Akhlak – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Tue, 21 Apr 2026 06:37:33 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Akhlak – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 5 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-5/ Tue, 21 Apr 2026 06:37:33 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21766 Lanjutan Poin 4: Hati-Hati dalam Bergaul 

Dari Abu Ya’qub Al-Madani, dia berkata: Terjadilah perselisihan antara Hasan bin Hasan dan Ali bin Husain. Ketika Ali bin Husain sedang berada di tengah-tengah kawannya di masjid, Hasan bin Hasan mendatanginya dan mengatakan kepadanya banyak perkataan. Ali pun terus menimpali setiap apa yang dikatakannya. Lalu Ali terdiam. Hasan pun pergi. Di suatu malam Ali mendatangi Hasan di rumahnya. Dia mengetuk pintu rumahnya, Hasan pun keluar menemuinya. 

Ali berkata: “Wahai saudaraku! Jika kamu benar dengan perkataanmu, semoga Allah mengampuni aku. Dan, jika kamu berdusta, maka semoga Allah mengampuni kamu…..Assalamu’alaikum.” Dia pun pergi. 

Namun, Hasan terus membuntutinya sambil terus menangis sedih lalu mengatakan: “Sudahlah tidak mengapa, aku tidak akan mengulangi lagi berbuat sesuatu yang kamu tidak menyukai. Ali meresponnya dengan mengatakan: Tidak ada masalah kok dengan ucapanmu kepadaku…”

Dari Malik bin Anas, dia berkata: Said bin Al-Musayyab berkata: “Tidak ada satupun orang berilmu atau orang mulia atau pemilik keutamaan melainkan pasti memiliki aib. Tetapi, ada sebagian manusia yang memang tidak sepatutnya disebutkan aibnya, yaitu orang keutamaannya lebih banyak daripada kekurangannya. Kerena kekurangannya itu telah tertutupi oleh keutamaannya.”

5. Adab Kepada Ulama

Ibnu Basykual mengisahkan tentang Ibrahim Al-Harbi: Saya menukil dari kitab Ibnu ‘Attab bahwa Ibrahim Al-Harbi adalah orang sholeh dari kalangan ahli ilmu. Beliau mendengar berita bahwa orang-orang mengutamakan untuk bermajlis bersama beliau daripada Ahmad bin Hanbal. Beliau mengkonfirmasikan yang demikian itu kepada mereka dan merekapun membenarkannya. 

Beliau berkata: “Sungguh kalian telah  mendzalimiku dengan mengutamkanku daripada orang yang aku tidak bisa menyerupainya dan mengejarnya dalam berbagai hal. Oleh karena itu aku bersumpah untuk tidak memperdengarkan ilmu sedikitpun kepada kalian. Mulai hari ini, janganlah datang kemari.”

Dari Abu Wail bahwa Ibnu Mas’ud melihat seseorang isbal (kainnya terurai sampai di bawah mata kaki).

Beliau mengatakan: Angkatlah kainmu! 

Dia membantah dengan mengatakan: Kamu juga wahai Ibnu Mas’ud! Naikkan kainmu.

Beliau menjelaskan: Adapun aku ini pada kedua betis kakiku kecil sementara aku mengimami kaum.

Kejadian ini terdengar oleh Umar bin Khaththob. Beliaupun memukul orang tersebut dengan mengatakan: Apakah kamu membantah Abdullah Ibnu Mas’ud?

Dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah bahwa Ibnu Abbas berdiri menuju Zaid bin Tsabit untuk berkhidmah menyiapkan tunggangan baginya.

Beliau mencegah dengan mengatakan: Tidak usah, wahai putra paman Rasulullah!

Ibnu Abbas menjawab: Beginilah yang biasa kami lakukan terhadap ulama dan pembesar kami.

Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi berkata: ‘Atho bin Abi Robah adalah seorang budak hitam milik seorang wanita penduduk Makkah. Suatu ketika datanglah Sulaiman bin Abdul Malik seorang Amirul Mukminin menghadap beliau bersama kedua anaknya. Mereka terus duduk menunggu beliau yang sedang shalat. Tatkala sudah selesai shalat, beliau menoleh ke mereka. Mereka terus menanyakan kepada beliau tentang manasik haji padahal beliau sudah memalingkan punggungnya membelakangi mereka. 

Sulaiman pun memerintahkan kedua putranya: Ayo bangun. Keduanya lantas berdiri. 

Beliau mengatakan: Wahai anak-anakku janganlah kalian berdua terlambat dalam menuntut ilmu, karena aku tidak akan pernah lupa tentang kehinaan kita di hadapan budak hitam ini.

Dari Umar bin Mudrok, Kami diberitahu Qosim bin Abdurrahman, Kami diberitahu Asy’ats bin Syu’bah Al-Mushyyishi, dia berkata: Manusia berlarian di belakang Ibnul Mubarok hingga sandal-sandalnya putus dan debu bertaburan. Hal ini menjadikan seorang Ibu dari anak Amirul mukminin bangkit dari kursi kayunya dan mengatakan: Demi Allah ta’ala, inilah kerajaan yang sesungguhnya tidak sebagaimana Raja Harun yang baru bisa mengumpulkan manusia dengan iming-iming dan pemberian.

6. Adab Berbicara

Dari Kholaf bin Tamim, telah memberitahukan kami Abdullah bin Muhammad dari Al-Auza’i, dia berkata: Umar bin Abdul Aziz menulis surat untuk kami. Tidak ada yang menghapalnya kecuali saya dan Makhul. “Amma ba’du, sungguh barangsiapa yang banyak mengingat kematian niscaya ia ridho dengan sedikitnya dunia. Dan barangsiapa yang bisa menghitung perkataannya daripada perbuatannya niscaya dia akan sedikit berbicara kecuali kalau ada manfaatnya. Wassalamu ‘alaikum”

Fudhail bin ‘Iyyadh ditanya: Apa itu zuhud?

Beliau menjawab: “Zuhud itu menerima apa adanya (qona’ah)”

Apa itu wara’?

Beliau menjawab: “Menjauhi perkara-perkara yang haram”

Apa itu ibadah?

Beliau menjawab: “Menunaikan perkara-perkara yang wajib”

Apa itu tawadhu’?

Beliau menjawab: “Tunduk kepada kebenaran. Dan, ketahuilah! Wara’ yang paling tinggi itu ada di lisan”

Ahmad bin Abu Al-Hawari berkata: Telah memberitahukan kami Abu Abdillah Al-Anthoki, dia berkata: Fudhoil dan Ats-Tsauri berkumpul. Keduanya ber-mudzakarah.

Sambil menangis Sufyan meninggalkan majlis dengan mengatakan: “Saya berharap majlis ini merupakan rahmat dan keberkahan untuk kita.”

Fudhoil menimpali: “Tetapi Wahai Abu Abdullah, justru aku khawatir majlis ini telah membahayakan kita. Bukankah Anda membatasi diri dengan sebaik-baiknya pembicaraan demikian juga aku?! Anda berhias diri untukku dan juga aku berhias diri untukmu.”

Sufyan pun menangis dan berkata: “Anda telah menghidupkanku, semoga Allah ta’ala menghidupkan kamu.”

Dari Sahl bin Abdullah At-Tusturi, dia berkata: Termasuk akhlak para Ash-Shiddiqin adalah tidak bersumpah, tidak ghibah, tidak kenyang, tidak menyelisihi janji, dan tidak bercanda kecuali sekedarnya saja.

7. Ikhlas dan Jujur

Dari Abdullah bin Mubarok, dia berkata: Dikatakan kepada Hamdun bin Ahmad: ”Mengapa perkataan para Salaf lebih bermanfaat daripada perkataan kita?”

Dia menjawab: “Karena mereka berbicara demi kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan keridhoan Ar-Rohman. Sementara kita berbicara demi kemuliaan pribadi, kepentiangan duniawi dan keridhoan makhluk”.

Dari Fudhoil bin ‘Iyyadh, dia berkata: “Betapa kasihan kalian ini! Anda berbuat keburukan tetapi merasa berbuat kebaikan. Anda bodoh tetapi merasa pintar. Anda bakhil tetapi merasa dermawan. Anda gegabah tetapi merasa bijaksana. Ketahuilah! Umur Anda pendek tetapi angan-angan Anda panjang”.

Adz-Dzahabi berkata: Wallahi… Benarlah…Anda zholim tapi merasa dizholimi. Anda masih makan yang haram tapi merasa wara’. Anda masih fasik tapi merasa sudah adil. 

8. Rasa Takut kepada Allah

Dari Qobishoh bin Qois Al-Anbari, dia berkata: Adh-Dhohak bin Muzahim jika memasuki sore hari menangis. Ketika ditanyakan kepadanya sebab menangisnya, dia menjawab: Saya tidak tahu bagaimana kondisi amalanku dinaikkan (kepada Allah).

Dari Kinanah bin Jublah As-Sulami, dia berkata: Bakar bin Abdullah berkata: Jika Anda melihat orang yang lebih tua dari Anda, katakanlah: Dia telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih, maka dia lebih baik dari saya.

Jika Anda melihat orang yang lebih muda dari Anda, katakanlah: Saya lebih banyak maksiat dan dosanya daripada dia, maka dia lebih baik daripada saya. 

Jika Anda melihat orang menghormati dan memuliakan Anda, katakanlah: Ini adalah sebuah keutamaan yang mereka telah mengambilnya.

Jika Anda melihat orang meremehkan Anda, katakanlah: Ini adalah akibat dosa-dosa yang telah saya lakukan.

Dari Qosim bin Muhammad, dia mengatakan: Kami melakukan safar bersama Ibnu Mubarok. Seringkali terbersit di dalam hati saya tentang beliau, “Sesuatu apa yang telah menjadikan beliau lebih utama daripada kita hingga begitu terkenal di tengah-tengah manusia. Dia shalat, kami pun sholat. Dia berpuasa, kami pun berpuasa. Jika dia berjihad, kami pun berjihad. Jika dia berhaji, kami pun berhaji. 

Suatu ketika di dalam perjalanan malam di Syam, kami singgah di suatu rumah untuk makan malam. Ketika itu lampu mati. Sebagian kami keluar untuk mengambil lampu penerangan. Kami diam sejenak. Lalu, datanglah lampu. Ketika itu saya melihat wajah dan jenggot Ibnu Mubarok basah dengan air mata. Saya bergumam dalam hati: khosyah (takut) inilah yang telah menjadikan beliau lebih utama daripada kita. Bisa jadi selama gelap tadi dia teringat kondisi kegelapan hari Kiamat.

9. Menjaga Persahabatan

Yunus Ash-Shodafi mengatakan: Saya tidak melihat orang yang lebih bijak melebihi Imam Asy-Syafi’i. Suatu hari saya berdebat dengannya tentang suatu masalah, lalu kami berpisah. Setelah itu datanglah dia menemuiku dan meraih tanganku kemudian berkata: Wahai Abu Musa! Bukankah kita harus berlanjut sebagai saudara meskipun tidak sepakat dalam suatu masalah.

F. Penutup

Kita memohon kepada Allah semoga memberikan kita taufiq sehingga terus berkemampuan untuk memperbagus akhlak kita. Bagaimana kita tidak terlecut untuk terus memperbagus akhlak dengan fadhilahnya yang sangat tinggi. Aamiin.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 4 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-4/ Mon, 20 Apr 2026 06:10:27 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21755 Lanjutan dari Akhlak Para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Secara Umum

36. Mudah memaafkan dan berlapang dada atas kesalahan yang diperbuat orang lain terhadap dirinya

37. Tidak mencemaskan masa depan keturunannya yang terkait dengan kehidupan duniawi

38. Tidak malas berziarah kubur

39. Tidak lalai dari mengingat Allah ta’ala dan bershalawat untuk Nabi shalallahu alahi wasallam

40. Lembut hatinya dan banyak menangis

41. Memandang hina dunia

42. Malu untuk bolak-balik buang hajat

43. Tidak mencemaskan urusan rizki

44. Tetap berlapang dada ketika materi duniawi tidak didapatkannya

45. Tidak disibukkan dengan urusan membangun rumah

46. Menyayangi semua muslim baik yang taat ataupun yang tidak taat

47. Menyayangi binatang

48. Terus melatih diri dan memperbanyak amalan secara tersembunyi

49. Menyayangi pelaku maksiat dengan tidak menghinakan mereka

50. Sangat besar “nrimo”nya (qona’ah) tidak mengejar-ngejar urusan duniawi

51. Bersegera mendatangi jamaah untuk mendapati takbirotul ihram-nya imam

52. Senantiasa mengkhawatirkan masuknya penyakit ke dalam ilmu dan amalannya

53. Membatasi diri terhadap orang-orang yang merapat ke penguasa

54. Suka menanyakan kabar kawan-kawannya

55. Tidak berlebih-lebihan di dalam perkara yang mubah

56. Saling menasehati dan senang menerima nasehat serta berterimakasih kepada pemberi nasehat

57. Mereka tidak memberi nasehat dan wasiat kecuali kepada orang yang diketahui berdasarkan indikasi bisa menerima nasehat

58. Senantiasa memandang bahwa amalan yang telah dilakukan sangatlah sedikit

59. Mencela seseorang yang memutus kebiasaan saling mengunjungi

60. Bersahaja, tenang, wibawa, dan sedikit berbicara

61. Menghindari bisnis perdagangan kecuali setelah mengetahui persis tentang hukum perdagangan tersebut

62. Memperbesar kesabaran terhadap orang yang berbuat zhalim kepada dirinya

63. Meningkatnya rasa takut dan semakin mendekat kepada Allah ta’ala setiap kali merasakan adanya kebaikan-kebaikan dari-Nya

64. Banyak diam, berbicara hanyalah ketika ada hikmah

65. Tidak pernah dengki kepada sesama muslim

66. Sering lapar dan menghindari kenyang

67. Di dalam bermajlis menutup rapat-rapat untuk terjadinya ghibah

68. Tidak membeberkan kepada seorang pun sesuatu yang didengarnya yang dipandang sebagai perkara rahasia

69. Sangat bersedih setiap kali terlewatkan dari suatu amaliah peribadahan

70. Banyak bersabar ketika ditimpa musibah sehingga tidak berucap dan bertindak kebodohan.

71. Senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan ridho dengan segala keputusan-Nya

72. Mempersaksikan pada dirinya sendiri bahwa ia belum berbuat apa-apa sebagai bentuk kesyukuran kepada Tuhannya

73. Sangat teliti di dalam masalah ketakwaan

74. Senantiasa menutupi aib sesama saudara muslim

75. Menghormati tamu dengan turun tangan sendiri langsung kecuali kalau ada udzur

76. Tidak menghadiri jamuan makanan dari harta syubhat

77. Mengupayakan senantiasa bersedekah dari setiap kelebihan kebutuhannya

78. Bersikap ramah setiap kali ada orang yang bertanya

79. Tidak menjadikan teman kecuali orang-orang yang diketahui senantiasa menunaikan kewajibannya.

80. Tidak suka bermusuhan dengan siapapun

81. Sibuk dengan aibnya sendiri daripada aib orang lain

82. Tetap menunjukkan sikap yang baik kepada orang-orang yang berperangai kasar

83. Menjaga muru’ah (harga diri)

84. Senang berbuat kebaikan untuk orang lain

85. Menghindarkan diri dari ‘ujub atas kebaikan-kebaikan yang telah diperbuatnya

86. Selalu memperhatikan orang-orang yang kelaparan

87. Banyak memotivasi diri untuk beribadah dan meningalkan syahwat

88. Banyak ber-istighfar dan takut akan murka Allah setiap kali membaca Al-Qur’an

89. Senantiasa menyiapkan diri untuk menunggu awal waktu sholat

90. Tetap nyaman dengan kondisi kefakiran dan kesulitan hidup, sebaliknya justru gelisah ketika berlimpah kekayaan

91. Malu dari pandangan makhluk terlebih dari pandangan Allah ta’ala

92. Zuhud dari dunia dan mencela orang yang mengejar-ngejarnya

93. Memilih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya tidak sampai meminta-minta kepada orang lain untuk tetap beribadah dengan semestinya

94. Mencintai orang-orang miskin dan tawadhu’ di hadapan mereka

95. Mencintai harta demi untuk diinfaqkan bukan untuk disimpan

E. Keteladanan Para Salaf

Berikut ini saya nukilkan beberapa contoh keteladanan dari para Salaf dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqi-s-Salaf yang ditulis oleh Syaikh Abdul Aziz bin Nash al-Jalil dan Syaikh Bahaudin bin Fatih ‘Uqoil yang dicetak Darut-Thaybah lin-Nasyr wat-Tawzi’.

1. Tidak menyukai popularitas

Dari Habib bin Abu Tsabit, dia berkata: Suatu hari Ibnu Mas’ud keluar. Manusia mengikutinya. Beliau bertanya kepada mereka: Apakah kalian ada keperluan? Mereka menjawab: Oh, tidak. Kami hanya ingin berjalan bersama Anda. Beliau berkata: Pulanglah kalian! Sungguh hal ini adalah kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.

Dari Harits bin Suwaid, dia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: Kalau kalian mengetahui sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku niscaya kalian akan menaburkan tanah di kepalaku.

Dari Busthom bin Muslim, dia berkata: Muhammad bin Sirin jika berjalan lalu ada orang yang mendampinginya, maka beliau bertanya: Apakah kamu ada keperluan? Kalau ada keperluan, beliau memenuhinya. Jika kembali mendampingi berjalan, beliau bertanya lagi: Apakah masih ada keperluan?

Hasan ( Mungkin Hasan bin Ar-Robi’, atau mungkin Hasan bin Arofah, atau mungkin Hasan bin Isa Masarji) berkata: Suatu hari saya bersama Ibnu Mubarok mendatangi tandon air. Manusia meminum air darinya. Ketika beliau mendekatinya untuk minum, dan manusia tidak mengenalinya beliaupun berdesak-desakan untuk mendapatkannya. Ketika keluar, beliau berkata: Beginilah seharusnya hidup! Kita tidak dikenal dan tidak dimuliakan….

Hasan juga mengkisahkan: Ketika beliau berada di Kufah, dibacakanlah kitab kepada beliau tentang manasik…. dan seterusnya hingga terjadi perbincangan, beliau berkata: Demikianlah seharusnya kita menunaikan manasik. Lalu beliau bertanya: Siapa yang menulis dari perkataanku ini? Saya katakan kepadanya: seorang penulis telah menulisnya. Beliau masih saja terus menggaruk-garuknya dengan tangannya hingga terhapus. Kemudian beliau berkata lagi: Siapakah saya ini hingga perkataanku ditulis?

2. Takut ‘ujub

Tsabit al-Bunani berkata: Abu Ubaidah berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya saya ini orang Quraisy, siapapun kalian dari bangsa kulit merah atau kulit hitam yang melampauiku dengan ketakwaan melainkan aku ingin menjadi kulitnya.

Maksud ucapan ini, beliau ingin menempuh jalan sebagaimana mereka.

Dari Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ atau yang lainnya bahwa ada seseorang berkata kepada Ibnu Umar: Wahai sebaik-baiknya manusia! Putra dari sebaik-baiknya manusia! Beliau merespon dengan mengatakan: Saya ini bukan sebaik-baiknya manusia dan juga bukan putra dari sebaik-baiknya manusia tetapi saya ini seorang hamba Allah ta’ala sebagaimana hamba Allah ta’ala lainnya. Saya senantiasa berharap kepada Allah ta’ala dan takut kepada-Nya. Demi Allah! Kalian akan terus bersama seseorang hingga kalian membinasakannya.

Abu-l-Usyhub meriwayatkan dari seseorang bahwa Muthorrif bin Abdullah berkata: Jika Anda tertidur (tidak melakukan qiyamullail, Pent) kemudian di pagi harinya Anda menyesali maka yang demikian itu lebih saya sukai daripada di malam hari Anda menunaikan qiyamullail lalu di pagi harinya merasa ‘ujub. Adz-Dzahabi mengatakan: Sungguh tidak beruntung orang yang ‘ujub, orang yang memandang dirinya suci.

Wahb bin Munabbih berkata: Hafalkanlah dari tiga perkara: Jauhilah oleh kalian hawa nafsu yang diikuti, teman yang buruk, dan membanggakan diri sendiri.

3. Sabar terhadap musibah

Dari Al-Mubarrid, dikatakan kepada Hasan bin Ali bahwa Abu Dzar mengatakan: Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan, sakit lebih aku sukai daripada sehat. Beliau merespon dengan mengatakan: Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun saya mengatakan: Barangsiapa menyandarkan dirinya kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan pernah menginginkan sesuatu. Inilah makna ridho terhadap apa yang telah ditetapkan.

Dari Wahb bin Munabbih bahwa Isa alaihissalam berkata kepada Hawariyyin: Orang yang paling gelisah terhadap musibah adalah orang yang paling cinta kepada dunia.

Dari Asy-Sya’bi, Syuraih berkata: Sesungguhnya saya ditimpa musibah, maka saya memuji Allah empat kali:

a. Saya memuji Allah ta’ala karena musibahnya tidak lebih besar dari yang ditimpakan sekarang ini

b. Saya memuji Allah ta’ala karena diberi rizki berupa sabar untuk menghadapinya

c. Saya memuji Allah ta’ala karena telah memberi saya taufiq untuk beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un) demi mendapatkan pahala karenanya

d. Saya memuji Allah ta’ala karena Dia tidak menimpakan musibah pada agama saya

Ghossan bin al-Mifdhol Al-Gholaby berkata: Saya diberitahu oleh sebagian teman-teman bahwa ada seseorang datang menemui Yunus bin Ubaid mengeluhkan tentang keadaannya dan sempitnya kehidupan. 

Beliau bertanya: “Apakah kamu mau bola matamu dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Tidak”.

Beliau bertanya lagi: “Bagaimana dengan telingamu, mau dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Tidak mau”.

Beliau bertanya lagi: “Bagaimana dengan lidahmu, mau dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Sama sekali tidak mau”.

Lalu beliau mengingatkannya tentang nikmat-nikmat Allah ta’ala dan berkata: “Saya melihat pada dirimu ada rizki ratusan ribu dinar tapi kamu masih mengeluhkan rizki?

4. Hati-hati di dalam bergaul 

Dari Humaid Ath-Thowil, dari Abu Qilabah, dia berkata: Jika Anda mendengar informasi buruk tentang temanmu, maka carilah alasan-alasan untuk memakluminya (sehingga Anda tidak memandangnya sebagai orang yang bersalah). Jika Anda tidak mendapatkannya, maka katakanlah pada diri Anda: Mungkin dia memiliki alasan yang saya tidak mengetahuinya.

Dari Maimun bin Mahron, dia berkata: Saya mendengar Ibnu Abbas berkata: Tidaklah saya mendengar keburukan tentang seseorang melainkan aku mensikapinya dengan tiga sikap;

a. Jika dia lebih senior, maka saya harus tahu diri untuk tetap memuliakannya

b. Jika dia sebaya, maka aku memandangnya lebih utama dari diriku

c. Jika dia lebih junior, maka saya tidak mau bermajlis atau berkumpul dengannya. 

Demikianlah aku, kalau ada yang tidak suka dengan sikapku ini, maka silahkan saja bumi Allah ta’ala itu luas.

Diriwayatkan dari Roja’ bin Haywah, dia berkata: Barangsiapa tidak mau berteman kecuali dengan orang yang tidak ada aibnya niscaya sedikit temannya. Barangsiapa tidak ridho kecuali terhadap teman yang benar-benar bersih dari aib maka selama-lamanya dalam kesalahan. Barangsiapa mencela temannya atas setiap aibnya niscaya banyak musuhnya.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 3 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-3/ Fri, 17 Apr 2026 07:10:36 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21751 e. Posisi orang yang berakhlak mulia paling dicintai dan paling dekat dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam di Hari Kiamat

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَىَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُ ونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ « الْمُتَكَبِّرُ ونَ » (سنن الترمذى )

Dari Jabir bin Abdillah radiallahu anhu secara marfū’, (Nabi bersabda), “Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik budi pekertinya di antara kalian. Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari Kiamat adalah orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami sudah tahu orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara, lantas apakah yang dimaksud dengan bermulut besar?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang sombong. (Sunan At-Tirmidzi)

Adakah yang tidak mau menjadi orang yang paling dicintai dan paling dekat posisinya dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam pada hari Kiamat. Ayo! Senantiasa memperbaiki akhlak kita.

C. Sekilas tentang Akhlak Nabi shalallahu alaihi wasallam

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Disebutkan di dalam Hadits Anas radiallahu anhu,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا (صحيح مسلم )

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya (Shahih Muslim).

Anas radiallahu anhu menuturkan demikian karena saking terkesan dengan akhlak beliau. Di antaranya  dia menyaksikan sendiri: Ketika sedang berada di rumah Anas, beliau shalallahu alahi wasallam menghendaki shalat. Beliau shalallahu alahi wasallam pun meminta hamparan yang terbuat dari pelepah kurma yang berada di bawah beliau disapu dan diciprati dengan air. Lalu beliau mengimami Anas dan keluarganya.

Anas radiallahu anhu juga menuturkan,

مَا مَسِسْتُ دِيبَاجاً وَلاَ حَرِيراً ألْيَنَ مِنْ كَفِّ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلاَ شَمَمْتُ رَائِحَةً قَطُّ أطْيَبَ مِنْ رَائِحَةِ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلَقَدْ خدمتُ رسول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ سنين ، فما قَالَ لي قَطُّ : أُ فٍّ، وَلاَ قَالَ لِشَيءٍ فَعَلْتُهُ : لِمَ فَعَلْتَه ؟ وَلاَ لشَيءٍ لَمْ أفعله : ألاَ فَعَلْتَ كَذا ؟ (رواه البخارى)

Aku tidak pernah menyentuh segala jenis sutera yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan aku sama sekali tidak pernah mencium aroma yang lebih harum dari aroma Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Sungguh aku telah membantu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah mengatakan kepadaku sama sekali “Ah”. Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang telah aku kerjakan, “Seperti apa kamu mengerjakannya?” Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang aku belum mengerjakannya, “Kenapa belum kamu kerjakan?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah azza wa jalla berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ  [القلم: 4]

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung (QS. Al-Qolam)

Disebutkan di dalam Tafsir As-Sa’di, saya terjemahkan secara bebas kurang lebihnya bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam menjadi tinggi derajatnya karena akhlak mulia yang Allah anugerahkan kepadanya. Akhlak yang agung “ خُلُقٍ عَظِيمٍ “ ditafsirkan ‘Aisyah: “Akhlak beliau adalah al-Qur’an”. Yang demikian itu sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف:199)

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’rof: 199)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ (أل عمران :159)

Maka berkat rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka (QS. Ali Imron: 159)

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُ وفٌ رَّحِيمٌ (التوبة:128)

Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. At-Taubah)

Dan ayat-ayat lainnya yang menjelaskan tentang akhlak mulia beliau.

Tentang ayat-ayat yang mengarahkan kepada akhlak mulia, maka beliau shalallahu alahi wasallam memiliki akhlak-akhlak tersebut dengan kadar tertinggi dan sempurna. Beliau orangnya lembut. Dekat dengan siapapun. Senantiasa menghadiri undangan orang yang mengundangnya. Memenuhi hajat orang yang membutuhkannya. Meringankan beban hati orang yang bertanya; beliau tidak membatasi diri dan tidak menolak dengan mengecewakan. Jika para Sahabat menginginkan sesuatu dari beliau maka beliau bersikap “klop” dengan mereka. Bahkan selama tidak ada udzur beliau berpartisipasi aktif terhadap progress suatu urusan yang beliau diminta untuk terlibat di dalamnya. Kalau ada urusan bersama, beliau senang bermusyawarah dan menerima ide yang terbaik, tidak memutuskan dari dirinya sendiri. Beliau mudah memaafkan orang yang berbuat salah. Tidaklah bermajlis (duduk-duduk) kecuali beliau bergaul dengan sikap yang terbaik. Beliau tidak bermuka masam. Tidak “mbulet” pembicaraannya. Tidak memotong pembicaraan orang yang keliru-keliru. Beliau benar-benar bergaul dengan manusia dengan sebaik-baiknya pergaulan. Beliau pun sangat bersabar di dalam bergaul dengan siapa pun. Sehingga siapapun yang bergaul dengan beliau pasti akan betah dan senantiasa merindukan kehadirannya [selesai]

Beliau shalallahu alahi wasallam sangat menjaga perasaan orang lain. Disebutkan di dalam riwayat,

عَنِ الصَّعْبِ بْنِ جَثَّامَةَ قَالَ : أَهْدَيْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا عَقِيرًا وَحْشِيًّا بِوَدَّانَ ، أَوْ قَالَ : بِالأَبْوَاءِ ، قَالَ : فَرَدَّهُ عَلَيَّ ، فَلَمَّا رَأَى شِدَّةَ ذَلِكَ فِي وَجْهِي قَالَ : إِنَّا إِنَّمَا رَدَدْنَاهُ عَلَيْكَ لأَنَّا حُرُمٌ (مسند أحمد)

Dari Sho’b bin Jatsamah, dia berkata: Aku memberi Nabi hadiah keledai liar di Waddan. Atau periwayat mengatakan di Abwa’. Lalu Nabi mengembalikannya kepadaku. Ketika beliau melihat perubahan pada wajahku karena yang demikian itu maka beliau menjelaskan: “Sesungguhnya aku mengembalikannya kepadamu karena aku sedang ihram” (Musnad Ahmad)

Di dalam Hadits ini Nabi shalallahu alahi wasallam langsung menjelaskan alasan mengembalikan hadiah. Setelah dijelaskan, Sho’b pun mengerti dan tidak kecewa. Syaikh Utsaimin menjelaskan, orang yang sedang ihram tidak diperbolehkan makan binatang yang sengaja diburu untuknya. 

Mungkin Anda pernah merasa tidak suka kalau disuruh menemui si Fulan. Karena Anda merasakan si Fulan tersebut “alot”, sulit, kaku, tidak mudah. Beliau shalallahu alahi wasallam tidaklah demikian. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رضى الله عنهما – قَالَ لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا (رواه البخارى و مسلم)

Dari Abdullah bin Amr radiallahu anhuma berkata: Nabi shalallahu alaihi wasallam tidaklah kasar dan tidak bertabiat kasar (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentang Hadits ini Syaikh Utsaimin mengatakan, Nabi itu orangnya lembut dan mudah. Tidak kasar dan jauh dari perangai kasar.

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kita taufiq sehingga berkemampuan untuk terus memperbaiki akhlak kita hingga kita menjadi orang yang paling dicintai Nabi dan paling dekat posisinya dengan beliau pada Hari Kiamat dengan Surga yang paling tinggi. Aamiin.

D. Akhlak Para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Secara Umum

Saya nukilkan akhlak para Sahabat radiallahu anhum secara umum dari kitab AKHLAQU –S-SALAFISH –SH-SHOLIH MIN KITAB TANBIHI-L- MUGHTARRIN karya Muhammad bin ‘Ulwi Al-Idrus cetakan tahun 1431 H/2010 M. Akhlak yang dimaksud di sini adalah akhlak keduanya; muamalah dengan Allah dan muamalah sesama manusia.

1. Istiqomah di dalam bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagai butuhnya orang yang terkena sengatan terik matahari kepada tempat yang teduh

2. Menyelaraskan setiap ucapan dan perbuatannya kepada Al-Qur’an dan Hadits dan ‘urf yang baik (yang tidak bertentangan dengan syariat)

3. Senantiasa menyerahkan seluruh urusan dirinya, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya kepada Allah azza wa jalla

4. Senantiasa mengupayakan keikhlasan dalam berilmu dan beramal, karena khawatir untuk terjerumus ke dalam riya

5. Meng-hajr (memboikot) seseorang yang bolak-balik mendekati penguasa tanpa suatu keperluan yang mendesak atau suatu kemaslahatan ummat. (Hal ini bisa berpotensi menjadikannya sebagai penjilat, Pent.)

6. Senantiasa mengantisipasi sifat nifak yang bisa terjadi pada setiap perbuatan baik yang tampak ataupun tersembunyi

7. Bersabar atas kezhaliman penguasa

8. Senantiasa menolong agama Allah dan murka jika syariat-Nya dilanggar

9. Sedikit tertawa dan tidak berbangga-banggaan dengan dunia

10. Memandang kematian lebih baik daripada hidup tapi terus-menerus berkubang dengan dosa

11. Terus-menerus mengingkatkan rasa khouf hingga akhir hayat

12. Sangat takut terhadap adzab Allah atau suatu dosa yang seseorang terjerumus di dalamnya

13. Sangat menjaga kemuliaan kaum muslimin dan senantiasa berharap untuk kebaikan mereka

14. Sabar atas perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh para istri terhadap diri mereka

15. Tidak meminta suatu jabatan kepemimpinan

16. Semangat untuk saling menasehati sesama kaum muslimin

17. Berperilaku dengan adab yang baik kepada junior apalagi kepada senior. Juga kepada budak (siapapun yang dipandang sebagai orang rendahan, Pent.)

18. Istiqomah dalam menunaikan qiyamullail baik di musim dingin ataupun musim panas

19. Tetap bergaul dengan orang-orang yang memusuhinya selama di tengah-tengah manusia secara umum dikenal sebagai orang baik

20. Banyak bersyukur kepada Allah

21. Komitmen dengan sunnah hingga ketika melamar wanita pun hanya melhat wajah dan kedua tangannya

22. Berperilaku dengan sebaik-baiknya adab kepada siapapun yang pernah mengajari mereka ayat atau surat Al-Qur’an ketika mereka masih kecil

23. Di dalam peribadahan, senantiasa merasakan baru sedikit apa yang telah dilakukan dan masih banyak kekurangan-kekurangannya

24. Tidak mengunggul-unggulkan dirinya sebagai penyebab hidayah bagi orang lain

25. Menjamu tamu dengan sebaik-baiknya

26. Bersikap wara’ dalam hal makanan dan minuman

27. Senantiasa mengontrol dirinya agar terlepas dari setiap sifat munafiq

28. Tidak suka menahan harta, sebaliknya justru senang berinfaq

29. Suka mendahulukan khidmah untuk Allah ta’ala daripada untuk dirinya sendiri

30. Setiap kali teringat keadaan Hari Kiamat, setiap itu pula rasa takutnya meningkat

31. Banyak mengambil pelajaran, menangis, dan lebih memperhatikan terhadap urusan kematian setiap kali melihat jenazah

32. Banyak bersedih setiap kali mengingat kematian dan sakaratul maut

33. Memandang dunia sebagai ujian, bukan pandangan cinta dan syahwat

34. Mengingatkan manusia agar jangan mengikuti keburukan-keburukan yang dijumpai pada dirinya

35. Memandang dirinya sendiri sebagai orang yang masih jauh tingkat peribadahannya secara kuantitas dan kualitas

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 2 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-2/ Thu, 16 Apr 2026 06:36:52 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21742 c. طلاقة الوجه (berwajah murah senyum)

Suatu ketika seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menerima rapot di sekolahnya berpapasan dengan seseorang yang terpandang di daerahnya. Sang ayah memanfaatkan pertemuan itu dengan menceritakan prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh putranya kepada sesepuh tersebut. Harapan sang ayah, Sesepuh akan mengomentarinya dengan pujian-pujian kepada putranya yang bisa berdampak untuk terus berpacu dalam prestasi. Namun alih-alih mendapatkan pujian sebagaimana yang diharapkan, senyum saja tidak. Sesepuh hanya berkomentar “O, iya” sambil menggeloyor pergi. Allahul Musta’an! Ini contoh akhlak yang tidak baik. Ingatlah! Murah senyum itu bagian dari akhlak yang mulia.

Akhlak mulia itu adakalanya sudah merupakan anugrah dari Allah ta’ala (طبع), di mana seseorang diberi anugerah oleh Allah ta’ala potensi suatu akhlak tertentu sehingga orang tersebut tinggal meningkatkan dan menguatkannya. Adakalanya tidak merupakan anugerah (تطبع), di mana seseorang tidak mendapatkan potensi suatu akhlak tertentu sehingga dia harus menumbuhkannya sendiri. Setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang dianugerahi akhlak berupa A, B, C, D tetapi tidak dianugerahkan E. Sementara orang lainnya dianugerahi akhlak berupa B, C, D, E tetapi tidak dianugerahi A. Maka akhlak yang belum Allah azza wa jalla anugerahkan pada seseorang, dia harus mengupayakan dari dirinya sendiri agar akhlak tersebut muncul lalu dia terus menguatkannya hingga dia benar-benar memiliki akhlak tersebut. 

Seandainya Surga dan Neraka terlihat niscaya tidak ada orang kafir di muka bumi. Semuanya beriman. Tidak ada pelaku maksiat. Semuanya berbuat ketaatan. Jadi, hikmah tidak ditampakan keduanya untuk suatu ujian. Sadarilah dunia adalah kampung ujian. AKHIRAT lah kampung tempat kita kembali dengan nilai ujian masing-masing. (Muhammad Nur Yasin Zain, Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Contoh:

  Perkoso Sugiyo Wedoro Ronggo
Jujur ×
Peduli Sekitar ×
Murah Senyum × ×
Menghormati senior
Sabar ×
Tidak Sombong

Keterangan:

1. Perkoso belum memiliki akhlak sabar, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

2. Sugiyo belum dianugerahi sifat jujur, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

3. Wedoro belum bisa murah senyum, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

4. Ronggo belum berkarakter peduli sekitar sekaligus belum murah senyum, maka dia harus berupaya keras untuk mewujudkannya.

Disebutkan di dalam Hadits,

قَالَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَ مِ اللَّهُ جَبَلَنِى عَلَيْهِمَا قَالَ « بَلِ اللَّهُ جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا ». قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَبَلَنِى عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ (سنن أبى داود)

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada Asyaj Abdul Qoys: Sesungguhnya pada dirimu benar-benar terdapat dua perangai yang Allah ta’ala mencintai keduanya, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa. Dia bertanya: Ya Rasulullah apakah saya yang mengupayakan untuk berakhlak dengan keduanya ataukah keduanya telah Allah ta’ala anugerahkan pada saya. Beliau menjawab: Allah ta’ala telah menganugerahkan keduanya pada dirimu. Lalu dia berucap: Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah menganugerahkan pada diriku dua perangai yang Allah ta’ala dan Rasul-Nya mencintai keduanya (Sunan Abu Daud).

Manakah yang lebih utama?

Kalau ada pertanyaan manakah yang lebih utama akhlak yang merupakan anugrah dari Allah (طبع) ataukah akhlak yang diupayakan dari dirinya sendiri (تطبع)?

Syaikh Utsaimin rahima hullah menjelaskan bahwa akhlak yang merupakan anugrah dari Allah ta’ala (طبع) lebih utama karena ia telah menjadi tabiatnya dari awal sehingga ketika dia berada di manapun dan dalam kondisi bagaimanapun niscaya akhlak tersebut akan muncul tanpa seseorang bersusah payah. Kalau ditanya manakah yang lebih banyak pahala dari antara keduanya? Tentu yang kedua lebih banyak pahalanya karena ia tidak akan muncul dengan mudah, tetapi seseorang perlu berupaya keras mewujudkannya.

Husnul khuluq sesama manusia inilah yang dimaksud dengan akhlak ketika disebutkan secara mutlak

B. Keutamaan Akhlak yang Mulia

Disebutkan di dalam riwayat,

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الأَنْصَارِىِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ فَقَالَ « الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ » (صحيح مسلم)

Dari Nawas bin Sam’an Al-Anshory. Dia berkata:  Saya bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang kebaikan dan dosa. Beliau menjawab: “Kebaikan adalah baiknya akhlak, dan dosa adalah sesuatu yang bergejolak di dalam dada kamu, dan kamu tidak menginginkan ada orang yang mengetahuinya” (Shahih Muslim)

Apakah demikian pengertian kebaikan dan dosa? Tentu bukan. Di sini Nabi tidak menjawab dengan definisi melainkan dengan contoh. Kebaikan sangatlah banyak jenis macam dan rupanya. Di antara kebaikan yang sangat banyak itu Nabi menyebut baiknya akhlak. Ini menunjukkan akhlak yang baik posisinya sangatlah diperhatikan di dalam Islam.

Disebutkan di dalam riwayat Abdullah Ibnu Amr, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

  إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا (رواه البخارى و مسلم)

Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya mencoba memahami Hadits ini dengan tadabbur saya pribadi. Kalau salah saya memohon ampun kepada Allah azza wa jalla. Kenapa orang yang terbaik bukan orang yang paling baik aqidahnya? Bukankah aqidah itu landasan semua amalan untuk diterima atau tidaknya? Kenapa orang yang terbaik bukan orang yang paling baik peribadahannya? Bukankah tujuan manusia diciptakan itu untuk ibadah? Kenapa malah yang disebutkan oleh beliau orang yang terbaik adalah orang yang paling baik akhlaknya?

Di dalam menjalani kehidupan beragama, manusia tidak lepas dari tiga perkara; aqidah, ibadah dan akhlak. Saya menggambarkan tiga perkara tersebut bagaikan rumah kita yang terdiri dari:

a. Pondasi

b. Dinding, pintu, jendela, atap, dan apapun yang dibangun di atas pondasi

c. Tata ruang, taman, aquarium, pemilihan warna, penempatan perabot dan semacamnya yang merupakan faktor keindahan

Nah, pondasi itu gambaran dari aqidah. Dinding, pintu, jendela, dan atap adalah ibadah. Tata ruang, taman, aquarium, pemilihan warna, penempatan perabot adalah akhlak. Perhatikanlah! Tata ruang, taman, pemilihan warna dan semacamnya menjadi tidak berarti jika pondasi, dinding, pintu, atap dan semacamnya bermasalah. Jika semuanya tidak ada masalah maka tata ruang, taman, pemilihan warna benar-benar merupakan penyempurna rumah kediaman yang penghuninya akan sangat betah di dalamnya. 

Penghuni rumah tidak akan betah jika kondisi rumah berantakan tidak indah meskipun pondasi, dinding, pintu, jendela dan lainnya kokoh.

Demikianlah di dalam kehidupan beragama. Setelah aqidah dan ibadah kokoh dan baik, maka seorang muslim dituntut untuk berhias dengan akhlak. Jadi, maksud sabda Nabi bahwa sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya adalah secara otomatis setelah aqidah dan ibadahnya tidak bermasalah. Allahu A’lam.

Oleh karena itu Nabi shalallahu alahi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ  فَزَ وِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ (رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika melamar kepada kalian orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata” (HR. At-Tirmidzi)

Ini menunjukkan setelah aqidah dan ibadah, maka akhlak tidak boleh terlewatkan. Seseorang tidak diperbolehkan hanya baik aqidah dan ibadahnya.

a. Akhlak adalah penyebab terbanyak yang memasukkan seseorang ke dalam Surga

Disebutkan di dalam riwayat,

عن أبي هريرة قال : سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم : ما أكثر ما يلج به الناس الجنة قال : تقوى الله و حسن الخلق (رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alahi wasallam ditanya apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Surga? Beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan Akhlak yang mulia” (HR. At-Tirmidzi)

Mari kita perhatikan informasi-informasi dari Nabi! 

Bukankah orang terhambat masuk Surga karena memutuskan silaturrahim.

Bukankah orang mati syahid terkendala untuk masuk Surga karena hutang yang belum dibayar

Bukankah Surga anak di bawah kaki Ibu? Dia akan terkendala hingga memperbaiki birrul walidain

Bukankah Ahli shalat dan puasa terkendala masuk Surga karena buruk kepada tetangga

Bukankah istri yang taat kepada suami yang dipersilahkan memasuki Surga melalui pintu yang dikehendakinya?

Bukankah seseorang diampuni Allah ta’ala dan dimasukkan ke dalam Surga karena menyingkirkan ranting pohon yang mengganggu di jalan?

b. Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya

Disebutkan di dalam riwayat,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه أبو داود و الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”  (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Saya memahami Hadits ini sebagaimana saya terangkan di atas bahwa hal ini sudah barang tentu tidak melewatkan sisi aqidah dan ibadah.

c. Orang yang berakhlak mulia bisa menyamai derajat ahli shalat dan puasa

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ (سنن أبى داود)

Dari Aisyah radiallahu anha, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlanya yang baik menyamai derajat ahli puasa dan ahli shalat.” (Sunan Abu Daud)

Disebutkan di dalam kitab Aunul Ma’bud (Maktabah Syamilah), orang ahli puasa dan shalat malam adalah dua macam orang yang senantiasa berupaya keras melawan kenyamanan kondisi. Nah, orang yang berakhlak mulia disamakan dengan keduanya karena adanya kesamaan dari sisi upaya kerasnya di mana dia senantiasa berupaya keras dengan sebaik-baiknya sikap dan perilaku setiap kali bergaul dengan manusia.

d. Orang yang berakhlak mulia dijamin dengan Surga paling tinggi

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ (سنن أبى داود)

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran Surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah Surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di Surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

Allahu Akbar, orang yang membaguskan akhlak dijamin Nabi shalallahu alahi wasallam dengan rumah di Surga tertinggi. Ini menunjukkan betapa akhlak yang mulia memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 1 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-1/ Wed, 15 Apr 2026 06:01:34 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21737 Husnul Khuluq

A. Pembagian Khusnul Khuluq (Akhlak Mulia)

Husnul Khuluq artinya akhlak yang baik. Syaikh Utsaimin rahima hullah menjelaskan bahwa ia terbagi menjadi dua: . a]. khusnul khuluq kepada Allah dan b]. khusnul khuluq kepada sesama manusia.

1. Khusnul Khuluq kepada Allah

Berakhlak mulia kepada Allah mencakup tiga (3) perkara:

a. Mempercayai seluruh pemberitaan-Nya. Baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi.

b. Menerima seluruh syariat-Nya secara totalitas.

c. Meridhoi seluruh ketetapan-ketetapan-Nya yang tidak menyenangkan kita.

a. Mempercayai seluruh pemberitaan-Nya. Baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi.

Yang sudah terjadi: berita tentang dihancurnya ummat-ummat penentang para Rasul. Seperti: kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Ashabul Aikah, Ashabul Hijr, penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, dihancurkannya Fir’aun dan pengikutnya, dibenamkannya Qorun dan hartanya ke dalam bumi, permintaan iblis untuk dipanjangkan umur hingga hari Kiamat dan lain-lain.

Yang belum terjadi: berita tentang akan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dari benteng yang sangat kokoh, fitnah terbesar Dajjal, terbitnya matahari dari Barat menjelang hari Kiamat,  dihancurnya alam semesta ini pada hari Kiamat, tingginya nikmat Surga, dahsyatnya siksa Neraka, dan lain-lain.

b. Menerima seluruh syariat-Nya secara totalitas

Allah azza wa jalla berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (النساء:56) 

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan sehingga mereka tidak ada rasa kebencian di dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima sepenuhnya (QS. An-Nisa: 65)

Apapun ketetapan Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya, maka muslim yang berakhlak mulia akan segera merespon dengan SAMI’NA WA ATHO’NA. Ia tidak memilah-memilih syariat yang sesuai dengan kehendaknya. Tetapi ia menerima keseluruhannya dengan “legowo” karena kehendak dirinya telah ditundukkan di bawah kehendak-Nya. Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ  (شرح السنة للبغوي)

“Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga hawa (kehendak)nya mengikuti apa yang saya bawa” (Syarhussunnah lil Baghowy)

Setelah kita memahami penjelasan di atas, mari kita lihat fenomena-fenomena berikut ini:

  • Bagaimanakah dengan orang yang mencari-cari dalih untuk membenarkan praktik ribawi?
  • Bagaimanakah dengan wanita yang tidak terima bagian warisannya separo dari lelaki?
  • Bagaimanakah dengan lelaki yang mencukur jenggotnya padahal telah mengetahui tentang keharamnnya?
  • Bagaimanakah dengan orang yang mendengarkan musik padahal telah mengetahui tentang keharamannya?
  • Bagaimanakah dengan orang yang tidak berhenti dari bid’ah padahal telah mengetahui konsekuensi syahadat “wa asyhadu anna Muhammada-r- Rasulullah”.
  • Bagaimanakah dengan wanita yang menghalang-halangi suaminya yang sholeh untuk berpoligami? Dan lain-lain.

Apakah mereka berakhlak mulia?

c. Meridhoi seluruh ketetapan-ketetapan-Nya yang tidak menyenangkan kita

Bagaimana ukuran seseorang itu ridho dengan taqdir Allah ta’ala yang tidak menyenangkan seperti; sakit, miskin, rugi, kehilangan, bangkrut, kecelakaan, kematian, dan lain-lain? Ketika seseorang ber-istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), bisa bersabar dengan tidak stress, tidak niyahah lalu  meminta kepada Allah azza wa jalla agar musibah yang menimpanya mendatangkan pahala yang berlipat ganda dan menghapus dosa, meminta ganti kepada Allah azza wa jalla dengan ganti yang lebih baik dan menyadari bahwa semuanya telah digariskan oleh Allah ta’ala untuk suatu hikmah. Inilah ukuran bahwa seseorang ridho dengan takdir Allah azza wa jalla. Dan inilah akhlak mulia.

d. Dzikir dan doa yang bisa dibaca agar hati “plong dan legowo” dengan takdir-Nya:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Allah telah mentakdirkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. 

Hal ini berdasarkan Hadits,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم:  الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ (صحيح مسلم)

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Pada masing-masing ada kebaikan. Berbuatlah dengan semangat terhadap apa saja yang bermanfaat bagi Anda, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Jika Anda ditimpa sesuatu maka janganlah mengatakan “seandainya aku berbuat begini dan begini niscaya begini dan begini”. Akan tetapi ucapkanlah:

 قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ, 

karena sesungguhnya ucapan “seandainya” membuka amalan syaitan. (Sunan Muslim)

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah berilah aku pahala atas musibah ini dan gantilah untukku  yang lebih baik darinya.”

Hal ini berdasarkan Hadits,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا (صحيح مسلم)

Dari Ummu Salamah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu alahi wasallam bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan sebagaimana yang Allah perintahkan.

“إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا” 

Melainkan Allah akan menggantikan untuknya yang lebih baik darinya (Shahih Muslim)

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

Sesungguhnya milik Allah lah apa yang Dia ambil, milik-Nya lah apa yang Dia beri, segala sesuatu di sisi-Nya telah ditetapkan ajalnya maka bersabarlah dan berharaplah pahala.

Hal ini berdasarkan Hadits Bukhari dan Muslim,

عَنْ أَبِى عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِى أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ – رضى الله عنهما – قَالَ أَرْسَلَتِ ابْنَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَيْهِ إِنَّ ابْنًا لِى قُبِضَ فَائْتِنَا . فَأَرْسَلَ يُقْرِئُ السَّلاَمَ وَيَقُولُ : إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ (رواه البخارى و مسلم)

Dari Abu ‘Utsman, ia berkata: Usamah bin Zaid radiallahu anhu memberitahukanku: Seorang putri Nabi shalallahu alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada beliau shalallahu alaihi wasallam “putraku meninggal dunia maka maka datanglah kemari. Beliau pun menyampaikan salam untuknya (putrinya) dan berpesan: 

 إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

2. Khusnul khuluq kepada sesama manusia.

Khusnul khuluq atau akhlak yang mulia sesama manusia biasanya orang Jawa menyebutnya budi pekerti. Syaikh Utsaimin menukil penjelasan Imam Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia meliputi tiga perkara:

a. كف الأذى  (menahan diri dari menyakiti orang lain)

b. بذل الندى (mengerahkan segenap potensi untuk kemaslahatan orang lain)

c. طلاقة الوجه (berwajah murah senyum)

a. كف الأذى (menahan diri dari menyakiti orang lain)

Menahan diri untuk tidak sampai menyakiti orang lain adakalanya terkait dengan harta, kehormatan, fisik, dan lain-lain. 

Contoh terkait harta:

  • Orang yang berkelapangan harta jangan sampai pelit untuk menghutangi uang kawannya yang dikenal jujur ketika membutuhkan uang. Kalau tidak, maka kawannya akan sakit hati. 
  • Janganlah ghosob (meminjam tanpa izin), karena hal itu akan menyakitkan pemiliknya
  • Jagalah harta yang dititipkan kepada Anda, jangan ceroboh karena akan menyakitkan pemiliknya.
  • Isilah bensin jika Anda meminjam sepeda motor dengan durasi yang ‘urf memandangnya memakan waktu lama.

Contoh terkait kehormatan:

  • Tidak “ngutak-ngutik” HP ketika kawan Anda sedang mengajak berbicara, perhatikanlah pembicaraannya. Kalau tidak, ia bisa tersinggung sakit hatinya.
  • Tidak bersikap hangat dengan sebagian kawan tetapi dingin kepada sebagian lainnya. Bersikap hangatlah dengan semuanya tanpa memandang siapapun mereka. Karena kawan yang disikapi dengan sikap dingin bisa sakit hati.
  • Tidak membicarakan aib orang lain. Karena hal itu akan merendahkannya. Dan, tentu ia merasa sakit hati.
  • Tidak membangga-banggakan jabatan, pangkat atau kedudukan di hadapan orang lain.
  • Tidak ngobrol ketika guru, dosen atau ustadz sedang memberikan pelajaran atau tausiyyah.
  • Bisa menempatkan diri dengan semestinya di hadapan orang yang lebih senior baik secara usia ataupun kedudukan di suatu komunitas, lembaga, instansi atau apapun.
  • Tidak menyerobot antrian.
  • Menunjuk-nunjuk jari telunjuk ke wajah orang yang tidak sependapat dengannya.

Contoh terkait fisik:

  • Tidak bermudah-mudahan menghukum murid pada fisiknya. Karena hal itu bisa menyakitkan.
  • Suka menonjok kepala atau badan orang lain karena suatu perselisihan.

b. بذل الندى   (mengerahkan segenap potensi atau suatu kelebihan tertentu untuk kemaslahatan orang lain)

Kita harus mengupayakan untuk mengerahkan potensi atau suatu kelebihan apapun yang kita miliki untuk kemaslahatan orang lain, baik yang terkait dengan harta, waktu, tenaga, pemikiran, kedudukan dan lain-lain.

Contoh terkait dengan harta:

  • Peduli anak yatim, orang miskin, janda-janda lemah.
  • Peduli kebutuhan masyarakat sekitar.
  • Membantu orang-orang yang terkena musibah banjir, longsor, gempa bumi dan lain-lain.
  • Mempersilahkan kendaraannya jika dibutuhkan untuk urusan-urusan sosial.
  • Suka menjadi donatur untuk kepentingan-kepentingan keagamaan dan umum.
  • Tidak merasa keberatan jika barang-barang yang dimilikinya dipinjam orang lain untuk suatu keperluan.

Contoh terkait dengan waktu:

  • Senantiasa meluangkan waktu ketika diundang ke suatu acara yang tidak ada maksiatnya.
  • Senantiasa meluangkan waktu untuk masyarakat sekitarnya apalagi untuk keluarga dan ayah ibunya.
  • Suka meluangkan waktu untuk urusan-urusan sosial.

Contoh terkait dengan tenaga:

  • Ringan tangan ketika ada orang yang memerluan bantuan tenaga.
  • Peka dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya sehingga mudah untuk diajak kerja bakti dan lainnya.

Contoh terkait dengan pemikiran:

  • Tidak pelit untuk memberikan suatu pandangan, pendapat atau usulan yang memang dibutuhkan.
  • Tidak keberatan untuk melakukan studi komparasi yang diperlukan untuk peningkatan kualitas dan lainnya.

Contoh terkait dengan kedudukan:

Kebaikan-kebaikan ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang terpandang atau memiliki suatu jabatan.

  • Seseorang yang suaranya didengar oleh Pak lurah tergerakkan hatinya untuk menyampaikan kepada pak lurah agar melakukan ini dan itu yang dibutuhkan oleh masyarakat.
  • Seseorang yang memiliki kedekatan dengan suatu kepanitiaan sosial tergerakkan hatinya untuk menyampaikan kepada kepanitiaan tersebut agar orang-orang sepuh didahulukan sehingga tidak mengantri berkepanjangan.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 6 Menanyakan kabar wanita miskin yang sakit berkepanjangan) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-6-menanyakan-kabar-wanita-miskin-yang-sakit-berkepanjangan/ Wed, 24 Dec 2025 07:13:23 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21053
  • Menanyakan kabar wanita miskin yang sakit berkepanjangan
  • إنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ كانَ يعودُ مَرضى مساكينِ المسلمينَ وضعفائِهِم ويتبعُ جَنائزَهُم ولا يصلِّي عليهِم غيرُهُ، وأنَّ امرأةً مسكينةً من أَهْلِ العوالي طالَ سقمُها فَكانَ رسولُ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- سألَ عَنها من حضرَها مِن جيرانِها وأمرَهُم أن لا يدفِنوها إن حدثَ بِها حدثٌ فيصلِّي عليها فتوُفِّيَت تلكَ المرأةُ ليلًا، واحتملوها فأتَوا بِها معَ الجَنائزِ أو قالَ موضعَ الجَنائزِ عندَ مسجدِ رسولِ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- ليصلِّي عليها رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ كما أمرَهُم. فوجدوهُ قد نامَ بعدَ صلاةِ العشاءِ فَكَرِهوا أن يُهَجِّدوا رسولَ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- من نومِهِ فصلَّوا عليها، ثمَّ انطلقوا بِها فلمَّا أصبحَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ سألَ عنها من حضرَهُ من جيرانِها فأخبروهُ خبرَها وأنَّهم كرِهوا أن يُهَجِّدوا رسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ لَها فقالَ لَهُم رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ : ولمَ فعلتُمُ ؟ انطلِقوا. فانطلقوا معَ رسولِ اللَّهِ -صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ- حتَّى قاموا علَى قبرِها فصفُّوا وراءَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ كما يصفُّ للصَّلاةِ علَى الجنازةِ فصلَّى عليها رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ وَكَبَّرَ أربعًا كما يُكَبِّرُ علَى الجَنائزِ(رواه بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم |المحدث : الألباني | خلاصة حكم المحدث : إسناده صحيح )

    Rasulullah shallahu’alaihi wasallam biasa mengunjungi kaum muslimin yang miskin dan para dhu’afa dari kalangan mereka. Beliau juga mengantarkan jenazah mereka. Pernah beliau menyolati jenazah mereka tanpa didampingi orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita miskin dari penduduk ‘Awali yang sakit berkepanjangan. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bertanya tentangnya kepada para tetangganya dan berpesan agar mereka tidak memakamkannya jika terjadi sesuatu padanya hingga beliau menyolatinya. Dia meninggal di suatu malam. Mereka mengurus (jenazah)nya dan membawanya bersama para jenazah atau periwayat mengatakan ke tempat (disemayamkannya) jenazah di samping masjid Rasulullah agar beliau menyolatinya sebagaimana pesan beliau kepada mereka. Mereka mendapati beliau telah tidur setelah shalat Isya. Mereka tidak mau mengagetkan Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dengan membangunkan dari tidurnya. Maka, mereka pun menyolatinya lalu membawanya pergi.

    Keesokan harinya Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bertanya kepada seseorang yang hadir dari kalangan tetangganya. Mereka memberitahukan kabarnya kepada beliau dan keengganan mereka untuk membangunkan beliau untuk menyolatinya
    Beliau bertanya: Kenapa tidak kalian lakukan? Ayo berangkat! Lalu mereka berangkat bersama Rasulullah shallahu’alaihi wasallam hingga berdiri di sisi kuburannya. Mereka membentuk shoff di belakang Rasulullah sebagaimana shoff shalat jenazah. Beliau menyolatinya dengan empat kali takbir atas jenazah
    (Hadits riwayat sebagian Shahabat. Syaikh Al-Albani: Isnadnya shahih)

    F. UKHUWWAH ISLAMIYYAH MENGHARUSKAN SESAMA MUSLIM UNTUK SALING MEMPERHATIKAN DALAM KEMASLAHATAN DUNIAWI YANG BERSIFAT FANA, LALU BAGAIMANA TERHADAP KEMASLAHATAN UKHROWI YANG BERSIFAT KEKAL ABADI? TENTU LEBIH DITEKANKAN LAGI

    a. Kuatkan Ukhuwwah untuk meraih Golongan yang Selamat
    Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda bahwa Ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Ungkapan “tujuh puluh” dalam bahasa Arab menunjukkan sangat banyak. Yang langsung masuk Surga hanya satu golongan. Selebihnya akan mampir ke Neraka dulu. Karena mereka tidak menjalankan keberagamaan sebagaimana keberagamaan para Sahabat. Berikut ini lafazh Haditsnya,

    وتفترقُ أمَّتي على ثلاثٍ وسبعينَ ملَّةً ، كلُّهم في النَّارِ إلَّا ملَّةً واحِدةً ، قالوا : مَن هيَ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قالَ : ما أَنا علَيهِ وأَصحابي (رواه الترمذى عن عبد الله بن عمرو)

    “Ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya di Neraka kecuali satu golongan. Mereka (para Sahabat) bertanya: Siapa dia (satu golongan) itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: Sesuatu yang saya dan para Sahabat saya berada di atasnya” (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)
    Tidak ada ummat Islam yang berada di Neraka selama-lamanya. Ketika Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda hanya satu golongan yang di Surga selebihnya di Neraka, maka maksudnya adalah mampir Neraka terlebih dahulu sebelum masuk Surga.
    Beliau shallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa syarat untuk masuk Surga langsung dengan tidak mampir terlebih dahulu ke Neraka adalah menjalankan keberagamaan sebagaimana para Sahabat. Sebagaimana juga ditegaskan di dalam Al-Qur’an dengan redaksi ancaman,

    وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami akan masukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisa: 115)
    Di dalam ayat ini yang dimaksud “orang-orang mukmin” adalah para Sahabat radhiallahu’anhum.
    Untuk itu ukhuwwah Islamiyyah mengharuskan setiap muslim agar bersinergi di dalam dakwah sesuai manhaj para Sahabat. Ajaklah mereka agar :

    • beraqidah sebagaimana beraqidahnya para Shahabat
    • beribadah sebagaimana peribadahan para Shahabat
    • Bermuamalah sebagaimana praktek dan pemahaman para Shabat.

    Dengan ini, kita telah melakukan konsekwensi ukhuwwah Islamiyyah secara totalitas. Tidak saja saling peduli dalam kemaslahatan duniawi tetapi juga hal yang lebih penting yaitu kemaslatan ukhrowi. Karena duniawi bersifat fana sementara ukhrowi bersifat kekal.


    b. Men-Tahdzir Ahli Bid’ah dan memperingatkan Ummat darinya bagian dari Ukhuwaah Islamiyyah
    Bid’ah adalah perkara baru dalam agama baik dalam hal pemahaman atau amaliyah yang sangat dikecam oleh syareat. Ia perusak agama. Nabi sering sekali mengingatkan para Shahabat dari masalah bid’ah di dalah khutbah hajah sebelum memulai majlis. Sabda beliau,

    أما بعدُ فإنَّ أصدقَ الحديثِ كتابُ اللهِ ، وإنَّ أفضلَ الهديِ هديُ محمدٍ ، وشرَّ الأمورِ مُحدثاتُها ، وكلَّ مُحدَثةٍ بدعةٌ ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ ، وكلَّ ضلالةٍ في النَّارِ (رواه أحمد وألنسائى عن جابر بن عبد الله)

    Amma ba’du, Sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah al-Qur’an. Sesungguhnya sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan. Perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan, setiap kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i dari Jabir Abdullah)
    Perhatikanlah di dalam Hadits ini, “setiap bid’ah adalah sesat” yang menunjukkan umum. Artinya bid’ah apapun tanpa dikecualikan baik yang merupakan kesyirikan atau kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam ataupun tidak. Untuk itu banyak sekali statemen para ulama yang mengecam bid’ah dan mengingatkan ummat darinya dan ahlinya. Di antaranya statemen Imam Malik,

    مَن ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة، فقد زعم أن محمد ﷺ خَان الرسالة، لأن الله ﷻ يقول : “الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ” فما لم يكن يومئذ ديناً، فلا يكون اليوم ديناً

    “Barangsiapa yang membuat bid’ah di dalam Islam dan memandangnya baik, maka berarti dia telah menuduh Muhammad shallahu’alaihi wasallam berkhianat terhadap risalah, karena Allah ta’ala telah berfirman: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ (pada hari ini telah Aku nyatakan sempurna bagi kalian agama kalian), maka apa yang pada saat itu bukan agama hari inipun bukan agama
    Jadi, men-tahdzir ahli bid’ah dan memperingatkan ummat darinya adalah bagian dari ukhuwwah Islamiyyah demi meraih keselamatan di Akhirat. Bahkan para ulama menjelaskan, saking pentingnya perkara ini agar ummat selamat tidak terjerumus bahwa diperbolehkan menyebutkan keburukan-keburukan ahli bid’ah tanpa menyebutkan kebaikannya. Di antara statemen para ulama:
    a. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah berkata: Men-jarh periwayat Hadits dengan haq dan membid’ahkan ahli bid’ah adalah wajib. Lebih lanjut beliau mengatakan: Pemuka-pemuka bid’ah yang selalu berkata dengan perkataan-perkataan yang menyelisihi Kitab dan Sunnah, maka jelaskanlah ihwal mereka dan peringatkan ummat dari mereka. Ini hukumnya wajib dengan kesepakatan kaum muslimin. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya manakah yang lebih Anda sukai orang yang shalat, puasa dan i’tikaf ataukah orang yang berbicara men-tahdzir ahli bid’ah? Beliau menjawab: Jika seseorang shalat, puasa dan i’tikaf maka itu hanya untuk dirinya. Tetapi seseorang yang berbicara men-tahdzir ahli bid’ah itu bermanfaat untuk kaum muslimin [selesai].


    b. Syaikh Bin Baz rahimahullah ditanya: Apakah manhaj Ahulussunnah wal jamaah di dalam me-naqd (kritik) terhadap ahli bid’ah dan kitab-kitab mereka wajib menyebutkan kebaikan-kebaikannya juga ataukah cukup menyebutkan keburukan-keburukannya saja? Beliau menjawab: Yang dikenal dari ucapan para ahli ilmu adalah mengkritik keburukannya untuk tujuan men-tahdzir dan menjelaskan kesalahan-kesalahannya. Menyebutkan kebaikan itu bagus, tetapi di sini bukan tempatnya…. [selesai].

    c. Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahulah ditanya setelah menjelaskan tentang jama’ah-jama’ah: Wahai Syaikh, apakah kita men-tahdzir mereka dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka? Belau menjawab: Kalau kamu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka berarti Anda menyeru untuk menerima dakwah mereka. Tidak, Janganlah Anda sebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Cukuplah Anda sebutkan kesalahan-kesalahan mereka…. [selesai].

    d. Syaikh Abdu-s-Salam bin Salim As Suhaimi di dalam kitabnya “Kun Salafiyyan ‘ala-l-Jaaddah” mengatakan: Orang yang memperhatikan kitab-kitab para ulama niscaya akan mendapati pembahasan tentang tahdzir terhadap bid’ah dan ahlinya. Dan, tidak disebutkan di dalamnya para ulama tersebut menyertakan penyebutkan kebaikan-kebaikan ketika men-tahdzir mereka atas keburukan dan kesesatannya. Silahkan bisa dilihat beberapa kitab:

    1. kitab Imam Ahmad dan putranya, Abdullah,
    2. kitab Imam Bukhari “Kholqu Af’aali-l- ‘Ibad”,
    3. kitab al-Khollal dan Ibnu Khuzaimah di dalam kitab-kitab as-Sunnah dan Tauhid
    4. kitab Ibnu Baththoh “Syarh dan Ibanah”,
    5. kitab al-Lalika-I “Syarhu I’tiqodi Ushuuli Ahli-s-Sunnah”,
    6. kitab al-Baghowi “Muqoddimah Syarhu-s- Sunnah”,
    7. muqoddimah Ibnu Majah
    8. kitab Abu Daud “As-Sunan
    9. kitab Abu-l-Qosim at-Taymiy “al-Hujjah fi Bayani-l-Mahajjah
    10. al-Ashbahani
    11. Silahkan lihat juga kitab-kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, Ibnu-l-Qoyyim, Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Perhatikan juga bagaimana sikap mereka di dalam mu’amalah dengan ahli bid’ah.
    Jadi, tidaklah benar orang yang mengatakan “Sudahlah yang penting sama-sama mulim kita kuatkan persatuan. Tidak perlu merasa benar sendiri dengan mengoreksi aqidah dan ibadah mulim lainnya”

    SUNGGUH INI STATEMEN YANG BERBAHAYA DAN MENJERUMUSKAN

    G. PENUTUP
    Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq kepada semua ummat Islam sehingga bisa memahami konsekwensi dari ukhuwwah Islamiyyah yang totalitas yaitu ukhuwwah yang mendatangkan kemaslahatan dunia dan Akherat sekaligus.

    وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

    Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 5 Bersikap hangat kepada siapapun) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-5-bersikap-hangat-kepada-siapapun/ Mon, 15 Dec 2025 09:22:35 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21013 c. Bersikap hangat kepada siapapun
    Coba Anda perhatikan ketika ada seseorang saat bergaul dengan orang lain begitu hangat. Giliran dengan Anda bersikap dingin. Apa yang Anda rasakan? Tentu tidak nyaman. Demikian juga saudara kita. Untuk itu, berupayalah bergaul secara hangat dengan siapapun. Jangan pilih-pilih teman selama mereka muslim ahli kebaikan. Nabi shallahu’alaihi wasallam adalah teladan, beliau selalu hangat dengan siapapun. Disebutkan di dalam beberapa riwayat,

    ما رأيتُ أحدًا أكثرَ تبسُّمًا من رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم (رواه الترمذى وأحمد عن عبدالله بن الحارث)

    “Saya tidak melihat seorangpun yang lebih banyak senyumnya melebihi Rasulullah shallahu’alaihi wasallam” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin al-Harits)

    ما حَجبَني رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ منذُ أسلمتُ ، ولا رآني إلَّا تبسَّمَ (رواه الترمذى عن جرير بن عبدالله)

    “Rasulullah shallahu’alaihi wasallam tidak pernah menutup diri dariku sejak saya masuk Islam. Dan, tidaklah beliau melihatku melainkan pasti tersenyum” (HR. At-Tirmidzi dari Jarir bin Abdullah)

    كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم دائِمَ البِشْرِ، سَهْلَ الخَلْقِ، لَيِّنَ الجانِبِ، ليس بفَظٍّ، ولا غَليظٍ (مجموع الزوائد عن علي بن أبي طالب وهند بن أبي هالة التميمي)

    Rasulullah shallahu’alaihi wasallam senantiasa hangat, berperangai mudah, lembut, tidak keras dan tidak kasar(Majmu’ az-Zawaid dari Ali bin Abi Tholib dan Hindun bin Abu Halah at-Taimy)
    Berikut ini Hadits yang bisa memotivasi kita untuk mengupayakan agar bisa bersikap hangat dengan siapapun, bahwa ia merupakan penghalang kita dari Neraka,

    حَرُم على النارِ كلُّ هيِّنٍ لينٍ سهلٍ قريبٍ من الناسِ
    (رواه الترمذى وابن حبان والطبرانى عن عبد الله بن مسعود)

    Diharamkan dari Neraka setiap hayyin, layyin, sahl, dan qorib kepada manusia (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan ath-Thobroni dari Abdullah bin Mas’ud)
    Hayyin, tenang tidak “gusa-grusu” yang menyebabkan kegaduhan dan kegundahan.
    Layyin, berlembah-lembut dalam bergaul di tengah-tengah manusia
    Sahl, berperangai mudah alias “gampangan” alias tidak ruwet tidak “mbulet”.
    Qorib, dekat dengan siapapun tidak bersikap hangat dengan sebagian saja tetapi dingin kepada yang lainnya


    d. Detail dalam perangai yang baik (akhlak)
    Di antara perkara yang tidak kalah penting untuk mengokohkan ukhuwwah isalmiyyah adalah detail dalam perangai yang baik. Artinya setiap muslim mengupayakan untuk berhias dengan akhlak mulia dari keseluruhan aspeknya, yaitu:

    • kaffu-l-adza (menahan diri dari menyakiti orang lain), baik terkait harta, kehormatan, atau kedudukan atau apapun.
    • badzlu-n-Nada (mengerahkan potensi atau suatu kelebihan yang dimiliki untuk kemaslahatan orang lain). Misalnya mempersilahkan harta, waktu, skill, tenaga, dan lainnya untuk saudara yang memerlukannya.
    • Tholaqatu-l-wajh (murah senyum)

    Bentuk-bentuk akhlak mulia sebagiannya sudah Allah ta’ala anugerahkan kepada kita. Sebagiannya lagi belum Allah ta’ala anugerahkan kepada kita. Jadi, kita sendiri yang harus mengupayakannya. Kita harus menumbuhkannya pada diri kita, lalu menumbuhkannya dan mengokohkannya sehingga benar-benar kita berperangai dengannya. Disebutkan di dalam Hadits,

    قال صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لِأَشَجِّ عبدِ القيسِ: (إنَّ فيك خُلَّتَينِ يُحِبُّهما اللهُ: الحِلْمَ والأَناةَ)، فقال: أخُلُقَينِ تَخلَّقتُ بهِما؟ أم خُلُقينِ جُبِلتُ علَيهِما؟ فقال: (بل خُلقَينِ جُبِلتَ عليهما) فقال: الحمدُ للهِ الَّذي جبَلَني على خُلقَينِ يُحِبُّهما اللهُ [ورسولُه]. (رواه أبو داود)

    Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda kepada Asyaj Abdul Qoiys, Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang Allah ta’ala mencintai keduanya, yaitu: sabar dan pembawaan yang tenang. Dia bertanya: Apakah kedua perangai tersebut saya yang mengupayakannya ataukah saya ditabiatkan dengan keduanya? Beliau menjawab: Kamu ditabiatkan dengan kedua perangai tersebut. Lalu dia berkata; Segala puji bagi Allah yang telah mentabiatkanku dengan kedua perangai yang dicintai Allah ta’ala dan (Rasul-Nya)” (HR. Abu Daud)
    Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa Hadits di atas menunjukkan adakalanya akhlak tertentu sudah Allah ta’ala tabiatkan pada seseorang dan adakalanya belum ditabiatkan sehingga dia yang harus mengupayakannya.
    Masing-masing orang tidak sama akhlak mana saja yang telah ditabiatkan pada dirinya dan mana saja yang belum. Setiap orang harus memperhatikan dirinya lalu menginventarisir di antara bentuk-bentuk akhlak. Inilah yang dimaksud detail dalam perangai yang baik, dimana dampaknya sangatlah besar pada ukhuwwah islamiyyah.

    e. Merasa kehilangan ketika raib
    Nabi shallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang sangat perhatian kepada muslim di sekitarnya. Ketika seseorang tidak terlihat maka beliau merasa kehilangan dan langsung menanyakan ihwalnya. Disebutkan di dalam Hadits,

    • Menanyakan kabar Tsabit bin Qois radhiallahu’anhu,

    أنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ افْتَقَدَ ثَابِتَ بنَ قَيْسٍ، فَقالَ رَجُلٌ: يا رَسولَ اللَّهِ، أَنَا أَعْلَمُ لكَ عِلْمَهُ، فأتَاهُ فَوَجَدَهُ جَالِسًا في بَيْتِهِ مُنَكِّسًا رَأْسَهُ، فَقالَ: ما شَأْنُكَ؟ فَقالَ: شَرٌّ؛ كانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ فَوْقَ صَوْتِ النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ، وهو مِن أَهْلِ النَّارِ، فأتَى الرَّجُلُ فأخْبَرَهُ أنَّهُ قالَ كَذَا وكَذَا. [وفي رِوايةٍ:] فَرَجَعَ المَرَّةَ الآخِرَةَ ببِشَارَةٍ عَظِيمَةٍ، فَقالَ: اذْهَبْ إلَيْهِ، فَقُلْ له: إنَّكَ لَسْتَ مِن أَهْلِ النَّارِ، ولَكِنْ مِن أَهْلِ الجَنَّةِ (رواه مسلم عن أنس بن مالك)

    “Nabi shallahu’alaihi wasallam kehilangan Tsabit bin Qais. Seseorang berkata: Ya Rasulullah, “Wahai Rasulullah, akan kuberitahukan keberadaannya kepada Panjenengan.” Maka laki-laki ini menemui Tsabit yang sedang duduk di rumahnya sambil menundukkan kepalanya. Laki-laki itu bertanya: “Ada apa denganmu?” Tsabit menjawab: “Buruk”. Tsabit adalah seseorang yang volume suaranya melebihi suara Nabi shallahu’alaihi wasallam. (Tsabit merasa) telah terhapus seluruh amalnya dan termasuk dari penghuni Neraka. Laki-laki itu pun menemui Beliau lalu mengabarkan bahwa Tsabit berkata begini begini. Disebutkan di dalam riwayat yang lain: Kemudian laki-laki itu kembali (menemui Beliau) untuk kali terakhir dengan membawa kabar gembira yang agung. Beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Temuilah Tsabit dan katakan kepadanya bahwa dia bukan termasuk penghuni Neraka melainkan sebagai penghuni Surga.”

    • Menanyakan kabar kaum Anshor dan mengunjungi seorang Ibu yang putranya wafat

    كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَتَعَهَّدُ الأنصارَ، ويَعُودُهم، ويَسْأَلُ عنهم، فبَلَغَهُ عنِ امرأةٍ من الأنصارِ مات ابنُها وليس لها غيرُه، وأنها جَزَعَتْ عليه جَزَعًا شديدًا، فأتاها النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ومعه أصحابُه، فلما بَلَغَ بابَ المرأةِ، قيل للمرأةِ : إنَّ نبيَّ اللهِ يريدُ أن يدخلَ، يُعَزِّيهَا، فدخل رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقال : أَمَا إنه بَلَغَنِي أنك جَزَعْتِ على ابْنِكِ، فأمرها بتَقْوَى اللهِ وبالصبرِ، فقالت يا رسولَ اللهِ مالِيَ لا أَجْزَعُ وإني امرأةٌ رَقُوبٌ لا أَلِدُ، ولم يَكُنْ لِي غيرُه ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : الرَّقُوبُ : الذي يَبْقَى وَلَدُها، ثم قال : ما مِنِ امْرِىءٍ أو امرأةٍ مسلمةٍ يموتُ لها ثلاثةُ أولادِ يَحْتَسِبُهُم إلا أَدْخَلَهُ اللهُ بهِمُ الجنةَ، فقال عُمَرُ وهو عن يمينِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : بأبي أنت وأمي واثْنَيْنِ ؟ قال : واثْنَيْنِ. (رواه البزار والحاكم عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ الحَصِيبِ الأَسْلَمِيِّ)

    Rasulullah shallahu’alaihi wasallam biasa mengunjungi kaum Ansar dan menanyakan keadaan mereka. Suatu ketika, beliau mendengar tentang seorang wanita dari kaum Ansar yang putranya meninggal dunia, padahal ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi, ia sangat berduka atas putranya itu. Nabi shallahu’alaihi wasallam datang menemuinya bersama para Sahabatnya. Ketika sampai di depan pintu rumah wanita itu, dikatakan kepadanya: Rasulullah ingin masuk dan menyampaikan bela sungkawa. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam masuk dan berkata: Aku mendengar kamu sedang berduka atas putramu. Dia memerintahkannya untuk takut kepada Tuhan dan bersabar. Ia berkata: Wahai Rasulullah , bagaimana aku tidak bersedih hati, sementatara aku seorang wanita yang taat, tidak mampu melahirkan anak lagi, dan tidak memiliki siapa-siapa lagi ? Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda : Yang menjadi wali adalah orang yang anaknya masih hidup.” Kemudian beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim laki-laki maupun perempuan yang ditinggal mati tiga orang anaknya, kemudian ia bersabar atas mereka, kecuali Allah c akan memasukkannya ke dalam Surga karena ketiga anaknya itu. Umar yang berada di sebelah kanan Nabi shallahu’alaihi wasallam berkata, ayah dan ibuku menjadi tebusan untukmu, dan kalau dua orang bagaimana? Beliau bersabda: Dan dua”. (HR. Bazzar dan Hakim dari Buraidah bin al-Khoshib al-Aslamiy)

    Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 4 Saling menasehati) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-4-saling-menasehati/ Tue, 09 Dec 2025 05:25:09 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21002 d. Saling menasehati

    Allah ta’ala berfirman,

    وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ (العصر: 3)

    “Saling berwasiatlah di dalam kebenaran” (QS. Al-Ashr:3)
    “Saling” itu pengertiannya ada dua pihak; yang menasehati dan yang dinasehati. Setiap muslim ada pada posisi keduanya. Adakalanya pada posisi yang menasehati dan adakalanya pada posisi yang dinasehati. Ini pancaran ukhuwwah islamiyyah yang luar biasa. Karena dengan hal ini berarti setiap muslim menginginkan kebaikan bagi suadaranya. Banyak sekali keteladanan yang bisa kita ambil, di antaranya:

    آخَى النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بيْنَ سَلْمَانَ وأَبِي الدَّرْدَاءِ، فَزَارَ سَلْمَانُ أبَا الدَّرْدَاءِ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً، فَقَالَ لَهَا: ما شَأْنُكِ؟ قَالَتْ: أخُوكَ أبو الدَّرْدَاءِ ليسَ له حَاجَةٌ في الدُّنْيَا. فَجَاءَ أبو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ له طَعَامًا، فَقَالَ: كُلْ، قَالَ: فإنِّي صَائِمٌ، قَالَ: ما أنَا بآكِلٍ حتَّى تَأْكُلَ، قَالَ: فأكَلَ، فَلَمَّا كانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أبو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ، قَالَ: نَمْ، فَنَامَ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ، فَقَالَ: نَمْ، فَلَمَّا كانَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ: قُمِ الآنَ. فَصَلَّيَا فَقَالَ له سَلْمَانُ: إنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، ولِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، ولِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فأعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ. فأتَى النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَذَكَرَ ذلكَ له، فَقَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: صَدَقَ سَلْمَانُ (رواه البخارى عن أبى جحيفة)

    “Nabi shallahu’alaihi wasallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”
    Abu Darda’ datang lalu membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, adapun saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan kecuali kalau kamu juga makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.
    Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.
    Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.”
    (HR. Bukhari no. 1968)

    Perhatikanlah! Salman melihat suatu kondisi yang mengharuskannya memberi nasehat, dan Abu Darda’ pada pihak yang dinasehati menerimanya dengan baik. Keduanya memahami bahwa saling menasehati itu untuk kebaikan setiap insan muslim.

    Kisah nasehat ketika Umar radhiallahu’anhu sakit dan dikunjungi oleh kaum muslimin.

    وَجَاءَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يُثْنُونَ عَلَيْهِ وَجَاءَ رَجُلٌ شَابٌّ فَقَالَ أَبْشِرْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ بِبُشْرَى اللَّهِ لَكَ مِنْ صُحْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدَمٍ فِي الْإِسْلَامِ مَا قَدْ عَلِمْتَ ثُمَّ وَلِيتَ فَعَدَلْتَ ثُمَّ شَهَادَةٌ قَالَ وَدِدْتُ أَنَّ ذَلِكَ كَفَافٌ لَا عَلَيَّ وَلَا لِي فَلَمَّا أَدْبَرَ إِذَا إِزَارُهُ يَمَسُّ الْأَرْضَ قَالَ رُدُّوا عَلَيَّ الْغُلَامَ قَالَ يَا ابْنَ أَخِي ارْفَعْ ثَوْبَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَأَتْقَى لِرَبِّكَ (رواه البخارى)

    “, Datanglah orang-orang lalu memberikan pujian untuk beliau. Datang juga seorang pemuda seraya mengatakan, ‘Berbahagialah Anda, wahai Amirul Mu’minin dengan kabar gembira dari Allah untuk Anda, karena Anda telah hidup mendampingi (menjadi sahabat) Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan berbagai jasa dalam Islam yang telah Anda ketahui. Lalu Anda diberi kepercayaan menjadi pemimpin dan Anda telah menjalankannya dengan adil lalu Anda mati syahid.’
    Umar berkata, ‘Aku berharap itu semua impas, aku tidak terkena dosa dan juga tidak mendapat pahala.’
    Ketika pemuda itu pergi, tampak pakaiannya menyeret tanah, maka beliau berkata, ‘Bawa kembali pemuda itu kepadaku.’
    Beliau berkata kepadanya, ‘Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu! Karena yang demikian itu lebih membuat awet pakaianmu dan lebih membuatmu bertakwa kepada Rabb-mu..’”
    (HR. al-Bukhari )

    Umar bin Khottob radhiallahu’anhu mendengarkan pujian lalu berharap suatu kebaikan berupa ampunan. Tidak berhenti di situ, ketika di antara pengunjungnya yang berpakaian isbal beliau dalam keadaan sakit memberinya nasehat. Allahu Akbar.

    Berikut ini majlis Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu yang penuh nasehat,

    وعن عَلقَمةَ قال: (كنَّا جُلوسًا معَ ابنِ مسعودٍ، فجاء خبَّابٌ فقال: يا أبا عبدِ الرَّحمنِ، أيستطيعُ هؤلاء الشَّبابُ أن يقرؤوا كما تقرأُ؟ قال: أمَا إنَّك لو شئْتَ أمَرْتَ بعضَهم يقرأُ عليك، قال: أجَلْ، قال: اقرَأْ يا عَلقَمةُ، فقال زيدُ بنُ حُدَيرٍ أخو زيادِ بنِ حُدَيرٍ: أتأمُرُ عَلقَمةَ أن يقرَأَ، وليس بأقرَئِنا؟! قال: أمَا إنَّك إن شئْتَ أخبرْتُك بما قال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في قَومِك وقَومِه، فقرأْتُ خمسينَ آيةً مِن سورةِ مَريَمَ، فقال عبدُ اللهِ: كيف ترى؟ قال قد أحسَن، قال عبدُ اللهِ: ما أقرَأُ شيئًا إلَّا وهو يقرَؤُه، ثُمَّ التفَت إلى خبَّابٍ وعليه خاتَمٌ مِن ذَهبٍ، فقال: ألم يَأنِ لهذا الخاتَمِ أن يُلقى؟ قال: أمَا إنَّك لن تراه عليَّ بَعدَ اليومِ، فألقاه
    (رواه البخارى)

    “Dari Alqamah, dia berkata: (Kami sedang duduk bersama Ibnu Mas`ud , ketika itu datanglah Khabbab seraya berkata: Wahai Abu Abdirrahman, apakah para pemuda ini dapat membaca seperti engkau? Dia berkata: Jika kamu mau, kamu bisa meminta salah satu dari mereka untuk membaca untukmu. Dia berkata: Baik, lalu lanjut mengatakan: Bacalah, wahai Alqamah.
    Zayd bin Hudayr, saudara Ziyad bin Hudayr, berkata: Apakah kamu memerintahkan Alqamah untuk membaca, padahal dia bukan qari terbaik di antara kita?! Dia berkata: Jika kamu mau, aku akan memberitahumu apa yang dikatakan Nabi shallahu’alaihi wasallam tentang kaummu dan kaumnya. Lalu saya membacakan lima puluh ayat dari Surah Maryam. Abdullah berkata: Bagaimana menurutmu? Dia berkata: Sangat bagus.
    Abdullah berkata: Aku tidak membaca sesuatu pun kecuali dia membacanya.
    Lalu Abdullah menoleh ke Khabbab, yang mengenakan cincin emas, dan berkata: Bukankah sudah saatnya cincin ini dibuang? Ia berkata: Engkau tidak akan pernah melihatnya lagi padaku setelah hari ini. Dia pun membuangnya”
    (HR. al-Bukhari).
    Ibnu Umar langsung menegur orang yang keliru yang berada di dekatnya sebagaimana disebutkan di dalam riwayat At-Tirmidzi,

    وعن نافِعٍ: أنَّ رجُلًا عطَس إلى جَنبِ ابنِ عُمرَ، فقال: الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ، قال ابنُ عُمرَ: وأنا أقولُ: الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ، وليس هكذا علَّمَنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، علَّمَنا أن نقولَ: الحَمدُ للهِ على كُلِّ حال

    “Dari Nafi’: Ada seorang laki-laki bersin di samping Ibnu Umar seraya membaca:

    الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ

    Ibnu Umar berkata : Aku juga mengucapkan lafazh ini:

    الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ

    Tapi bukan seperti itu yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam ajarkan kepada kami (ketika bersin), ucapkan saja:

    الحَمدُ للهِ على كُلِّ حال

    E. HAL-HAL YANG BISA MENGOKOHKAN UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    a. Menyampaikan ungkapan cinta
    Ketika Anda melihat saudara Anda yang berhias dengan banyak kebaikan; ahli shalat, ahli puasa, ahli shodaqoh, ahli silaturrahim, ahli al-Qur’an, ahli majlis ta’lim, peduli sekitar, penyayang dhu’afa, tidak sombong, ringan tangan dan lain-lain, maka janganlah Anda sekedar terkesan di dalam hati saja. Tetapi, lebih dari itu ungkapkanlah secara lisan
    “ إنِّي أُحِبُّك في اللهِ “ (Sungguh saya mencintai Anda karena Allah). Diseburkan di dalam Hadits,

    مَرَّ رجُلٌ بالنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وعِندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم رجُلٌ جالِسٌ، فقال الرَّجُلُ: واللهِ يا رسولَ اللهِ، إنِّي لَأُحِبُّ هذا في اللهِ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أخبَرْتَه بذلك؟ قال: لا، قال: قُمْ فأَخبِرْهُ؛ تَثْبُتِ المَودَّةُ بيْنكما. فقام إليه فأخبَرَه، فقال: إنِّي أُحِبُّك في اللهِ، أو قال: أُحِبُّك للهِ، فقال الرَّجُلُ: أَحَبَّك الذي أحبَبْتَني فيه (رواه أبو داود والنسائى عن أنس بن مالك)

    “Ada seseorang lewat di depan Nabi shallahu’alaihi wasallam, di samping beliau ada seseorang yang sedang duduk. Dia berkata: Demi Allah, Ya Rasulullah sungguh saya mencintai orang ini karena Allah. Rasulullah bertanya: Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya yang demikian? Dia menjawab: Belum. Beliau bersabda: Ayo berdiri dan sampaikanlah kepadanya niscaya akan memperkokoh cinta kalian berdua. Dia pun berdiri lalu mengatakan kepadanya: Inni uhibbuka fillah atau dia mengatakan: uhibbuka fillah. Orang itu menjawab: Ahhabaka alladzi- ahbabtani fihi (Semoga mencintai Anda Dzat yang telah menjadikan Anda mencintaiku karenanya)” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’I dari Anas bin Malik)

    b. Mendoakan tanpa sepengetahuannya
    Ini hal yang luar biasa. Namun, belum banyak kaum muslimin yang melakukannya. Bagaimana tidak, ketika kita mendoakan saudara kita tanpa dia mengetahuinya maka doa ini mustajab. Apakah kita rugi? Tidak, kita justru didoakan oleh Malaikat dengan doa sama seperti yang kita panjatkan. Disebutkan di dalam Hadits,

    دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لأَخِيهِ بظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّما دَعَا لأَخِيهِ بخَيْرٍ، قالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بهِ: آمِينَ وَلَكَ بمِثْلٍ (رواه مسلم عن أم الدرداء)

    “Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa dia mengetahuinya adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada Malaikat yang diserahi urusan. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, maka Malaikat yang diserahi urusan tersebut itu mengatakan: Amin… dan untukmu sama seperti itu juga(HR. Muslim dari Ummu Darda’)

    Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 3 Saling menolong) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-3-saling-menolong/ Wed, 26 Nov 2025 07:44:04 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20943
  • Saling menolong
  • Cukuplah kisah tentang saling menolong antara Muhajirin dan Anshor sebagai teladan bagi kita semua. Betapa tidak, para Sahabat Muhajirin yang datang dari Makkah dalam keadaan tidak membawa harta benda karena terpaksa harus ditinggalkan demi menyelamatkan agama, mereka bisa hidup secara wajar di daerah barunya yaitu Madinah. Ini tidak lain karena pertolongan yang diberikan oleh Shahabat Anshor yang tidak mengenal perhitungan. Kalau kita memperhatikan bagaimana mereka menolong saudaranya, maka kita akan banyak berdecak kagum. Salah satu kisahnya,

    عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: “قَدِمَ عَلَيْنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَآخَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ، وَكَانَ كَثِيرَ المَالِ، فَقَالَ سَعْدٌ: قَدْ عَلِمَتِ الأَنْصَارُ أَنِّي مِنْ أَكْثَرِهَا مَالًا، سَأَقْسِمُ مَالِي بَيْنِي وَبَيْنَكَ شَطْرَيْنِ، وَلِي امْرَأَتَانِ فَانْظُرْ أَعْجَبَهُمَا إِلَيْكَ فَأُطَلِّقُهَا، حَتَّى إِذَا حَلَّتْ تَزَوَّجْتَهَا، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ، فَلَمْ يَرْجِعْ يَوْمَئِذٍ حَتَّى أَفْضَلَ شَيْئًا مِنْ سَمْنٍ وَأَقِطٍ، فَلَمْ يَلْبَثْ إِلَّا يَسِيرًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ، وَضَرٌ مِنْ صُفْرَةٍ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَهْيَمْ) قَالَ: تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ، فَقَالَ (مَا سُقْتَ إِلَيْهَا؟). قَالَ: وَزْنَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ، أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ: (أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ) (رواه البخاري)

    “Dari Anas radhiallahu’anhu, dia berkata: Abdurrahman datang kepada kami. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam mempersaudarakan antara dia dengan Sa’ad bin Ar-Robi’ yang sangat kaya. Sa’ad berkata: Orang-orang Anshar tahu bahwa aku salah satu yang terkaya di antara mereka. Saya akan membagi kekayaanku antara saya dan kamu menjadi dua. Dan saya memiliki dua istri, jadi lihatlah siapa yang paling kamu sukai, saya akan menceraikannya. Ketika dia sudah halal, maka nikahilah dia. Abdur-Rahman berkata: Semoga Allah memberkahi kamu dalam keluargamu. Ia tidak kembali hari itu hingga ia memiliki beberapa mentega dan daging. Ia tidak tinggal lama hingga Rasulullah shallahu’alaihi wasallam datang kepadanya, dan ia terlihat agak kekuningan. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam berkata kepadanya: “Mahayyam.” Dia berkata: Aku menikahi seorang wanita dari kaum Anshar. Dia bertanya: Apa yang kamu bawa untuknya? Beliau menjawab: seberat biji emas, atau sebiji emas. Beliau menjawab: Buatlah pesta pernikahan, meskipun dengan seekor kambing (HR. Bukhari)

    Allahu Akbar… menolong tanpa pamrih. Sedikit merenung yuk! Adakah di zaman sekarang orang yang kaya raya memberikan kepada kawannya yang fakir sebagaimana yang diberikan oleh Sa’ad bin Ar-Robi’ kepada Abdurrahman bin Auf
    • Menutup aibnya

    Satu hal yang harus kita hadirkan dalam jiwa sehingga kita terhindar dari perbuatan membeberkan aib orang lain adalah “bukankah saya tidak mau kalau aib saya dibeberkan?”
    Sufyan bin Husain menuturkan, “Saya menceritakan tentang keburukan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyah (seorang qodhi di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz). Dia memandangi wajahku dan bertanya: Kamu terlibat dalam perang melawan Rum? Saya jawab: Tidak. Dia lanjut bertanya: Kalau perang Sindi, Hindi dan Turki? Saya jawab: Tidak. Dia memberikan tawjihat: Kok bisa Rum, Sindi, Hindi, Turki selamat dari kamu tetapi saudaramu seorang muslim tidak selamat dari kamu?”
    Yahya bin Ma’in (Syaikh al-Muhadditsin lahir tahun 158 H) berkata:

    ما رأيتُ على رجلٍ قطُّ خطأً إلا سترْتُه، وأحببْتُ أنْ أُزَيِّنَ أمرَه، وما استقبلْت رجلًا في وجهِه بأمرٍ يكرهُه، ولكنْ أبيِّنُ له خطأَه فيما بيني وبينَه، فإنْ قبِل ذلك وإلَّا تركتُ

    “ Tidaklah saya melihat orang berbuat salah, melainkan saya pasti menutupinya. Dan, saya suka memperbagus urusannya. Dan, tidaklah saya menghadapi seseorang yang raut wajahnya menyimpan sesuatu yang dibenci melainkan saya jelaskan kesalahannya secara empat mata. Kalau dia terima, alhamdulillah. Kalau tidak, maka saya tinggalkan”.

    b. Saling menghormati dan menyayangi
    Dalam kehidupan kaum muslimn, mereka dikelompokkan menjadi dua; senior dan yunior. Adakalanya dari usia dan adakalanya dari sisi kedudukan. Ukhuwwah islamiyyah mengharuskan adanya perangai ini di dalam muamalah mereka. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

    ليس منا من لم يرحمْ صغيرَنا ، ويُوَقِّرْ كبيرَنا (صحيح الجامع عن أنس بن مالك وعبدالله بن عمرو بن العاص وابن عباس )

    “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yunior kami, dan tidak menghormati senior kami(Shahih al-Jami’ dari Anas bin Malik, Abdullah bin Amr bin al-Ash dan Ibnu Abbas)
    Bentuk menghormati dan menyayangi bisa saja berbeda-beda antara satu bangsa dari bangsa lainnya. Kalau tradisi di suatu daerah bentuk penghormatan ketika melewati orang-orang tua dengan sedikit membungkukan badan, maka lakukanlah asalkan tidak ghuluw seperti menyerupai posisi ruku’, atau sujud, atau “ngesot-ngesot”. Demikian juga cium tangan, lakukanlah. Asalkan tidak ada ghuluw seperti berebutan karena memandang suatu keberkahan pada jasadnya.
    Suatu ketika Nabi shallahu’alaihi wasallam menegur seseorang yang mendahului seniornya di dalam pembicaraan. Disebutkan dalam sebuah riwayat,

    فانطلق عبدُالرحمنِ بنُ سَهلٍ، وحُوَيِّصَةُ ، ومُحَيِّصَةُ ابنا مسعودٍ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فذهب عبدُالرحمنِ يتكلمُ ، فقال له رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: كبِّر الكُبْرَ (رواه البخارى ومسلم عن سهل بن أبي حثمة)

    “Abdurrahman bin Sahl, Huwayyishoh dan Muhayyishoh keduanya putra Mas’ud radhiallahu’anhum. Mereka bertolak menuju Rasulullah shallahu’alaihi wasallam. Ketika itu Abdurrahman memulai pembicaraan. Maka Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: Utamakan yang senior.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Abi Hatsmah)
    Demikian juga di dalam bab menyayangi. Janganlah yang senior baik secara usia atau kedudukan menyepelekan yunior, dengan perkataan ataupun perbuatan. Janganlah mengabaikan mereka yang menjadikan hak-haknya tidak dipenuhi. Bersikap hangatlah kepada mereka sehingga tidak merasa keberadaannya terpinggirkan. Ingatlah reward yang besar sebagaimana disebutkan di dalam sebuah riwayat,

    الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ (رواه أبو داود والترمذى وأحمد)

    “Para penyayang mereka disayangi Allah Ar-Rahman, sayangilah oleh kalian orang siapa yang ada di bumi maka akan menyayangi kalian siapa yang ada di langit” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad)


    c. Bekerja sama
    Allah ta’ala berfirman,

    وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ (المائدة:2)

    “Saling bekerjasamalah kalian di atas kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah)
    Banyak sekali fenomena-fenomena dalam kehidupan bahwa kesuksesan Allah ta’ala berikan kepada pihak-pihak yang bekerjasama dan bersinergi secara kuat. Berikut ini beberapa contohnya:

    a]. Para Shahabat berhasil menghalau pasukan sekutu kafir untuk “meringsek” ke dalam kota Madinah karena mereka bekerjasama bahu-membahu membikin parit di sekeliling arah masuk ke Madinah
    b]. Abu Bakar bersama keluarganya bekerjasama untuk memuluskan hijrahnya Nabi shallahu’alaihi wasallam. Dia telah menyiapkan dua tunggangan. Ketika keduanya sampai di gua Tsur, dia yang masuk terlebih dulu untuk memastikan bahwa di dalamnya tidak ada sesuatu yang dikhawatikan. Sementara Asma binti Abu Bakar setiap hari mengirim makanan untuk keduanya selama berada di gua.
    c]. Ta’awun-nya para Shahabat sesampainya di Madinah di dalam membangun masjid Nabawi. Nabi turut serta di dalamnya.
    d]. Setiap dua orang dari Shahabat, satu orang berangkat jihad sementara satunya lagi meng-handle kemaslahatan seluruh keluarga kawannya yang berjihad tersebut. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,

    أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ بعثَ إلى بني لَحيانَ وقال: لِيخرُجْ من كلِّ رجُلَينِ رجلٌ، ثمَّ قالَ للقاعد: أيُّكم خلَفَ الخارجَ في أَهلِهِ ومالِهِ بخيرٍ، كانَ لَهُ مثلُ نصفِ أجرِ الخارجِ (رواه مسلم عن أبى سعيد الخدرى)

    “Rasulullah shallahu’alaihi wasallam mengutus seseorang ke Bani Lahyan agar satu orang berangkat jihad. Lalu dikatakan kepada yang tidak berangkat: Siapa saja di antara kalian yang mengurus keluarga dan hartanya dengan baik maka baginya setengah dari pahala yang didapatkan oleh orang yang berangkat (jihad)” (HR. Muslim dan Abu Sa’id al-Khudri)
    Sungguh mengagumkan ta’awun yang diteladankan oleh Nabi shallahu’alaihi wasallam dan para Shahabat. Tidak saja berhenti pada Shahabat tetapi harus terus berlangsung di tengah-tengah kaum muslimin hingga hari Kiamat. Karena ummat Islam diciptakan dengan ajaran untuk saling menguatkan sesama mereka. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

    المُؤْمِنَ للمؤمنِ كالبُنْيانِ يشدُّ بَعضُهُ بعضًا (رواه البخارى ومسلم عن أبى موسى الأشعرى)

    “Mukmin yang satu bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)

    Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    Ukhuwwah Islamiyyah (Bag. 2 UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN) https://nidaulfithrah.com/ukhuwwah-islamiyyah-bag-2-ukhuwwah-atas-dasar-aqidah-lebih-utama-daripada-ukhuwwah-atas-dasar-apapun/ Mon, 01 Sep 2025 07:04:00 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=20396 C. UKHUWWAH ATAS DASAR AQIDAH LEBIH UTAMA DARIPADA UKHUWWAH ATAS DASAR APAPUN
    Persaudaraan atas dasar aqidah lebih utama daripada persaudaraan atas dasar kabilah, bisnis, negara, kekayaan, komunitas, atau apapun. Bahkan lebih utama daripada persaudaraan atas dasar nasab/keluarga. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

    لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ (المجادلة:22)

    “Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah ta’ala. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (QS. Al-Mujadilah: 22)
    Coba kita perhatikan ayat ini, orang muknin tidaklah mencintai orang kafir meskipun ayah, anak, saudara atau famili. Padahal mereka adalah orang-orang yang ada ikatan nasab, tetapi mereka tidak boleh dicintai karena kafir.
    Ayat ini menjelaskan suatu kejadian dalam perang Badar. Ketika itu Abu Ubaidah membunuh ayahnya. Abu Bakar berkeinginan kuat untuk membunuh anaknya, Abdurrahman. Mush’ab bin Umair membunuh saudaranya Ubaid bin Umair. Umar bin Khottob membunuh kerabatnya. Hamzah, Ali dan Ubaidah bin Al-Harits juga membunuh kerabatnya yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah.
    Jelaslah, ukhuwwah atas dasar aqidah lebih utama daripada ukhuwwah atas dasar keluaga.

    D. PANCARAN ENERGI UKHUWWAH ISLAMIYYAH
    Ukhuwwah Islamiyyah memancarkan energi yang luar biasa dalam kehidupan kaum muslimin. Di antaranya:

    a. Tidak menzhalimi, tidak membiarkannya disakiti, saling menolong, dan menutup aibnya
    Disebutkan di dalam Hadits,

    المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولَا يُسْلِمُهُ، ومَن كانَ في حَاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حَاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه كُرْبَةً مِن كُرُبَاتِ يَومِ القِيَامَةِ، ومَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ (رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر)

    “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah c akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah ta’ala menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah ta’ala akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)

    • Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur seseorang yang melaknat seorang muslim akibat suatu dosa

    Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur orang yang menzhalimi saudaranya secara lisan, lalu bagaimana bentuk kezhaliman yang lebih besar lagi. Suatu hari Nabi shallahu’alaihi wasllam menghukum orang yang minum khamr, lalu ada orang yang mengomenteri peminum khamr tersebut dengan ucapan-ucapan yang buruk. Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya. Disebutkan di dalam Hadits,

    أنَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وكانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وكانَ يُضْحِكُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وكانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قدْ جَلَدَهُ في الشَّرَابِ، فَأُتِيَ به يَوْمًا فأمَرَ به فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العنْه، ما أكْثَرَ ما يُؤْتَى بهِ؟ فَقَالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ ما عَلِمْتُ إنَّه يُحِبُّ اللَّهَ ورَسولَهُ (رواه البخارى عن عمر الخطاب)

    “Ada seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasllam namanya Abdullah. Biasa dijuluki dengan Himar. Dia orang yang pernah membikin Nabi tertawa. Nabi shallahu’alaihi wasllam pernah mencambuknya disebabkan minum khamr. Suatu hari dia dibawa ke hadapan Nabi shallahu’alaihi wasllam. Beliau memerintahkan agar dicambuk. Ada seseorang dari suatu kaum yang berkomentar: Ya Allah, laknatlah dia! Betapa sering dia ditangkap Maka Nabi shallahu’alaihi wasllam menegurnya: Janganlah kamu melaknatnya. Demi Allah, sungguh dia seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari dari -Umar bin al-Khottob)

    • Nabi menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut.

    Nabi shallahu’alaihi wasllam menegur Abu Dzar yang me-laqob-i seseorang dengan laqob-laqob yang tidak patut. Disebutkan di dalam Hadits,

    رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ وَعليه حُلَّةٌ، وعلَى غُلَامِهِ مِثْلُهَا، فَسَأَلْتُهُ عن ذلكَ، قالَ: فَذَكَرَ أنَّهُ سَابَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَعَيَّرَهُ بأُمِّهِ، قالَ: فأتَى الرَّجُلُ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذلكَ له، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: إنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إخْوَانُكُمْ وَخَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فمَن كانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدَيْهِ، فَلْيُطْعِمْهُ ممَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ ممَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ ما يَغْلِبُهُمْ، فإنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فأعِينُوهُمْ عليه (رواه البخارى ومسلم عن أبى ذر الغفارى)

    “Saya (periwayat) melihat Abu Dzar mengenakan pakaian. Budaknya juga mengenakan pakaian yang sama. Lalu saya (periwayat) bertanya sebab demikian. Dia menuturkan bahwa dirinya pernah mencela seseorang pada zaman Nabi shallahu’alaihi wasallam dengan menjelek-jelekkan ibunya. Ketika mendatangi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan menceritakan apa yang terjadi, beliau bersabda: Sesungguhnya pada dirimu terdapat sifat jahiliyyah. Mereka itu saudara kalian. Allah ta’ala menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Maka siapa saja yang saudaranya itu di bawah kekuasaannya dia harus memberinya makan sebagaimana dirinya makan, dia harus memberinya pakaian sebagaimana dirinya berpakaian. Janganlah membebaninya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Jika kamu menugaskannya dengan suatu tugas maka bantulah dia” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar)

    Dua kejadian di atas menunjukkan dua kezhaliman yang barangkali dikatagorikan kezhaliman kecil. Meski demikian, Nabi shallahu’alaihi wasallam langsung menegurnya. Lalu, bagaimana jika kezhaliman besar?
    • Seorang muslim tidak membiarkan saudaranya disakiti

    Ibnu Hasyim rahimahullah menjelaskan mengenai sebab terjadinya perang Bani Qoinuqo, yaitu seorang muslim yang tidak rela saudarinya seorang Muslimah dilecehkan oleh orang Yahudi. Dia marah dan membunuh orang Yahudi tersebut. Dia sendiri akhirnya dibuhuh oleh orang-orang Yahudi.

    أن امرأة من العرب قدمت بجلب لها، فباعته بسوق بني قينقاع، وجلست إلى صائغ بها، فجعلوا يريدونها على كشف وجهها، فأبت، فعمد الصائغ إلى طرف ثوبها فعقده إلى ظهرها، فلما قامت انكشفت سوأتها، فضحكوا بها، فصاحت، فوثب رجل من المسلمين على الصائغ فقتله وكان يهوديًا، وشدّت اليهود على المسلم فقتلوه، فاستصرخ أهل المسلم المسلمين على اليهود، فغضب المسلمون، فوقع الشرّ بينهم وبين بني قينقاع

    Seorang perempuan( Muslimah) dari Arab membawa perhiasan. Dia hendak menjualnya di pasar Bani Qainuqa’. Perempuan itu duduk di tempat pembuat perhiasan. Mereka meminta kepanya agar membuka wajahnya. Dia tidak mau salah seorang pembuat perhiasan sengaja berbuat (buruk) dengan mengikatkan ujung pakaian bagian belakang muslimah tersebut ke bagian yang lainnya. Sehingga ketika perempuan itu bangkit dari duduknya tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Hal itu membuat orang-orang yang ada di pasar melihat perempuan tersebut dan menertawakan. Dia berteriak. Seorang muslim segera menghampiri dan membunuh Yahudi tadi. Melihat hal itu, Yahudi yang lain pun mendatanginya lalu membunuh muslim tersebut. Kemudian terjadilah pertengkaran antara kaum muslimin yang ada di sana dengan Bani Qainuqa’.
    Allahu Akbar, beginilah ukhuwwah Islamiyyah. Seorang muslim tidak rela, marah dan tidak membiarkan saudaranya disakiti.

    Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>