Mutiara Fithrah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Tue, 14 Mar 2023 06:56:22 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Mutiara Fithrah – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Sekiranya Seorang yang Bersedekah Mengetahui https://nidaulfithrah.com/sekiranya-seorang-yang-bersedekah-mengetahui/ https://nidaulfithrah.com/sekiranya-seorang-yang-bersedekah-mengetahui/#respond Fri, 26 Aug 2022 12:05:32 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16024 Imam Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata:

لو علم المتصدق أن صدقته تقع في يد الله قبل يد الفقير لكانت لذة المعطي أكثر من لذة الآخذ

“Sekiranya seorang yang bersedekah mengetahui bahwa sedekahnya itu lebih dahulu sampai ke Tangan Allah sebelum sampai ke tangan orang miskin, niscaya kebahagiaan yang dirasakan oleh pemberi sedekah itu lebih besar daripada kebahagiaan yang dirasakan oleh penerimanya”.

Madarijus Salikin 1/26

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/sekiranya-seorang-yang-bersedekah-mengetahui/feed/ 0
Memperbanyak Puasa pada Bulan Sya’ban https://nidaulfithrah.com/memperbanyak-puasa-pada-bulan-syaban/ https://nidaulfithrah.com/memperbanyak-puasa-pada-bulan-syaban/#respond Fri, 26 Aug 2022 12:03:54 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16023 Imam Ibnu Rojab رَحِمَهُ اللهُ berkata:

صيام شعبان كالتمرين صيام رمضان. لئلا يدخل في صوم رمضان على مشقة وكلفة

“Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban hakikatnya seperti berlatih puasa Ramadhan, agar seorang manusia tidak memasuki puasa Ramadhan dengan kesusahan dan beban”

Lathoiful Ma’arif hal: 134

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/memperbanyak-puasa-pada-bulan-syaban/feed/ 0
Apabila Manusia Kagum Kepadamu https://nidaulfithrah.com/apabila-manusia-kagum-kepadamu/ https://nidaulfithrah.com/apabila-manusia-kagum-kepadamu/#respond Fri, 26 Aug 2022 12:03:15 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16032 Imam Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata:

واعلم أن الناس إذا أعجبوا بِك، فإنمَا أعجبوا بجميل ستر اللهِ عليك

“Ketahuilah apabila manusia kagum kepadamu, pada hakikatnya mereka mengagumi keindahan tirai Allah yang telah menutupi aib-aibmu”.

Madarijus Salikin 2/293

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/apabila-manusia-kagum-kepadamu/feed/ 0
Tujuh Golongan https://nidaulfithrah.com/tujuh-golongan/ https://nidaulfithrah.com/tujuh-golongan/#respond Fri, 26 Aug 2022 12:02:07 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16031 Rasulullah ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘arsy Allah dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah, yaitu:

Pemimpin yang adil

Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah

Seorang yang hatinya senantiasa bergantung di masjid

Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah

Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan: ‘Sungguh aku takut kepada Allah’

Seorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya

Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian sehingga kedua matanya meneteskan air mata.

HR. Al Bukhari no: 620

Imam Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata:

إإذا تأملت السبعة الذين يظلهم الله عز وجل في ظل عرشه يوم لا ظل إلا ظله، وجدتهم إنما نالوا ذلك الظل بمخالفة الهوى

“Apabila engkau memperhatikan hadis tentang tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘arsy-Nya, yang dimana pada hari itu tidak ada naungan kecuali dengan naungan-Nya.

Maka engkau akan dapati bahwasanya mereka mendapatkan hal tersebut dengan sebab menyelisihi hawa nafsu mereka”.

Roudhotul Muhibbin 1/485

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/tujuh-golongan/feed/ 0
Nishfu Sya’ban https://nidaulfithrah.com/nishfu-syaban/ https://nidaulfithrah.com/nishfu-syaban/#respond Fri, 26 Aug 2022 11:48:27 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16030 Dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْها, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Bid’ah sendiri didefinisikan oleh Asy Syatibi رَحِمَهُ اللهُ dalam kitab Al I’tishom,

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.” [1]

Amalan yang Ada Tuntunan di Bulan Sya’ban

Amalan yang disunnahkan di bulan Sya’ban adalah banyak-banyak berpuasa. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْها  berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Shallahu ‘alihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) [1]

Amalan yang Tidak Ada Tuntunan di Bulan Sya’ban

Adapun amalan yang tidak ada tuntunan dari Nabi banyak yang tumbuh subur di bulan Sya’ban, atau mendekati atau dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Boleh jadi ajaran tersebut warisan leluhur yang dijadikan ritual. Boleh jadi ajaran tersebut didasarkan pada hadits dho’if (lemah) atau maudhu’ (palsu). Apa saja amalan tersebut? Berikut beberapa di antaranya:

Kirim do’a untuk kerabat yang telah meninggal dunia dengan baca yasinan atau tahlilan. Yang dikenal dengan Ruwahan karena Ruwah (sebutan bulan Sya’ban bagi orang Jawa) berasal dari kata arwah sehingga bulan Sya’ban identik dengan kematian. Makanya sering di beberapa daerah masih laris tradisi yasinan atau tahlilan di bulan Sya’ban. Padahal Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya. [1]

Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat dan do’a.

Tentang malam Nishfu Sya’ban sendiri ada beberapa kritikan di dalamnya, di antaranya:

Tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu dalil pun yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dan dalil yang ada hanyalah dari beberapa tabi’in yang merupakan fuqoha’ negeri Syam.” (Lathoif Al Ma’arif, 248). Juga yang mengatakan seperti itu adalah Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, penulis Tuhfatul Ahwadzi.

Contoh hadits dho’if yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban, yaitu hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah a bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini  munqothi’ (terputus sanadnya).” [Berarti hadits tersebut dho’if/ lemah]. [1]

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ

“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya untuk shalat. Dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dari hari lainnya untuk berpuasa.” (HR. Muslim no. 1144). Seandainya ada pengkhususan suatu malam tertentu untuk ibadah, tentu malam Jum’at lebih utama dikhususkan daripada malam lainnya. Karena malam Jum’at lebih utama daripada malam-malam lainnya. Dan hari Jum’at adalah hari yang lebih baik dari hari lainnya karena dalam hadits dikatakan, “Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at.” (HR. Muslim). Tatkala Nabi shallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan agar jangan mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya dengan shalat tertentu, hal ini  menunjukkan bahwa malam-malam lainnya lebih utama untuk tidak dikhususkan dengan suatu ibadah di dalamnya kecuali jika ada dalil yang mendukungnya. (At Tahdzir minal Bida’, 28).[1]

Malam nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam lainnya. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Malam Nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban (15 Hijriyah).” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 115) [1]

Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban sebenarnya sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan. [1]

Shalat 6 rakaat di malam Nisfu Sya’ban dengan tujuan untuk mencegah bala’ serta memperpanjang usia.

Dengan membaca surat Yaasin dan doa. Ini adalah bid’ah yang tidak berdasarkan dalil dari syariat bahkan ulama telah menjelaskan akan kebid’ahannya.

Imam An-Nawawi رَحِمَهُ اللهُ berkata:

Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib yaitu 12 rakaat dikerjakan antara maghrib dan isya’ di malam Jumat pertama bulan Rajab dan Shalat malam Nisfu Sya’ban 100 rakaat. Kedua shalat tersebut merupakan bid’ah dan perbuatan mungkar yang jelek. Jangan sampai tertipu dengan disebutkannya kedua shalat tersebut dalam kitab “Quut Al-Quluub” dan “Ihya’ Ulumuddin”. Dan jangan pula tertipu dengan hadits yang menyebutkan kedua shalat tersebut, karena haditsnya batil. Dan jangan tertipu dengan sebagian fatwa ulama yang ditulis di lembaran-lembaran kertas tentang sunnahnya kedua shalat tersebut. Karena ini adalah suatu kesalahan. [2]

Menjelang Ramadhan diyakini sebagai waktu utama untuk ziarah kubur, yaitu mengunjungi kubur orang tua atau kerabat (dikenal dengan “nyadran”). Yang tepat, ziarah kubur itu tidak dikhususkan pada bulan Sya’ban saja. Kita diperintahkan melakukan ziarah kubur setiap saat agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ

“Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976). Jadi yang masalah adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk ‘nyadran’ atau ‘nyekar’. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini. [1]

Menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar, padusan, atau keramasan. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi Shallahu ‘alihi wasallam. Puasa tetap sah jika tidak lakukan keramasan, atau padusan ke tempat pemandian atau pantai (seperti ke Parangtritis). Mandi besar itu ada jika memang ada sebab yang menuntut untuk mandi seperti karena junub maka mesti mandi wajib (mandi junub). Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”), ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan (baca: ikhtilath) dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?! [1]

Bid’ah shalat alfiyah.

Ini adalah bid’ah di malam pertengahan Sya’ban yaitu melaksanakan shalat seratus rakaat dengan berjamaah. Sang imam membaca surat Al-Ikhlas 10 kali disetiap rakaat. Atau sepuluh rakaat tapi Imam membaca surat Al-Ikhlas 100 kali setelah membaca Al-Fatihah. Ini adalah bid’ah yang mungkar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رَحِمَهُ اللهُ berkata:

Adapun hadits marfu’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat (alfiyah) ini maka ini dusta dan palsu menurut kesepakatan ulama ahli hadits.

Ibnu Al-Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata:

Yang aneh adalah orang-orang yang pernah mencium bau ilmu tentang sunnah tapi tertipu dengan lelucon ini dan dia pun mengerjakan shalat tersebut. [2]

Sumber :

1. https://rumaysho.com/1851-amalan-keliru-di-bulan-syaban.html

2. http://www.salamdakwah.com/artikel/4255-amalan-dan-bidah-yang-terjadi-di-bulan-syaban

Ustadz :

1. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

2. Abdurrahman Thoyyib, Lc

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/nishfu-syaban/feed/ 0
Ingatlah Allah https://nidaulfithrah.com/ingatlah-allah/ https://nidaulfithrah.com/ingatlah-allah/#respond Fri, 26 Aug 2022 11:43:45 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16029 Allah ﷻ berfirman:

فَٱذۡكُرُونِیۤ أَذۡكُرۡكُمۡ

“Maka ingatlah diri-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu”. (QS. Al Baqarah ayat: 152)

Kholid bin Ma’dan رَحِمَهُ اللهُ berkata:

قف عند هذه الآية ولا تعجل. فلو استقر يقينها في قلبك، ما جفت شفتاك

“Berhenti sejenak pada ayat ini dan jangan tergesa-gesa. Sekiranya keyakinanmu tentang ayat ini menancap di dalam hatimu, maka kedua bibirmu tidak akan kering dari berdzikir kepada-Nya”.

Ad Durr Al Mantsur 2/65

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/ingatlah-allah/feed/ 0
Selamatkanlah Aku https://nidaulfithrah.com/selamatkanlah-aku/ https://nidaulfithrah.com/selamatkanlah-aku/#respond Fri, 26 Aug 2022 11:41:37 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16028 Dari Syakal bin Humaid, dari Bapakya ia berkata:

يا رسول الله، علمني دعاء أنتفع به

“Ya Rasulullah, ajarkanlah aku sebuah  do’a yang aku bisa mengambil manfa’at dengannya”

Maka Rasulullah bersabda:

 قُلْ اللَّهمَّ عَافِنِيْ مِنْ شَرِّ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ ، وَلِسَانِيْ وَقَلْبِيْ ، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ

“Katakanlah: ‘Ya Allah selamatkanlah aku dari buruknya pendengaranku, pandanganku, lisanku, hatiku, dan dari buruknya maniku (kemaluanku)”.

(HR. An Nasa’i no: 5470)

Makna hadis di atas ialah:

Selamatkanlah pendengaranku: Jagalah pendengaranku agar tidak mendengar sesuatu kecuali yang diridhoi Allah

Selamatkanlah pandanganku: Jagalah pandanganku agar aku tidak melihat hal yang diharamkan

Selamatkanlah lisanku: Jagalah lisanku agar tidak berucap kecuali yang baik

Selamatkanlah hatiku: Jagalah hatiku dari keyakinan yang menyimpang, dengki, dendam

Selamatkanlah maniku: Jagalah kemaluanku agar tidak menumpahkan mani kecuali pada hal yang dihalalkan

Syarah Shahih Al Adab Al Mufrod 2/319

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/selamatkanlah-aku/feed/ 0
Allah Bersama dengan Orang Sabar https://nidaulfithrah.com/allah-bersama-dengan-orang-sabar/ https://nidaulfithrah.com/allah-bersama-dengan-orang-sabar/#respond Fri, 26 Aug 2022 11:39:11 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16027 Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِینَ

“Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar”. (QS. Al Anfal ayat: 46)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di رَحِمَهُ الله berkata:

فلو لم يكن للصابرين من فضله إلا أنهم فازوا بهذه المعية من الله، لكفى بها فضلا وشرفا

“Jika seandainya tidak ada keutamaan lain bagi orang-orang yang bersabar kecuali kebersamaannya dengan Allah, maka cukuplah hal tersebut menjadi keutamaan dan kemuliaan bagi mereka”

Tafsir As Sa’di 1/74

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/allah-bersama-dengan-orang-sabar/feed/ 0
Perayaan Isra’ dan Mi’raj https://nidaulfithrah.com/perayaan-isra-dan-miraj/ https://nidaulfithrah.com/perayaan-isra-dan-miraj/#respond Fri, 26 Aug 2022 11:37:06 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16026 Syaikh Muhammad bin Ibrahim رَحِمَهُ اللهُ berkata:

“ Sesungguhnya perayaan peringatan malam isra’ dan mi’raj adalah perayaan yang bathil lagi bid’ah, termasuk tasyabbuh (meniru-niru) dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam mengagungkan satu hari, dimana syariat tidak pernah memerintah untuk mengagungkannya….”

Kitab Al-Bida’ Al-Hauliyyah (hal. 279)

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/perayaan-isra-dan-miraj/feed/ 0
Orang yang Berbahagia https://nidaulfithrah.com/orang-yang-berbahagia/ https://nidaulfithrah.com/orang-yang-berbahagia/#respond Fri, 26 Aug 2022 11:35:56 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=16025 Ibnu Daqiq Al ‘Id رَحِمَهُ اللهُ berkata:

السعيد من ماتت سيئاته معه

“Orang yang berbahagia ialah siapa saja yang berhenti dosa-dosanya (kejelekannya) bersamaan dengan kematiannya”.

Ad Duror Al Kaminah 4/207

Judul buku : Kumpulan Mutiara Fihrah Jilid 2
Penulis : Ananda Ridho Gusti, S.Pd.I. Hafizhahullah

]]>
https://nidaulfithrah.com/orang-yang-berbahagia/feed/ 0