Solusi Investasi Akhirat Anda

Sepenggal Kisah Penjual Beras

Dampak pandemi virus korona begitu dirasakan banyak pihak. Khususnya aspek perekonomian. Bi-t- taufiq minallah saya berlaku sigap. Jualan beras pun mulai dijalani. Merk yang saya pilih tentu Nidaul Fithrah karena selain brandingnya bagus; tanpa pengawet, tanpa pemutih dan tanpa pewangi juga merupakan usaha miliki yayasan dakwah.

Sepenggal kisah pun dimulai….

Hari itu, Selasa sore 18 Rajab 1442/2 Maret 2021, ada orderan 10 sak beras (@ 5kg )dari seorang Ibu di Jl. Prambanan dan 1 sak dari seorang Ibu di Wonorejo. Rencananya seusai dari jl. Prambanan langsung ke Wonorejo. Kalau hanya 1 sak beras mungkin saya kurang semangat, tapi beliau juga pesan frozen dan gulakong. Jadinya tetap semangat meskipun sudah tergambar perjalanan yang tidak searah dan cukup jauh. Tapi ini  tidak seberapa jauh, karena sebelumnya pernah melayani order tiga sak ke Sido Rejo Krian.  Ya, memang usaha ini masih perintisan. Jadi, mesti memperkuat motto “semakin banyak tabur benih semakin banyak panen, insyaallah”. Ya Allah! Jadikanlah hati-hati kaum muslimin cenderung kepada beras Nidaul Fithrah, Innaka Anta Muqollibul Qulu bwa innaka Anta Ar-Rozzaq Dzul quwatil matin. Amin

“Tapi mendung eh”, komentar istri saya melihat cuaca.

“ iya sich… insyallah cukup waktunya gak sampai hujan, Jl. Prambanan gak terlalu jauh kok”, argumen saya meyakinkan istri.

Istri menyiapkan kantong hitam besar. Saya mengangkuti 11 sak beras dari ruang kelas TK yang dipinjam sementara untuk gudang beras. Tujuh sak sudah dimasukkan ke dalam plastik dan ditempatkan di sepeda motor matic bagian depan, empat sak lainnya dibonceng di belakang  dipegangi istri. Biasanya memang demikian. Karena kalau ditempatkan di bagian depan semua sepeda motor susah untuk di belokkan.

Adapun si kecil, Albaro Muhammad (5 tahun) telah dititipkan pada Amminya di Rumah Belajar (RB) THAYBAH.

“Kalau dari Keputih lewat Mulyorejo saja lurus terus sampai mentok, Jl. Prambanan ya di sekitar situ”, terang mas Rudi teman seperjuangan saya di yayasan beberapa saat sebelum mengangkuti beras melalui telpon.

Allahu Akbar…..baru saja memasuki wilayah Mulyorejo seusai melewati jalan kembar Mulyosari gerimis mulai menyapa.  Tidak lama kemudian dalam hitungan detik turunlah hujan yang membuyarkan suasana hati.

“Abi ada plastik?” Tanya istri.

“Gak ada, ya hanya yang di depan ini”. Jawabku

“Terus gimana beras yang di belakang ini?”

“O, iya… ada jas hujan Abi di bawah jok”, responku penuh yakin karena memandangnya sebaagai solusi.

Subhanallah… ternyata tidak cukup untuk menutupi tubuh istri. Jas hujannya hanya cukup untuk menutupi saya dan beras di belakang. Keputusan pun diambil; yang penting beras selamat tidak basah. Tapi istri terbiarkan basah kuyup kehujanan.

 “Hihihihhiii……(terdengar menggigil), Abi kan tahu aku gak kuat dingin-dingin…”. Padahal sepeda motor baru saja melaju beberapa meter. Memang istri sangat anti dingin. Di rumah suka-suka  ribut kalau  saya meng-on kan AC sebelum tidur. Di ruang kelas tempat dia mengajar juga suka-suka AC di on kan dengan suhu 28 derajat.

“Iya…terus gimana, masak balik lagi sich… kan sudah kadung kehujanan”?”

“Iya… tapi aku menggigil kedinginan…”. Keluhnya.

“Orang-orang lho pada berteduh, kok Abi malah jalan terus”, keluhnya lagi yang menjadikan saya semakin iba.

Sepeda motor terus melaju, rintihannya semakin menjadi-jadi. Terlebih kalau motornya dirasa lebih kencang yang menjadikan terpaan anginnya lebih kencang juga.

“Dingin…dingin…dingin… hihihihi….jangan banter-banter aku gak kuaaat!!”.

“Abi…. Abi…Abi… Abi??!!!

Hujan terus mengguyur seakan tak kenal kompromi, sepeda motor saya hentikan. “Pulang saja….Aku gak kuat”.

“Lho sudah separo jalan ini”,

“Ya saya diturunkan di mana gitu, Abi sendirian saja?!”

“Ya, gak apa-apa, Abi carikan tempat yang aman”.

“Di musholla saja, Bi. Tuh ada musholla”.

Saya mengkhawatirkan masalah keamanan, karena tampak mushollanya sepi dan saya pikir kondisi baju yang basah kuyup seperti itu tidak memungkinkan ada tempat baginya . “Jangan di musholla di tempat lain saja yang lebih aman”.

Terdengar dari pengeras suara menggema bacaan-bacaan yang  menunjukkan tidak lama lagi Maghrib akan tiba. Saya berhenti di depan salah satu mini market yang terletak di pinggir jalan, menurunkan istri dan satu sak beras. Kini di depan saya ada 10 sak yang ditutupi dengan jas hujan. Tujuh berada dalam plastik besar sehingga aman dari basah sementara yang  3 sak ditumpukkan di atasnya. Setelah memastikan kondisi istri aman dengan badan yang tetap menggigil, saya melanjutkan perjalanan.  Allahu Akbar, sungguh cukup susah kalau pas harus membelokkan sepeda motor karena terganjal dengan tambahan beras tadi. Sesekali saya harus berhenti membetulkan posisi beras yang mau jatuh.

Jaglugg….. Subhanallah!!! Sepeda motor oleng ke kiri. Rupanya masuk jegongan yang tidak terlihat tertupi oleh banjir, dan 1 sak beras terdorong mau jatuh. Sambil membetulkan posisi beras di pinggir jalan, saya gunakan kesempatan untuk bertanya kepada seseorang yang ada di situ, “Mas, jl, Pacar Keling itu mana?”

“Terus saja sampai mentok, Pak. Terus nanti ke kiri.”

“Lho… bukannya ke kanan, Mas?

“Bukan, Pak, Tapi ke kiri”.

Saya agak bingung. Karena kata oang yang ditanya waktu menurunkan istri setelah mentok ke arah kanan.

“Mas, sebenarnya tujuan saya mau ke Jalan Prambanan”.

“ Oh ya memang seputar situ, Pak. Nanti di sana nanya saja lagi”.

Sepeda motor terus melaju hingga sampai ujung jalan.  Mentok di persimpangan. Mungkin bisa dikatakan simpang lima.  Saya belok kiri sedikit berhenti di situ sambil menunggu orang lewat untuk bertanya. Sebentar kemudian seakan tersadarkan kalau diteruskan bisa tembus ke RS. Dr. Sutomo. Ya betul, rasanya pernah lewat situ. Sebenarnya di situ ada banyak orang berteduh di teras rumah. Tapi tidak memungkinkan untuk menghampiri mereka karena sulitnya medan dan susahnya membelokkan sepeda motor. Bertanya ke Mbah geogle juga tidak mungkin karena hujan lebat. Alhamdulillah tidak lama kemudian ada seseorang berjalan kaki. “Bu, maaf, jalan Prambanan itu mana?”

Ibu tersebut menjelaskannya cukup rinci dan jelas. Intinya,  harus menyeberang jalan. Tapi, qodarallah karena terhalang helm yang tertarik ke depan oleh jas hujan saya tidak bisa menoleh ke belakang untuk memastikan apakah sudah bisa menyeberang. Lalu lintasnya terlihat cukup padat. Akhirnya saya menunggu sepeda motor yang mau menyeberang untuk bisa dibarengi. Alhamdulillah Allah beri kemudahan.

Perjalanan berlanjut ke jalan Prambanan. Ternyata sudah dekat dari persimpangan tadi. Mulailah  tengok-tengok ke kanan dan ke kiri mencari alamat rumah. Alhamdulillah ketemu. Tapi penghuninya belum juga keluar padahal bel rumah sudah ditekan. “Mungkin saja belnya sedang bermasalah”, gumamku.

 Agak lama menunggu, saya putuskan untuk menelpon. Dengan susah payah berkali-kali mencoba membuka password HP. Subhanallah… sulit sekali. Bagaimana  tidak, layar HP basah kena tetasan-tetesan hujan meskipun sudah mulai mereda. Dengan posisi masih di atas sepeda motor, saya menuju pohon yang berada di sebelah kiri sudut pagar rumah berharap siapa tahu tidak terkena tetesan-tetesan hujan agar password bisa dibuka. Sama saja hasilnya nihil. Akhirnya HP harus berulang kali diusap-usapkan pada jaket. Dan…. alhamdulillah password berhasil dibuka.

Setelah telpon terhubung, seorang pembantu membukakan pintu pagar. Saya izin menaiki sepeda motor hingga ke garasi rumah agar bisa menurunkan beras dengan nyaman.

“Bu, maaf. Ini tujuh sak tidak basah alhamdulillah. Tapi tiga sak ini mungkin berasnya ada yang basah karena sekedar ditutupi jas hujan. Nanti saya ke sini lagi untuk mengganti tiga sak yang basah ini”, kataku kepada Ibu pemesan beras yang keluar menemuiku di teras rumah.

“Nggak usah, Pak. Nanti biar dicek. Kalau memang basah ya biar dimasak duluan”.

“MasyaAllah barakallahu fih baik sekali Ibu ini”, gumamku dalam hati. “Semoga Allah membalas kebaikannya”.

Adzan Maghrib sudah terdengar sejak sekitar lima menit sebelumnya. Pikiranku hanya tertuju pada istri. Setelah puter balik, saya menunju simpang lima tadi. Terlihat jalan yang tadi dilalui terdapat tanda forbidden lingkaran merah dengan stret putih di tengahnya. “Waah… berarti saya tidak boleh lewat situ, itu jalan satu arah, tapi istriku di situ”, gumamku dalam hati. “Terus lewat mana yah?”. 

“Mas, permisi mau nanya, kalau lewat situ gak boleh?”, tanyaku kepada penjual nasi goreng kaki lima di pinggir jalan.

“Gak boleh, Pak, Itu forbidden”.

“Terus lewat mana, Mas?”

“Lho, Bapak mau ke mana?”

“Mau ke Mulyosari”

“Lewat situ, Mas. Nanti belok kiri”. Dia menunjuk jalan yang tembus sampai RS. Dr. Sutomo.

“Tapi, saya mau jemput istri di jalan situ, Mas. Tadi saya tinggal di mini market deket-deket Hotel Sampurno”,

“Ohhh… coba saja lewat situ. Banyak kok yang lewat situ”.

“Akankah saya melanggar peraturan lalu lintas?”, gumamku dalam hati.

Saya tetap mencoba mendekat ke jalan yang bertanda forbidden tersebut. MasyaAllah ternyata itu jalan kembar terpisahkan oleh sungai. Jalan satunya lagi tidak terlihat karena tertutupi warung-warung.

Sepeda motor melaju ke arah balik sambil terus tengok-tengok ke kanan mencari mini market A tempat istri ditinggal. Terlihatlah mini market A. Setelah putar balik menuju ke sana, betapa hati ini berdebar-debar, istri tidak saya jumpai di situ. “Berarti bukan mini market ini”, gumamku dalam hati.

“Mas, apa ada mini market A selain ini?”, tanyaku kepada seseorang yang sedang istrirahat di teras.

“Iya, ada. Terus saja ke arah sana, paling-paling lima menitan”, terangnya sambil menunjuk ke arah persimpangan tadi.

Saya pun mengikuti arahan tersebut. Ternyata sudah mentok di persimpangan tidak ada mini market A lagi.

 Saya kembali balik arah dan ketika puter balik, ternyata saya menuju ke  mini market A yang baru saja didatangi. “Allahu Akbar….kok mini market ini lagi?”.

 Bukankah posisinya setelah pertigaan? Tapi kok bukan ya….”, menerawang kebingungan sambil menyalahkan diri sendiri, kenapa tidak “nengerin’ posisinya secara pasti. Qoddarallah.

Saya putuskan untuk kembali balik arah lebih jauh lagi, baru setelah itu menyisir setiap mini market A yang dijumpai. Sepeda motor terus melaju. Tepat di musholla pinggir jalan kuhentikan.  di bawah atap terasnya ku coba menelpon istri.

“Mi, Umi di mana sich?”

“Ya di mini market A”,  terdengar memelas. “Cepetan … Aku menggigil kedinginan,,,, gak kuat banget”

“Lho mini market A mana…. Abi sudah dua kali ke situ gak ada Ummi”, tanyaku kebingungan.

Betapa hati ini sedih sekali, di musholla sedang berlangsung shalat jamaah Maghrib sementara saya seperti orang linglung di pinggir jalan. Rasanya pengin bergabung shalat jamaah dulu, tapi keadaan memaksa saya untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat. Tidak mungkin membiarkan istri dalam kondisi seperti itu.

Sepeda motor Kembali di-stater, terus melaju sambal tengok-tengok ke arah kanan. Setelah melewati mini market A yang didatangi dua kali tadi, saya berkeyakinan kuat kalau menjumpai mini market A berikutnya insyaallah dia di sana. Beberapa saat kemudian setelah dirasa agak jauh, terlihatlah mini market A, Kini tinggal mencari jalan puter balik. Dan benarlah ketika sudah semakin dekat tampak satu-satunya sosok wantia bercadar. Alhamdulillah.

“Bi…..bi….bi….. hiiiiiiihhiiii….dingin banget, Bi. Umi pake jas hujannya ya?”, mintanya memelas.

Jas hujan dilepas dan dikenakan istri. Paling tidak agar tubuhnya tidak terkena guyuran hujan lagi yang kini mulai lebat kembali dan juga terpaan angin, meskipun bajunya yang basah kuyup sudah sangat membuatnya kedinginan.

Saya mengkhawatirkan kalau sampai dia pingsan. Makanya, saya menyarankannya agar membonceng dengan posisi “mbegagah” jangan “nyemplak”. Dia tidak mau. Katanya kalau “mbegagah”terpaan angginnya lebih kuat yang membuatnya semakin menggigil.

Sepeda motor melaju pelan-pelan membelah genangan banjir yang menutupi jalan. Rasanya ingin ngebut biar segera sampai. Tapi, setiap kali menambah kecepatan sedikit saja istri sudah teriak-teriak. “Dingin….dingin… jangan banter-banter!!”. 

Saya benar-benar mengkhawatirkan kalau dia pingsan. Terlebih ketika pegangannya pada jaketku dirasa melemah.  Sesekali saya panggil. Rupanya kini dia banyak diam karena tangisan yang tak terbendung. Setiap kali saya mengecek keadaan dengan menjulurkan tangan ke badannya, setiap itu pula dia teriak, “jangan sentuh…. tangan Abi dingin banget”…….

“Mi, ini sudah dekat Mulyosari, nanti mau mampir Bu Erwadi?”

“Mau apa?”

“Biar Ummi segera ganti baju”.

“Gak mau ah… malu kalau pinjam baju”.

Dengan penuh kesabaran, sepeda motor terus melaju pelan-pelan. Tidak jarang kami terkena cipratan air ke wajah dan ke tubuh pas mobil atau motor yang berpapasan melaju kencang. Plong….serasa sudah sampai begitu memasuki jalan  Keputih Tegal Timur yang telah berubah menjadi ‘sungai dadakan”. Padahal rumah masih lumayan jauh sekitar 700 meter lagi. Hal ini mungkin telah menghibur sementara kejiwaan dan badan yang  sedang mengalami keletihan .  

Sesampainya di rumah, air panas dari termos langsung ku tuang buat mandi istri, pas juga gas elpiji habis. Kami bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas penjagaan-Nya. Senang bercampur haru, tapi juga sedih karena tidak mendapatkan shalat Maghrib berjamaah. Selesai.

#Semoga kita semua selalu bersemangat mencari rizki yang halal#

Hikmah dan Pelajaran yang Bisa Diambil

  1. Apa yang Allah ‘Azza wa Jalla takdirkan pasti terjadi. Disebutkan dalam Al-Qur’an,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [الحديد: 22]

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid:22)

Pandemi virus korona berkepanjangan sebagaimana yang kita alami ini tentu sudah Allah tetapkan. Bahkan telah ditetapkan sejak 50.000 tahun sebelum Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan langit dan bumi.

2. Dampak pandemi virus korona yang sedemikian dirasakan adalah musibah bagi kita semua kaum muslimin. Sikapilah musibah ini dengan sabar dan memperkuat ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dsebutkan di dalam Al-Qur’an.

وَمَآ أَرْسَلْنَا فِى قَرْيَةٍ مِّن نَّبِىٍّ إِلَّآ أَخَذْنَآ أَهْلَهَا بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (الأعراف:94)

: Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri (QS. Al-A’rof:94)

Meskipun ayat ini menginformasikan tentang adzab yang ditimpakan kepada para penentang Rasul agar mereka sadar, tetapi tentunya merupakan cambuk bagi kita juga. Karena bersamaan dengan keimanan dan keislaman yang ada pada kita, bisa jadi banyak hal yang dilanggar sehingga Allah menegur kita dengan teguran-teguran; kekurangan, sakit, kesulitan dan yang lainnya agar kita menyadari. Intinya, ketika ditimpa musibah kita harus banyak mendekatkan diri kepada Allah.

Ketahuilah!! Karakter seorang mukmin adalah tidak pernah memandang dirinya telah banyak berbuat amalan. Namun, sebaliknya memandang dirinya sebagai orang yang baru sedikit amalannya. Meskipun kenyataannya telah berbuat amalan-amalan yang sangat banyak. Juga mengkhawatirkan jika amalan-amalannya tidak diterima. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ [المؤمنون: 60]

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dalam keadaan hati takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” (QS. Al-Mukminun:60)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, tentang ayat ini ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} ، هُوَ الَّذِي يَسْرِقُ وَيَزْنِي وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: “لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يُصَلِّي وَيَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ”.

“Ya Rasulullah! “ Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dalam keadaan hati takut “  kok takut ? apakah karena dia pencuri? Atau pezina? Atau peminum khamr? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Bukan begitu, Wahai putri Ash-Shiddiq. Justru dia itu orang shalat, berpuasa dan bershodaqoh tetapi takut kepada Allah (jangan-jangan amalannya tidak diterima)”

3. Tidak boleh menyesali suatu tindakan yang ternyata berdampak menyusahkan atau menyulitkan atau menyusahkan. Seperti ungkapan, “Coba kalau tadi gak berangkat, gak kehujanan kayak gini lah…”. Karena perbuatan semacam ini akan membuka pintu masuknya syetan.  Tetapi ucapkanlah,

قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، وَاحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan”. (HR. Muslim dan  Ahmad).

4. Seorang mukmin tidak boleh lemah. Sebaliknya harus selalu semangat. Mari kita renungkan katagori lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin. Menurut beliau dengan mengambil sebuah contoh, jika ada seseorang ingin mengetahui biografi seorang Shahabat tertentu. Misalnya saja Shahabat Salman Al-Farisi. Dia pun mengambil kitab siroh shahabat. Ketika kitab itu dibuka dia tidak langsung tertuju pada biografi Salman Al-Farisi, melainkan membaca biografi Shahabat yang lainnya dulu. Ini termasuk katagori mukmin yang lemah. Seharusnya dia tidak membaca siroh Shahabat siapapun sebelum Salman Al-Farisi terlebih dahulu. Karena dari awal dia ingin mengetahui siroh Salman Al-Farisi.

Allahu Akbar! Apa renungan kita terhadap penjelasan Syaikh Utsaimini ini? Ini kan perpindahan dari suatu kebaikan beralih ke sesuatu lain yang masih merupakan  kebaikan juga. Dari siroh Shahabat Salman ke siroh Shahabat yang lain dulu. Namun, demikian kata beliau tindakan semacam ini masuk katagori lemah. Lalu bagaimana jika perpindahannya dari suatu kebaikan beralih ke suatu keburukan? Tentu masuk katagori sangat  lemah sekali. Misalnya: sejak awal ber-azam untuk berangkat ke majlis taklim kemudian melihat tayangan televisi ada drama Korea. Akhirnya dia mengurungkan berangkat demi menonton drama Korea tersebut. Ini perpindahan dari baik ke buruk. Beliau rahimahullah menukil keteladanan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa suatu ketika ada seseorang memohon Nabi agar shalat di rumahnya. Di tempat yang beliau shalat  nantinya akan digunakan untuk dia  shalat dan keluarganya. Setiba di rumahnya, beliau tidak menyantap hidangan yang telah disiapkan. Beliau meminta ditunjukkan tempat yang dia telah memohon untuk shalat di tempat tersebut. Setelah ditunjukkan, beliau pun shalat. Baru setelah itu beliau berkenan menyantap hidangan. Karena dari awal tujuan utama adalah untuk shalat. Hal ini disebutkan dalam riwayat,

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ مَحْمُودَ بْنَ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيَّ، حَدَّثَهُ أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ – وَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنَ الْأَنْصَارِ – أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي، وَأَنَا أُصَلِّي لِقَوْمِي، وَإِذَا كَانَتِ الْأَمْطَارُ سَالَ الْوَادِي الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ وَلَمْ أَسْتَطِعْ أَنَّ آتِيَ مَسْجِدَهُمْ فَأُصَلِّيَ لَهُمْ، وَدِدْتُ أَنَّكَ يَا رَسُولَ اللهِ تَأْتِي فَتُصَلِّي فِي مُصَلًّى، فَأَتَّخِذَهُ مُصَلًّى، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَأَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللهُ»، قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ حِينَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ، فَاسْتَأْذَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَذِنْتُ لَهُ، فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ: «أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّي مِنْ بَيْتِكَ؟» قَالَ: فَأَشَرْتُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ الْبَيْتِ، فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَبَّرَ، فَقُمْنَا وَرَاءَهُ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، قَالَ: وَحَبَسْنَاهُ عَلَى خَزِيرٍ صَنَعْنَاهُ لَهُ (رواه البخاري و مسلم)

“Dari Ibnu Syihab, Mahmud bin Ar-Robi’ memberitahukannya bahwa ‘Itban bin Malik As-Salimi radhiallahu an’hu salah seorang yang ikut serta dalam perang Badar dari kalangan Anshor berkata: “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku bertanya kepadanya: ‘Wahai Rasulullah, mataku sakit dan banjir menghalangiku untuk mendatangi masjid kaumku, hingga aku tidak dapat melaluinya. Sekiranya engkau berkehendak datang dan salat di rumahku yang bisa aku jadikan sebagai tempat salat, maka lakukanlah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku akan datang, insya Allah”. Maka di awal siang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berangkat. Beliau minta izin dan akupun memberinya izin (masuk). Namun beliau tidak langsung duduk hingga beliau bertanya: “Tempat mana yang engkau sukai untuk aku jadikan tempat salat di rumahmu ini?”

‘Lalu aku memberi isyarat kepada beliau tempat yang aku sukai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berdiri dan kami membuat shaf (barisan) di belakangnya, lalu beliau salat dua raka’at bersama kami. Setelah itu aku menghidangkan daging yang berkuah kepada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Keharusan berlemah lembut kepada istri.  Dalam riwayat Abu Hurairah,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ( رواه البخاري ومسلم)

Berwasiatlah untuk para wanita karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan yang paling bengkok dari bagian tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau ingin meluruskan tulang rusuk tersebut maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka berwasiatlah untuk para wanita(HR. Bukhari dan Muslim)

Ringkasnya, wanita itu memiliki karakter unik. Kalau dibiarkan tetap bengkok, kalau disikapi dengan keras akan patah. Jadi, harus hati-hati dalam menghadapi istri. Selain memahami karakter ini, untuk bisa tetap berlemah lembut kepada istri, suami harus memahami bahwa wanita itu lebih didominasi oleh perasaan daripada akalnya. Sebaliknya lelaki, lebih didominasi oleh akal daripada perasaannya. Untuk itu suami tidak bisa selalu mengajak istri masuk wilayah “kalkulasi logis”, melainkan “kalkulasi perasaan”

Uraian ini saya sampaikan untuk para suami. Tidak ketinggalan, saya juga ingin menyampaikan untuk para istri: Ketika suami Anda sudah berusaha keras untuk berlemah lembut kepada Anda dengan memahami karakter Anda, maka upayakanlah untuk bisa mengimbangi kebaikan dan kelemahlembutan suami. janganlah seperti yang terjadi pada para wanita yang jauh dari majlis ilmu, kebaikan dan kelemahlembutan suami malah dijadikan sebagai kesempatan untuk “memerasnya”, selalu melonjak dan semacamnya.  Inilah barangkali maksud  pepatah “dikasih daging minta rempelo”

6. ـJihad istri itu dengan setia kepada suaminya. Istri tidaklah bertanggungjawab atas nafkah rumah tangganya. Hal itu adalah kewajiban suami. Namun, istri yang setia pasti akan peka, mengerti, memahami dan siap membantu apa yang merupakan kewajiban suaminya. Insyaallah istri seperti ini akan termasuk istri yang  dipersilahkan untuk memasuki Surga melalui pintu manapun yang dikehendakinya sebagaimana hal ini  diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ ”  (مسند أحمد)

7. Kita harus senang dengan turunnya hujan karena ia adalah rahmat.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) الأعراف: 57(

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran” (QS. Al-A’rof:57)

Perhatikanlah! Allah ‘Azza wa Jalla menyebut hujan dengan rahmat. Pantaskah kita bersedih ketika hujan turun? Sekali-kali tidak. Untuk itu kita tidak boleh lupa untuk membaca doa ketika turun hujan agar jangan sampai menjadi adzab. Doanya berikut ini sebagaimana disebutkan dalam Hadits  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُمْطِرَ، قَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا»
(رواه النسائي)

“dAri ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika turun hujan, beliau membaca: Ya Allah! Jadikanlah ia hujan yang  bermanfaat” (HR. Bukhari)

Bisa juga dengan lafazh,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا …….  وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: «اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا»  (رواه البخاري)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘ahha…..Jika hujan, beliau shallalllahu ‘alaihi wa sallam membaca: Ya Allah! Hujan yang bermanfaat(HR. Bukhari)

8. Seorang muslim tidak boleh putus asa terhadap rintangan apapun yang sedang dihadapinya. Sebaliknya dia harus bersabar darinya. Karena putus asa adalah sifat orang kafir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ (يوسف:87)

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf:87)

9. Jangan malu bertanya jika Anda tidak tahu tentang suatu daerah kepada orang yang diperkirakan sebagai penghuninya atau orang yang diperkirakan mengenali daerah tersebut. Disebutkan di dalam Al-Qur’an tetang kisah saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam yang berusaha meyakinkan ayahnya,

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا (يوسف:82)

”Dan tanyalah (wahai ayah kami), kepada penduduk mesir dan siapa saja yang bersama kami dalam rombongan khalifah yang kami berada bersama mereka” (QS. Yusuf:82)

10. Jadilah penjual atau pembeli yang memudahkan. Karena hal itu akan mendatangkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Disebutkan dalam riwayat,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، سَمْحًا إِذَا اشْتَرَى، سَمْحًا إِذَا اقْتَضَى  (رواه البخاري)

“Dari Jabir bin Abdillah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah merahmati seorang hamba yang penuh toleransi/memudahkan ketika menjual dan membeli dan juga ketika memutuskan” (HR. Bukhari)

Sebagai penjual lakukanlah pelayanan untuk pembeli dengan baik dalam segala hal. Seperti: jujur, keterusterangan tentang kondisi barang, penyambutan yang ramah, “friendly”, menepati janji, menyempurnakan timbangan dan lain-lain sehingga pembeli merasakan kenyamanan. Demikian pula sebagai pembeli  meskipun pembeli itu “raja” tapi janganlah semena-mena sehingga penjual merasa tidak direpotkan dan dibebani atau hal-hal lainnya yang mengganggu hatinya.

11. Ketika melihat sesuatu yang menyenangkan atau mengagumkan hendaknya mengucapkan “maa syaa-a Allah” dan “Baarakallahu fih” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا ([الكهف: 39]

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan” (QS. Al-kahfi:39)

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقّ (المستدرك على الصحيحين للحاكم)

“Jika seseorang di antara kalain meliahat sesuatu yang mengagumkannya maka hendaklah dia berdoa dengan keberkahan, karena sesungguhnya ‘ain itu haq” (Al-Mustadrok ‘ala-sh-shohihaini lil Hakim)

12. Ketika melihat atau mengalami sesuatu yang mengagetkan atau dipandangnya perkara besar, maka ucapkanlah “Subhanallah” atau “Allahu Akbar”. Sebagaimana disebutkan di dalam riwayat,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: “أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَقِيَهُ فِي بَعْضِ طَرِيقِ المَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ، فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ. فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: «أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟» قَالَ: كُنْتُ جُنُبًا، فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ. فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! إِنَّ المُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ (رواه البخاري)

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi  pernah berjumpa dengannya di salah satu jalan Madinah, sementara ia dalam keadaan junub.”
Abu Hurairah berkata, ‘Aku malu dan pergi diam-diam’ lalu pergi mandi dan kembali lagi setelah itu, beliau lalu bertanya: “Kemana saja kamu tadi wahai Abu Hurairah?” Dia menjawab: “Aku tadi junub. Dan aku tidak nyaman bersamamu sedang aku dalam keadaan tidak suci.” Beliau pun bersabda:

“Subhaanallah! Sesungguhnya seorang Muslim itu tidak itu najis.” (HR. Bukhari)

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه: “أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم «عَادَ رَجُلًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ» قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَيْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ؟» قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَقُولُ: اللهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي الْآخِرَةِ، فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «سُبْحَانَ اللهِ! لَا تُطِيقُهُ -أَوْ لَا تَسْتَطِيعُهُ- أَفَلَا قُلْتَ: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ». قَالَ: فَدَعَا اللهَ لَهُ، فَشَفَاهُ”. (رواه مسلم)

“Sesungguhnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seorang sahabat yang telah kurus bagaikan anak burung (karena sakit). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah kamu berdo’a atau meminta sesuatu kepada Allah?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a/meminta kepada Allah, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa kamu tidak mengucapkan, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya(HR Muslim).

عن أبي وَاقِدٍ اللَّيْثِيَّ – وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ يَقُولُ: لَمَّا افْتَتَحَ رَسُولُ اللَّهِ مَكَّةَ، خَرَجَ بِنَا مَعَهُ قِبَلَ هَوَازِنَ، حَتَّى مَرَرْنَا عَلَى سِدْرَةِ الْكُفَّارِ: سِدْرَةٌ يَعْكِفُونَ حَوْلَهَا، وَيَدْعُونَهَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلهة، قال: إنكم قوم تجهلون” ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إنكم لتركبن سنن من قبلكم” (صحيح ابن حبان)

 Dari Abu Waqid Al Laitsi (salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), ia berkata:  Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membebaskan kota Mekkah, beliau berangkat bersama kami menuju Hawazan, sampai kami melintasi sebuah pepohonan kaum kafir, pada pohon tersebut mereka duduk di sekelilingnya dan mereka memberinya nama “Dzat Anwath”, kami berkata: Wahai Rasulullah, buatkan kami “Dzat Anwath” seperti “Dzat Anwath” milik mereka!

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allahu Akbar! ini adalah sunan, ini seperti yang dikatakan kaum Bani Israil kepada Musa: {“Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala}. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh kalian akan melakukan perilaku-perilaku orang sebelum kalian.” [Shahih Ibnu Hibban]

13. Termasuk akhlak tinggi adalah tidak meminta atau barang kepada orang lain sehingga ketergantungan hati hanya kepada Allah saja. Kecuali kalau diberi, tidak meminta maka diterima. Sebagaimana petunjuk Nabi kepada Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu,

حديث عُمَر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ   أنه يقول : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُعْطِينِي الْمَالَ، فَأَقُولُ أَعْطِهِ، مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي، وَإِنَّهُ أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا، فَقُلْتُ لَهُ، أَعْطِهِ، مَنْ هُوَ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ: «مَا آتَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذَا الْمَالِ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ، وَلَا إِشْرَافٍ، فَخُذْهُ، فَتَمَوَّلْهُ، أَوْ تَصَدَّقْ بِهِ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ» (سنن النسائي)

“Hadits Umar[ radliallahu ‘anhu, ia  berkata; dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku harta, lalu aku mengatakan; berikan kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada diriku. Dan beliau suatu kali memberiku harta, lalu aku mengatakan kepadanya; berikan kepada orang yang lebih membutuhkan kepadanya daripada diriku. Maka beliau bersabda: “Apa yang telah Allah Azza wa Jalla berikan kepadamu tidak karena meminta dan tidak karena ketamakan maka ambillah, kemudian kembangkan atau sedekahkan, dan yang tidak demikian maka janganlah engkau perturutkan dirimu.” (Sunan An-Nasa’i)

Juga tidak meminta bantuan atau pertolongan.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membai’at kepada beberapa Shahabat untuk tidak pernah meminta apapun kepada orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat,

عَنْ عَوْفُ بْنُ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً، فَقَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» وَكُنَّا حَدِيثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ، فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» قَالَ: فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا» فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ، فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ (صحيح مسلم)

“Dari Auf bin Malik Al Asyja’i ia berkata; Kami pernah berada dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sembilan atau delapan atau tujuh hari. Saat kami hendak berpisah, beliau bersabda: “Apakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Ketika itu kami baru saja berbai’at kepada beliau, maka kami pun menjawab, “Sesungguhnya kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah.” Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” kami menjawab, “Sungguh, kami telah berbai’at kepada Anda wahai Rasulullah.” Beliau mengulangi pertanyaannya: “Apakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Maka kami pun mengulurkan tangan sambil berujar, “Sesungguhnya kami telah berbai’at kepada Tuan, lalu atas apa lagi kami berbai’at kepada Tuan wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Bahwa kalian akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun juga, akan menegakkan shalat lima waktu, akan berlaku patuh kemudian beliau melirihkan perkataannya: dan tidak akan meminta sesuatupun kepada orang banyak.” Auf berkata; Aku pernah melihat sebagian dari mereka itu suatu saat cambuknya jatuh, tetapi ia tidak meminta tolong sedikit pun kepada orang lain untuk mengambilkannya.” (Shahih Muslim)

Namun, jika dalam kondisi darurat terlebih orang yang akan dimintai bantuan tidak merasa keberatan bahkan senang, maka boleh. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Beliau menukil  tentang daging yang disedekahkan kepada Barirah,

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبُرْمَةٌ عَلَى النَّارِ فَقُرِّبَ إِلَيْهِ خُبْزٌ وَأُدْمٌ مِنْ أُدْمِ الْبَيْتِ فَقَالَ أَلَمْ أَرَ الْبُرْمَةَ فَقِيلَ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ وَأَنْتَ لَا تَأْكُلُ الصَّدَقَةَ قَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَنَا هَدِيَّةٌ  (رواه البخاري)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk sementara periuk berada di atas api, lalu beliau pun disuguhkan roti beserta lauk. Maka beliau bersabda: “Bukankah tadi aku melihat periuk?” dikatakanlah pada beliau, “Periuk itu berisikan daging yang disedekahkan kepada Barirah, sementara Anda tidak makan sedekah.” Beliau bersabda: “Baginya sedekah, tetapi bagi kita adalah hadiah.” (HR. Bukhari)

Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa dalam Hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yakin bahwa Barirah akan bersuka cita kalau diminta, maka Nabi menyampaikan ungkapan yang maknanya adalah meminta “Baginya sedekah, tetapi bagi kita adalah hadiah.” Maka jika kamu tahu bahwa permintaanmu menyenangkan temanmu maka tidak mengapa.

14. Mempertimbangkan sisi maslahat dan mafsadat.

Jika kita dihadapkan pada dua keadaan yang masing-masing berdampak pada mafsadat (kerusakan) maka kedepankanlah yang lebih ringan mafsadatnya. Kaedah menyatakan:

إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضررًا بارتكاب أخفهما

Apabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus diperhatikan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.

Contoh: dua keadaan yang saya hadapi; antara mengikuti shalat jamaah Maghrib dengan membiarkan istri menunggu di mini market menggigil nan kedinginan

 ataukah

 segera mencari keberadaan istri lalu menjemput dan membawanya pulang agar segera terbebas dari kondisinya yang memudharatkan dengan terlewatkan shalat jamaah?

Jawabannya:

Terlewatkan shalat jamaah itu mafsadat, demikian juga membiarkan istri dengan kondisisi sedemikian rupa juga mafsadat. Maka manakah yang lebih ringan mafsadat-nya? Tentu terlewatkan dari shalat jamaah itu lebih ringan mafsadat-nya.

15. Mengupayakan amalan yang istiqomah. Karena jika suatu amalan telah di- istiqomah-i ketika ada udzur sehingga kita tidak mengerjakannya maka tetap dicatat di sisi Allah mendapatkan pahala sebagaimana mengamalkan dengan semestinya. Padahal kita tidak mengamalkannya.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda  dalam Hadits Abu Musa:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا (رواه أحمد و البخاري)

“Jika seorang hamba sakit atau musafir dicatat baginya pahala sebagaimana ia mengerjakannya (suatu amalan) ketika kondisi mukim (tidak safar) atau sehat (HR. Ahmad dan Bukhari)

Judul buku : Sepenggal Kisah Penjual Beras

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)