Search
Tuesday 22 January 2019
  • :
  • :

Haram, Mengucapkan Selamat Natal

 

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
(وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا () لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ()تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا () (مريم: 88-90)

“Dan mereka berkata: Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak() Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar () Hampir saja langit pecah, bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu)” (QS. Maryam: 88-90)

Jelaslah, HARAM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL;

1. Allah mengancam untuk menimpakan adzab karena ucapan “Allah punya anak (baca; selamat natal)

2. Bagaimana mungkin muslim mengucapkan selamat di saat Allah dilecehkan

3. Jika ada yang mengatakan kita harus toleransi, maka:
a. Ketahuilah toleransi itu tidak berarti ikut merayakan peribadahan orang kafir. Masing-masing agama dipersilahkan menjalankan peribadahannya masing-masing itulah toleransi. Akankah seorang muslim dipaksakan MERAYAKAN/MENGUCAPKAN SELAMAT PERIBADAHAN AGAMA ORANG LAIN dengan dalih toleransi padahal syariat Islam melarangnya,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ [الكافرون: 6]

Ini namaanya MEMPERKOSA TOLERANSI

b. Jangankan MERAYAKAN/MENGUCAPKAN SELAMAT peribadahan agama orang lain. Padahal, sekedar MENYERUPAINYA saja diharamkan.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ». (رواه أبو داود)

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari kaum itu” (HR. Abu Daud)

4. Jika ada yang mengatakan, kan ada ulama yang memperbolehkan mengucapkan selamat natal. Maka, ketahuilah ini adalah SYUBHAT (Perusak Haq). Ketahuilah haramnya mengucapkan selamat natal itu adalah IJMA’ ULAMA sejak dahulu kala termasuk ulama imam madzhab. Apa jadinya jika IJMA’ ULAMA diselisihi dengan dalih khilafiyah? TENTU, rusaklah ajaran Islam. Nantinya akan terus bermunculan perkara yang telah JELAS berdasarkan IJMA’ lalu diutak-utik, seperti JILBAB bagi muslimah.

5. Ingat petunjuk Al-Qur’an tentang AL-WALA’ dan Al-BARA’, kita harus ber-wala’ (loyal) kepada Allah, syariat-Nya (islam) dan pemeluknya. Sebaliknya kita harus ber-bara’ (berlepas diri) terhadap thoghut, ajarannya dan pemeluknya. Allah berfirman,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا [المائدة: 55]

“Sesungguhnya waliy (wala’) kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang yang beriman” (QS. Al-Maidah:55)

6. Ucapan siapapun tidak boleh diambil ketika menyelisihi Al-Qru’an dan Hadits,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا [الأحزاب: 36]

“Dan tidaklah patut bagi mukmin dan mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada pilihan yang lain bagi mereka (tentang urusan mereka). Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al-Ahzab:36)

# اللهم إنا نسألك الهدى
Silahkan share, semoga bermanfaat

Marilah menjadi donatur YNF,
Bank Syariah Mandiri norek 7036976009 an. Yayasan Nidaul Fithrah. Konfirmasi: 081 331 232 795. Barakallahu fikum
Kunjungi website kami www.nidaulfithrah.com

🖊 Muhammad Nur Yasin, Ketua Yayasan Nidaul Fithrah (YNF) Surabaya