Artikel – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Mon, 04 May 2026 07:27:01 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Artikel – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Menyingkap Syubhat bagian 3 https://nidaulfithrah.com/menyingkap-syubhat-bagian-3/ Mon, 04 May 2026 07:27:01 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21827 Muhammad Fuad Abdul Baqi’ penyusun kitab “Al-Lu’lu’ wa-l- Marjan fima ittafaqo ‘alaihi Syaikhoni” mengatakan di dalam muqoddimah kitab tersebut: Inilah madzhab Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari yang beliau wafat di atas madzhab tersebut dengan meninggalkan dua kitab “Maqolaat al-Islamiyyin” ( مقالات الإسلاميين ) dan “Al-Ibanah ‘an ushulid- diyanah” ( الإبانة عن أصول الديانة ). Di dalam dua kitab ini beliau menetapkan madzhab haq yang Imam Ahlussunnah Ahmad bin Hanbal dan madzhabnya berada di atasnya, demikian juga madzhab sebelumnya para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in, yang Nabi nyatakan di dalam Haditsnya sebagai generasi utama karena keutamaan dan kebaikannya.

Wahai Asy-‘ariyyun!!! Orang-orang yang menisbatkan diri mereka kepada Imam Abul Hasan Al-Asy’ari semoga bisa menyadari bahwa beliau telah berhijrah dari madzhab mu’tazilah menuju madzhab Ahli haq, para Salafush Shalih yang beliau nyatakan sendiri (di dalam tulisannya). Mereka semua beragama dalam hal Asma wa shifat di atas kebenaran.

D. Benarkah Kita Tidak Konsisten dengan Manhaj Salaf?

Ada syubhat begini, bahwa kita tidak konsisten dengan manhaj salaf. Buktinya adalah menjadikan Ibnu Hajar, Al-Hafizh Imam An- Nawawi sebagai rujukan dalam mengambil ilmu. Bukankah keduanya itu beraqidah asyariyyah?

Untuk menjawab syubhat ini, saya nukilkan pertanyaan dan jawaban dari situs islamqa. InsyaAllah, sudah cukup sebagai jawaban.

Pertanyaan:

Salah satu ulama umat Islam di Madinah di mana saya bertempat tinggal berkata: “Bahwa Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi adalah pelaku bid’ah, ia menyebutkan beberapa dalil dari “Fathul Baari” untuk menguatkan pendapatnya tersebut. Ia juga memberikan contoh dari pendapatnya tersebut dari syarahnya Imam Ibnu Hajar, bahwa maksud dari “Wajhullah” adalah rahmat-Nya. Bagaimanakah pendapat Anda?

Jawaban:

Alhamdulillah. Ahlus sunnah pendapatnya objektif dalam menghukumi seseorang. Tidak mengangkat seseorang di atas kapasitasnya dan tidak pula mengurangi apa yang menjadi miliknya. Dan di antara bentuk berimbang dalam menjelaskan tentang seseorang adalah menjelaskan pula beberapa kesalahan para ulama, dan siapa saja yang mentakwil ilmunya, dan tetap mendoakan agar mereka mendapatkan rahmat Allah. Termasuk juga di antara bentuk informasi berimbang adalah mengajak untuk berhati-hati akan kesalahannya, sehingga seseorang tidak terkesima dengan kedudukannya, dan mungkin mengikuti kesalahannya. Ahlus sunnah tidak terburu-buru menghukumi seseorang yang menyelisihi sunnah dengan sengaja, sebagai pelaku bid’ah dan sesat.

Ada beberapa orang di masa kita ini yang menuduh kedua Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi, dengan mengatakan bahwa mereka adalah ahli bid’ah dan sesat. Dan bahkan sebagian mereka sampai pada derajat bodoh dengan mengatakan wajib hukumnya untuk membakar kedua kitab “Fathul Baari” dan “Syarah Muslim”.

Namun, juga bukan berarti mereka berdua tidak memiliki kesalahan dalam masalah agama, khususnya dalam masalah Asma’ wa Shifat (Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah). Ulama kita sudah memberikan catatan, menjelaskannya, pada saat yang sama mereka juga mengharapkan agar mereka berdua mendapatkan rahmat dari Allah, memuji keduanya sesuai dengan derajatnya, mendoakan kebaikan bagi mereka berdua, dan menganjurkan untuk mengambil manfaat dari kitab-kitab mereka berdua. Inilah sikap berimbang (menyampaikan apa adanya) yang sangat masyhur dalam Ahlus sunnah wal jama’ah.

Sungguh sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang membid’ahkan keduanya, menyesatkannya, bahkan menyatakan agar kitab-kitab mereka berdua dibakar. Juga sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang mengambil pendapat keduanya seperti halnya wahyu (yang tidak pernah salah), dan menjadikan apa yang menjadi keyakinan keduanya adalah kebenaran yang tidak diragukan lagi.

Kami akan menyebutkan beberapa pendapat ulama kita, agar seorang muslim bersikap berimbang dalam menilai, mengetahui, menghukumi dengan adil kepada kedua imam tersebut:

a. Ulama Lajnah Daimah pernah ditanya:

Bagaimanakah sikap kita terhadap beberapa ulama yang mentakwil Sifat-Sifat Allah, seperti: Ibnu Hajar, Imam Nawawi, Ibnul Jauzi, dan lain sebagainya. Apakah kita tetap menganggap mereka termasuk para Imam ahlus sunnah wal jama’ah atau bagaimana? Apakah kita berkata: Mereka melakukan kesalahan dengan takwil mereka, atau mereka sesat?

Mereka menjawab:

“Sikap kita terhadap Abu Bakar al Baqillani, al Baihaqi, Abul Farj Ibnul Jauzi, Abu Zakariya an- Nawawi, Ibnu Hajar dan ulama yang serupa dengan mereka yang mentakwil sebagian Sifat- Sifat Allah atau menyerahkan sepenuhnya (tafwidh) kepada Allah tentang hakikat makna Sifat-Sifat tersebut. Menurut hemat kami mereka semua termasuk para ulama kaum muslimin yang ilmunya bermanfaat bagi umat, semoga Allah merahmati mereka semua dengan rahmat yang luas dan jazahumullah khoiral jazaa’. Mereka masih tergolong Ahlus sunnah dalam masalah-masalah yang sesuai dengan para Sahabat –radhiyallahu ‘anhum– dan para ulama salaf pada tiga abad pertama yang mendapatkan persaksian baik dari Nabi صلى الله عليه وسلم . Kesalahan mereka adalah kerena mentakwil nash yang menjelaskan tentang Sifat-Sifat Allah. Baik yang terkait dengan Sifat-Sifat dzatiyah, ataupun sifat perbuatan atau sebagiannya. Mereka menyelisihi ulama salaf dan para imam sunnah rahimahumullah. Petunjuk yang benar hanya milik Allah. Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم (Syekh Abdul Aziz bin Baaz, Syekh Abdur Razzaq al ‘Afifi, Syekh Abdullah bin Qu’ud).

(Fatawa Lajnah Daimah: 3/241)

b. Syaikh Muhammad bin Shaleh al ‘Utsaimin rahimahumullah ditanya:

Berkaitan dengan ulama yang memiliki beberapa kesalahan dalam aqidah, seperti masalah Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah dan lain-lain. Nama-nama mereka tidak asing lagi bagi kami, apalagi ketika kami kuliah dahulu. Pertanyaannya adalah apa hukumnya mendoakan mereka dengan ucapan: “Semoga Allah merahmati mereka semua”?

Syaikh bertanya balik: “Contohnya siapa?“

Penanya: “Contohnya Zamakhsyari, Zarkasyi dan lainlain..”

Syaikh: “Zarkasyi dalam masalah apa?“

Penanya: “Dalam masalah Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah”

Beliau menjawab:

“Yang jelas di sana ada beberapa orang yang menisbatkan dirinya kepada kelompok tertentu dengan membawa bendera bid’ah, seperti Mu’tazilah yang termasuk di dalamnya adalah Zamakhsyari, ia seorang mu’tazilah. Ia menamakan orang-orang yang menetapkan Sifat-Sifat bagi Allah sebagai Hasyawiyah (tidak bisa dipercaya) atau Mujassimah (menyatakan Allah berbentuk), dan menyesatkan mereka. Oleh karenanya bagi siapa saja yang membaca bukunya “al Kasysyaf” dalam mentafsiri al Qur’an agar berhati-hati dengan pendapatnya terkait Sifat-Sifat Allah. Namun kitab tafsir tersebut dari sisi balaghah adalah baik, banyak memberikan manfaat, tentu saja berbahaya bagi siapa saja yang belum mengetahui tentang masalah Nama-Nama dan Sifat- Sifat Allah.

Akan tetapi di sana ada beberapa ulama yang terkenal baik, dan tidak termasuk dalam kelompok ahlul bid’ah, namun dalam pendapat mereka ada beberapa yang mengandung bid’ah, seperti Ibnu Hajar al Asqalani dan An Nawawi rahimahumullah. Sebagian orang-orang yang tidak mengerti menuduh mereka berdua sembarangan, bahkan dikatakan kepada saya: “Sungguh sebagian orang berkata, diwajibkan untuk membakar kitab “Fathul Baari”; karena Ibnu Hajar adalah termasuk ‘Asy’ariyyah. Hal ini tidak benar karena kedua ulama tersebut saya tidak pernah mengetahui pada masa sekarang ada seseorang yang mampu mempersembahkan sebuah karya terbaiknya kepada Islam dalam masalah Hadits seperti karya mereka berdua. Hal itu menunjukkan kepada Anda bahwa Allah جل جلاله dengan daya dan kekuatan-Nya, saya tidak mendahului kehendak Allah bahwa Dia جل جلاله telah menerimanya. Hampir semua hasil karya mereka berdua dapat diterima oleh semua pihak, baik kalangan terpelajar, bahkan sampai masyarakat umum. Kitab “Riyadhus Shalihin” misalnya ia dibaca pada setiap majelis, dan pada setiap masjid, mampu memberikan manfaat kepada banyak kalangan. Saya berharap bahwa Allah akan menjadikan salah satu buku saya seperti halnya kitab “Riyadhus Shalihin”, dimana semua orang dapat mendapatkan manfaat baik di rumahnya, atau di masjidnya.

Jadi, bagaimana mungkin kedua ulama tersebut dikatakan bahwa mereka ahli bid’ah dan sesat, tidak boleh didoakan dengan rahmat Allah, dan buku-bukunya tidak boleh dibaca, Fathul Baari dan Syarah Muslim wajib dibakar ?!! Subhanallah, maka saya katakan kepada mereka baik dengan bahasa lisan maupun perbuatan:

أَقِلُّوا عليهمُ لا أبا لأبيكمُ مِن اللومِ أو سدوا المكان الذي سدوا

“Persedikit dalam menilai mereka –demi Allah- dari celaan, atau tutuplah tempat itu yang mereka telah menutup”.

Siapa yang mampu mempersembahkan karya terbaiknya untuk Islam sebagaimana yang mereka persembahkan ?!… Kecuali jika Allah berkehendak. Maka saya berkata: Semoga Allah mengampuni Imam Nawawi, Ibnu Hajar al Asqalani, dan siapa saja yang mirip dengan mereka berdua, yang telah Allah jadikan mereka bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Semuanya hendaknya mengamininya. (Liqaat Bab Maftuh: 43/soal nomor: 9)

c. Syekh Shaleh bin Fauzan al Fauzan –hafidzahullah

Muncul perbedaan di antara penuntut ilmu syar’i tentang definisi pelaku bid’ah:

Sebagian mereka berkata: ia adalah orang yang berkata atau berbuat bid’ah, meskipun belum diteliti kebenarannya. Sebagian yang lain berkata: harus diteliti kebenarannya. Sebagian yang lain membedakan antara perkataan seorang alim dan mujtahid dan lainnya yang mencetuskan dasar-dasar yang berlawanan dengan manhaj Ahlusunnah jama’ah. Bahkan sebagian mereka membid’ahkan Ibnu Hajar dan An-Nawawi dan tidak boleh (mendoakan) mereka agar mendapatkan rahmat Allah?

Beliau menjawab:

Pertama:

“Tidak selayaknya bagi para santri pemula atau yang lainnya menyibukkan diri untuk membid’ahkan seseorang atau menganggapnya fasiq; karena masalah tersebut sangat berbahaya dan sensitif, sedangkan mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup dalam masalah tersebut. Yang demikian itu juga akan melahirkan kebencian dan permusuhan. Kewajiban mereka yang sesungguhnya adalah menuntut ilmu dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Kedua:

Bid’ah itu mendatangkan suatu hal yang baru dalam agama dan dari dahulu tidak pernah termasuk bagian darinya, berdasarkan hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi was sallam– :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد (رواه البخاري)

“Barangsiapa yang mendatangkan sesuatu yang baru dalam urusan kami, yang sebelumnya bukan termasuk darinya, maka akan tertolak.” (HR. Bukhori)

Apabila seseorang melakukan kesalahan atau menyimpang atas dasar ketidaktahuan, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya dan tidak dihukumi sebagai pelaku bid’ah, namun apa yang dilakukannya termasuk bid’ah.

Ketiga:

Barangsiapa yang memiliki kesalahan dalam masalah ijtihadiyah, yang telah melakukan takwil, seperti Ibnu Hajar, Nawawi terhadap beberapa Sifat Allah, maka mereka tidak dihukumi sebagai pelaku bid’ah. Namun harus dijelaskan bahwa inilah kesalahan mereka, dan diharapkan untuk mereka semoga mendapat ampunan dengan besarnya perhatian mereka terhadap sunnah Rasulullah ,صلى الله عليه وسلم Mereka berdua adalah Imam yang mulia, dipercaya oleh para ulama. (Al Mauntaqa min Fatawa Fauzan: 2/211-212)

Judul buku: Menyingkap Syubhat

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Menyingkap Syubhat bagian 2 https://nidaulfithrah.com/menyingkap-syubhat-bagian-2/ Fri, 01 May 2026 08:38:28 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21823 c. Imam Abu Hanifah

لا ينبغي لأَحد أَن ينطقَ في ذات الله بشيء؛ بل يصفهُ بما وصفَ به نفسهُ، ولا يقول فيه برأيه شيئا؛ تبارك الله تعالى رَبُّ العالمين، ولما سُئل – رحمه الله – عن صفة النزول، فقال: (ينزلُ بلا كيف) (الوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة، ص: 52)

Tidak sepatutnya bagi seseorang untuk berbicara apapun berkenaan dzat Allah. Tetapi ia harus mensifati-Nya sebagaimana Dia mensifati untuk diri-Nya. Dan janganlah sedikitpun berbicara tentang dzat-Nya dengan akalnya. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam. Ketika ditanya tentang sifat nuzul (turun ke langit dunia), beliau menjawab: Dia ‘ جل جلاله turun tanpa ditanyakan bagaimana-nya (Al-Wajiz fi ‘aqidati-s- salafish- sholih Ahli-s- Sunnah wal- Jama’ah, hal.52)

d. Imam Asy-Syafi’i

آمنتُ باللهِ، وبما جاءَ عن اللهِ على مرادِ اللهِ، وآمنتُ برسول الله وبما جاء عن رسولِ اللهِ على مُراد رَسُولِ الله (الوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة، ص: 51)

Saya beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sebagaimana yang dimaksudkan Allah. Saya beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah sebagaimana yang dimaksudkan Rasulullah (Al-Wajiz fi ‘aqidati-s- salafish- sholih Ahli-s- Sunnah wal- Jama’ah, hal.51)

e. Imam Ahmad bin Hanbal

عن أبي بكر المروذي قال: سألت أحمد بن حنبل عن الأحاديث التي تردها الجهمية في الصفات والرؤية والإسراء وقصة العرش فصححها، وقال: تلقتها الأمة بالقبول وتمر الأخبار كما جاءت (مناقب الشافعي لابن أبي حاتم، ص: 182)

Dari Abu Bakar al-Marwadzi, dia berkata: Saya bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang Hadits-Hadits yang ditolak oleh Jahmiyyah, yaitu tentang Sifat-Sifat Allah, ru’yah (melihat Allah di Surga), Isra’, dan kisah ‘Arsy. Beliau membenarkan semuanya itu lalu mengatakan: Ummat harus menerimanya dan mensikapi Hadits-Hadits tersebut sebagaimana datangnya (apa adanya) (Manaqib asy-Syafi’i li-b-ni Abi Hatim, hal. 182)

قال الإمام أحمد: وزعم جهم بن صفوان أن من وصف الله بشيءٍ مما وصف به نفسه في كتابه، أو حدَّث عنه رسوله كان كافراً، وكان من المشبِّهة (مناقب الإمام أحمد، ص: 221)

Imam Ahmad mengatakan: Jahm bin Shofwan (pendiri paham Jahmiyyah) memandang bahwa barangsiapa yang mensifati Allah dengan sifat yang Dia sifati untuk diri-Nya di dalam Al-Qur’an. Atau mensifati Allah sebagaimana Rasulullah tetapkan untuk Allah, maka orang tersebut kafir dan termasuk musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 221)

قال الإمام أحمد: نحن نؤمن بأن الله على العرش، كيف شاء، وكما شاء، بلا حد، ولا صفة يبلغها واصف أو يحده أحد؛ فصفات اللهِ منه وله، وهو كما وصف نفسه، لا تدركه الأبصار (درء تعارض العقل والنقل لابن تيمية، ج 2، ص: 3)

Imam Ahmad mengatakan: “Kami beriman bahwa Allah berada di atas Arsy, sesuai kehendak-Nya, seperti yang dikehendaki-Nya, dengan tanpa batasan dan sifat dari siapapun. Karena Sifat Allah adalah dari-Nya dan untuk- Nya, Dia itu sebagaimana disifati oleh-Nya, dan Dia tidak bisa dilihat oleh indra mata (ketika di dunia).” (Dar’u Ta’arudhil Aqli wan Naql libni Taimiyah 2/30)

Perhatikanlah! Hadits Nabi صلى الله عليه وسلم berikut ini:

عن معاوية بن الحكم السلمي قال: …… وكانت لي جارية ترعى غنمًا لي قبل أحد والجوانية، فاطلعت ذات يوم فإذا الذئب قد ذهب بشاة من غنمها. وأنا رجل من بني آدم، آسف كما يأسفون، لكني صككتها صكة. فأتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فعظم ذلك علي. قلت: يا رسول الله! أفلا أعتقها؟ قال: “ائتني بها”. فأتيته بها، فقال لها: “أين الله؟” قالت: في السماء. قال: “من أنا؟” قالت: أنت رسول الله. قال: “أعتقها، فإنها مؤمنة”

Mu’aawiyyah bin Al- Hakam As-Sulamiy berkata : “…..Aku mempunyai seorang budak wanita yang menggembalakan kambingku ke arah gunung Uhud dan Jawwaaniyyah. Pada suatu hari aku memantaunya, tiba-tiba ada seekor serigala yang membawa lari seekor kambing yang digembalakan budakku itu. Aku sebagaimana manusia biasa pun marah sebagaimana orang lain marah (melihat itu). Namun aku telah menamparnya, lalu aku mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Beliau pun menganggap besar apa yang telah aku lakukan. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerdekakannya ?’ Beliau menjawab : ‘Bawalah budak wanita itu kepadaku’. Aku pun membawanya kepada beliau. Lalu beliau bertanya kepada budak wanita itu :‘Dimanakah Allah ?’ Ia menjawab : ‘Di langit’. Beliau bertanya lagi : ‘Siapakah aku ?’ Ia menjawab : ‘Engkau adalah utusan Allah (Rasulullah)’. Lalu beliau bersabda :‘Bebaskanlah, sesungguhnya ia seorang wanita beriman” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dalam Al- Mushannaf dan Al-Musnad)

Renungkanlah! Ketika ditanya, sang budak menjawab bahwa Muhammad sebagai Rasul dan Allah جل جلاله di atas ‘Arsy, lalu Nabi pun menyatakan dia sebagai wanita beriman.

Jadi, seorang mukmin adalah seseorang yang mengimani keberadaan Allah di atas ‘Arsy.

Yang tidak beriman bahwa Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit adalah Fir’aun. Akankah kita seperti Fir’aun? Allah informasikan tentang hal ini dalam Al-Qur’an,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ٱبْنِ لِي صَرْحًا لَّعَلِّيٓ أَبْلُغُ ٱلۡأَسۡبَابَ (36) أَسۡبَابَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَٰذِبٗاۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ إِلَّا فِي تَبَابٖ (غافر: 36, 37)

Fir’aun berkata kepada perdana menterinya Hāmān, “Wahai Hāmān! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi, aku ingin sampai ke jalan. (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (QS. Ghofir: 36-37)

C. Aqidah Asy’ariyyah Telah Ditaubati oleh Perumusnya

Al-Imam Abu-l-Hasan Al-Asy’ari (260 – 324 H), beliaulah yang merumuskan aqidah asy’ariyyah. Beliau sendiri telah meninggalkan rumusan tersebut dan mentaubatinya. Tetapi banyak kaum muslimin yang tetap mendasarkan aqidahnya kepada rumusan beliau yang telah ditaubatinya itu.

Berikut ini pernyataan Ibnu Katsir (701 – 776 H), penulis kitab Tafsir yang sangat masyhur yang juga memiliki sebuah karya tulis terkait biografi beberapa ulama Syafi’iyyah yang berjudul “Thabaqaat asy-Syafi’iyyah” Beliau menulis tentang perjalanan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari:

ذَكَرُوا لِلشَّيْخِ أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ، رَحِمَهُ اللهُ، ثَلَاثَةَ أَحْوَالٍ:

أَوَّلُهَا: حَالُ الاِعْتِزَالِ، الَّتِي رَجَعَ عَنْهَا لَا مَحَالَةَ.

وَالحَالُ الثَّانِيَةُ: إِثْبَاتُ الصِّفَاتِ العَقْلِيَّةِ السَّبْعِ، وَهِيَ: الحَيَاةُ، وَالعِلْمُ، وَالقُدْرَةُ، وَالإِرَادَةُ، وَالسَّمْعُ، وَالبَصَرُ، وَالكَلَامُ، مَعَ تَأْوِيلِ الصِّفَاتِ الخَبَرِيَّةِ كَالوَجْهِ، وَاليَدَيْنِ، وَالقَدَمِ، وَالسَّاقِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ.

وَالحَالُ الثَّالِثَةُ: إِثْبَاتُ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلَا تَشْبِيهٍ، جَرْيًا عَلَى مِنْهَاجِ السَّلَفِ. وَهِيَ طَرِيقَتُهُ فِي كِتَابِ «الإِبَانَةِ» الَّذِي صَنَّفَهُ آخِرًا، وَشَرَحَهُ القَاضِي البَاقِلَّانِي، وَنَقَلَهُ أَبُو القَاسِمِ ابْنُ عَسَاكِرَ. وَهِيَ الَّتِي مَالَ إِلَيْهَا البَاقِلَّانِي، وَإِمَامُ الحَرَمَيْنِ، وَغَيْرُهُمَا مِنْ أَئِمَّةِ الأَصْحَابِ المُتَقَدِّمِينَ فِي أَوَاخِرِ أَقْوَالِهِمْ.

وَاللهُ أَعْلَمُ.

Para ulama menyebutkan : “Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari memiliki 3 fase keadaan dirinya sebagai berikut :

1. Fase berkecimpung dalam Mu’tazilah yang kemudian beliau sudah rujuk secara total.

2. Menetapkan sifat Aqliyyah yang tujuh, yaitu : Hayyat, Ilmu, Qudroh, Iradah, Mendengar, Melihat dan Kalam. Dan beliau juga mentakwil Sifat-Sifat Khobariyyah seperti : Wajah, dua Tangan, Kaki, Betis dan yang semisalnya.

3. Menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dengan tidak menanyakan kaifiyat-nya (mendeskripsikannya), tidak men-tasybih (menyerupakannya) dengan makhluk-Nya, dan berjalan menurut kaedah-kaedah manhaj Salaf. Ini adalah metode yang beliau tetapkan dalam tulisannya yang terakhir yang berjudul “Al-Ibaanah”, yang kemudian kitab tersebut di-syarah oleh al-Baaqilaaniy, dinukil juga oleh Al-Hafidz Abul Qoosim ibnu ‘Aasakir. (metode Salaf) inilah yang Imam Al-Baaqilaaniy, Imamul Haromain dan Aimah senior Syafi’iyyah lainnya condong kepadanya, yang kemudian menjadi revisi terakhir dari pendapat mereka (dalam masalah Ushuluddin). Wallahu A’lam.”

Dari penuturan Ibnu Katsir di atas, jelaslah bahwa Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy‘ari telah bertaubat dari penetapan rumusan aqidahnya dan kembali (ruju‘) kepada penetapan para As-Salafush Shalih. Di antara penuturan beliau terdapat dalam kitabnya الإبانة عن أصول الديانة (Al-Ibanah ‘an Ushuli-d-Diyanah):

قولُنا الذي نقولُ به، وديانتُنا التي ندينُ بها: التمسُّك بكتابِ اللهِ ربِّنا، وبسُنَّةِ نبيِّنا محمدٍ صلى الله عليه وسلم، وما رُوي عن السادة الصحابة والتابعين وأئمة الحديث، ونحن بذلك معتصِمون. وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل، نضَّر الله وجهه، ورفع درجته، وأجزل مثوبته.

Pernyataan yang kami menyatakannya dan agama yang kami beragama dengannya adalah berpegang teguh dengan Kitab Tuhan kami dan Sunnah Nabi kami Muhammad صلى الله عليه وسلم juga apa yang diriwayatkan dari yang mulia para Sahabat, Tabi’in, dan para Imam ahli Hadits. Terhadap semuanya itu kami berpegang teguh, dan juga terhadap apa yang dikatakan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Semoga Allah mencerahkan wajahnya dan mengangkat derajatnya serta memberikan kepadanya pahala besar (Al-Ibanah)

أهلُ السُّنَّة وأصحابُ الحديث: يقولون إنَّه ليس بجسمٍ ولا يشبه الأشياء، وأنَّه على العرش كما قال عز وجل: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5)، ولا نقدِّم بين يدي الله في القول، بل نقول: استوى بلا كيف.

وأنه نورٌ كما قال تعالى: اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (النور: 35)

وأن له وجهًا كما قال الله: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ (الرحمن: 27)

وأن له يدين كما قال تعالى: خَلَقْتُ بِيَدَيَّ (ص: 75)

وأن له عينين كما قال تعالى: تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا (القمر: 14)

وأنه يجيء يوم القيامة هو وملائكته كما قال تعالى: وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (الفجر: 22).

وأنه ينزل إلى السماء الدنيا كما جاء في الحديث

ولم يقولوا شيئًا إلا ما وجدوه في الكتاب، أو جاءت به الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم. انتهى.

Ahlussunnah dan Ahli Hadits tidak menyatakan Allah berjism dan menyerupai sesuatu. Sesungguhnya Dia جل جلاله istawa di atas ‘arsy sebagaimana yang Dia firmankan dalam QS. Thoha: 5, “Ar-Rohman di atas ‘arsy bersemayam”. Kami tidak mendahului Allah dengan suatu pernyataan, melainkan menyatakan sebagaimana yang Dia firmankan tanpa mendeskripsikan/menanyakan bagaimananya (kaif).

Sesungguhnya Dia جل جلاله adalah cahaya sebagaimana yang Dia firmankan dalam QS. An-Nur: 35, “Allah cahaya langit dan bumi”

Sesungguhnya Dia جل جلاله memiliki Wajah sebagaiman Dia firmankan dalam QS. Ar-Rahman: 27, “Dan kekal lah Wajah Tuhanmu”

Sesungguhnya Dia جل جلاله memiliki dua Tangan sebagaimana Dia جل جلاله firmankan dalam QS. Shod: 75, “Aku menciptakan dengan kedua Tangan-Ku”

Sesungguhnya Dia جل جلاله memiliki dua Penglihatan sebagaimana Dia جل جلاله firmankan dalam QS. Al-Fajr: 14, “Ia berjalan dengan Penglihatan- Ku”

Sesungguhnya Dia جل جلاله datang pada Hari Kiamat dan juga para Malaikat-Nya sebagaimana yang Dia firmankan dalam QS. Al- Fajr: 22, “Datanglah Tuhanmu dan Malaikat dengan berbaris”.

Sesungguhnya Dia جل جلاله Turun ke langit dunia sebagaimana yang Nabi sabdakan dalam Haditsnya.

Mereka semua tidaklah mengatakan kecuali apa yang mereka jumpai dalam Al- Qur’an dan riwayat-riwayat dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم” [selesai].

Judul buku: Menyingkap Syubhat

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Menyingkap Syubhat bagian 1 https://nidaulfithrah.com/menyingkap-syubhat-bagian-1/ Thu, 30 Apr 2026 06:43:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21800 A. Pembagian Tauhid

Ada sebagian orang yang mempertanyakan tentang pembagian tauhid menjadi tiga; tauhid Rububiyyah, tauhid Uluhiyyah, dan tauhid Asma wa Shifat. Menurut mereka hal ini adalah bentuk mengada-ada, atau kesesatan, atau ….. karena pembagian semacam ini tidak pernah ada pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلم. Ada juga yang mengatakan pembagian semacam ini rancu, tidak jelas. Bahkan sebagian mereka mengatakan pembagian semacam ini berarti sama saja dengan ideologi trinitas dalam Kristen.

Syubhat mereka ini harus diluruskan. Bukankah hukum taklifi yang lima (wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah) tidak pernah ada pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلم ? Istilah hukum taklifi tersebut lahir dari ijtihad para ulama demi untuk kemudahan kaum muslimin di dalam keberagamaannya. Dan, memang pemahaman dari dalil-dalil yang ada menunjukkan adanya lima hukum tersebut.

Demikikan pula dengan tauhid. Dalil-dalil yang ada baik ayatayat Al-Qur’an ataupun Hadits menunjukkan adanya tiga macam tauhid, yaitu:

1. Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dia lah yang menciptakan alam semesta, mengaturnya, memeliharanya, menghancurkannya, menerbitkan matahari, membenamkan matahari, menghidupkan, mematikan, menjadikan sehat, menjadikan sakit, menjadikan adanya malam dan siang dan lain-lain. Yang kemudian dikenal dengan sebutan TAUHID RUBUBIYYAH.

2. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang segala bentuk ibadah apapun harus ditujukan kepada-Nya. Sebagai konsekuensi dari tauhid rububiyyah. Yang kemudian dikenal dengan sebutan TAUHID ULUHIYYAH.

3. Allah adalah satu-satunya Dzat yang Maha Sempurna dalam Nama dan Sifat-Nya. Yang kemudian dikenal dengan sebutan TAUHID ASMA’ WA SHIFAT.

Allah Maha Esa atas ketiga perkara tersebut di atas. Dan, tidak ada siapapun yang menolaknya.

Banyak sekali ayat yang menunjukkan tiga macam tauhid tersebut. Saya akan menukilkan dua ayat saja. Disebutkan dalam QS. Maryam: 65,

رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَٱعْبُدْهُ وَٱصْطَبِرْ لِعِبَٰدَتِهِۦ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُۥ سَمِيًّا [مريم: 6]

Tuhan (Pencipta, Pemilik, Pengatur) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Maka, sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu tahu Dia memiliki Nama? (Maryam: 65)

Mari kita perhatikan!

  • Tuhan (Pencipta, Pemilik, Pengatur) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya = TAUHID RUBUBIYYAH
  • Maka, sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya = TAUHID ULUHIYYAH.
  • Apakah kamu tahu Dia memiliki Nama? = TAUHID ASMA’ WA SHIFAT.

Sifat Allah selain terkandung di dalam Nama-Nya juga disebutkan secara tersendiri oleh Allah dan Rasul-Nya.

[الفاتحة] ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ () ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS. Al-Fatihah)

Mari kita perhatikan!

  • Segala puji bagi Allah = TAUHID ULUHIYYAH.
  • Tuhan semesta alam = TAUHID RUBUBIYYAH.
  • Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang = TAUHID ASMA’ WA SHIFAT.

B. Ahlussunnah wal Jamaah Tentang Asma’ wa Shifa

Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah memiliki Nama yang baik dan sifat yang Tinggi. Dia bersifat dengan segala sifat kesempurnaan. Dia Maha Suci dari sifat kurang.

Ahlussunnah wal Jamaah menetapkan untuk Allah Nama dan Sifat sebagaimana Dia menetapkan untuk diri-Nya dan sebagaimana yang Rasul tetapkan untuk Allah.

Di dalam menetapkan sifat, Ahlussunah menetapkannya sebagaimana zhahirnya nash tanpa melakukan TAKYIF (menanyakan bagaimana), TAHRIF (mengubah makna), TAMTSIL (menyamakan dengan makhluk) dan TA’THIL (membatalkan).

Bagaimana mungkin melakukan TAKYIF (menanyakan bagaimana) sementara tidak ada satu pun dari kalangan Sahabat yang menanyakan bagaimana istiwa-Nya, yad (Tangan)-Nya, nuzul (Turun ke langit dunia)- Nya, Wajah-Nya, Qodam (kaki) dan lain-lain. Mereka membaca Al-Qur’an di zaman Nabi dan di sisi beliau selama 23 tahun, tetapi tidak ada satupun yang menanyakan bagaimana tentang Sifat- Sifat Allah tersebut kepada Nabi. Oleh karena itu ketika ada orang bertanya tentang bagaimana istiwa Allah di atas ‘arsy, Imam Malik menjawab:

الاستواء معلوم ، والكيف مجهول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة (اعتقاد أهل السنة شرح أصحاب الحديث / ص: ۲۲)

“Istiwa’ itu jelas (diketahui maknanya), bagaimananya itu tidak ada yang tahu, mengimaninya itu hukumnya wajib, dan mempertanyakannya itu bid’ah.” (I’tiqod Ahlis Sunnah Syarah Ashabil Hadits/hlm. 22)

Cukuplah kita mengetahui makna Sifat-Sifat Allah tersebut tanpa mem-bagaimana-kannya. Adapun tentang “bagaimananya” diserahkan kepada Allah. Bukankah Allah telah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ [الشورى: 1]

“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah” (QS. Asy- Syura: 11)

Kalau kita menanyakan “bagaimana-Nya” atau membagaimanakannya berarti kita menyerupakan Allah dengan makhluk. Subhanallah.

  • Bagaimana mungkin melakukan TAHRIF/TAKWIL (mengubah makna). Istiwa ‘alal ‘arsy dimaknai berkuasa di atas ‘arsy.

Atas dasar apa mengubah makna istiwa yang maknanya ‘alaa war- fafa’: bersemayam diubah ke makna berkuasa?

Atas dasar apa Yad yang artinya tangan diubah maknanya menjadi kekuasaan?

Atas dasar apa Allah turun (ينزل ربنا إلى السماء الدنيا) diubah maknanya bahwa yang turun bukan Allah tapi rahmat-Nya?

Apakah kalian lebih tahu tentang Allah daripada Allah sendiri?

Kalaulah suatu hal tergambar oleh kita, terbersit dalam benak kita tentu kita sah-sah saja melakukan takwil. Contoh ada pernyataan: “Sang singa podium tadi malam sangat memikat audience”. Kita bisa mentakwil yang dimaksud singa di sini adalah sang orator. Karena hal ini tergambar dalam benak kita, siapa yang biasanya di atas podium? Orator, bukan?

Contoh lain: “Si Kuda dari Timur itu tidak pernah terkalahkan dalam perlombaan lari sejak tahun 2015” Kita bisa mentakwil yang dimaksud kuda di sini adalah pelari yang sangat cepat dan tak mudah lelah”. Kita sah-sah saja mentakwil demikian karena perlombaan lari itu terbersit dalam benak kita. Siapakah pesertanya? Bukankah manusia? Jadi, kuda ditakwilkan demikian tentu dibenarkan.

Lalu, adakah dzat Allah tergambar oleh benak kita? Tentu tidak.

Adakah yang pernah melihat Allah? Tentu tidak ada.

Jadi, atas dasar apa mentakwilkan Sifat-Sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya ke makna lain?

KETAHUILAH! Kesamaan nama tidak melazimkan kesamaan hakikat.

Contoh: Pernyataan pertama: “Gedung ini daun pintunya banyak”.

Pernyataan kedua: “Betapa rindangnya daun pohon ini”

Perhatikanlah, ada penamaan yang sama yaitu daun. Apakah hakikatnya sama daun pada pernyataan pertama dan kedua? Hakikatnya jauh sekali. Ini perbandingan sesama makhluk, ternyata nama yang sama tidak melazimkan kesamaan hakikat. Lalu bagaimana antara Allah Al- Kholiq dan makhluq-Nya? Maka, tentu lebih gamblang lagi TIDAK MUNGKIN PENAMAAN SIFAT ALLAH SAMA HAKIKATNYA DENGAN PENAMAAN SIFAT PADA MANUSIA.

Allah punya dua tangan (QS. Shod: 75) tidak mungkin sama hakikatnya dengan dua tangan manusia demikian juga Sifat-Sifat Allah yang lain.

RENUNGKANLAH! Bukankah kita mengimani Sifat-Sifat Allah yang berupa Mendengar, Mengetahui, Maha Penyayang, Maha Adil? Lalu kenapa kita tidak bisa mengimani bahwa Allah bersifat memiliki dua Tangan, memiliki Wajah, bersemayam di atas ‘arsy, Qodam (kaki)? Padahal semua sifat tersebut bersumber dari Allah sendiri. Dialah yang menyatakan diri-Nya bersifat dengan semuanya itu. Atas dasar apa sebagiannya diterima langsung tetapi sebagian yang lainnya baru bisa diterima setelah ditakwil?

INGAT! Kita tidak mungkin berbicara tentang Allah dan meyakini tentang-Nya kecuali sebatas apa yang Dia informasikan tentang diri-Nya. Yang tidak Dia جل جلاله informasikan tidak mungkin kita mengetahuinya. Jadi, tidak ada tempat bagi kita untuk mentakwil.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ وَٱلْبَغْيَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَٰنًا وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ [الأعراف: ٣٣]

“Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, yang nampak ataupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (QS. Al-A’rof: 33)

  • Bagaimana mungkin melakukan TAMTSIL (menyamakan Allah dengan makhluk). Sungguh orang yang melakukannya telah berbuat perkara yang sangat bathil, seperti kelompok mujassimah.
  • Bagaimana mungkin melakukan TA’THIL (membatalkan Sifat-Sifat Allah), sementara Allah sendiri menetapkan Sifat-Sifat untuk diri-Nya.

Mari kita memperhatikan penjelasan para ulama pendahulu kita tentang Sifat-Sifat Allah جل جلاله.

a. Imam Sufyan bin Uyainah

كل ما وصف الله به نفسه في كتابه فتفسيره قراءته، والسكوت عنه ليس لأحد أن يفسره إلا الله ورسوله صلى الله عليه وسلم [تنبيه ذوي الألباب السليمة عن الوقوع في الألفاظ المبتدعة الوخيمة 1/ص]

“Setiap sifat yang Allah mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut di dalam Kitab- Nya, maka tafsirnya adalah (sebagaimana) bacaannya itu, (keharusan) diam darinya karena tidak ada siapapun yang berhak mentafsirkannya kecuali hanya Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Tanbiih dzawil- albaab as-salimah ‘anil- wuqu’ fi-l- alfaazh almubtadi’ah al-wakhiimah, Hal. 54)

Dia juga mengatakan:

كل ما وصف الله به نفسه فى القرآن فقراءته تفسيره لا كيف ولا مثل [الصفات – الدارقطني، ص: 41]

“Setiap sifat yang Allah mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut di dalam Al- Qur’an, maka tafsirnya adalah (sebagaimana) bacaannya itu, tanpa BAGAIMANA dan tanpa MENYERUPAKAN” (Ash-Shifat – Ad-Daruquthni, hal. 41)

b. Imam Malik dan Imam Al-Awza’i

وقال الإِمام مالك بن أنس – إِمام دار الهجرة – رحمه الله: (إِياكُم والبِدَع) قيل: وما البدع؟ قال: أَهلُ البِدَعِ هُم الذينَ يتكلمونَ في أَسماء اللهِ وصفاتِهِ وكلامِه وعلمه وقُدرتِه، ولا يَسْكُتونَ عمَا سَكَت عَنهُ الصحابةُ والتابعونَ لهم بإِحسان (الوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة، ص: 51)

Imam Malik bin Anas -Imam Darul Hijrah- rahimahullah mengatakan: Jauhilah oleh kalian bid’ah. Beliau ditanya bid’ah itu apa? Beliau menjawab: Ahlu bid’ah adalah mereka yang berbicara tentang Nama dan Sifat Allah, kalam-Nya, ilmu- Nya dan qudroh-Nya tetapi mereka tidak diam darinya sebagaimana para Sahabat dan para Tabi’in diam darinya (Al-Wajiz fi ‘aqidati-s- salafish- sholih Ahli-s- Sunnah wal- Jama’ah, hal.51)

وقال الوليد بن مُسلم: سأَلت الأَوزاعي، وسفيانَ بن عُيينة، ومالك بن أَنسٍ عن هذه الأَحاديث في الصِّفات والرؤية، فقالوا: (أَمِروها كما جاءتْ بلا كَيْف) (الوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة، ص: 51)

Al-Walid bin Muslim berkata: Saya bertanya kepada Al- Awza’i, Sufyan bin ‘Uyainah dan Malik bin Anas tentang Hadits-Hadits tentang sifat dan ru’yah (melihat Allah di Surga). Mereka menjawab: Biarkanlah ia (Hadits-Hadits tersebut) sebagaimana datangnya (apa adanya) tanpa MEM-BAGAIMANA-KAN (Al- Wajiz fi ‘aqidati-s- salafi-shsholih Ahli-s- Sunnah wa-l- Jama’ah, hal.51)

Judul buku: Menyingkap Syubhat

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Mengapa Saya Beragama Islam? bagian 4 https://nidaulfithrah.com/mengapa-saya-beragama-islam-bagian-4/ Wed, 29 Apr 2026 05:31:03 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21791 11. Islam Menempatkan Manusia Sesuai Kodratnya

Ibaratnya klub sepak bola yang terdiri dari 11 pemain, mungkinkah ditempatkan pada satu posisi saja. Misalnya: semua ditempatkan sebagai penyerang, tidak ada penjaga gawang dan pemain belakang. Mungkinkah? Tentu tidak mungkin. 11 orang ini harus diposisikan pada posisinya masing-masing sesuai skill-nya, niscaya akan melahirkan kekuatan. Inilah keindahan. Demikian pula manusia, ada lelaki (suami) dan ada perempun (istri). Masing-masing Allah ciptakan dengan kodrat yang berbeda. Oleh karena itu masing-masing harus ditempatkan sesuai dengan kodratnya. Suami harus menjadi “menteri luar negri” yang bertanggungjawab atas nafkah keluarganya. Istri sebagai “menteri dalam negri” yang bertanggungjawab atas pertumbuhan dan pendidikan anak-anaknya serta hal-hal lain di dalam rumah. Apa yang akan terjadi jika wanita juga berperan sebagai “menteri luar negri”? Ini berarti merebut posisi orang lain dengan meninggalkan posisinya sendiri. Apakah ini keindahan?! Renungkanlah dampak negatif akibat keluarnya wanita dari rumahnya yang mereka istilahkan dengan emansipasi wanita, diantaranya adalah:

a. Timbulnya pengangguran bagi kaum pria, sebab lapangan pekerjaan telah dibanjiri oleh kebanyakan kaum wanita.

b. Menyebabkan retaknya keharmonisan rumah tangga, karena sangat memungkinkan istri untuk melalaikan tugas utamanya. Juga berpotensi kuat untuk terjadinya percekcokan dan perseteruan antara suami-istri, dikarenakan ketika suami menuntut pelayanan dari istri dengan sebaik-baiknya si istri “ogah-ogahan” merasa capek dan lelah lantaran bekerja di luar rumah

c. Perkembangan anak menjadi kurang terkontrol, karena ayah dan ibu sibuk bekerja di luar rumah. Mereka tidak bisa memberikan pelayanan dan pendidikan secara berkesinambungan terhadap anak-anak mereka yang masih kecil. Dari sinilah, akhirnya melahirkan kenakalan anak-anak dan remaja dengan subur.

d. Terjadinya perselingkuhan. Bagaimana tidak, antara lelaki dan perempuan bercampur baur ditambah lagi dandanan yang menggoda dan parfum yang memancing birahi.

e. Salah satu sumber menyatakan bahwa penelitian kedokteran di Barat menunjukkan adanya perubahan bentuk tubuh wanita karir secara biologis, sehingga menyebabkan hilangnya naluri kewanitaan. 

f. Salah satu sumber menyatakan bahwa banyak terjadinya kemandulan pada para wanita barat. Hal ini bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi diakibatkan oleh ulah wanita barat secara umum yang pemikiran maupun biologisnya lari dari fithrahnya (yakni keibuan).

g. Salah satu sumber menyatakan bahwa upaya yang kuat para wanita barat untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum lelaki dalam segala bidang, secara perlahan selain menghilangkan sifat keibuan mereka juga bisa menyebabkan mandegnya air susu ibu (ASI)

12. Seimbang antara Aspek Jasmani dan Ruhani

Shalat, setiap muslim sangat membutuhkannya. Dengan shalat seorang muslim merasa tenang, tentram dan damai karena bisa berdialog langsung dengan Penciptanya. Jiwanya terpaut langsung dengan Pemeliharanya. Namun demikian, kepentingan ruhani ini tidak sampai mengganggu aspek jasmaninya dimana sebagian waktunya digunakan untuk kepentingan duniawinya; bekerja, tidur, istirahat, rekreasi dan lain-lainnya. Shalat yang wajib hanya lima kali sehari semalam, dan jika ditambahkan dengan seluruh shalat sunnah sama sekali tidak akan mengganggu aktivitas-aktivitasnya. Justru Ibadah harian ini memiliki fungsi sebagai penyadar manusia akan keberadaannya sebagai hambaNya sehingga akan selalu berhati-hati di dalam menjalani hidupnya. Seorang muslim yang shalatnya baik akan terhindarkan dari maksiat-maksiat dan bentuk-bentuk kedzaliman. Bandingkan dengan Nashrani, ibadah wajibnya hanya seminggu sekali, atau dengan agama lainnya yang tidak ada kepastian waktu ibadahnya (sangat jarang sekali/ kalau ingat saja). Dan bandingkan juga dengan suatu agama yang hanya mementingkan aspek ruhani dengan mengharamkan dirinya dari aspek jasmani/duniawi. Jelaslah, keindahan ada pada Islam.

Kaum muslimin diperintahkan untuk menjalankan puasa demi kebutuhan ruhaninya. Dengan puasa seseorang dilatih bersabar, mengendalikan emosi dan berkarakter kuat tidak mudah menyerah. Meski demikian, kepentingan ruhani ini tidak sampai mengorbankan kepentingan jasmaninya, dimana puasa yang dilakukannya tidak berakibat merusak/menyakiti tubuh seseorang malah membuatnya sehat (berdasarkan penelitian kedokteran). Ketentuan puasa di dalam Islam dimulai dari Shubuh sampai Maghrib. Dan dianjurkan agar terlebih dahulu sahur lalu segera berbuka. Berbeda dengan agama Hindu, salah seorang mantan pendeta Hindu menuturkan bahwa dalam Hindu ada ritual puasa yang mesti dilakukan selama tujuh hari tujuh malam untuk suatu tujuan rohani tertentu. Siapapun pasti mengakui bahwa hal ini sangat mengabaikan aspek jasmaninya.

13. Pertengahan Antara Sistem Ekonomi Sosialis dan Kapitalis

Sistem ekonomi sosialis berpandangan bahwa kemakmuran individu hanya mungkin tercapai bila berpondasikan kemakmuran bersama. Sebagai konsekuensinya, penguasaan individu atas asset-aset ekonomi atau faktor-faktor produksi sebagian besar merupakan kepemilikan sosial. Jadi, sistem sosialis ini bercirikan bahwa kepemilikan atas harta kekayaan bukan oleh individu-individu (perorangan) karena ia lebih mengutamakan kolektivitas (kepemilikan bersama). Intinya, orang tidak mempunyai kebebasan di dalam memiliki dan mengembangkan harta kekayaannya. Adapun perekonomian kapitalis berpandangan bahwa setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. Semua orang bebas melakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas dengan menghalalkan berbagai cara. Dalam sistem ini, setiap orang memiliki kebebasan tanpa batas atas kepemilikan kekayaan dan pengembangannya di mana manusia dipandang sebagai makhluk homo-economicus yang selalu mengejar kepentingan/keuntungan sendiri.

Adapun sistem perekonomian Islam, ia mengakui kepemilikian kekayaan oleh indvidu-individu (perorangan) dan pengembangannya secara luas dalam batasan-batasan yang tidak sampai mendzalimi/merugikan orang lain. Dan ia memandang bahwa kekayaan adalah titipan dari Allah azza wa jalla yang akan dipertanggungjawabkan di Akhirat nanti. Oleh karena itu, jika harta kekayaan semakin bisa dirasakan untuk kepentingan umat maka itu sebaik-baiknya harta kekayaan. Dari sistem ekonomi Islam inilah setiap individu merasa nyaman dengan harta kekayaannya dimana ia berhak sepenuhnya atas kepemilikannya dan pengembangannya. Pada saat yang sama orang yang memiliki harta kekayaan ini berpikir untuk bagaimana semaksimal mungkin bermanfaat sosial; membantu orang lemah, fakir, miskin, dan yang lainnya. Dari sistem inilah kemudian dikenal zakat, infaq, shadaqah, wakaf, dan lain-lain.

Judul buku: Mengapa Saya Beragama Islam?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Mengapa Saya Beragama Islam? bagian 3 https://nidaulfithrah.com/mengapa-saya-beragama-islam-bagian-3/ Tue, 28 Apr 2026 05:40:09 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21787 9. Bisa Saja Terjadi Hal-Hal yang Dirasa Memusingkan Dalam Masalah Aqidah, Tetapi Hal Itu Tidaklah Mustahil

Keyakinan kepada perkara ghaib seperti siksa kubur, nikmat kubur, shirath, haudh, Surga, Neraka bisa saja memusingkan. Tetapi akal tidak menilainya mustahil. Karena akal telah memasrahkan kepada keimanan.  Sedangkan aqidah-aqidah agama lain berisi hal-hal yang memusingkan dan akal meniiainya mustahil. Beberapa contoh, diantaranya:

a. Orang Yahudi beranggapan bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah. Allah telah menjadikan bangsa-bangsa lainnya sebagai keledai-keledai yang harus ditunggangi untuk kepentingan mereka. Apakah akal menerimanya? Bagaimana mungkin Allah yang Maha Bijaksana menjadi rasialis, berpihak kepada salah satu etnis dan menterlantarkan etnis-etnis lainnya. Ketahuilah di dalam Islam, semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah azza wa jalla, yang membedakan hanyalah ketakwaannya. 

b. Nashrani memiliki konsep keesaan tuhan : “ satu sama dengan tiga, tiga sama dengan satu. Akal mana yang mau menerima konsep ini? Selama-lamanya satu tidak sama dengan tiga atau sebaliknya.  Mereka menyamakan teologi trinitas dengan sebuah bidang segitiga. Kata mereka, “sebuah bidang segitiga jumlahnya satu tetapi ia memiliki 3 sisi, demikian pula trinitas; satu tuhan terdiri dari tiga unsur”. Analogi ini tidaklah benar. Sebuah bidang segitiga terdiri dari 3 sisi, tetapi masing-masing sisi tidak disebut bidang segitiga. Sedangkan teologi trinitas, masing-masing unsur jelas-jelas diyakini sebagai  tuhan (tuhan bapak, tuhan  ruh kudus dan tuhan anak). Jadi, jelaslah mereka menyembah 3 tuhan. Bukan tiga tuhan sama dengan satu tuhan.  Logika mana yang bisa menerimanya?

c. Nashrani memiliki akidah “perjamuan tuhan”. Barangsiapa makan roti dan khamr di gereja pada hari paskah maka ia akan berubah wujud dalam dirinya. Khamr adalah darah yesus dan roti adalah jasad yesus. Inilah aqidah mereka, dan ini mustahil. Bukankah yesus itu satu jasad? Sementara berapa orang yang merayakan hari paskah, tentunya ribuan. Berarti jasad yesus menjadi ribuan jasad? Logika mana yang bisa menerimanya?

d. Katholik memiliki aqidah “sertifikat pengampunan dosa”. Maksudnya siapapun umatnya yang berbuat dosa, asalkan membeli sertifikat ampunan dari pastur atau orang yang diberi wewenang, niscaya dosa-dosa diampuni. Ini berarti menjual Surga dengan mengisi sertifikat. Jelas, ini aqidah yang sangat rusak. Pertama: Dimanakah otoritas Tuhan sebagai satu-satunya Dzat yang memberi pahala atau dosa atas amalan hamba-hambanya? Kedua: Dampak apakah yang akan terjadi jika dosa manusia menjadi hilang dengan cukup membeli sertifikat ampunan dari manusia? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, karena setiap orang yang berakal pasti sangat menentangnya.

e. Syiah berkeyakinan al-Qur’an yang berada di tangan kaum muslimin tidaklah lengkap. Al-Qur’an yang lengkap ada pada Imam Mahdi yang akan keluar akhir zaman dari sebuah terowongan di Samura. Mari kita gunakan akal kita; apa gunanya al-Qur’an yang tidak akan muncul kecuali menjelang Kiamat nanti? Kemudian, sesuaikah dengan kebijaksanaan, kasih sayang, dan keadilan Allah bilamana manusia hidup tanpa petunjuk dan wahyu hingga ketika akhir zaman tiba? Akal pasti akan mengatakan; berarti Allah berbuat kedzaliman karena membiarkan manusia tanpa petunjuk hingga menjelang Kiamat. Jelas, ini mustahil.

f. Syiah sekte qomariyah meyakini warna kehitam-hitaman di bulan adalah rumah Ali. Mereka pun mengkultuskan bulan dan menyembah Ali yang berada di situ. Laa haula wa laa quwwata illa billah… Lalu, apa gerangan bagian kehitam-hitaman bulan sebelum Ali diciptakan? Sebagian lainnya beranggapan bahwa Ali berada di matahari. Oleh karena itu, mereka menghadap ke arah matahari ketika beribadah. Mereka dikenal dengan sebutan firqah Syamsiyah.

g. Bahaiyah, pengikutnya ketika mengerjakan ibadah menghadap ke arah pemimpin mereka, al-Baha’ al-Mazandarani. Hal itu ditegaskan sendiri oleh sang pemimpin. Kiblat itu berpindah-pindah seiring dengan perpindahan dan pergerakan sang pemimpin. Ketika dia berada di Teheran, maka Teheran adalah kiblat ibadahnya. Ketika di Baghdad, maka Baghdad adalah kiblatnya. Demikian pula ketika di Akkad, maka kiblat mereka adalah Akkad dan begitu seterusnya. Adakah seseorang yang pernah melihat permainan seperti ini? Kemudian, bagaimana cara penganut Bahaiyyah mengetahui kiblat mereka sewaktu al-Baha’- sang pemimpin- berada di perjalanan pada waktu alat komunikasi nirkabel dan televise belum ada?

10. Memuliakan Wanita

Islam sangat memuliakan wanita. Bagaimanakah kondisi wanita Arab sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus? Wanita sangat rendah dan tidak ada nilainya. Ketika anak perempuan lahir, tidak ada pilihan bagi keluarganya kecuali salah satu dari dua; (i) membiarkannya hidup dengan menanggung malu, atau (ii) menguburnya hidup-hidup agar terbebas dari aib. Allah ‘azza wa jalla menginformasikan hal ini:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58)  يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (النحل:59)

“Apabila seseorang diantara mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak disebabkan berita buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menangung) kehinaan ataukah akan membenamkannya ke dalam tanah (menguburnya hidup-hidup). Ingatlah alangkah buruknya (keputusan) yang mereka tetapkan itu” (QS. An-Nahl: 58-59)

Ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam diutus, beliau membebaskan kaum wanita dari penistaan. Beliau menjadikan wanita berkedudukan sangat terhormat. Beliau bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهَاتَيْنِ (رواه الترمذى )

“Barangsiapa yang mengasuh dua anak perempuan, niscaya saya dan dia masuk Surga seperti ini (beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya, menunjukkan kedekatannya)” (HR. at-Tirmidzi)

Bukan saja Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, yang memuliakan wanita tetapi juga nabi Ibrahim.

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِى بَكْرٍ – رضى الله عنهما – قَالَتْ رَأَيْتُ زَيْدَ بْنَ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ قَائِمًا مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْكَعْبَةِ يَقُولُ يَا مَعَاشِرَ قُرَيْشٍ ، وَاللَّهِ مَا مِنْكُمْ عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ غَيْرِى ، وَكَانَ يُحْيِى الْمَوْءُودَةَ ، يَقُولُ لِلرَّجُلِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْتُلَ ابْنَتَهُ لاَ تَقْتُلْهَا ، أَنَا أَكْفِيكَهَا مَئُونَتَهَا . فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا تَرَعْرَعَتْ قَالَ لأَبِيهَا إِنْ شِئْتَ دَفَعْتُهَا إِلَيْكَ ، وَإِنْ شِئْتَ كَفَيْتُكَ مَئُونَتَهَا (رواه البخارى ) 

“Dari Asma binti Abu Bakar radiallahu anhu berkata: saya melihat Zaid bin Amr bin Nufail  berdiri menyandarkan punggungnya pada ka’bah sambil berkata : wahai orang Quraisy demi Allah tidak ada di antara kalian yang berada di atas agama Ibrahim selainku, Beliau (nabi Ibrahim) membiarkan para wanita tetap hidup. Dia (Zaid bin Amr bin Nufail) berkata seseorang yang akan membunuh anak perempuannya, jangan kau bunuh, sayalah yang akan menjamin (hidupnya), dia pun mengambilnya (untuk diasuh). Jika ia (anak perempuan tersebut) sudah besar, dia (Zaid bin Amr bin Nufail) berkata kepada ayahnya, jika kamu mau anak ini saya kembalikan kepada anda atau saya tetap mengasuhnya.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim sangat memuliakan wanita. Tentunya tidak hanya dua nabi ini saja, tetapi seluruh nabi. Karena mereka seluruhnya membawa ajaran Allah azza wa jalla, yang diantaran ajarannya adalah bahwa semua manusia di hadapan Allah azza wa jalla memiliki kedudukan yang sama. Allah azza wa jalla berfirman:

أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ [آل عمران: 195] 

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, (baik) laki-laki maupun perempuan (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) sebagian yang lain” (QS. Ali Imran: 195)

Maksud kalimat yang bergaris bawah adalah sebagaimana lelaki berasal dari lelaki dan perempuan, maka demikian pula halnya perempuan berasal dari lelaki dan perempuan. Keduanya sama-sama manusia, tidak ada kelebihan yang satu atas yang lainnya tentang penilaian iman dan amalnya.

Lihatlah sejarah perjalanan wanita pada agama-agama lain, di antaranya:

a. Ajaran Hamurabi, wanita digolongkan dalam kelompok hewan ternak yang dimiliki

b. Masyarakat Hindu, para pemuka agama Hindu yang terdahulu memandang kaum wanita tidak mempunyai hak untuk hidup sesudah suaminya meninggal dunia, maka dari itu menurut mereka, perempuan wajib mati pada hari suaminya mati dan harus dibakar hidup-hidup di dalam tempat pembakaran bersama suaminya. Dan kaum perempuan dijadikan kurban-kurban untuk dewa-dewa mereka agar dewa-dewa itu memberikan rizki atau menurunkan hujan untuk mereka. Di dalam ajaran mereka disebutkan: topan, kematian, neraka, ular-ular besar dan api tidak lebih buruk daripada kaum perempuan.

c. Masyarakat Yahudi, sebagian kelompok Yahudi memandang bahwa seorang ayah berhak menjual anak perempuannya secara paksa. Kaum Yahudi menganggap kaum perempuan sebagai kutukan (laknat), karena perempuanlah yang telah menipu Nabi Adam. Di dalam Taurat disebutkan: Perempuan adalah sebagian dari kematian, dan orang yang shalih di hadapan Allah itu adalah orang yang selamat darinya (perempuan)

d. Masyarakat Nasrani, penghinaan terhadap kaum perempuan di masyarakat barat dan pengebirian terhadap hak-hak asasinya itu terus berlanjut sepanjang abad pertengahan. Dalam pandangan mereka, perempuan itu hina dan tidak bisa membelanjakan harta miliknya sendiri tanpa izin dari suaminya. Bahkan sampai pada pembahasan apakah perempuan itu hanya sebatas jasad tanpa ruh atau mempunyai ruh? Apakah perempuan tergolong manusia atau tidak? Pada akhirnya mereka menetapkan bahwa perempuan adalah manusia yang diciptakan untuk berkhidmat kepada kaum lelaki. Dan undang-undang di Inggris yang berlaku hingga tahun 1805 M menyatakan suami boleh menjual istrinya.

Judul buku: Mengapa Saya Beragama Islam?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Mengapa Saya Beragama Islam? bagian 2 https://nidaulfithrah.com/mengapa-saya-beragama-islam-bagian-2/ Mon, 27 Apr 2026 06:17:51 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21784 وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (الأنعام: 52)

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggungjawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggungjawab sediktpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu hendak mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. al-An’am: 52)

Disebutkan dalam tafsir at-Thabari, Ibnu Mas’ud berkata tentang sebab turunnya ayat ini: Beberapa pemuka Quraisy melewati Nabi shalallahu alaihi wasallam yang sedang bersama beberapa sahabat miskin; Shuhaib, ‘Ammar, Bilal, Khobbab dan yang lainnya. Mereka berkata kepada beliau shalallahu alaihi wasallam, Hai Muhammad ! Apakah kamu rela berkumpul bersama orang-orang lemah? Apakah mereka diberi karunia oleh Allah sebagaimana kami? Mustahil kami akan mau menjadi pengikut mereka. Hai Muhammad! Usir mereka, nanti kami mau mengikutimu. Kemudian turunlah ayat ini yang menjelaskan bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama.

Dengan ajaran yang mulia ini, kehidupan kaum muslimin adalah kehidupan yang sangat indah. Tidak akan terjadi kesewenang-wenangan oleh pejabat, penghinaan oleh orang kaya, sikap sombong kepada budak, ras kulit hitam,dan wanita tak cantik. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa kelebihan yang mereka dapatkan tidak akan meninggikan  derajat di hadapan Allah bahkan bisa menjerumuskan, merendahkan dan menghinakannya jika disalahgunakan. Akibatnya mereka berhati-hati terhadap orang lain yang tidak memiliki kelebihan seperti mereka.  Dampak positif pun sangat dirasakan di tengah- tengah kehidupan mereka, di mana mereka saling menghormati dan menyayangi, menunaikan hak dan menjaga amanah, memperhatikan dan peduli.

6. Seluruh Ajaran Islam Ada Dokumentasinya

Kalau kita perhatikan peribadahan orang Nashrani di gereja-gereja mereka, niscaya kita mendapati bahwa tidak ada kesamaan tata cara ibadah mereka. Di suatu gereja cara beribadahnya dengan tepuk-tepuk tangan, di gereja yang lain dengan gitar, di gereja yang lainnya lagi dengan orgen atau kendang dan lain-lain. Bacaan yang dipanjatkan untuk puji tuhan pun beragam tergantung dewan gereja/pendetanya. Pernah suatu ketika penulis membaca majalah Kristen, di situ dikisahkan ada seorang pemuda muslim yang pindah agama ke Kristen. Kebetulan pemuda itu dipandangnya bisa berbahasa Arab. Akhirnya dia ditugaskan oleh dewan gereja/pendeta untuk meyusun lafadz-lafadz puji tuhan dalam bahasa Arab. Dia pun menyusunnya. Lalu hasil cipta karya seorang murtad ini selalu digunakan oleh jama’ah Kristen gereja tersebut ketika beribadah. Mereka berkomentar, “ternyata lebih khusyik yah puji tuhan dengan bahasa Arab”. Padahal ketika penulis memabaca cipta karya seorang murtad ini, penulis tidak bisa memahaminya. Bahasa Arabnya adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh orang Arab. Meskipun demikian, ia disanjung-sanjung. Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena tidak ada dokumentasi yang melandasi peribadahan mereka. Jadi, semuanya tergantung masing-masing gereja dengan pendetanya. Bandingkanlah peribadahan dalam Islam!! Contoh: Shalat sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang ini di seluruh belahan bumi sama saja, baik rakaatnya, tata caranya, bacaannya dan yang lainnya. Demikian pula ibadah-ibadah yang lainnya tidak pernah berubah sejak zaman Nabi hingga sekarang. Tidak hanya masalah ibadah, tetapi apa pun yang merupakan ajaran Islam. Kenapa bisa demikian? Jawabannya adalah karena semuanya itu ada dokumentasinya, yang tidak lain adalah al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Sahabat  yang diriwayatkan secara terus-menerus hingga bersambung ke zaman kita. Hal ini dikenal dengan istilah sanad. Seorang Tabiut Tabi’in, Abdullah Ibnu Mubarak mengatakan:

لولا السند لقال من شاء ما شاء

“Seandainya tidak ada sanad, niscaya siapa saja bisa mengatakan apa saja”.

Dengan sanad inilah ajaran Islam tetap terjaga keotentikannya sampai hari Kiamat nanti. Siapa pun tidak bisa sembarangan berbuat/mengatakan sesuatu atas nama Islam. Karena hal itu akan mudah terdeteksi oleh sanad.

Catatan: Jika ada ummat Islam yang memiliki keyakinan tentang suatu akidah atau melakukan suatu ritual atau suatu pemahaman tertentu tetapi tidak ada dokumentasinya yang bisa diketahui dari periwayatan (sanad) maka pastikanlah 100% bahwa perkara tersebut bukan dari Islam. Bisa jadi mereka terpengaruh oleh adat istiadat yang telah menjamur. Bisa jadi terpengaruh oleh ajaran Hindu dan Budha yang telah ada terlebih dulu. Bisa jadi terpengaruh oleh dominasi akal atas nash-nash yang ada. Ketahuilah bahwa syariat Islam telah sempurna dan berlaku untuk umat Nabi terakhir sampai hari Kiamat sehingga sifatnya harus mandeg/stagnan. Cukuplah kita meng-“copy paste” saja. Yang diperintahkan untuk terus dikembangkan adalah perkara duniawi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ (رواه البخارى و مسلم)

“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan (urusan syariat) yang tidak pernah ada pada kami niscaya tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR. Muslim)

7. Islam Sangat Peduli Terhadap Masalah Sosial

Islam bukanlah agama yang hanya mengajarkan hubungan baik dengan Tuhannya. Tetapi, Islam juga menekankan hubungan baik dengan sesama manusia. Suatu ketika ada seseorang yang melaporkan tentang seorang wanita yang ahli shalat dan ahli puasa, tetapi dia tidak baik kepada tetangganya. Apa sabda beliau tentang wanita tersebut:

هِىَ فِى النَّارِ (رواه أحمد)

“Dia berada di Neraka” (HR. Imam Ahmad)

Kafarat (denda atas suatu pelanggaran) dalam Islam tidak sedikit yang berupa pembebasan budak. Sepasang suami istri yang melakukan hubungan badan di siang hari Ramadhan di antara kaffaratnya adalah membebaskan budak. Membunuh seorang muslim karena kesalahan atau tidak sengaja diantara kaffaratnya adalah membebaskan budak. Melanggar sumpah diantara kaffaratnya adalah membebaskan budak. Kaffarat zhihar diantaranya adalah dengan membebaskan budak. Terlepas dari kaffarat, Islam sangat menganjurkan agar Kaum muslimin banyak membebaskan budak. Juga, diantara delapan golongan yang berhak menerima zakat adalah seorang yang tengah berupaya membebaskan dirinya sebagai budak sehingga perlu dibantu dengan zakat.

Islam menganjurkan agar muslim membantu saudaranya yang dalam kesusahan. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ (رواه أبو داود) 

“Barangsiapa yang melapangkan suatu beban dari beban-beban seorang mukmin di dunia niscaya Allah azza wa jalla akan melapangakan suatu beban dari beban-bebannya pada hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan di Akherat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim niscaya Allah akan menutupinya (aib)nya di dunia dan di Akherat. Allah azza wa jalla senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya” (HR. Abu Daud)

Islam memerintahkan pemeluknya agar mengasuh anak-anak yatim. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersada:

كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ (رواه مسلم)

“Orang yang mengasuh anak yatim, baik bersamanya atau tidak, maka saya dan dia (kedekatannya) di Surga seperti ini (mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah)” (HR. Muslim) 

Islam sangat menganjurkan ummatnya untuk menyisihkan sebagian hartanya bagi orang-orang lemah dan kepentingan social lainnya. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخارى)

“Tidaklah suatu hari yang seorang hamba mendapati pagi melainkan ada dua malaikat turun, salah satunya berdoa ‘ya Allah berilah ganti bagi orang yang berinfak’. Satunya lagi berdo’a Allah berilah kehancuran bagi orang yang menahan (bakhil)” (HR. Bukhari)

Kemaslahatan sosial apapun yang menyangkut kehidupan manusia, Islam sangat memperhatikannnya meskipun sekedar menyingkirkan duri dari jalan. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ (رواه مسلم)  

“Iman itu tujuh sekian cabang, yang paling utama adalah “laa ilaaha illa Allah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang membahayakan (duri dan semacamnya) dari jalan” (HR. Muslim)

8. Tidak Bertentangan Dengan Ilmu Pengetahuan

Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang benar. Syariat Islam yang sempurna dan universal mendukung, menganjurkan, dan memerintahkan manusia untuk mempelajari semua ilmu pengetahuan yang mengantarkan kepada tujuan-tujuan luhur dan membuahkan buah-buah yang bermanfaat, baik dalam konteks dunia maupun akhirat. Seperti: Ilmu Ushuludin, ilmu fiqh, Ilmu Biologi, Fisika, Kimia, Perindustrian, Ilmu Bahasa, Kedokteran dan lain-lain. Oleh karena itu tidak mungkin akan terjadi kontradiksi  antara fakta-fakta ilmiyah yang benar dengan nash-nash syariat. Karena keduanya (disiplin ilmu dunia dan akhirat)  diperintahkan oleh Islam. Apabila realitas (kenyataan) menunjukkan sesuatu yang secara lahiriyah terjadi kontradiksi, maka bisa jadi realitas itu adalah klaim yang tidak memiliki fakta, atau nash yang dimaksud tidak secara eksplisit menunjukkan kontradiksi. Karena nash yang eksplisit (sharih) dan fakta ilmiyah adalah dua hal yang sama-sama qath’iy (pasti), sehingga tidak mungkin terjadi kontradiksi antara keduanya. 

Berbeda dengan Kristen, pada sekitar abad 14-16 M pembesar keagamaan; Paus, Kardinal dan Uskup menentang keras para ilmuwan. Mereka sangat anti pemikiran/penemuan ilmiah. Melalui institusi gereja, dengan kekuatan represif mereka menggunakan lembaga keadilan untuk menghadapi kaum ilmuwan tersebut. Akibatnya banyak ilmuwan menjadi korban kekerasan, bahkan ada yang dibakar hidup-hidup dan disiksa sampai mati, seperti; Galileo Galilei (penemu teori bumi bulat), Niccolas Coppernicus (ilmuwan teori bumi bulat), Giardano Bruno (matematikawan dan astronom), Johannes Kepler (Ilmuwan pergerakan planet). Lain halnya dengan Islam, ia sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Lihatlah perintah Allah ‘azza wa jalla agar umat Islam menghargai spesifikasi bidang-bidang tertentu,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  [النحل: 43]

“Bertanyalah kepada ahlinya jika kalian tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43)

Lihat juga sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam yang memotivasi umatnya agar banyak mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dunia.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR. Muslim)

Judul buku: Mengapa Saya Beragama Islam?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Mengapa Saya Beragama Islam? bagian 1 https://nidaulfithrah.com/mengapa-saya-beragama-islam-1/ Fri, 24 Apr 2026 08:29:12 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21779 MUQADDIMAH

Beberapa tahun yang lalu ketika masih nyantri di pondok pesantren, datanglah seorang mahasiswa UGM ke pesantren dengan tujuan mendalami Islam memanfaatkan liburan kampusnya. Ketika itu bulan Ramadhan yang  memang pesantren tempat saya belajar ini mengadakan “Pondok Ramadhan” terbuka bagi umum. Seorang mahasiswa ini nampak sekali ingin tahu wawasan keislaman secara mendalam. Kebetulan saya diantara yang ditunjuk untuk membina program ini. Betapa saya sering dibikin pusing dengan pertanyaan-pertanyaannya. Sejak saat itu sadarlah saya bahwa kualitas keislaman saya adalah “islam keturunan” jauh dari koridor keilmiahan. Hal itu melecut saya untuk terus belajar. Pengembaraan  nyantri pun terus berlangsung hingga suatu waktu yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla saya bisa merasakan indahnya Islam. Alhamdulillah.

Saya tidak sendirian, ternyata masih banyak kaum muslimin yang berislam bukan karena pemahaman, tetapi karena doktrin secara turun-temurun. Bagi mereka Islam adalah sebatas apa yang mereka dapati dari nenek moyangnya. Mereka tidak mau mengkaji dari sumbernya; al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu mereka tidak bisa menjelaskan hakekat Islam secara ilmiah. Akibatnya mereka mudah diombang-ambingkan oleh syubuhat-syubuhat yang sengaja dihembuskan oleh musuh-musuh Islam dan kelompok-kelompok sesat.

Buku sederhana ini ditulis dengan tujuan agar kaum muslimin mau mengkaji agamanya sendiri, tidak sekedar ikut-ikutan. Tentunya di dalamnya terdapat kekurangan-kekurangan yang sangat banyak. Tetapi inilah persembahan penulis yang masih “sangat cetek ilmunya” sekedar ingin berbagi apa yang dirasakan dan diketahuinya tentang Islam. Oleh karena itu masukan dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan.

MENGAPA SAYA BERAGAMA ISLAM?

Sebuah tulisan sederhana tentang indahnya Islam yang  bisa memperkuat keislaman seorang muslim dan memikat non-muslim untuk memeluk agama Islam. Insya Allah.

INDAHNYA ISLAM

1. Islam itu Agama yang Benar

Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ  [آل عمران: 19]

“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ  [آل عمران: 85] 

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima darinya dan pada hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali-Imran: 85)

Jangan sampai kita digelincirkan oleh orang-orang liberal yang mengatakan bahwa semua agama itu benar. Mereka semata-mata memakai dalil logika. Menurut mereka, banyak jalan menuju Jakarta; bisa melalui jalur pantura, jalur selatan, jalur laut, jalur udara/pesawat. Semua menuju pada tujuan yang sama, yaitu Jakarta. Apa lah artinya logika (baca: akal-akalan) dibandingkan dengan firman Allah?! Seandainya mereka menukil dalil dari al-Qur’an maka ketahuilah bahwa mereka hanya  mencari-cari ayat yang dipandangnya bisa mendukung paham/pemikiran mereka lalu ditafsirkannya bukan dengan penafsiran yang sebenarnya. Contoh ayat yang dinukil oleh mereka:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا  [سورة آل عمران: 67] 

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi bukan (pula) seorang Nashrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim” (QS. Ali Imran: 67)

Komentar mereka: Tuh lihat, Allah sendiri tidak mempermasalahkan agama nabi Ibrahim, Yahudi kah? Nashrani kah? Itu tidak penting, karena semua agama sama. Yang penting kan lurus dan tunduk pasrah kepada ajaran agamanya. Jadi, semua orang dengan agama apapun selama dia tunduk pasrah kepada ajaran agamanya maka dia disebut muslim. 

Disini, mereka mentafsirkan “muslim” dengan tunduk dan pasrah. Dengan ini mereka hendak menegaskan bahwa semua agama adalah sama benarnya. Mari kita lihat ayat ini secara lengkap, jangan dipotong untuk mengelabuhi orang awam.

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [آل عمران: 67]

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi bukan (pula) seorang Nashrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik” (QS. Ali Imran: 67)

Pertanyaan: adakah agama yang tidak syirik (menyekutukan Allah)? Semua agama ajarannya adalah syirik, kecuali Islam.

2. Islam adalah Agama Seluruh Nabi

Islam bukanlah agama baru. Ia telah ada sejak manusia ada. Adamlah manusia pertama yang diciptakan Allah dan dia seorang Nabi. Dan semua Nabi beragama Islam, sebagaimana firmannya:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا [ الحج : 78]

“Dia menamai kalian  “muslim” (orang Islam) sejak dulu dan sampai sekarang ini” (QS. Al-Hajj: 78)

Apa agama nabi Musa yang ummatnya dikenal dengan sebutan Yahudi? Apa agama nabi Isa yang ummatnya dikenal dengan sebutan Nasrani? Agama keduanya adalah Islam. Lihatlah apa yang Musa ‘alaihissalam dakwahkan:

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا (الإسراء:102)

“Musa berkata: Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” (QS. Al-Isra: 102)

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ (البقرة:54)

“Dan (ingatlah) tatkala Musa berkata kepada kaumnya, hai kaumku sesungguhnya kalian telah menganiaya kepada diri kalian dengan menjadikan anak lembu (sebagai sesembahan), maka bertobatlah kepada Tuhan kalian yang telah menjadikan kalian” (QS. Al-Baqarah: 54)

Lihatlah apa yang didakwahkan oleh Nabi Isa alaihissalam,

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (أل عمران: 51)

“(Isa berkata kepada kaumnya) sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus” (QS. Ali Imran: 51)

Jelaslah dari ayat-ayat di atas bahwa Nabi Musa menyeru Fir’aun agar menyembah Allah saja, demikian pula Nabi Isa. Jadi, keduanya beragama Islam. Bukankah Islam hanya mentauhidkan Allah. Maka, seluruh kaum  Yahudi dan Nashrani yang mengimani dan mentaati Nabinya disebut “muslim”. Tetapi, dalam perjalanannya Yahudi dan Nasrani tidak lagi sebagai muslim. Karena  mereka tidak lagi mentahuhidkan Allah azza wa jalla. Sebagaimana yang Allah informasikan kepada kita;

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ (التوبة:30)

“Orang Yahudi berkata: Uzair adalah anak Allah, orang Nashrani berkata: al-Masih Isa adalah anak Allah” (QS. At-Taubah: 30)

Jadi, salah kaprah orang yang mengatakan agama Kristen/Nashrani ada lebih dulu daripada Islam, karena Nabi Isa lebih dulu diutus daripada Nabi Muhammad. Komentara kita; betul zaman hidupnya Isa mendahului Muhammad shalallahu alaihi wasallam, tetapi bukan sebagai tuhan melainkan sebagai nabi.

3. Beragama Islam Dijamin Masuk Surga

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه الترمذى)

“Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ maka niscaya dia masuk Surga” (HR. At-Tirmidzi)

Kita tidak boleh ragu-ragu bahwa hanya orang Islam saja yang masuk Surga. Semua non muslim pasti masuk Neraka. Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ  [الأعراف: 40]

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidakk (pula)  mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan” (QS. Al-A’raf: 40)

Mungkinkah onta yang sedemikian besarnya masuk ke dalam lobang jarum? Ini sesuatu yang mustahil. Ini menunjukkan betapa tidak mungkin alias sangat mustahil non muslim akan masuk Surga.  Mereka akan berada dalam Neraka selama-lamanya sebagaimana orang-orang muslim akan berada dalam Surga selama-lamanya.

4. Islam Hanya Menyembah Satu Tuhan

Tiada agama apapun di muka bumi ini yang hanya menyembah satu tuhan kecuali Islam. Sebut saja, Kristen. Agama ini menyembah trinitas (tiga tuhan). Hindu, menyembah trimurti; Bhrahma, Siwa, dan Wisnu. Budha, meyakini banyak dewa. Yahudi, meyakini ada tuhan anak, yaitu ‘Uzair. Apabila dikatakan ada selain Islam yang menyembah satu tuhan; Sinto dan Majusi. Kita menerimanya dan membenarkannya. Tetapi,  apakah yang mereka sembah? Sinto menyembah matahari dan Majusi meyembah api. Maka, ini menunjukkan kejahilannya. Bagaimana mungkin makhluk disembah?! Ratu Bilqis yang hidup sezaman dengan Nabi Sulaiman telah bertobat dari menyembah matahari dan masuk Islam menyembah Allah ‘azza wa jalla. Salman al-Farisi telah bertobat dari menyembah api dan mengucapkan syahadat di depan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Islam, menyembah Allah saja. Mari kita renungkan, akal yang sehat dan fithrah yang selamat pasti hanya menerima bahwa Tuhan haruslah satu. Karena yang namanya Tuhan harus berkuasa mutlak. Kalau lebih dari satu, secara logika pasti akan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka. Dan perebutan kekuasaan diantara tuhan menunjukkan bahwa mereka tidak berkuasa mutlak, maka tidak bisa disebut Tuhan. Seandainya dikatakan diantara tuhan-tuhan itu tidak terjadi perebutan kekuasaan tetapi bagi-bagi kekuasaan sesuai dengan wewenangnya. Berbagi kekuasaan juga menunjukkan tidak adanya kekuasaan mutlak, maka tidak bisa disebut Tuhan. Hal ini sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا (الأنبياء: 22)

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa” (QS. al-Anbiaya: 22)

Sebagai bentuk kesempurnaan di dalam meyakini bahwa Tuhan itu hanya satu, maka Islam menjadikan kesyirikan sebagai dosa yang terbesar, tidak ada yang lebih besar lagi.

5. Kedudukan Seluruh Manusia di Hadapan Allah Azza wa Jalla Sama Saja

Islam tidak membeda-bedakan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Pejabat atau rakyat, kaya atau miskin, kulit putih atau kulit hitam, orang merdeka atau budak, cantik atau tidak cantik semuanya di hadapan Allah sama saja. Yang membedakan hanyalah takwanya. Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  (الحجرات: 13)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah siapa yang paling bertakwa di antara kalian” (QS. al-Hujurat: 13)

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (الأنعام: 52)

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggungjawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggungjawab sediktpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu hendak mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. al-An’am: 52)

Judul buku: Mengapa Saya Beragama Islam?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 5 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-5/ Tue, 21 Apr 2026 06:37:33 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21766 Lanjutan Poin 4: Hati-Hati dalam Bergaul 

Dari Abu Ya’qub Al-Madani, dia berkata: Terjadilah perselisihan antara Hasan bin Hasan dan Ali bin Husain. Ketika Ali bin Husain sedang berada di tengah-tengah kawannya di masjid, Hasan bin Hasan mendatanginya dan mengatakan kepadanya banyak perkataan. Ali pun terus menimpali setiap apa yang dikatakannya. Lalu Ali terdiam. Hasan pun pergi. Di suatu malam Ali mendatangi Hasan di rumahnya. Dia mengetuk pintu rumahnya, Hasan pun keluar menemuinya. 

Ali berkata: “Wahai saudaraku! Jika kamu benar dengan perkataanmu, semoga Allah mengampuni aku. Dan, jika kamu berdusta, maka semoga Allah mengampuni kamu…..Assalamu’alaikum.” Dia pun pergi. 

Namun, Hasan terus membuntutinya sambil terus menangis sedih lalu mengatakan: “Sudahlah tidak mengapa, aku tidak akan mengulangi lagi berbuat sesuatu yang kamu tidak menyukai. Ali meresponnya dengan mengatakan: Tidak ada masalah kok dengan ucapanmu kepadaku…”

Dari Malik bin Anas, dia berkata: Said bin Al-Musayyab berkata: “Tidak ada satupun orang berilmu atau orang mulia atau pemilik keutamaan melainkan pasti memiliki aib. Tetapi, ada sebagian manusia yang memang tidak sepatutnya disebutkan aibnya, yaitu orang keutamaannya lebih banyak daripada kekurangannya. Kerena kekurangannya itu telah tertutupi oleh keutamaannya.”

5. Adab Kepada Ulama

Ibnu Basykual mengisahkan tentang Ibrahim Al-Harbi: Saya menukil dari kitab Ibnu ‘Attab bahwa Ibrahim Al-Harbi adalah orang sholeh dari kalangan ahli ilmu. Beliau mendengar berita bahwa orang-orang mengutamakan untuk bermajlis bersama beliau daripada Ahmad bin Hanbal. Beliau mengkonfirmasikan yang demikian itu kepada mereka dan merekapun membenarkannya. 

Beliau berkata: “Sungguh kalian telah  mendzalimiku dengan mengutamkanku daripada orang yang aku tidak bisa menyerupainya dan mengejarnya dalam berbagai hal. Oleh karena itu aku bersumpah untuk tidak memperdengarkan ilmu sedikitpun kepada kalian. Mulai hari ini, janganlah datang kemari.”

Dari Abu Wail bahwa Ibnu Mas’ud melihat seseorang isbal (kainnya terurai sampai di bawah mata kaki).

Beliau mengatakan: Angkatlah kainmu! 

Dia membantah dengan mengatakan: Kamu juga wahai Ibnu Mas’ud! Naikkan kainmu.

Beliau menjelaskan: Adapun aku ini pada kedua betis kakiku kecil sementara aku mengimami kaum.

Kejadian ini terdengar oleh Umar bin Khaththob. Beliaupun memukul orang tersebut dengan mengatakan: Apakah kamu membantah Abdullah Ibnu Mas’ud?

Dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah bahwa Ibnu Abbas berdiri menuju Zaid bin Tsabit untuk berkhidmah menyiapkan tunggangan baginya.

Beliau mencegah dengan mengatakan: Tidak usah, wahai putra paman Rasulullah!

Ibnu Abbas menjawab: Beginilah yang biasa kami lakukan terhadap ulama dan pembesar kami.

Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi berkata: ‘Atho bin Abi Robah adalah seorang budak hitam milik seorang wanita penduduk Makkah. Suatu ketika datanglah Sulaiman bin Abdul Malik seorang Amirul Mukminin menghadap beliau bersama kedua anaknya. Mereka terus duduk menunggu beliau yang sedang shalat. Tatkala sudah selesai shalat, beliau menoleh ke mereka. Mereka terus menanyakan kepada beliau tentang manasik haji padahal beliau sudah memalingkan punggungnya membelakangi mereka. 

Sulaiman pun memerintahkan kedua putranya: Ayo bangun. Keduanya lantas berdiri. 

Beliau mengatakan: Wahai anak-anakku janganlah kalian berdua terlambat dalam menuntut ilmu, karena aku tidak akan pernah lupa tentang kehinaan kita di hadapan budak hitam ini.

Dari Umar bin Mudrok, Kami diberitahu Qosim bin Abdurrahman, Kami diberitahu Asy’ats bin Syu’bah Al-Mushyyishi, dia berkata: Manusia berlarian di belakang Ibnul Mubarok hingga sandal-sandalnya putus dan debu bertaburan. Hal ini menjadikan seorang Ibu dari anak Amirul mukminin bangkit dari kursi kayunya dan mengatakan: Demi Allah ta’ala, inilah kerajaan yang sesungguhnya tidak sebagaimana Raja Harun yang baru bisa mengumpulkan manusia dengan iming-iming dan pemberian.

6. Adab Berbicara

Dari Kholaf bin Tamim, telah memberitahukan kami Abdullah bin Muhammad dari Al-Auza’i, dia berkata: Umar bin Abdul Aziz menulis surat untuk kami. Tidak ada yang menghapalnya kecuali saya dan Makhul. “Amma ba’du, sungguh barangsiapa yang banyak mengingat kematian niscaya ia ridho dengan sedikitnya dunia. Dan barangsiapa yang bisa menghitung perkataannya daripada perbuatannya niscaya dia akan sedikit berbicara kecuali kalau ada manfaatnya. Wassalamu ‘alaikum”

Fudhail bin ‘Iyyadh ditanya: Apa itu zuhud?

Beliau menjawab: “Zuhud itu menerima apa adanya (qona’ah)”

Apa itu wara’?

Beliau menjawab: “Menjauhi perkara-perkara yang haram”

Apa itu ibadah?

Beliau menjawab: “Menunaikan perkara-perkara yang wajib”

Apa itu tawadhu’?

Beliau menjawab: “Tunduk kepada kebenaran. Dan, ketahuilah! Wara’ yang paling tinggi itu ada di lisan”

Ahmad bin Abu Al-Hawari berkata: Telah memberitahukan kami Abu Abdillah Al-Anthoki, dia berkata: Fudhoil dan Ats-Tsauri berkumpul. Keduanya ber-mudzakarah.

Sambil menangis Sufyan meninggalkan majlis dengan mengatakan: “Saya berharap majlis ini merupakan rahmat dan keberkahan untuk kita.”

Fudhoil menimpali: “Tetapi Wahai Abu Abdullah, justru aku khawatir majlis ini telah membahayakan kita. Bukankah Anda membatasi diri dengan sebaik-baiknya pembicaraan demikian juga aku?! Anda berhias diri untukku dan juga aku berhias diri untukmu.”

Sufyan pun menangis dan berkata: “Anda telah menghidupkanku, semoga Allah ta’ala menghidupkan kamu.”

Dari Sahl bin Abdullah At-Tusturi, dia berkata: Termasuk akhlak para Ash-Shiddiqin adalah tidak bersumpah, tidak ghibah, tidak kenyang, tidak menyelisihi janji, dan tidak bercanda kecuali sekedarnya saja.

7. Ikhlas dan Jujur

Dari Abdullah bin Mubarok, dia berkata: Dikatakan kepada Hamdun bin Ahmad: ”Mengapa perkataan para Salaf lebih bermanfaat daripada perkataan kita?”

Dia menjawab: “Karena mereka berbicara demi kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan keridhoan Ar-Rohman. Sementara kita berbicara demi kemuliaan pribadi, kepentiangan duniawi dan keridhoan makhluk”.

Dari Fudhoil bin ‘Iyyadh, dia berkata: “Betapa kasihan kalian ini! Anda berbuat keburukan tetapi merasa berbuat kebaikan. Anda bodoh tetapi merasa pintar. Anda bakhil tetapi merasa dermawan. Anda gegabah tetapi merasa bijaksana. Ketahuilah! Umur Anda pendek tetapi angan-angan Anda panjang”.

Adz-Dzahabi berkata: Wallahi… Benarlah…Anda zholim tapi merasa dizholimi. Anda masih makan yang haram tapi merasa wara’. Anda masih fasik tapi merasa sudah adil. 

8. Rasa Takut kepada Allah

Dari Qobishoh bin Qois Al-Anbari, dia berkata: Adh-Dhohak bin Muzahim jika memasuki sore hari menangis. Ketika ditanyakan kepadanya sebab menangisnya, dia menjawab: Saya tidak tahu bagaimana kondisi amalanku dinaikkan (kepada Allah).

Dari Kinanah bin Jublah As-Sulami, dia berkata: Bakar bin Abdullah berkata: Jika Anda melihat orang yang lebih tua dari Anda, katakanlah: Dia telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih, maka dia lebih baik dari saya.

Jika Anda melihat orang yang lebih muda dari Anda, katakanlah: Saya lebih banyak maksiat dan dosanya daripada dia, maka dia lebih baik daripada saya. 

Jika Anda melihat orang menghormati dan memuliakan Anda, katakanlah: Ini adalah sebuah keutamaan yang mereka telah mengambilnya.

Jika Anda melihat orang meremehkan Anda, katakanlah: Ini adalah akibat dosa-dosa yang telah saya lakukan.

Dari Qosim bin Muhammad, dia mengatakan: Kami melakukan safar bersama Ibnu Mubarok. Seringkali terbersit di dalam hati saya tentang beliau, “Sesuatu apa yang telah menjadikan beliau lebih utama daripada kita hingga begitu terkenal di tengah-tengah manusia. Dia shalat, kami pun sholat. Dia berpuasa, kami pun berpuasa. Jika dia berjihad, kami pun berjihad. Jika dia berhaji, kami pun berhaji. 

Suatu ketika di dalam perjalanan malam di Syam, kami singgah di suatu rumah untuk makan malam. Ketika itu lampu mati. Sebagian kami keluar untuk mengambil lampu penerangan. Kami diam sejenak. Lalu, datanglah lampu. Ketika itu saya melihat wajah dan jenggot Ibnu Mubarok basah dengan air mata. Saya bergumam dalam hati: khosyah (takut) inilah yang telah menjadikan beliau lebih utama daripada kita. Bisa jadi selama gelap tadi dia teringat kondisi kegelapan hari Kiamat.

9. Menjaga Persahabatan

Yunus Ash-Shodafi mengatakan: Saya tidak melihat orang yang lebih bijak melebihi Imam Asy-Syafi’i. Suatu hari saya berdebat dengannya tentang suatu masalah, lalu kami berpisah. Setelah itu datanglah dia menemuiku dan meraih tanganku kemudian berkata: Wahai Abu Musa! Bukankah kita harus berlanjut sebagai saudara meskipun tidak sepakat dalam suatu masalah.

F. Penutup

Kita memohon kepada Allah semoga memberikan kita taufiq sehingga terus berkemampuan untuk memperbagus akhlak kita. Bagaimana kita tidak terlecut untuk terus memperbagus akhlak dengan fadhilahnya yang sangat tinggi. Aamiin.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 4 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-4/ Mon, 20 Apr 2026 06:10:27 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21755 Lanjutan dari Akhlak Para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Secara Umum

36. Mudah memaafkan dan berlapang dada atas kesalahan yang diperbuat orang lain terhadap dirinya

37. Tidak mencemaskan masa depan keturunannya yang terkait dengan kehidupan duniawi

38. Tidak malas berziarah kubur

39. Tidak lalai dari mengingat Allah ta’ala dan bershalawat untuk Nabi shalallahu alahi wasallam

40. Lembut hatinya dan banyak menangis

41. Memandang hina dunia

42. Malu untuk bolak-balik buang hajat

43. Tidak mencemaskan urusan rizki

44. Tetap berlapang dada ketika materi duniawi tidak didapatkannya

45. Tidak disibukkan dengan urusan membangun rumah

46. Menyayangi semua muslim baik yang taat ataupun yang tidak taat

47. Menyayangi binatang

48. Terus melatih diri dan memperbanyak amalan secara tersembunyi

49. Menyayangi pelaku maksiat dengan tidak menghinakan mereka

50. Sangat besar “nrimo”nya (qona’ah) tidak mengejar-ngejar urusan duniawi

51. Bersegera mendatangi jamaah untuk mendapati takbirotul ihram-nya imam

52. Senantiasa mengkhawatirkan masuknya penyakit ke dalam ilmu dan amalannya

53. Membatasi diri terhadap orang-orang yang merapat ke penguasa

54. Suka menanyakan kabar kawan-kawannya

55. Tidak berlebih-lebihan di dalam perkara yang mubah

56. Saling menasehati dan senang menerima nasehat serta berterimakasih kepada pemberi nasehat

57. Mereka tidak memberi nasehat dan wasiat kecuali kepada orang yang diketahui berdasarkan indikasi bisa menerima nasehat

58. Senantiasa memandang bahwa amalan yang telah dilakukan sangatlah sedikit

59. Mencela seseorang yang memutus kebiasaan saling mengunjungi

60. Bersahaja, tenang, wibawa, dan sedikit berbicara

61. Menghindari bisnis perdagangan kecuali setelah mengetahui persis tentang hukum perdagangan tersebut

62. Memperbesar kesabaran terhadap orang yang berbuat zhalim kepada dirinya

63. Meningkatnya rasa takut dan semakin mendekat kepada Allah ta’ala setiap kali merasakan adanya kebaikan-kebaikan dari-Nya

64. Banyak diam, berbicara hanyalah ketika ada hikmah

65. Tidak pernah dengki kepada sesama muslim

66. Sering lapar dan menghindari kenyang

67. Di dalam bermajlis menutup rapat-rapat untuk terjadinya ghibah

68. Tidak membeberkan kepada seorang pun sesuatu yang didengarnya yang dipandang sebagai perkara rahasia

69. Sangat bersedih setiap kali terlewatkan dari suatu amaliah peribadahan

70. Banyak bersabar ketika ditimpa musibah sehingga tidak berucap dan bertindak kebodohan.

71. Senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan ridho dengan segala keputusan-Nya

72. Mempersaksikan pada dirinya sendiri bahwa ia belum berbuat apa-apa sebagai bentuk kesyukuran kepada Tuhannya

73. Sangat teliti di dalam masalah ketakwaan

74. Senantiasa menutupi aib sesama saudara muslim

75. Menghormati tamu dengan turun tangan sendiri langsung kecuali kalau ada udzur

76. Tidak menghadiri jamuan makanan dari harta syubhat

77. Mengupayakan senantiasa bersedekah dari setiap kelebihan kebutuhannya

78. Bersikap ramah setiap kali ada orang yang bertanya

79. Tidak menjadikan teman kecuali orang-orang yang diketahui senantiasa menunaikan kewajibannya.

80. Tidak suka bermusuhan dengan siapapun

81. Sibuk dengan aibnya sendiri daripada aib orang lain

82. Tetap menunjukkan sikap yang baik kepada orang-orang yang berperangai kasar

83. Menjaga muru’ah (harga diri)

84. Senang berbuat kebaikan untuk orang lain

85. Menghindarkan diri dari ‘ujub atas kebaikan-kebaikan yang telah diperbuatnya

86. Selalu memperhatikan orang-orang yang kelaparan

87. Banyak memotivasi diri untuk beribadah dan meningalkan syahwat

88. Banyak ber-istighfar dan takut akan murka Allah setiap kali membaca Al-Qur’an

89. Senantiasa menyiapkan diri untuk menunggu awal waktu sholat

90. Tetap nyaman dengan kondisi kefakiran dan kesulitan hidup, sebaliknya justru gelisah ketika berlimpah kekayaan

91. Malu dari pandangan makhluk terlebih dari pandangan Allah ta’ala

92. Zuhud dari dunia dan mencela orang yang mengejar-ngejarnya

93. Memilih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya tidak sampai meminta-minta kepada orang lain untuk tetap beribadah dengan semestinya

94. Mencintai orang-orang miskin dan tawadhu’ di hadapan mereka

95. Mencintai harta demi untuk diinfaqkan bukan untuk disimpan

E. Keteladanan Para Salaf

Berikut ini saya nukilkan beberapa contoh keteladanan dari para Salaf dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqi-s-Salaf yang ditulis oleh Syaikh Abdul Aziz bin Nash al-Jalil dan Syaikh Bahaudin bin Fatih ‘Uqoil yang dicetak Darut-Thaybah lin-Nasyr wat-Tawzi’.

1. Tidak menyukai popularitas

Dari Habib bin Abu Tsabit, dia berkata: Suatu hari Ibnu Mas’ud keluar. Manusia mengikutinya. Beliau bertanya kepada mereka: Apakah kalian ada keperluan? Mereka menjawab: Oh, tidak. Kami hanya ingin berjalan bersama Anda. Beliau berkata: Pulanglah kalian! Sungguh hal ini adalah kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.

Dari Harits bin Suwaid, dia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: Kalau kalian mengetahui sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku niscaya kalian akan menaburkan tanah di kepalaku.

Dari Busthom bin Muslim, dia berkata: Muhammad bin Sirin jika berjalan lalu ada orang yang mendampinginya, maka beliau bertanya: Apakah kamu ada keperluan? Kalau ada keperluan, beliau memenuhinya. Jika kembali mendampingi berjalan, beliau bertanya lagi: Apakah masih ada keperluan?

Hasan ( Mungkin Hasan bin Ar-Robi’, atau mungkin Hasan bin Arofah, atau mungkin Hasan bin Isa Masarji) berkata: Suatu hari saya bersama Ibnu Mubarok mendatangi tandon air. Manusia meminum air darinya. Ketika beliau mendekatinya untuk minum, dan manusia tidak mengenalinya beliaupun berdesak-desakan untuk mendapatkannya. Ketika keluar, beliau berkata: Beginilah seharusnya hidup! Kita tidak dikenal dan tidak dimuliakan….

Hasan juga mengkisahkan: Ketika beliau berada di Kufah, dibacakanlah kitab kepada beliau tentang manasik…. dan seterusnya hingga terjadi perbincangan, beliau berkata: Demikianlah seharusnya kita menunaikan manasik. Lalu beliau bertanya: Siapa yang menulis dari perkataanku ini? Saya katakan kepadanya: seorang penulis telah menulisnya. Beliau masih saja terus menggaruk-garuknya dengan tangannya hingga terhapus. Kemudian beliau berkata lagi: Siapakah saya ini hingga perkataanku ditulis?

2. Takut ‘ujub

Tsabit al-Bunani berkata: Abu Ubaidah berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya saya ini orang Quraisy, siapapun kalian dari bangsa kulit merah atau kulit hitam yang melampauiku dengan ketakwaan melainkan aku ingin menjadi kulitnya.

Maksud ucapan ini, beliau ingin menempuh jalan sebagaimana mereka.

Dari Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ atau yang lainnya bahwa ada seseorang berkata kepada Ibnu Umar: Wahai sebaik-baiknya manusia! Putra dari sebaik-baiknya manusia! Beliau merespon dengan mengatakan: Saya ini bukan sebaik-baiknya manusia dan juga bukan putra dari sebaik-baiknya manusia tetapi saya ini seorang hamba Allah ta’ala sebagaimana hamba Allah ta’ala lainnya. Saya senantiasa berharap kepada Allah ta’ala dan takut kepada-Nya. Demi Allah! Kalian akan terus bersama seseorang hingga kalian membinasakannya.

Abu-l-Usyhub meriwayatkan dari seseorang bahwa Muthorrif bin Abdullah berkata: Jika Anda tertidur (tidak melakukan qiyamullail, Pent) kemudian di pagi harinya Anda menyesali maka yang demikian itu lebih saya sukai daripada di malam hari Anda menunaikan qiyamullail lalu di pagi harinya merasa ‘ujub. Adz-Dzahabi mengatakan: Sungguh tidak beruntung orang yang ‘ujub, orang yang memandang dirinya suci.

Wahb bin Munabbih berkata: Hafalkanlah dari tiga perkara: Jauhilah oleh kalian hawa nafsu yang diikuti, teman yang buruk, dan membanggakan diri sendiri.

3. Sabar terhadap musibah

Dari Al-Mubarrid, dikatakan kepada Hasan bin Ali bahwa Abu Dzar mengatakan: Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan, sakit lebih aku sukai daripada sehat. Beliau merespon dengan mengatakan: Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun saya mengatakan: Barangsiapa menyandarkan dirinya kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan pernah menginginkan sesuatu. Inilah makna ridho terhadap apa yang telah ditetapkan.

Dari Wahb bin Munabbih bahwa Isa alaihissalam berkata kepada Hawariyyin: Orang yang paling gelisah terhadap musibah adalah orang yang paling cinta kepada dunia.

Dari Asy-Sya’bi, Syuraih berkata: Sesungguhnya saya ditimpa musibah, maka saya memuji Allah empat kali:

a. Saya memuji Allah ta’ala karena musibahnya tidak lebih besar dari yang ditimpakan sekarang ini

b. Saya memuji Allah ta’ala karena diberi rizki berupa sabar untuk menghadapinya

c. Saya memuji Allah ta’ala karena telah memberi saya taufiq untuk beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un) demi mendapatkan pahala karenanya

d. Saya memuji Allah ta’ala karena Dia tidak menimpakan musibah pada agama saya

Ghossan bin al-Mifdhol Al-Gholaby berkata: Saya diberitahu oleh sebagian teman-teman bahwa ada seseorang datang menemui Yunus bin Ubaid mengeluhkan tentang keadaannya dan sempitnya kehidupan. 

Beliau bertanya: “Apakah kamu mau bola matamu dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Tidak”.

Beliau bertanya lagi: “Bagaimana dengan telingamu, mau dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Tidak mau”.

Beliau bertanya lagi: “Bagaimana dengan lidahmu, mau dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Sama sekali tidak mau”.

Lalu beliau mengingatkannya tentang nikmat-nikmat Allah ta’ala dan berkata: “Saya melihat pada dirimu ada rizki ratusan ribu dinar tapi kamu masih mengeluhkan rizki?

4. Hati-hati di dalam bergaul 

Dari Humaid Ath-Thowil, dari Abu Qilabah, dia berkata: Jika Anda mendengar informasi buruk tentang temanmu, maka carilah alasan-alasan untuk memakluminya (sehingga Anda tidak memandangnya sebagai orang yang bersalah). Jika Anda tidak mendapatkannya, maka katakanlah pada diri Anda: Mungkin dia memiliki alasan yang saya tidak mengetahuinya.

Dari Maimun bin Mahron, dia berkata: Saya mendengar Ibnu Abbas berkata: Tidaklah saya mendengar keburukan tentang seseorang melainkan aku mensikapinya dengan tiga sikap;

a. Jika dia lebih senior, maka saya harus tahu diri untuk tetap memuliakannya

b. Jika dia sebaya, maka aku memandangnya lebih utama dari diriku

c. Jika dia lebih junior, maka saya tidak mau bermajlis atau berkumpul dengannya. 

Demikianlah aku, kalau ada yang tidak suka dengan sikapku ini, maka silahkan saja bumi Allah ta’ala itu luas.

Diriwayatkan dari Roja’ bin Haywah, dia berkata: Barangsiapa tidak mau berteman kecuali dengan orang yang tidak ada aibnya niscaya sedikit temannya. Barangsiapa tidak ridho kecuali terhadap teman yang benar-benar bersih dari aib maka selama-lamanya dalam kesalahan. Barangsiapa mencela temannya atas setiap aibnya niscaya banyak musuhnya.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 3 https://nidaulfithrah.com/akhlak-anda-sudah-mulia-bagian-3/ Fri, 17 Apr 2026 07:10:36 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21751 e. Posisi orang yang berakhlak mulia paling dicintai dan paling dekat dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam di Hari Kiamat

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَىَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُ ونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ « الْمُتَكَبِّرُ ونَ » (سنن الترمذى )

Dari Jabir bin Abdillah radiallahu anhu secara marfū’, (Nabi bersabda), “Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik budi pekertinya di antara kalian. Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari Kiamat adalah orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami sudah tahu orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara, lantas apakah yang dimaksud dengan bermulut besar?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang sombong. (Sunan At-Tirmidzi)

Adakah yang tidak mau menjadi orang yang paling dicintai dan paling dekat posisinya dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam pada hari Kiamat. Ayo! Senantiasa memperbaiki akhlak kita.

C. Sekilas tentang Akhlak Nabi shalallahu alaihi wasallam

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Disebutkan di dalam Hadits Anas radiallahu anhu,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا (صحيح مسلم )

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya (Shahih Muslim).

Anas radiallahu anhu menuturkan demikian karena saking terkesan dengan akhlak beliau. Di antaranya  dia menyaksikan sendiri: Ketika sedang berada di rumah Anas, beliau shalallahu alahi wasallam menghendaki shalat. Beliau shalallahu alahi wasallam pun meminta hamparan yang terbuat dari pelepah kurma yang berada di bawah beliau disapu dan diciprati dengan air. Lalu beliau mengimami Anas dan keluarganya.

Anas radiallahu anhu juga menuturkan,

مَا مَسِسْتُ دِيبَاجاً وَلاَ حَرِيراً ألْيَنَ مِنْ كَفِّ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلاَ شَمَمْتُ رَائِحَةً قَطُّ أطْيَبَ مِنْ رَائِحَةِ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلَقَدْ خدمتُ رسول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ سنين ، فما قَالَ لي قَطُّ : أُ فٍّ، وَلاَ قَالَ لِشَيءٍ فَعَلْتُهُ : لِمَ فَعَلْتَه ؟ وَلاَ لشَيءٍ لَمْ أفعله : ألاَ فَعَلْتَ كَذا ؟ (رواه البخارى)

Aku tidak pernah menyentuh segala jenis sutera yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan aku sama sekali tidak pernah mencium aroma yang lebih harum dari aroma Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Sungguh aku telah membantu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah mengatakan kepadaku sama sekali “Ah”. Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang telah aku kerjakan, “Seperti apa kamu mengerjakannya?” Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang aku belum mengerjakannya, “Kenapa belum kamu kerjakan?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah azza wa jalla berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ  [القلم: 4]

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung (QS. Al-Qolam)

Disebutkan di dalam Tafsir As-Sa’di, saya terjemahkan secara bebas kurang lebihnya bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam menjadi tinggi derajatnya karena akhlak mulia yang Allah anugerahkan kepadanya. Akhlak yang agung “ خُلُقٍ عَظِيمٍ “ ditafsirkan ‘Aisyah: “Akhlak beliau adalah al-Qur’an”. Yang demikian itu sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف:199)

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’rof: 199)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ (أل عمران :159)

Maka berkat rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka (QS. Ali Imron: 159)

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُ وفٌ رَّحِيمٌ (التوبة:128)

Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. At-Taubah)

Dan ayat-ayat lainnya yang menjelaskan tentang akhlak mulia beliau.

Tentang ayat-ayat yang mengarahkan kepada akhlak mulia, maka beliau shalallahu alahi wasallam memiliki akhlak-akhlak tersebut dengan kadar tertinggi dan sempurna. Beliau orangnya lembut. Dekat dengan siapapun. Senantiasa menghadiri undangan orang yang mengundangnya. Memenuhi hajat orang yang membutuhkannya. Meringankan beban hati orang yang bertanya; beliau tidak membatasi diri dan tidak menolak dengan mengecewakan. Jika para Sahabat menginginkan sesuatu dari beliau maka beliau bersikap “klop” dengan mereka. Bahkan selama tidak ada udzur beliau berpartisipasi aktif terhadap progress suatu urusan yang beliau diminta untuk terlibat di dalamnya. Kalau ada urusan bersama, beliau senang bermusyawarah dan menerima ide yang terbaik, tidak memutuskan dari dirinya sendiri. Beliau mudah memaafkan orang yang berbuat salah. Tidaklah bermajlis (duduk-duduk) kecuali beliau bergaul dengan sikap yang terbaik. Beliau tidak bermuka masam. Tidak “mbulet” pembicaraannya. Tidak memotong pembicaraan orang yang keliru-keliru. Beliau benar-benar bergaul dengan manusia dengan sebaik-baiknya pergaulan. Beliau pun sangat bersabar di dalam bergaul dengan siapa pun. Sehingga siapapun yang bergaul dengan beliau pasti akan betah dan senantiasa merindukan kehadirannya [selesai]

Beliau shalallahu alahi wasallam sangat menjaga perasaan orang lain. Disebutkan di dalam riwayat,

عَنِ الصَّعْبِ بْنِ جَثَّامَةَ قَالَ : أَهْدَيْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا عَقِيرًا وَحْشِيًّا بِوَدَّانَ ، أَوْ قَالَ : بِالأَبْوَاءِ ، قَالَ : فَرَدَّهُ عَلَيَّ ، فَلَمَّا رَأَى شِدَّةَ ذَلِكَ فِي وَجْهِي قَالَ : إِنَّا إِنَّمَا رَدَدْنَاهُ عَلَيْكَ لأَنَّا حُرُمٌ (مسند أحمد)

Dari Sho’b bin Jatsamah, dia berkata: Aku memberi Nabi hadiah keledai liar di Waddan. Atau periwayat mengatakan di Abwa’. Lalu Nabi mengembalikannya kepadaku. Ketika beliau melihat perubahan pada wajahku karena yang demikian itu maka beliau menjelaskan: “Sesungguhnya aku mengembalikannya kepadamu karena aku sedang ihram” (Musnad Ahmad)

Di dalam Hadits ini Nabi shalallahu alahi wasallam langsung menjelaskan alasan mengembalikan hadiah. Setelah dijelaskan, Sho’b pun mengerti dan tidak kecewa. Syaikh Utsaimin menjelaskan, orang yang sedang ihram tidak diperbolehkan makan binatang yang sengaja diburu untuknya. 

Mungkin Anda pernah merasa tidak suka kalau disuruh menemui si Fulan. Karena Anda merasakan si Fulan tersebut “alot”, sulit, kaku, tidak mudah. Beliau shalallahu alahi wasallam tidaklah demikian. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رضى الله عنهما – قَالَ لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا (رواه البخارى و مسلم)

Dari Abdullah bin Amr radiallahu anhuma berkata: Nabi shalallahu alaihi wasallam tidaklah kasar dan tidak bertabiat kasar (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentang Hadits ini Syaikh Utsaimin mengatakan, Nabi itu orangnya lembut dan mudah. Tidak kasar dan jauh dari perangai kasar.

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kita taufiq sehingga berkemampuan untuk terus memperbaiki akhlak kita hingga kita menjadi orang yang paling dicintai Nabi dan paling dekat posisinya dengan beliau pada Hari Kiamat dengan Surga yang paling tinggi. Aamiin.

D. Akhlak Para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Secara Umum

Saya nukilkan akhlak para Sahabat radiallahu anhum secara umum dari kitab AKHLAQU –S-SALAFISH –SH-SHOLIH MIN KITAB TANBIHI-L- MUGHTARRIN karya Muhammad bin ‘Ulwi Al-Idrus cetakan tahun 1431 H/2010 M. Akhlak yang dimaksud di sini adalah akhlak keduanya; muamalah dengan Allah dan muamalah sesama manusia.

1. Istiqomah di dalam bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagai butuhnya orang yang terkena sengatan terik matahari kepada tempat yang teduh

2. Menyelaraskan setiap ucapan dan perbuatannya kepada Al-Qur’an dan Hadits dan ‘urf yang baik (yang tidak bertentangan dengan syariat)

3. Senantiasa menyerahkan seluruh urusan dirinya, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya kepada Allah azza wa jalla

4. Senantiasa mengupayakan keikhlasan dalam berilmu dan beramal, karena khawatir untuk terjerumus ke dalam riya

5. Meng-hajr (memboikot) seseorang yang bolak-balik mendekati penguasa tanpa suatu keperluan yang mendesak atau suatu kemaslahatan ummat. (Hal ini bisa berpotensi menjadikannya sebagai penjilat, Pent.)

6. Senantiasa mengantisipasi sifat nifak yang bisa terjadi pada setiap perbuatan baik yang tampak ataupun tersembunyi

7. Bersabar atas kezhaliman penguasa

8. Senantiasa menolong agama Allah dan murka jika syariat-Nya dilanggar

9. Sedikit tertawa dan tidak berbangga-banggaan dengan dunia

10. Memandang kematian lebih baik daripada hidup tapi terus-menerus berkubang dengan dosa

11. Terus-menerus mengingkatkan rasa khouf hingga akhir hayat

12. Sangat takut terhadap adzab Allah atau suatu dosa yang seseorang terjerumus di dalamnya

13. Sangat menjaga kemuliaan kaum muslimin dan senantiasa berharap untuk kebaikan mereka

14. Sabar atas perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh para istri terhadap diri mereka

15. Tidak meminta suatu jabatan kepemimpinan

16. Semangat untuk saling menasehati sesama kaum muslimin

17. Berperilaku dengan adab yang baik kepada junior apalagi kepada senior. Juga kepada budak (siapapun yang dipandang sebagai orang rendahan, Pent.)

18. Istiqomah dalam menunaikan qiyamullail baik di musim dingin ataupun musim panas

19. Tetap bergaul dengan orang-orang yang memusuhinya selama di tengah-tengah manusia secara umum dikenal sebagai orang baik

20. Banyak bersyukur kepada Allah

21. Komitmen dengan sunnah hingga ketika melamar wanita pun hanya melhat wajah dan kedua tangannya

22. Berperilaku dengan sebaik-baiknya adab kepada siapapun yang pernah mengajari mereka ayat atau surat Al-Qur’an ketika mereka masih kecil

23. Di dalam peribadahan, senantiasa merasakan baru sedikit apa yang telah dilakukan dan masih banyak kekurangan-kekurangannya

24. Tidak mengunggul-unggulkan dirinya sebagai penyebab hidayah bagi orang lain

25. Menjamu tamu dengan sebaik-baiknya

26. Bersikap wara’ dalam hal makanan dan minuman

27. Senantiasa mengontrol dirinya agar terlepas dari setiap sifat munafiq

28. Tidak suka menahan harta, sebaliknya justru senang berinfaq

29. Suka mendahulukan khidmah untuk Allah ta’ala daripada untuk dirinya sendiri

30. Setiap kali teringat keadaan Hari Kiamat, setiap itu pula rasa takutnya meningkat

31. Banyak mengambil pelajaran, menangis, dan lebih memperhatikan terhadap urusan kematian setiap kali melihat jenazah

32. Banyak bersedih setiap kali mengingat kematian dan sakaratul maut

33. Memandang dunia sebagai ujian, bukan pandangan cinta dan syahwat

34. Mengingatkan manusia agar jangan mengikuti keburukan-keburukan yang dijumpai pada dirinya

35. Memandang dirinya sendiri sebagai orang yang masih jauh tingkat peribadahannya secara kuantitas dan kualitas

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>