Ramadhan Arif H. – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com Fri, 19 Jun 2026 06:53:16 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.8 https://nidaulfithrah.com/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Artboard-1-copy-2-32x32.png Ramadhan Arif H. – Solusi Investasi Akhirat Anda https://nidaulfithrah.com 32 32 Doa yang diwasiatkan Nabi shalallahu alaihi wasallam kepada Mu’adz radiallahu anhu https://nidaulfithrah.com/doa-yang-diwasiatkan-nabi-shalallahu-alaihi-wasallam-kepada-muadz-radiallahu-anhu/ Fri, 19 Jun 2026 06:53:16 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=22018 اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ (حديث صحيح) (صحيح أبي داود للألباني حديث: 1347).

“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan sebaik-baiknya ibadah kepada-Mu”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa setelah tasyahhud akhir yang diajarkan Nabi shalallahu alaihi wasallam https://nidaulfithrah.com/doa-setelah-tasyahhud-akhir-yang-diajarkan-nabi-shalallahu-alaihi-wasallam/ Thu, 18 Jun 2026 05:54:47 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=22015 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لا إلَهَ إلَّا أَنْتَ (حديث صحيح) (صحيح أبي داود للألباني حديث: 1336).

“Ya Allah, ampunilah aku akan (dosaku) yang aku lewatkan dan yang aku akhirkan, apa yang aku rahasiakan dan yang kutampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada aku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa yang dipersaksikan ijabahnya oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam https://nidaulfithrah.com/doa-yang-dipersaksikan-ijabahnya-oleh-nabi-shalallahu-alaihi-wasallam/ Wed, 17 Jun 2026 05:48:33 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=22010 اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي ، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ (حديث صحيح) (صحيح أبي داود للألباني حديث: 968).

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah, Yang Maha Esa lagi tempat bergantungnya seluruh makhluk, Yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, agar engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa memohon Surga dan terhindar dari Neraka https://nidaulfithrah.com/doa-memohon-surga-dan-terhindar-dari-neraka/ Tue, 16 Jun 2026 14:15:15 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=22006 اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ، وأَعوذُ بِكَ منَ النَّارِ (حديث صحيح) (صحيح أبي داود للألباني حديث: 710).

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu Surga, dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka.”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa ketika sangat sedih https://nidaulfithrah.com/doa-ketika-sangat-sedih/ Mon, 15 Jun 2026 06:36:22 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=22003 اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ (حديث حسن) (صحيح أبي داود للألباني حديث: 6424).

“Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan (segala urusanku) kepada diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.“

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa ketika sedih atau galau https://nidaulfithrah.com/doa-ketika-sedih-atau-galau/ Sun, 14 Jun 2026 14:41:42 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21999 اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ (حديث صحيح) (صحيح الكلم الطيب للألباني صـ 94).

Jika yang berdoa wanita maka hendaknya yang bergaris dibawah diganti dengan:

أَمَتُكَ وَابْنَةُ عَبْدِكَ وَابْنَةُ أَمَتِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan- Mu, ubun-ubunku berada di Tangan-Mu, hukum-Mu berlaku terhadap diriku dan ketetapan-Mu adil pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku.”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa berlindung dari syetan https://nidaulfithrah.com/doa-berlindung-dari-syetan/ Sat, 13 Jun 2026 10:18:35 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21995 أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (حديث صحيح) (صحيح أبي داود للألباني حديث 441).

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Besar, kepada Dzat-Nya Yang Maha Mulia, dan kepada kerajaan-Nya Yang Terdahulu dari syetan yang terkutuk”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
Doa berlindung dari lapar dan khianat https://nidaulfithrah.com/doa-berlindung-dari-lapar-dan-khianat/ Fri, 12 Jun 2026 07:40:09 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21992 اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ منَ الجوعِ ، فإنَّهُ بئسَ الضَّجيعُ ، وأعوذُ بِكَ منَ الخيانةِ ، فإنَّها بئستِ البِطانةُ (حديث حسن) (صحيح أبي داود – للألباني – حديث 1368).

“Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan karena sesungguhnya ia adalah sejelek-jelek teman tidur, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat khianat karena sesungguhnya ia adalah sejelek-jelek kawan dekat.”

Judul buku : 162 DOA DARI AL QUR’AN & HADITS

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>
When I am it is not, When It is I am not bagian 3 https://nidaulfithrah.com/when-i-am-it-is-not-when-it-is-i-am-not-bagian-3/ Thu, 11 Jun 2026 06:16:04 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21988 Tentang mentaati suami, Nabi shalallahu alaih wasallam bersabda di dalam Sunan Abu Daud,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لِأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ الْحَقِّ

“Seandaianya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suami mereka dimana Allah telah menetapkan hak untuk mereka yang harus ditunaikan oleh para istri sebagai kewajibannya.”

Disebutkan di dalam Sunan at- Tirmidzi,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Dari Mu’adz bin Jabal dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari berkata: Jangan kamu sakiti dia, semoga Allah melaknatmu. Sesungguhnya dia di sisimu hanyalah tamu saja. Hampir tiba saatnya dia berpisah darimu dan menuju ke kami.”

Istri yang shalihah adalah yang segera meminta maaf jika melakukan kesalahan kepada suami dan tidak menunda -nundanya. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ…. نِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَتُودُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُولُ: «لَا أُذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى

Maukah aku kabarkan kepada kalian…. tentang wanita-wanita kalian penduduk surga?, yaitu wanita yang penyayang (kepada suaminya), yang subur, yang selalu memberikan manfaat kepada suaminya, yang jika suami marah maka iapun mendatangi suaminya seraya berkata, “aku tidak bisa tentram tidur hingga engkau ridha kepadaku.” (Syu’abul iman lil baihaqi, di shahihkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahihah no. 287)

2. Saling tolong menolong di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah

Disebutkan di dalam Sunan Abu Daud,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ.

Dari Abu Hurairah, dia mengatakan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu shalat, dia membangunkan istrinya, kalau tidak mau dia memercikkah air pada wajahnya (istri). Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu shalat. Dia membangunkan suaminya, kalau tidak mau dia memercikkan air pada wajahnya (suami)”.

Hadits di atas adalah dalil bahwa suami dan istri harus saling mengingatkan di dalam masalah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan saja di dalam masalah shalat tahajud tetapi seluruh kebaikan dan ketaatan. Terkadang dijumpai hanya istrinya yang ahli ngaji di berbagai majlis taklim, sementara suaminya belum atau sebaliknya. Hanya suaminya yang ahli Qur’an sementara. istrinya ahli koran atau sebaliknya.

3. Mentolerir kesalahan masing-masing

Abu Darda radiallahu anhu berkata kepada istrinya:

إذا رأيتني غضبت فرضيني، وإذا رأيتك غضبى رضيتك، وإلا لم نصطحب

“Jika kamu melihat saya marah maka relakan saja, demikian pula kalau saya melihat kamu marah saya akan merelakan, kalau tidak demikian maka kita tidak pernah bersatu”

Inilah teladan yang agung dari pasangan Abu Darda dan istrinya radiallahu anhuma. Tirulah mereka. Jika istri marah, suami hendaknya bersabar mendengarkan kemarahannya tanpa menyela-nyelai kemarahannya dengan pembelaan diri. Ketika sudah reda dari kemarahannya, baru suami berbicara. Kalau memang istri salah paham, luruskanlah. Kalau suami terbukti yang salah, segeralah minta maaf. Demikian pula sebaliknya.

4. Menjaga rahasia masing-masing dan tidak menyebarkannya

Siapa yang mengetahui rahasia suami? Tentu istrinya. Siapa yang mengetahui rahasia istri? Tentu suaminya. Masing-masing harus menjaga rahasia

pasangannya. Karena ini menyangkut kemaslahatan rumah tangga. Terlebih yang berkaitan dengan masalah seksual. Disebutkan di dalam Shahih Muslim dari Abu Said,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَرِ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya termasuk sejelek-jeleknya derajat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang suami yang mengggauli istrinya, demikian pula istri menggauli suami lalu dia menyebarkan rahasianya.”

5. Berbagi dalam suka dan duka

Suami dan istri sejati sangat menyelami perasaan pasangannya. Apakah kekasihnya dalam suka atau duka, lapang atau sempit? Tidak dibenarkan suami yang sedang kelelahan dari pekerjaannya, lalu istri datang menuntut sesuatu yang semakin menambah lelah jiwanya. Demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini ada kisah yang patut untuk diketahui semua muslim. Yakni kisah tentang Ummu Sulaim radiallahu anha. Disebutkan di dalam sebuah riwayat bahwa suatu hari, anak Abu Thalhah meninggal dunia. Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, berkata kepada orang-orang yang menjenguk anaknya, “Janganlah ada yang memberi kabar kepada Abu Thalhah hingga akulah sendiri yang memberi kabar duka ini.” Setelah berkata demikian, Ummu Sulaim segera merapikan jenazah putranya. Malam harinya, Abu Thalhah pulang. la segera menanyakan keadaan anaknya. “la tenang seperti sedia kala,” jawab Ummu Sulaim. Istri taat ini bergegas menyuguhkan makan malam bagi suaminya. Tak lupa berhias diri di depan cermin sehingga tampak lebih cantik. Melihat istrinya yang berhias cantik, Abu Thalhah pun bergairah. Malam itu pun Ummu Sulaim melayani suaminya di atas tempat tidur. Setelah Ummu Sulaim melihat suaminya tampak puas dan tenang jiwanya, ia pun berkata lembut, “Wahai Abu Thalhah, bila ada keluarga yang meminjami sesuatu kepada keluarga lain, lalu mereka meminta kembali barang pinjaman itu, tetapi keluarga itu menolak mengembalikan pinjaman itu, bagaimana menurut pendapatmu?” “Sungguh, sekali-kali mereka tidak berhak untuk menolaknya karena barang pinjaman harus dikembalikan kepada pemiliknya,” jawab Abu Thalhah dengan segera. Mendengar jawaban itu, Ummu Sulaim tersenyum, kemudian berkata lagi, “Sesungguhnya anakmu adalah barang pinjaman dari Allah, dan Allah telah mengambilnya.” Seketika Abu Thalhah mengucapkan kalimat istirja’, Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Esok harinya, Abu Thalhah menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah membenarkan sikap Ummu Sulaim dan bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kamu berdua.”

Lihatlah betapa tingginya perhatian Ummu Sulaim kepada suaminya. Dia bisa menyembunyikan perasaan sedihnya demi suaminya agar bisa istirahat dengan tenang melepaskan penat dan rasa capeknya yang baru pulang dari bepergiannya. Subhanallah

6. Masing-masing berhias untuk pasangannya

Seringkali suami menuntut agar istri berdandan seksi, menarik, beraroma wangi. Intinya serba prima. Sementara dia sendiri tidak memperhatikan penampilan dirinya. Adilkah ini? Dengarkan Ibnu Abbas radiallahu anhu bertutur:

إني لأتزين لامرأتي كما تتزين لي، وما أحب أن أستطف كل حقي الذى لي عليها فتستوجب حقها الذى لها علي، لأن الله تعالى قال: وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ [البقرة/228]

“Sesungguhnya aku berhias untuk istriku sebagaimana dia berhias untukku, tidaklah aku menyukai semua hakku dipenuhi olehnya yang merupakan kewajibannya maka diapun harus mendapatkan haknya yang merupakan kewajibanku”.

7. Adanya komunikasi dalam masalah seks.

Tidak jarang keharmonisan pasa- ngan suami istri menjadi rusak dan penyebabnya adalah masalah seks. Bisa jadi istri yang kurang bisa melayani atau suami yang cenderung memaksakan kehendak. Bicarakanlah baik-baik, apa yang menjadi kesukaan atau kendala dalam masalah ini. Sehingga masing-masing bisa memahami pasangannya. Wallahu A’lam.

الحمد لله رب العالمين

]]>
When I am it is not, When It is I am not bagian 2 https://nidaulfithrah.com/when-i-am-it-is-not-when-it-is-i-am-not-bagian-2/ Wed, 10 Jun 2026 05:34:02 +0000 https://nidaulfithrah.com/?p=21985 Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah subhanahu wa ta’ala“. Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum?.”

Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh. tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”.

Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu. berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah subhanahu wa ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan murka Allah subhanahu wa ta’ala“.

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita. yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya? Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

B. Masa setelah akad nikah

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Suami dan istri harus mengetahui hak dan kewajibannya

Disebutkan dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda di dalam hadits Ibnu Hibban:

والرجل راعى أهل بيته وهو مسؤول عنهم (رواه ابن حبان)

“Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka”

Akankah keluarga digiring kepada kondisi yang islami atau kekukufuran, ketaatan atau kemaksiatan, maka beban pertanggungjawaban ini dipikul suami sebagai kepala rumah tangga. Ini adalah kewajiban suami yang paling besar.

Disebutkan di dalam Sunan Ibnu Majah,

عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَقُّ الْمَرْأَةِ عَلَى قَالَ أَنْ يُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمَ وَأَنْ يَكْسُوَهَا إِذَا الزَّوْجِ اكْتَسَى وَلَا يَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا يُقَبِّحْ وَلَا يَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

“Dari Hakim bin Muawiyah dari ayahnya bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Apa hak seorang istri atas suaminya? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:”Dia harus memberinya makan kalau dia makan, memberinya pakaian kalau dia berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek- jelekkannya, dan tidak meng-hajr-nya kecuali di dalam rumah”.

Diperbolehkan bagi suami untuk memukul istri bila diperlukan untuk suatu pengajaran dan perbaikan. Tetapi, syariat menetapkan pada selain wajah. Itupun bukan untuk menyakiti apalagi menciderai tetapi sekedar untuk membuatnya jera sehingga tidak mengulangi kesalahannya.

Suami tidak diperbolehkan menjelek-jelekkan istrinya baik dengan ucapan ataupun perbuatan yang merendahkannya. Ada resep dari kekasih kita Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang disebutkan dalam Shahih Muslim agar suami tidak pernah menjelek-jelekkan istrinya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةٌ إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah seorang mukmin (suami) mencela seorang mukminah (istri), jika dia membenci sesuatu perangai darinya niscaya dia akan rela darinya perangai yang lainnya.”

Barangkali istri tidak bisa berdandan, maka suami pasti mendapatkan perangai lainnya yang dia sangat menyukainya, contoh: ternyata istri pandai sekali mendidik anak. Barangkali istri tidak bisa merawat pakaiannya, niscaya suami mendapati perangai lainnya yang sangat disenangi, contoh: ternyata istri pandai memasak makanan kesukaannya. Dengan resep Nabi ini, tidak akan terjadi kasus suami menjelek-jelekkan istrinya.

Suami juga tidak diperbolehkan meng-hajr (meninggalkan) istrinya kecuali dalam rumah saja. Jika istri berbuat kesalahan dan suami hendak meng-hajr-nya maka tinggalkanlah istri di ruang tidurnya sendirian sementara suami di ruang tidur lainnya. Jangan membawa permasalahan rumah tangga ke luar rumah sehingga tetangga mengetahuinya. Jangankan mertuapun tetangga, orang tua dan upayakan untuk tidak mengetahuinya. Selama bisa diselesaikan berdua, selesaikan- lah oleh kalian berdua. Dalam hal ini ada kisah teladan, terjadi pada Ali dan Fathimah radiallahu anhuma sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl Ibn Sa’ad, dia menceritakan, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam mendatangi rumah Fatimah radiallahu anha, namun beliau tidak menemukan Ali radiallahu anhu. Maka beliau bertanya kepada Fatimah radiallahu anha “Mana anak pamanmu (Ali)? Fathimah menjawab, “Kami sedang bertengkar yang membuat aku marah, maka dia keluar dan tidak tidur siang di rumahku. Rasul shalallahu alaihi wasallam berkata kepada seseorang, “Carilah dimana dia! Kemudian orang tadi datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, dia di masjid sedang tidur, maka Rasulullah mendatanginya yang sedang dalam keadaan berbaring, selendangnya terjatuh dari bahunya dan badannya berdebu, maka Rasulullah mengusap debu darinya dan berkata, “Bangunlah wahai Abu Turaab, bangunlah wahai Abu Turaab!”

Perhatikanlah dalam riwayat di atas betapa Fathimah hanya mengatakan bahwa sedang terjadi pertengkaran dengan suaminya tanpa membeberkan ара permasalahannya. Perhatikanlah Ali, dia pergi untuk menghindari pertengkaran biar tidak semakin memperbesar masalah. Dan lihatlah Rasulullah apakah beliau menuntut putrinya agar memberitahu permasalahannya.??? Sekali-kali tidak.

Disebutkan di dalam Sunan an- Nasa’i dari Abu Hurairah radiallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ditanya:

أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَه

“Siapakah sebaik-baiknya istri? Beliau menjawab: istri yang menyenangkan suaminya setiap kali dia memandangnya, mentaatinya setiap kali dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya (suami) di dalam memberlakukan diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) tidak suka.”

Jangan seperti wanita-wanita zaman sekarang yang tampil apa adanya di depan suami, tidak mempedulikan apakah dirinya berbau sedap atau sebaliknya. Sementara ketika menghadiri acara pernikahan, arisan dan semacamnya mereka tampil begitu prima. Mengenakan pakaian yang paling bagus dengan dandanan yang sangat menarik dan beraroma sangat wangi. Sadarlah wahai para wanita, kecantikan Anda bukan untuk orang lain, tetapi khusus hanya untuk suami Anda. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda di dalam Musnad Imam Ahmad:

أَيُّمَا امْرَأَةِ اسْتَعْطَرَتْ، ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Wanita mana saja memakai wewangian kemudian melewati suatu kaum hingga mereka mencium baunya, maka dia adalah pezina”

Judul Buku: When I am it is not, When It is I am not

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

]]>