Search
Tuesday 17 September 2019
  • :
  • :

Tuch…. Salah Kan?!!

  1. Tabi’at Manusia Suka Menilai

Manusia memiliki tabi’at suka menilai orang lain. Dari tabi’at inilah lahir husnuzhzhonn dan suuzhzhonn. Agar kita selamat dengan adanya tabi’at ini, maka kedepankan husnuzhzhon bukan suuzhzhonn. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ (الحجرات:12)

“Hai orang-orang yang beriman jauhilah oleh kalian banyak prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa” (QS. Al-Hujurot:12)

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ ، وَلاَ تَحَسَّسُوا ، وَلاَ تَجَسَّسُوا ، وَلاَ تَحَاسَدُوا ، وَلاَ تَدَابَرُوا ، وَلاَ تَبَاغَضُوا ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا (رواه البخارى و مسلم)

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jauhilah oleh kalian prasangka (buruk), karena ia adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian saling memata-matai, saling dengki, saling membelakangi, dan janganlah kalian saling murka. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR. Bukhari dan Muslim)

Prasangka bagaimanakah yang terlarang? Al-Khuthobi mengatakan yang terlarang adalah memastikan suatu persangkaan buruk dan mempercayainya. Padahal ia hanyalah sesuatu yang terlintas di dalam hati yang belum bisa dipastikan. Ini perbuatan dosa. Namun,  jika ia dibiarkan lewat begitu saja yang akhirnya hilang dari lintasan, maka tidaklah mengapa. Tidaklah dosa. Bukan yang dimaksud dalam ayat ini.

Biarkanlah prasangka buruk yang terlintas di hati lewat dan hilang begitu saja

 

  1. Kenapa Suuzhzhon Dilarang?

Kenapa suuzhzhon dilarang padahal nyata-nyata si pelaku dikelilingi indikasi-indikasi yang di-zhonn-kan? Jawabannya paling tidak ada tiga perkara;

  1. Suuzhzhonn bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan

Coba kita perhatikan Hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah di atas, setelah mengingatkan ummat agar menghindarkan suuzhzhonn, beliau mengingatkan mereka agar menghindari tindakan memata-matai, dengki, saling menikung, saling murka. Karena semua perkara ini adalah faktor pemecah belah ukhuwwah Islamiyyah.

Sementara ukhuwwah islamiyyah adalah perkara yang harus dijaga dalam segala keadaan. Ia tidak boleh retak. Banyak sekali Hadits-Hadits yang berbicara tentang ini. Di antaranya adalah larangan berbisik-bisik antara dua orang tanpa melibatkan seorang lagi ketika mereka bertiga. Karena hal ini bisa merusak ukhuwwah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِذَا كَانُوا ثَلاَثَةٌ فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ » (رواه البخارى ومسلم)

“Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika mereka bertiga maka jangan berbisik-bisik antara dua orang tanpa orang yang ketiganya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Intinya, Ukhuwwah Islamiyyah harus dijaga tidak boleh dirusak dengan cara apapun, dan suuzhzhonn adalah salah satu faktor yang sangat berpotensi untuk  merusaknya karena orang yang menjadi sasaran suuzhzhonn pasti akan murka. Inilah awal keretakan

 

  1. Mengganggu kesehatan jiwa dan badan

Di dalam kehidupan ini, tidak ada yang lebih menenangkan hati ketika melihat kejadian apapun melebihi husnuzhzhonn. Baik yang terkait dengan ketetapan-ketetapan dari Allah ataupun yang terkait dengan tindak-tanduk manusia. Banyak sekali ketetapan-ketatapan (takdir) yang tidak menyenangkan manusia. Sebagian mereka dengan takdir tersebut ada yang tertekan, menderita sakit, stress, gila  bahkan ada yang bunuh diri. Tahukan Anda apa penyebabnya? Tidak lain adalah Karena tidak ber-husunuzhzhann kepada-Nya. Seharusnya mereka berhusnuzhzhan bahwa apa yang ditetapkan-Nya pastilah yang terbaik untuk mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)

“Dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal itu lebih buruk bagi kalian. Allah lah yang Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui” (QS. Al-Baqoroh: 216)

Sebaliknya,  orang yang senantiasa ber husnuzhzhonn kepada Allah, mereka selalu bisa selalu riang gembira, tidak pernah tertekan, stress apalagi gila. Mereka pun dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ » (رواه مسلم)

“Dari Shuhaib, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya baik. Dan, tidak ada yang bisa seperti itu kecuali orang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesulitan dia bersabar, dan itu baik baginya (HR. Muslim)

 

Yang menjadikan dia bisa bersabar tidak lain adalah husnuzhzhonn kepada Allah

 

Terlebih kita telah mengetahui bahwa rahmat Allah mengalahkan murka-Nya sebagaimana disebutkan di dalam Hadits Qudsi,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سَبَقَتْ رَحْمَتِى غَضَبِى » (رواه البخارى و مسلم)

“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah ‘Azza wa Jalla memang memiliki sifat murka, tetapi murka-Nya telah dikalahkan oleh rahmat-Nya. Akankah kita bersuuzhzhonn kepada-Nya.

 

Demikian pula dalam memandang tindak-tanduk manusia. Ketika kita memandangnya dengan husnuzhzonn niscaya jiwa dan raga kita akan sehat. Bagaimana korelasinya? Korelasinya yaitu; Ketika Anda ber suuzhzhonn (prasangka buruk) maka jiwa Anda akan tegang, jantung berdegup lebih kencang karena Anda diliputi amarah/murka.  Orang ketika membiarkan murkanya bertumpuk menebal maka akan mengganggu kesehatannya. Bahkan murka bisa membinasakan seseorang. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ (أل عمران:119)

“Katakanlah, Matilah kalian karena kemarahan kalian” (QS. Ali Imron:119)

Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thobari, ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang selalu murka melihat ukhuwwah  dan perkembangan kaum muslimin. Maka, Nabi diperintahkan oleh-Nya untuk menjatuhkan mereka dengan kalimat “Matilah kalian karena kemarahan kalian.

Suuzhzhonn menjadikan hati seseorang bergejolak karena murka. Murka yang berkelanjutan akan mengganggu kesehatan jiwa yang berikutnya bisa berdampak pada kesehatan badannya.

 

Berikut ini saya nukilkan pemaparan ahli tentang dampak murka terhadap kesehatan sumbernya dari Merdeka.com:  Amarah bisa memakan sumber daya yang baik dari tubuh dan membuat Anda kekurangan energi. Dampak terburuk dari marah pada kesehatan Anda adalah stres.
Stres adalah hal sepele yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan beragam penyakit kronis dalam tubuh manusia. Pasien penyakit jantung memiliki risiko kesehatan yang benar-benar fatal jika mereka marah. Nah, berikut adalah beberapa efek negatif dari marah pada tubuh Anda, seperti dilansir Boldsky.

  1. Stres
    Efek setelah marah adalah stres. Setelah kemarahan Anda mereda, Anda akan mengalami stres dan stres dapat menyebabkan penyakit serius seperti diabetes, depresi, tekanan darah tinggi dan penyakit Jantung.

    2. Penyakit jantung
    Kemarahan dapat memicu debaran jantung yang lebih cepat. Jika Anda cepat marah, detak jantung Anda akan terus meningkat dan akhirnya rentan terserang stoke.

    3. Gangguan tidur
    Ketika Anda marah, hormon akan bergejolak di dalam tubuh Anda. Itulah mengapa risiko kesehatan terburuk dari kemarahan adalah gangguan tidur. Jika tubuh Anda tidak mendapatkan istirahat, Anda bisa menjadi sasaran empuk bagi banyak penyakit. Sulit tidur bahkan dapat membuat Anda jadi gila.

    4. Tekanan darah tinggi
    Tekanan darah tinggi dapat disebabkan banyak hal dan kemarahan merupakan salah satu penyebab utamanya. Ketika Anda marah, tekanan darah Anda akan meningkat. Hal ini bisa menyebabkan banyak kerusakan pada jantung Anda.

    5. Masalah pernapasan
    Marah juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma. Seseorang akan merasa sulit bernapas ketika ia marah. Kemarahan juga dapat memicu serangan asma dan membuat napas seseorang terengah-engah.

    6. Sakit kepala
    Ketika Anda marah, pembuluh darah di otak akan berdenyut liar. Hal ini dapat memicu rasa sakit di kepala. Cobalah untuk tenang segera, jika Anda merasa nyeri di kepala Anda karena dipicu oleh perasaan marah.

    7. Serangan jantung
    Serangan jantung sering terjadi, jika seseorang menjadi sangat emosional, bersemangat atau marah. Kemarahan adalah salah satu penyebab paling berbahaya yang dapat memicu serangan jantung. Itulah sebabnya pasien jantung dilarang untuk terlalu sering mengekspresikan kemarahan mereka.

    8. Stroke
    Stroke otak terjadi ketika satu atau lebih pembuluh darah di otak pecah. Hal ini dapat terjadi ketika kemarahan membuat tekanan darah Anda naik sangat tinggi. Stroke otak dapat membunuh Anda atau melumpuhkan Anda seketika. [Selesai].

 

Jelaslah, betapa sangat erat korelasi antara murka yang diantara penyebabnya adalah su-uzhzhonn dengan kesehatan jiwa dan badan. Maka, janganlah kita bersu-uzhzhonn karena bisa menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Disebutkan dalam Al-Qur’an,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ (البقرة:135)

“Dan janganlah kalian menjerumuskan kalian ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqoroh: 135)

 

  1. Hukum asal seorang muslim adalah baik sehingga harus disikapi dengan prilaku yang baik hingga tampak padanya karakter dan perangai untuk bisa dikatakan sebagai “orang yang tidak baik”

 

Ini adalah kaedah yang harus kita perhatikan di dalam kita bermuamalah sesama muslim. Kenapa demikian? Tidak lain adalah bahwa keimanan yang telah terpatri di dalam jiwa seorang muslim akan memancarkan energi kebaikan-kebaikan. Jadi, muslim itu identik dengan kebaikan-kebaikan. Oleh karena itu, selama kita mengetahui seseorang sebagai orang baik maka sikapilah dengan prilaku yang baik. Di antara prilaku yang baik adalah husnuzhzhonn.  Sedikitpun kita tidak boleh ber-suuzhzhonn kepada seorang muslim. Tidak boleh terburu-buru menyimpulkan keburukan hingga diketahui secara pasti akan keburukannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ [الحجرات: 6]

“Wahai orang-orang yang beriman! JIka ada orang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurot:6)

Inti dari ayat ini adalah tidak mengambil sesuatu sebagai kesimpulan hingga benar-benar telah dipastikan

 

Banyak sekali Hadits-Hadits yang menunjukkan tentang hal ini, di antaranya adalah,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ » (رواه البخارى و مسلم)

“Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallalalhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah ban bahwa Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan semuanya itu maka mereka terjaga dariku darahnya, hartanya kecuali dengan hak Islam. Dan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan ketika zhahir mereka menunaikan amaliyah-amaliyah maka berarti mereka adalah muslim yang harus mendapatkan hak-hak sebagai muslim. Urusan ternyata batinnya tidak sama dengan zhahirnya maka itu menjadi urusan Allah. Karena kita tidak memiliki wewenang untuk menghukumi batinnya. Kita hanya berwenang menghukumi zhahirnya. Oleh karena itu Nabi menyalahkan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu yang membunuh seseorang dengan mendasarkan kepada prasangka. Disebutkan di dalam riwayat,

أُسَامَةَ بْنَ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ يُحَدِّثُ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلاً مِنْهُمْ فَلَمَّا غَشَيْنَاهُ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِىُّ وَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِى حَتَّى قَتَلْتُهُ. قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لِى « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا. قَالَ فَقَالَ « أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ». قَالَ فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ.

“Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke Huraqah, bagian dari suku Juhainah. Kami (menyerang mereka) di waktu pagi dan kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ (Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya. Adapun saya menusuk orang tersebut dengan tombakku samapai menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba (di Madinah), berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,  beliau bertanya kepadaku, ‘Wahai Usamah, apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?’ Saya (Usamah) menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya, “Apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?”Saya (Usamah) berkata, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih terus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.”   (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari dua Hadits di atas jelaslah, manusia tidak berhak menghukumi sesuatu yang tidak nampak. Itu adalah hak Allah. Wilayah manusia hanyalah sebatas menghukumi sesuatu yang zhahir (tampak)

 

  1. Carilah 70 Alasan untuk Mentolerir Kesalahan Seorang Muslim

Bagaimanakah agar kita bisa ber-husnuzhzonn kepada muslim yang kita jumpai melakukan kesalahan? Caranya adalah carilah 70 alasan untuk memakluminya. Jika kita sudah mencari alasan-alasan yang banyak tapi tetap saja mengganjal yang akhirnya kita bisa ber-suuzhzhonn, maka hadirkanlah di dalam hati kalimat “Mungkin ada alasan yang saya tidak mengetahui”. Disebutkan di dalam sebuah Atsar,

 

عن هشام بن الكلبي ، قال : قال جعفر بن محمد : « إذا بلغك عن أخيك الشيء تنكره فالتمس له عذرا واحدا إلى سبعين عذرا ، فإن أصبته وإلا قل : لعل له عذرا لا أعرفه » (شعب الإيمان للبيهقي (17/ 378، بترقيم الشاملة آليا)

“Dari Hisyam Ibnu Al-Kalbi, dia berkata: Ja’far bin Muhammad berkata: Jika sampai kepada Anda sesuatu terjadi pada saudara Anda yang Anda mengingkarinya, maka carilah untuknya alasan mulai satu sampai tujuhpuluh. Jika Anda mendapatkannya maka itu, jika tidak maka katakanlah, siapa tahu dia memiliki alasan yang saya tidak mengetahuinya.” (Syu’abul Iman lil Baihaqi 17/18, Maktabah Syamilah)

 

سمعت منصور بن عبد الله يقول : سمعت أبا علي الثقفي يقول : سمعت حمدون القصار يقول : « إذا زل أخ من إخوانكم فاطلبوا له سبعين عذرا ، فإن لم تقبله قلوبكم فاعلموا أن المعيب أنفسكم ؛ حيث ظهر لمسلم سبعون عذرا فلم تقبله »   (آداب الصحبة لأبي عبد الرحمن السلمي  ، ص: 18، بترقيم الشاملة آليا)

“Saya mendengar Manshur bin Abdullah berkata: Saya mendengar Abu ‘Ali Ats-Tsaqofy berkata: Saya mendengar Hamdun Al-Qushor berkata: Jika seseorang dari saudara kalian tergelincir (berbuat kesalahan) maka carilah untuknya 70 alasan (untuk bisa memakluminya). Jika hati kalian belum bisa menerima alasan-alasan itu maka ketahuilah justru yang tercela adalah Anda sendiri. Bagaimana tidak, pada seorang muslim itu ada 70 alasan sementara hati Anda tidak bisa menerimanya” (Adabus Shuhbah li Abdirrahman As-Sulamy, hal. 18 dengan penomeran Asy-Syamilah Aliya)

Dua Atsar di atas menunjukkan, Upayakanlah  husnuzhzhonn terhadap muslim lainnya ketika mereka berbuat salah.

 

عن ابن أبي مليكة أن عمر بن الخطاب قال لا يحل لامرىء مسلم سمع من أخيه كلمة أن يظن بها سوءا وهو يجد لها في شيء من الخير مصدرا (التمهيد – ابن عبد البر، مكتبة الشاملة)

“Dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Umar bin al Khathab berkata: “Tidak halal bagi seorang muslim yang mendengar dari saudaranya suatu kalimat yang dia mendengarnya lalu berprasangka buruk sementara dia (masih) mendapati kalimat lain yang baik darinya” (At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, Maktabah Syamilah)

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
(HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah).

  1. Cara Menilai Suatu Komunitas atau Perorangan

Cara menilai suatu komunitas baik atau tidak adalah dengan melihat sifat, karakter atau tabi’at yang dominan yang pada komunitas tersebut. Jika yang dominan adalah kebaikan maka dia adalah komunitas yang baik. Demikian pula dalam menilai seseorang. Perhatikalah mana perangai yang dominan pada diri seseorang? Jika yang dominan adalah baik maka dia adalah orang baik. Jika dia terbiasa berbuat keburukan maka yang dominan adalah keburukan maka berarti dia bukan orang buruk. Hal ini didasarkan pada pernyataan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bahwa sebaik-baik generasi adalah zamannnya,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (رواه البخارى و مسلم)

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Sebaik-baik manusia adalah masaku, kemudian masa setelahnya (Tabi’in) kemudian masa setelahnya (Tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah pada zaman Sahabat tidak ada kemungkaran? Jelas ada. Seperti yang dikisahkan kepada kita adanya riwayat tentang Sahabat yang dirajam karena zina, dipotong tangannya karena mencuri dicambuk karena minum khamr, Juga adanya perselisihan yang  tidak jarang terjadi di antara para Sahabat. Namun, kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa generasi Sahabat adalah generasi terbaik? Ini tidak lain, menilai suatu komunitas itu berdasarkan kondisi secara umum yang dominan.

Menilai suatu komunitas atau seseorang adalah berdasarkan kondisi umum yang dominan.

Semoga bermanfaat, alhamdulillahi Robbil ‘Alamin