernah menempuh jalan ‘uzlah untuk melepaskan diri dari jamaah kaum muslimin. Alasannya cukup kuat, dia ingin menghindarkan diri dari kemelut fitnah akibat terbunuhnya Utsman yang saat itu tengah merajalela dalam kehidupan kaum muslimin hingga menimbulkan pertumpahan darah, sedangkan mereka tidak mengetahui pihak mana yang benar dan pihak mana yang salah.

    Abdullah Ibnu Umar mengatakan: Perumpamaan kita di zaman fitnah seperti ini  (peperangan antara Ali dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma) adalah seperti kaum yang berjalan di atas dataran yang mereka mengenalinya. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang awan dan kegelapan yang menutupi mereka. Sebagian mereka mengambil langkah ke kanan dan kiri. Mereka pun tersesat. Adapun kami, ketika terjadi kebingungan di jalan seperti ini, kami berdiam saja di tempat kami hingga Allah memperlihatkan jalan yang terang bagi kami. Akhirnya kami mengetahui kembali jalan yang awal, lalu kami pun melaluinya. Mereka pemuda-pemuda Quraisy hanyalah berperang atas kekuasaan dan duniawi. Aku tak peduli, apa yang mereka rebutkan dengan saling memerangi sungguh nilainya tidak menyamai dua sandal Jardawa ini. Sandal yang tak berbulu ini nilainya lebih tinggi dari  kekuasaan yang mereka rebutkan

     

    1. Ayah Abdullah bin ‘Amir. Ketika terjadi fitnah (terbunuhnya Utsman) dia menempuh jalan ‘uzlah sebagaimana di tuturkan oleh putranya, Abdullah bin ‘Amir: “Ketika mereka telah menikam Utsman, ayahku shalat di malam hari dan berdoa; ‘Ya Allah, jagalah saya dari fitnah dengan apa yang telah Engkau jaga para hamba-hamba-Mu yang shaleh. Maka, beliaupun tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali dikeluarkan sudah sebagai jenazah.”

     

    1. Muthrof bin Abdillah menempuh jalan ‘uzlah ketika terjadi fitnah sebagaimana dituturkan oleh Yazid bin Syakhir, “Beliau menetap di rumahnya, tidak mendatangi Jum’at tidak pula mendatangi jama’ah hingga urusannya telah terang- benderang. Beliau pernah mengatakan: ‘Untuk mantap berdiam diri lebih aku sukai daripada mencari keutamaan jihad dengan tertipu’ “.

     

    1. Sa’ad bin Abi Waqqosh, seorang pembesar Sahabat Nabi melakukan ‘uzlah ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah. Dia pergi dengan kambingnya dan meninggalkan manusia yang sedang bergejolak dengan fitnah. Suatu saat datanglah putranya, Umar ke tempat beliau. Umar termasuk yang terlarut dalam fitnah. Ketika Sa’ad melihat kedatangan putranya, dia berucap: “Saya berlindung dari penunggang ini”. Umar turun dari tunggangannya, “Wahai Ayah, Engkau tinggal bersama unta dan kambingmu dengan meninggalkan manusia yang berselisih tentang kekuasaan?” Sambil menepuk dada anaknya, “Diam kamu, saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

    “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya, dan menyembunyikan”

     

    1. Sahabat Salamah bin Al-Akwa’, sebagaimana dituturkan oleh Yazid bin Abi Ubaid, ketika Utsman dibunuh dia keluar menuju Rabdzah dan menikah dengan seorang wanita di sana lalu memiliki beberapa anak. Dia radhiyallallhu ‘anhu terus berada di sana. Dia baru menuju Madinah beberapa malam sebelum wafatnya. Imam Bukhari menyebutkan kisah ini pada judul Bab “التَّعَرُّب في الفتنة”.
    Jelaslah, tindakan ‘uzlah yang diambil oleh para ulama salaf itu bukan tanpa alasan. Dengan demikian, tentu tidak bisa begitu saja ditiru oleh kita saat ini.

     

    1. Tidak Ber’uzlah tapi Bersikap ‘Uzlah

    ‘Uzlah memang bagian dari syariat Islam. Tetapi tidak serta diamalkan. Pelaksanaanya hanyalah ketika terjadi suatu kondisi yang mengharuskan demikian sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Namun, bersikap ‘uzlah adalah suatu keharusan dalam segala kondisi. Apa yang dimaksud bersikap ‘uzlah? Yaitu, menyembunyikan amalan sholeh, menghindari popularitas dan menghindarkan diri dari suatu fitnah sehingga tidak terjerumus ke dalamnya. Disebutkan di dalam Hadits,

    حديث سَعْد بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ –  سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ ».( صحيح مسلم)

    Hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya, dan menyembunyikan” (Shahih Muslim)

    Yang dimaksud dengan “hamba yang menyembunyikan” sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin yaitu — kurang lebihnya seperti ini– orang yang tidak mempopulerkan dirinya. Tidak pernah mempersoalkan dirinya dikenal atau tidak. Tidak mempermasalahkan orang mengacungkan jempol kepada dirinya atau tidak. Tidak mengurusi manusia memperbincangkan kebaikan dirinya atau tidak. Anda akan menjumpai kehidupannya berkisar antara rumah, masjid, kerabat, dan tempat kerja. Dia senantiasa menyembunyikan dirinya.

    Ini tidak berarti jika seseorang diberikan oleh Allah kepahaman tentang ilmu lantas berdiam diri saja di dalam rumah tidak mau mengajarkan kepada manusia karena hal ini menyelisihi ketaqwaan. Dia tetap mengajar manusia dengan ilmunya, tidak berdiam diri di rumah yang akhirnya ilmunya tidak bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana orang yang diberi Allah dengan harta kekayaan, maka ia juga tidak berdiam diri di rumah yang akhirnya hartanya tidak bermanfaat untuk orang lain atau ummat yang membutuhkan. Namun, jika dia dihadapkan pada kondisi antara dua pilihan; menampakkan dan memperlihatkan diri untuk menjadi terkenal atau menyembunyikan dirinya, maka dia memilih menyembunyikan dirinya.[selesai] Inilah sikap ‘uzlah.

    Dikisahkan, seorang pembesar Tabi’in Ayyub As-Sakhtiyani. Dia orang yang sangat menghindarkan diri dari popularitas. Suatu ketika ketika ia melewati gang-gang jalan. Ketika melewati suatu kaum, dia mengucapkan salam. Dan semua kaum itupun menjawab salamnya. Hal ini yang menjadikannya sedih lalu mempercepat jalannya dan beristir’ja’ (ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un). Ketika ditanya tentang perkara yang menyedikahkannya, dia menjawab: “Tidaklah mereka semua menjawab salamku melainkan karena mereka semua telah mengenaliku. Saya telah menjadi orang terkenal. Sungguh ini musibah”. Setelah itu dia tidak memperkenankan siapun untuk berjalan mendampinginya. Allahu Akbar. Inilah sikap ‘uzlah.

    Ketahuilah!! Orang yang memiliki popularitas di tengah-tengah manusia belum tentu selamat. Sementara orang yang memiliki popularitas di tengah-tengah penduduk langit pasti selamat.

    Saya sendiri seringkali menyampaikan kepada teman-teman dalam rangka saling menasehati, “Menjadi orang tidak dikenal itu lebih mudah urusannya daripada orang yang terkenal karena lebih mudah di dalam mengontrol hati. Berbeda dengan orang yang terkenal, ia lebih tinggi tertuntutnya untuk senantiasa mengontrol hati”.

    Ingatkah Anda kisah tentang Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Tholib? Ketika itu para dhu’afa dan fakir miskin seringkali menjumpai kantong berisi gandum dan bahan makanan lainnya di depan pintu-pintu rumah mereka tanpa diketahui siapa yang menaruhnya. Begitu Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Tholib wafat, mereka tidak lagi menjumpai kantong-kantong berisi makanan lagi sebagaimana biasanya. Ketika dijumpai pada punggung jenazah beliau warna kehitaman bekas sering memanggul suatu beban. Akhirnya, diketahuilah bahwa selama ini yang berbuat kemuliaan tersebut adalah beliau. Allahu Akbar. Inilah sikap ‘uzlah.

    Umar bin Abdul Aziz ketika ditanya tentang pertumpahan darah yang terjadi di antara para Sahabat, mengatakan: Itu adalah darah yang Allah mensucikan tangan-tangan kita darinya, maka marilah mensucikan lisan-lisan kita darinya! Beliau mengajak kaum muslimin untuk menghindarkan diri dari fitnah.  Inilah sikap ‘uzlah.

    Orang-orang bertanya kepada Masruq bin Al-Ajda’ seorang Tabi’in: “Kenapa Anda tidak membantu Ali bin Abu Tholib radhiyallahu ‘anhu?” Dia menjawab: “Bagaimana menurut kalian ketika dua pasukan dari kalangan kalian sendiri sudah saling berhadapan, lalu turun Malaikat di hadapan kalian dengan mengatakan,

    وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا [النساء:29]

    Janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kalian (QS. An-Nisa:29)

    Apakah hal itu sudah cukup untuk menghalangi kalian? Orang-orang  menjawab: “Tentu”. Lebih lanjut dia mengatakan: “Demi Allah, sungguh Malaikat telah turun kepada mereka melalui lisan Nabiyullah, sungguh kejadian itu adalah mahkamah besar yang tidak mungkin dihapus oleh sejarah”.

    Lihatlah sikap Masruq bin Al-Ajda’, dia menghindarkan diri dari fitnah. Inilah sikap ‘uzlah.

    Abul ‘Aliyah di saat terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Saat itu  aku adalah seorang pemuda yang sangat mencinta peperangan. Perang lebih aku sukai daripada makanan lezat. Aku sendiri sudah mempersiapkan diri dengan persiapan yang prima. Begitu aku mendatangi lokasi, ternyata yang ada adalah dua pasukan besar muslim  yang saling berhadapan. Ketika yang satu bertakbir maka yang satunya lagi bertakbir. Ketika yang satu bertahlil maka yang satunya lagi juga demikian. Aku berbicara pada diriku: ‘Mana di antara dua pasukuan itu yang terjebur pada kekafiran?’ Lalu, akupun pulang meninggalkan mereka”.

    Lihatlah Abul ‘Aliyah, dia tidak mengikuti hawa nafsunya. Padahal jiwanya sangat senang berperang. Perang baginya lebih dicintai daripada makanan lezat. Namun, ketika perkara ini baginya tidak jelas maka diapun memastikan diri untuk menjauhkan darinya. Inilah sikap ‘uzlah.

    1. Sikap ‘Uzah yang Berlaku untuk Siapapun

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً  (سنن البيهقى )

    “Yahudi telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan. Nashroni telah telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan. Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan” (Sunan Al-Baihaqi)

    Dalam riwayat lain,

    عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : تفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلهم في النار إلا واحدة » ، قالوا : وما هي تلك الفرقة ؟ قال : « ما أنا عليه اليوم وأصحابي  (المعجم الصغير للطبراني )

    Dari Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di Neraka kecuali hanya satu golongan. Mereka bertanya: ‘Siapa mereka yang satu golongan itu?’ Beliau menjawab: “Sesuatu yang hari ini saya dan sahabat saya berada di atasnya”. (Al-Mu’jam Ash-Shoghir lith Thobroni)

    Jelaslah, dari Hadits di atas bahwa kita harus menempuh cara keberagamaan Nabi dan para Sahabatnya. Apa yang ada pada mereka itu yang harus ada pada zaman kita, apa yang tidak ada pada mereka maka kita tidak boleh mengada-adakannya.

    Tentu untuk beragama sebagaimana keberagamaan Nabi dan para Sahabatnya sangatlah terasing. Karena terlalu banyak pembiasan dari satu golongan ini, ada 72 golongan. Bayangkan, 1 dibanding 72 tentu sangatlah terasing. Sangatlah besar badai yang harus dihadapi.  Meski demikian, kita harus tegar dan kuat. Inilah sikap ‘uzlah. Disebutkan di dalam Hadits,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.( صحيح مسلم)

    Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Islam bermula dipandang asing dan akan kembali dipandang asing sebagaimana permulaannya. Maka, berbahagialah orang-orang yang terasing.

    و صلى الله على سيدنا و حبيبنا محمد و على آله و أصحابه أجمعين

     

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/uzlah-mengucilkan-diri-2/feed/ 51
    Roja’? Harus Itu? https://nidaulfithrah.com/roja-harus-itu/ https://nidaulfithrah.com/roja-harus-itu/#comments Tue, 12 Feb 2019 09:31:05 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=5626 Sebagaimana sudah kita ketahui pada edisi sebeiumnya bahwa pilar ibadah ada 3; mahabbah (cinta), khouf (takut) dan roja’ (berharap). Ibadah yang merupakan tujuan kita diciptakan akan bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya jika ditopang dengan tiga pilar tersebut. Pada edisi sebelumnya kita sudah membahas tentang khouf. Pada edisi kali ini, kita akan membahas roja’. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ (41) تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ (42) لَا جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ (43) فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (44) فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) [غافر: 41 – 45]

    “Wahai kaumku, Bagaimanakah ini, aku menyerumu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeruku ke Neraka? (Mengapa) kamu menyeruku agar kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak mempunyai ilmu tentang itu, padahal aku menyerumu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu menyeruku kepadanya bukanlah suatu seruan yang berguna baik di dunia ataupun di Akherat. Dan sesungguhny tempat kembali kita pasti kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas mereka itu akan menjadi penghuni Neraka. Maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang sangat buruk.” (QS. Ghafir:41-45)

    Seseorang yang dikisahkan di dalam ayat-ayat ini adalah seorang lelaki sholeh yang menyembunyikan keimanannya pada zaman Fir’aun. Dia senantiasa menasihati orang-orang tentang kebatilan mereka dan menjelaskan bahwa kebenaran adalah apa yang dibawa Nabi Musa. Di dalam dakwahnya yang tidak ringan ini, dia memiliki roja’ (harapan) yang kuat kepada Allah. Dia hanya bersandar kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Akhirnya, Allah Ta’ala pun melindunginya. Sebaliknya, menghancurkan Fir’aun dan pengikutnya.

    Dalil lain tentang roja’,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Pantaskah kita bersu’uzhzhon kepada Allah, padahal Dia sendiri berfirman bahwa tidaklah keberadaan-Nya kecuali sebagaimana persangkaan kita. Kita tentu menyadari bahwa sebenar-benarnya perkataan adalah perkataan Allah,

    وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا (النساء: 87)

    “Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS. An-Nisa:87)

    Oleh karena itu yang dituntut dari kita adalah bagaimana menjaga diri kita untuk terus berhusnuzhzhonn kepada-Nya, bahwa selama kita mengupayakan keshalihan Dia ‘Azza wa Jalla pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita. Terlebih kita juga menyadari Dia itu lebih sayang kepada kita daripada diri kita sendiri. Demikianlah Syaikh As-Sa’di menjelaskan ketika mentafsirkan QS. Al-An’am: 117.

    فيجب عليكم -أيها المؤمنون- أن تتبعوا نصائحه وأوامره ونواهيه لأنه أعلم بمصالحكم، وأرحم بكم من أنفسكم

    (تفسير السعدي . ص: 270)

    “Maka wajib bagi kalian, wahai kaum Mukminun, Perhatikanlah arahan-arahan-Nya, perintah- dan larangan-Nya. Karena Dia ‘Azza wa Jalla lebih tahu tentang kemaslahatan-kemaslahatan kalian dan lebih sayang kepada kalian daripada diri kalian sendiri”.

    Disebutkan dalam sebuah riwayat,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ ، فَهْوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِى غَلَبَتْ غَضَبِى » (رواه البخارى)

    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ketika Allah telah menetapkan takdir makhluk, Dia mencatat dalam kitab-Nya yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku telah mengalahkan Murka-Ku”. (HR. Bukhari)

    Maksudnya Allah memang memiliki sifat murka, tapi sifat rahmat-Nya lebih banyak daripada sifat murka-Nya. Bagaimana tidak, mari perhatikan riwayat di bawah ini!!

    عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِيمَا يَرْوِى عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ « يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى فَإِنِّى سَأَغْفِرُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَوْ لَقِيتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا لَلَقِيتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً وَلَو عَمِلْتَ مِنَ الْخَطَايَا حَتَّى تَبْلُغَ عَنَانَ السَّمَاءِ مَا لَمْ تُشْرِكْ بِى شَيْئاً ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى لَغَفَرْتُ لَكَ ثُمَّ لاَ أُبَالِى » (رواه أحمد)

    “Dari Abu Dzar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan yang beliau riwayatkan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla, Dia berfirman: Wahai anak Adam, sungguh kamu menyeru-Ku dan berharap kepada-Ku maka sungguh Aku pun akan mengampunimu bagaimanapun (banyaknya) dosa yang ada padamu.  Jika  kamu berjumpa dengan-Ku dengan (membawa) kesalahan sepenuh bumi niscaya Aku menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi. Jika kamu berbuat kesalahan-kesalahan hingga mencapai awan langit selama tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Ku lalau memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli” (HR. Ahmad)

     

    Mari lihat juga pemberitahuan dari Nabi kita, tentang pembunuh 100 orang yang Allah ampuni padahal baru sekedar bertaubat belum melakukan kebaikan-kebaikan.

    عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ. وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ. فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِى صُورَةِ آدَمِىٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِى أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ (رواه البخارى و مسلم)

    Dari Abu Said Al Khudri RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukkan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus-terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Rahib itu menjawab, ‘Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.’ Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukkan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata, ‘Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima?’ Orang alim itu menjawab, ‘Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.’ Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukkan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana, laki-laki itu meninggal dunia. Lalu Malaikat rahmat dan Malaikat adzab saling berbantahan. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.’ Malaikat adzab membantah, ‘Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.’ Akhirnya datanglah Malaikat yang berwujud manusia Menemui kedua Malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada Malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata, ‘Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.’ Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki itu meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat rahmat.” Qatadah berkata, “Al Hasan berkata, ‘Seseorang telah berkata kepada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup.”(HR. Bukhari dan Muslim )

     

    Hadits ini menunjukkan betapa Allah sangat Pemurah kepada hamba-Nya. Akankah kita bersuuzhzhonn kepada-Nya?

     

    Uraian di atas dari awal hingga akhir memahamkan kita untuk tidak berputus asa sedikitpun sehingga kita senantiasa roja (berharap) kepada-Nya dengan penuh kemantapan.

     

    Selain tidak berputus asa, roja (rasa harap) menjadikan kita semangat mengejar amaliyah dan peribadahan secara kwantitas dan kwalitas. Ingat, kasih sayang Allah kepada kita sebagai ummat Nabi yang terakhir sangatlah luar biasa. Memang dibandingkan ummat-ummat terdahulu, postur tubuh kita kecil-kecil, umur pendek-pendek, dan kekuatan fisik tidak sehebat mereka. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan syariat untuk kita dengan amaliyah-amaliyah dan peribadahan yang keutamaannya sangat tinggi. Sehingga pahala dan keutamaan yang kita dapatkan bisa melampui pahala dan keutamaan yang mereka dapatkan. Disebutkan di dalam Tafsir As-Sa’di tentang Nabi shallalalhu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi yang paling utama melampaui seluruh Nabi.

     

    أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ (الأنعام: 90)

    “Mereka itulah (para Nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (QS. Al-An’am:90)

     

    { أُولَئِكَ } المذكورون { الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ } أي: امش -أيها الرسول الكريم- خلف هؤلاء الأنبياء الأخيار، واتبع ملتهم وقد امتثل صلى الله عليه وسلم، فاهتدى بهدي الرسل قبله، وجمع كل كمال فيهم. فاجتمعت لديه فضائل وخصائص، فاق بها جميع العالمين، وكان سيد المرسلين

     

    “ ‘Wahai Muhammad! Mereka para Nabi yaitu orang-orang yang telah Allah beri petunjuk, maka ( ikutilah mereka). Berjalanlah di belakang para Nabi manusia pilihan tersebut’. Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam pun mengikuti dan mentaati mereka, Maka beliau mendapatkan keseluruhan  petunjuk yang  diberikan kepada seluruh Nabi sebelumnya. Beliau mengumpulkan seluruh kesempurnaan dari semua Nabi tersebut. Maka, berkumpullah pada diri beliau seluruh keutamaan dan keistimewaan yang melampaui seluruh manusia. Akhirnya beliau menjadi penghulu seluruh Nabi.

     

    Ketika men-tadabburi Tafsir As-Sa’di ini, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dikehendaki sebagai Penghulu Nabi, maka bisa jadi demikian pula ummatnya; mereka dikehendaki menjadi penghulu seluruh ummat. Dan, ternyata ada  Hadits yang menunjukkan keutamman Ummat terakhir ini atas seluruh ummat yang memperkuat tadabbur saya ini. Dia ‘Azza wa Jalla menghendaki ummat Muhammad memasuki Surga lebih dulu  meskipun keberadaannya sebagai ummat terakhir

     

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَحْنُ الآخِرُونَ الأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوا فَهَدَانَا اللَّهُ لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ فَهَذَا يَوْمُهُمُ الَّذِى اخْتَلَفُوا فِيهِ هَدَانَا اللَّهُ لَهُ – قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ – فَالْيَوْمُ لَنَا وَغَدًا لِلْيَهُودِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى ».(رواه مسلم)

    “Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallalalhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kami adalah ummat

    terakhir, namun merupakan ummat yang pertama masuk surga pada Hari Kiamat, walaupun mereka diberi kitab sebelum kami dan kami diberi kitab sesudah mereka. Lalu Allah menunjukkan kita kepada kebenaran yang diperselisihkan oleh mereka. Hari inilah yang mereka perselisihkan itu. Kita menjadi manusia yang diikuti manusia lain pada hari kiamat, termasuk diikuti oleh Yahudi dan Nasrani.” (HR. Muslim)

     

    Memahami anugerah yang luar biasa ini seharusnya menjadikan kita semakin meningkatkan roja (rasa harap) yang ada pada diri kita sehingga kita merasa rugi ketika  terlewatkan dari  keutamaan suatu amaliyah dan peribadahan. Akhirnya jiwa pun selalu mengantisipasi diri di hadapan setiap keutamaan;

    Akankah sholat sendirian? Tidak, Kenapa tidak berjamaah yang pahalanya 27 derajat. Kita pun mengupayakan sekuat tenaga untuk selalu shlalat berjamaah.

    Akankah menunda berangkat ke masjid? Tidak. Kenapa tidak segera. Dengan segera berangkat, kita bisa mendapatkan shoff pertama yang Nabi nyatakan jika muslim mengetahui keutamaannya niscaya akan berebutan meskipun harus diundi. Juga bisa mengerjakan nawafil dan sunnah-sunnah lainnya.

    Akankah melewatkan hari tanpa infaq? Tidak. Bukankah orang yang sudah meninggal dunia ingin dikembalikan ke dunia biar bisa infaq? Bukankah setiap hari Malaikat mendoakan bagi orang yang berinfaq,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ ….اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ya Allah! Berilah ganti (untuk) orang yang berinfaq” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Akankah bermalas-malasan mendatangi majlis taklim? Tidak. Bermajlis taklim itu menempuh jalan “pintas” ke Surga. Disebutkan di dalam riwayat,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ (رواه الترمذى)

    “Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa menempuh jalan di situ menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga” (HR. At- Tirmidzi)

    Akankah membiarkan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana hari-hari lainnya? Tidak. Bukankah kita tahu bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah amalan sholih di dalamnya sangat Allah cintai melebihi amalan sholeh apapun yang dikerjakan di luar 10 hari pertama ini. Bahkan jihad pun keutamaannya kalah, kecuali kalau jihadnya seseorang dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali lagi alias mati syahid. Disebutkan dalam riwayat,

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ (رواه أبو داود)

    “Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada hari-hari yang amalan sholeh di dalamnya lebih Allah cintai daripada hari-hari ini yaitu sepuluh hari (pertama Dzulhijjah). Mereka bertanya: Ya Rasulullah, apakah tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab; Ya, tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali lgai dengan sesuatu apapun (HR. Abu Daud)

    Akankah kita bermalas-malasan untuk menjenguk orang sakit? Tidak. Menjenguk orang sakit itu berarti berada   di taman Surga.

    قَالَ عَلِىٌّ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِىَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِى الْجَنَّةِ (رواه الترمذى)

    “Ali berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim lainnya di pagi hari melainkan tujuhpuluh Malaikat akan bersholawat untuknya hingga sore hari. Dan, tidaklah dia menjenguknya di sore hari melainkan tujuhpuluh Malaikat akan bershalawat untuknya hingga pagi hari. Dan baginya kebun di Surga

    MasyaAllah, Jadi, intinya dengan roja kita tidak berputus asa atas ketergelinciran dosa dan kondisi-kondisi yang membebani jiwa, seperti; sakit, problem keuangan, problem sosial dan lain-lain. Juga dengan roja kita terlecut untuk mengejar keutamaan-keutamaan di dalam penghambaan diri kepada-Nya demi meraih derajat tertinggi di sisi-Nya. Allahu A’lam

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/roja-harus-itu/feed/ 56
    Tuch…. Salah Kan?!! https://nidaulfithrah.com/tuch-salah-kan/ https://nidaulfithrah.com/tuch-salah-kan/#comments Tue, 12 Feb 2019 09:16:46 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=5623
  • Tabi’at Manusia Suka Menilai
  • Manusia memiliki tabi’at suka menilai orang lain. Dari tabi’at inilah lahir husnuzhzhonn dan suuzhzhonn. Agar kita selamat dengan adanya tabi’at ini, maka kedepankan husnuzhzhon bukan suuzhzhonn. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ (الحجرات:12)

    “Hai orang-orang yang beriman jauhilah oleh kalian banyak prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa” (QS. Al-Hujurot:12)

    Disebutkan di dalam Hadits,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ ، وَلاَ تَحَسَّسُوا ، وَلاَ تَجَسَّسُوا ، وَلاَ تَحَاسَدُوا ، وَلاَ تَدَابَرُوا ، وَلاَ تَبَاغَضُوا ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jauhilah oleh kalian prasangka (buruk), karena ia adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian saling memata-matai, saling dengki, saling membelakangi, dan janganlah kalian saling murka. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Prasangka bagaimanakah yang terlarang? Al-Khuthobi mengatakan yang terlarang adalah memastikan suatu persangkaan buruk dan mempercayainya. Padahal ia hanyalah sesuatu yang terlintas di dalam hati yang belum bisa dipastikan. Ini perbuatan dosa. Namun,  jika ia dibiarkan lewat begitu saja yang akhirnya hilang dari lintasan, maka tidaklah mengapa. Tidaklah dosa. Bukan yang dimaksud dalam ayat ini.

    Biarkanlah prasangka buruk yang terlintas di hati lewat dan hilang begitu saja

     

    1. Kenapa Suuzhzhon Dilarang?

    Kenapa suuzhzhon dilarang padahal nyata-nyata si pelaku dikelilingi indikasi-indikasi yang di-zhonn-kan? Jawabannya paling tidak ada tiga perkara;

    1. Suuzhzhonn bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan

    Coba kita perhatikan Hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah di atas, setelah mengingatkan ummat agar menghindarkan suuzhzhonn, beliau mengingatkan mereka agar menghindari tindakan memata-matai, dengki, saling menikung, saling murka. Karena semua perkara ini adalah faktor pemecah belah ukhuwwah Islamiyyah.

    Sementara ukhuwwah islamiyyah adalah perkara yang harus dijaga dalam segala keadaan. Ia tidak boleh retak. Banyak sekali Hadits-Hadits yang berbicara tentang ini. Di antaranya adalah larangan berbisik-bisik antara dua orang tanpa melibatkan seorang lagi ketika mereka bertiga. Karena hal ini bisa merusak ukhuwwah.

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِذَا كَانُوا ثَلاَثَةٌ فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ » (رواه البخارى ومسلم)

    “Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika mereka bertiga maka jangan berbisik-bisik antara dua orang tanpa orang yang ketiganya” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Intinya, Ukhuwwah Islamiyyah harus dijaga tidak boleh dirusak dengan cara apapun, dan suuzhzhonn adalah salah satu faktor yang sangat berpotensi untuk  merusaknya karena orang yang menjadi sasaran suuzhzhonn pasti akan murka. Inilah awal keretakan

     

    1. Mengganggu kesehatan jiwa dan badan

    Di dalam kehidupan ini, tidak ada yang lebih menenangkan hati ketika melihat kejadian apapun melebihi husnuzhzhonn. Baik yang terkait dengan ketetapan-ketetapan dari Allah ataupun yang terkait dengan tindak-tanduk manusia. Banyak sekali ketetapan-ketatapan (takdir) yang tidak menyenangkan manusia. Sebagian mereka dengan takdir tersebut ada yang tertekan, menderita sakit, stress, gila  bahkan ada yang bunuh diri. Tahukan Anda apa penyebabnya? Tidak lain adalah Karena tidak ber-husunuzhzhann kepada-Nya. Seharusnya mereka berhusnuzhzhan bahwa apa yang ditetapkan-Nya pastilah yang terbaik untuk mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)

    “Dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal itu lebih buruk bagi kalian. Allah lah yang Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui” (QS. Al-Baqoroh: 216)

    Sebaliknya,  orang yang senantiasa ber husnuzhzhonn kepada Allah, mereka selalu bisa selalu riang gembira, tidak pernah tertekan, stress apalagi gila. Mereka pun dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ » (رواه مسلم)

    “Dari Shuhaib, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya baik. Dan, tidak ada yang bisa seperti itu kecuali orang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesulitan dia bersabar, dan itu baik baginya (HR. Muslim)

     

    Yang menjadikan dia bisa bersabar tidak lain adalah husnuzhzhonn kepada Allah

     

    Terlebih kita telah mengetahui bahwa rahmat Allah mengalahkan murka-Nya sebagaimana disebutkan di dalam Hadits Qudsi,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سَبَقَتْ رَحْمَتِى غَضَبِى » (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Allah ‘Azza wa Jalla memang memiliki sifat murka, tetapi murka-Nya telah dikalahkan oleh rahmat-Nya. Akankah kita bersuuzhzhonn kepada-Nya.

     

    Demikian pula dalam memandang tindak-tanduk manusia. Ketika kita memandangnya dengan husnuzhzonn niscaya jiwa dan raga kita akan sehat. Bagaimana korelasinya? Korelasinya yaitu; Ketika Anda ber suuzhzhonn (prasangka buruk) maka jiwa Anda akan tegang, jantung berdegup lebih kencang karena Anda diliputi amarah/murka.  Orang ketika membiarkan murkanya bertumpuk menebal maka akan mengganggu kesehatannya. Bahkan murka bisa membinasakan seseorang. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

    قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ (أل عمران:119)

    “Katakanlah, Matilah kalian karena kemarahan kalian” (QS. Ali Imron:119)

    Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thobari, ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang selalu murka melihat ukhuwwah  dan perkembangan kaum muslimin. Maka, Nabi diperintahkan oleh-Nya untuk menjatuhkan mereka dengan kalimat “Matilah kalian karena kemarahan kalian.

    Suuzhzhonn menjadikan hati seseorang bergejolak karena murka. Murka yang berkelanjutan akan mengganggu kesehatan jiwa yang berikutnya bisa berdampak pada kesehatan badannya.

     

    Berikut ini saya nukilkan pemaparan ahli tentang dampak murka terhadap kesehatan sumbernya dari Merdeka.com:  Amarah bisa memakan sumber daya yang baik dari tubuh dan membuat Anda kekurangan energi. Dampak terburuk dari marah pada kesehatan Anda adalah stres.
    Stres adalah hal sepele yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan beragam penyakit kronis dalam tubuh manusia. Pasien penyakit jantung memiliki risiko kesehatan yang benar-benar fatal jika mereka marah. Nah, berikut adalah beberapa efek negatif dari marah pada tubuh Anda, seperti dilansir Boldsky.

    1. Stres
      Efek setelah marah adalah stres. Setelah kemarahan Anda mereda, Anda akan mengalami stres dan stres dapat menyebabkan penyakit serius seperti diabetes, depresi, tekanan darah tinggi dan penyakit Jantung.

      2. Penyakit jantung
      Kemarahan dapat memicu debaran jantung yang lebih cepat. Jika Anda cepat marah, detak jantung Anda akan terus meningkat dan akhirnya rentan terserang stoke.

      3. Gangguan tidur
      Ketika Anda marah, hormon akan bergejolak di dalam tubuh Anda. Itulah mengapa risiko kesehatan terburuk dari kemarahan adalah gangguan tidur. Jika tubuh Anda tidak mendapatkan istirahat, Anda bisa menjadi sasaran empuk bagi banyak penyakit. Sulit tidur bahkan dapat membuat Anda jadi gila.

      4. Tekanan darah tinggi
      Tekanan darah tinggi dapat disebabkan banyak hal dan kemarahan merupakan salah satu penyebab utamanya. Ketika Anda marah, tekanan darah Anda akan meningkat. Hal ini bisa menyebabkan banyak kerusakan pada jantung Anda.

      5. Masalah pernapasan
      Marah juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma. Seseorang akan merasa sulit bernapas ketika ia marah. Kemarahan juga dapat memicu serangan asma dan membuat napas seseorang terengah-engah.

      6. Sakit kepala
      Ketika Anda marah, pembuluh darah di otak akan berdenyut liar. Hal ini dapat memicu rasa sakit di kepala. Cobalah untuk tenang segera, jika Anda merasa nyeri di kepala Anda karena dipicu oleh perasaan marah.

      7. Serangan jantung
      Serangan jantung sering terjadi, jika seseorang menjadi sangat emosional, bersemangat atau marah. Kemarahan adalah salah satu penyebab paling berbahaya yang dapat memicu serangan jantung. Itulah sebabnya pasien jantung dilarang untuk terlalu sering mengekspresikan kemarahan mereka.

      8. Stroke
      Stroke otak terjadi ketika satu atau lebih pembuluh darah di otak pecah. Hal ini dapat terjadi ketika kemarahan membuat tekanan darah Anda naik sangat tinggi. Stroke otak dapat membunuh Anda atau melumpuhkan Anda seketika. [Selesai].

     

    Jelaslah, betapa sangat erat korelasi antara murka yang diantara penyebabnya adalah su-uzhzhonn dengan kesehatan jiwa dan badan. Maka, janganlah kita bersu-uzhzhonn karena bisa menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Disebutkan dalam Al-Qur’an,

    وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ (البقرة:135)

    “Dan janganlah kalian menjerumuskan kalian ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqoroh: 135)

     

    1. Hukum asal seorang muslim adalah baik sehingga harus disikapi dengan prilaku yang baik hingga tampak padanya karakter dan perangai untuk bisa dikatakan sebagai “orang yang tidak baik”

     

    Ini adalah kaedah yang harus kita perhatikan di dalam kita bermuamalah sesama muslim. Kenapa demikian? Tidak lain adalah bahwa keimanan yang telah terpatri di dalam jiwa seorang muslim akan memancarkan energi kebaikan-kebaikan. Jadi, muslim itu identik dengan kebaikan-kebaikan. Oleh karena itu, selama kita mengetahui seseorang sebagai orang baik maka sikapilah dengan prilaku yang baik. Di antara prilaku yang baik adalah husnuzhzhonn.  Sedikitpun kita tidak boleh ber-suuzhzhonn kepada seorang muslim. Tidak boleh terburu-buru menyimpulkan keburukan hingga diketahui secara pasti akan keburukannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ [الحجرات: 6]

    “Wahai orang-orang yang beriman! JIka ada orang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurot:6)

    Inti dari ayat ini adalah tidak mengambil sesuatu sebagai kesimpulan hingga benar-benar telah dipastikan

     

    Banyak sekali Hadits-Hadits yang menunjukkan tentang hal ini, di antaranya adalah,

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ » (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallalalhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah ban bahwa Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan semuanya itu maka mereka terjaga dariku darahnya, hartanya kecuali dengan hak Islam. Dan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini menunjukkan ketika zhahir mereka menunaikan amaliyah-amaliyah maka berarti mereka adalah muslim yang harus mendapatkan hak-hak sebagai muslim. Urusan ternyata batinnya tidak sama dengan zhahirnya maka itu menjadi urusan Allah. Karena kita tidak memiliki wewenang untuk menghukumi batinnya. Kita hanya berwenang menghukumi zhahirnya. Oleh karena itu Nabi menyalahkan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu yang membunuh seseorang dengan mendasarkan kepada prasangka. Disebutkan di dalam riwayat,

    أُسَامَةَ بْنَ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ يُحَدِّثُ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلاً مِنْهُمْ فَلَمَّا غَشَيْنَاهُ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِىُّ وَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِى حَتَّى قَتَلْتُهُ. قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لِى « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا. قَالَ فَقَالَ « أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ». قَالَ فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ.

    “Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke Huraqah, bagian dari suku Juhainah. Kami (menyerang mereka) di waktu pagi dan kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ (Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya. Adapun saya menusuk orang tersebut dengan tombakku samapai menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba (di Madinah), berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,  beliau bertanya kepadaku, ‘Wahai Usamah, apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?’ Saya (Usamah) menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya, “Apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?”Saya (Usamah) berkata, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih terus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.”   (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari dua Hadits di atas jelaslah, manusia tidak berhak menghukumi sesuatu yang tidak nampak. Itu adalah hak Allah. Wilayah manusia hanyalah sebatas menghukumi sesuatu yang zhahir (tampak)

     

    1. Carilah 70 Alasan untuk Mentolerir Kesalahan Seorang Muslim

    Bagaimanakah agar kita bisa ber-husnuzhzonn kepada muslim yang kita jumpai melakukan kesalahan? Caranya adalah carilah 70 alasan untuk memakluminya. Jika kita sudah mencari alasan-alasan yang banyak tapi tetap saja mengganjal yang akhirnya kita bisa ber-suuzhzhonn, maka hadirkanlah di dalam hati kalimat “Mungkin ada alasan yang saya tidak mengetahui”. Disebutkan di dalam sebuah Atsar,

     

    عن هشام بن الكلبي ، قال : قال جعفر بن محمد : « إذا بلغك عن أخيك الشيء تنكره فالتمس له عذرا واحدا إلى سبعين عذرا ، فإن أصبته وإلا قل : لعل له عذرا لا أعرفه » (شعب الإيمان للبيهقي (17/ 378، بترقيم الشاملة آليا)

    “Dari Hisyam Ibnu Al-Kalbi, dia berkata: Ja’far bin Muhammad berkata: Jika sampai kepada Anda sesuatu terjadi pada saudara Anda yang Anda mengingkarinya, maka carilah untuknya alasan mulai satu sampai tujuhpuluh. Jika Anda mendapatkannya maka itu, jika tidak maka katakanlah, siapa tahu dia memiliki alasan yang saya tidak mengetahuinya.” (Syu’abul Iman lil Baihaqi 17/18, Maktabah Syamilah)

     

    سمعت منصور بن عبد الله يقول : سمعت أبا علي الثقفي يقول : سمعت حمدون القصار يقول : « إذا زل أخ من إخوانكم فاطلبوا له سبعين عذرا ، فإن لم تقبله قلوبكم فاعلموا أن المعيب أنفسكم ؛ حيث ظهر لمسلم سبعون عذرا فلم تقبله »   (آداب الصحبة لأبي عبد الرحمن السلمي  ، ص: 18، بترقيم الشاملة آليا)

    “Saya mendengar Manshur bin Abdullah berkata: Saya mendengar Abu ‘Ali Ats-Tsaqofy berkata: Saya mendengar Hamdun Al-Qushor berkata: Jika seseorang dari saudara kalian tergelincir (berbuat kesalahan) maka carilah untuknya 70 alasan (untuk bisa memakluminya). Jika hati kalian belum bisa menerima alasan-alasan itu maka ketahuilah justru yang tercela adalah Anda sendiri. Bagaimana tidak, pada seorang muslim itu ada 70 alasan sementara hati Anda tidak bisa menerimanya” (Adabus Shuhbah li Abdirrahman As-Sulamy, hal. 18 dengan penomeran Asy-Syamilah Aliya)

    Dua Atsar di atas menunjukkan, Upayakanlah  husnuzhzhonn terhadap muslim lainnya ketika mereka berbuat salah.

     

    عن ابن أبي مليكة أن عمر بن الخطاب قال لا يحل لامرىء مسلم سمع من أخيه كلمة أن يظن بها سوءا وهو يجد لها في شيء من الخير مصدرا (التمهيد – ابن عبد البر، مكتبة الشاملة)

    “Dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Umar bin al Khathab berkata: “Tidak halal bagi seorang muslim yang mendengar dari saudaranya suatu kalimat yang dia mendengarnya lalu berprasangka buruk sementara dia (masih) mendapati kalimat lain yang baik darinya” (At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, Maktabah Syamilah)

    Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
    (HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah).

    1. Cara Menilai Suatu Komunitas atau Perorangan

    Cara menilai suatu komunitas baik atau tidak adalah dengan melihat sifat, karakter atau tabi’at yang dominan yang pada komunitas tersebut. Jika yang dominan adalah kebaikan maka dia adalah komunitas yang baik. Demikian pula dalam menilai seseorang. Perhatikalah mana perangai yang dominan pada diri seseorang? Jika yang dominan adalah baik maka dia adalah orang baik. Jika dia terbiasa berbuat keburukan maka yang dominan adalah keburukan maka berarti dia bukan orang buruk. Hal ini didasarkan pada pernyataan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bahwa sebaik-baik generasi adalah zamannnya,

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Sebaik-baik manusia adalah masaku, kemudian masa setelahnya (Tabi’in) kemudian masa setelahnya (Tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Apakah pada zaman Sahabat tidak ada kemungkaran? Jelas ada. Seperti yang dikisahkan kepada kita adanya riwayat tentang Sahabat yang dirajam karena zina, dipotong tangannya karena mencuri dicambuk karena minum khamr, Juga adanya perselisihan yang  tidak jarang terjadi di antara para Sahabat. Namun, kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa generasi Sahabat adalah generasi terbaik? Ini tidak lain, menilai suatu komunitas itu berdasarkan kondisi secara umum yang dominan.

    Menilai suatu komunitas atau seseorang adalah berdasarkan kondisi umum yang dominan.

    Semoga bermanfaat, alhamdulillahi Robbil ‘Alamin

    Majalah Bulan April, 2018 Edisi 65

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/tuch-salah-kan/feed/ 38
    Biarkan Tidak Terkenal, Asalkan Terkenal https://nidaulfithrah.com/biarkan-tidak-terkenal-asalkan-terkenal/ https://nidaulfithrah.com/biarkan-tidak-terkenal-asalkan-terkenal/#comments Tue, 12 Feb 2019 09:11:46 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=5620 Tanda seseorang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla adalah:

    1. Mengikuti petunjuk Nabi (Sunnah). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    [آل عمران: 31]

    “Katakanlah jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad ) niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron: 31)

    Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thobari, sebab turunnya ayat ini adalah adanya suatu kaum yang mengatakan kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Muhammad, Sesungguhnya kami mencintai Tuhan kami”. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat ini bahwa mengikuti ajaran Nabi (sunnah) adalah tanda benarnya seseorang mencintai Allah.

    Hal ini sangatlah mudah dipahami. Sebagai controh: seandainya ada orangtua; ayah dan ibu merasa sangat terhormat dan tersanjung jika sang anak yang mahasiswa masuk kuliah dengan sebaik-baiknya. Maka, sang anak tidaklah dikatakan mencintai ayah ibunya kecuali dengan ketentuan ini. Jika kuliahnya berantakan bahkan di DO maka dia tidak bisa dikatakan mencintai orangtuanya meskipun nama keduanya sering dipuisikan. Atau nama keduanya dilukis dengan kaligrafi indah lalu dipajang dan sering dilihatnya. Seandainya dipaksakan untuk disebut cinta, maka tidak lain adalah cinta semu bukan cinta sejati.

    Demikian pula, jika seseorang merasa mencintai Allah dengan sering menyebut-nyebut nama-Nya, tetapi tidak mengindahkan ketetuanNya yaitu sunnah Nabi di mana syariat-Nya terkandung di dalamnya, maka dia bukanlah orang yang mencintai Allah.

    Cinta bukanlah lipstick pernyataan membela tanpa dibarengi bukti.

     

     

    Pahamilah sunnah Nabi lalu pegangilah kuat-kuat dan gigitlah dengan gigi geraham, inilah bukti mencintai Allah. Secara umum, kandungan sunnah Nabi ada 3 perkara:

    1. Masalah aqidah.

    Kaedahnya, Kita tidaklah berbicara dan meyakini perkara ghaib kecuali sebatas informasi dari nash (Al-Qur’an dan Hadits). Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:

    عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا () إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ [الجن: 26، 27]

    “Dia lah Yang Mengetahui perkara ghoib, dan tidak pernah menampakkan perkara ghoib-Nya kepada siapapun, kecuali kepada siapa yang Dia ridhoi dari Rasul” (QS. Jin 26-27)

    1. Masalah ibadah

    Kaedahnya, Hukum asal dalam masalah ibadah adalah haram hingga ada dalil yang mensyariatkannya. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    حديث عَائِشَةُ  – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخارى و مسلم)

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak terdapat padanya perkara kami, maka ia tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

    1. Masalah muamalah (urusan dunia)

    Kaedahnya, Hukum asal dalam masalah muamalah adalah leluasa hingga ada dalil yang menyatakannya haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    حديث أنس-  أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)

    “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian (HR. Musllim dari Anas bin Malik)

    Kronologi Nabi menyampaikan statemen ini “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” bermula dari suatu kejadian berikut ini: Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

    Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kami begini dan begitu…” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan statemen ini.

     

    Inilah 3 kaedah yang tidak lain adalah rambu-rambu di dalam kita beramal lahiriyah dan bathiniyah. Jika kaedah-kaedah ini diabaikan maka yang terjadi adalah kesyirikan, bid’ah dan penyimpangan hukum halal dan haram. Terlebih di zaman sekarang, berpegang teguh terhadap sunnah itu tantangannya berat sekali seperti memegang bara api. Maka, kita harus lebih mempersiapkan mental. Disebutkan dalam Hadits,

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ » (رواه الترمذى)

    “Dari Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang memegang bara api” (HR. At-Tirmidzi)

     

    1. Peduli dan Loyal Terhadap Urusan Muslim Lainnya

    Inilah tanda kedua bahwa seseorang itu dicintai oleh Allah. Mari masing-masing kita bercermin apakah sudah mencintai muslim lain sebagaimana mencintai diri sendiri? Kalau jawabannya “Ya”, maka pujilah Allah. Kalau “Belum” maka celalah dirinya sendiri lalu berubahlah. Alhamdulillah tanda kedua ini sudah dibahas pada edisi sebelumnya. Silahkan dirujuk.

     

    1. Putus Ikatan Hubungan Hati Terhadap Non Muslim

    Ini tanda ketiga bahwa seseorang itu dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ketentuannya berbanding terbalik 180 derajat dengan muamalah sesama muslim. Kalau terhadap muslim mencintai, peduli dan loyal maka terhadap orang kafir harus membenci dan memutuskan ikatan hubungan hati. Non muslim hanya diperbolehkan disikapi dengan berbuat baik dan adil, tidak boleh dicintai. Penjelasan selengkapnya bisa dirujuk pada edisi sebelumnya.

     

    1. Berjihad di Jalan Allah

    Apakah kita dicintai oleh Allah? Allahu A’lam. Paling tidak kita harus mengetahui tanda-tandanya. Yaitu; apakah kita selama ini sudah berjihad?

    Jihad ada 2 macam; a]. dalam makna khusus dan b]. dalam makna umum.

    Jihad dalam makna khusus adalah perang/ angkat senjata melawan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    حديث معاذ بن جبل- رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ (رواه الترمذى)

    “ Pangkal semua urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad” (HR. At-Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal)

    Maksud hadits ini adalah bahwa pangkal segala permasalahan adalah Islam, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagaimana posisi kepala pada jasad. Tiang agama adalah shalat sebagaimana posisi tiang-tiang pada bangunan yang ia akan roboh tanpanya (tiang). Dan,  dzirwatu artinya paling tinggi . sinam artinya punuk unta. Jadi, jihad adalah sesuatu yang paling tampak dan paling tinggi. Maksudnya adalah bahwa ia merupakan ibadah yang berat, penuh kesulitan bagi raga dan jiwa. Oleh karena itu ia adalah ibadah yang paling tinggi pahala dan keutamaannya di sisi Allah Ta’ala.

    Tidaklah seorang muslim kecuali harus meniatkan dirinya untuk berjihad jika terjadi kondisi yang menghantarkannya ke sana. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ (رواه مسلم)

    “”Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.” (HR. Muslim).

    أَنَّ سَهْلَ بْنَ أَبِى أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ (رواه مسلم)

    “Dari Sahl bin Abi Umamah bin Sahl bin Hunaif dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang tulus meminta kepada Allah mati syahid, niscaya Allah akan menjadikannya mencapai derajat para syuhada’ meskipun mati di atas kasurnya” (HR. Muslim)

    Berniatlah Anda untuk berjihad, Niscaya Anda mendapatkan pahala jihad meskipun Anda meninggal dunia di atas kasur, karena memang Anda belum mentakdirkan Anda berkesempatan jihad

     

    Lihatlah para Sahabat, betapa mereka tidak tertinggal dari banyak peperangan baik perang yang diikuti Nabi ataupun tidak. Kita pasti ingat sirah tentang Ka’ab bin Malik yang rela diboikot selama 50 hari akibat tidak ikut perang. Kita juga ingat Sahabat Handholah yang belum sempat mandi junub di malam pertama pernikahannya karena harus segera memenuhi panggilan jihad. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة: 24)

    “Katakanlah jika Bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai daripada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah:24)

    1. Tidak Takut Terhadap Celaannya Orang yang Mencela

    Ciri atau tanda orang yang dicintai Allah adalah seseorang tidak takut terhadap celaannya orang yang mencela selama hal yang dilakukannya adalah haq/benar berdasarkan al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Sahabat. Terlebih di zaman sekarang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah isyaratkan bahwa ajaran yang haq benar-benar nanti akan terasing. Karena mayoritas kaum muslimin menjalankan syariat Islam bukan dengan warna sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah goreskan. Tapi, mereka menggores sendiri dengan warna-warna yang lain. Beliau shallallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ».(رواه مسلم)

    “Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Islam muncul dipandaang asing dan akan kembali dipandang asing sebagaimana permulaan munculnya” (HR. Muslim)

    Berbahagialah Anda yang terasing meskipun harus dicela dan dicemooh serta dicaci maki. Karena keterasingan Anda justru sesuai dengan goresan warna asli dari Nabi yang kemudian  diambil oleh para Sahabat sebagai pemahaman mereka dan amaliyahnya.

     

     

    Tetap tegarlah Anda, meskipun:

    1. Dikatakan sok suci, ketika gusar jika adzan berkumandang sehingga tidak tertinggal dari shalat jamaah.
    2. Dikatakan kuno, ketinggalan jaman, gak modis karena mempertahankan pakaian kebanggaan muslimah, jilbab
    3. Dikatakan tusuk sate, karena membiarkan jenggotnya yang tumbuh hanya sedikit.
    4. Dituduh mau mengkavling Surga buat sendiri, karena Anda begitu memperhatikan Hadits tentang iftiroqul ummah dan mengaplikasikannya.
    5. Dan berbagai ujaran kebencian lainnya, tetap tegarlah Anda.

     

    Tentang tanda dicintai oleh Allah mulai poin no 2, 3, 4, dan 5 Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan di dalam Al-Qur’an,

    فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [المائدة: 54]

    “Allah akan mendatangkan suatu kaum, yang Dia mencintai mereka dan mereka juga mencintai-Nya. Mereka bersikap lembut kepada orang-orang mukmin, bersikap keras terhadap orang kafir,berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaannya orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah:54)

    Marilah berupaya terus untuk meraih cinta Allah. Caranya tidak lain dengan memahami dan mengaplikasinnya lalu meningkatkan sisi kwantitas dan kwalitasnya. Ketika Allah ‘Azza wa Jalla sudah mencintai kita maka kita akan menjadi orang khusus-Nya (baca: wali ) yang senantiasa dalam bimbingan-Nya dan  dibela-Nya. Dia berfirman di dalam Hadits Qudsi,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ (رواه البخارى)

    “Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka Aku genderangkan peperangan dengannya. Tidaklah hamba-Ku bertaqorrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai melebihi sesuatu yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus-menerus bertaqorrub kepadak-Ku dengan perkara yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar. (Aku adalah) penglihatannya yang dengannya dia melihat. (Aku adalah) tangannya yang dengannya dia memukul. (Aku adalah) kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika Dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberinya. Jika dia memohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku melindunginya” (HR. Bukhari)

    Beruntunglah orang yang telah menjadi wali-Nya. Allah benar-benar menjaganya dan membimbingnya dalam jalan keridhoan-Nya. Upayakanlah dengan 5 poin di atas

     

    Ketika Allah ‘Azza wa Jalla mencintai kita, maka kitapun menjadi orang terkenal di tengah-tengah penduduk langit (para Malaikat) meskipun di dunia kita tidak dikenal. Tidak terkenal di dunia sama sekali bukan problem, justru merupakan problem besar jika kita tidak dikenal penduduk langit (para Malaikat). Disebutkan di dalam Hadits,

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ . فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، فَيُنَادِى جِبْرِيلُ فِى أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى الأَرْضِ » (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril:  Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka cintailah dia! Lalu Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia. Maka, penduduk langitpun mencintainya. Lalu, dijadikan sebagai orang yang diterima di bumi” (HR. Bukhari Muslim)

     

    Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/biarkan-tidak-terkenal-asalkan-terkenal/feed/ 34
    Memulia kan Mulia https://nidaulfithrah.com/memulia-kan-mulia/ https://nidaulfithrah.com/memulia-kan-mulia/#comments Tue, 12 Feb 2019 09:04:01 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=5617 Sebagian  akhlak mulia adalah memuliakan orang yang sepatutnya dimuliakan. Di antara orang yang harus dimuliakan adalah ulama, Pemilik keutamaan, dan  orang yang lebih tua atau orang yang diseniorkan. Kita harus mengedapankan dan mengutamakan mereka daripada yang lainnya. Tentu sesuai bidangnya masing-masing.

    • Tentang ulama….

    Muliakanlah Ulama. Karena mereka adalah petinggi kehidupan. Mereka pemilik keutamaan yang Nabi nyatakan sebagi pewarisnya. Tanpa ulama, kita akan senantiasa dalam kegelapan tidak mengetahui hak atau bathil. Akhirnya kacaulah kehidupan dunia kita dan menderitalah kita di Akherat nanti. Nabi shallalalhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ (رواه أبو داود)

    “Sesungguhnya keutamaan seorang ‘Alim (baca:ulama) dibandingkan dengan ‘Abid adalah seperti bulan purnama dibandingkan dengan seluruh bintang. Sesungguhnya Ulama itu pewaris para Nabi. Sungguh Para Nabi tidak mewariskan dinar juga tidak dirham, melainkan mewariskan ilmu. Maka, siapa mengambilnya  ia telah mengambil bagian yang besar” (HR. Abu Daud)

    Muliakanlah Ulama. Tidak ada alasan untuk tidak memuliakan mereka sehebat apapun Anda, apakah sebagai milyarder, pemilik popularitas, hartawan, penguasa, atau bahkan Anda adalah seorang raja, rendahkanlah diri Anda untuk bisa memuliakan ulama.

    Ada kisah menarik yang bisa kita ambil ‘ibrah (pelajaran)nya  dari nasehat Imam Abu Daud. Beliau adalah penulis kitab Sunan Abu Daud, lahir tahun 202 H di Sajistan. Diceritakan oleh Al- Khattabi dari Abu Bakar bin Jabir pembantu Abu Daud, ia berkata: Aku dan Abu Daud tinggal di Baghdad.  Di suatu saat ketika kami selesai menunaikan shalat Maghrib, tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang, lalu ku buka pintu dan seorang pelayan melaporkan bahwa Amir Abu Ahmad Al-Muwaffaq minta izin masuk. Kemudian aku membertahu Abu Daud dan diapun mengizinkan. Sang Amir duduk. Abu Daud bertanya kepadanya: “Apa yang mendorong Amir ke sini? Amir menjawab: Ada tiga kepentingan. Kepentingan apa? Tanya Abu Daud. Amir mengatakan: Sebaiknya Anda tinggal di Basrah agar para pelajar dari seluruh penjuru negeri belajar kepadamu. Dengan demikian kota Basrah akan makmur lagi. Karena Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji.

    Abu Daud mengatakan: Itu yang pertama, lalu apa yang kedua? Amir menjawab: Hendaknya engkau mau mengajarkan Sunan kepada anak-anakku. Yang ketiga? Tanya Abu Daud. Hendaklah Anda membuat majlis tersendiri untuk mengajarkan Hadits kepada Khalifah karena mereka enggan duduk bersama orang umum.

    Abu Daud menjawab: Permintaan ketiga tidak bisa kukabulkan. Sebab derajat manusia itu baik pejabat terhormat ataupun rakyat jelata dalam menuntut ilmu dipandang sama. Ibnu  Jabir menjelaskan: Sejak itulah putra-putra khalifah menghadiri majlis taklim, duduk bersama orang umum dengan tirai pemisah.

    • Tentang pemilik keutamaan….

    Siapakah yang dikedepankan untuk menjadi Imam shalat? Tentu orang yang memiliki keutamaan bidang tersebut. Yaitu orang yang hapalan al-Qur’annya paling banyak kemudian yang lainnya sesuai urutan yang telah ditetapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Masih banyak dijumpai di banyak tempat adanya ketetapan bahwa yang mengimami shalat haruslah orang yang dipandang paling tua dalam hal usia. Ini tentu keliru. Disebutkan dalam Hadits,

    عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ (رواه مسلم)

    “Dari Abu Mas’ud al-Anshori, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling banyak hapalan al-Qur’annya di antara mereka. Jika mereka memiliki tingkatan yang sama dalam hal hapalan maka yang paling mengerti Sunnah Nabi lah yang menjadi Imam. Dan jika mereka satu tingkatan dalam hal pendalaman tentang sunnah maka yang menjadi imam adalah yang lebih dahulu berhijrah. Dan jika mereka satu tingkatan dalam berhijrah, maka orang yang paling tua di antara mereka. Dan janganlah seseorang menjadi imam di tempat kekuasaan orang lain dan janganlah seseorang duduk di tempat kehormatan orang lain kecuali atas izinnya.” (HR. Muslim)

    Jadi, kriteria pertama adalah orang yang paling banyak hapalannya meskipun dia anak kecil.

     

    Disebutkan dalam Hadits:

    عَنْ مِسْعَرِ بْنِ حَبِيبٍ الْجَرْمِىِّ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُمْ وَفَدُوا إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يَنْصَرِفُوا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ يَؤُمُّنَا قَالَ « أَكْثَرُكُمْ جَمْعًا لِلْقُرْآنِ ». أَوْ « أَخْذًا لِلْقُرْآنِ ». قَالَ فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنَ الْقَوْمِ جَمَعَ مَا جَمَعْتُهُ – قَالَ – فَقَدَّمُونِى وَأَنَا غُلاَمٌ وَعَلَىَّ شَمْلَةٌ لِى فَمَا شَهِدْتُ مَجْمَعًا مِنْ جَرْمٍ إِلاَّ كُنْتُ إِمَامَهُمْ وَكُنْتُ أُصَلِّى عَلَى جَنَائِزِهِمْ إِلَى يَوْمِى هَذَا  (رواه أبو داود)

    “Dari Mis’ar bin Habib Al-Jarmy, dia berkata: ‘Amr bin Salamah memberitahu kami. Ia (meriwayatkan) dari ayahnya bahwa mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala mereka hendak pergi, mereka bertanya: ya Rasulullah siapakah di antara kami yang berhak menjadi imam? Beliau menjawab: orang yang paling banyak hapalan Al-Qur’annya di antara kalian. Dia berkata: Tidak ada seorang pun dari kaum itu yang menghapal lebih banyak daripada hapalanku, mereka akhirnya memajukan aku (untuk menjadi imam) padahal saya masih bocah. Akhirnya saya ditetapkan. Tidaklah saya melihat jamaah dari kaum Jarm kecuali sayalah imam mereka.  Dan saya juga menjadi imam shalat jenazah mereka hingga hari ini” (HR. Abu Daud)

     

    Jelaslah, usia paling tua adalah kriteria terakhir dalam penetapan orang yang berhak menjadi imam shalat.

     

    Inilah beberapa contoh keharusan menghormati orang yang memiliki keutamaan. Tentang siapa saja pemilik keutamaan yang harus dihormati tentu sangatlah banyak dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya:

    Pasien harus menghormati dokternya

    Murid harus menghormati gurunya

    Mahasiswa harus menghormati dosennya

    Peserta latihan harus menghormati pelatihnya

    Dan lain-lain

    • Tentang orang yang lebih tua usianya

    Kita juga harus memuliakan orang yang lebih tua atau orang yang diseniorkan. Yang dimaksud orang yang lebih tua adalah orang yang lebih tua  usianya daripada kita. Siapapun orangnya, meskipun dalam pandangan kita adalah orang “pinggiran” tapi usianya lebih tua daripada kita maka rendahkanlah diri kita untuk bisa memuiiakannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    عَنْ أَنَسٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ : لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا ، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا (مسند أبي يعلى)

    “Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda” (Musnad Abu Ya’la)

    عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِى الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِى فِيهِ وَالْجَافِى عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِى السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ (سنن أبى داود)

    “Dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya termasuk bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan orang muslim yang sudah beruban, orang yang hapal Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya dan tidak kering darinya, dan memuliakan penguasa yang adil” ( Sunan Abu Daud)

    Sesungguhnya termasuk bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan orang muslim yang sudah beruban….

     

    • Tentang orang yang diseniorkan….

    Perlu ditegaskan bahwa akhlak yang baik mengajarkan kita agar menempatkan menusia sesuai kedudukannya. Jika ada tamu terpandang datang kepada kita, tentu kita harus mensikapinya berbeda dengan orang yang “biasa-biasa saja”.

    Orang yang “biasa-biasa saja” sudah merasa terhormat dengan – misalnya – suguhan ala kadarnya. Jika suguhan yang  sama disuguhkan kepada orang terpandang lalu dia merasa kurang terhormat maka janganlah kita melakukannya. Kita tidak boleh beralasan bahwa kedudukan semua orang dihadapan Allah adalah sama, maka siapapun harus diperlukan dengan sama. Sekali lagi, pandangan seperti ini tidaklah benar dan merupakan pemahaman yang keliru. Namun, jika yang dimaksud adalah  dia hendak mengangkat derajat orang yang “biasa-biasa saja” dengan menyuguhkan suguhan yang sama sebagaimana suguhan untuk  orang yang  terpandang maka itu adalah suatu kebajikan.

    Coba kita perhatikan sebuah riwayat tentang sikap ‘Aisyah,

    عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِى شَبِيبٍ أَنَّ عَائِشَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ مَرَّ بِهَا سَائِلٌ فَأَعْطَتْهُ كِسْرَةً وَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ وَهَيْئَةٌ فَأَقْعَدَتْهُ فَأَكَلَ فَقِيلَ لَهَا فِى ذَلِكَ فَقَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ

    (رواه أبو دواود)

    “Dari Maimun bin Abi Syabib, ia berkata: Ada seorang pengemis lewat di depan Aisyah, maka ia memberinya sepotong roti. Kemudian datang lagi seorang berpakaian dan berperilaku sopan kemudian ia mempersilakannya duduk dan disuruh makan. Ketika ia ditegur tentang sikapnya, maka ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Tempatkanlah manusia itu sesuai dengan kedudukannya.” (HR Abu Daud).

    Hadits ini dinyatakan dhoif (lemah) oleh Syaikh Al-Albani, dan  Abu Daud sendiri sebagai periwayat Hadits mengatakan bahwa Maimun tidak menjumpai Aisyah sehingga menjadikan derajatnya dhoif. Namun, maknanya adalah shohih karena adanya perintah Nabi untuk memuliakan orang yang memiliki keutamaan. Imam Muslim menyebutkan makna Hadits tersebut pada muqoddimah Shohihnya

               

    Yang dimaksud Sabda Nabi: ( أنزلوا الناس منازلهم ) ‘Tempatkanlah manusia itu sesuai dengan kedudukannya”, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Faidhul Qodir karya Syaikh Abdurrouf Al-Munawi adalah:

     ( أنزلوا الناس منازلهم ) أي احفظوا حرمة كل واحد على قدره وعاملوه بما يلائم حاله في عمر ودين وعلم وشرف فلا تسووا بين الخادم والمخدوم والرئيس والمرؤوس فإنه يورث عداوة وحقدا في النفوس والخطاب للأئمة أو عام وقد عد العسكري هذا الحديث من الأمثال والحكم وقال : هذا مما أدب به المصطفى صلى الله عليه و سلم أمته من إيفاء الناس حقوقهم من تعظيم العلماء والأولياء وإكرام ذي الشيبة وإجلال الكبير وما أشبهه (فيض القدير -3/ 57)

    “Maksudnya adalah Jagalah kehormatan setiap orang sesuai keberadaannya. Pergaulilah dia sesuai dengan keadaannya, baik dalam masalah umurnya, agama, ilmu, dan kedudukan. Janganlah kalian menyamakan antara pembantu dan tuannya, ketua dan anak buahnya dan bedakanlah di dalam berkomunikasi antara pemuka dan orang umum karena hal itu bisa berdampak terjadinya permusuhan dan kedengkian di dalam jiwa manusia. Al-Askari mengatakan, Hadits ini  (mengajarkan) keteladanan dan hikmah-hikmah. Demikianlah Nabi Al-Mushtofa mengajarkan adab kepada ummatnya agar memenuhi hak-hak manusia berupa memuliakan ulama, para pemimpin, orang tua/dituakan dan yang semisalnya”

    Pada akhir pembahasan ini, saya akan menyampaikan suatu bentuk penghormatan atau pemuliaan kepada orang lain yang seringkali terlupakan, yaitu JANGAN MENDAHULUI BERBICARA atau JANGAN MEMULAI BERBICARA sehingga orang yang berhak dihormati berbicara terlebih dahulu atau sudah mempersilahkan.  Ini berdasarkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah riwayat,

    ….ثُمَّ قَدِمَ الْمَدِينَةَ ، فَانْطَلَقَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَهْلٍ وَمُحَيِّصَةُ وَحُوَيِّصَةُ ابْنَا مَسْعُودٍ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَذَهَبَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَتَكَلَّمُ فَقَالَ « كَبِّرْ كَبِّرْ » . وَهْوَ أَحْدَثُ الْقَوْمِ ….(رواه البخارى)

    “…..kemudian datang ke Madinah, berangkatlah Abdurrahman bin Sahl dan Huwayyishoh, keduanya putra Mas’ud, menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdurrahman pun memulai. Lalu Nabi (langsung menghentikannya), “dahulukanlah yang lebih tua…dahulukanlah yang lebih tua”. Dia (Abdurrahman) adalah yang paling muda” (HR. Bukhari)

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/memulia-kan-mulia/feed/ 32
    Janda dan Kawannya Masih Banyak https://nidaulfithrah.com/janda-dan-kawannya-masih-banyak-2/ https://nidaulfithrah.com/janda-dan-kawannya-masih-banyak-2/#comments Tue, 12 Feb 2019 06:33:30 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=5614  

    Janda adalah wanita yang ditinggal suami, bisa karena dicerai atau ditinggal wafat. Yang dimaksud kawannya adalah orang-orang lemah; kaum wanita, miskin, dan yatim. Janda yang dimaksud di sini adalah janda lemah yang tidak memiliki keluarga yang menanggung kehidupannya. Wanita juga  dikatagorikan lemah,  karena memang demikian kodratnya; lemah akalnya, lemah fisiknya dan lemah emosionalnya. Oleh karena itu ia membutuhkan perlindungan. Kaum lelakilah yang melindunginya. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 34 “Laki-laki itu pelindung bagi perempuan. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lainnya (kaum wanita)”. Hadits Nabi juga mengkatagorikan wanita sebagai manusia yang lemah dalam sabdanya, “Ya Allah, betapa berdosa orang yang menyia-nyiakan hak dua macam orang lemah, yaitu anak yatim dan wanita”. (HR. An-Nasa’i)

     

    Kepada kaum lemah seperti merekalah kita harus memberikan perhatian secara khusus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  رضى الله عنه  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  : السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ ، يَشُكُّ الْقَعْنَبِىُّ – كَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ ، وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang mengurusi  janda dan orang miskin sama seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” Dan aku kira beliau bersabda: (al-Qo’nabi sang periwayat ragu-ragu)  Dan seperti orang yang selalu shalat malam yang tidak pernah letih, serta seperti orang yang berpuasa terus menerus ” (HR. Bukhari dan Muslim)

     

    MasyaAllah, sungguh hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat tinggi bagi siapa saja yang mau mempedulikan orang-orang lemah bahwa pahala yang didapat adalah seperti pahala berjihad (berperang dalam medan tempur melawan orang kafir), atau pahalanya seperti shalat dan puasa terus-menerus yang tidak pernah berhenti.

     

    Adakah di antara kita yang pernah berjihad atau shalat dan puasa yang tak pernah henti? Jawabannya tidak ada. Tetapi cukuplah dengan melakukan kebaikan ini yaitu mempedulikan orang lemah niscaya pahala amalan-amalan tersebut akan didapatkannya. Nabi juga menghukumi hidangan makanan sebagai seburuk-buruknya makanan jika hanya dinikmati oleh orang yang kaya. Beliau bersabda:

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ ، وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ (رواه البخارى)

    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda: Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah (pesta pernikahan) dimana orang-orang kaya diundang sementara orang miskin ditinggal (tidak diundang). Barangsiapa yang tidak memenuhi undangan maka telah mendustakan Allah dan RasulNya”. (HR. Bukhari).

     

    Nabi bersabda demikian tentu agar jangan sampai ada seorang muslim yang tidak peka terhadap kondisi orang lemah.

     

    Berapa jumlah janda di Indonesia? Data yang tercatat oleh sebuah sumber- Allahu A’lam– pada tanggal 17 Agustus 2015 adalah 11,2 juta. Andaikan 20% dari jumlah itu adalah janda lemah, maka berarti ada 2.240.000 janda yang harus diperhatikan kebutuhannya.

     

    Berapa jumlah orang miskin di Indonesia? Berdasarkan data yang dimuat Republika.co.id  tahun 2015 adalah 30,25 juta atau 12,25% dari jumlah penduduk Indonesia.

     

    Berapakah jumlah anak yatim? Berdasarkan data yang dimuat  Antaranews.com adalah 3,2 juta,  terbanyak ada di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

     

    Terlepas dari data-data di atas, memang seringkali terlihat pemandangan orang-orang lemah yang menyedihkan di berbagai tempat, di sudut-sudut jalan, di trotoar, di kampung-kampung, di pedesaan dan lain-lain. Mereka hidup dengan fasilitas sangat terbatas; di bantaran sungai, tempat pembuangan sampah, di bawah kolong jembatan dan lain-lain. Makanan seadanya sekedar untuk mengganjal perut. Pantaskah kita hidup dengan fasilitas serba ada apa lagi yang mewah sementara orang-orang di sekitar kita penuh kesengsaraan??!!  Pantaskah kita makan kenyang sementara orang-orang di sekitar kita kelaparan??!! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ (رواه البيهقى)

    “Dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: Bukanlah seorang  beriman yang dia kenyang sementara tetangganya kelaparan” (HR. Baihaqi)

     

    Berbuatlah apa yang bisa kita perbuat. Kita tidak perlu menyandarkan semuanya kepada pemerintah. Kita yakin pemerintah sudah memikirkan nasib mereka, tetapi barangkali dengan segala keterbatasannya belum bisa mengatasi semuanya. Oleh karena itu siapa lagi kalau bukan kita yang turut andil. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya???!!!

     

    Kita ambil contoh yang ada di sekitar kita saja, Semua orang tua yang sudah ngaji (baca: mendalami agama secara ilmiyah, tidak ikut-ikutan) menginginkan agar anak-anaknya bisa belajar di sekolah yang baik dan berkwalitas, yang kurikulumnya sepenuhnya sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Permasalahannya adalah bahwa bisa dikatakan seluruh sekolah yang baik tersebut biayanya mahal. Banyak orangtua yang tidak bisa menjangkaunya. Di sinilah kesempatan Anda wahai para aghniya (orang kaya) untuk berperan dengan cara menjadi donatur di sekolah-sekolah melalui program subsidi silang. Dengan cara ini, seluruh anak-anak dari keluarga yang kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan  yang baik dan berkwalitas. Jangan biarkan mereka memasukkan anak-anaknya di sekolah yang tidak bermutu, yang kurikulumnya banyak menyelisihi Al-Qur’an dan Hadits gara-gara kondisi perekonomian yang kepepet.

     

    Contoh lain, banyak anak cerdas yang “nganggur” karena keluarganya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikannya. Wahai para Aghniya (orang kaya), inilah kesempatan Anda untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Begabunglah bersama YNF (Yayasan Nidaul Fithrah) dengan menjadi orang tua asuh dalam program SAKU (SAntunan Kader Ustadz ustadzah). Melalui program ini anak-anak cerdas akan ditempatkan di pesantren-pesantren yang nantinya setelah lulus akan bersinergi dengan YNF dalam berbagai kegiatan-kegiatan dakwah. Ketika mereka sudah terjun dakwah, Anda wahai para aghniya bukan sekedar mendapatkan pahala yang berlipat tapi lebih dari itu, yaitu multilevel pahala. InsyaAllah. Sa’ad bin Abi Waqqosh melihat bahwa dirinya memiliki kelebihan harta daripada para sahabat lainnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

    هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخارى)

    “Bukankah kalian mendapat pertolongan dan rizki berkat adanya orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. Bukhari)

    Makna yang sama disebutkan dalam riwayat lain,

    عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ الْحَضْرَمِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الدَّرْدَاءِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : ابْغُونِى الضُّعَفَاءَ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ( رواه أبو داود)

    “Dari Jubair bin Nufair al-Hadhromy bahwasanya dia mendengar Abu Darda berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Carikanlah untukku orang-orang lemah, karena sesungguhnya kalian mendapat pertolongan dan rizki berkat adanya orang-orang lemah di antara kalian” (HR. Abu Daud)   

    Maksud dua hadits ini adalah bahwa kaum lemah itu menjadi sumber kebaikan bagi ummat. Dimana meskipun mereka lemah fisik dan harta tetapi sebenarnya keimanan dan keyakinan mereka kepada Rabb sangatlah kuat, demikian pula keterlepasan mereka dari belenggu nafsu dan godaan perhiasan dunia. Oleh karena itu, jika mereka memanjatkan doa dengan ikhlas maka Allah akan mengabulkan doa mereka. Demikian pula Allah memberi rizki kepada hamba-hambaNya disebabkan oleh mereka.

     

    Jangan pernah menyakiti orang lemah dan tidak mempedulikan mereka!!  Karena seandainya mereka bersumpah niscaya akan didengar oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ (رواه مسلم)

    “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Betapa banyak orang yang rambutnya kusut dan ditolak di setiap pintu jika mereka bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan memenuhinya” (HR. Muslim)

    Tentang Hadits ini Syaikh Utsaimin menjelaskan dengan menukil kisah tentang Anas bin An Nadhr dan Rubayyi’ binti An Nadhr. Rubayyi’ bin An Nadhr mematahkan gigi seorang budak wanita. Nabi memutuskan qishash bahwa gigi Rubayyi’ juga harus dipatahkan. Lalu, Anas memohon  kepada Nabi agar kiranya ada keringanan. Nabi menolaknya karena sudah merupakan ketentuan Allah.  Akhirnya Anas mengatakan:

    يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَتُكْسَرُ ثَنِيَّةُ الرُّبَيِّعِ لاَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لاَ تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا (رواه  البخارى)

    “Wahai Rasulullah, Apakah gigi Rubayyi’ akan dipatahkan?” Tidak, demi Dzat Yang mengutus engkau dengan hak, giginya tidak akan dipatahkan” (HR. Al-Bukhari).

     Anas sama sekali tidak menolak keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi, sumpahnya tidak lain adalah karena keyakinnya  kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan keinginannya di mana hukuman tersebut akan dibatalkan olehNya. Lalu,  benarlah apa yang diyakininya itu, Allah memberi  petunjuk kepada keluarga budak tersebut agar memaafkannya.  Akhirnya, keluarganya memaafkannya. Dan, hukuman qishash tidak jadi diberlakukan. Nabi pun bersabda:

    إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ (رواه البخارى)

    “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada orang yang kalau bersumpah,  Allah akan memenuhinya” (HR. Bukhari)

     

    Adapun tentang lemahnya wanita yang membutuhkan perlindungan dari kaum lelaki (suami atau mahramnya), kita renungkan satu fenomena saja. Ketika seorang istri dihadapkan pada suatu kepentingan, mana yang harus dia dahulukan suaminya atau istrinya?? Syareat menetapkan kepentingan suami harus dia dahulukan daripada orangtuanya. Ini artinya, orang tua dikalahkan demi suaminya.  Lalu, pantaskah seorang suami menyia-nyiakan istrinya tanpa perlindungan dan penjagaan?? Syaikh Utsaimin mengkritisi para juru dakwah yang meninggalkan istri dan keluarganya dalam waktu yang lama.  Karena hal itu akan mengabaikan kebutuhan keluarganya yang berupa perlindungan suami. Wahai para suami dan mahram! Padahal untuk kepentingan dakwah tetapi tidak dibenarkan, lalu bagaimanakah dengan orang yang menyia-nyiakan wanita demi keuntungan duniawi apalagi suatu kemaksiatan?? Semoga menjadi renungan. Allahu A’lam

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/janda-dan-kawannya-masih-banyak-2/feed/ 27
    Nggak Kerja Dapat Upah https://nidaulfithrah.com/nggak-kerja-dapat-upah/ https://nidaulfithrah.com/nggak-kerja-dapat-upah/#comments Tue, 12 Feb 2019 06:25:22 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=5611 Mungkinkah orang tidak bekerja tapi dapat upah? Tidak mungkin, karena upah itu besar ataupun kecil didapatkan setelah seseorang menyelesaikan pekerjaan. Jika ada orang tidak bekerja tapi dapat uang, maka uang itu kemungkinannnya bisa jadi merupakan pemberiaan/hadiah atau infak atau hutang. Tetapi, dalam Islam ada upah yang diberikan kepada seseorang tanpa bekerja, yaitu memberi makanan berbuka bagi orang yang puasa. Nabi ﷺ bersabda:

    عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا (رواه الترمذى)

    “Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, dia mengatakan, Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa memberi buka orang puasa maka baginya adalah pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun (pahala orang yang diberi buka)”  (HR. At-Tirmidzi)

    Penjelasan tentang hadits ini adalah bahwa jika kita memberi buka orang puasa, maka kita mendapatkan pahala 100% sebagaimana pahala orang puasa yang kita beri buka tersebut. Jika kita memberi buka kepada 10 orang dan masing-masing – misalnya  –  berpahala 70 derajat. Maka kita mendapatkan 100% (70 derajat) x 10 = 700 derajat, InsyaAllah. Lalu, bagaimana jika kita memberi buka 50, 100 atau 200 orang? Subhanallah, betapa banyak pahala yang kita dapatkan. Upayakanlah!! Seandainya kita setiap hari memberi buka 10 orang saja maka dalam sebulan totalnya 300 orang. Mudah bukan??!! Tidak ada menghalangi kita untuk menyambut “proyek ukhrowi” ini kecuali sifat bakhil yang melekat pada kita. Allah ﷻ berfirman:

    وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا () إِلَّا الْمُصَلِّينَ () الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (المعارج: 21-22)

    Dan apabila (manusia) mendapat kebaikan (harta) dia jadi bakhil. Kecuali orang-orang yang melakukan shalat. (QS. Al-Ma’arij: 21-22)

    Kita bisa bercermin dengan ayat ini, apakah shalat kita sudah benar atau belum. Shalat yang benar membebaskan seorang muslim dari sifat bakhil. Hartanya tidak  ditempatkan di hati tetapi di tangan saja. Kini, kita telah memasuki bulan Rajab, tidak lama lagi Ramadhan akan datang. Saatnya kita mendulang upah tanpa bekerja.

    Selain memberi buka orang puasa, ada hal lain yang seseorang bisa mendapatkan upah tanpa bekerja, yaitu menunjukkan orang lain kepada kebaikan. Disebutkan  dalam sebuah riwayat:

    عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم:  فَقَالَ إِنِّى أُبْدِعَ بِى فَاحْمِلْنِى فَقَالَ « مَا عِنْدِى ». فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَدُلُّهُ عَلَى مَنْ يَحْمِلُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ ».

    Dari Abu Mas’ud al-Anshari, dia berkata:  Ada seorang laki-laki bertemu Nabi ﷺ lalu berkata; “Saya orang yang kehabisan bekal, maka bawalah aku.” Beliau bersabda: “Saya tidak memiliki bekal yang cukup untuk membawamu tapi datanglah kepada fulan.” lalu dia mendatangi fulan dan dia pun membawanya lalu datang kepada Rasulullah ﷺ dan mengabarinya. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

    Hadits ini memotivasi kita untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya tanpa kita bersusah payah. Cukup dengan menunjukkan orang kepada suatu kebaikan, lalu orang tersebut melakukannya, maka kita mendapatkan pahala sama seperti pahala yang didapatkannya. Contoh: Jika Anda melihat orang berusia senja yang belum bisa membaca al-Qur’an, beritahukanlah dia tentang Rumah Qur’an YNF.  Jika dia mendatangi lembaga Qur’an tersebut dan menjadi pesertanya maka Anda- insya Allah–  akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut. Lalu, berapakah pahala yang didapatkan jika banyak orang yang menyambut ajakan ini. Subhanallah.

    Contoh lain: Jika Anda melihat mahasiswa yang aktifitasnya sepulang dari kampus hanya berhura-hura belaka, maka beritahukanlah kepadanya tentang pesantren mahasiswa Thaybah. Sebuah pesantren yang sangat kondusif untuk berprestasi di kampus dan juga sangat kondusif untuk menjadi pemuda muslim sejati dengan program-programnya yang mendukung. Jika dia lantas mendatangi pesantren tersebut dan menjadi santrinya, maka Anda- insyaAllah- mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang didapatkannya.

    Contoh lain: Ada orang yang di dalam tata cara beragamanya “pokoknya bagaimana kata mayoritas orang dan pak Ustadznya”. Padahal mereka tidak menyandarkan kepada al-Qur’an dan Hadits. Lalu Anda datang menasehatinya agar jangan tertipu dengan mayoritas suatu kaum dan popularitas pak Ustadz. Karena pengertian kebenaran adalah kesesuaian dengan al-Qur’an dan Hadits, meskipun pengikutnya cuma sedikit dan ustadznya tidak terkenal. Orang tersebut pun paham dan mau diajak ngaji yang haq dan akhirnya mengubah tata cara beragamanya. Berbahagialah Anda yang telah mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang didapatkannya. Lalu, bagaimanakah jika dia mengajak-ngajak keluarga dan kerabatnya. Subhanallah, betapa banyak pahala yang Anda dapatkan.

    Berbahagialah Anda yang telah menjadi mediator bagi orang lain sehingga mendapatkan hidayah. Nabi ﷺ bersabda:

    فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ (رواه البخارى و مسلم)

    “Demi Allah, seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui dirimu maka yang demikian itu lebih baik bagimu daripada (mendapatkan) seekor unta merah (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa unta merah ketika itu merupakan harta yang paling berharga.

     

    Ada riwayat lain yang menguatkan lagi:

    “Dari Al-Mundzir bin Jarir dari ayahnya, dia bercerita: Pada suatu siang kami pernah bersama Rasulullah ﷺ kemudian ada sekelompok kaum yang mendatangi beliau dalam keadaan telanjang dan hanya memakai kain bergaris-garis yang terbuat dari bulu dengan menggantungkan pedang di tubuh-tubuh mereka. Kebanyakan atau bahkan mereka semua berasal dari Mudhar. Ketika melihat kemiskinan yang mereka alami, wajah Rasulullah ﷺ pun berubah. Kemudian beliau masuk rumah dan setelah itu keluar lagi. Selanjutnya, beliau menyuruh Bilal mengumandangkan adzan. Maka Bilal pun mengumandangkan adzan dan iqamah. Lalu beliau mengerjakan shalat kemudian berkhutbah. Beliau membaca: Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu…dan seterusnya sampai akhir ayat. (Dan juga ayat  lainnya yang saya tidak cantumkan di terjemah ini, Pen). (Setelah itu) Ada seseorang yang mensedekahkan sebagian dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, satu sha’ gandum, dan satu sha’ kurma. Hingga akhirnya beliau bersabda: Meski hanya dengan separoh biji kurma. Lalu datanglah seorang Anshar dengan membawa satu pundi yang telapak tangannya hampir tidak mampu mengangkatnya, bahkan tidak mampu lagi. Lalu, orang-orang pun mengikutinya, sampai aku melihat dua gundukan besar yang terdiri dari makanan dan pakaian. Aku melihat wajah Rasulullah ﷺ berbinar seolah-olah bersinar. Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa memulai sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sepeninggalnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa memulai sunnah yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang orang yang mengamalkan sepeninggalnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim)

    Saya tidak pernah bosan untuk menyampaikan kepada para mahasiswa agar jangan sampai tidak berkesempatan untuk mengajar di TPQ-TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an). Mengajar santri-santri di TPQ tentu tidak saja mengajar membaca al-Qur’an melainkan juga mengajar aqidah, ibadah, muamalah dan akhlaq. Berapa santri yang Anda arahkan kepada kebaikan dan keshalihan? Sebanyak itulah pahala yang Anda dapatkan, yaitu: 100% x jumlah santri. Belum lagi yang lainnya, bahwa pahala itu akan terus mengalir ketika Anda sudah di alam barzah ( di saat Anda sudah tidak bisa beramal lagi). Inilah ilmu bermanfaat yang pahalanya tidak pernah putus.  Ditambah lagi, jika santri-santri tersebut mengajarkannya lagi kepada orang lain. Benar-benar ia merupakan multi level pahala. Allahu Akbar… Nabi ﷺbersabda:

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ (رواه الترمذي)

    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya (orang tuanya)” (HR. At-Tirmidzi)

              Seandainya Anda tidak bisa andil langsung dengan tenaga dan ilmu Anda, maka bukan berarti jalan telah tertutup, Anda bisa andil dengan apa pun yang merupakan faktor pendukung suatu “ proyek Akherat”. Anda  bisa melakukannya dengan sesuatu yang lain misalnya menyediakan sarana dan prasarananya. Kalau tidak, maka bisa dengan yang lain lagi misalnya menjadi koordinator penggalangan donasinya dan lain-lain. Nabi ﷺbersabda:

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ فَتًى مِنْ أَسْلَمَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ الْغَزْوَ وَلَيْسَ مَعِى مَا أَتَجَهَّزُ قَالَ « ائْتِ فُلاَنًا فَإِنَّهُ قَدْ كَانَ تَجَهَّزَ فَمَرِضَ ». فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ وَيَقُولُ أَعْطِنِى الَّذِى تَجَهَّزْتَ بِهِ قَالَ يَا فُلاَنَةُ أَعْطِيهِ الَّذِى تَجَهَّزْتُ بِهِ وَلاَ تَحْبِسِى عَنْهُ شَيْئًا فَوَاللَّهِ لاَ تَحْبِسِى مِنْهُ شَيْئًا فَيُبَارَكَ لَكِ فِيهِ.

    (رواه مسلم)

    “Dari Anas bahwa ada seorang pemuda dari suku Aslam berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin ikut berperang. Beliau bersabda: Datanglah kepada si fulan, karena dia telah bersiap-siap untuk berperang tetapi jatuh sakit. Maka dia pun mendatangi fulan itu seraya berkata: Sesungguhnya Rasulullah menyampaikan salam kepadamu. “Kemudian pemuda itu berkata: Berikanlah kepadaku bekal yang telah engkau persiapkan untuk perang. Maka orang itu berkata: Hai Fulanah (istriku), berikan bekal yang telah aku persiapkan itu kepadanya dan janganlah engkau menyisakan sedikitpun. Demi Allah, jangan sekali-kali engkau menyimpan sedikit pun dari bekal yang telah kupersiapkan itu, sehingga ia akan membawa berkah bagimu” (HR. Muslim)

     

     

             

     

     

     

     

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/nggak-kerja-dapat-upah/feed/ 24
    Tidak Mengabaikan Yang Terabaikan https://nidaulfithrah.com/tidak-mengabaikan-yang-terabaikan-2/ https://nidaulfithrah.com/tidak-mengabaikan-yang-terabaikan-2/#comments Wed, 08 Apr 2015 03:13:21 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=1499 Tahukan Anda pentil? Benda kecil yang tersembunyi dalam ban. Dia tidak tampak sebagai sesuatu yang bernilai bahkan terkesan sangat remeh. Tapi, apa yang terjadi jika mobil mewah tanpa keberadaannya? Bisakah mobil mewah tersebut berfungsi? Tentu tidak. Oleh karena itu, pandanglah pentil sebagai benda berharga yang tidak terlepas dari satu kesatuan bagian mobil.

    Sebagaimana pentil,  demikian pula amaliyah dalam Islam. Banyak diantaranya yang kurang diperhatikan alias terabaikan. Barangkali, karena terkesan bukan sebagai perkara besar. Padahal, harus disadari dan diyakini bahwa semua yang diajarkan Rasulullah ﷺ berasal dari Allah ﷻ. Dia ﷻ berfirman:

    وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ( ) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (النجم:3-4)

    Dan beliau tidak berbicara dari hawa nafsunya. Tetapi, ia adalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm:3-4)

    Allah ﷻ memerintahkan kita untuk mentaati apa yang Rasul ﷺtetapkan dengan disertai ancaman.

    فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (النور:63)

    Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (QS. An-Nur:63)

    Syaikh Utsaimin memaparkan dalam Syarh Riyadhush Shalihin – saya terjemahkan secara bebas – bahwa para Sahabat ketika Nabi  ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan suatu perkara, mereka tidak bertanya: Ya Rasulullah apakah ini suatu keharusan (baca: wajib) ataukah ada keleluasaan (baca: sunnah)? Tetapi, mereka langsung merespon: “sami’na wa atho’na” (kami dengar dan kami taati) dan kemudian menjalankannya. Jika hal tersebut adalah suatu keharusan maka mereka telah terbebas dari tanggungan, dan jika bukan suatu keharusan maka mereka telah mendapatkan kebaikan.  Mereka tidak bertanya tentang hukumnya sejak awal ketika diperintahkan. Mereka baru bertanya tentang hukumnya ketika merasa tidak mampu melakukannya. Sementara kaum muslimin zaman sekarang, banyak yang tampak sebagai orang males.  Setiap kali ada perintah syariat, langsung direspon dengan ungkapan  “Itu wajib atau sunnah?,  kalau wajib, kami akan melalukannya. Adapun kalau sunnah, bukankah tidak mengerjakannya tidak berdosa?”. Demikian pula ketika datang larangan syariat, “Itu haram atau makruh?, kalau sekedar makruh kan gak berdosa kalau dikerjakan?”. Semestinya kita mengikuti jejak para Sahabat, merekalah sebaik-baik ummat dalam beragama dan Allah ﷻ menyatakan mereka sebagai orang-orang yang telah diridhoi (radhiyallahu ‘anhum).

    Berikut ini merupakan contoh-contoh perintah atau larangan syariat yang seringkali kaum muslimin kurang memperhatikan:

    1. Meluruskan dan merapatkan shaf shalat. Nabi ﷺ bersabda:

    عن النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ قَالَ النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم : لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ (رواه البخارى و مسلم)

    “Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda: Hendaklah kalian meluruskan shaf kalian atau (kalau tidak) Allah ﷻ akan membuat wajah-wajah kalian saling berselisih” (HR. Bukhari dan Muslim)

     

    عن النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُسَوِّى صُفُوفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّى بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلاً بَادِيًا صَدْرُهُ مِنَ الصَّفِّ فَقَالَ : عِبَادَ اللَّهِ لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ )رواه مسلم)

    Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: “Rasulullah ﷺpernah meluruskan shaf kami seolah-olah beliau meluruskan anak panah, hingga kami benar-benar telah memahaminya. Kemudian pada suatu hari beliau keluar (ke masjid), lalu berdiri dan hampir bertakbir, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang dadanya condong ke depan, maka beliau bersabda: Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian saling berselisih” (HR. Muslim).

    Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

    أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ولا تذروا فرجات للشيطان، ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله

     

    Luruskanlah shaf-shaf, sejajarkanlah pundak dengan pundak, isilah bagian yang masih renggang, bersikap lembutlah terhadap lengan teman-teman kalian (ketika mengatur shaf), dan jangan biarkan ada celah untuk (dimasuki oleh) syaithan. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah ﷻ akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah ﷻ ﷻ akan memutuskannya(dari rahmat-Nya).” [HR Abu Daud.]
    Coba kita perhatikan masjid-masjid dan musholla-musholla yang ada di sekitar kita, niscaya kita menyaksikan shaf-shaf mereka tidak lurus dan renggang-renggang. Betapa kaum muslimin telah mengabaikan sunnah Nabi ini!!!

     

    1. Makan dan minum dengan tangan kanan.

    عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ حَدَّثَنِى إِيَاسُ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِشِمَالِهِ فَقَالَ : كُلْ بِيَمِينِكَ. قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ : لاَ اسْتَطَعْتَ. مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ (رواه مسلم)

    “Dari Ikrimah bin Ammar, Iyyas bin Salamah bin al-Akwa’ memberitahuku bahwa ayahnya memberitahukannya: Ada seseorang yang makan di sisi Rasulullah dengan tangan kirinya, maka beliau menegurnya: Makanlah dengan tangan kananmu. Dia menjawab: Aku tidak bisa. Beliau bersabda: Kamu tidak akan pernah bisa. Tidak ada yang menghalanginya menggunakan tangan kanan kecuali kesombongan. Akhirnya orang itu tidak dapat mengangkat tangannya itu ke mulutnya” (HR. Muslim)

    Perhatikanlah kejadian dalam Hadits ini, orang yang menyelisihi ajaran Nabi ﷺ langsung Allah timpakan adzab seketika itu pula. Inilah hukumannya sebagaimana Allah nyatakan dalam QS. An-Nur:63)

    Betapa masih banyak dijumpai kaum muslimin yang makan dan minum dengan tangan kiri. Lebih ironis lagi, ketika ditegur mereka bersikap seakan-akan tidak ridha untuk diingatkan.

    1. Menjilati jari-jari tangan setelah makan sebelum dibersihkan dengan tissue atau air

    عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ وَقَالَ : إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ )رواه مسلم)

    “Dari Jabir bahwa Rasulullah memerintahkan untuk menjilati jari-jari tangan dan piring seraya berkata: Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di mana letak berkah makanan itu berada” (HR. Muslim)

    Kalau ada makanan yang jatuh, Nabi memerintahkan agar dipungutnya lalu kotoran yang melekat dibersihkan lalu dimakan. Nabi bersabda:

    عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَىْءٍ مِنْ شَأْنِهِ حَتَّى يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمُ اللُّقْمَةُ فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى ثُمَّ لْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ تَكُونُ الْبَرَكَةُ )رواه مسملم)

    “Dari Jabir, ia berkata: Saya mendengar Nabi  ﷺbersabda: Sesungguhnya syetan itu selalu menyertai salah seorang di antara kalian pada setiap kesibukannya, sehingga dia menyertainya pada saat makannya. Maka jika ada makanan salah seorang di antara kalian yang jatuh, hendaklah dia membersihkannya dari kotoran tersebut dan kemudian memakannya, dan hendaklah dia tidak membiarkannya dimakan syetan”(HR. Muslim)

    Coba kita perhatikan, apakah cuma sedikit atau masih banyak kaum muslimin yang mengabaikan sunnah Nabi ini??!!

    1. Masuk masjid dengan kaki kanan dan keluarnya dengan kaki kiri, sebaliknya masuk kamar mandai/WC dengan kaki kiri dan keluarnya dengan kaki kanan.

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم  يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ (رواه البخارى)

    “Nabi lebih suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap  perkara (yang baik-baik)” (HR. Bukhari)

    Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan kaki kiri ketika masuk ke tempat buang hajat dan kaki kanan ketika keluar, maka itu memiliki alasan dari sisi bahwa Nabi ﷺ lebih suka mendahulukan yang kanan untuk hal-hal yang baik-baik. Sedangkan untuk hal-hal yang jelek (kotor), beliau lebih suka mendahulukan yang kiri. Hal ini berdasarkan dalil yang sifatnya global.”

    1. Membaca dzikir/doa harian

    Dari mulai bangun tidur (pagi) sampai tidur lagi (malam), Nabi ﷺ mengajarkan dzikir/doa harian. Kita harus mempelajarinya. Dani inilah termasuk ajaran Islam yang terabaikan. Lafadz-lafadz dzikir dan doanya bisa dilihat pada buku “Hishnul Muslim” karya Dr. Sa’id bin Wahf Al-Qahthani. Jika kita tidak hapal, paling tidak dengan membaca dari buku dzikir/doa harian tersebut.

     

    Itulah diantara sunnah-sunnah Nabi yang sering sekali terabaikan. Semoga kita mendapatkan taufiq dari Allah sehingga berkemampuan mengamalkan apa saja yang merupakan sunnah Nabi secara maksimal. Amin

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/tidak-mengabaikan-yang-terabaikan-2/feed/ 29
    Masak Kalah Sama Pemuda Beruban? https://nidaulfithrah.com/masak-kalah-sama-pemuda-beruban-2/ https://nidaulfithrah.com/masak-kalah-sama-pemuda-beruban-2/#comments Wed, 11 Mar 2015 04:22:07 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=907 Pemuda itu identik dengan kuat, enerjik, kebebasan emosional, pencarian jati diri, ingin menampakkan diri, ingin diakui eksistensinya, gejolak syahwatnya tinggi, yang semuanya merupakn dampak dari kejiwaan yang belum matang alias labil. Jika seorang pemuda yang “terjerat” dengan kondisi demikian bisa membebaskan diri untuk bisa menjalankan amalan-amalan ubudiyah sebaik-baiknya, niscaya dia termasuk orang yang diistimewakan oleh Allah Azza wa jalla. Dia ‘azza wa jalla akan memasukkannya ke dalam 7 golongan yang mendapatkan naungan-Nya kelak di hari Kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Ada 7 golongan yang Allah naungi mereka dalam naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dengan peribadahan kepada-Nya, seseorang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak wanita berkedudukan dan berparas cantik tetapi dia (menolak) dengan mengatakan ‘saya takut kepada Allah’, seseorang yang bersodaqoh sembunyisembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendirian lalu berlinang kedua matanya. (HR. Al-Bukhari)

    Kalau kita lihat sejarah, banyak pemuda yang tumbuh dengan bentuk ketaatan- ketaatan kepada Allah. Di antaranya: Muadz bin Jabal dalam usianya yang masih belasan tahun, tetapi selalu
    menghadiri majlisnya Nabi shallallahu ‘alaini wa sallam, hingga suatu ketikadisebutkan dalam riwayat Imam Ahmad beliau
    mengatakan kepadanya: “Ya Mu’adz, sungguh aku sangat mencintaimu (karena Allah)”. Mu’adz menjawab: “Ya Rasulullah, dan demi Allah, saya mencintaimu (karena Allah) juga”. Lalu beliau berpesan kepadanya: “Aku wasiatkan kepadamu beberapa kalimat untuk kamu baca setiap selesai shalat, yaitu: Ya Allah tolonglah aku untuk senantiasa berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu sebaik-baiknya.”

    Bahkan dalam usia yang masih relatif sangat muda tersebut, dia dipercaya menjadi imam bagi kaumnya. Pemuda lainnya adalah Usamah bin Zaid, ia dipercaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    sallam untuk menjadi panglima perang, padahal usianya baru 17 atau 18 tahun.

    Pemuda lainnya adalah Ali bin Abu Tholib, betapa nilai-nilai perjuangan telah tertanam dalam jiwanya, sehingga dia pun percaya diri menempati tempat tidur Nabi ketika beliau dikepung, padahal taruhannya adalah nyawa. Pemuda lainnya adalah Ibnu Abbas, perhatiannya kepada ibadah sangatlah tinggi. Ketika dia ingin mengetahui bagaimana tatacara tahajjud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyempatkan diri bermalam di rumah istri beliau yaitu Maimunah yang tidak lain adalah bibinya sendiri. Ketika itulah dia belajar sebaik-baiknya kepada beliau tentang tahajjud, padahal usianya masih 13 tahun. Pemuda lainnya adalah Amr bin Salamah bahkan masih tergolong anakaanak, 6 atau 7 tahun, ia telah menghapal banyak surat-surat Al-Qur’an. Dalam suatu perjalanan bersama rombongan para Sahabat, dia lah yang ditunjuk sebagai imam shalat. Padahal mereka Para Sahabat senior. Itulah sebagian kecil contoh para Sahabat yang tumbuh dengan ketaatan sejak masih muda bahkan masih kecil.

    Pada generasi-generasi berikutnya juga sangat banyak, di antaranya
    Imam An-Nawawi. Ia mulai menghapal al-Qur’an dan mengkaji beberapa kitabkitab ketika berusia 10 tahun. Bahkan ia lari ketika diajak bermain oleh teman-teman sebayanya. Ia lebih menikmati membaca al-Qur’an daripada bermain. Sebut juga, Imam Asy-Syafi’i. Ia telah menghapal Al-Qur’an ketika berusia 10 tahun. Dan
    masih banyak lagi yang lainnya yang tidak mungkin disebutkan semuanya di rubrik ini. Pada zaman sekarang ini tahun 2014, betapa dunia digemparkan dengan hadirnya sosok bocah berusia 6 tahun yang telah menghapal al-Qur’an. Dia adalah Musa bin La Ode Abu Hanifah dari Bangka Indonesia. Subhanallah.

    Mereka adalah para pemuda yang “tersandra” oleh kejiwaan yang tidak matang alias labil bahkan mereka adalah anak-anak yang “tersandra” dengan dunia bermain. Namun, mereka telah menorehkan sejarah dengan tinta emas.Padahalah fokus dengan amalan-amalan ubudiyah, secara sunnatullah-nya bisa dilakukan oleh orang-orang tua atau orangorang yang telah beruban. Karena secara kondisi kejiwaan sangat kondusif untuk itu. Tetapi, mereka para pemuda bahkan anakanak bisa melakukannya. Subhanallah.

    Inilah yang dimaksud dengan pemuda beruban. Semoga mereka termasuk dalam Hadits 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah, (pemuda yang tumbuh dengan peribadahan kepada-Nya).

    Lalu, bagaimana dengan kita yang sudah berusia senja? Ada di antara kita yang belum bertaubat. Mereka gemar ke dukun-dukun dan paranormal. Padahal mereka sadar bahwa syirik adalah dosa
    yang tidak pernah Allah ampuni. Hukum syirik kecil adalah dosa besar. Hukum syirik besar adalah terancam batal Islamnya alias murtad. Mereka lalai, shalatnya masih bolong-bolong. Mereka tidak peduli halal dan haram, padahal mereka tahu adzab Allah sangatlah pedih. Sudah bau tanah (maaf, meminjam istilah daerah saya.
    Maksudnya sudah tua yang berarti masa kematiannya sudah dekat) tapi tidak sadar kalau dirinya belum bisa membaca al-Qur’an.Tidak bisakah mengalahkan para pemuda beruban. Jika tidak, minimal
    menyamai mereka atau tidak terlalu jauh tertinggal dari mereka.

    Jika ada yang mengatakan, jangan samakan kami dengan mereka dong!!! Mereka kan para Sahabat dan para ulama. Baiklah, Anda benar. Tidak mungkin kita disamakan dengan mereka. Tetapi,
    lihatlah Musa (6 tahun), dia anak yang hidup zaman sekarang, tahun 2014. Bukan zaman Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in, dan
    bukan zaman imam empat madzahab. Lihat juga para mahasiswa dari berbagai kampus dan yang sebaya dengan mereka, betapa banyak di antara mereka yang mampu berbuat amalan-amalan ubudiyah bak mereka yang telah lanjut usia. Betapa mereka semangat mempelajari ilmu dan mengamalkannya, meramaikan
    masjid-masjid dengan kajian-kajian ilmu dan mengadakan majlis-majlis taklim di berbagai tempat. Tidakkah kita sadar dengan
    peringatan Allah, “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir,padahal telah datang kepadamu an-nadzir” (QS. Faathir:37)

    Syaikh Utsaimin, menukil dari Ibnu Abbas, menjelaskan: “memanjangkan umurmu” maksudnya 60 tahun. penduduk Madinah ketika umurnya 40 tahun mereka menfokuskan diri dengan ibadah. Kemudian tentang “an-nadzir” dalam ayat di atas menurut Ibnu Abbas adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut Ikrimah dan Ibnu Uyainah adalah uban (rambut yang memutih). Tentang usia 40 tahun, Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

    “Hingga ketika seseorang telah dewasa dan usianya mencapai 40 tahun dia berdoa: Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim” (QS. Al-
    Ahqof:15).

    Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dan beberapa tafsir lainnya penjelasan tentang ayat ini, di antaranya adalah yang ringkasnya berikut ini bahwa ayat ini memberikan petunjuk kepada kita
    agar kalau usia sudah 40 tahun untuk memperbarui taubat dan inabah kepada Allah ‘Azza wa jalla dan untuk bersungguhsungguh
    di dalam yang demikian itu. Dia harus menyadari akan nikmat besar dari Allah yaitu nikmat taufiq sehingga bisa berbuat ketaatan kepadanya, oleh karena itu dia memohon agar bisa mensyukurinya
    sehingga tidak kufur nikmat. Dia juga memohon agar hal ini terus berlangsung pada keluarga dan keturunannya.

    bi ash-shawab) jika yang dimaksud dalam surat Fathir: 37, “an-nadzir” adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka maksudnya
    adalah masa 40 tahun atau 60 tahun adalah tenggat waktu yang cukup untuk meniti jalan hidayah. Karena selain dikarunia pendengaran, penglihatan, lisan dan disempurnakan dengan akal yang semuanya merupakan sarana mendapatkan
    hidayah, Allah juga utus seorang Rasul kepada mereka yang menyampaikan seluruh petunjuk yang dibutuhkan secara sempurna
    dan sangat gamblang. Jika yang dimaksud “an-nadzir” adalah uban, maka itu adalah peringatan bagi kita agar kita segera sadar bahwa kematian sudah semakin dekat dan kesempatan untuk memperbaiki
    amalan semakin sedikit. Disebutkan dalam Hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah telah memberi kesempatan kepada seseorang dengan memanjangkan usianya hingga 60 tahun (HR. Al-Bukhari)

    Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa orang yang telah lanjut usia wajib bersemangat mengejar kebajikan-kebajikan, memperbanyak ketaatan-ketaatan, memperbaiki amalan-amalan terlebih perkara-perkara yang wajib dan memperbanyak istighfar, tasbih dan tahmid. Ketika turun surat An-Nashr: 1-3: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan Engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya, Sungguh Dia Maha Penerima Taubat”.

    Tentang ayat ini, Ibnu Abbas menjelaskan “apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan” berarti Nabi shallallahu ‘alaihi
    wa sallam telah menunaikan tugas yang diembankan kepadanya atau tugas telah selesai. Ini berarti telah dekatnya ajal beliau. Oleh karena itu beliau diperintahkan untuk menghabiskan umur dengan banyak istighfar, tasbih dan tahmid. Dalam riwayat Al-Bukhari, Aisyah berkata: “ Ketika surat ini turun, beliau memperbanyak di dalam ruku’ dan sujudnyanya:
    “Mahasuci Engkau, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku”

    Sungguh mengagumkan, orangorang yang telah lanjut usia; pensiunan atau purnawirawan yang pernah saya jumpai di berbagai tempat. Sebelumnya mereka tidak mempedulikan shalat berjama’ah, kini tidaklah mereka shalat kecuali berjama’ah bahkan sering kali di shaff terdepan. Mereka banyak yang belum
    bisa membaca Al-Qur’an, tetapi kini mereka semangat belajar membaca. Banyak di antara mereka yang belum tahu tentang
    permasalahan-permasalahan agama, kini mereka semangat menghadiri majlis taklim. Ada di antara mereka yang menetap di
    masjid seusai shalat Shubuh, dan baru keluar setelah shalat dhuha. Karena mereka tahu betapa pahalanya menyamai pahala haji dan umrah. Bahkan di antara mereka ada yang sehabis shalat Ashar hari Jum’at tidak beranjak dari masjid, mereka terus berdzikir dan berdoa hingga datangnya waktu Maghrib. Karena mereka tahu bahwa di waktu itu ada sesaat waktu yang kalau orang berdoa di dalamnya niscaya dikabulkan oleh Allah. Marilah kita yang telah
    lanjut usia menyusul mereka. Tidakkah kita ingin akhir hayat kita khusnul khotimah?! Waffaqanallahu wa iyyakum jami’an. Allahu
    A’lam

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/masak-kalah-sama-pemuda-beruban-2/feed/ 32
    Ke IRAQ Jalan Kaki https://nidaulfithrah.com/ke-iraq-jalan-kaki-2/ https://nidaulfithrah.com/ke-iraq-jalan-kaki-2/#comments Tue, 10 Mar 2015 12:08:36 +0000 http://nidaulfithrah.com/?p=902 Imam Adz-Dzahabi berkata, “Imam Baqi bin Mikhlad Al-Andalusi
    berangkat dengan berjalan kaki dari Andalusia (sekarang Spanyol) menuju Baghdad pada tahun 221 H untuk menemui Imam Ahmad & belajar dari beliau. Imam Baqi berkata, ‘Ketika mendekati Baghdad, saya mendapat informasi mengenai mihnah (ujian) yang dihadapi Imam Ahmad (fitnah pendapat bahwa Alquran adalah makhluk). Saya menyadari Imam Ahmad dilarang mengumpulkan orang & mengajari mereka. Hal itu mambuat saya sedih berkepanjangan. Setelah sampai di Baghdad, saya menaruh barang-barang saya di sebuah kamar & langsung menuju Masjid Al-Jami’ untuk mendengarkan kajian. Kemudian saya keluar mencari rumah Imam Ahmad & ditunjukkanlah tempatnya. Saya mengetuk pintu rumah itu & beliau sendiri yang membuka pintu.

    Saya berkata      : ‘Wahai Abu Abdullah, saya seorang yang rumahnya jauh, pencari Hadits dan penulis sunnah. Saya tak datang ke sini kecuali untuk itu.’
    Beliau berkata   : ‘Dari mana Anda?’
    Saya menjawab : ‘Dari Maghrib Al-Aqsa`’
    Beliau berkata   : ‘Dari Afrika?’
    Saya menjawab : ‘Lebih jauh dari itu, saya melewati laut dari negeri saya ke Afrika.’
    Imam Ahmad berkata : ‘Negara asalmu sangat jauh. Tidak ada yang lebih saya senangi melebihi pemenuhanku atas keinginan Anda, saya akan ajari apa yang Anda inginkan, tapi saat ini saya sedang difitnah dan dilarang mengajar.’
    Saya berkata kepadanya : ‘Saya sudah tahu hal itu, wahai Abu Abdillah. Saya tak dikenal orang di daerah sini, dan asing di tempat ini. Jika Anda mengizinkan, saya akan mendatangi Anda setiap hari dengan memakai pakaian seorang pengemis, kemudian berdiri di pintu Anda berpura-pura meminta sedekah dan bantuan. Anda keluar, wahai Abu Abdillah lalu memasukkan saya lewat pintu ini. Lalu ajarkan kepada saya, walaupun satu Hadits Rasul.’
    Beliau berkata kepadaku : ‘Saya sanggup dengan syarat Anda jangan datang ke tempat-tempat kajian dan ulama-ulama Hadits, agar mereka tak mengenal Anda sebagai seorang penuntut ilmu.’
    Saya menjawab : ‘Saya terima persyaratan itu.”
    Baqi berkata : ‘Setiap hari saya mengambil tongkat, membalut kepala saya dgn sobekan kain, & memasukkan kertas serta alat tulis saya di dalam kantung baju saya, kemudian saya mendatangi rumah
    Imam Ahmad.
    Saya berdiri di depan pintunya dan berkata: ‘Bersedekahlah kepada seorang yang miskin agar mendapat pahala dari Allah.’ Imam Ahmad keluar menemui saya dan memasukkan saya lewat pintunya. Kemudian beliau mengajari saya dua atau tiga Hadits Rasululllah,
    bahkan lebih dari itu, hingga saya memiliki sekitar tiga ratus Hadits. Setelah itu, Allah mengangkat kesulitan yang ada pada Imam Ahmad; Khalifah Al-Makmun yang mengajak kepada perbuatan bid’ah meninggal dunia digantikan oleh Al-Mutawakkil, seseorang yang membela sunnah. Imam Ahmad menjadi terkenal dan kedudukan beliau semakin tinggi. Setelah itu, setiap saya mendatangi Imam Ahmad di kajian beliau yang besar dan murid-muridnya yang banyak, beliau melapangkan tempat buat saya dan menyuruh saya mendekat kepada beliau dan berkata kepada ahli-ahli Hadits yang ada di samping beliau: ‘Inilah orang yang berhak dinamakan penuntut ilmu.’ Kemudian beliau menceritakan kisahnya yang terjadi bersama saya.’” (Imam Adz-Dzahabi,
    Siyar A’lamin Nubala’, 13:292)

    Subhanallah… dari Spanyol ke Irak jalan kaki?!! Apa yang membuat Abdul Baqi’ bisa melakukan demikian? Tidak lain, adalah ‘sungguh-sungguh’. Pepatah Arab bilang ‘Man jadda wajada’ (siapa yang bersungguhsungguh pasti dapat). Pepatah ini selaras dengan janji Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an: “Dan orang-orang yang bersungguhsungguh (mencari keridhoan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orangorang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut:69).

    Lihatlah Allah ‘Azza wa jalla tidak menyebutkan ‘jalan’ (singular) tetapi ‘jalanjalan’ (plural). Ini tentu kabar gembira bagi kita. Asal kita bersungguh-sungguh, maka Allah akan membentangkan jalan yang banyak yang hanya Dia saja yang tahu.

    Seringsekali murid/santri kurang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Dia datang ke majlis taklim hanya dengan sisa waktu yang ada, tidak mengalokasikan waktu dari awal. Tetapi sesempatnya saja. Ada juga yang tidak mencatat, padahal ilmu yang dipelajari tersebut harus dicatat untuk diulang-ulang sehingga paham dan tidak salah praktek. Seorang murid/santri baru dikatakan sungguh-sungguh kalau memenuhi beberapa perkara, di antaranya: Rasa ingin tahunya kuat, siap bondo (kitab, pulpen, alat peraga, bensin untuk transportnya, sangu untuk bekal di jalannya dan lain-lain) yang mendukung proses belajar kecuali kalau bener-bener tidak punya duit untuk mewujudkannya, senang bergaul dengan para Ustadz sehingga lebih banyak mendapatkan penjelasan dan siap menekuninya meskipun dengan waktu yang lama.

    Orang dikatakan sungguh-sungguh dalam menjalankan shalat jika memenuhi beberapa perkara, di antaranya: segera mengambil wudhu ketika akan/sudah dikumandangkan adzan (kalau masih
    berbau keringat, dia menghilangkan terlibih dahulu), memakai wewangian (kalau bisa selalu bersiwak), berlomba-lomba untuk
    mendapatkan shaf pertama (bagi lelaki), menguasai kosa kata bacaan shalat dari takbir hingga salam (kalau ada kosa kata yang belum dipahami dia gelisah hingga berusaha untuk memahami maksudnya), berupaya keras menghadirkan hati sehingga betul-betul mengikuti setiap apa yang diucapkan oleh lisan.

    Tentu tidak saja dalam masalah menuntut ilmu dan mengerjakan shalat, tetapi dalam segala bentuk ketaatan dan kebaikan kita harus bersungguh-sungguh. Ketika seseorang bersungguh-sungguh di
    dalam perkara-perkara yang wajib, niscaya akan terdorong untuk meningkatnya dengan mengejar perkara-perkara yang sunnah. Jika dia tetap bersungguh-sungguh dan bersemangat di dalam yang demikian itu maka dia akan menjadi wali Allah yang segala gerak-gerak anggota badannya dalam bimbingan Allah ‘Azza wa jalla. Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Barangsiapa memusuhi wali (orang kecintaan) Ku, maka Aku nyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku
    cintai daripada yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan selama hamba-Ku masih terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan hal-hal sunnah sehingga Aku mencintanya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia pergunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang dia pergunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang dia pergunakan untuk memukul, sebagai kakinya yang dia pergunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya, dan jika memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya” (HR. Al-Bukhari)

    Untuk bersungguh-sungguh di dalam semua kebajikan tentu tidak lepas dari rintangan, baik internal maupun eksternal. Kendala internal berupa hawa nafsu yang ada pada jiwa seseorang, eksternal berupa syetan-syetan yang terus menyerang. Oleh karena itu seseorang harus kuat tidak boleh melemah. Tidak lain, dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersungguh-sungguhlah untuk mengerjakan apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah bantuan kepada Allah ‘Azza wa jalla dan janganlah kamu melemah” (HR. Muslim)

    Di antaranya doanya adalah: “Ya Allah, tolonglah aku untuk  berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu sebaik-baiknya” (HR.Hakim)

    Dengan pertolongan Allah ini, seseorang pasti bisa kuat dan bersungguh-sungguh sehingga dia bisa fokus di dalam mengerjakan kebaikan apa saja yang sedang dihadapinya. Dia tidak akan lemah yang akhirnya bergesar ke hal lain. Jangankan bergeser ke hal lain yang merupakan kemungkaran, pasti tidak akan terjadi. Karena bergeser ke hal lain yang masih katagori kebajikan saja berarti lemah dan tidak sungguh-sungguh. Syaikh Utsaimin menjelaskan dengan memberikan contoh; Sebagian pelajar/santri ingin melihat suatu masalah dan jawabannya pada sebuah kitab. Dia pun mulai membuka kitab tersebut, tetapi dia tidak fokus langsung ke masalah
    yang sejak awal dia ingin mengetahuinya. Setiap kali menjumpai masalah yang lain, dia berhenti di situ membacanya dan menelaahnya, lalu membuka lembaranlembaran berikutnya dia pun menjumpai masalah yang lain lagi, dia berhenti di situ membaca dan menelaahnya dan begitu seterusnya. Semestinya dia langsung fokus menuju permasalahan yang dari awal ingin diketahuinya, kesampingkan dulu masalah-masalah lainnya. Ini baru namanya sungguh-sungguh dan tidak lemah.

    Penjelasan Syaikh Utsaimin di atas untuk lebih jelasnya saya ambil contoh sebagai berikut: Seorang santri ingin mengetahui masalah fiqh tentang sujud sahwi. Dia pun mulai membuka kitab fiqh. Ketika menjumpai bab tentang puasa sunnah, dia berhenti di situ membaca dan menelaahnya. Lalu membuka halaman halaman berikutnya dia menjumpai bab tentang tato, dia berhenti di situ membaca dan menelaahnya, dan begitu seterusnya dia menelaah permasalahan-permasalahan lainnya. Semestinya dia langsung menuju ke bab tentang sujud sahwi, yang dari awal ingin diketahuinya, setelah itu baru ke babbab lainnya. Kalau tidak demikian berarti lemah dan tidak sungguh-sungguh.

    Kalau kita perhatikan bukankah beralih dari mengkaji bab sujud sahwi ke bab puasa sunnah lalu beralih lagi ke bab tentang tato masih katagori kebaikan, yang tidak lain adalah thalabul ilmi? Namun, Syaikh Utsaimin menyatakan hal tersebut sebagai kelemahan dan tidak sungguhsungguh. Lalu, bagaimana kiranya dengan orang yang dari rumah berangkat menuju majlis taklim tetapi di tengah jalan melihat kawan-kawannya main futsal, dia pun
    ikut gabung dan tidak jadi melanjutkan ke majlis taklim? (beralih ke perkara mubah). Ini adalah bentuk kelemahan dan tidak sungguh-sungguh. Lalu, bagaimana dengan orang yang sudah berwudhu untuk shalat sunnah lalu tidak jadi melakukannya karena takut terlambat nonton sepak bola wanita? (beralih ke perkara maksiat). Jelas, ini sangat lemah dan jauh dari kesungguhan.

    Lihatlah betapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang kuat dan bersungguh-sungguh dalam suatu kebajikan. Disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari, suatu ketika ‘Utban bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengundang beliau: “Ya Rasulullah, saya menginginkan engkau datang lalu shalat di rumahku. Tempat yang di situ engkau shalat, nanti aku akan menjadikannya sebagai mushalla di rumahku. Beliau pun memenuhi undangannya. Beliau berangkat bersama beberapa orang Sahabat. Ketika sampai di rumah ‘Utban bin Malik, ternyata dia telah menyuguhkan hidangan makanan. Dia pun mempersilahkan beliau dan para Sahabat agar menikmati hidangan yang telah dipersiapkan tersebut. Beliau menolaknya,
    dan bersabda: Di mana tempat yang kamu ingin agar saya shalat di situ? Setelah ditunjukkan, beliau pun shalat. Setelah selesai, baru beliau menikmati hidangan. Beliau fokus kepada suatu aktivitas yang telah direncanakan, tidak beralih ke aktivitas lain sehingga yang merupkan tujuan awal diselesaikan terlebih dahulu.

    Selain meminta tolong kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kita harus mencari suatu motivasi yang mendorong kita untuk bersungguh-sungguh. Misalnya: motivasi bermajlis taklim adalah ia merupakan jalan pintas menuju Surga. Motivasi berinfak adalah mengejar keberkahan harta dan kesadaran akan jaminan bahwa harta yang
    diinfakkan tidak akan menjadikannya miskin bahkan Allah akan menggantikannya berlipat ganda di dunia atau di Akherat dan contohcontoh lainnya. Motivasi-motivasi tersebut harus benar-benar dicamkan dalam hati. Sebagaimana Anas bin An-Nadhr (paman Anas bin Malik). Dia memotivasi diri dengan berjanji untuk sungguh-sungguh berjihad jika dikehendaki-Nya terlibat dalam suatu peperangan. Disebutkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim: Dari Anas, dia bercerita, pamanku, Anas bin An-Nadhr tidak ikut
    dalam perang Badar, lalu dia berkata: Ya Rasulullah, aku tidak bisa mengikuti awal peperangan di saat engkau memerangi orang-orang musyrik. Seandainya Allah mentakdirkan diriku untuk bisa mengikuti peperangan melawan orang-orang musyrik, niscaya Dia ‘Azza wa Jalla benar-benar akan memperlihatkan apa yang akan aku
    perbuat. Dan ketika perang Uhud terjadi, di mana banyak kaum muslimin yang melarikan diri, dia (Anas bin An-Nadhr) berkata: Ya Allah, aku memohon maaf kepada-Mu atas apa yang telah diperbuat oleh mereka – yakni para Sahabatnya, dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu. Kemudian dia maju dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz seraya berkata: Wahai Sa’ad bin Mu’adz, demi Rabb-nya An-
    Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau Surga di dekat Uhud. Sa’ad
    pun berucap: Ya Rasulullah, aku tidak mampu berbuat seperti apa
    yang telah diperbuatnya. Anas bin Malik berkata (setelah perang usai): kami menemukan pada dirinya (Anas bin An-Nadhr) lebih dari 80 luka-luka akibat tebasan pedang, atau tikaman tombak dan tusukan panah. Dan kami mendapatkannya sudah dibunuh dan dicincang oleh orang-orang musyrik sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengenalnya, kecuali saudara perempuannya yaitu dengan mengamati jari-jemarinya. Kemudian Anas bin Malik melanjutkan ceritanya: Kami berpendapat atau menyangka bahwa ayat yang berikut ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut dan orang-orang yang senasib dengannya. ‘Di antara orang-orang mukmin itu terdapat orang-orang yang menepati terhadap apa yang mereka janjikan kepada Allah’ (QS. Al-Ahzab:23)

    Semoga Allah ‘Azza wa jalla menolong kita semua sehingga
    bisa bersungguh-sungguh dalam setiap kebajikan yang kita jalani. Allah A’lam

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/ke-iraq-jalan-kaki-2/feed/ 21