Tafsir Al Qur’an – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Fri, 22 Sep 2023 08:32:24 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Tafsir Al Qur’an – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Yang Berlari Kencang https://nidaulfithrah.com/yang-berlari-kencang/ https://nidaulfithrah.com/yang-berlari-kencang/#comments Thu, 21 Sep 2023 08:33:33 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17911 Allah ta’ala ketika menciptakan manusia, langsung memberi kepada manusia sifat-sifat dasar manusia. Ada diantara sifat dasar manusia itu yang baik dan ada juga yang buruk. Diantara sifat dasar manusia yang buruk adalah:

  1. Manusia memiliki sifat tergesa-gesa. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah ayat:

وَيَدْعُ الإنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا

“Dan manusia berdo’a untuk kejahatan sebagaimana ia berdo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. (QS. Al Isra’ ayat: 11)

Sering sekali manusia mendoakan kejelekan layaknya ia menjelekkan kebaikan kepada orang lain. Contoh seorang ibu mendo’akan anaknya ‘kualat’ dikarenakan kenakalan yang dibuat anaknya. Sering sekali manusia berbuat sesuatu tanpa ada pikir yang panjang yang akhirnya membuat dirinya atau orang lain celaka.

2. Manusia juga memiliki sifat suka membantah. Seperti yang Allah ta’ala ceritakan di dalam Al Qur’an:

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ

“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata”. (QS. An Nahl ayat: 4)

Mani adalah sesuatu yang hina, dan manusia diciptakan darinya. Namun manusia menjadi orang yang suka membantah. Contoh banyak wanita yang enggan menggunakan jilbab dengan berbagai macam alasan, diantaranya kepanasan. Atau yang lain sudah memakai kerudung namun dimodifikasi. Jilbab secara asal fungsinya ialah menutup aurat dan meminimalisir ketertarikan lawan jenis. Karena memiliki sifat membantah, maka syari’at pun mau dibantah olehnya.

3. Diantara sifat dasar manusia yang buruk ialah pelit.

Allah ta’ala berkata:

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإِنْفَاقِ وَكَانَ الإِنْسَانُ قَتُورًا

“Katakanlah, ‘Kalau seandainya kalian menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kalian tahan, karena takut membelanjakannya (berkurang)’. Dan adalah manusia itu sangat kikir”. (QS. Al Isra’ ayat 100)

Disinilah perbedaan sifat manusia dengan Allah ta’ala. Allah ta’ala menyuruh kita meminta kepada-Nya dan Dia senang apabila Dia diminta oleh manusia yang telah Dia ciptakan. Berbeda dengan manusia merasa tidak senang ketika diminta.

4. Diantara sifat dasar buruk manusia adalah suka berkeluh kesah.

Allah ta’ala berfirman:

 إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١)

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir”. (QS. Al Ma’arij ayat 19-21)

5. Manusia juga senang ingkar kepada Allah ta’ala. Sudah diberikan kepadanya banyak nikmat, namun banyak manusia tidak mau beribadah kepada-Nya.

Allah ta’ala berkata:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar”. (QS. Al ‘Adiyat ayat: 6)

Sebagai manusia apakah dia akan pasrah kepada ayat-ayat di atas? Lalu ia menjadi orang yang ingkar, pelit, tergesa-gesa? Jawabannya adalah manusia tidak boleh menyerah akan hal ini semua, kenapa?

a. Karena manusia memiliki fitrah (Kecenderungan untuk memilih yang bagus). Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ

“Setiap anak yang terlahir, maka dalam keadaan fithrah”. (HR. Syu’aib Al Arnauth no: 10241)

b. Kita sudah dibantu Allah ta’ala untuk melawan sifat buruk tersebut. Diantaranya dengan diutusnya para rasul. Allah ta’ala berkata:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At Taubah ayat 128)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perumpamaan diriku dan perumpamaan kalian, bagaikan seorang yang menyalakan api. Lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu,sedangkan ia selalu mengusir (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Demikian pula aku. Memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian dari Neraka, namun kalian (ingin) melepaskan diri dari tanganku”.  (HR Muslim)

c. Manusia diberikan akal oleh Allah ta’ala. Inilah letak perbedaan manusia dengan binatang. Hewan diberikan otak namun mereka tidak bisa berpikir. Jikalau kita melihat induk ayam melindungi anaknya itu adalah insting bukan akal. Allah ta’ala berkata:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al ‘Araf ayat: 11)

d. Karena kita dikaruniai Allah ta’ala pembisik (malaikat) untuk melakukan kebaikan. Semua manusia ketika terlahir dibekali teman yaitu jin dan malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما منكم مِن أحدٍ إلا وقد وُكِّلَ به قرينُه من الجنِّ وقرينُه من الملائكةِ قالوا : وإيَّاك يا رسولَ اللهِ قال : وإيَّايَ لكنَّ اللهَ أعانني عليه فأسلمَ فلا يأمرُني إلا بخيرٍ

“Tidaklah salah seorang diantara kalian lahir, melainkan sudah ditetapkan memiliki teman dari jin (setan) dan juga malaikat. Para sahabat berkata: Apakah engkau juga ya Rasulullah? Begitu juga aku, akan tetapi Allah membantuku untuknya akhirnya dia masuk Islam dan tidak memerintahkanku kecuali yag baik”.

5. Kita sudah dijanjikan oleh Allah dengan pahala.

Surat Al ‘Adiyat memiliki dua nama:

  1. Surat Al ‘Adiyat

2. Surat Wal ‘Adiyat

Tidak ada sebab khusus yang menceritakan tentang mengapa surat Al ‘Adiyat turun. Surat Al ‘Adiyat adalah surat Makiyyah dan ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhum. Sedangkan ulama’ lain dari sahabat diantaranya Ibnu ‘Abbas dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhum mengatakan surat ini ialah surat Madaniyyah. Begitu juga keutamannya surat Al ‘Adiyat tidak ada keutamaannya, namun dia termasuk surat Al Mufashshal

  • Al Mufashshal ada yang mengatakan bahwa awalnya dari surat Qaaf, ada yang mengatakan awalnya surat al-Hujurat, dan ada pendapat-pendapat yang lain. Macamnya ada tiga, Thiwaal al-Mufashshal, Ausaath al-Mufashshal, dan Qishaar al-Mufashshal. Dinamakan dengan surat Al-Mufashal karena banyaknya pemisah antara satu surat dengan surat yang lain dengan kalimat Basmalah. Thiwaal al-Mufashshal dimulai dari surat Qaaf atau dari surat al-Hujurat sampai surat an-Naba’ atau sampai surat al-Buruuj. Ausaath al-Mufashshal, dari surat an-Naba’ atau dari surat al-Buruuj sampai surat adh-Dhuhaa atau sampai surat al-Bayyinah. Qishaar al-Mufashshal dari surat adh-Dhuhaa atau dari surat al-Bayyinah sampai akhir al-Qur’an, sesuai dengan perbedaan pendapat dalam masalah ini.

Secara Global, tafsir surat Al ‘Adiyat berbicara tentang tiga hal:

  1. Ayat ke 1 – ke 5 berbicara tentang kuda yang dipakai berperang di jalan Allah ta’ala. Lalu di dalam ayat-ayat tersebut Allah ta’ala bersumpah dengan kuda. Hal ini menandakan kuda itu memiliki kedudukan di dalam kehidupan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبَرَكَةُ فِي نَوَاصِي الْخَيْلِ

“Keberkahan itu ada pada ubun-ubun kuda”. (HR. Al Bukhari no: 2851 dan Muslim no: 1874)

Kata Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullahu berkata:

فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى تَفْضِيل الْخَيْل عَلَى غَيْرِهَا مِنْ اَلدَّوَابِّ لِأَنَّهُ لَمْ يَأْتِ عَنْهُ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَيْءٍ غَيْرِهَا مِثْلَ هَذَا الْقَوْلِ

“Dalam hadits ini terdapat isyarat terhadap pengutamaan kuda atas hewan-hewan yang lain, karena tidak ada perkataan dari beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedikitpun semisal perkataan ini sedikitpun selain dari kuda”. (Fathul Bari 6/56)

Begitu juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ عُرْوَة الْبَارِقِيُّ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ الْأَجْرُ وَالْمَغْنَمُ

 “Kebaikan terikat pada ubun-ubun kuda hingga hari kiamat, yaitu : adanya pahala (kelak di akhirat) dan ghaniimah (harta rampasan perang)” (HR. Al Bukhari no: 2850 dan Muslim no: 1873)

Lalu juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنِ احْتَبَسَ فَرَسًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِيمَانًا بِاللَّهِ، وَتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِ فَإِنَّ شِبَعَهُ وَرِيَّهُ، وَرَوْثَهُ، وَبَوْلَهُ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang menahan seekor kuda di jalan Allah dengan keimanan dan membenarkan janji-Nya, maka kenyangnya kuda itu, kotorannya, dan air kencingnya akan ada di dalam timbangan (miizaan) kebaikannya kelak di hari kiamat”. (HR. Al Bukhari no: 2853 dan  An Naaa’i no: 3582)

Maka dari itu di dalam Islam, kuda dibagi menjadi tiga:

الْخَيْلُ ثَلَاثَةٌ، فَفَرَسٌ لِلرَّحْمَنِ، وَفَرَسٌ لِلْإِنْسَانِ، وَفَرَسٌ لِلشَّيْطَانِ، فَأَمَّا فَرَسُ الرَّحْمَنِ: فَالَّذِي يُرْبَطُ  فِي سَبِيلِ اللهِ، فَعَلَفُهُ وَرَوْثُهُ وَبَوْلُهُ، وَذَكَرَ مَا شَاءَ اللهُ، وَأَمَّا فَرَسُ الشَّيْطَانِ: فَالَّذِي يُقَامَرُ أَوْ يُرَاهَنُ عَلَيْهِ، وَأَمَّا فَرَسُ الْإِنْسَانِ: فَالْفَرَسُ يَرْتَبِطُهَا الْإِنْسَانُ يَلْتَمِسُ بَطْنَهَا، فَهِيَ تَسْتُرُ مِنْ فَقْرٍ

“Kuda itu ada tiga, kuda untuk Ar Rahman, kuda untuk manusia, dan kuda untuk setan. Adapun kuda untuk Ar Rahman adalah kuda yang ditambat di jalan Allah, maka makanannya, kotorannya dan kencingnya (menjadi pahala bagi pemiliknya) , lalu Beliau menyebutkan apa yang dikehendaki Allah- , kuda untuk setan adalah kuda yang dipakai untuk judi atau taruhan, sedangkan kuda untuk manusia adalah kuda yang ditambat seseorang dengan maksud menutupi kebutuhan perutnya (mencari nafkah), maka kuda itu hanya menutupinya dari kefakirannya”. (HR. Al Albani dalam Shahihul Jami’ no: 3350)

2. Lalu yang kedua di dalam surat Al ‘Adiyat menjelaskan sifat-sifat dasar manusia. Yang dimana sifat-sifat dasar manusia tadi tertuang di dalam surat Al ‘Adiyat ayat 6 – 8. Di dalam ketiga ayat tersebut Allah ta’ala menceritakan manusia itu suka ingkar dan cintanya terhadap harta sangat berlebihan.

3. Lalu tafsir global dari Surat Al ‘Adiyat ialah solusi yang Allah ta’ala berikan agar manusia tidak terjerat dari sifat-sifat buruk tersebut.

 وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (1)

“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah”

Di dalam ayat ini Allah ta’ala bersumpah dengan makhluknya yaitu kuda. Kenapa Allah ta’ala bersumpah dengan makhluknya? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering terlintas pada sebagian manusia. Maka sebagian ulama’ menjawabnya.

  1. Kita harus meyakini bahwa setiap yang Allah ta’ala lakukan itu merupakan Hak-Nya. Dia tidak ditanya atas apa-apa yang Dia lakukan. Kemudian seorang hamba juga tidak patut bertanya atas apa-apa yang Allah ta’ala lakukan. Lalu seorang hamba akan ditanya atas apa-apa yang telah ia lakukan. Imam Al Qurthubi rahimahullahu ia berkata:

لله أن يقسم بما شاء من مخلوقاته من حيوان وجماد ، وإن لم يُعلم وجه الحكمة في ذلك

الجامع لأحكام القرآن (19 /237)

“Bagi Allah bersumpah dengan apa yang disukai dari makhluk-Nya baik hewan dan makhluk padat. Meskipun tidak diketahui hikmah hal itu”. (Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an 19/237)

2. Ketika Allah ta’ala bersumpah dengan makhluk-Nya, maka ini menunjukkan keagungan, kebesaran, dan kesempurnaan Allah ta’ala yang tidak dimiliki oleh makhluk-Nya.  Hak Allah ta’ala juga bersumpah dengan makhluk ciptaan-Nya. Namun bagi manusia, dia tidak boleh bersumpah selain atas nama Allah ta’ala atau kalau tidak dia akan jatuh pada kekufuran. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu berkata:

قسم الله بهذه الآيات دليل على عظمته وكمال قدرته وحكمته ، فيكون القسم به الدال على تعظيمها ورفع شأنها متضمنا للثناء على الله عز وجل ، بما تقتضيه من الدلالة على عظمته . وأما نحن ، فلا نقسم بغير الله أو صفاته ؛ لأننا منهيون عن ذلك

مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين (10 /798)

“Allah bersumpah dengan ayat-ayat ini sebagai dalil atas keagungan dan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah-Nya. Sehingga bersumpah dengannya menunjukkan keagungannya dan Tingginya kedudukannya yang mengandung pujian kepada Allah Azza Wa Jalla. Sementara kita tidak dibolehkan bersumpah dengan selain nama Allah atau sifat-Nya, karena kami dilarang melakukan hal itu”. (Majmu Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin 10/798)

Kalau kita menerjemahkan secara bahasa maka ayat pertama berarti “Demi yang berlari kencang sambil terengah-engah”. Di dalam ayat ini Allah ta’ala tidak menyebutkan secara tegas tentang siapa yang berlari kencang. Maka terjadi perbedaan pendapat pada kalangan ahli tafsir. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata:

“Sesungguhnya yang berlari kencang ialah unta. Yaitu unta yang dipakai untuk ibadah haji dari ‘Arafah ke Muzdalifah lalu ke Mina. Mereka berdalil bahwasanya ini adalah surat Makiyyah, dan tidak ada syari’at untuk berjihad ketika berada di Mekkah. Adapun jumhur (kebanyakan) ulama’ tafsir berkata yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah kuda. Karena kuda sudah terkenal di Bangsa Arab pada masa itu meski belum ada syari’at jihad. Disana ada kuda yang dipakai berperang di jalan kebenaran atau tidak meskipun agama Islam belum datang. Adapun setelah datang Islam, kuda dipakai berperang di jalan kebenaran”. (Tafsir Al Qur’an Al Karim hal: 291)

Kita harus menghormati perbedaan pendapat ulama’ yang sangat kuat ini. Lalu juga menghormati perbedaan guru  atau ustad yang berbeda pendapat dalam masalah menafsirkan ayat di atas. Lalu kalimat ‘Dhobha’ dalam bahasa Indonesia artinya terengah-engah. Adapun kata para ulama’ adalah:

صوت أنفاس الخيل إذا عدون

“Suara nafas kuda saat berlari kencang”. (Tafsir Al Qurthubi hal: 599)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu juga berkata:

ليس شيء من الدواب يضبح غير الفرس والكلب والثعلب

“Tidak ada sesuatu dari hewan yang bisa terengah-engah melainkan kuda, anjing, dan musang”. (Tafsir Al Qurthubi hal: 599)

Sebagian ulama’ lagi Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata tentang makna ‘Dhobha’ adalah:

“Suara yang terdengar dari dalam rongga mulut kuda saat berlari kencang”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azim hal: 292)

فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (2)

“Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya)”

Lalu pada ayat yang kedua kita melihat betapa perkasanya kuda sehingga menimbulkan bunga api. Kata ‘Ikrimah dan Atho’ rahimahumullahu maksud dari ayat yang kedua adalah:

الخيل حين توري النار بحوافرها

“Kuda yang memercikkan api dengan kukunya” (Tafsir Al Qurthubi hal: 599)

 فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (3)

“Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi”

Kuda-kuda yang ditunggangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerang musuh pada waktu shubuh. Di dalam ayat ini juga mengajarkan kepada kita bahwa tentang salah satu siasat berperang. Karena pada saat shubuh (pagi buta) musuh-musuh dalam keadaan tidur. Kalaupun sudah bangun, maka mereka pun belum siap untuk berperang. Ada di dalam sebuah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أن النبيَّ كان إذا غزَا بنا قومًا لم يكن يغْزُو بنا حتى يُصْبِحَ وينظرَ, فإن سَمِعَ أذانًا كَفَّ عنهم ، وإن لم يسمعْ أذانًا أغارَ عليهِم

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajak kami berperang ke sebuah negeri, maka tidak pernah menyerang kecuali saat waktu shubuh dan menunggu. Apabila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar azan shubuh, maka tidak terjadi penyerangan. Apabila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak mendengar azan dari sebuah negeri, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerangnya”. (HR. Al Bukhari no: 610)

Diantara faedah yang sangat besar dari hadis di atas kata Imam Ibnu Hajar Al Atsqolani rahimahullahu ia berkata:

أنه  كان يجعل الأذان  فرق ما بين دار الكفر ودار الإسلام، فإن سمع مؤذنا  للدار  كحكم ديار الإسلام ، فيكف عن دمائهم وأموالهم ، وإن لم يسمع أذانا أغار عليهم بعدما يصبح

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan azan sebagai pembeda antara negeri (kampung) kafir dan negeri muslim. Apabila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar azan, maka negeri tersebut adalah negeri Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjamin darah dan harta-harta mereka. Namun apabila tidak terdengar azan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerangnya setelah shalat shubuh”. (Fathul Bari hal: 610)

Lantas kita lihat negeri kita ini. Negeri kita ini dikacaukan oleh sebagian orang yang mengatasnamakan Islam dengan pemboman di negeri itu. Lebih bodohnya lagi, pernah di negeri ini salah satu masjidnya diserang dengan bom. Ini adalah kejahilan di atas kejahilan tentang syari’at agama Islam. Niat yang bagus untuk menegakkan syari’at harus selalu diiringin dengan ilmu dalam menegakkannya.

 فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (4)

“Maka ia menerbangkan debu”

Kemudian pada ayat yang ke 4 kata Imam Al Qurthubi rahimahullahu berkata:

الخيل تثير الغبار بشدة العدو في المكان الذي أغارت به

“Yaitu kuda-kuda tersebut menerbangkan debu-debu yang ada di medan peperangan karena dahsyatnya”. (Tafsir Al Qurthubi hal: 599)

فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (5)

“Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh”

Lalu pada ayat yang ke 5 Allah ta’ala berkata bahwasanya kuda-kuda tadi masuk ke tengah-tengah barisan musuh. Inilah pasukan Islam terdahulu, ketika mereka berperang tidak hanya pada bagian depan musuh saja. Namun mereka merangsek masuk ke dalam tengah-tengah barisan musuh. Mereka kaum muslimin berperang karena perintah Allah, menegakkan keadilan, serta kedamaian. Bukan untuk membinasakan sebuah negeri.

Peperangan dalam masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun setelahnya selalu kalah dalam jumlah pasukan. Pada Perang Badar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membawa 300 ditambah belasan orang, lalu menghadapi 1000 orang kafir. Lalu pada perang Mu’tah, jumlah kaum muslimin hanya 3000 orang yang harus menghadapi 200.000 orang pasukan Romawi. Namun apakah kemenangan selalu dimutlakkan dengan banyaknya jumlah pasukan? Ternyata tidak, pada peperangan-peperangan tersebut, justru kaum muslimin lah yang memenangkannya

Pada sisi lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar kita tidak berharap bertemu musuh. Di dalam sabdanya shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا

“Janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh (perang), tapi mintalah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian telah berjumpa dengan musuh, bersabarlah”. (HR. Al Bukhari no: 2966 dan Muslim no: 1742)

Namun apabila kita harus bertemu musuh-musuh Islam dalam medan peperangan, maka janganlah sekali-kali kita mundur. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

“Ketahuilah bahwa surga itu di bawah kilatan pedang”. (HR. Al Bukhari no: 3024 dan Muslim no: 1742)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَات: … التَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ

“Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan: …Lari dari medan peperangan”. (HR. Al Bukhari no: 3456 dan Muslim no: 2669)

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (6)

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar kepada Rabb-Nya”

Para ulama’ berbeda pendapat tentang makna ‘Al Insan/Manusia’. Sebagian ulama’ mengatakan yang dikatakan dalam ayat ini hanya orang kafir. Sebagian lagi berkata yaitu manusia pada umumnya ingkar kepada Allah ta’ala. Wallahu ‘ala, yang paling dekat ialah manusia pada umumnya berbuat ingkar kepada Allah ta’ala. Kata Imam Al Qurthubi rahimahullahuia berkata:

هذا جواب القسم ; أي طبع الإنسان على كفران النعمة

 “Ini adalah jawaban dari sumpah-Nya Allah. Yaitu diantara tabi’at manusia ialah suka mengkufuri (mengingkari) nikmat Allah”.  (Tafsir Al Qurthubi hal: 600)

Sedang makna ‘Kanud’ dalam ayat di atas ialah ingkar. Diantara sifat manusia yang buruk ialah suka ingkar.  Sebagaimana yang Allah ta’ala terangkan dalam sebuah surat:

إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS. Al Ahzab ayat: 72)

Diantara contoh dari makna ‘Kanud’ ialah:

  1. Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullahu berkata tentang makna ‘Kanud’:

يذكر المصائب وينسى النعم

“Mengingat-ingat musibah dan melupakan kenikmatan-kenikmatan”. (Tafsir Al Quran Al Azim 7/634)

2. Makna ‘Kanud’ yang lainnya adalah:

هو الذي يكفر اليسير ، ولا يشكر الكثير

“Mengingkari yang sedikit, dan tidak mensyukuri yang banyak”. (Adhwaul Bayan Fii Idhohi Al Qur’an Bii Al Qur’an 9/65)

3. Lalu makna ‘Kanud’ yang lainnnya adalah:

الذي ينفق نعم الله في معاصي الله

“Yaitu yang menginfakkan (memakai) nikmat Allah di dalam kemaksiatan kepada-Nya”, (Tafsir Al Qurthubi hal: 600)

4. Diantara makna ‘Kanud’ yang dijelaskan Imam At Tirmidzi rahimahullahu adalah:

الذي يرى النعمة ولا يرى المنعم

“Mengingat nikmat, namun lupa dengan Sang Pemberi Nikmat”. (Tafsir Al Qurthubi: 600) Inilah kebiasaan manusia ketika dia melihat nikmat, maka dia melupakan Sang Pemberi Nikmat. Lebih parah lagi dia menisbatkan nikmat tersebut kepada selain Allah ta’ala.

وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (7)

“Sesungguhnya dia akan perbuatan itu benar-benar melihat”

Para ulama berbeda pendapat tentang kata ganti (Dia) di dalam ayat ini. Sebagian ulama diantaranya Imam Qatadah dan Ats Tsauri rahimahumullahu mengatakan kata ganti (Dia) dalam ayat ini adalah Allah ta’ala. Karena dalam bahasa Arab untuk mengetahui makna kata ganti dikembalikan kepada nama yang paling dekat dengan kata ganti tersebut. Lalu pendapat yang kedua tentang makna kata ganti (Dia) di dalam ayat ini adalah manusia ini adalah pendapat yang dipegang oleh Muhammad bin Ka’ab Al Qurazi. Argumennya  ialah pada ayat sebelumnya objek yang sedang dibicarakan ialah manusia. Kemudian pada ayat selanjutnya yang dibicarakan juga manusia. Namun kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimini rahimahullahu berkata:

والصواب أن الآية شاملة لهذا وهذا، فالله شهيد على ما في قلب ابن آدم، وشهيد على عمله، والإنسان أيضاً شهيد على نفسه،  لكن قد يقر بهذه الشهادة في الدنيا، وقد لا يقر بها فيشهد على نفسه يوم القيامة

“Yang benar adalah ayat ini mencakup makna yang ini (Allah) dan mencakup makna yang itu (Manusia). Allah melihat apa yang ada di dalam hati anak Adam, dan juga manusia melihat dirinya melakukan sebuah amalan. Akan tetapi terkadang menetapkan kesaksiannya ini di dunia dan juga terkadang di akhirat”. (Tafsir Al Qur’an Al Karim hal: 293)

Manusia akan melihat perbuatannya ketika di akhirat sebagaimana yang Allah ta’ala sebutkan:

يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“… Pada hari (ketika), lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas (perbuatan) yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. An Nuur ayat: 24)

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (8)

Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta

Kata “Al Khoir” di dalam ayat ini diartikan oleh para ulama’ adalah harta. Sebagaimana yang Allah ta’ala katakan:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ

‘Diwajibkan atas kalian, apabila seorang diantara kalian kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak (agar) berwasiat”. (QS. Al Baqarah ayat: 180)

Dengan kata lain, apabila manusia memiliki harta yang banyak maka dia akan begitu mencintai hartanya dan menjadi pelit karenanya. Allah ta’ala berkata tentang cintanya manusia terhadap harta:

وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. (QS. Al fajr ayat: 20)

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (9)

Kemudian Islam memotivasi manusia agar berlaku zuhud ketika di dunia dan bersemangat untuk mengingat akhirat. Manusia akan dibangkitkan dan dikeluarkan dari dalam kubur menuju Allah ta’ala. Semuanya akan keluar dengan satu seruan seperti yang Allah ta’ala katakan:

إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَٰحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ

“Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami”. (QS. Yaasiin ayat: 53)

Apabila manusia senantiasa mencari harta saja lalu melupakan kehidupan akhirat , maka dia bisa tergelincir ke dalam api neraka. Banyak orang sibuk mencari harta, sehingga ia lupa mengerjakan shalat. Allah ta’ala berkata:

مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ (42) قَالُوا۟ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّينَ (43)

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”. (QS. Al Mudatstsir ayat: 42-43)

Diantara rahasia agar seseorang zuhud ketika di dunia adalah, sebuah perkataan dari Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullahu:

علمت بأن رزقى لن يأخذه غيرى فاطمأن قلبى له, وعلمت بأن عملى لا يقوم به غيرى فاشتغلت به, وعلمت أن الله مطلع على فاستحييت أن أقابله على معصية, وعلمت أن الموت ينتظرنى فأعددت الزاد للقاء الله

“Aku yakin bahwa rezekiku tidak akan diambil orang lain, sehingga hatiku tenang dalam mencarinya. Aku yakin bahwa amalku tidak akan diwakilkan kepada orang lain, sehingga aku sendiri yang sibuk menjalankannya. Aku yakin bahwa Allah selalu mengawasi diriku, hingga aku malu merespon pengawasannya dengan melakukan maksiat. Aku yakin bahwa kematian menantiku, sehingga aku siapkan bekal untuk bertemu dengan Allah”. (Alfu Qishshoh wa Qishshoh Min Qoshoshi Ash Shalihin wa As Shalihaat hal: 466)

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (10)

Dan dibuka apa yang ada di dalam dada?

Di dalam ayat ini Allah ta’ala akan membuka seluruh apa yang ada di dalam hati-hati manusia. Berbagai macam niat dan pekerjaan hati akan dinampakkan. Seperti tawakkal, suka, enggan, takut, harap, dan sebagainya. Allah ta’ala berfirman:

يَوْمَ تُبْلَى ٱلسَّرَآئِرُ (9) فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ (10)

“Pada hari dinampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong”. (QS. Ath Thariq ayat 9-10)

 يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS. Al Haaqqah ayat: 18)

Allah ta’ala tahu terhadap seluruh isi hati kita. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِن تُخْفُوا مَافِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللهُ

“Katakanlah: Jika kamu menyembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya”.  (QS. Ali ‘Imran ayat: 29).

Ketika di dunia Allah ta’ala memperlakukan sama antara muslim dan munafik. Sampai-sampai kita tidak bisa membedakannya. Namun pada hari kiamat Allah ta’ala akan menilai perbuatan seorang hamba berdasarkan apa yang ada di dalam hatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (HR. Muslim no: 2564)

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata:

”Amal hati adalah pokok, sedangkan amal badan sebagai penyerta dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu laksana ruh, sedangkan amal laksana badan. Jika ruh meninggalkan badan, ia akan mati. Maka mempelajari hukum-hukum hati lebih penting dari pada mempelajari hukum perbuatan atau badan”. (Badai’ Al Fawaid hal:  511)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu berkata:

فالبعثرة بعثرة ما في القبور عما تكنه الأرض، وهنا عما يكنه الصدر، والتناسب بينهما ظاهر

“Pembangkitan (kebangkitan) adalah kebangkitan apa-apa yang ada di dalam kubur berupa apa-apa yang disimpan oleh bumi. Sedangkan dalam ayat ini yaitu (kebangkitan) apa-apa yang disimpan di dalam dada. Keserasian kedua ayat ini (9 dan 10) sangat jelas”. (Tafsir Al Qur’an Al Karim hal: 294)

إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌۢ

Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka

Imam Al Qurthubi rahimahullahu berkata:

عالم لا يخفى عليه منهم خافية. وهو عالم بهم في ذلك اليوم وفي غيره ; ولكن المعنى أنه يجازيهم في ذلك اليوم

“(Dia) Maha Mengetahui serta tidak ada yang tersembunyi baginya keadaan mereka (manusia). Dia Maha Mengetahui tentang keadaan mereka dan selain mereka. Akan tetapi maknanya (ayat ini) adalah Dia akan membalas segala perbuatan-perbuatan mereka. (Tafsir Al Qurthubi hal: 600)

Inilah penjelasan yang sangat singkat dari tafsir Surat Al ‘Adiyat, bagi siapa yang ingin membaca lebih banyak tentang surat ini, maka hendaknya membuka buku-buku tafsir para ulama’.

Penulis : Ustadz Ananda Ridho Gusti

Majalah Bulan Januari, 2019 Edisi 73

]]>
https://nidaulfithrah.com/yang-berlari-kencang/feed/ 7
Megah yang Membinasakan https://nidaulfithrah.com/megah-yang-membinasakan/ https://nidaulfithrah.com/megah-yang-membinasakan/#comments Thu, 14 Sep 2023 08:16:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17799 Pada masa-masa sekarang, sebagian besar manusia kesibukannya ialah mencari kehidupan dunia. Mereka beranggapan bahwa dengan banyaknya dunia yang dia dapatkan akan menenteramkan masa depannya. Mereka berpikir bahwa dengan banyaknya yang diraup dari dunia akan membahagiakannya pada kehidupan mendatang. Sehingga akhirnya mereka pun lalai dari peribadatan kepada Allah ta’ala. Manusia tidak akan puas dengan apa yang diraihnya. Sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

وَلَا يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

“Tidak ada yang bisa memenuhi perut anak cucu Adam melaikan tanah”. (HR. Al Bukhari no: 6438)

Itulah kerakusan dan ketamakan manusia. Maka itu sampai Allah ta’ala menurunkan sebuah surat yang menjelaskan kondisi lalainya manusia yang disebabkan kesibukannya terhadap dunia. Bagaimanakah penjelasannya? Mari kita simak di dalam rubrik Bahasan Utama.

Setiap manusia yang ada di atas muka bumi ini baik muslim atau non muslim, mukmin atau kafir, tua maupun muda semuanya mencintai harta dan keindahannya. Hal itu menjadi tabi’at dasar manusia yang ada di dalam diri-diri mereka. Allah ta’ala berfirman dalam banyak ayat-Nya tentang hal tersebut:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS. Ali ‘Imron ayat: 14)

Di dalam ayat lain Allah ta’ala juga berfirman:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمَّا

“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” (QS. Al Fajr ayat: 20)

Serta ayat-Nya juga:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan”. (QS Al ‘Adiyat ayat: 8)

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada kita semua:

قَلْبُ الشَّيْخ شَابٌّ عَلَى حُبّ اثنتين : طُولُ الْحَيَاةِ وَحُبُّ الْمَالِ

“Hati orang yang tua renta senantiasa muda dalam mencintai dua perkara: hidup yang panjang dan cinta terhadap harta”. (HR. AI Bukhari no: 6420 dan Muslim no: 1046)

Di dalam surat At Takatsur ini Allah ta’ala menceritakan kondisi orang-orang yang lalai disebabkan mereka membanggakan diri-diri mereka dengan banyaknya sesuatu.

Secara garis besar surat At Takatsur ini membahas tentang tiga hal besar. Pada ayat yang pertama dan kedua akan membahas tentang sifat manusia yang cinta dan bermegah- megahan terhadap harta sehingga mereka lalai karena hal tersebut. Lalu pada ayat yang ketiga hingga ketujuh berisikan tentang adanya siksa bagi orang yang lalai karena harta tersebut. Selanjutnya pada ayat yang kedelapan Allah ta’ala. menceritakan tentang adanya pertanyaan dari nikmat-nikmat yang kita rasakan.

Surat At Takatsur ialah surat Makkiyyah yang turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum hijrah.

Pada ayat yang kesatu Allah ta’ala berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata tentang ayat di atas:

شغلكم حب الدنيا ونعيمها وزهرتها عن طلب الآخرة وابتغائها ، وتمادى بكم ذلك حتى جاءكم الموت وزرتم المقابر ، وصرتم من أهلها

“Kecintaan terhadap dunia, kenikmatannya dan keindahannya, telah melalaikan kamu dari mencari akhirat. Dan itu terus terjadi pada kamu sehingga kematian mendatangimu dan kamu mendatangi kuburan serta menjadi penghuninya”

Imam Al Baghawi rahimahullahu berkata:

شغلتكم المباهاة والمفاخرة والمكاثرة بكثرة المال والعدد عن طاعة ربكم وما ينجيكم من سخطه

“Telah melalaikan kalian kenikmatan, berbangga-bangga, berbanyak-banyak terhadap harta dan banyaknya harta dari keta’atan kepada Rabb kalian, dan itu semua tidak menyelamatkan kalian dari murka-Nya”

Sebagian ulama’ diantaranya Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu mengatakan “Mengapa di dalam ayat ini Allah ta’ata tidak menyebutkan hal apa yang menjadikan manusia lalai karena pada setiap hal yang melekat pada diri manusia berpotensi untuk melalaikannya“. (At Tafsir al Qoyyim hal: 575-576)

Hal tersebut juga dikuatkan oleh perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu yaitu “Bermegah-megahan bisa mencakup banyak hal. Bisa bermegah-megahan dengan harta, kabilahnya (suku), kedudukan yang dimiliki, ilmu yang dihafal, dan yang lain-lain. Hal itu dikuatkan dalam sebuah ayat Allah ta’ala berfirman:

أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

“Harta-hartaku lebih banyak darimu dan pengikut-pengikutku lebih kuat darimu(QS. Al Kahfi ayat: 34)”. (Tafsir Al Qur’an Al Karim Juz ‘Amma hal: 302)

Maka dari itu tidaklah heran ketika nanti pada hari kiamat akan banyak sekali manusia yang terjerumus ke dalam neraka. Yang salah satu sebabnya ialah karena berbangga-bangga dengan jumlah yang banyak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يقول الله تَعَالَى: يَا آدَمُ، فيَقولُ: لَبَّيْكَ وسَعْدَيْكَ، والخَيْرُ في يَدَيْكَ، فيَقولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ، قال: وما بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِن كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِئَةٍ وتِسْعَةً وتِسْعِينَ

“Allah berfirman: ‘Wahai Adam’. Ia pun menjawab: ‘Ya, aku memenuhi panggilan-Mu, dan kebaikan ada di tangan-Mu’. Allah berfirman: ‘Keluarkanlah ba’tsun naar!’ Ia bertanya: ‘Apakah ba’tsun naar itu?’ Allah berfirman: ‘Dari setiap 1000 orang, 999 orang sebagai ba’tsun naar (penghuni neraka)”. (HR. AL Bukhari no: 3348)

Oleh sebab itu, Allah ta’ala mengingatkan seluruh manusia dalam sebuah ayat-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al Munafiqun ayat 9)

Dalam tafsir Ibnu Katsir juga disebutkan

وذكر الحافظ ابن عساكر، في ترجمة الأحنف بن قيس – واسمه الضحاك – أنه رأى في يد رجل درهما فقال : لمن هذا الدرهم ؟ فقال الرجل : لي . فقال : إنما هو لك إذا أنفقته في أجر أو ابتغاء شكر . ثم أنشد الأحنف متمثلا قول الشاعر : أنت للمال إذا أمسكته فإذا أنفقته فالمال لك

“Al Hafizh Ibnu ‘Asakir menyebutkan di dalam biografi Al Ahnaf bin Qais dan Namanya adalah Adh-Dhahhak bahwasannya dia pernah melihat uang dirham di tangan seseorang, lalu ia bertanya: Milik siapa dirham ini?’ lalu orang itu berkata kepadaku, dia mengatakan: ‘Uang itu akan menjadi milikmu jika engkau menginfakkannya, baik untuk memperoleh pahala maupun untuk mendapatkan rasa syukur’ Kemudian Al Ahnaf mengumandangkan ungkapan seorang penyair: ‘Engkau akan menjadi milik hartamu jika engkau menahannya, dan jika engkau menafkahkannya maka harta itu akan menjadi milikmu”.

حَتَّى زُرتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

“Sampai kamu mengunjungi (masuk ke dalam) kuburan”

Di dalam ayat ini ada beberapa makna atau tafsirannya diantaranya Imam Ath Thobari rahimahullahu berkata:

وفي هذا دليل على صحة القول بعذاب القبر

“Ini adalah dalil tentang benarnya azab kubur”

Hal tersebut diperkuat dengan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu:

كنا نشك فى عذاب القبر،حتى نزلت أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

“Dahulu kami ragu tentang adanya azab kubur, hingga turunnya ayat dalam surat At Takatsur”

Adapun Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah:

صرتم إليها ودفنتم فيها

“Engkau menyibukkan dengan berbangga-bangga, hingga akhirnya engkau mendatangi kuburan (mati)”.

Hal ini selaras dengan sebuah hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أنَّ النبيَّ صَلَّى الله عليه وسلَّمَ دَخَلَ علَى أَعْرَابي يَعُودُهُ، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عليه وسلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ : لا بَأْسَ ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَقَالَ له: لا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ قَالَ: قُلتُ: طَهُورٌ ؟كَلَّا بَلْ هي حُمَّى تَفُورُ، أَوْ تَثُورُ، عَلَى شيخ كَبِيرٍ، تُزيرُهُ القُبُورَ، فَقَالَ النبي صَلَّى الله عليه وسلَّمَ: فَنَعَمْ إِذًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok seorang laki-laki baduwi yang sakit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Laa ba’sa Thohuurun In sya Allah (Tidak mengapa, in sya Allah sebagai pembersih dosa). Laki-laki itu mengatakan: ‘Engkau berkata sebagai pembersih dosa?’ Bahkan ini adalah demam yang bergejolak pada seorang laki-laki tua yang akan menghantarkannya ke kuburan!’ Beliau bersabda: ‘Baiklah kalau begitu”. (HR. Al Bukhari no: 3616)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu berkata:

استدل به عمر بن عبد العزيز – رحمه الله – على أن الزائر لابد أن يرجع إلى وطنه، وأن القبور ليست بدار إقامة، وكذلك يذكر عن بعض الأعراب أنه سمع قارىء يقرأ: {ألهاكم التكاثر حتى زرتم المقابر فقال: «والله ما الزائر بمقيم والله لنبعثن» لأن الزائر كما هو معروف يزور ويرجع

“umar bin Abdul Aziz berdalil dengan ayat ini bahwa sesungguhnya orang yang berziarah pasti akan kembali ke negerinya (tempat asalnya). Sedangkan kuburan bukanlah tempat untuk menetap”. (Tafsir Al Qur’an Al Karim Juz ‘Amma hal: 302)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu juga berkata:

“Firman Allah, (yang artinya) ‘Sampai kamu mengunjungi kuburan’, maksudnya sampai kamu mati. Manusia itu memiliki karakter senang bermegah-megahan dengan banyaknya (perkara dunia) sampai mati. Bahkan setiap kali umur bertambah tua, angan-anganpun bertambah besar. Maka manusia itu bertambah tua umurnya, namun angan-angannya muda. Sehingga ada orang yang berumur 90 tahun, namun engkau mendapatinya memiliki banyak angan-angan dan panjang angan-angan yang tidak ada pada seorang pemuda yang berumur 15 tahun. Inilah makna ayat yang mulia ini, yaitu bahwa kamu telah menjadi lalai terhadap akhirat sampai kamu mati dengan sebab bermegah-megah dengan banyaknya (kesenangan dunia)”. (Tafsir Al Qur’an Al Karim Juz ‘Amma hal: 302)

Maka dari itu agar kita tidak bermegah-megahan, hendaknya kita sering berziarah kubur melihat kondisi manusia-manusia yang Allah ta’ala sudah ambil ruhnya dan tidak bisa beramal apapun lagi. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

“Berziarahlah ke kuburan, karena hal tersebut mengingatkanmu tentang akhirat. (HR. Ibnu Majah no: 1558)

كلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4)

“Janganlah demikian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan Janganlah demikian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)”

Imam Al Qurthubi rahimahullahu berkata menukil kata Imam Al Farra’ rahimahullahu:

ليس الأمر على ما أنتم عليه من التفاخر والتكاثر والتمام على هذا وسوف تعلمون عاقبة هذا

“Yaitu, urusannya tidak sebagaimana yang kamu lakukan, yaitu kamu saling berbangga dan saling bermegah-megah dengan banyaknya jumlah, kamu akan mengetahui akibatnya”.

Imam Ath Thabari rahimahullahu berkata:

سوف تعامون إذا زرتم المقابر، أيها الذين ألهاهم التكاثر، غبّ فعلكم واشتغالكم بالتكاثر في الدنيا عن طاعة الله ربكم

“Kalian akan mengetahui (akibat dari perbuatan kalian) jika kalian sudah mengunjungi kuburan (mati) wahai orang-orang yang lalai. Setelah kalian tersibukkan dengan bermegah-megahan dari keta’atan kepada Allah Rabb kalian”.

Kedua ayat di atas berisi tentang ancaman dari Allah ta’ala akibat dari perbuatan kita yang lalai kepada Allah ta’ala. Seperti kata Imam Ibnu Katsir rahimahullahu yang mengambil perkataan Imam Al Hasan Al Bari rahimahullaha

هذا وعيد بعد وعيد

Ini adalah ancaman di atas ancaman”

Mengapa Allah ta’ala mengulang ayat ini? Imam Al Qurthubi rahimahullahu berkata:

ويحتمل أن يكون تكراره على وجه التأكيد والتغليظ

“Ayat ini terulang (ayat ke-4 mengulang ayat ke-3) maksudnya adalah untuk menguatkan (ancaman)”

Sebagian ulama’ tafsir mengatakan bahwa maksud ayat yang ke-3 ialah mereka akan mendapatkan siksa ketika mereka berada di alam kubur. Seperti kisah ruh orang kafir yang akan dicabut nyawanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اخْرُجي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ ، كَانَتْ في الجَسَدِ الخَبِيثِ ، اخْرُجي ذَمِيمَةً ، وَأَبْشِرِي بِحَمِيمٍ ، وَغَسَّاقٍ ، وَآخَرَ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، فَلَا يُفْتَحُ لَهَا ، فَيُقَالُ مَنْ هَذَا ؟ فَيُقَالُ: فُلَانٌ ، فَيُقَالُ : لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ ، كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الخَبِيثِ ارْجِعِي ذَمِيمَةً ، فَإِنَّهَا لَا تُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، ثم تصير إلى القبر

“Keluarlah wahai jiwa yang buruk, dahulu engkau berada di tubuh yang buruk. Keluarlah dalam kondisi hina. Beri kabar gembira dengan Hamim dan Gossak (bau busuk) dan lainnya berbentuk berpasangan. Senantiasa dikatakan seperti itu sampai (ruhnya) keluar. Kemudian dinaikkan ke langit. Tidak dibukakan baginya. Dikatakan, ‘Siapa ini?’ Dikatakan: ‘Fulan’ Dikatakan: ‘Tidak ada selamat datang dengan jiwa yang buruk. Dahulu di tubuh yang jelek Keluarlah dalam kondisi hina. sesungguhna dia tidak dibukakan pintu-pintu langit. Maka dilemparkannya dari langit ,”kemudian sampai ke kuburan”. (HR. Ibnu Majah no:4552)

Lalu ayat yang ke-4 maksudnya ialah mereka akan mendapatkan siksa tersebut di hari akhirat (neraka). Seperti kisah fir’aun yang Allah ta’ala abadikan di dalam Al Qur’an:

فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (54) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Maka Allah memeliharanya (Musa) dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. (QS. Al Mu’min ayat: 45-46)

Kemudian sebagian ahli tafsir diantaranya Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata bahwa ayat yang ke-3 itu maksudnya ialah untuk orang-orang kafir dan ayat yang ke-4 untuk orang-orang mukmin.

Orang mukmin juga bisa tergelincir dalam kesalahan, maka dari itu mereka juga terkena ancaman ayat ini. Maka dari itu sebagian ulama’ mengumpamakan bahwa iman yang ada di dalam diri seorang mukmin merupakan barang berharga yang ada di dalam rumah. Barang berharga tersebut harus dijaga, berbeda dengan orang-orang kafir yang sudah tidak memiliki iman alias barang berharga tersebut. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي  الإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يحب

“Sesungguhnya Allah memberi harta kepada orang-orang yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Sedangkan Iman tidak diberikan kecuali kepada orang- orang yang Dia cintai” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrod no: 279)

Sebagian salaf rahimahumullahu juga berkata:

لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ

“Jika seandainya para raja dan anak para raja (pangeran) mengetahui iman yang di dalam dada-dada kami, pasti mereka akan menyiksa kami dengan pedang-pedang mereka”. (Al Wabil Ash Shoyyib)

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

Janganlah begitu, Jika kamu mengetahui dengan ilmu yaqin

Imam As Sa’di rahimahullahu berkata:

لو تعلمون ما أمامكم علما يصل إلى القلوب، لما ألهاكم التكاثر، ولبادرتم إلى الأعمال الصالحة

“Kalau seandainya kalian. mengetahui apa yang ada di hadapan kalian (dari balasan-balasan perbuatan) dengan ilmu ke dalam hati-hati kalian, kalian pasti akan bersegera dalam mengerjakan amalan-amalan shalih”

Imam Al Baghawi rahimahullahu berkata:

قال قتادة : كنا نتحدث أن علم اليقين أن يعلم أن الله باعثه بعد الموت

“Qatadah rahimahullahu berkata: ‘Kami berbincang tentang makna ‘ilmul yaqin’, maksudnya ialah hendaknya manusia tahu bahwa Allah ta’ala akan membangkitkannya setelah kematiannya”

Ketahuilah membangkitkan manusia dari dalam kuburnya adalah hal sangat mudah bagi Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia” (QS Yaasin ayat: 82)

لَتَرَوُنَّ الجَحِيمَ

“Niscaya kelak kamu akan benar-benar melihat neraka Jahim”

Pada hari kiamat orang-orang musyrik dan orang-orang fasiq akan melihat tempat Kembali mereka yaitu di neraka jahim Makna ‘kamu’ di dalam ayat ini memiliki dua makna. Makna yang pertama maksudnya ialah orang orang kafir. Sesuai dengan firman Allah ta’ala:

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُواقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا

“Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya”. (QS. AL Kahfi ayat: 53)

Sedangkan penafsiran kedua akan ditampakkan kepada semua manusia. Allah ta’ala berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun dari kamu, melainkan akan mendatangi neraka itu. (QS. Maryam ayat: 71)

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin”

Imam As Sa’di rahimahullahu mengatakan:

رؤية بصرية

“Dengan penglihatan sendiri”.

Maksudnya ialah seluruh manusia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang betapa dahsyatnya neraka yang dulu mereka lalaikan. Neraka bisa ditampakkan saat seorang masih di dalam kuburnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat duduk (tinggal) nya setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka akan (melihat kedudukannya) sebagai penduduk surga dan jika dia termasuk penduduk neraka, maka akan (melihat kedudukannya) sebagai penduduk neraka lalu dikatakan kepadanya inilah tempat duduk tinggalmu hingga nanti Allah membangkitkanmu pada hari kiamat”. (HR. AL Bukhari no: 1290)

Tentang perbedaan makna ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:

منها: أن يقال: {عِلْمَ الْيَقِينِ} ما علمه بالسماع والخبر والقياس والنظر، و عَيْنَ الْيَقِينِ ما شاهده وعاينه بالبصر، و حَق الْيَقِينِ} ما باشره ووجده وذاقه وعرفه بالاعتبار. فالأول: مثل من أخبر أن هناك عسلا، وصدق المخبر. أو رأى آثار العسل فاستدل على وجوده. والثاني: مثل من رأى العسل وشاهده وعاينه والثالث: مثل من ذاق العسل، ووجد طعمه وحلاوته، ومعلوم أن هذا أعلى مما قبله

“Ilmul yaqin’ maknanya ialah sesuatu yang diyakini hanya dengan mendengar saja, kabar saja, dan berpikir saja. Adapun ‘ainul yaqin’ ialah sesuatu yang diyakini dengan melihatnya atau menyaksikannya. Adapun ‘haqqul yaqin’ ialah sesuatu yang diyakini dengan merasakannya secara langsung. Contohnya seseorang memberitahumu bahwa disana ada madu, dan anda langsung membenarkannya maka ini adalah. ‘Ilmul yaqin. Jika anda meyakininya dengan melihatnya maka ini adalah ‘ainul yaqin’ Dan yang ketiga jika anda yakin dengan mencicipi madu tersebut dan merasakannya maka ini adalah haqqul yaqin“. (Majmu’ Al fatawa 10/645-646)

Hendaklah kita sebagai kaum muslimin harus meyakini dengan ‘ilmul yaqin’ bahwa surga dan neraka itu sudah dipersiapkan. Agar kita nanti menjadi orang yang memilih jalan-jalan yang mendekatkan ke surga dan memasukkan ke dalam surga saat menjalani kehidupan ini.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan”

Orang mukmin dan orang kafir akan ditanyai oleh Allah ta’ala. tentang kenikmatan-kenikmatan yang dia dapatkan dalam kehidupannya. Semua nikmat akan-ditanya oleh Allah ta’ala termasuk hal yang ringan seperti minum. Dalam sebuah hadis, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menceritakan:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَاعَةٍ لَا يَخْرُجُ فِيهَا وَلَا يَلْقَاهُ فِيهَا أَحَدٌ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ يَا أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ خَرَجْتُ أَلْقَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْظُرُ فِي وَجْهِهِ وَالتَّسْلِيمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ جَاءَ عُمَرُ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ يَا عُمَرُ قَالَ الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا قَدْ وَجَدْتُ بَعْضَ ذَلِكَ فَانْطَلَقُوا إِلَى مَنْزِلِ أَبِي الْهَيْثَمِ بْنِ التَيهَانِ الْأَنْصَارِي وَكَانَ رَجُلًا كَثِيرَ النَّخْلِ وَالشَّاءِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ خَدَمٌ فَلَمْ يَجِدُوهُ فَقَالُوا لِامْرَأَتِهِ أَيْنَ صَاحِبُكِ

فَقَالَتْ انْطَلَقَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا الْمَاءَ فَلَمْ يَلْبَثُوا أَنْ جَاءَ أَبُو الْهَيْثَم بِقِرْبَةٍ يَزعَبُهَا فَوَضَعَهَا ثُمَّ جَاءَ يَلْتَزِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُفَدِّيهِ بِأَبِيهِ وَأُمِّهِ ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِمْ إِلَى حَدِيقَتِهِ فَبَسَطَ لَهُمْ بِسَاطًا ثُمَّ انْطَلَقَ إِلَى نَخْلَةٍ فَجَاءَ بِقِنو فَوَضَعَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا تَنَقَّيْتَ لَنَا مِنْ رُطَبِهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ تَخْتَارُوا أَوْ قَالَ تَخَيَّرُوا مِنْ رُطَبِهِ وَبُسرِهِ فَأَكَلُوا وَشَرِبُوا مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا وَالَّذِي نَفْسِي بيَدِهِ مِنْ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ظِلُّ بَارِدٌ وَرُطَبٌ طَيِّبٌ وَمَاء بَارِد

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam keluar rumah pada saat yang tidak biasa beliau keluar dan tidak ada seorangpun yang bertemu dengannya, kemudian Abu Bakar menemuinya lalu beliau bertanya: ‘Apa yang membuatmu datang wahai Abu Bakar?’ Abu Bakar menjawab: ‘Aku keluar untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam dan aku melihat ke arah wajah beliau dan beliau menerimanya’. Tidak lama kemudian datanglah ‘Umar lalu beliau bertanya: ‘Apa yang membuatmu datang wahai ‘Umar?’ ‘Umar menjawab: ‘Karena lapar wahai Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: ‘Saya juga merasakan sedikit lapar, maka pergilah kalian ke rumah Abul Haitsam bin At Taihan Al Anshari, dia adalah seorang lelaki yang mempunyai banyak kurma dan kambing tapi dia tidak mempunyai pelayan. Namun mereka tidak menemukannya, mereka bertanya kepada istrinya: ‘Dimana suamimu?’ istrinya menjawab: ‘Dia sedang mengambil air untuk kami’. Tidak lama mereka menunggu tiba-tiba datanglah Abul Haitsam dengan membawa tempat air yang berisi air penuh lalu dia meletakkannya, kemudian dia datang dan mendekap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam sambil bersumpah rela mengorbankan bapak dan ibunya demi beliau, kemudian dia pergi bersama mereka menuju perkebunannya dan menghamparkan tikar untuk mereka, lalu dia pergi menuju sebuah pohon kurma dan kembali dengan membawa setangkai kurma kemudian meletakkannya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bertanya: ‘Maukah kamu memilihkan kurma basahnya untuk kami?’ dia menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku ingin baginda sendiri yang memilihnya -atau dia berkata: Silahkan kalian. pilih kurma basah dan kurma mudanya’. Lalu mereka makan kurma dan minum dari air itu, setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan- Nya, ini termasuk kenikmatan yang akan ditanyakan kepada kalian kelak pada hari kiamat; tempat berteduh yang dingin, kurma basah yang lezat dan air tawar”. (HR. At Turmudzi no: 2292)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu menambahkan:

“Adapun orang mukmin ditanya tentang nikmat-nikmat tersebut dalam rangka untuk mengingatkan banyaknya nikmat Allah kepadanya, agar mereka bergembira dengan nikmat-nikmat yang akan didapatkan di akhirat nanti. Untuk orang-orang kafir maka pertanyaan tentang nikmat- nikmat tersebut dalam rangka penghinaan kepada mereka dan menjadikan mereka menyesal”. (Tafsir Al Qur’an Al Karim Juz ‘Amma hal: 306)

Semoga Allah menjadikan kita orang yang masuk ke dalam surga dan melepaskan kita dari neraka- Nya yang pedih

Penulis : Ustadz Ananda Ridho Gusti

Majalah Bulan Agustus, 2019 Edisi 81

]]>
https://nidaulfithrah.com/megah-yang-membinasakan/feed/ 1
Hati yang Terketuk https://nidaulfithrah.com/hati-yang-terketuk/ https://nidaulfithrah.com/hati-yang-terketuk/#respond Wed, 31 May 2023 05:54:26 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=17319 Setiap manusia akan melewati peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya. Diantara peristiwa yang akan ia lewati ialah peristiwa yang sangat mengejutkan hati. Peristiwa yang mengakhiri semua kegiatan manusia di dunia. Peristiwa ini sangat memilukan, dan membelah manusia menjadi dua golongan. Golongan yang berat dan golongan yang ringan akan nampak setelah peristiwa ini. Golongan yang bersedih dan golongan yang berbahagia akan muncul setelah peristiwa ini. Peristiwa apakah ia ? Yuk, ikuti pembahannya

Allah mengatakan tentang akhirat ada empat nama: Al Hayawan (Kehidupan yang abadi), Darul Qoror (Tempat yang kekal), Darul Jaza’ (Tempat pembalasan), dan Darul Muttaqin (Tempat orang-orang yang bertaqwa). Kalau kita membandingkan kenikmatan dunia dengan akhirat sudah sangat jelas tidak ada apa-apanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba- hamba-Nya pada hari kiamat.” (HR. Al Bukhari no: 6104 dan Muslim no: 2725)

Sebelum manusia mendapatkan balasan atas perbuatan-perbuatanya ketika di dunia, manusia akan melewati kejadian-kejadian penting. Kejadian-kejadian tersebut dikisahkan di dalam Al Qur’an, diantaranya kejadian-kejadian yang terdapat di dalam surat Al Qori’ah.

Surat Al Qori’ah tidak memiliki nama lain selain nama ini. Karena seluruh mushaf dan tafsir Al Qur’an menggunakan nama ini. Tidak ada sebab khusus yang menjadikan surat ini turun ke dunia dan juga tidak ada keutamaan khusus tentang surat ini. Adapun riwayat yang berbunyi:

من قرأ سورة القارعة ثقل الله ميزانه

“Barangsiapa yang membaca surat Al Qori’ah, Allah akan memberatkan timbangan (kebaikannya)”.

Riwayat di atas adalah riwayat yang palsu yang tidak bisa disandarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bisa dikatakan bahwa hal itu ialah sebuah hadis.

Surat ini termasuk ke dalam surat Al Mufashshal dimulai dari surat Qaaf – An Naas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُعطِيتُ مكانَ التَّوراةِ السَّبع الطوال، وأُعطِيتُ مكانَ الزَّبور المئين، وأعطيتُ مكان الإنجيل المثاني، وفُضِّلْتُ بالمفصل

“Aku dikaruniai oleh Allah As Sab’u Ath Thiwal (tujuh surat yang panjang) yang menggantikan taurat, dan aku diberikan surat surat Al Mi’in sebagai pengganti zabur, dan aku diberikan surat – surat Al Matsani sebagai pengganti Injil, dan aku diberi keutamaan dengan surat-surat Al Mufashshal”. (HR. AI Albani dalan Shahih Al Jami’ no: 1059)

Sebagai seorang muslim dia tidak boleh malas membaca Al Qur’an, meski sebuah surat tidak ada kekhususan pahala padanya. Namun ada sebuah perkataan lain yang disebutkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keagungan dari membaca Al Qur’an:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘Alif Laam Miim’ itu satu huruf. Akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf(HR. Tirmidzi no. 2915)

Surat Al Qori’ah termasuk ke dalam surat Makkiyyah (Surat yang turun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah). Surat Al Qori’ah berjumlah 11 ayat yang disepakati oleh para ulama’.

Secara garis besar, kandungan yang terkandung di dalam Surat Al Qori’ah terbagi ke dalam 3 hal:

1. Pada ayat ke-1 sampai ke5, Allah ta’ala memberitakan tentang bahwa hari kiamat pasti akan terjadi serta beberapa kejadian yang terjadi saat hari kiamat muncul. Maka itu di dalam sebuah ayat yang lain, Allah mengisahkan tentang kondisi hari kiamat. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتٍ حمل حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَرَى وَمَا هُم بِسُكَرَىٰ وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya“. (QS. Al Hajj ayat: 1-2)

2. Kemudian pada ayat ke-6 dan ke-8, Allah ta’ala menceritakan tentang adanya penimbangan. Hal ini senada seperti yang Allah katakan di dalam sebuah surat:

وَنَضَعُ الْمَوْزِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيِّمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan“. (QS. Al Anbiya’ ayat: 47)

3. Lalu pada ayat 7, 9, 10, dan 11 Allah ta’ala menceritakan tentang adanya pembalasan pada hari kiamat. Segala perbuatan manusia ketika di dunia, akan dibalas sesuai dengan apa yang

dilakukannya. Seperti dalam sebuah ayat Allah ta’ala berkata:

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ (16) الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلم الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَاب (17)

“(yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. (QS. Ghafir ayat: 16-17)

Pada ayat yang pertama Allah ta’ala berkata:

الْقَارِعَةُ (1)

“Hari Kiamat”

Jika kita melihat pada sebagian besar Al Qur’an terjemahan yang ada pada sisi kita, maka kita akan mendapati bahwa kata-kata ‘al qari’ah’ hanya diartikan sebagai ‘hari kiamat. Namun kalau kita melihat nama-nama hari kiamat di dalam Al Qur’an, Allah ta’ala memberikan nama yang berbeda – beda. Bahkan setiap nama tersebut memiliki makna tersendiri yang mungkin tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Di dalam ayat ini ‘al qari’ah’ maknanya adalah apa-apa yang mengetuk hati dan mengejutkan hati. Terkejutnya hati ini disebabkan ditiupnya sangkakala secara tiba-tiba. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلُّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah, Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri“. (QS. An Naml ayat: 87)

Banyak sekali nama-nama hari kiamat yang disebutkan di dalam Al Qur’an, diantaranya:

1. Al Ghasyiyyah

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

“Sudahkah datang kepadamu berita (tentang) hari pembalasan“. (QS. AI Ghasyiyyah ayat: 1)

2. Al Qiyamah

لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ

Aku bersumpah dengan hari kiamat“. (QS. Al Qiyamah ayat: 1)

3. Ath Thammah

فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰىۖ

Maka apabila malapetaka (bencana) yang besar telah datang“. (QS. An Nazi’at ayat:

34)

4. Ash Shakhkhah

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخة

Apabila telah datang suara yang memekakkan (sangkakala)”. (QS. ‘Abasa ayat: 33)

5. Al Aazifah

أَزِفَتِ الْآزِفَةُ

“Apabila telah dekat hari yang dekat (hari kiamat)”. (QS. An Najm ayat: 57)

Diantara hal yang membuat hati terkejut keras ialah saat ditiupnya sangkakala oleh malaikat Israfil. Ini adalah peristiwa pertama yang sangat mencekam dan mengerikan yang terjadi saat hari kiamat. Para ulama’ berselisih pendapat tentang berapa kali sangkakala akan ditiup. Sebagian mereka mengatakan tiga kali, dengan hujjah sebagai berikut:

Tiupan yang Pertama (Nafkhotu Al Faza’) berdalil dengan firman Allah ta’ala :

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلُّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah, Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri”. (QS. An Naml ayat: 87)

Tiupan yang Kedua (Nafkhotu Ash Sha’qi) berdalil dengan firman Allah ta’ala:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”. (QS. Az Zumar ayat: 68)

Tiupan yang Ketiga (Nafkhotu Al Ba’tsi wa An Nusyur) berdalil dengan firman Allah c:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِن الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka“. (QS. Yasin ayat: 51)

Sebagian mereka (ulama’) berpendapat bahwa sangkakala akan ditiup dua kali. Wallahu ‘alam ini adalah pendapat yang dipegang oleh penulis. Dalilnya ialah firman Allah c:

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ

“Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam. Tiupan pertama itu diringi oleh tiupan ke dua“. (QS. An Nazi’at ayat: 6-7)

Imam Ibnu Katsir 5 berkata tentang ayat di atas:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسِ : هَمَّا النَّفْخَتَانِ الأولى وَالثَّانِيَةُ، وَهَكَذَا قَالَ مُجَاهِدٌ وَالحَسَنُ وَقَتَادَةُ وَالضَّحَّاكُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ

“Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Keduanya adalah tiupan pertama dan kedua.’ Dan demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Al Hasan, Qotadah, Adh Dhahhak, dan yang lainnya“. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/315)

مَا الْقَارِعَةُ () وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ

“Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?”

Pada ayat yang kedua Allah c menanyakan kepada manusia tentang apa hari kiamat itu. Maka dari itu Imam Ath Thabari 5 berkata tentang ayat yang kedua:

يقول تعالى ذكره معظما شأن القيامة والساعة التي يقرع

“Allah berkata demikian untuk mengagungkan (membesarkan) tentang perkara hari kiamat yang mengejutkan tersebut“. (Tafsir Ath Thabari, 24/574)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin 5 senada juga berkata :

(ما) هنا استفهام بمعنى التعظيم والتفخيم يعني: ما هي القارعة التي ينوه عنها

“Kata-kata (ما) disini adalah pertanyaan yang bermakna pengagungan dan pembesar- besaran. Yaitu apa itu al qari’ah yang dibesar-besarkan itu“. (Tafsir Juz ‘Amma milik Syaikh ‘Utsaimin hal: 296)

Lalu Allah c mengulangi pertanyaan itu (hari kiamat) lagi pada ayat yang ketiga. Imam Ath Thabari 5 berkata:

وما أشعرك يا محمد أي شيء القارعة  

Apa yang engkau timbulkan (dari perasaan) wahai Muhammad tentang hari kiamat“. (Tafsir Ath Thabari 24/574)

Imam Al Qurthubi 5 juga berkata:

كلمة استفهام على جهة التعظيم والتفخيم لشأنها، كما قال: الحاقة ما الحاقة وما أدراك ما الحاقة

“Ini adalah pertanyaan yang bermakna pengagungan dan pembesar-besaran tentang keadaan (hari kiamat) tersebut. Seperti yang juga Allah firmankan dalam surat Al Haqqah (ayat 1-3)”. (Al Jami’ li Ahkamil Qur’an 20/73)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin 5 juga berkata:

هذا زيادة في التفخيم والتعظيم والتهويل

“Ini adalah tambahan (penekanan) dalam rangka membesar-besarkan, mengagungkan, serta memberikan (perasaan) memilukan“. (Tafsir Juz ‘Amma milik Syaikh ‘Utsaimin hal: 296)

Lihatlah betapa agung dan dahsyatnya tentang perkara hari kiamat, sampai Allah c dalam tiga ayat yang bergandengan bertanya dalam dua ayat-Nya. Hati mana yang tak pilu mendengar tentang nama hari kiamat? Mata mana yang tidak meneteskan air mata ketika melihat peristiwa hari kiamat?

Apakah kita bisa melihat peristiwa – peristiwa hari kiamat? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيُ الْعَيْنِ، فَلْيَقْرَأُ (إِذَا الشَّمْسُ كُوّرَتْ) ، وَ(إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ) ، وَ(إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ)

“Barangsiapa yang ingin melihat (peristiwa-peristiwa yang akan terjadi) pada hari kiamat dengan kedua matanya, hendaknya dia membaca ‘Idzasy Syamsu Kuwwirot’ (surat AtTakwir), ‘Idzas Samaa Unsyaqqot’ (surat Al Insyiqaq), dan ‘Idzas Samaa Unfathorot’ (surat Al Infithar)”. (HR. At Tirmidzi no: 3333 dan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no: 1080)

يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ

“Pada hari itu manusia adalah seperti laron yang bertebaran”

Lalu Allah ta’ala menceritakan sebagian kondisi manusia yang berada pada hari kiamat. Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata tentang ayat di atas:

أي في انتشارهم وتفرقهم وذهابهم ومجيئهم من حيرتهم مما هم فيه كأنهم فراش مبثوث

“Mereka bertebaran dan berhamburan kesana dan kemari disebabkan kebingungan saat menghadapi huru-hara yang sangat menakutkan pada hari itu, sehingga mereka mirip dengan laron yang bertebaran”. (Tafsir Ibnu Katsir 4/609)

Kemudian makna dari الفَرَاشِ pada ayat ini adalah:

هذه الطيور الصغيرة التي تتزاحم عند وجود النار في الليل وهي ضعيفة وتكاد تمشي بدون هدى

“Burung-burung kecil yang (terbang) berdesakan ketika munculnya api (cahaya) pada malam hari. Dia lemah dan hampir- hampir terbang tanpa adanya petunjuk“. (Tafsir Juz ‘Amma milik Syaikh ‘Utsaimin hal: 296)

Hal ini (makna al farosy) juga tertuang dalam sebuah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا وَأَنَا آخِذُ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي

“Perumpamaan diriku dan perumpamaan kalian, bagaikan seorang yang menyalakan api. Lalu mulailah kupu-kupu dan laron-laron berjatuhan pada api itu. Sedangkan ia selalu mengusir (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Demikian pula aku, memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian dari neraka, namun kalian (ingin) melepaskan diri dari tanganku”. (HR. Muslim no: 4236)

Begitulah kondisi manusia saat dibangkitkan dari dalam kuburnya. Mereka bangkit, kebingungan, bertebaran tanpa arah. Di ayat lain, Allah ta’ala menggambarkan kondisi manusia pada hari kiamat layaknya belalang. Allah ta’ala berkata:

خُشْعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنتَشِرٌ (7) مهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ

Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu, lalu orang-orang kafir berkata: “Ini adalah hari yang berat“”. (QS. Al Qamar ayat: 7-8)

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan

Kalau kita melihat apa fungsi dari gunung, kita bisa melihat dalam sebuah ayat:

وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ

“Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An Naba’ ayat: 7)

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata tentang makna gunung sebagai pasak maksudnya adalah:

جعلها لها أوتادا أرساها بها وثبتها وقررها حتى سكنت ولم تضطرب بمن عليها

“Dia menjadikan pada bumi sebagai pasak-pasak untuk menstabilkan dan mengokohkannya serta memantapkannya sehingga bumi menjadi tenang dan tidak mengguncangkan orang-orang dan makhluk yang ada di atasnya“. (Tafsir Ibnu Katsir 8/302)

Kemudian pada ayat ini Allah ta’ala menceritakan Kembali tentang sebagian kisah yang terjadi pada saat hari kiamat ditegakkan. Gunung-gunung yang selama ini kita anggap indah, tinggi menjulang ke langit, kokoh sebagai pasak bumi ternyata dihambur-hamburkan oleh Allah ta’ala. Dalam ayat yang lain, Allah ta’ala berkata:

وَيُسَتِ الْجِبَالُ بَسًّا فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثَّا

“Dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur- hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan”. (QS. Al Waqi’ah ayat: 5-6)

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata:

فتتت فتا. قاله ابن عباس ومجاهد، وعكرمة، وقتادة، وغيرهم وقال ابن زيد : صارت الجبال كما قال الله تعالى: يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مُّبِيلًا

“Bumi hancur sehancur-hancurnya, ini pendapat Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Qotadah, dan selainnya. Ibnu Zaid berkata: Bumi akan seperti firman Allah ta’ala dalam surat Al Muzammil ayat 14: ‘Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan””.(Tafsir Ibnu Katsir 4/311)

Bisa kita bayangkan betapa kokohnya gunung, namun dengan kekuasaan-Nya Dia jadikan seperti debu-debu yang beterbangan. Lalu bagaimana dengan diri kita wahai manusia? Yang tidak lebih besar dan tidak lebih kokoh daripada gunung-gunung ciptaan-Nya.

Kemudian pada ayat yang keenam hingga kesebelas Allah ta’ala menceritakan dua golongan yang masing-masing mendapatkan balasan atas apa yang terlah diperbuat ketika di dunia. Allah ta’ala berkata:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya. Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan“.

Orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan saat di dunia ikhlas karena Allah ta’ala dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kebaikan tersebut akan menjadi pemberat timbangannya ketika di akhirat kelak. Amalan-amalan pemberat timbangan kebaikan sangatlah banyak. Diantaranya ialah kalimat tauhid dan perbuatan mentauhidkan Allah ta’ala. Seperti dalam kisah sahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ أَوْصِنِي

“Wahai Rasulullah, berilah wasiat kepada diriku”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَأَتْبِعْهَا حَسَنةٌ تَمحُهَا

“Apabila engkau melakukan keburukan, maka ikutilah keburukan tadi dengan kebaikan. Niscaya kebaikan tersebut akan menghapusnya“.

Lalu Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata lagi:

يَا رَسُولَ اللهِ أَمِنَ الْحَسَنَاتِ لَا إِلَهَ إلَّا اللهٌ؟

“Ya Rasulullah, apakah kalimat ‘Laa Ilaaha Illallahu’ termasuk kebaikan?”

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

هِيَ أَفْضَلُ الْحَسَنَاتِ

Kalimat itu adalah kebaikan yang paling utama“. (HR. AI Albani dalam Shahih At Targhib no: 21525)

Dalam hadis lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha illallahu’, dan dia berharap wajah Allah dari ucapannya tersebut”. (HR. Al Bukhari no: 425)

Lalu amalan yang memberatkan timbangan kebaikan kita kelak ialah mengikuti jalannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta para sahabat radhiallahu ‘anhum. Baik dalam ibadah, muamalah, keseharian, maka kita wajib mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللهِ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تحتها الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. An Nisaa’ ayat: 13)

Diantara amalan lain yang memberatkan timbangan dan membuat manusia bahagia pada hari kiamat ialah seseorang berusaha untuk memiliki akhlak yang baik. Dengan tidak karena mengharapkan sesuatu atau menghindar dari sesuatu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

ما من شيءٍ أَثْقَلُ في الميزانِ مِن حُسْنِ الخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu yang paling berat di dalam timbangan melainkan akhlak yang baik“. (HR. Abu Dawud no: 4799)

Masih banyak amalan-amalan lain yang memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat. Untuk menjadi golongan yang pertama, kita harus mewaspadai dosa- dosa. Baik itu dosa-dosa yang besar dan dosa-dosa yang kecil. Karena sering sekali setan menjerumuskan manusia ke dalam dosa melalui pintu-pintu kebaikan.

Maksudnya adalah seseorang beramal yang zahirnya (nampaknya) adalah kebaikan, namun dalam hatinya dia melakukan kebaikan tersebut bukan karena Allah ta’ala

Lalu pada ayat yang kedelapan dan kesembilan Allah ta’ala menceritakan golongan yang lainnya. Golongan yang nasibnya memilukan ketika hari kiamat. Golongan yang kesedihannya tak ada akhirnya. Golongan yang tidak akan merasakan kenikmatan- Kenikmatan lagi sebagaimana yang ia rasakan saat di dunia. Allah ta’ala berkata:

وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9)

“Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah“.

Betapa menyedihkan kondisi golongan yang kedua ini. Merugilah golongan yang kedua ini. Allah ta’ala berfirman dalam ayat yang lain:

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

“Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam“. (QS. Al Mu’minun ayat: 103)

Lalu pada ayat yang kesembilan pada kata-kata ’أُمّ‘ ada perbedaan maknanya adalah:

أم الدماغ والمعنى: أنه يلقى في النار على أم رأسه

“Maksudnya adalah Ad Dimagh yang berarti dia akan dilemparkan ke neraka dengan bagian kepalanya tertebih dahulu (berada di bawah)”. (Tafsir Juz ‘Amma milik Syaikh ‘Utsaimin hal: 298)

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata dalam tafsirnya:

وقال ابن زيد : الهاوية : النار، هي أمه ومأواه التي يرجع إليها ويأوي إليها، وقرأ: (ومأواهم النار) آل عمران : 151

“Ibnu Zaid mengatakan bahwa Hawiyah adalah neraka yang merupakan tempat kembali dan tempat berpulang bagi orang yang amal keburukannya lebih berat daripada amal kebaikannya. Lalu Ibnu Zaid membacakan firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat: 151: ‘sedangkan tempat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka“”. (Tafsir Ibnu Katsir 4/609)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu berkata:

وإذا كانت الآية تحتمل معنيين لا يترجح أحدهما على الآخر ولا يتنافيان فإنه يؤخذ بالمعنيين جميعاً فيقال: يرمى في النار على أم رأسه، وأيضاً ليس له مأوى ولا مقصد إلا النار

“Apabila ayat ini mengandung dua makna yang kedua-duanya tidak bisa dikuatkan dan juga tidak bisa dilemahkan, maka kita ambil kedua penafsiran ini. Kita katakan: Orang ini dilemparkan ke neraka dengan bagian depannya terlebih dahulu, dan tidak ada tempat kembali baginya selain neraka”.

Siksa neraka itu adalah siksa yang abadi dan tiada hentinya. Allah ta’ala berkata:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصلِيهِمْ نَارًا كَلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بُدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا العَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam Neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. An Nisa’ ayat: 56)

وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارُ حَامِيَةٌ (11)

“Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? Api yang sangat panas”.

Pada ayat yang kesepuluh ini Allah ta’ala bertanya kembali kepada manusia. Allah ta’ala bertanya demikian dalam rangka mengingatkan manusia dengan sesungguh-sungguhnya bahwa neraka bukanlah hal yang dipandang sebelah mata. Hendaknya manusia tidak bertingkah yang membuat dia panen dosa pada hari kiamat. orang yang masuk neraka adalah Kehinaan, Allah ta’ala berkata:

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِل النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun“. (QS. Ali Imran ayat: 192)

Api neraka sangatlah panas. Bahkan panasnya dunia ini satu per tujuh puluh bagian dari api neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نارُكم هذه ما يُوقدُ بنُو آدمَ جُزْءٌ واحد من سبعين جزءاً من نار جهنَّم

“Api yang dinyalakan oleh anak keturunan Adam adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya api Jahannam”. (HR. AI Bukhari no: 3265 dan Muslim no: 2834)

Neraka panasnya sangat tinggi. Sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَهْوَنَ أهل النارِ عذاباً مَنْ لَهُ نَعْلانِ وشراكان من نار يغلي منهما دماغه كما يغلي المِرْجَل ما يَرَى أَنَّ أحداً أَشدُّ مِنْهُ عَذَاباً وَإِنَّهُ لَأَهُونُهُمْ عذابا

“Penduduk neraka yang paling ringan siksaannya di neraka adalah seseorang yang memakai dua sandal neraka yang memiliki dua tali. Kemudian otaknya mendidih karena panasnya sebagaimana mendidihnya air di kuali. Orang tersebut merasa tidak ada orang lain yang siksanya lebih pedih dari siksaannya. Padahal siksaannya adalah yang paling ringan diantara mereka”. (HR. Muslim no: 213)

Bahkan dalam hadis lain, satu celupan di dalam api neraka membuat lupa semua kenikmatan- kenikmatan dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يؤتى بأنعم أَهلِ الدُّنيا من أَهلِ النار يومَ القيامةِ فيُصبغ في النَّارِ صبغة ثم يقال يا ابن آدم هل رأيت خيرا قط هل مرَّ بِك نعيم قط فيقول لا والله يا ربّ ويؤتى بأشدّ النَّاسِ بؤسا في الدُّنيا من أَهلِ الجنَّةِ فيُصبَغُ صبغة في الجنَّةِ فيقال له يا ابن آدم هل رأيت بؤساً قط هل مرَّ بِك شدَّةٌ قط فيقول لا واللَّهِ يا رَبِّ مَا مَرَّ بي بؤس قط ولا رأيتُ شَدَّةً قط

“Didatangkan penduduk neraka yang paling banyak nikmatnya di dunia pada hari kiamat. Lalu ia dicelupkan ke neraka dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sedikit saja?’ la mengatakan: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku.” Didatangkan pula penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? apakah engkau pernah merasakan Kesulitan sekali saja? la menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-kul Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalaminya“. (HR Muslim no: 2807)

Wahai kaum muslimin, renungkanlah kejadian-kejadian di atas. Jangan anggap remeh perkara hari kiamat. Atau jika tidak, engkau menyesali harimu kelak selama-lamanya.

Penulis : Ustadz Ananda Ridho Gusti

Majalah Bulan Maret, 2019 Edisi 75

]]>
https://nidaulfithrah.com/hati-yang-terketuk/feed/ 0