Babat Alas – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Thu, 30 Dec 2021 02:27:23 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Babat Alas – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Yayasan Nidaul Fithrah (YNF) Cabang Sidoarjo https://nidaulfithrah.com/yayasan-nidaul-fithrah-ynf-cabang-sidoarjo/ https://nidaulfithrah.com/yayasan-nidaul-fithrah-ynf-cabang-sidoarjo/#respond Sat, 25 Dec 2021 02:03:04 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12982 Beralamatkan di Rangkah Kidul dekat Lingkar Timur, di situlah YNF Cabang Sidjoarjo didirikan. Di antara yang kami lakukan sejak awal menerima tongkat estafet amanah adalah konsolidasi dengan pengurus dan para aktivisnya. Setiap bulan sekali kami melakukan kunjungan. Ketika dirasakan sudah lebih solid, kunjungan perlahan dikurangi diganti dengan komunikasi, koordinasi via telpon dan pertemuan-pertemuan insiidentil

MasyaAllah perkembangan YNF cabang ini sangat pesat. Bahkan gaungnya lebih santer daripada YNF pusatnya. “Kantor Ustadz di Sidoarjo ya?”, pertanyaan yang seringkali saya dapatkan ketika memperkenalkan diri sebagai staff YNF. Ini bisa jadi disebabkan YNF cabang Sidoarjo ini sering mengadakan tabligh akbar yang publikasinya tersebar meluas. Sementara YNF pusat Surabaya justru program unggulannya adalah KANTIN (KAjiaN RuTIN) yang sasarannya adalah masjid-masjid atau perumahan-perumahan yang belum “dekat” kepada sunnah. Jadi, dakwah YNF pusat lebih kepada dakwah “silent” alias dakwah jemput bola. Mungkin hal ini yang menyebabkan  gaungnya tidak sekuat YNF cabangnya. ‘Ala kulli hal keduanya bersinergi secara apik.Ya Allah! Jadikanlah YNF sebagai Lembaga yang banyak manfaatnya untuk ummat. Jagalah YNF dan kuatkanlah keberadaanya dengan taufiq dan ridha-Mu. Amin.

Gambar YNF Sidoarjo  

Penutup

Demikianlah sekelumit tentang babat alas di daerah pinggiran Surabaya hingga merambah sedikit ke bagian tengah. Semoga tulisan yang “ngalor-ngidul” ini tetap bermanfaat meskipun dipandang “tidak manfaat”. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa memberi kita nikmat taufiq sehingga kita tidak bosan menjadi orang baik. Amin.

Judul buku : BABAT ALAS DI DAERAH PINGGIRAN

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
https://nidaulfithrah.com/yayasan-nidaul-fithrah-ynf-cabang-sidoarjo/feed/ 0
Melakukan pengembangan https://nidaulfithrah.com/melakukan-pengembangan/ https://nidaulfithrah.com/melakukan-pengembangan/#respond Sat, 25 Dec 2021 01:55:14 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12970
  • Renovasi masjid dan pesma THAYBAH
  • Masjid Thaybah bentuknya menyerupai pendopo kelurahan dengan bagian muka dan sisi kanannya terbuka. Adapun bagian mihrab tertutup dengan dinding. Sisi kirinya juga tertutup dengan dinding  asrama pesantren. Ia dikelilingi 6 ruang asrama pesantren. Sejak Senin 13 Juni 2013 dilakukan renovasi besar. Tiga ruang asrama yang bersambung dengan masjid dibongkar untuk perluasan masjid. Semua ruang santri mahasiswa dipindah ke lantai dua dengan dibangunkan 20 ruang untuk kapasitas 80 orang. Adapun 3 ruang lainnya yang berada di samping masjid dibiarkan apa adanya dengan ditambahkan satu ruangan dan diperguankan untuk TK Thaybah.

    Renovasi ini memakan waktu berkepanjangan. Baru selesai di tahun ini 1442/ 2021 dengan dipasangnya Menara masjid yang modelnya unik. “ Kok kayak kendang ayam sich?!”, kata Sebagian orang mengomentari Menara masjid.

    Gambar Menara masjid THAYBAH

    Kenapa renovasinya berkepanjangan sekitar delapan tahun? Ada beberapa sebab. Di antaranya adalah faktor keuangan dan sempat berganti pemborongnya. Anggaran telah dikeluarkan sebanyak sekitar Rp. 1,4 milyar, tapi banyak hal yang belum tergarap. Lalu dilanjutkan oleh pemborong kedua dengan menyempurnakan bagian-bagian yang telah digarap dan melanjutkan sesuatu yang belum dikerjakan. Tepat di hari kedua Ramadhan tahun ini 1422 anggaran yang harus dibayarkan Rp. 801.189.800 dan baru terbayar Rp. 600.000.000 dengan cara diangsur.

    Tentu kita sangat senang dan bergembira dengan memiliki gedung yang tampak megah nan anggun. Dan, kebahagiaan ini menjadi lebih lengkap ketika hadirnya pesantren dirasakan besar manfaatnya oleh para mahasiswa. Berikut ini kesan dan pesan Sebagian santri mahasiswa putra dan putri.

    Bismillaah

    Assalamualaikum warahmatullaahi wabarokatuh

    ‘Afwan ustadz Yasin, ana yyyyyyyy santriwati wisma akhwat thaybah angkatan 2019, ana menghubungi terkait tugas yang diberikan ustadz Yasin yaitu “kesan dan pesan selama menjadi santriwati wisma akhwat thaybah”

    Alhamdulillaah, ana sangat bersyukur Allaah perkenalkan dengan wisma akhwat thaybah ini ustadz,

    Ana sendiri sejak mendapat pengumuman pendidikan profesi di RSUD Haji, ana sangat khawatir kalau-kalau ana banyak terlibat dalam kesia-siaan (karna mendengar cerita dari kakak2 tingkat), sehingga ana sangat ingin mencari perkara yang menyibukkan ana dalam kebaikan, dan ma syaa Allaah, Allaah jawab dengan tetapkan menjadi santri wisma”)

    Selama menjadi santri banyak sekali perubahan yang ana rasakan ustadz, banyak sekali hingga ana tidak bisa sebutkan satu persatu,

    Dari yang awalnya story whatsapp banyak berisi perkara-perkara dunia yang melalaikan, menjadi banyak berisi nasihat-nasihat pengingat kematian,

    Dari yang awalnya sangat sulit mencari kawan untuk menuntut ilmu bersama (karna kesibukan dan lainnya) kini justru Allaah mudahkan, Allaah buka lebar-lebar hingga kadang ana sendiri merasa justru ana sangat menyia-nyiakan jalan yang Allaah buka itu

    Semenjak menjadi santri juga ana menjadi lebih teguh dalam menjalankan sunnah, lebih tahan terhadap perkataan orang, lebih tidak mudah terbawa arus, lebih berani meskipun sendirian, lebih mudah menerima kebenaran, dan lainnya..

    Alhamdulillaah ana benar-benar bersyukur atas hidayah yang Allaah berikan ini..

    Salah satu kebaikan yang ana sangat syukuri adalah bagaimana kebenaran hadits Rasulullaah bahwa dengan mengejar akhirat justru Allaah hamparkan dunia dengan hina dihadapan kita,

    Setelah belajar diwisma, meskipun ana sempat ragu, karna khawatir terhadap pendidikan ana, apalgi ana termasuk ambisius dalam pendidikan, ana khawatir nanti nilai ana anjlok dan lainnya,

    Namun justru sebaliknya, Allaah mudahkan dalam pemahaman, dalam menghafal, dalam menganalisis, Allaah jaga dari waktu yang sia-sia, dan lainnya.. ma syaa Allaah..

    Terakhir, pada kesempatan ini ana juga mengucapkan jazaakallaahu khairaan katsiraan ustadz Yasin,

    Ustadz telah mengajarkan ilmu yang luar biasa bagi ana, baik itu dalam penjelasan takdir, dalam mengambil ibrah dari suatu kisah, menjelaskan hukum dalam suatu perkara, akhlaqul karimah, bahasa arab, dan lainnya, dari yang awalnya ana tidak tau makna jazaakunnallaah ustadz lantas ajarkan hingga kini Allaah mudahkan untuk memahaminya,

    Semoga Allaah berikan ustadz dan keluarga banyak kebaikan, Allaah jadikan amal jariyah, Allaah jadikan amalan ini sebagai penolong dihari yang tidak ada pertolongan selain dari Allaah, dan Allaah tetapkan ustadz dan keluarga sebagai penghuni jannah

    Barakallaahufiikum ustadz,

    ‘Afwan ana chatnya panjang sekali…

    Kesan dan pesan dari salah satu santri mahasiswa

    Masa-masa kuliah ini rasanya seperti sedang menuliskan buku cerita kita masing-masing, yang mana bukunya adalah kumpulan memori yang hanya Allah dan diri kita saja yang tahu, lalu tintanya adalah amalan perbuatan yang akan menggoreskan warna-warni berupa tinta ketaatan, atau tinta keburukan. Lembaran-lembarannya adalah hari-hari yang sudah kita lalui, yang sudah terisi dengan warna-warni tinta, dan hari-hari yang akan kita lalui, yang belum terisi warna tinta apapun. Lembaran-lembaran kosong tersebut ana harapkan dapat terisi dengan tinta-tinta ketaatan selama “nyantri” di Pesma Thaybah. Sejujurnya ana sendiri berasal dari background keluarga awam yang belum pernah merasakan pengalaman menjadi santri, senang nongkrong-nongkrong membuang-buang waktu, sok sibuk mengejar dunia, dan yang terpintas dibenak ana tentang santri hanya sebatas “repot ya jadi santri, ndak boleh ini dan itu, membosankan”. Namun Alhamdulillah, nikmat mengenal hidayah sunnah itu sangat indah. Banyak sekali pengalaman berkesan yang ana rasakan selama “nyantri” di Pesma Thaybah, ntah itu yang suka maupun duka. Sejujurnya MasyaAllah lebih banyak suka nya hehe. Ada banyak sekali peluang di Pesma Thaybah ini yang bisa kita manfaatkan untuk mengisi masa muda dengan hal-hal positif, baik dari sisi agama, seperti misalnya: menuntut ilmu syar’i, mengamalkan sunnah, berlatih muamalah yang baik, menghafal Al-qur’an, dll. Maupun dari sisi soft-skill yang dibutuhkan di lingkungan kerja, seperti misalnya: pengalaman menjadi Badan Pengurus Harian (munazhomah), kepanitiaan RDT, kepanitiaan Qurban, mengajar di TPQ, dll. Semua ini menurut ana sangat berkesan sekali karena sulit menemukan wadah dan lingkungan, yang bemanhaj salaf, yang kita dapat berlatih dalam mengejar 2 kebaikan sekaligus, yaitu kebaikan akhirat dan kebaikan dunia.

    Pesan ana secara umum, semoga Allah selalu menjaga niat kita dan senantiasa memperbaiki amalan kita, terutama untuk penulis sendiri. Secara khusus, semoga Allah selalu menjaga dan memudahkan perjuangan dakwah ustadz Yasin selaku mudir Pesma Thaybah, pengajar, sekaligus ketua Yayasan Nidaul Fithrah yang mewadahi Pesma Thaybah Surabaya, yang telah membimbing dan mengajarkan ilmu syar’i, adab, dan akhlak seorang penuntut ilmu. Lalu, ustadz Ishaq selaku musyrif Pesma Thaybah yang telah banyak membimbing kepengurusan munazhomah (BPH) dan mengajarkan ilmu nahwu. Lalu, ustadz Ammi Ahmad selaku pengajar Bahasa Arab yang telah banyak mengajari dan membimbing kami dalam ilmu nahwu, adab, dan akhlak seorang penuntut ilmu. Lalu teruntuk teman-teman santri, semoga Allah selalu membantu kita semua memperbaiki niat kita dalam menuntut ilmu syar’i dimana pun kita berada, karena kalau dikira-kira rugi saja rasanya umur yang kita habiskan selama di Pesma Thaybah ini hanya setengah-setengah, apakah kita mau hanya dapat capeknya saja? Tentu tidak. Lalu senantiasa menjaga cita-cita dan harapan orangtua yang mendoakan kita, menjalin ukhuwah yang baik antar sesama santri baik selama “nyantri” di Pesma Thaybah, maupun setelah lulus menjadi alumni hingga nantinya berkeluarga. Aamiin. Barokallahu fiikum.

    Berikut ini gambar masjid dan pesma THAYBAH sebelum dan sesudah direnovasi.

      Gambar masjid dan pesma sebelum dan setelah direnovasi 
    Gambar wisma akhwat THAYBAH di gubeng kertajaya
    • Renovasi kantor YNF

    Kantor YNF terdiri dari tiga lantai. Semasa di bawah kepemimpinan Ustadz Dr. Ainul Haris, Lc.MAg ketiga lantai tersebut dimanfaatkan secara maksimal. Lantai satu untuk toko, lantai dua perkantoran, dan lantai tiga, aula pertemuan.  Namun, sejak amanahnya berpindah ke pengurus baru pemanfaatan gedung tiga lantai ini kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena kondisi pengelolaan yayasan jauh mengalami perubahan. Sebelumnya banyak kegiatan-kegiatan dakwah dengan puluhan da’i dari berbagai daerah yang dikoordinir dengan baik dan rapi. Program santunan anak yatim dan dhu’afa. Program pembangunan masjid, pengeboran sumur, pengadaan karpet masjid, distribusi mushaf dan buku dan lain-lain yang menunjukkan bahwa betapa YNF ketika itu sangatlah hidup dengan keuangan yang besar. Alhamdulillah. Namun, sejak kepengurusan yang baru gedung tiga lantai ini menjadi lengang. Saya senantiasa berpikir bagaimana gedung ini tetap hidup meskipun keadaannya sudah sangat jauh berbeda.

    Alhamdulillah, perkembangan Rumah Belajar (RB) cukup bagus dan membutuhkan gedung untuk siswa putra yang level SMP dan SMA, maka setelah lantai satu kami ubah menjadi ruang-ruang kerja dan bagian belakangnya  yang berupa dapur menjadi Gudang,   berikutnya kami  merenovasi lantai dua dan tiganya  menjadi empat ruang kelas dan empat kamar mandi. Total biaya sekitar Rp. 106 juta. Alhamdulillah semua terpenuhi dengan penggalangan donasi dari kaum muslimin.

    • Mendirikan Rumah Belajar (RB) THAYBAH

    Ba’da Isya di tahun 2014 orang-orang berkumpul di masjid Thaybah. Mereka perwakilan dari beberapa Majilis taklim di Surabaya dan beberapa orang yang dikenal sangat peduli kepada dakwah. Memang sengaja saya undang untuk musyawarah.

    “Jadi, bagaimana pandangan Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya dengan rencana pendirian sekolah ini?”, tanya saya kepada mereka setelah memberikan penjelasan tentang pentingnya mendirikan sekolah berkwalitas yang terjangkau.

     Mereka semua setuju. Namun, ada pertanyaan yang mencuat. Di mana tempatnya? Apakah sudah ada gedungnya? Jika belum ada gedung paling tidak ada lahan untuk dibangun, itupun masih menyisakan petanyaan, adakah uangnya untuk membangun? Bisakah penggalangan donasi   dalam waktu singkat? Karena jumlahnya tentu tidak sedikit.  Pertemuanpun berakhir dengan kesimpulan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

    Pertemuan kedua kembali diadakan di masjid Thaybah. Ketika itu saya berharap ada perkembangan menggembirakan berupa lahan atau dana atau gedung yang bisa dipinjam. Qoddarallahu, hasilnya masih sama dengan pertemuan pertama. Setelah itu proyek ukhrowi ini tidak terdengar gaungnya lagi seakan-akan tidak pernah dibahas.

    Saya berpikir keras bagaimana sekolah dengan motto BERKWALITAS YANG TERJANGKAU ini bisa didirikan. Suatu ketika, seakan ada dorongan kuat yang berbisik pada diri saya, “Bismillah mulai saja gak usah dipusingkan dengan gedung, kan bisa diadakan dalam masjid Thaybah”.  Singkat cerita apa yang merupakan perangkat, perlengkapan dan kebutuhan untuk pendirian sekolah ini perlahan-perlahan telah disiapkan, alhamdulillah. 

    Sekolah dimulai. Kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam raung utama masjid berbentuk kelompok-kelompok tanpa ada papan atau partisi yang menyekat.

    “Ustadz, afwan kapan sekolah ini punya gedung? Ustadz lihat sendiri .…. sangat tidak nyaman untuk belajar. Pas semua kelas menghapal suaranya sangat krowdid, ramai sekali, gak bisa konsentrasi. Kalau pelajarannya bukan hapalan sich gak mengapa suasananya hening, tapi kalau pas hapalan itu lho…?!”, tanya kepala sekolah kepadaku. Sungguh saya sangat kaget sekali dengan pertanyaan tersebut. Saya tidak pernah menyangka ada pertanyaan semacam itu.

    “Saya gak tahu harus menjawab bagaimana? Karena kalau bukan mukjizat dari Allah, kita gak mungkin punya gedung dalam waktu cepat. Begini saja… sudah jalanin saja sebisanya dan dinikmati apa adanya. Toh.. di masjid Nabawi saya menyaksikan sendiri ma’hadul Haram gak punya gedung. Sekolahnya modelnya halaqoh-halaqoh kaya kita ini”, jawab saya memotivasinya sekaligus menghibur diri.

    Ternyata kepala sekolah ini bisa membantah, “ Kalau masjid Nabawi gedungnya sangat luas kan? Jadi, kalau semuanya menghapal dengan suara tidak bikin krowdid”.

    “Iya sih, benar. Tapi gimana lagi, ini yang ada dalam kemampuan kita. Kita hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kemudahan’. Jawabku menyudahi perbincangan ini.

    Sungguh ini perbincangan yang tak terlupakan di tahun 2016,  tahun kedua usia perjalanan sekolah berkwalitas yang terjangkau ini. Betapa tidak, dua hari setelah perbincangan ini saya kedatangan tamu seorang ibu. “Ustadz, saya ada rumah dua lantai di Medokan. Monggo saya wakafkan ke Yayasan Nidaul Fithrah. Semoga bermanfaat.

    Air mata tak terasa mengalir, saking gembiranya dengan kejadian yang hampir tidak bisa dipercaya ini. Tapi, ini kenyataan, bukan khayalan. Allahu Akbar. Segala puji bagi-Mu ya Allah yang telah mengabulkan permohonan kami.

    “Bu, Masyaallah…. Baru saja dua hari yang lalu kami merisaukan tentang gedung pendidikan. Ternyata Allah kasih cash melalui panjengengan. Allahu Akbar. Semoga Allah menjaga Ibu sekeluarga dan semoga wakaf Ibu bisa segera kami manfaatkan biar segera mengalirkan pahala bagi pewakafnya”, respon saya kepada sang Ibu dengan tidak ada henti-hentinya bersyukur kepada Allah.

    Tidak lama setelah itu renovasi langsung dimulai, dan anggarannya Rp.190.000.000. “Uang dari mana?”, gumamku dalam hati.

    “Pak, pangapunten. Kami sangat mendesak butuh gedung ini. Tapi, untuk renov dengan RAB segitu banyaknya belum ada duit”, terang saya kepada calon pemborongnya sambil melihat-melihat kondisi rumah wakaf.

    “Gak apa-apa, saya garap dulu saja. Nanti bayarnya diangsur sebisanya. Gak usah memaksakan”, jawab pemborong.

    Allahu Akbar. Bagi-Mu segala puji Ya Allah. Engkau banyak memberikan kemudahan-kemudahan bagi kami. Renovasi usai dengan menyisakan PR bagi kami. Tapi, alhamdulillah sudah lunas dalam waktu sekitar delapan bulan. Kegiatan belajar mengajar tidak lama kemudian dipindah ke rumah wakaf ini, dan semuanya bersuka-cita. Berikut ini gambar rumah wakaf di JL. Medokan Semampir Indah no.269.

     Juli 2020/ Dzulqo’dah 1441, ketua Rumah Belajar (Kepala Sekolah) Ustadz Ishaq Yunus, S.Pdi datang ke kantor. Beliau menyampaikan sekiranya ada gedung lagi biar siswai ikhwan dan akhwat benar-benar dipisah. Saya benar-benar kaget. Akan sejarah terulang? Kok perimintaannya persis sebagaimana kepala sekolah sebelumnya. Saya pun tidak bisa menjawab kecuali persis sebagaimana yang saya jawab dahulu. “Ustadz, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa. Semoga ada mukjizat sehingga keinginan Antum terealisir.

    Allahu Akbar. Rupanya sejarah terulang. Sekitar lima hari setelah permintaan ini, datanglah seorang Bapak bersama istrinya, “Ustadz kami ingin mewakafkan rumah. Rumah ini adalah rumah pertama yang kami miliki”

    “Allahu Akbar, Pak Bu. Baru kemaren-kemaren kepala sekolah menginginkan adanya gedung baru. Ternyata Allah bayar cash melalui Bapak dan Ibu. Barakallahu fikum wa ahlikum wa maalikum”.

    Sebenarnya siswa Ikhwan dan akhwat sudah dipisah, tapi masih satu gedung. Ikhwan di lantai satu, akhwat di lantai dua. Insyaallah tahun ajaran 2021/2021 akan direalisasikan dengan adanya rumah wakaf baru ini. Berikut gambar rumah wakaf di Semampir Selatan VA no.3.

    Ketua rumah belajar Ustadz Ishaq Yunus, S.Pdi datang lagi. Kali ini mengajak sharing tentang proses perizinan PKBM. Karena sejak didirikannya RB THAYBAH belum ada izinnya. Beliau menjelaskan tentang rumitnya proses di Surabaya yang persyaratannya mencapai 100 item lebih. Sementara di Sidoarjo hanya 12 item. Kurang lebih demikian yang saya ingat dari penjelasannya. Beliau menyebutkan tentang PKBM di Sidoarjo yang baru berdiri lalu tidak lama kemudian perizinannya keluar. Hal ini memotivasi beliau sekiranya yayasan bisa menyewa atau pinjam rumah di wilayah Sidoarjo berbatasan dengan Surabaya. Dengan cara ini domisili Rumah Belajar ada wilayah Sidorjo dengan cabang-cabangnya di Surabaya yang masih berdekatan dengan pusatnya, lalu harapannya bisa mengurus perizinan dengan mudah. “Sungguh ide yang bagus”, gumamku.

    Langsung action. Saya mencoba mengkontak relasi yang saya kenal di daerah Pondok Candra. Dalam pertimbangan saya perumahan ini masuk wilayah Sidorajo tapi masih dekat di perbatasan Surabaya. Ikhtiar dan doa terus kita lakukan, qoddarallah belum membuahkan hasil. Tapi, Allah memberikan jawaban lain sesuatu yang lebih besar. Allahu Akbar.

    Selasa, 20 Jumadil Akhir 1442/2 Februari 2021 seorang ibu dengan putranya datang ke kantor yayasan. Mereka menyampaikan maksud kedatangannya untuk mewakafkan sebidang tanah seluas 9×24 m2 di Wonorejo Selatan VB dan uang tunah Rp.500.000.000. “Alhamdulillah… Alhamdulillah…Alhamdulillah puji syukur kepada Allah terus meluncur dari lisan ini. Berikut ini design pembangunan 3 lantai RB THAYBAH dan progressnya per…… Total RAB yang dibutuhkan adalah Rp. 1,968.600.000.

    • Mendirikan TK THAYBAH

    Perkembangan Rumah Belajar THAYBAH yang terus berkembang lebih baik dengan hasil pembelajaran dan pendidikan yang menggembirankan banyak pihak terutama orangtuanya menjadikan banyak orang tua “iri hati” sekiranya YNF juga mengelola TK. Maka, tepat di usia empat tahun perjalanan Rumah Belajar, berdirilah TK. Ia menempati tiga ruang santri mahasisiwa yang telah “diungsikan” terlebih dahulu ke lantai dua. Kini TK menambah satu ruang belajar dengan “menggusur” ruang sekretariat bersama (Takmir masjid, guru TK dan muanzhzhomah mahasiswa). Sebagaimana gantinya sekarang lagi dibangunkan ruang sekretariat dari partisi besi di halaman ruang TK paling Barat mendekati ruang tempat saya tinggal bersama keluarga. Di umur “balita” ini TK telah melahirkan out put yang sangar menggembirakan. Untuk itu banyak orang berebut memasukan Lembaga ini meskipun ia tidak memiliki plang atau papan nama. Berikut ini salah satu testimoni wali murid;

    KISAH TK TANPA PLANG NAMA

    By: Khairul Hibri

    “Itu TK-nya yang mana, ya? Apa pas di masjid yang ada tulisannya Pesma…… itu?”

    Tanya seorang teman. Kebetulan, ia tengah mencari-cari TK buat buah hatinya. Salah satu yang ia jajaki, sekolah tempat putri ane.

    “Iya. Betul. Letak TK-nta pas di samping masjid itu. Coba izin masuk saja,” jawab ane. Tak lama, telphon pun terputus.

    Siapapun kalau tidak teliti, atau tidak berusaha mencari tahu, pasti akan agak sukar menemukan sekolah TK itu. Bukan tidak ada nama. TK ATH-THAYYIBAH, namanya. Meski  posisi pas di samping jalan raya, tapi tidak ada plang. Letaknya pun ada di sudut utara masjid. Agak tersembunyi, karena terdapat pagar tinggi.

    Ane sendiri tahu TK itu, karena yang mengajar guru ngajinya istri. Jadi sudah dekat hubungan. Ketika pindah tugas dari Gresik ke Surabaya, langsung saja masukkan di situ. Lagian dekat dengan rumah. Mudah antar-jemput.

    Alasan lain yang menjadi pilihan, karena konsentrasinya pada hafalan al-Qur’an dan hadits-hadits harian. Rasanya pas sekali dengan sekolah pertama putri ane, ketika masih di Gresik, yang memiliki konsentrasi yang sama.

    Maka ketika kawan ane tadi mencoba menggali kelebihan di sekolah itu, ane pun balik bertanya.

    “Tinggal apa yang ingin antm kembangkan pada diri anak antum, syaikh? Kalau titik tekannya pada al-Qur’an, hadits, ilmu keislaman, insya Allah cocok. Setiap sekolah punya kelebihan,” ujar ane.

    Alhamdulillah, Ahad,13 Juni, menjadi hari terakhir si sulung  belajar di sekolah. Ada acara ‘Uji Publik’ pencapaian para siswa-siswi. Terharu juga mendengarkan putri ane menghafal surat an-Nazi’aat, secara bergantian dengan temannya. Lanjar, tanpa kendala.

    Pencapaian murid-murid pun luar biasa. Di tengah ketidakmaksimalan proses belajar karena pandemi, di antara mereka ada yang hafal setengah, satu, bahkan ada yang dua juz al-Qur’an. Alhamdulillah.

    Oia. Informasi yang ane dapat, ‘aroma harum” TK ini semakin semerbak. Yang semulanya hanya menerima satu kelas, untuk tahun ini membuka dua kelas, karena banyaknya peminat.

    So, apalah arti plang nama. Bila kualitas telah terjamin, maka tetap juga dicari-cari oleh wali, demi kelestarian generasi Qur’ani.

    Sebagai wali murid, kami hanya mengucapkan; Jazakumullah khairan jaza’, bagi segenap komponen, khusus para guru yang membina putra-putri kami. Bersambung…

    Judul buku : BABAT ALAS DI DAERAH PINGGIRAN

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/melakukan-pengembangan/feed/ 0
    Mendapatkan Amanat yang Lebih Besar https://nidaulfithrah.com/mendapatkan-amanat-yang-lebih-besar/ https://nidaulfithrah.com/mendapatkan-amanat-yang-lebih-besar/#respond Sat, 25 Dec 2021 01:29:07 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12965 Bulan Desember 2011, saya diminta menghadap pembina yayasan, Bang Khalid Bawazir. Beliau meminta saya agar siap melanjutkan kepengurusan di Yayasan Nidaul Fithrah, menggantikan Ustadz Dr. Ainul Haris, Lc. M.Ag yang telah berkhidmah sebagaii mudir sejak yayasan didirikan 31 Desember 1999. Langsung tergambar dalam benak saya betapa beratnya amanat ini. Bagaimana tidak, sebelumnya saya hanya bertanggungjawab atas pesantren mahasisiwa putra di Keputih & putri di Gubeng Kertajaya yang didirikan lima tahun setelah putra  dan diperbantukan di penerbit eLBA sebagai editor bersama Ustadz Waznin Mahfuzh dan Ustadz Jhon Hariyadi. Kini harus mengemban keseluruhan departemen dengan divisi-divisinya. Terlebih kondisi Yayasan saat itu keuangannya sangat minim sekali kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali. “Bismillah dengan taufiq Allah semoga saya bisa mengemban amanat ini, Bang. Mohon arahan dan bimbingannya”, demikan respon saya yang didampingi Abu Fathya Hendi Suherman kepada Pembina Yayasan.

    Saya bersama Abu Fathya dan tiga orang lainnya sebagai pengurus Yayasan baru setiap hari ngantor tapi bingung. Apa yang harus dikerjakan? Meskipun tinggal melanjutkan, tapi serasa benar-benar memulai dari nol. Karena kondisi yayasan sebelumnya sangat berlimpah uang yang “mengucur” dari Saudi Arabia. Jadi, keuangan sudah ready selebihnya tinggal mengalokasikannya pada program-program. Sementara pada pengurus “jilid dua” ini keuangan dari Saudi Arabia tidak datang lagi sepeserpun. Kita buka brankas pun berharap ada suatu kejutan, ternyata kosong sama sekali tidak tersisa meskipun selembar kertas.

    Bit taufiq minallah, akhirnya kami mendapatkan solusi, yaitu menjadikan yayasan ini sebagai yayasan donatur. Artinya untuk bisa mengadakan program-program dengan varian kegiatannya kami harus menggalang donasi dari kaum muslimin lokal. Tidak ada lagi dari Saudi Arabia. Alhamdulillah berjalan hingga sekarang ini. Tercatat donatur aktif sekitar 2600 orang. Laporan kegiatan dan keuangan kepada mereka dan kaum muslimin secara umum dalam bentuk majalah mungil yang didistribusikan kepada mereka. Sebagian mereka tidak mau menyebutnya majalah tetapi bulletin. Mungkin dalam pandangan mereka tidak memenuhi kriteria untuk disebut majalah. Pada tahun 2019, tidak lagi dalam bentuk majalah tetapi dalam bentuk buku saku.

    Kita butuh donatur sebanyak-banyaknya untuk lancarnya seluruh program.
    Gambar-gambar buku saku

    Selain menggalang donasi dari para muhsinin, kami juga berikhtiar agar ada pemasukan keuangan dari unit usaha. Alhamdulillah sebagian berjalan, sebagian tertatih-tatih, sebagian terhenti bahkan sebagian lainnya  sudah tidak berjalan sama sekali. Namun, kami tetap semangat. Bukankah yang terpenting ikhtiar? Bukankah Maryam ibunda ‘Isa ‘alaihissalam diperintahkan menggoyang-goyangkan pohon kurma padahal kondisinya sedang letih dan payah seusai melahirkan? Manusia ranahnya ikhtiar, Allah lah yang menentukan.

    Banyak sekali kami mengadakan program-program untuk ummat. Nama-nama programnya sengaja dibuat dengan akronim yang unik;

    1. SATU RUMAH : SAntunan TUnai guru MAdrasaH
    2. KANTIN : KAjiaN ruTIN
    3. MAKAN PEPES : MAjlis KajiAN PErusahaan dan PErkantoran peruSahaan
    4. JALA BUMI : maJALAh dan BUletin islaMI
    5. QURA-QURA : QUR’An QU peRsembAhkan
    6. LAYAR MAS : LAYAnan Renovasi MASjid
    7. KAPAL API : waKAf PesAntren Lintas Area Perguruan tinggI
    8. SAKU : SAntunan Kader Ustadz-ustadzah
    9. TEKA-TEKI : TEbar KitAb TEbar KeIlmuan
    10. EMAIL : Elektronik MAjlis ILmu
    11. HAPE BEBE : HAri PEmulung BElajar BErsama
    12. CINTAMU : CINTA MUallaf
    13. KACANG REBUS : KAjian CANGkrukan dan REmBUkan Sunnah
    14. NASI KARE : NASIhat KeislAman untuk REmaja
    15. SURAMADU : SantUnan RelAwan MAsjid terpaDU
    16. BAKSO LASEHAN : BAKti SOsial dan LAyanan ke SEHAtaN
    17. BAKSO PA GIBAN : BAKti SOsial dan PembAGIan hewan qurBAN
    18. TSC : Thaybah Sms Center
    19. LAPTOPQU : LAyanan Pembinaan TPQ terpadU
    20. PILAR : Penghimpunan Infaq untuk pengeLolAan Radio
    21. DASI : DAuroh SIngkat
    22. SATPAM : jaSA anTar jemPut AMbulance

    Sebagian program-program tersebut masih terus berjalan dan sebagiannya lagi tidak berjalan. Kendalanya adalah permasalahan anggaran dan SDM. Terkadang karena keduanya atau salah satunya.

    Judul buku : BABAT ALAS DI DAERAH PINGGIRAN

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/mendapatkan-amanat-yang-lebih-besar/feed/ 0
    Dan Datanglah Kemudahan https://nidaulfithrah.com/dan-datanglah-kemudahan/ https://nidaulfithrah.com/dan-datanglah-kemudahan/#respond Sat, 25 Dec 2021 01:18:47 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12963 Selama dua tahun sejak kedatangan di pesantren, saya selalu disibukkan dengan urusan mencari pinjaman sepeda motor. Setelah itu tidak lagi. Alhamdulillah doa saya terkabul. Bapak-Bapak jamaah ngaji merasakan kesulitan yang sama alami. Lalu mereka pun bertujuh orang berkenan meminjami saya uang. Dari mereka uang terkumpul dan cukup untuk membeli cash motor bebek second tahun 2006. Selanjutnya saya harus memikirkan pengembalian hutang mereka. Kebutuhan harus di-“empet-empet”. Belanja diirit-irit.  Jangankan yang sifatnya sekunder, yang primer saja harus rela dengan ala kadarnya. Yang penting bisa hidup wajar dan sehat. Setiap hari makan lauknya ikan pindang yang digoreng untuk sarapan, makan siang dan makan malam.  Masak lauk sehari-hari dengan tungku dari batu bata yang ditumpuk di halaman dalam pesanten.  Untuk kayu bakarnya, istri sangat militan mencari di tambak-tambak dari pohon bakau yang sudah kering atau dikeringkan terlebih dahulu. Untuk kebutuhan minum dan memasak, air PDAM diendapkan dulu selama tiga hari. Anggaran untuk membeli air isi ulang dialihkan ke pempers si kecil Roobith Muhammad. Itu pun hanya dikenakan ketika mau pergi-pergi. Selebihnya dengan popok kain yang dibungkus lembaran plastiik. Alhamdulillah, dengan qona’ah yang sedemikian rupa hutang sepeda motor bisa diangksur dan terbayarkan kepada semuanya tanpa ada riba.

    Bagi saya, sepeda motor adalah istri kedua. Dia sangat memudahkan urusan-urusan dakwah. “Kalau ada sepeda motor masuk Surga, insyaAllah sepeda motor saya termasuk yang masuk Surga. Ia hanya pergi dari masjid ke masjid, dari majlis taklim ke majlis taklim… tidak pernah ke bioskop atau tempat-tempat maksiat… heheheehe”, canda saya kepada teman-teman mensyukuri nikmat sepeda motor.

    Perkembangan dakwah seringkali menuntut penyampaian kajian dengna LCD.  Maka, sepeda motor saya sangat berperan. Meskipun agak repot, dia bisa dipaksakan membawa LCD, laptop dan layar sekaligus. Seringkali teman-teman mengomentari, “Gak pake mobil aja, kan praktis?” “Belum ada mobilnya, Mas. Kita nikmati saja yang ada”, jawabku.

    Saya lupa tepatnya tahun ke berapa sejak didirikan, kondisi pesantren dan masjidnya dirasakan  mulai nyaman dengan lampu penerangan dan air. Karena listrik dan PDAM  telah pasang sendiri, tidak lagi nyambung dari warga dan tidak lagi ngangsu. Kayaknya pada tahun ketiga. Thaybah telah berubah menjadi pesantren yang kondusif untuk tholabul ilmi. Santri mahasiswa tidak lagi mengeluhkan lampu penerangan yang byar pet. Mereka bisa sesuka hati mengoperasikan komputer, kipas angin, menanak nasi dengan rice cooker dan lain-lain. Air begitu berlimpah. Untuk mandi tidak lagi mengungsi ke kampus atau rumah warga. Berwudhu tidak lagi menggunakan air asin.  Beberapa tahun berikutnya lagi masjid benar-benar  berhamparan karpet yang bagus, tidak lagi berhamparan nyamuk yang menyerupai karpet. Nampaknya nyamuk mulai berhijrah ke rumah-rumah warga sekitar persantren. Yang dulunya hamparan tambak dan pohon bakau perlahan menjelma menjadi perumahan dan apartemen. Tidak ada lagi kekhawatiran terjerembab ke dalam lumpur. Kendaraan bisa keluar masuk kapan saja karena jalan telah diaspal dan dipaving. Bersambung…

    Judul buku : BABAT ALAS DI DAERAH PINGGIRAN

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/dan-datanglah-kemudahan/feed/ 0
    Dakwah pun Dimulai https://nidaulfithrah.com/dakwah-pun-dimulai/ https://nidaulfithrah.com/dakwah-pun-dimulai/#respond Sat, 25 Dec 2021 01:14:23 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12960 Bersama Pak Joko (petugas kebersihan masjid sekaligus muadzin), kami membuka pendaftaran TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an). Sasarannya anak-anak warga kampung terdekat. Subhanallah,  semakin hari yang mendaftar semakin banyak hingga mencapai sekitar 130 siswa. Mereka tidak dipungut biaya sepeserpun. Pengajaran dilakukan mulai ba’da Ashar hingga Maghrib. Tetapi kemudian… entah mengapa mereka keluar satu per satu dari TPQ, dan akhirnya tidak tersisa satupun. Saya tidak tahu penyebabnya. “Apa karena jumlah mereka banyak, sementara pengajarnya cuma dua? Entahlah Allahu A’lam”, kalimat ini sering terlontar dari lisan kami dalam banyak kesempatan bersama pak Joko.

    Saya mulai membuka kursus Bahasa Arab dua kali pertemuan dalam sepekan. Waktunya setelah ba’da shalat Isya. Pak Win, Pak Sunar, Pak Lukman semuanya dari warga kampung sebelah juga Pak….. siapa? Hmmm… saya lupa namanya, beliau seorang mantan pengacara dari Gubeng, dan mas Romi (siswa SMA). Merekalah santri awal yang belajar Bahasa Arab. Mereka tidak dipungut biaya. Ketika itu baru  ada satu mahasiswa yang mendaftar sebagai santri dan tinggal di asrama. Melalui peserta kursus dari kampung sebelah ini, saya bisa membuka kajian untuk ibu-ibu setiap hari Ahad sore. Para istri merekalah yang memulai sebagai peserta kajian. Pengajiannya berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Suatu ketika jumlah mereka mencapai 21 orang, tetapi kemudian mundur satu per satu hingga tersisa beberapa orang saja; istri Pak Win, Pak Sunar dan tiga atau empat orang lainnya. Mereka terus bertahan. Di antara alasan mundurnya para ibu menurut mereka karena kajiannya monoton, ustadznya gak bisa “mbanyol”, tidak lucu “melulu al-Qu’an Hadits” tidak ada variasi lainnya sebagaimana umumnya pengajian.

    Untuk kajian Bapak-Bapak saya tinggal melanjutkan yang sudah ada yang telah dirintis oleh Ustadz Ridwan Abdul Aziz. Pengajiannya berpindah-pindah dari masjid ke masjid kemudian berubah dari rumah ke rumah. Pada satu kesempatan saya menyampaikan tentang sifat sholat Nabi. Kondisinya tampak “panas”. Wajah-wajah mereka menunjukkan tidak setuju dengan apa yang saya sampaikan. Mungkin mereka merasa yang disampaikan banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini mereka lakukan. Akhirnya, seseorang berdiri marah-marah, matanya melolot meninggikan suaranya sambil menunjuk-nunjukkan jari telunjuknya ke arah saya.

     “Jangan merasa bener sendiri yahhh!! Kami juga ada imamnya”, ucapnya sambil “ngeloyor” pergi.

    Padahal saya hanya membacakan Hadits-Hadits tentang shalatnya Nabi, jauh dari kesan menyalah-nyalahkan. Saya sempat ketakutan. Dalam hati, saya memanjatkan doa, “Ya Allah kalau sekedar dipletotin gak apa-apa, yang penting pulangnya janga dibacok”. Waktu itu hujan deras ditambah lagiteringat tentang rencana pembunuhan terhadap Ustadz Ridwan Abdul Aziz oleh orang nashrani yang disuruh oleh seorang muslim di tempat yang tidak jauh dari situ, hal ini menjadikan saya bertambah takut.  Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa.

    Kursus Bahasa Arab berkembang baik. Banyak mahasiswa dan bapak-bapak yang begabung. Jam pengajaran ditambah, tidak saja di malam hari tetapi juga di siang hari dan momen-momen liburan. Akhirnya pesantren mulai banyak yang mengenalnya. Agung (Teknik Lingkungan), Yudi (Teknik Mesin), Adit (Teknik Kimia), dan Anung (Teknik Mesin) semuanya mahasiswa ITS yang menjadi santri pertama yang tinggal di asrama. Kemudian datanglah Toto, seorang penjahit yang mendaftar menjadi santri asrama dan  tidak kalah semangat dari teman-temannya yang mahasiswa.

     Tantangan yang mereka hadapi tentunya sangat banyak. Bukan sekedar masalah nyamuk dan lampu penerangan. Ketika hujan jalan sangat becek dan tidak bisa dilewati. Jangankan sepeda motor, mobil saja kerepotan karena ban harus terkubur dalam lumpur. Seringkali mereka dihadapkan pada dua pilihan “kuliah or not”.  Kalau kuliah harus jalan kaki dulu sekitar dua kilo untuk mencapai jalan aspal, baru bisa membonceng sepeda kawan yang dijumpai. Kalau tidak kuliah, bagaimana?…., sementara hari itu ada tugas atau praktikum. Seseorang di antara mereka pernah menangis ketika sepeda motornya terjebak dalam lumpur. Maju atau mundur tidak bisa. Slayboard-nya penuh dengan lumpur. Demikianlah kalau musim hujan, mereka nampak bingung. Tapi miliu yang baik, di mana mereka bisa belajar Bahasa Arab, kitab-kitab para ulama dan menghapal al-Qur’an serta steril dari “pemandangan” haram menjadikan mereka betah tinggal di pesantren.

    Tapi miliu yang baik, di mana mereka bisa belajar Bahasa Arab, kitab-kitab para ulama dan menghapal al-Qur’an serta steril dari “pemandangan” haram menjadikan mereka betah tinggal di pesantren. 

    Setiap tiga hari sekali mobil tengki datang mensuplai air PDAM. Tetapi seringkali kehabisan. Hal ini disebabkan karena banyaknya pemakaian yang tak terduga atau terlambatnya mobil PDAM tersebut. Solusinya, para mahasiswa melengkapi tasnya dengan sabun, shampoo, handuk dan perlengkapan mandi lainnya. Mereka berangkat kuliah lebih awal agar bisa mandi pagi sebelum kuliah. Demikian pula untuk mandi sore, mereka melakukannya di kampus sebelum pulang ke pesantren. Saya sendiri sering “ngangsu”. Ngangsu itu membeli air pakai dirigen diangkut dengan gerobak. Satu gerobak berisi delapan dirigen. Saya harus menarik gerobak sekitar dua kilo pulang pergi. Lumayan alhamdulillah, bisa dimanfaatkan untuk mandi, cuci-cuci dan lainnya dari pagi sampai siang. Sorenya ngangsu lagi. Pernah seorang santri mahasiswa S2 ITS kepanasan karena udaranya sanga panas. Dia merasa harus mandi, tetapi air PDAM habis. Akhirnya dia membeli satu gallon air isi ulang untuk mandi.

    Saya diberikan fasilitas oleh Yayasan berupa sepeda motor tua tahun tujuhpuluhan. Alhamdulillah bisa membantu mobilitas dakwah. Tetapi tentunya yang dekat-dekat saja. Di samping kekuatannya sudah lemah, dia juga tidak punya STNK. Ketika harus berdakwah melewati area tertib lalu lintas, saya harus mencari pinjaman sepeda motor.

     “Siapa yang motornya tidak dipakai?”, setiap saat saya bertanya santri mahasiswa.

     Kalau pas ada yang tidak dipakai, saya meminjamnya. Kalau pas dipakai semua saya harus harus mencari pinjaman ke para jamaah-jamaah ngaji. Pernah suatu ketika saya harus mengisi ceramah kuliah shubuh di RRI Surabaya. Sehari sebelumnya saya sudah “woro-woro”. Siapa yang sepeda motornya tidak dipakai? Kebetulan semuanya akan dipakai. Saya pun ke rumah-rumah jamaah ngaji yang paling dekat, satu kilo dari pesantren, ternyata akan dipakai juga. Akhirnya saya mencari ke mana saja yang bisa saya datangi, dan qoddarallah pukul sebelas malam saya baru mendapatkan sepeda motor.

    Idealnya Ustadz yang akan berceramah konsentrasi dengan materi yang akan disampaikan. Tetapi saya lebih sering disibukkan dengan mencari sepeda motor. Sebenarnya kalau mau simple, bisa saja saya ambil kredit di dealer. Tetapi saya takut, karena di samping keuangan yang ada  sedemikian rupa harus diatur-atur  juga system kreditnya tidak syar’i. Untuk itu, setiap saat saya berdoa agar Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan saya untuk membeli sepeda motor.

    Banyak yang bettanya-tanya tentang bendera pesantren. “Jangan-Jangan pesantren Thaybah itu LDII? Jangan-jangan aliran keras?! … Mungkin jama’ah tabligh?! … Mungkin Wahabi?!…. Mungkin golongan ekklusif?!…. dan jangan-jangan atau mungkin-mungkin lainnya?! Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya wajar. Karena pesantren Thaybah baru lahir dan mereka ingin “cek en ricek”. Di antara mereka ada yang datang untuk menanyakan yang sebenarnya.

     “Pak Ustadz, maaf saya mau tanya, pesantren sama masjid Thaybah ini benderanya apa…. NU atau Muhammadiyyah?”, kata ketua RT dari suatu kelurahan.

    “Terimakasih Bapak berkenan datang dan menanyakan langsung. Pesantren dan masjid ini tidak punya bendera apa-apa. Siapa saja asalkan muslim, kami mengajak untuk sama-sama berdakwah sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Sahabat”, saya menjawab dengan sedikit menjelaskan.

    “ooo…begitu ya pak Ustadz, kalau begitu bagus dong…biar ummat Islam tidak terkotak-kotak”.

    “Iya Pak RT, sekarang kita tidak perlulah membicarakan masalah bendera…. Itu masa lalu… yang penting kan Islam dengan pemahaman yang benar. Bersambung…

    Judul buku : BABAT ALAS DI DAERAH PINGGIRAN

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/dakwah-pun-dimulai/feed/ 0
    Awal Mula Babat Alas https://nidaulfithrah.com/awal-mula-babat-alas/ https://nidaulfithrah.com/awal-mula-babat-alas/#respond Sat, 25 Dec 2021 01:11:11 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=12956 Ahad, 29 Muharram 1425 H/ 21 Maret 2004 M adalah hari pertama saya menghirup udara Pesantren Mahasiswa THAYBAH. Ini bertepatan dengan diresmikannya pesantren oleh MUI Jatim. Betapa mengagetkan, melihat kondisi pesantren. Terpencil, di tengah petambakan, dan jauh dari pemukiman. Memang ia dibangun di atas tambak yang baru saja diurug. Di depannya, hamparan tanah bekas tambak yang baru saja diurug juga. Belum ada bangunan kecuali dua rumah yang sudah dihuni. Empat bangunan lainnya rumah contoh yang tidak berpenghuni. Di depannya lagi hamparan tambak sangat luas bersambung sampai ke laut, Nampak sebagiannya sudah tidak produktif. Di sebelah kiri pesantren hamparan pohon bakau yang bersambung dengan tambak-tambak sampai laut. Sebelah kanannya hamparan tanah kosong yang bersambung dengan perkampungan pinggir sungai. Dan, di belakang pesantren hamparan tambak yang sebagian besarnya masih produktif.

    Pesantren dengan enam ruang tidur yang bangunannya belum selesai kecuali baru lantai pertamanya ini mengelilingi masjid yang ada di tengah-tengahnya. Masjidnya tebuka seperti pendopo kelurahan. Seringkali orang yang singgah untuk shalat ragu-ragu, dikiranya bukan masjid. Tidak jarang yang urung, tidak jadi shalat di situ. Lampu penerangannya sering “byar pet….byar pet” (baca: sering mati). Mungkin karena mengambil salurannya dari rumah warga yang cukup jauh dan dayanya kecil. Nyamuknya sangat banyak. Orang bilang biasanya umumnya masjid berhamparan karpet. Tapi masjid Thaybah berhamparan nyamuk di atas lantai putih bak hamparan karpet hitam. Sekali Anda memukulkan tangan ke lantai, niscaya tangan Anda akan berlumuran darah. Kalau shalat khususnya waktu Maghrib, kami menggunakan lotion anti nyamuk. Tapi subhanallah, kayaknya tidak berfungsi. Nyamuk masih tetap menggigit. Mungkin karena saking banyaknya.

    Jaringan PDAM belum masuk. Pesantren mengandalkan air sumber yang sangat asin. Paling-paling digunakan untuk berwudhu. Karena kalau digunakan untuk mandi dan mencuci baju, sabun tidak akan berbusa. Malah membikin lengket di badan dan merusak baju. Pager besi sudah terpasang memageri komplek pesantren, tetapi belum berpintu. Sebagai gantinya, ketika hari mulai malam papan triplek dipasang dengan cara diganjal. Suasananya sangat sunyi, tidak terdengar apapun kecuali suara kodok, jangkrik, dan hewan-hewan lainnya.

    Awal kedatangan di pesantren ini bersama ayah dan istri kami membawa perabotan rumah tangga seperlunya.; 1 panci, 1 wajan, 1 termos, beberapa piring, gelas, sendok ditambah beberapa helai baju dan beberapa kitab. Meskipun sederhana, tetapi cukup repot. Karena jarak cukup jauh dan berganti-ganti kendaraan. Kami berangkat dari rumah ba’da shalat Isya naik angkot. Bus baru melaju dari pool-nya di Tegal sekitar pukul 22.00. Setelah berganti bus, dari terminal Solo kami berangkat menuju Surabaya. Sekitar pukul tujuh pagi, dari terminal Bungurasih Surabaya kami naik taksi menuju kantor Yayasan Nidaul Fithrah (YNF). Kami  dipersilahkan untuk langsung istirahat di pesantren, di kamar berukuran 3×4 m yang memang telah disediakan untuk kami. Pesantren ini tidak lain adalah milik YNF. Ketika itu saya melihat ayah menangis tersedu-sedu. Mengapa? Saya tidak tahu. Saya berpikir pada saatnya nanti juga akan tahu sendiri. Tidak lama setelah itu, pas ayah keluar kamar, istri menginformasikan bahwa ayah sangat sedih. “Maryam, maafkan Bapak yah… (sambil menangis) Bapak gak tega melihat Yasin sama kamu…..masak tinggal di daerah terpencil seperti ini. Bapak merasa seperti membuang anak di hutan…. Maafkan Bapak yahh, Bapak gak tega…”. Kata istri meniru ucapan ayah yang sangat bersedih.

    Ternyata sedihnya beliau tidak lain karena melihat kondisi pesantren. Dalam pandangan beliau belum layak dihuni. Ayah menemani kami beberapa hari. Selama hari-hari itu, beliau sering mencandai kami, “Yasin sama Maryam akan berkepanjangan hidup di tengah belantara…. (sambi tertawa), kalau Bapak kan akan pulang”. Kami pun meresponnya dengan tertawa menghibur diri. Namun, tidak jarang pula beliau menghibur kami bahwa inilah tantangan berdakwah, harus siap sengsara. “In tanshurullah yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum” (kalau kamu menolong agama Allah pasti Allah menolong kamu), ayat al-Qur’an ini sering meluncur dari lisan beliau ketika menasehati sekaligus menghibur kami. Ayah pulang kampung, mulailah kami menjalani hidup di tengah “belantara” berdua. Bersambung…

    Judul buku : BABAT ALAS DI DAERAH PINGGIRAN

    Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
    (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

    ]]>
    https://nidaulfithrah.com/awal-mula-babat-alas/feed/ 0