Search
Tuesday 21 May 2019
  • :
  • :

Biarkan Tidak Terkenal, Asalkan Terkenal

Tanda seseorang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla adalah:

  1. Mengikuti petunjuk Nabi (Sunnah). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

[آل عمران: 31]

“Katakanlah jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad ) niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron: 31)

Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thobari, sebab turunnya ayat ini adalah adanya suatu kaum yang mengatakan kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Muhammad, Sesungguhnya kami mencintai Tuhan kami”. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat ini bahwa mengikuti ajaran Nabi (sunnah) adalah tanda benarnya seseorang mencintai Allah.

Hal ini sangatlah mudah dipahami. Sebagai controh: seandainya ada orangtua; ayah dan ibu merasa sangat terhormat dan tersanjung jika sang anak yang mahasiswa masuk kuliah dengan sebaik-baiknya. Maka, sang anak tidaklah dikatakan mencintai ayah ibunya kecuali dengan ketentuan ini. Jika kuliahnya berantakan bahkan di DO maka dia tidak bisa dikatakan mencintai orangtuanya meskipun nama keduanya sering dipuisikan. Atau nama keduanya dilukis dengan kaligrafi indah lalu dipajang dan sering dilihatnya. Seandainya dipaksakan untuk disebut cinta, maka tidak lain adalah cinta semu bukan cinta sejati.

Demikian pula, jika seseorang merasa mencintai Allah dengan sering menyebut-nyebut nama-Nya, tetapi tidak mengindahkan ketetuanNya yaitu sunnah Nabi di mana syariat-Nya terkandung di dalamnya, maka dia bukanlah orang yang mencintai Allah.

Cinta bukanlah lipstick pernyataan membela tanpa dibarengi bukti.

 

 

Pahamilah sunnah Nabi lalu pegangilah kuat-kuat dan gigitlah dengan gigi geraham, inilah bukti mencintai Allah. Secara umum, kandungan sunnah Nabi ada 3 perkara:

  1. Masalah aqidah.

Kaedahnya, Kita tidaklah berbicara dan meyakini perkara ghaib kecuali sebatas informasi dari nash (Al-Qur’an dan Hadits). Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا () إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ [الجن: 26، 27]

“Dia lah Yang Mengetahui perkara ghoib, dan tidak pernah menampakkan perkara ghoib-Nya kepada siapapun, kecuali kepada siapa yang Dia ridhoi dari Rasul” (QS. Jin 26-27)

  1. Masalah ibadah

Kaedahnya, Hukum asal dalam masalah ibadah adalah haram hingga ada dalil yang mensyariatkannya. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حديث عَائِشَةُ  – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخارى و مسلم)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak terdapat padanya perkara kami, maka ia tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

  1. Masalah muamalah (urusan dunia)

Kaedahnya, Hukum asal dalam masalah muamalah adalah leluasa hingga ada dalil yang menyatakannya haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حديث أنس-  أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian (HR. Musllim dari Anas bin Malik)

Kronologi Nabi menyampaikan statemen ini “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” bermula dari suatu kejadian berikut ini: Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kami begini dan begitu…” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan statemen ini.

 

Inilah 3 kaedah yang tidak lain adalah rambu-rambu di dalam kita beramal lahiriyah dan bathiniyah. Jika kaedah-kaedah ini diabaikan maka yang terjadi adalah kesyirikan, bid’ah dan penyimpangan hukum halal dan haram. Terlebih di zaman sekarang, berpegang teguh terhadap sunnah itu tantangannya berat sekali seperti memegang bara api. Maka, kita harus lebih mempersiapkan mental. Disebutkan dalam Hadits,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ » (رواه الترمذى)

“Dari Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang memegang bara api” (HR. At-Tirmidzi)

 

  1. Peduli dan Loyal Terhadap Urusan Muslim Lainnya

Inilah tanda kedua bahwa seseorang itu dicintai oleh Allah. Mari masing-masing kita bercermin apakah sudah mencintai muslim lain sebagaimana mencintai diri sendiri? Kalau jawabannya “Ya”, maka pujilah Allah. Kalau “Belum” maka celalah dirinya sendiri lalu berubahlah. Alhamdulillah tanda kedua ini sudah dibahas pada edisi sebelumnya. Silahkan dirujuk.

 

  1. Putus Ikatan Hubungan Hati Terhadap Non Muslim

Ini tanda ketiga bahwa seseorang itu dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ketentuannya berbanding terbalik 180 derajat dengan muamalah sesama muslim. Kalau terhadap muslim mencintai, peduli dan loyal maka terhadap orang kafir harus membenci dan memutuskan ikatan hubungan hati. Non muslim hanya diperbolehkan disikapi dengan berbuat baik dan adil, tidak boleh dicintai. Penjelasan selengkapnya bisa dirujuk pada edisi sebelumnya.

 

  1. Berjihad di Jalan Allah

Apakah kita dicintai oleh Allah? Allahu A’lam. Paling tidak kita harus mengetahui tanda-tandanya. Yaitu; apakah kita selama ini sudah berjihad?

Jihad ada 2 macam; a]. dalam makna khusus dan b]. dalam makna umum.

Jihad dalam makna khusus adalah perang/ angkat senjata melawan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حديث معاذ بن جبل- رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ (رواه الترمذى)

“ Pangkal semua urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad” (HR. At-Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal)

Maksud hadits ini adalah bahwa pangkal segala permasalahan adalah Islam, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagaimana posisi kepala pada jasad. Tiang agama adalah shalat sebagaimana posisi tiang-tiang pada bangunan yang ia akan roboh tanpanya (tiang). Dan,  dzirwatu artinya paling tinggi . sinam artinya punuk unta. Jadi, jihad adalah sesuatu yang paling tampak dan paling tinggi. Maksudnya adalah bahwa ia merupakan ibadah yang berat, penuh kesulitan bagi raga dan jiwa. Oleh karena itu ia adalah ibadah yang paling tinggi pahala dan keutamaannya di sisi Allah Ta’ala.

Tidaklah seorang muslim kecuali harus meniatkan dirinya untuk berjihad jika terjadi kondisi yang menghantarkannya ke sana. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ (رواه مسلم)

“”Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.” (HR. Muslim).

أَنَّ سَهْلَ بْنَ أَبِى أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ (رواه مسلم)

“Dari Sahl bin Abi Umamah bin Sahl bin Hunaif dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang tulus meminta kepada Allah mati syahid, niscaya Allah akan menjadikannya mencapai derajat para syuhada’ meskipun mati di atas kasurnya” (HR. Muslim)

Berniatlah Anda untuk berjihad, Niscaya Anda mendapatkan pahala jihad meskipun Anda meninggal dunia di atas kasur, karena memang Anda belum mentakdirkan Anda berkesempatan jihad

 

Lihatlah para Sahabat, betapa mereka tidak tertinggal dari banyak peperangan baik perang yang diikuti Nabi ataupun tidak. Kita pasti ingat sirah tentang Ka’ab bin Malik yang rela diboikot selama 50 hari akibat tidak ikut perang. Kita juga ingat Sahabat Handholah yang belum sempat mandi junub di malam pertama pernikahannya karena harus segera memenuhi panggilan jihad. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة: 24)

“Katakanlah jika Bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai daripada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah:24)

  1. Tidak Takut Terhadap Celaannya Orang yang Mencela

Ciri atau tanda orang yang dicintai Allah adalah seseorang tidak takut terhadap celaannya orang yang mencela selama hal yang dilakukannya adalah haq/benar berdasarkan al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Sahabat. Terlebih di zaman sekarang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah isyaratkan bahwa ajaran yang haq benar-benar nanti akan terasing. Karena mayoritas kaum muslimin menjalankan syariat Islam bukan dengan warna sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah goreskan. Tapi, mereka menggores sendiri dengan warna-warna yang lain. Beliau shallallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ».(رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Islam muncul dipandaang asing dan akan kembali dipandang asing sebagaimana permulaan munculnya” (HR. Muslim)

Berbahagialah Anda yang terasing meskipun harus dicela dan dicemooh serta dicaci maki. Karena keterasingan Anda justru sesuai dengan goresan warna asli dari Nabi yang kemudian  diambil oleh para Sahabat sebagai pemahaman mereka dan amaliyahnya.

 

 

Tetap tegarlah Anda, meskipun:

  1. Dikatakan sok suci, ketika gusar jika adzan berkumandang sehingga tidak tertinggal dari shalat jamaah.
  2. Dikatakan kuno, ketinggalan jaman, gak modis karena mempertahankan pakaian kebanggaan muslimah, jilbab
  3. Dikatakan tusuk sate, karena membiarkan jenggotnya yang tumbuh hanya sedikit.
  4. Dituduh mau mengkavling Surga buat sendiri, karena Anda begitu memperhatikan Hadits tentang iftiroqul ummah dan mengaplikasikannya.
  5. Dan berbagai ujaran kebencian lainnya, tetap tegarlah Anda.

 

Tentang tanda dicintai oleh Allah mulai poin no 2, 3, 4, dan 5 Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan di dalam Al-Qur’an,

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [المائدة: 54]

“Allah akan mendatangkan suatu kaum, yang Dia mencintai mereka dan mereka juga mencintai-Nya. Mereka bersikap lembut kepada orang-orang mukmin, bersikap keras terhadap orang kafir,berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaannya orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah:54)

Marilah berupaya terus untuk meraih cinta Allah. Caranya tidak lain dengan memahami dan mengaplikasinnya lalu meningkatkan sisi kwantitas dan kwalitasnya. Ketika Allah ‘Azza wa Jalla sudah mencintai kita maka kita akan menjadi orang khusus-Nya (baca: wali ) yang senantiasa dalam bimbingan-Nya dan  dibela-Nya. Dia berfirman di dalam Hadits Qudsi,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ (رواه البخارى)

“Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka Aku genderangkan peperangan dengannya. Tidaklah hamba-Ku bertaqorrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai melebihi sesuatu yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus-menerus bertaqorrub kepadak-Ku dengan perkara yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar. (Aku adalah) penglihatannya yang dengannya dia melihat. (Aku adalah) tangannya yang dengannya dia memukul. (Aku adalah) kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika Dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberinya. Jika dia memohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku melindunginya” (HR. Bukhari)

Beruntunglah orang yang telah menjadi wali-Nya. Allah benar-benar menjaganya dan membimbingnya dalam jalan keridhoan-Nya. Upayakanlah dengan 5 poin di atas

 

Ketika Allah ‘Azza wa Jalla mencintai kita, maka kitapun menjadi orang terkenal di tengah-tengah penduduk langit (para Malaikat) meskipun di dunia kita tidak dikenal. Tidak terkenal di dunia sama sekali bukan problem, justru merupakan problem besar jika kita tidak dikenal penduduk langit (para Malaikat). Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ . فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، فَيُنَادِى جِبْرِيلُ فِى أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى الأَرْضِ » (رواه البخارى و مسلم)

“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril:  Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka cintailah dia! Lalu Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia. Maka, penduduk langitpun mencintainya. Lalu, dijadikan sebagai orang yang diterima di bumi” (HR. Bukhari Muslim)

 

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin