Solusi Investasi Akhirat Anda

1 – 1 ≠ 0

Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan manusia dengan kondisi yang berbeda-beda. Kaya dan miskin, sehat dan sakit, pejabat dan rakyat, beranak dan tidak beranak, sibuk dan tidak sibuk, lapang dan sempit, besar dan kecil dan lain-lain. Dan, Allah telah membuka banyak jalan  agar kita meraih pahala sebanyak-banyaknya, di mana setiap kondisi yang berbeda-beda itu memiliki potensi kuat untuk mendulang kebaikan.

Orang miskin tentu ingin seperti orang kaya yang mendapatkan pahala demi pahala dengan banyak berinfak, seperti Abdurrahman bin Auf yang menyedekahkan setengah kekayaannya senilai 4000 dirham, kemudian pada kesempatan yang lain 40.000 dinar, lalu 500 ekor kuda untuk berjihad fi sabilillah, juga pernah berinfak dengan 1500 ekor unta berikut muatannya untuk jihad fi sabilillah. Atau seperti Urwah bin Zubair yang setiap musim kurma matang, ia membuka kebunnya lalu mempersilahkan orang-orang untuk masuk, makan dan membawanya pulang. Tetapi, kondisi orang miskin tentu tidak memungkinkan. Lalu, apakah kesempatan mendulang pahala berinfak tertutup? Tidak. Dia bisa meraih pahala dengan tenaganya atau pemikirannya, atau prilakunya yang menyenangkan orang lain, atau sumbangsih apapun bagi ummat.  Atau hanya sekedar dengan meninggalkan perbuatan yang merugikan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ : الإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالْجِهَادُ فِى سَبِيلِهِ. قَالَ قُلْتُ أَىُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ قَالَ : أَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا وَأَكْثَرُهَا ثَمَنًا. قَالَ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ قَالَ : تُعِينُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ. قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعَمَلِ قَالَ : تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِك (رواه مسلم)

Dari Abu Dzar radliallahu ‘anhu berkata; Aku bertanya kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya”. Kemudian aku bertanya lagi: “Pembebasan budak manakah yang paling utama?”. Beliau menjawab: “Yang paling tinggi harganya dan yang paling berharga di  hati tuannya”. Aku katakan: “Bagaimana kalau aku tidak dapat mengerjakannya?” Beliau berkata: “Kamu membantu orang yang terlantar atau orang bodoh yang tak mempunyai ketrampilan “. Aku katakan lagi: “Bagaimana kalau aku tidak dapat mengerjakannya?”. Beliau bersabda: “Kamu hindari manusia dari keburukan karena yang demikian berarti shadaqah yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri”(HR. Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallah dan cabang yang paling ringan adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Sementara rasa malu adalah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم قَالَ : لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِى الْجَنَّةِ فِى شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِى النَّاسَ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sungguh saya telah melihat seorang yang bolak balik di Surga karena kayu yang dipotongnya dari tengah jalan yang mengganggu manusia.” (HR Muslim).

Dan, ingat! Infak tidak saja dimonopoli oleh orang kaya, bahkan orang miskin dengan hartanya yang minim lalu diinfakkan sebagiannya maka nilainya bisa melebihi infaknya orang kaya. Di dalam Hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Satu dirham mengungguli 100 dirham”. Seorang lelaki bertanya, “Bagaimana bisa begitu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: Seseorang berharta melimpah, dia mengambil darinya 100 dirham lalu mensedekahkannya. Dan seseorang yang lainnya hanya memiliki dua dirham, lalu dia mengambil setengahnya dan mensedekahkannya” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban. Hakim berkata: Shahih di atas syarat Muslim). Maksudnya adalah 100 dirham bagi orang kaya tersebut hanya sekedar uang recehannya saja, sementara 1 dirham bagi orang miskin tersebut sangatlah berharga karena merupakan setengah hartanya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ  صلى الله عليه وسلم  قَالَ : يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ  (رواه البخاري و مسلم)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Wahai wanita muslimah, janganlah kalian meremehkan pemberian kepada tetangga meskipun hanya kaki kambing (HR. Bukhari dan Muslim)

               Orang sakit tentu ingin seperti orang sehat yang leluasa melakukan kebaikan demi kebaikan; setiap saat bisa ke majlis taklim, shalat 5 waktu berjama’ah di masjid (bagi kaum lelaki), berpuasa Ramadhan ditambah puasa-puasa sunnah, silaturrahim ke keluarga bahkan yang di luar kota, bergabung dalam kepanitiaan bakti sosial dan lain-lain. Sementara orang sakit kondisinya berat, tertekan, terbatas dan sumpek. Bahkan ada yang hanya terbaring di atas tempat tidur. Lalu, apakah berarti dia terhalang untuk mengejar pahala yang banyak? Tidak. Dia bisa meraih pahala bahkan “panen besar” dengan melakukan kebajikan-kebajikan lain yang sesuai dengan kondisinya. Misalnya dengan memperbanyak  tasbih atau dzikir lainnya, membaca al-Qur’an atau muraja’ah surat-surat yang telah dihafal, , meminta agar kajian-kajian keagamaan diadakan di rumahnya sehingga bisa mengikutinya langsung kalau tidak maka dengan  mendengarkan ceramah-ceramah melalui TV atau media lainnya, menitipkan sebagian hartanya kepada orang yang terpercaya atau suatu lembaga untuk diikutsertakan dalam “proyek-proyek ukhrowi” dan lain-lain. Tentang tasbih dan dzikir,  Nabi bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ  صلى الله عليه وسلم قَالَ :كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِه   (رواه البخارى و مسلم)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dua kalimat yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan dan dicintai Ar-Rahman adalah “Subhanallahi al-Azhim, Subhanallahi wa bihamdihi” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam Hadits Abu Hurairah, Nabi bersabda bahwa Allah ‘Azza wa jalla berfirman: “Aku bersama hamba-Ku jika dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Tentang menghafal al-Qur’an, Nabi bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

Dari Abullah bin Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an, bacalah dan mendakilah. Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca secara tartil di dunia. Karena kedudukanmu di akhir ayat yang engkau baca.” (HR. At-Tirmidzi). Yang dimaksud dengan pemilik al-Qur’an sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Munajjid adalah orang yang hafal al-Qur’an di luar kepala.

               Bahkan orang yang kondisinya sempit dan terbatas seperti orang sakit, ketika mengupayakan berbuat kebaikan niscaya Allah ‘Azza wa jalla lipatgandakan pahalanya.  Sebagaimana sabda Nabi:

عن عائشة رضي الله عنها : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لها في عمرتها : إن لك من الأجر على قدر نصبك و نفقتك

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya ketika umrah: “Sesungguhnya bagimu pahala sesuai kadar keletihan dan nafkahmu” (HR. Hakim).

Oleh karena itu selama orang yang sakit mampu berbuat, maka berbuatlah karena pahala berlipatganda akan diraih. Dikisahkan di dalam atsar Abdullah Ibnu Mas’ud, ada seseorang mengharuskan diri dipapah ke masjid demi menghadiri shalat jama’ah.

Sakit itu sendiri memiliki keutamaan yang tinggi, ia merupakan tanda seseorang dikehendaki kebaikan ada pada dirinya. Oleh karena itu jangan sampai suatu kebaikan menjadi penghalang bagi kebaikan lainnya.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ:  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:  إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَة

Dari Anas, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya, niscaya Allah akan menyegerakan musibah baginya di dunia. Dan jika Allah menghendaki keburukan bagi hambaNya, niscaya Allah membiarkannya dengan dosanya sehingga Allah membalasnya pada hari Kiamat” (HR. At-Tirmidzi)

Sekali lagi, ingat!! Sakit adalah tanda kebaikan karena memiliki keutamaan yang banyak, maka janganlah sakit menjadi penghalang bagi kebaikan yang lain.

            Terkadang ada orang sibuk mengeluhkan kondisinya. Dia berharap seandainya bisa seperti si Fulan atau si Fulanah yang tidak sibuk sehingga leluasa mengerjakan ibadah-ibadah yang sangat banyak. Ini adalah sikap yang salah. Sesungguhnya, kesibukan bukanlah penghalang untuk memperbanyak ibadah. Lakukanlah perkara-perkara ubudiyah yang memungkinkan. Kalau kesibukannya menyebabkan susah untuk bangun di tengah atau sepertiga malam, maka shalatlah witir di awal malam atau sebelum tidur seperti Abu Bakar dan Abu Hurairah. Kalau susah melakukan kunjungan keluarga, lakukanlah silaturrahim dengan telpon atau kirim parcel. Kalau tidak sempat mengantar pemakaman jenazah, paling tidak ikutlah menyolatinya. Kalau tidak sempat mengajari anak-anak al-Qur’an, datangkanlah guru privat. Kalau tidak memungkinkan berpuasa sunnah karena kesibukan yang melelahkan, carilah amalan penggantinya dan bertekadlah untuk meng-“qodho”-nya ketika sudah pensiun. Dan seterusnya, jalan-jalan menuju kebaikan terbentang sangat luas….

               Orang yang belum beranak tentu sangat mendambakan hadirnya anak. Bagaimana tidak, anak adalah aset orang tua yang sangat mahal. Semakin banyak anak berarti semakin banyak aset. Dan dia pun menjadi orang yang paling bahagia. Kenapa demikian? Di saat harta, kendaraan, istana, pacuan kuda yang dibanggakan, kolam renang tempat bersantai,  tahta, jabatan, kekayaan, kharisma dan lain sebagainya tidak mengikuti pemiliknya ke alam barzah, bukankah doa dan amalan anak shaleh senantiasa setia mengiringinya? Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak punya anak? Tertutupkan dari pahala besar? Tidak. Paling tidak masih ada dua amalan lain yang diandalkan, yaitu: ilmu yang bermanfaat dan shodaqoh jariyah. Nabi bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ  صلى الله عليه وسلم قَالَ :إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah, dari  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan” (HR. Muslim)

               Mari bersemangat menyampaikan ilmu syareat, orang yang mendapatkan ilmu tersebut akan menyampaikan kepada orang lain dan demikian seterusnya. Sungguh, ini merupakan multi level pahala. Oleh karena itu saya sering menyampaikan kepada para mahasiswa agar mengalokasikan  waktu untuk mengajar di TPQ-TPQ (Taman Pendidikan Qur’an). Berusahalah untuk memiliki suatu harta yang diwakafkan bagi kepentingan ummat. Bisa berupa tanah untuk pesantren, al-Qur’an untuk masjid-masjid, karpet, meja, kursi, rak, kitab-kitab untuk lembaga pendidikan dan lain-lain. Bagaimana jika tidak berkemampuan untuk mewakafkan sebagian hartanya. Jangan putus asa. Jalan-jalan menuju kebaikan sangatlah luas. Sebut saja misalnya senantiasa berwudhu setiap kali hadats lalu dilanjutkan dengan shalat dua rakaat sebagaimana Bilal radhiyallahu ‘anhu. Bisa juga dengan menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang berat, misalnya: kedinginan. Memperbanyak berjalan menuju masjid. Datang di awal sebelum iqomah, kalau bisa sebelum adzan. Di dalam semuanya ini terdapat pahala yang banyak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ. قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ : إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ) رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukan pada apa yang dengannya Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat? Para Sahabat menjawab: Mau, ya Rasulullah. Beliau bersabda: Yaitu: menyempurnakan wudhu meskipun di saat-saat yang tidak disukai (menyulitkan), banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka hal itu ibarat ribath (menjaga perbatasan dari serangan musuh)” (HR. Muslim). Ribath pahalanya sangatlah besar, karena mereka adalah pasukan terdepan. Kalau ada serangan musuh, merekalah yang pertama kali menghadapinya. Kesimpulannya adalah 1 – 1 ≠ 0.  Jika seseorang berkurang darinya suatu potensi untuk melakukan kebaikan demi mendulang pahala, bukan berarti tertutup dari kebaikan-kebaikan lainnya. Jalan-jalan menuju kebaikan terbentang sangat luas.  Jadi, bukan berarti “terjadi kiamat”. 1 – 1 ≠ 0

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)